Diarsipkan di bawah: ASI
Manajemen ASI Perah untuk ibu bekerja…
Saya ingin berbagi lagi… kebahagiaan itu kan bisa kita rasakan kalo kita sudah berbagi.
Saya memerah ASI ampe sekarang deven 1 tahun 1 bulan. Dan masih sukses memerah dengan membawa pulang 400ml ASI setiap hari.
Selain memerah 5x. Manajemen ASI saya juga saya perhatikan benar. Untuk terus membuat diri saya semangat memerah ASI. Caranya :
- saya tidak pernah punya stok susu formula.
- hasil perah hari ini semuanya untuk besok sehingga deven selalu mendapat ASI fresh terbaru.
- ASI yang berlebih setiap hari ditaruh di freezer untuk cadangan kalo aku sakit atau untuk didonorkan.. aku sudah mendonorkan lebih dari 50 botol ASI lhooo..
- setiap pagi sebelum kerja aku memerah mengosongkan PD kemudian ASInya ditaruh dikamar untuk langsung diberikan ke anakku.
- jadi anakku hari ini minum ASI perah kemarin + ASI memerah tadi pagi…
begitulah manajemen ASI perahku… sehingga membuatku semangat terus bukan karena stok ASI menipis tapi semangat supaya anakku dapat ASI terbaru…
by lutvita
Tips Sukses Menyusui Bayi Sambil Tetap Bekerja
Ada banyak sekali alasan mengapa kebanyakan ibu bekerja akhirnya gagal bisa menyusui bayinya paling tidak untuk 6 bulan pertama. Padahal 6 bulan pertama itulah saat terpenting bagi bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif . Alasan-alasan seperti kesibukan, tidak ada waktu untuk memerah atau memompa, merepotkan atau bahkan alasan tidak ada kulkas di kantor merupakan jawaban dari banyak ibu bekerja yang akhirnya beralih ke susu formula.
Tapi tidak sedikit dijumpai ibu-ibu bekerja yang masih bisa sukses memberikan ASI eksklusif kepada bayi-bayinya bahkan ada juga yang bisa sampai anaknya berusia 2 tahun. Berdasarkan pengalaman pribadi dan tips dari sesama ibu-ibu bekerja yang menyusui anaknya, inilah beberapa tips penting untuk bisa menyusui bayi sambil tetap bekerja:
- KUATKAN TEKAD DAN BULATKAN NIAT!!! Ini sangat penting, karena seringkali ditengah jalan, ibu-ibu banyak yang menyerah karena seribu satu alasan yang akhirnya membuat ibu-ibu ini menyerah.
- Melihat suasana kantor supaya kita bisa menyiapkan peralatan apa saja yang dibutuhkan. Misalkan, kantor kita tidak memiliki kulkas, maka kita harus mensiasatinya dengan menyediakan termos yang bisa diisi es untuk menyimpan ASI. Mencari ruangan atau tempat yang bisa dipakai untuk lokasi memerah atau memompa ASI.
- Jika tidak bisa memerah ASI, sebaiknya membeli pompa pemerah. Memilih pompa juga jangan sembarangan, karena tidak semua pompa bisa bekerja maksimal. Ada beberapa merk yang sudah banyak disarankan oleh para pakar laktasi, misalkan Medela, Avent atau Ameda. Pompa juga dibedakan oleh tipe kerjanya, ada yang manual dan elektrik. Harga pompa juga tidak bisa dibilang murah, namun ini adalah investasi yang sangat berharga. Jika kita hitung harga sebuah pompa Medela elektrik tipe Mini Electric (single pump) senilai Rp 800.000,-; bandingkan dengan harga 10 kaleng susu formula premium ukuran paling besar yang paling tidak akan habis dalam waktu 3 bulan. Sedangkan pompa itu bisa kita pakai sampai bayi berusia 6 bulan dan bahkan lebih jika kita ingin terus menyusui sampai 2 tahun dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI), bahkan bisa dipakai jika kita punya anak lagi kan?
- Siapkan termos atau tas khusus untuk membawa ASI ketika perjalanan pulang dari kantor menuju rumah. Ada banyak merk termos yang bisa dipakai, misalkan Colleman atau Igloo (bisa dibeli di ACE Hardware atau beberapa hypermart). Jika ingin memakai tas, ada keluaran dari Tommee Tippee yang sudah dilengkapi dengan blue ice yang bisa membantu menjaga suhu tas untuk tetap dingin dalam beberapa jam. Tas ini bisa didapatkan di toko-toko perlengkapan bayi.
- Pada saat cuti melahirkan hampir usai, ajarkan bayi untuk bisa menyusu dari medium lain selain payudara, misalkan sendok atau gelas bayi. Jika sudah dicoba dengan dua cara tersebut, namun tidak berhasil, bisa dicoba dengan menggunakan botol bayi (ini pilihan terakhir, karena ditakutkan bayi akan bingung puting). Ada bayi yang bisa langsung menyedot dengan botol bayi biasa dengan nipple biasa (baik karet maupun silikon). Namun ada bayi yang tidak mau dan sepertinya tidak bisa menyedot dari botol biasa. Untuk menyiasati ini, bisa digunakan beberapa botol bayi keluaran Pigeon tipe peristaltic yang memiliki ujung nipple kecil dan silikon yang lebih lentur atau ada juga keluaran Avent. Botol-botol ini bisa didapatkan di toko-toko perlengkapan bayi.
- Ajarkan kepada pengasuh bayi di rumah cara memberikan ASI dan berikan jadwal yang tetap kapan saja bayi harus diberikan minum, agar stok ASI bisa dikontrol jumlahnya. Jika perlu, berikan daftar tertulis jadwal bayi beserta no telepon penting sehingga pengasuh juga bisa menelpon jika ada yang ditanyakan.
- Menyiapkan plastik khusus untuk menyimpan ASI atau beberapa botol-botol (minimum 10 botol) untuk stok cadangan ASI di rumah.
- Usahakan sesering mungkin memerah atau memompa ASI selama di kantor. Atur jadwal yang pasti sehingga tidak menyulitkan juga bagi para rekan-rekan kerja untuk koordinasi.
- Jika di kantor ada beberapa ibu menyusui dan sama-sama menitipkan ASI di kulkas kantor, beri label pada botol, supaya tidak tertukar.
- Jika memungkinkan, cari teman seperjuangan yang bisa saling mendukung dan mengingatkan untuk tetap semangat. Jika di kantor tidak ada, maka bergabung saja dengan milis: asiforbaby@yahoogroups.com.
Manajemen ASI bagi Ibu Bekerja
Seringkali ibu-ibu bekerja mengalami dilema antara ingin memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dengan memberikan susu formula. Dengan alasan yang klasik ibu-ibu bekerja memilih untuk memberikan susu formula kepada bayinya.
Disini diuraikan mengenai bagaimana kita dapat mengelola ASI dengan berbagai jenis alat bantu. Dengan sedikit bersusah payah kelak ibu dan anak dapat memperoleh manfaat yang besar.
Memeras ASI bermanfaat untuk:
memberikan makan BBLR
menghilangkan bendungan
menjaga pasokan ASI saat ibu sakit
meninggalkan ASI untuk bayi saat ibu pergi atau bekerja
menghilangkan rembesan ASI
A. Memeras ASI dengan tangan
Semua ibu harus belajar memeras ASI. Ibu dapat mulai belajar selama kehamilan dan dapat menerapkannya segera setelah melahirkan. Memeras dengan tangan tidak memerlukan alat bantu sehingga seorang wanita dapat melakukannya dimana saja dan kapan saja. Memeras dengan tangan mudah dilakukan bila payudara lunak. Lebih sulit lagi bila payudara sangat terbendung dan nyeri.
B. Cara memeras ASI dengan tangan
Siapkan cangkir, gelas atau mangkuk yang sangat bersih. Cuci dengan air sabun dan keringkan dengan tissue/lap yang bersih. Tuangkan air mendidih ke dalam cangkir dan biarkan selama beberapa menit. Bila sudah siap untuk memeras ASI, buang air dari cangkir.
Cuci tangan dengan seksama
Letakkan cangkir di meja atau pegang dengan satu tangan lain untuk menampung ASIP.
Badan condong ke depan dan sangga payudara dengan tangan
Letakkan ibu jari sekitar areola di atas puting susu dan jari telunjuk pada areola di bawah puting susu.
Pijat ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada.
Sekarang pijat areola di belakang puting susu di antara jari dan ibu jari. Ibu harus memijat sinus laktiferus di bawah areola.
Tekan dan lepas, tekan dan lepas. Pada mulanya tidak ada ASI yang keluar, tetapi setelah diperas beberapa kali, ASI mulai menetes. ASI bisa juga memancar bila refleks pengeluaran aktif.
Peras areola dengan cara yang sama dari semua sisi agar yakin ASI diperas dari semua segmen payudara.
Jangan memijat puting susu itu sendiri. Jangan menggerakkan jari sepanjang puting susu. Menekan atau menarik puting susu tidak dapat memeras ASI. Ini merupakan hal yang sama terjadi bila bayi mengisap dari puting susu saja.
Memeras ASI untuk BBLR atau bayi sakit
Ibu harus memeras sebanyak mungkin ASI setiap kali bayi perlu disusui. Bagi BBLR adalah 8 kali atau lebih sehari. Penting untuk memeras sesering dan sebanyak mungkin untuk mempertahankan pasokan ASI. Bila ibu memeras ASI lebih banyak daripada yang diperlukan bayi, ASIP dapat diberikan bagi bayi lain yang ibunya tidak dapat memeras cukup, atau berikan pada BBLR yang ibunya belum keluar ASI.
Untuk mempertahankan pasokan ASI saat ibu atau bayi sakit
Ibu harus memeras ASI sebanyak dan sesering mungkin yang diinginkan bayi. Berikan pada bayi bila mungkin.
Menghilangkan bendungan
Peraslah sesering dan sebanyak mungkin yang diperlukan agar payudara tetap nyaman dan menjaga kelenturan puting susu bagi isapan bayi. Beberapa ibu mungkin perlu memeras setiap kali sebelum menyusui. Pada ibu yang lain mungkin hanya perlu memeras satu atau dua kali sehari. Beberapa ibu mendapatkan bahwa kompres hangat atau pijatan lembut membantu ASI mengalir.
Menghilangkan penetesan ASI
Memeras ASI cukup banyak untuk mengurangi tekanan pada payudara. Tidak perlu untuk memeras ASI banyak sekali.
C. Pompa listrik
Pompa listrik ASI lebih efisien dan cocok bagi pemakaian di rumah sakit. Tetapi, semua pompa mudah membawa infeksi. Hal ini sangat berbahaya bila lebih dari satu ibu menggunakan pompa yang sama.
D. Cara botol hangat
Ini merupakan teknik yang bermanfaat untuk menghilangkan bendungan, terutama bila payudara sangat nyeri dan puting susu tegang.
Cara menggunakan teknik botol hangat adalah:
- Cari botol besar (misalnya berukuran 1 liter, 700 ml, atau 3 liter) dengan leher lebar (bila mungkin).
- Mintalah keluarga untuk memanaskan sejumlah air dan isilah botol dengan air panas. Biarkan beberapa menit, untuk menghangatkan kaca botol.
- Bungkus botol dengan kain dan buang air panas.
- Dinginkan leher botol dan masukkan ke dalam puting susu sampai menyentuh kulit di sekelilingnya dengan ketat.
- Pegang kuat botol tersebut, setelah beberapa menit botol mendingin dan menimbulkan isapan lembut maka akan menarik puting susu.
- Rasa hangat membantu refleks pengeluaran, dan ASI mulai mengalir dan mengisap botol. Kadang-kadang bila wanita pertama kali merasa isapan ini, ia akan kaget dan menarik botol. Sehingga harus ditaruh lagi air panas dalam botol dan mulai kembali.
- Setelah beberapa saat, nyeri pada payudara berkurang dan memeras dengan tangan atau isapan sudah bisa dilakukan.
Tips-tips agar ibu bekerja dapat memberikan ASI eksklusif
Dirangkum dari berbagai sumber
1. Terpenting : Selama ibu di tempat kerja, Peraslah / pompalah ASI setiap 3-4 jam sekali secara teratur. Ini perlu dilakukan agar produksi ASI tetap terjaga. An ASI tuh dibuat based on demand. Kalo gak ada permintaan, ya gak akan dibuat. Kalau permintaannya sedikit ya akan sedikit juga yg diproduksi nantinya.
ASI tsb bisa disimpan dalam botol dan dan disimpan dalam kulkas (jika di kantor ada kulkas). Atau ibu bisa menyimpannya dalam termos yang diberi es batu atau blue ice.
2. Yg tidak kalah pentingnya : ibu harus dalam keadaan RELAX. KONDISI PSIKOLOGIS ibu menyusui sangat menentukan keberhasilan ASI eksklusif. Menurut hasil penelitian, > 80% lebih kegagalan ibu menyusui dalam memberikan ASI eksklusif adalah faktor psikologis ibu menyusui. Saat ibu memeras ASI, jangan tegang dan jangan ditargetkan berapa banyak ASI yg harus keluar. Ingat : 1 pikiran “duh ASI peras saya cukup gak ya?” maka pada saat bersamaan ratusan sensor pada otak akan memerintahkan hormon oksitosin (produksi ASI) utk bekerja lambat. Dan akhirnya produksi ASI menurun.
Relaks saja ya bu. Buat suasana senyaman mungkin saat memeras ASI. Bawa foto anak jika perlu saat memeras ASI.
Peran ayah juga disini sangat dibutuhkan. Jika ayah mendukung maka ASI akan lancar.
3. Saran dilakukan begitu sebelum kembali dari cuti : beritahu atasan ibu bahwa ibu menyusui dan ingin berhasil memberikan ASI eksklusif. Jelaskan juga bahwa pada jam tertentu ibu perlu waktu khusus untuk memeras ASI. Sehingga atasan ibu & lingkungan kerja dapat mendukung keberhasilan ASI eksklusif.
4. Begitu ibu kembali dari tempat kerja, susukan bayi langsung dari payudara. Hal ini diperlukan untuk menjaga refleks ASI & kerja hormon2 ASI, sehingga produksi ASI tetap terjaga. Jadi ASI peras yg ada bisa disimpan untuk hari2 berikutnya.
5. Hindari pemberian susu formula. Begitu bayi diberikan susu formula, maka saat ia menyusu pada ibunya akan kekenyangan. Sehingga volume ASI makin berkurang.
6. Lakukan perawatan payudara : Massage / pemijatan payudara dan kompres air hangat & air dingin bergantian.
7. Jika ada masalah dalam ASI, jangan ragu untuk menghubungi atau konsultasi dg klinik laktasi. Selain mengikuti petunjuk2 di atas. Tapi sekali lagi, yg perlu diingat adalah ibu harus PEDE.
Written by : Lulu L Soraya
Diarsipkan di bawah: ASI
Ketika menyusui, pengaturan menu makan seorang ibu sangat penting, sama pentingnya dengan perawatan bayi. Selain gizi seimbang plus air putih, menu makan ibu menyusui sebaiknya juga memerhatikan beberapa zat makanan yang disinyalir dapat mengganggu produksi maupun kualitas ASI. Makanan-makanan pengganggu ini dapat masuk ke ASI dan mengganggu bayi, dua jam setelah Anda mengonsumsinya. Demikian yang ditegaskan Dr. William Sears dalam The Baby Book.
Tanda-tanda bahwa makanan tersebut adalah pengganggu ASI dapat dilihat pada bayi. Misalnya, bayi menjadi rewel, sakit perut, tingkah laku gelisah, atau apa yang disebut sebagai kolik 24 jam – yaitu rasa sakit yang terjadi, maksimum 24 jam, setelah ibu mengonsumsi makanan yang dicurigai, tapi hal itu tidak terjadi lagi sampai ibu megonsumsi lagi makanan yang sama. Beberapa makanan yang dicurigai dapat mengganggu ASI adalah:
1. Produk olahan-berbahan-susu. Kandungan protein alergenik pada produk-produk olahan-berbahan-susu dapat masuk ke ASI dan menghasilkan gejala-gejala sakit perut pada bayi. Makanan itu antara lain adalah susu, yoghurt, dan keju.
2. Makanan yang mengandung kafein. Minuman ringan, cokelat, kopi, teh, dan minuman pengurang rasa dingin, semuanya mengandung kafein. Meskipun sebagian bayi lebih peka terhadap kafein dibanding bayi lainnya, biasanya ibu harus mengonsumsi produk ini dalam jumlah besar terlebih dulu untuk dapat memberi efek mengganggu pada bayinya.
3. Biji-bijian dan kacang-kacangan. Yang paling alergenik dari jenis ini adalah gandum, jagung, dan kacang tanah.
4. Makanan pedas. Air susu ibu akan terasa berbeda setelah Anda mengonsumsi makanan pedas dan mengandung bawang putih. Salad, pizza, dan minuman keras juga dapat menimbulkan protes dari lambung bayi, sehingga ia menolak minum ASI atau menjadi sakit perut.
5. Makanan yang mengandung gas. Brokoli, bawang putih, tauge, cabai hijau, kembang kol, kubis, dapat mengganggu bayi, tetapi tidak terlalu mengganggu bila sudah dimasak. Memang cukup sulit untuk menjelaskan secara ilmiah bagaimana makanan tersebut dapat mengganggu bayi, namun pengalaman para ibu menyusui menyebutkan bahwa makanan yang banyak mengandung gas membuat bayi banyak mengeluarkan gas pula.
Selain jenis makanan yang mengganggu ASI, ibu menyusui sebaiknya juga memerhatikan aturan lain dalam menyantap makanan. Aturan itu adalah jangan berlebihan dalam mengonsumsi suatu makanan. Ada bayi yang bisa terganggu setelah ibunya makan makanan tersebut dalam jumlah yang banyak, misalnya bila ibu terlalu banyak makan makanan olahan dari gandum dan makanan-makanan masam. Namun, dalam jumlah kecil makanan ini masih bisa ditoleransi pencernaan bayi.
Sumber: infobunda.com
Diarsipkan di bawah: ASI
Makanan Bagi Ibu Menyusui :
Kebutuhan makanan bagi ibu menyusui lebih banyak daripada makanan Ibu hamil.
Kegunaan makanan tersebut adalah :
- Memulihkan kondisi fisik setelah melahirkan.
- Meningkatkan Produksi ASI (Air Susu Ibu) yang cukup dan sehat untuk bayi.
Pengaturan Makanan
- Susunan hidangan sehari-hari harus seimbang, yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah serta susu.
- Makanan pokok tidak hanya nasi, gunakanlah beraneka bahan makanan pengganti seperti mie, jagung, kentang, ubi, roti dan sebagainya.
- Lauk-pauk gunakanlah dari jenis hewani dan jenis nabati, seperti telur, daging, ayam, ikan segar, hati, ikan asin, tempe, tahu, kacang-kacangan dan sebagainya.
- Sayuran lebih baik yang berwarna seperti bayam, kangkung, sawi, daun katuk, wortel, buncis dan sebagainya, karena sayuran tersebut dapat membantu merangsang pengeluaran/produksi ASI.
- Pilihlah buah-buahan yang berwarna seperti pepaya, jeruk, apel, tomat dan sebagainya yang banyak mengandung vitamin dan mineral.
- Perlu minum dalam jumlah lebih banyak + 6 gelas dalam satu hari, akan lebih bermanfaat bila ibu menyusui minum cairan “bergizi” seperti : susu, air kacang-kacangan, sari buah-buahan, air sayuran daun hijau dan sebagainya.
- Tidak disarankan minum jamu setelah melahirkan.
- Yang terpenting tidak ada pantangan makanan untukm ibu menyusui.
|
Nilai Gizi |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Pembagian Makanan Sehari |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Diarsipkan di bawah: ASI
Metode Kualitatif Menyusui pun Langsing dan Sehat
Kini ada cara baru langsing dan sehat bagi ibu menyusui, tanpa harus
mengganggu produksi ASI.
Tampil menawan dengan tubuh proporsional dambaan setiap ibu,
khususnya yang baru bersalin. Meski menyusui bayi secara ekslusif
selama 4-6 bulan dapat mengembalikan Berat Badan (BB) ideal ibu
seperti sebelum melahirkan, banyak ibu tidak percaya hal ini. Untuk
mengatur makan atau mengurangi BB pun ibu sering tak tega karena
kuatir mengganggu produksi ASI. Sedang latihan atau olahraga saja tak
serta merta dapat mengembalikan BB seperti sebelum hamil.
Iping, akupunturis dan Massage Shaping Therapist baru-baru ini
mengenalkan Teori Kualitatif bagi ibu yang merasa mengalami problem
di atas.
Menurutnya, dengan memahami Teori Kualitatif, ibu menyusui, atau
perempuan manapun yang memiliki ingin memiliki tubuh proporsional,
dengan mudah dapat memiliki tubuh idaman.
Bukan Diet Ketat
Teori Kualitatif menurut Iping didasarkan pada riset yang
mengkombinasikan faktor biologis dan psikologis seseorang. Kemudian,
ia membedakan faktor tersebut pada perempuan yang kurus dengan
perempuan yang gemuk dengan kesimpulan, “perempuan gemuk memakan tiga
porsi makanan dengan angka rasio kepuasan sembilan, sedang perempuan
kurus memakan satu porsi makanan dengan angka kepuasan yang sama
yaitu sembilan”.
Artinya, keduanya mendapatkan kepuasan yang sama besarnya dengan
jumlah asupan makanan berbeda.
Keadaan ini menurut Iping membentuk pola sistem metabolisme tubuh
yang berbeda antara Si Kurus dan Si Gemuk. Karena jumlah makanan yang
dikonsumsi.
Si Gemuk lebih besar, maka alat pencernaannya pun menjadi lebih
besar, atau jika menggunakan perumpamaan, “Ibarat kendaraan bermotor
yang memiliki cc mesin besar, maka menggunakan metode apa pun dengan
hasil sekurus apa pun orang tersebut potensial menjadi gemuk kembali,
karena mesin metabolismenya masih besar,” papar Iping.
Hal inilah yang menurut Iping membuat banyak cara menguruskan badan
selalu gagal, termasuk pada ibu menyusui. Jadi menurutnya, yang perlu
dan penting diperbaharui bagi ibu menyusui yang ingin melangsingkan
badan adalah mengkonsumsi makanan dengan memperkecil kuantitas atau
jumlah, tapi meningkatkan kualitas gizi dan proteinnya, secara
lengkap dan dikonsumsi setiap tiga kali dalam sehari. “Dengan cara
ini kualitas dan kuantitas ASI pun tetap terjaga,” tutur Iping.
Secara garis besar pola makan dalam Teori Kualitatif adalah sebagai
berikut:
Makan pagi
Ibu tetap mengkonsumsi susu atau teh manis. Lalu dua butir telur baik
direbus, didadar, atau mata sapi bagi ibu menyusui, sedang ibu tidak
menyususi cukup satu butir.
Tidak seperti aturan diet lain, Teori Kuantitatif pun membolehkan ibu
menambah sarapannya dengan satu lembar roti dilapis keju atau coklat.
Sebab dalam teori kualitatif, manis atau lemak keju tidak menjadi
pantangan.
Makan siang dan Malam
Makanan siang dan malam harus berupa daging sapi, ayam, ikan atau
telur. Bagi ibu menyususi jumlah makanan porsinya tiga kali lebih
banyak dari porsi perempuan biasa, yaitu kira-kira 100 gram, dan
jumlah sayuran 200 gram. Kemudian, tambahkan sedikit nasi, atau bila
ibu tidak ingin nasi, dapat diganti mie atau bihun. Tambahkan pula
segelas ukuran sedang air putih atau jus buah. Jumlah keseluruhan
sekali porsi makan ala Teori Kualitatif adalah 1/2 porsi ukuran makan
normal.
Camilan
Ibu bahkan tetap diperbolehkan mengkonsumsi jajanan seperti es krim.
Sebaiknya dikonsumsi setelah makan siang atau makan malam, dengan
aturan pengurangan porsi nasi atau sayur pada saat makan siang atau
makan malam, misal; daging/penggantinya + sayur + nasi + es krim =
1/2 porsi makan normal. Jika ibu bosan dengan jenis makanan biasa,
Ibu juga diijinkan menyantap makanan lain seperti pizza atau somay
sebagai pengganti makan siang atau malam. Asalkan dalam kuantitas
sama, yaitu 1/2 porsi makan normal.
Teori Kualitatif menurut Iping semakin efektif bila ibu menyusui
menghindari makanan asam dan pedas. Ini lantaran jenis makanan ini
dapat menimbulkan kejang otot dan merangsang ibu menambah makanan
dari jumlah porsi yang ditetapkan.
Terapis yang bisa ditemui di Tee Bee Beauty Centre, Jakarta, ini juga
menyarankan agar ibu menaati jadwal makan, yaitu, makan pagi pukul
7.00 -8.00, makan siang pukul 12.00-13.00, dan makan malam pukul
18.00 -19.00. Selain itu hindarkan minum air yang terlalu dingin,
mengkonsum kuning telur berlebihan, dan hentikan hobi jajan di luar
aturan.
Iping mengingatkan, cara makan juga harus diperbaiki, misal; makan
tidak terlalu cepat, kunyahlah makanan perlahan-lahan sekitar 15-20
menit. Ini karena makan perlahan-lahan dapat mempercepat rasa kenyang
karena makanan lebih mudah dicerna.
Selain itu ia menegaskan supaya tidak menjadikan olah raga sebagai
sarana menguruskan badan, karena menurutnya, olahraga penting agar
tubuh bugar, tetapi bukan untuk menjadi kurus. “Bila ibu mampu
melakukan Teori Kualitatif ini, hasilnya dapat dirasakan dua minggu
sampai satu bulan. Dengan penurunan berat badan 2 sampai 4 kilogram
per bulan. Selain itu, Teori Kualitatif juga tidak menimbulkan
keluhan fisik seperti rasa lapar atau haus, atau gangguan pencernaan
seperti maag.
Sebaliknya yang terjadi adalah perbaikan sistem dan fungsi
metabolisme meliputi lambung, limpa, empedu, usus, dan jantung.”
Mengunci Rasa Lapar
Teori Kuantitatif akan lebih tampak hasilnya bila dilakukan tambahan
terapi. Yang dianjurkan Iping adalah massage shaping, berguna untuk
melancarkan sistem metabolisme, juga untuk mengunci keinginan makan
berlebihan.
Terapi ini menggunakan teknik akupuntur dikombinasi tenaga cikung.
Ada empat titik di perut dan dua titik di bawah lutut yang menjadi
titik penusukan jarum akupuntur.
Selain itu, terapis juga akan melakukan pemijatan di bagian perut
untuk membenahi sistem metebolisme ibu yang ingin langsing dan
sehat. “Terapi ini sebenarnya tidak terlalu penting kalau ibu sudah
bisa melakukan Teori Kualitatif dengan sempurna dan disiplin,” ujar
Iping.
Dia melanjutkan, banyak ibu sudah berhasil menurunkan BB dengan teori
ini tanpa harus mengikuti massage shaping. “Namun bila ibu ingin
mendapatkan hasil yang cepat sebaiknya kombinasikan Teori Kualitatif
dengan massage shaping setidaknya seminggu satu kali dalam satu
bulan,” jelas pria keturunan Cina Betawi ini.
Baik Untuk Ibu Yang Melahirkan Cesar
Memiliki perut langsing dan indah rasanya mustahil bagi ibu yang
melahirkaan dengan bantuan operasi Cesarian. Selain bekas luka
jahitan yang sulit hilang, operasi Cesar seringkali juga mengharuskan
ibu menghidari penggunaan bengkung atau gurita yang disebut-sebut
bisa mengembalikan perut pada bentuk semula.
Selain itu, ibu yang melahirkan Cesar biasanya harus menunda latihan
atau olahraga hingga jahitannya benar-benar sembuh sekitar 6-12
bulan.
Namun dengan Teori Kualitatif dan massage shaping ibu sehabis
bersalin Cesar pun dapat cepat mengembalikan tubuh idealnya kembali,
tanpa perlu olahraga atau latihan otot perut yang membuat perut
kembali kencang. Melalui pemijatan dan sistem akupuntur, terapi ini
dapat memperkecil lingkar perut, bahkan mengurangi resiko dan
menyembuhkan terjadinya perdarahan pasca-operasi.(Mila Meiliasari)
Sumber: Tabloid Ibu & Anak
Langsing, Sehat, dan Sukses Menyusui? Mudah, kok !
Banyak cara atau program yang ditawarkan agar Anda langsing kembali setelah melahirkan. Hati-hati, jangan sampai salah langkah!
Walau belum ada penelitian tentang berapa banyak ibu yang ingin langsing kembali setelah melahirkan, namun kebanyakan ibu –mungkin juga Anda– menginginkan hal ini. Sebenarnya, apa sih , yang disebut langsing itu?
Menurut dr. Tanya Rotikan, Sp.KO , dari Bagian Kedokteran Olahraga , Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, “Langsing atau bentuk tubuh ideal adalah kondisi dimana perbandingan antara tinggi dan berat badan sesuai. Selain itu, jumlah lemak di tubuh juga dalam batas-batas normal. Jadi, secara keseluruhan orang tersebut memang tampak proporsional dan menarik dipandang.”
Kriteria langsing bukan hanya itu. Dr. Sri Sukmaniah, MSc. , dari Bagian Ilmu Gizi , Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menambahkan, “Bila menggunakan indeks massa tubuh, langsing itu berada dalam rentang 19-23 ( simak boks: Sudah Idealkah Berat Anda? -red ).”
Program pelangsingan adalah segala-galanya?
Bak gayung bersambut, kini di pasaran banyak beredar tawaran program melangsingkan tubuh setelah melahirkan. Iming-imingnya beragam, misalnya tanpa obat, tanpa suntik, tanpa diet ketat, tanpa olahraga berat, dan berhasil dalam waktu singkat. Sejauh mana kebenarannya?
Menurut dr. Sri, “ Program pelangsingan yang marak sekali itu seharusnya ada yang menertibkan. Apalagi, ada yang mengklaim berat badan bisa turun 5 kilo dalam seminggu. Asal tahu saja, fungsi jantung, ginjal, hati, atau usus akan terganggu akibat melangsingkan dengan cara itu, karena ada kemungkinan protein jaringan ikut digunakan sebagai sumber energi. Padahal, di dalam tubuh, prioritas penggunaan energi berasal dari karbohidrat dan lemak.”
Ia melanjutkan, “Bila cara melangsingkan tubuh seperti itu dibiarkan dalam jangka waktu yang lama, maka otot-otot Anda akan habis. Hal ini akan berbahaya kalau yang digunakan adalah protein dari jaringan otot yang penting, misalnya otot jantung. Begitu juga dengan fungsi ginjal dan hati, akan terganggu karena hasil metabolisma protein banyak zat racunnya. Makanya, tujuan utama dari semua program pengaturan berat badan sebaiknya adalah untuk kesehatan. Setelah itu, baru untuk penampilan.”
Pendapat serupa dilontarkan dr. Tanya , “ Apakah cara-cara yang digunakan dalam program tersebut sudah ada penelitiannya? Saya perhatikan, ada pasien yang diberi beberapa macam suplemen, tapi tidak boleh makan. Bila pasien berhenti mengonsumsinya, maka biasanya berat badannya akan kembali lagi ke berat badannya semula, atau yang dikenal dengan istilah sindrom yoyo. Berat badan yang turun naik seperti itu bisa berbahaya, karena tekanan darah akan cepat naik yang tentu berdampak negatif buat jantung”.
Jadi jelas sudah. Jangan cepat tergiur untuk program pelangsingan tubuh tertentu. Timbang-timbang dulu untung ruginya, dan pelajari betul bagaimana program tersebut. Bila perlu konsultasikan dengan dokter. Karena, masalah kelebihan berat badan setelah melahirkan tidak hanya selesai dengan menjadi langsing saja. Idealnya, Anda juga menjadi sehat dan sukses menyusui.
Jangan korbankan bayi Anda
Selama hamil, seorang ibu memang harus naik berat badannya, antara lain karena ada pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim, dan peningkatan volume darah. Selain itu, ada cadangan gizi ibu untuk persiapan masa menyusui, yaitu paling tidak untuk memenuhi kebutuhan bayi selama ASI eksklusif, atau sekitar 4-6 bulan pertama kehidupan bayi. “Cadangan itu tentu tidak akan habis begitu saja sesudah melahirkan, malah harus dipertahankan agar produksi ASI sebanyak 800-1200 ml sehari itu bisa tercapai,” kata dr. Sri , yang mengambil gelas S2-nya di University of London, Inggris .
Setelah melahirkan, normalnya berat badan ibu akan kembali ke berat badan sebelum hamil. Tapi, proses tersebut perlu waktu. Dr. Sri mengingatkan, “Untuk 6 bulan pertama, tidak usah terburu-buru menurunkan berat badan. Karena, pada saat itu, tugas seorang ibu adalah memberikan ASI yang cukup kepada bayinya. Justru di sini ibu harus makan dalam kuantitas dan kualitas yang betul-betul cukup. Kalau tidak, bayi yang jadi taruhannya! Bisa-bisa dia kekurangan zat gizi yang dibutuhkannya untuk tumbuh kembang secara optimal.”
Jadi, kapan Anda boleh mulai melangsingkan tubuh? “ Setelah 6 bulan, Anda baru boleh mulai berdiet. Pada saat ini, bayi ‘kan sudah mendapat makanan tambahan. Tapi tetap harus diingat, diet pun ada aturan mainnya, lho! Yang paling baik dan tidak akan mengganggu kesehatan Anda adalah, turunkan berat badan sebanyak ½ -1 kilo dalam seminggu.”
Buat catatan harian
Selain diet, cepat tidaknya bentuk tubuh langsing kembali, juga tergantung gaya hidup Anda setelah melahirkan. Apakah Anda kembali ke aktivitas sebelumnya? Apakah melakukan olahraga secara teratur? “Bila Anda melakukan diet yang seimbang, yakni asupan kalori sesuai kebutuhan, plus berolahraga, maka penurunan berat badan akan lebih cepat ketimbang berdiet saja atau berolahraga saja,” saran dr. Tanya.
Jadi, setelah nifas atau saat tubuhnya sudah kembali seperti sebelum hamil, ibu bisa mulai melakukan latihan yang betul-betul ditujukan untuk menurunkan berat badan. Dr. Tanya yang juga berkantor di KONI DKI Jakarta ini mengingatkan, “Yang penting, semua aktivitas, baik olahraga maupun kerja di kantor, tidak dilakukan berlebihan. Karena, kalau berlebihan, akan mengurangi produksi ASI.”
“Selain motivasi yang kuat akan bentuk tubuh yang ideal , pemahaman kesehatan juga penting. Maksudnya, apa pun yang Anda lakukan untuk badan Anda, tujuannya harus sehat,” kata dr. Sri.
Dr. Sri punya kiat. Bila Anda ingin menurunkan berat badan, buat saja catatan harian. Catatan tersebut berisi semua makanan dan aktivitas yang dilakukan selama 24 jam . Lalu, t imbanglah berat badan seminggu sekali. Cara ini akan membuat Anda selalu waspada, dan juga bisa mengevaluasi sejauh mana keberhasilan Anda.
“Bila catatan menggambarkan berat badan kok nggak turun-turun, itu berarti usahanya kurang tepat. Kalau latihan aerobik dan diet dilakukan dengan benar, pasti berhasil. Atau, yang bersangkutan sedang masuk fase plateau (masa tidak ada kemajuan -red), y ang biasanya berlangsung 2-4 minggu. Bila Anda tetap menjalankan latihan dan dietnya, maka berat badan akan turun lagi. Kalau tidak turun-turun lagi, artinya masih overweight , mungkin perlu obat, dan ini harus di bawah pengawasan dokter,” saran dr. Sri.
Yang pasti, bila upaya untuk menjadi langsing kembali ini dilakukan dengan sehat dan tepat, ada begitu banyak manfaat yang akan Anda dan si kecil peroleh. Selain produksi ASI lancar, tubuh Anda akan bugar, nyaman, serta energi bertambah untuk mengasuh bayi.
Dewi Handajani
Bahan: Sri Lestariningsih, Laila Andaryani Hadis, DH
Pengarah gaya: Nia L. Tobing
Foto: Dhany Indrianto, dok. Ayahbunda
Dr. Sri Sukmaniah, MSc, “Tidak usah terburu-buru menurunkan berat badan. Karena, tugas ibu setelah 6 bulan melahirkan adalah memberikan ASI eksklusif yang memerlukan gizi prima.”
Dr. Tanya Rotikan, Sp.KO, “Yang penting, semua aktivitas, baik olahraga maupun kerja di kantor, tidak dilakukan berlebihan. Kalau berlebihan, akan mengurangi produksi ASI.”
Catcher:
- Tak ada kata kompromi. Pikirkan kesehatan dulu, baru kemudian penampilan
- Penurunan berat badan yang paling cepat = olahraga + diet yang seimbang
Boks 1:
Sudah Idealkah Berat Anda?
Untuk mengetahui berapa berat badan Anda yang ideal, lakukan dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT). Rumusnya:
IMT = Berat badan (kg )
Tinggi badan² (m)
Contoh:
Berat badan Anda setelah melahirkan 60 kg. Tinggi badan 1,6 m.
IMT = 60 kg
(1,6 m)²
= 23,4
Artinya, Anda tersebut masuk klasifikasi berat badan lebih (preobes).
Tabel. Klasifikasi Berat Badan (BB) berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT)
untuk Orang Asia Dewasa
|
Klasifikasi |
IMT (kg/m2) |
|
BB kurang BB normal BB lebih Preobes (gemuk sedikit) Obes I Obes II |
18,5 – 22,9 > 23 23 – 24,9 25 – 29,9 > 30 |
Sumber: WHO-WPRO, 2000
Boks 2:
Kegemukan? Inilah Penyebabnya!
Kelebihan berat badan sebenarnya disebabkan oleh kelebihan masukan energi dibandingkan penggunaan energi itu sendiri. Beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya adalah:
• Faktor keturunan
Pada beberapa penelitian yang menggunakan hewan ditemukan adanya gen obes. Berdasarkan penelitian itu, orang-orang yang diduga memiliki gen obes harus waspada. Walau tidak tampak gemuk, tubuhnya sangat mudah mengubah kelebihan zat gizi menjadi lemak.
• Pola makan tidak seimbang dan gaya hidup beraktivitas fisik sangat rendah
Selama hamil, Anda sering merasa lapar. Akibatnya, Anda jadi senang ngemil atau minum yang manis-manis. Makanya, rutin kontrol ke dokter atau bidan untuk memeriksa kondisi kesehatan merupakan keharusan. Apalagi, bila sebelumnya Anda rutin berolahraga, tapi begitu hamil langsung berhenti.
Boks 3:
Pola Makan Tepat Saat Menyusui
• Pola makan yang dianjurkan adalah frekuensinya ditambah menjadi 5-6 kali, tapi porsinya diperkecil. Selain tidak cepat lapar, cara makan seperti ini dapat mempertahankan kadar lemak darah dan mencegah hiperkolesterol (tingginya kadar kolesterol dalam darah).
• Kandungan gizinya harus lengkap . Untuk kualitas, prinsip 4 sehat 5 sempurna masih relevan.
• Kurangi lemak jenuh yang merupakan sumber kolesterol, dan tambahkan lemak yang tidak jenuh seperti asam oleat atau omega 9, omega 3 dan omega 6. Caranya? Tambahkan kurang lebih satu sendok makan minyak yang mengandung zat gizi ini ke dalam makanan yang akan dimakan, seperta selada sayuran.
• Jangan berlebihan menggunakan santan dalam menu sehari-hari.
• Bila ingin makan makanan gorengan , gunakan minyak goreng yang masih bening.
• Konsumsi buah dan sayur . Selain kaya serat dan kandungan vitamin serta mineralnya, buah dan sayur juga mengandung antioksidan, seperti flavonoid. Zat antioksidan berpotensi untuk mempertahankan kesehatan sel-sel tubuh, dan mencegah oksidasi dari lemak di dalam darah.
• Konsumsi susu atau produk olahan susu , seperti yogurt atau keju. Bentuknya tidak harus minuman. Bisa saja sebagai bahan campuran puding, pastel panggang, atau makanan lain.
• Boleh-boleh saja mengonsumsi gula , asal tidak mengidap diabetes melitus dan tidak berlebihan. Misalnya, minum secangkir teh dengan satu sendok teh gula, satu kali sehari di sore atau pagi hari.
• Konsumsi snack atau makanan ringan kaya serat dan rendah lemak , misalnya jagung rebus atau kacang rebus.
Boks 4:
Obat Pelangsing, Amankah?
Obat-obat pelangsing biasanya digunakan untuk menangani obesitas yang tergolong suatu penyakit, misalnya membuat jantung bekerja lebih keras memompa darah. Penanganan mereka yang umumnya memiliki indeks massa tubuh di atas 30 tersebut harus di bawah pengawasan dokter. Hal ini antara lain karena pentingnya pemantauan terhadap efek samping obat-obatan yang digunakan.
Walau termasuk golongan obesitas, selama ibu yang baru melahirkan masih menyusui, biasanya dokter tidak memberikan obat-obatan. Karena, banyak zat pada obat-obatan tersebut yang bisa masuk ke dalam ASI dan berdampak buruk bagi Anda dan si kecil! Anda dan si kecil bisa diare atau alergi, misalnya. Yang penting, kalau memang Anda butuh obat atau vitamin, konsultasikan dulu dengan dokter. Jangan minum sembarangan.
Boks 5:
Langsing dengan Berolahraga
• Lakukan secara teratur sesuai dengan prinsip-prinsip olahraga , yaitu:
• Progresif, maksudnya ada kemajuan.
• Reguler, maksudnya berkesinambungan.
• Spesifik, yakni sesuai untuk orang tersebut dan tujuan apa yang diinginkannya.
• Bagi ibu yang melahirkan normal , sudah boleh melakukan senam sejak hari pertama setelah melahirkan (sambil berbaring di tempat tidur) . Misalnya, senam untuk mengembalikan kondisi otot perut yang selama hamil teregang dan kendur. Setelah pulang ke rumah, kalau tidak ada komplikasi, Anda boleh mulai dengan latihan ringan secara bertahap dan teratur. Kalau tidak terbiasa berolahraga, mulailah dari jalan kaki sambil mendorong kereta berisi bayi, naik sepeda statis, atau berenang (setelah masa nifas).
• Bagi ibu yang melahirkan melalui operasi caesar , harus minta izin dulu pada dokter sebelum melakukan latihan apa pun. K arena, semua ini sangat tergantung dari penyembuhan luka paska operasi dan apakah ada komplikasi atau tidak. Latihan mengangkat kepala untuk mengembalikan kondisi otot perut, misalnya, baru bisa dilakukan pada hari ketujuh. Karena, luka jaringan dianggap sudah menutup dalam waktu seminggu.
• Lakukan latihan penguatan otot , terutama ditujukan bagi otot-otot besar, yaitu otot–otot paha, pinggul, perut, punggung, dan lengan. Latihan sementara dilakukan tanpa beban.
• Lakukan latihan 2-3 kali seminggu selang sehari . Bila terlalu lelah, misalnya karena semalam kurang tidur, sebaiknya latihan ditunda. Awali dengan 5 kali gerakan saja. Tentu saja, tidak boleh sampai terlalu lelah. Lakukan bertahap sampai akhirnya menjadi 20 kali. Selain itu, harus ada pemanasan 5-10 menit, dan pendinginan 5-10 menit, disertai peregangan.
Boks 6:
Olahraga Vs Kegiatan Laktasi
Secara umum, ibu-ibu yang habis melahirkan dan sehat bisa melakukan olahraga dengan intensitas sedang (kalau Anda kurang bugar, intensitasnya ringan saja). Hal ini sudah diteliti dan sama sekali tidak mengganggu kegiatan laktasi.
Kathryn G. Dewey, Ph.D, seorang guru besar di bidang gizi pada University of California, sekitar tahun 1994 membandingkan 18 wanita yang habis melahirkan dan melakukan latihan (sekitar 4 kali seminggu, 45 menit, dan 60-70% dari denyut nadi maksimal) dengan 15 wanita yang sama sekali tidak melakukan latihan apa pun. Setelah diamati selama 12 minggu, kuantitas dan kualitas ASI ibu-ibu yang melakukan latihan ternyata tidak terganggu. Pertambahan berat badan bayinya pun baik. Selain itu, mereka juga tidak mengalami pusing atau capai setelah berolahraga.
Boks 7:
Indy Barends (31 tahun),
presenter, ibu seorang putra
“ Menyusui Membuat Berat Badan Cepat Turun”
Berat badan saya sebelum hamil 47 kg. Namun, selama hamil, berat saya naik sampai 24 kg! Kebayang, ‘kan? Untungnya, beberapa hari usai persalinan, berat saya langsung susut sekitar 15 kg. Sekarang Rafa, panggilan Rafael Benaya Sarmanella, sudah berusia 5 bulan. Nah, selama itulah proses pelangsingan tubuh saya berjalan. Sekarang, berat badan saya sudah 52 kg. Tapi, target saya, sih , bisa mencapai 47 kg lagi.
Untuk menurunkan berat badan, saya tidak ikut program apa pun. Saya hanya bertekat menyusui Rafa secara eksklusif selama 6 bulan. Bukankah menyusui secara otomatis akan mengurangi lemak? Nah, untuk melancarkan ASI, saya banyak makan buah-buahan, susu, dan sayuran, terutama daun katuk.
Faktor lain yang membuat berat badan saya cepat menyusut adalah mengurus Rafa sendiri. Mulai pagi sampai malam hari. Dijamin, deh , berat badan berkurang, walau tidak secara instan!
Saya tidak anti program pelangsingan yang banyak bertebaran di mana-mana. Tentu saja, sepanjang pengobatannya tidak memakai zat-zat yang dimasukkan ke dalam tubuh. Kalau tidak perlu, saya memang tidak mau ada zat kimia yang masuk ke dalam tubuh.
Boks 8:
Namara Surtikanti “Kikan” (28 tahun),
penyanyi, ibu seorang putri
“Resepnya: ASI, Taebo, dan Air Putih!”
Berat badan saya naik sampai 20 kg waktu hamil Shira Allegra Sampurna (1 tahun). Terus terang, saya memang doyan makan. Setelah melahirkan, kurang dari seminggu, berat badan saya sudah turun 7 kg, dan nafsu makan saya juga menurun.
Untuk menjaga kebugaran, sejak sebelum menikah, saya terbiasa berolahraga thai boxing alias taebo di rumah. Saya Merasa cocok dengan olahraga ini. Setiap latihan, lamanya sekitar 2 jam, serta dibagi menjadi 3 jenis latihan dengan gerakan yang berbeda. Kebetulan, instruktur saya juga tahu soal gizi dan pengaturan pola makan yang sehat.
Selama hamil saya tidak melakukan taebo. Kebugaran tubuh saya jaga dengan berenang dan senam hamil yang tidak berisiko bagi janin. Saya kembali melakukan taebo setelah lewat 40 hari dari melahirkan. Sedikit demi sedikit porsi latihannya terus bertambah. Hasilnya, bukan hanya berat badan turun, tapi saya juga merasa kembali bugar, segar, dan lebih fit! Saya juga minum air putih setiap pagi begitu bangun tidur, untuk detoksifikasi dan kebugaran tubuh.
Diarsipkan di bawah: ASI
Tingling Sensations – “Let-Down”:
After baby has nursed for a few minutes, many (but not all) women
feel a tingling sensation followed by a strong surge of milk. This
is known as the “let-down” response, and is natural and expected.
This can happen with nursing, with just seeing a baby, hearing a baby
cry or even thinking about your baby. Often this let-down is
accompanied by a leakage of milk from one or both breasts.
The hormone oxytocin is released into your blood, and as a result the
tiny muscles surrounding the milk-storage cells of the breast push
the fattier hind milk into the ducts – this is the let-down reflex or
the milk-ejection reflex.
Untuk bisa terjadinya si let down ini, coba deh stimulasi nipplenya.
Jadi sblm meres, keluarin dikit ASInya, olesin ke nipple trus gak
lama biasanya terasa kenceng di payudara & ada yg ngalir.
N’tar kalo aliran ASI udah berkurang, distimulasi lagi nipplenya,biar
mancur lg. Dlm 1 kali session pumping, aku bisa ngalamin let down ini
2-3 kali.
Ini ada tips yg berguna dalam memerah ASI dr
www.breastfeedingandbabywearing.co.uk
General Expressing Tips
- Expressing milk is easier if you are relaxed – try deep breathing
exercises. Some women from Bach Rescue remedy helpful for calming them
down if they are trying to express when stress.
- A routine also helps to relax the body in preparation – This could
be laying your pump out on a table, looking through a little photo
album
of baby pictures, making your self a cup of tea or anything else which
you do which you could make into a ritual.
- Many women find it easier to express if baby is with them. If you
can’t express in the same room as your baby, then a looking at a photo
may help, as may something which smells of baby or visualising
yourself feeding your baby.
- Don’t worry about the amount of milk you are producing – babies are
much more effective at removing milk from the breast, and worrying
that
you might not be expressing as much milk as you need releases
adrenaline, which works against the oxytocin which the body needs to
let
down milk.
- It is important that you continue expressing until hind milk flows -
this is the richer, whiter milk which come after the thinner, more see
through hind milk.
- Many women find that they can have multiple let downs in a session,
so if you milk flow slows down it is worth continuing to see if you
have
a second let down.
- On the other hand, expressing for more than 20 minutes on one breast
is not recommended as this could damage your breast.
- Stroking firmly but not too hard from the outside of the breast
to the nipple, and working your fingers in little circles, spiraling
from the outside of the breast to the nipple is a great way to
prepare the
breast for expressing, and can be down each time the milk flow slows
down.
- You may be most successful at expressing while your baby feeds from
the other breast – this does take some dexterity, and possibly a
helping hand from your partner
- Applying heat the breast may also help – a warm rung out flannel or
a shower can often start things going If you need to express
regularly,
then try to express at the same time and place. Your body will adapt
to this quicker.
- Learning to express is about teaching your body to respond to an
additional set of cues, so don’t be surprised if your first
expressing sessions aren’t very productive. Try again another day,
perhaps at a different time, and see what happens.
- Most mums find that they can express more milk in the morning, and
less at night. The level of your supply does vary through the day and
from day to day, so don’t expect to always get the same amount.
- If you are trying to build up your supply, it is very helpful to
express in the later evening. Even though you may be producing less
milk,
the level of hormones in your body mean that late evening
feeds/expressing session are the best at ‘demanding’ a higher supply.
- Most experts say that it takes about 3 days of stimulation for the
body to fully catch up with demand, so if you add an expressing
session
into your day, your baby may fit in an extra feed as well until your
body realises what you want.
- Studies have shown that breast milk from hand expresion contains the
more of the fatty hindmilk than breastmilk from pumping, and that More
milk, and especially more hindmilk, is produced when milk is expressed
from both breasts at the same time.
- If you are expressing from one breast at time, it is recommended
that you express from one side until the milk flow slows down
significantly, and then from the other side until that flow slows
down,
and then back to the first side etc.
The Let-Down Reflex
Your Body’s Response to the Baby’s Suckling
Infant suckling stimulates the nerve endings in the nipple and areola, which signal the pituitary gland in the brain to release two hormones, prolactin and oxytocin.
- Prolactin causes your alveoli to take nutrients (proteins, sugars) from your blood supply and turn them into breast milk.
- Oxytocin causes the cells around the alveoli to contract and eject your milk down the milk ducts. This passing of the milk down the ducts is called the “let-down” (milk ejection) reflex.
Let-down is demonstrated in numerous ways including:
- Your infant begins to rapidly suck and swallow.
- Milk may drip from the opposite breast.
- The mother may feel a tingling or a full sensation (after the first week of nursing) in her breasts or uterine cramping.
- You may feel thirsty.
NOTE
There may be many let-downs during a feeding, of which you may or may not be aware. Because the brain plays such a large role in the release of hormones that cause the milk to eject, it is very normal for let-downs to occur in other situations as well. For instance, let-down may occur when you think about your baby, hear your or another baby cry, when it is your scheduled nursing time, when you are sexually stimulated, or during orgasm.
If the let-down occurs at an awkward time, cross your arms over your chest, or press the heel of your hand over the nipple area and apply pressure until the leaking stops. It may also help to wear cotton breast pads (without plastic liners) in your bra, especially in the first weeks, to protect your clothing. This type of response will usually diminish after the first few weeks of nursing.
Uterus Response Postpartum
Release of the hormone Oxytocin while breastfeeding will cause the uterus to contract and this may be more noticeable if you have previously had children. It is this mechanism that helps your uterus to return to its pre-pregnant size quickly.
Interference with Let-Down
A variety of factors may interfere with let-down:
- Emotions: embarrassment, anger, irritation, fear or resentment
- Fatigue
- Inadequate sucking (Improper positioning or insufficient amount of time baby is actively nursing.
- Stress
- Negative remarks from relatives or friends
- Fear of pain in your breasts or uterus (i.e., sore nipples or afterbirth pains)
- Breast engorgement in the first few days
Suggestions for Creating a Supportive Nursing Environment
- Find a peaceful atmosphere for nursing. Before beginning the feeding, unplug the phone, turn on relaxing music, and take four or five deep abdominal breaths.
- If breastfeeding in public inhibits you, insist on your privacy and/or drape a light cover over your baby and your shoulder to cover up.
- Interact with friends and breastfeeding professionals who are supportive of breastfeeding. Do not let well-meaning friends and relatives who have different attitudes discourage you. Restrict visitors until you are comfortable.
- Be around other nursing mothers. Attend a postpartum exercise class and/or postpartum support group.
- Be sure your baby is positioned properly and allow adequate suckling.
Colic excessive crying overactive let down GER
Colicky Behavior in Breastfed Infants
Few things are more distressing to parents than the sound of their own baby crying. Mother Nature intended it this way, to guarantee that well-meaning parents would promptly respond to their baby’s needs. Fortunately, by trial and error and good intentions, most parents soon learn to read their baby’s cues and thus manage to keep crying to a minimum. Since human milk is the ideal infant food and is so readily digestible, breastfeeding parents often assume that their babies automatically will be content most of the time. But babies have a wide range of temperaments and differing needs. Some are naturally easy and predictable, while others are extrasensitive and more difficult in general. Babies cry an average of one and a half to four hours a day in the first six weeks of life, but any crying can feel like too much when it exceeds a parent’s threshold for coping.
Colic is a vague term that describes excessive crying in an otherwise healthy baby for no apparent reason during the first three months of life. No specific cause or treatment has been identified, and parents are typically advised to use comfort measures to cope with the excessive crying until their baby outgrows the problem. Often, a baby is labeled as being “colicky” (crying without an explanation) when the infant, in fact, has a reason for crying that hasn’t been recognized. If your breastfed baby cries excessively without an obvious explanation, consider the following possibilities:
Hunger
When a breastfed baby cries a great deal, the first thing to consider is the possibility of hunger. Neither the number of nursings nor the length of feedings can provide absolute assurance that your baby has gotten enough milk. Many breastfeeding mothers automatically assume that their baby can’t be hungry because “I just fed him.” But having nursed recently doesn’t guarantee that your baby isn’t still hungry. Sometimes babies nurse without having latched on correctly or without sucking properly. Sometimes the milk doesn’t let-down briskly or a woman doesn’t produce enough milk to satisfy the baby. Thus, an infant might “go through the motions” of nursing without actually getting a full feeding.
If your baby cries excessively and you can’t figure out why, start with a weight check to be sure he is gaining at an appropriate rate. Don’t settle for telephone advice about your baby’s “colicky” behavior unless your infant has been weighed within the last week. Time and time again, we have evaluated a breastfed infant referred to the Lactation Program for “colic” only to find that the baby was very underweight and had been crying due to hunger. In the early months of life, you should expect your baby’s height and weight percentiles to be proportionate. If your baby’s weight is dropping percentiles, his crying might be due to hunger. Crying due to hunger is usually accompanied by vigorous sucking on a finger, fist, or pacifier and promptly responds to feeding.
Reaction to Maternally Ingested Foods
Allergies and other adverse reactions to maternally ingested foods can produce colicky behavior in breastfed infants as previously described. In addition to fussiness, these babies often have skin rashes, vomiting, diarrhea, congestion, or other symptoms. Irritable, allergic infants often are overweight, since they are put to breast frequently in an attempt to console them. They may become fussy minutes after nursing or a couple of hours later. Frequently, a family history of food sensitivities can be elicited.
Overactive Let-Down Reflex
As previously noted, some women are blessed with an abundant milk supply and a brisk let-down. Their breasts work like precision machines when it comes to feeding time. As soon as the milk ejection reflex is triggered, milk pours from their nipple openings so fast that it’s all their baby can do to handle the flow without choking. It’s a little like drinking from a fire hydrant, and some babies find it too much of a good thing. As they gulp and sputter their way through a feeding, they may get overwhelmed. Some infants pull off the breast and cry in frustration until the milk stops spraying. Others make valiant attempts to get through a feeding, but end up swallowing excessive amounts of air. This can cause uncomfortable gas and lead to unexplained crying during or after feedings.
If an overactive let-down is causing your baby distress, try expressing some milk before feeding, and put your baby to the breast after milk flow tapers to a manageable level. Or, you can interrupt nursing for a minute or two once the let-down is triggered and wait for the milk to stop spraying. Babies of mothers with overgenerous milk supplies often do better nursing from one breast at a feeding instead of both breasts. This way, they get more hindmilk and a gradually decreasing flow rate.
Gastroesophageal Reflux (GER)
The circular muscle that separates the stomach and the esophagus (food pipe) is loose in young infants, so that stomach contents can easily enter the esophagus during or after feedings and be spit up. This condition is known as reflux or gastroesophageal reflux (GER). Reflux is more likely to occur when a baby is lying on his back with a full tummy. Thus, it is not uncommon for a baby to spit up while lying supine for a diaper change after a feeding. In mild cases of reflux, the baby may spit up a lot, but acts content and gains weight appropriately. Usually, by eight to ten months of age, when babies have learned to sit up well and spend more time in a semiupright position, the frequency of spitting decreases.
In a few infants, GER represents a serious problem rather than a benign condition. These babies may be chronically fussy due to the irritation of acid stomach contents in their esophagus, producing heartburn symptoms. Babies with serious reflux often become distressed and irritable during feedings. They may pull away from the breast, cry, arch, act uncomfortable, and refuse to keep nursing even though plenty of milk remains. Occasionally, reflux is severe enough to impede proper growth and cause choking, coughing, pneumonia, or hoarseness.
If your baby has symptoms that sound like reflux, notify her physician. Generally, babies with GER do better with frequent, smaller feedings that avoid overdistension of the stomach. Spitting up can be reduced by frequent burping during feedings and by positioning the baby upright after nursings. Sometimes medication is prescribed to help the stomach empty more rapidly or to reduce the amount of stomach acids. Rarely surgery becomes necessary to remedy the problem.
Infant Colic
Colic, described earlier, occurs in an estimated 10 to 15 percent of all infants, and it is one of the most difficult and frustrating things for new parents to handle. Crying attributed to colic typically is intermittent and intense, often coming in sudden attacks and lasting an hour or more at a time. There usually is a pattern to the crying, which escalates in the evenings, when parents are most depleted and least able to cope with stress. No definite cause of colic has been found, although common theories include a sensitive temperament, an immature digestive system, and excessive intestinal gas. Colic usually peaks around four to six weeks of age and subsides by three months. It occurs in both breastfed and formula-fed infants. Colicky babies are otherwise healthy, well fed, alert and active, appear happy between crying spells, and show no long-term effects of colic.
Colic is not a telephone diagnosis. If your infant cries excessively without explanation, it is essential that your pediatrician examine him and confirm that no medical problem exists (see below). Other parents have found the following strategies to be helpful in reducing infant crying:
- A baby’s cry is a distress signal, and crying babies need to be held and comforted. Holding doesn’t reinforce crying any more than feeding reinforces hunger. Responding quickly to a baby’s crying doesn’t “spoil” the infant. Rather, promptly attending to a crying baby teaches the infant to trust her caretakers. This trust relationship becomes the foundation for communication.
- Gentle rhythmic motion, such as rocking or swinging, and soothing words or repetitive singing will tend to diminish crying. Steady rhythmic sound, like running the vacuum or fan in the next room, may also settle a crying baby.
- Swaddling a distraught infant in a blanket or cuddling him snugly and providing close physical contact will help him feel secure and may diminish crying. A front-pack, carrier, or sling will allow you to hold your infant for long periods without restricting your activities.
- Avoid vigorous bouncing, jiggling, or jostling, crowds, loud noises, or other boisterous activities that may further upset your baby. When your baby starts to fuss, take him into a quiet room with subdued lighting and minimal stimulation.
- Place your baby across your lap tummy-down and pat her back or carry her facedown on your forearm with her legs draped over either side of your elbow. Pat her back with your other hand while walking, rocking side to side, or squatting and standing.
- Try a car ride. Secure your baby in his car seat and go for a short drive. The motion and motor usually lull the baby to sleep. Another strategy is to push your baby around the block in his stroller until he falls asleep.
- Arrange to take a break when you are feeling especially tense and anxious. Just getting outside and walking around your neighborhood or running a short errand while someone else stays with the baby can renew your perspective. Your baby’s crying will not seem nearly as nerve-racking to a relief caretaker.
- Take consolation in the knowledge that other parents have survived colic too. Try to remember the crying is no one’s fault, the condition is self-limiting, and your baby is otherwise healthy. Never shake an infant, as violent shaking can cause severe brain injury and even death!
Diarsipkan di bawah: ASI
Apa yang dimaksud dengan mastitis?
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus (saluran susu) hingga puting susu pun mengalami sumbatan. Untuk menghambat terjadinya mastitis ini dianjurkan untuk menggunakan bra atau pakaian dalam yang memiliki penyangga yang baik pada bagian payudaranya. Pengurutan payudara sebelum laktasi merupakan salah satu tindakan yang sangat efektif untuk menghindari terjadinya sumbatan pada duktus. Usahakan untuk selalu menyusui dengan posisi dan sikap yang benar. Kesalahan sikap saat menyusui dapat menyebabkan terjadinya sumbatan duktus. Menggunakan penyangga bantal saat menyusui cukup membantu menciptakan posisi menyusui yang lebih baik.
Beberapa indikasi yang menunjukkan terjadinya mastitis: – Tiba-tiba muncul rasa gatal pada puting dan berkembang menjadi adanya rasa nyeri saat bayi menyusui – Timbulnya rasa demam dan kemerahan disekitar area hisapan dapat pula disebabkan mastitis. Sisi yang mengalami sumbatan duktus akan menunjukkan warna kemerahan dibandingkan daerah lainnya – Ibu merasakan gejala menyerupai flu seperti demam, rasa dingin sementara tubuh terasa pegal dan sakit. Cara mengurangi efek mastitis: – Untuk memperpendek durasi mastitis, segeralah tidur bila menduga adanya mastitis dan istirahatlah dengan benar – Konsumsi echinacea dan vitamin C untuk meningkatkan sistem imun dan membantu melawan infeksi – Kompres daerah yang mengalami sumbatan duktus dengan air hangat – Bantuan pancuran air hangat (shower hangat) untuk mandi, akan sangat membantu mempercepat menghilangkan sumbatan – Tetap berikan ASI kepada bayi, terutama gunakan payudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang – Lakukan pemijatan ringan saat menyusui juga sangat membantu
Mastitis
Pada saat menyusui memang bisa terjadi Infeksi payudara, hal ini bisa dikarenakan adanya saluran payudara yang tersumbat sehingga ASI tida bisa keluar dengan lancar.
Adanya saluran payudara yang tersumbat ini menyebabkan pembengkakan pada payudara dan bila tidak ditangani dengan baik bisa berlanjut menjadi radang (mastitis) dan menyebabkan abses ( bernanah).
Di bawah ini saya sertakan tips untuk mencegah dan mengatasi radang payudara yang diambil dari info sehat.com
Pencegahan Radang Payudara saat Menyusui
Cara mencegah radang payudara:
- Keluarkan kelebihan ASI dengan segera. ASI yang tidak dikeluarkan akan menumpuk dan menimbulkan penyumbatan di dalam payudara yang dapat berujung peradangan.
- Susui bayi sesering mungkin dan jangan memperpanjang jarak antar tiap waktu menyusui.
- Jika payudara sudah terasa penuh ASI, bujuklah bayi untuk menyusui. Anda tidak perlu menunggu sampai si kecil merasa lapar.
Cara mengatasi radang payudara:
- Istirahat. Istirahat akan menghilangkan stres dan meningkatkan kekebalan tubuh Anda kembali.
- Kompres payudara. Secara bergantian, kompres payudara Anda dengan kompres hangat dan dingin. Kompres dingin menghilangkan rasa nyeri, sedangkan kompres panas membantu memerangi peradangan.
- Pijat daerah yang sakit. Pemijatan akan meningkatkan sirkulasi, mengurangi penyumbatan payudara serta membantu meningkatkan faktor imunitas di payudara. Pijatlah payudara Anda sambil mandi air hangat atau berendam air hangat.
- Jangan berhenti menyusui meskipun payudara meradang. Penghentian ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi kuman penyakit pada payudara yang dapat berlanjut menjadi abses payudara (payudara bernanah).
- Susuilah lebih sering di payudara yang meradang .
- Susuilah payudara yang meradang sampai kosong, karena apabila ada yang tersisa akan lebih mudah terinfeksi lagi.
- Sebaiknya langsung susui bayi (jangan dipompa), kecuali jika terpaksa karena bayi menolak menyusu, keluarkan ASI dengan tangan atau dipompa.
- Mulailah menyusui dengan payudara yang sehat, setelah itu baru ganti ke payudara yang sakit. Cara ini akan mengurangi nyeri saat menyusu.
- Apabila bayi Anda menolak untuk menyusu pada payudara yang meradang, ini dapat disebabkan karena peradangan kelenjar susu meningkatkan kadar sodium (garam) pada ASI sehingga rasanya jadi asin. Kebanyakan bayi tidak menyadari rasa asin ini, tetapi ada bayi yang menolak untuk meminumnya. Apabila bayi Anda menolak, mulailah menyusui dari payudara yang sehat, baru selanjutnya tukar ke payudara yang meradang.
- Apabila peradangan terus berlanjut, segeralah periksa ke dokter.
Mastitis dan Penanganannya
Memiliki seorang anak yang baru lahir adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, perubahan kebiasaan hidup karena kehadiran buah hati pun terjadi, Prioritas pertama saat itu adalah memberikan ASI sebagai makanan bagi bayinya.
- Masa-masa menyusui tersebut seringkali membuat ibu mengalami pengerasan payudara hingga berakibat mastitis. Mastitis ini tidak akan terjadi bila ibu memberikan ASInya dengan cara yang benar.
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus hingga puting susupun mengalami sumbatan. Untuk menghambat terjadinya mastitis ini dianjurkan untuk menggunakan bra atau pakaian dalam yang memiliki penyangga yang baik pada payudaranya.
Selalu pastikan tindakan menysui dengan posisi dan sikap yang benar. Kesalahan sikap saat menyusui menyebabkan terjadinya sumbatan duktus. Pengurutan payudara sebelum laktasi adalah salah satu tindakan yang sangat efektif untuk menghindari terjadinya sumbatan pada duktus. Menggunakan penyangga bantal saat menyusui dapat pula membantu membuat posisi menyusui menjadi lebih baik.
Beberapa indikasi yang memungkinkan terjadinya mastitis pada setiap ibu menyusui yang seharusnya dapat dihindari, beberapa diantaranya adalah:
– Dimulai dengan adanya rasa gatal pada puting dan berkembang menjadi adanya rasa nyeri saat bayi menyusui, ini dapat disebut mastitis. Namun tidak semua kasus mastitis ada keluhan nyeri, sehingga ibu sebaiknya mengetahui indikasi lainnya.
– Adanya rasa demam dan kemerahan disekitar area hisapan dapat pula disebabkan mastitis. Sisi yang mengalami sumbatan duktus akan menunjukkan warna kemerahan yang lenih jelas dibandingkan daerah lainnya, umumnya disertai dengan rasa nyeri yang hebat terutama bila tersentuh hingga tidak dapat menggendong bayi pada sisi yang mengalami mastitis karena sensasi rasa sakitnya.
– Ibu akan tampak seperti sedang mengalami flu, dengan gejala demam, rasa dingin dan tubuh terasa pegal dan sakit.
Tips untuk mengurangi efek dari mastitis.
· Cepat curiga akan adanya mastitis.
· Segeralah tidur bila menduga adanya mastitis dan istirahatlah dengan benar.Duduklama selama beberapa jam tanpa melakukan aktifitas dapat membantu memperpendek durasi mastitis.
· Konsumsi echinacea dan vitamin C untuk meningkatkan sistem imun dan membantu melawan infeksi. Jika infeksi terjadi hingga berhari-hari konsultasikan kepada dokter.
· Kompres air hangat pada daerah yang mengalami sumbatan duktus.
· Bantuan pancuran air hangat (shower hangat) untuk mandi, akan sangat membantu mempercepat menghilangkan sumbatan.
· Tetap berikan ASI kepada bayi, bila gagal coba lagi, susui terutama payudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang. Bila gagal gunakan pompa sedot.
· Lakukan pemijatan terus menerus saat menyusui juga sangat membantu.
(idionline/Kalbefarma)
Infeksi Payudara Ganggu Keluarnya ASI
MESKIPUN seorang ibu ingin menyusui bayinya dan persediaan susunya cukup, tidak jarang rencana ini gagal karena air susu terbendung. Akibatnya, air susu ibu (ASI) tidak keluar sehingga payudara membengkak, diikuti suhu tubuh yang agak tinggi atau demam, pegal-pegal, dan lemas. Banyak yang salah duga karena tanda-tanda ini mirip dengan keadaan bila seseorang terserang influensa. Inilah infeksi payudara.
Infeksi payudara atau mastitis sebenarnya merupakan suatu masalah yang jarang terjadi pada ibu-ibu yang menyusui bayinya. Tetapi kalaupun hal ini sampai terjadi, biasanya baru akan muncul 11-30 hari setelah melahirkan.
Infeksi payudara tidak bisa disamakan dengan keadaan yang disebabkan oleh penyumbatan ASI. Bila infekasi payudara terjadi pada minggu pertama setelah melahirkan, maka penyumbatan ASI terjadi lebih dini lagi, yaitu sekitar 24-72 jam setelah persalinan, pada waktu payudara mulai memproduksi ASI, atau lama setelah itu misalnya pada waktu menyapih bayi.
Gangguan yang ditimbulkan akibat penyumbatan saluran ASI ini antara lain rasa kurang nyaman, payudara membengkak dan sensitif, tetapi tidak diikuti dengan demam. Penyebab penumbatan ini bukan karena infeksi.
Untuk mengatasi penyumbatan saluran ASI, kenakanlah BH khusus bagi ibu menyusui, lalu tempat yang bengkak dikompres dengan air dingin atau es. Kalau dianggap perlu, seorang ibu dapat minum obat pengurang rasa sakit. Biasanya, dalam beberapa hari pembengkakan berkurang dan payudara akan menjadi lebih lembut setelah ASI diproduksi dengan teratur.
Lakukan Sesuatu
Setiap saat, selama menyusui, ASI memang dapat terbendung. Akibatnya terjadi pembengkakan di satu bagian, payudara menjadi lebih peka, meskipun tidak menimbulkan demam. Tetapi, bila keadaan ini dibiarkan, maka dapat berkembang menjadi infeksi.
Karena itu, agar tidak berkembang lebih gawat, sebaiknya ibu melakukan sesuatu, misalnya dengan membersihkan sisa-sisa ASI yang tertinggal di puting secara teratur dengan air hangat, dengan meletakkan sesuatu yang panas di tempat yang bengkak. Kompres dengan air panas atau mandi di bawah pancuran juga dapat menolong.
Kemudian, daerah yang bengkak sebaiknya di-massage dengan hati-hati, dan payudara sesering mungkin dikosongkan, dengan cara menyusui. Bisa juga mengeluarkan ASI dengan tangan atau pompa payudara. Dengan cara-cara seperti ini biasanya penimbunan ASI akan berakhir dengan cepat dan tidak sampai menimbulkan mastitis.
Bila keadaan tidak tertolong lagi dan berkembang sehingga timbul kemerah-merahan pada payudara serta diikuti demam dan seakan-akan terkena influensa, maka tanda-tanda ini menunjukkan adanya infeksi. Dalam hal ini sebaiknya ibu segera ke dokter supaya dapat dilakukan tindakan untuk mengatasinya.
Dari pemeriksaan diketahui bahwa jenis bakteri penyebab infeksi itu kebanyakan bakteri staphylosoccus aureus. Bayi yang ibunya menderita mastitis akan menyimpan bakteri ini dalam hidung dan tenggorokannya. Memang bayi itu tidak menjadi sakit, tetapi ia dapat memindahkan bakteri itu kembali ke ibunya. Lalu, mengapa beberapa ibu yang bayinya membawa bakteri akan menderita mastitis, sedangkan ibu lainnya tidak? Hal ini belum dapat diungkapkan.
Tetapi yang jelas, penimbunan ASI akan meningkatkan kemungkinan mendapatkan infeksi ini. Mungkin hal ini disebabkan adanya belahan-belahan atau luka (lecet) pada puting susu yang menyebabkan bakteri lebih mudah masuk ke dalam payudara. Karena itu, hindarilah terjadinya luka pada puting susu serta penimbunan ASI dalam payudara.
Pengobatan Secepatnya
Apabila sudah terjadi peradangan atau mastitis, maka dibutuhkan pengobatan dengan obat antibiotika. Pendapat dokter tentang pemakaian antibiotika bisa berbeda-beda, tetapi dokter akan memberikan yang terbaik bagi ibu. Pengobatan dengan antibiotika dilakukan selama beberapa hari, tergantung dari kebutuhan.
Penting diketahui, walaupun ibu merasa sembuh meskipun obat itu belum habis, pengobatan dengan obat antibiotika harus tetap diteruskan. Sebagai terapi tambahan dapat dilakukan dengan minum obat pengurang rasa sakit dan menurunkan panas, menggunakan BH yang dapat menunjang payudara dengan baik, serta kompres air panas. Bila ada demam, maka konsumsi air juga ditingkatkan.
Banyak pendapat yang saling bertentangan mengenai apakah pemberian ASI dihentikan atau tidak selama adanya infeksi payudara. Namun, baik untuk diketahui, bahwa seringkali apabila pemberian ASI dihentikan, maka justru payudara akan makin membengkak, rasa sakit pun bertambah serta proses penyembuhan infeksi bertambah lambat. Walaupun banyak pendapat yang menganjurkan untuk menghentikan pemberian ASI sementara, tetapi dari beberapa penelitian diketahui bahwa mengosongkan payudara merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengatasi infeksi payudara.
Dari suatu penelitian di Denmark pada 1984 diketahui bahwa pengobatan dengan obat-obatan antibiotika yang dikombinasikan menunjukkan hasil yang baik, dan ini dianggap jalan keluar yang tepat. Pengosongan payudara akan mempersingkat lamanya gejala dari penyakit ini. Pengulangan infeksi belum diselisiki dengan seksama.
Namun, beberapa dokter khawatir bahwa apabila bayi-bayi menyusu dari payudara yang terinfeksi, maka mereka pun akan terkena infeksi. Kemudian hal ini akan ditularkan kembali ke ibunya, sehingga akhirnya si ibu akan mengalaminya berulang kali. Tetapi dari beberapa penelitian yang dilakukan diketahui bahwa ibu yang menyusui bayinya walaupun payudaranya infeksi, ternyata tidak menularkan penyakitnya pada si bayi.
Payudara yang terkena infeksi memang harus dikosongkan sesering mungkin dengan cara membiarkan bayi terus menyusu atau memompanya, atau mengeluarkan ASI dengan cara mengurut payudara dengan tangan. Bila mastitis segera diobati dengan antibiotika, maka kemungkinan untuk terjadinya abses sangat kecil. Tetapi sebaiknya, infeksi didiagnosa sedini mungkin untuk dapat mencegah komplikasi yang berat seperti abses. Abses ialah kumpulan nanah, jadi semacam bisul tetapi di dalam payudara. Abses pada payudara dapat terjadi bila pengobatan dengan antibiotika tertunda 24-28 jam.
Bila infeksi payudara ini sudah meningkat jadi abses, maka diperlukan pembedahan. Rongga abses dibuka, kemudian dikosongkan, untuk mengeluarkan nanah yang ada di dalam payudara. Biasanya diperlukan pemberian obat-obat antibiotika melalui intra vana (pembuluh darah di dalam) untuk menyelesaikan hal ini secara tuntas.
* dr. rahardi p.
Diarsipkan di bawah: ASI
Breastfeeding During a Baby’s Growth Spurt
Growth spurts are essential parts of physical maturation and they are developmental milestones. Also called “frequency days,” growth spurts are inevitable in every baby. Still, breastfeeding mothers often become concerned that they have low milk supply during these times. It can be very confusing when a baby has been feeding and sleeping well and, all of a sudden, patterns reverse and the baby starts feeding all day long and is fussy.
How can you distinguish a true growth spurt from a decrease in milk supply? Before you start to worry, it’s important to learn what is truly normal at this time in a baby’s life.
What to Generally Expect at This Stage
During a growth spurt, a baby will suddenly begin to feed more frequently, perhaps for longer periods of time than she had been, and may be very fussy.
Her sleep patterns may also become very erratic (sleeping much more or not sleeping at all). Generally, the major growth spurts occur at 2, 3, and 6 weeks, then 3 and 6 months. Of course, there will be other times where you might notice other frequency days, and this will actually continue into the teenage years.
Many mothers question whether their babies are feeding more because they’re truly hungry or simply because they find the nipple soothing.
If you feel that your baby has had an excellent feed (you can hear gulping; your breast is much softer after having begun with a very full breast; your baby seems generally relaxed), here’s what to do:
- Put her back to the breast, preferably the same one you just used. She might have nodded off before being completely finished nursing. (Sometimes it only takes another 5 minutes of a feeding for a baby to be fully satisfied.)
- Take a stroll. If you feel confident that the feeding was sufficient, try a walk around the block. Sometimes babies have a hard time settling in and, when they start to become fussy, most mothers think they’re still hungry. The best test is to see what happens when you put her in the stroller or in a sling and go outside. If she falls asleep immediately (most babies do once they get into fresh air), she isn’t really hungry. If she screams her way around the block, she is.
Common Issues for Mom at This Stage
Quite often, moms feel anxious that their babies are feeding frequently and are fussy because they have a low milk supply. You can distinguish a true growth spurt from an issue with your milk supply by the duration of time this goes on. Growth spurts are temporary, often ending as fast as they began; low milk supply will stick around until you take measures to increase it.
Go with your baby’s cues. Nurse frequently. If your breasts feel softer and not as full as they typically do, this is normal. Soft breasts does not equate to lost milk supply. If the baby is feeding frequently, he is teaching your body to produce more milk. Your body will respond accordingly. If your supply remains low, take measures to increase it immediately.
Common Issues for Baby at This Stage
Fussiness is the most noticeable issue. A mom’s gut response is to feed because she knows that will have the most soothing effect. If the baby is fed frequently during this stage, the fussiness may subside. In addition, if sleep patterns are disrupted, the baby may be harder to relax or settle because she’s overtired. It may seem like an endless cycle at a certain point, but stay calm and focused on giving the baby what she needs and this stage.
Waking Up A Sleepy Baby
Your baby may sleep a lot during the growth spurt, and this is normal. Waking a sleeping baby during this time is not recommended. Her little body is working very hard — if she’s sleeping, let her sleep.
Growth spurts can be frustrating and exhausting, but keep in mind that they are temporary and essential.
Source: American Academy of Pediatrics Section on Breastfeeding “10 Steps to Support Parents Choice to Breastfeed Their Baby”, 1999.
Diarsipkan di bawah: ASI
Frequently Asked Questions for Donors
http://www.kemh.health.wa.gov.au/services/PREM_Bank/FAQ.htm
Can any breast feeding mother be a donor?
All potential donors are required to participate in a telephone
interview and attend an appointment at your convenience to complete
a questionnaire and undertake a blood test. This screening process
is similar to that of blood donors and the tests are additional to
the ones already undergone prior to giving birth to your baby. The
PREM Bank needs to know you are in good health and by asking you
questions about your medical history and lifestyle.
The PREM Bank will be unable to accept your milk if you:
Smoke
Use illegal drugs or other prohibited substances
Routinely consume more than two standard alcoholic drinks per day
Routinely consume 3 cups of coffee, tea, or other caffeine stimulant
drinks per day (Including cola and stimulant soft drinks)
Have lived in or travelled to the UK between 1980 and 1996 for a
total or cumulative period of 6 months
Have tested positive for HIV, Hepatitis, or cancer.
If you have a medical condition or routinely take medications
including herbal remedies, you may be eligible to donate once
discussed with our medical director.
Although your milk is perfect for your own child, extra care needs
to be taken when distributing donor milk to sick or premature
infants. Although some diseases or infections are eliminated during
the pasteurisation process, blood tests for potential donor mothers
are a necessity. We have an information sheet to inform you about
these tests. There is no charge for this service.
All personal information and test results obtained by the PREM Bank
are held in strict confidence.
How much milk do milk banks expect from donors?
If you have an extra surplus of stored milk that you do not need for
your baby, a one-off donation of this milk can be accepted. We ask
that this milk has been stored in the coldest part of the freezer,
in receptacles other than breastmilk freezer bags and is no more
than three months old.
If you become a regular donor to the milk bank, there are no rules
for the amount you express or donate. The milk collected varies from
woman to woman and week to week. You donate what you can and every
drop is valuable. Small and sick premature infants benefit from the
tiniest amount often starting on about 6mls per day.
However, over a three-month period it is hoped that a donor
regularly supply small amounts of milk and commit to donating at
least three litres over this time period which is our minimal
processing volume.
It is a good idea to establish breast-feeding before you begin to
express for the milk bank. Most babies start within a month of their
baby’s birth and continue for as long as they wish. However, changes
in the composition of breast milk mean that we do not accept new
donor mothers to the milk bank who have started their babies on
solids or are still breast feeding their babies after twelve months
of age. It is also helpful to establish a regular routine such as
expressing at the same time each day as it is much more difficult to
maintain a supply of milk if you only express occasionally. Some
donors prefer expressing in the morning, others find it easiest to
express from one breast whilst their baby is feeding from the other.
Over time, your body adjusts the amount of milk you produce to meet
the changing needs of your baby. It will also respond in the same
way if you express regularly. If you are worried that your own child
may not be getting enough, express after your baby has fed. The law
of supply and demand will ensure that you are producing enough milk
for your baby.
Milk donors like all breast feeding mothers benefit from a healthy
diet and plenty of rest.
Why can’t some mothers of preterm babies provide milk for their own
babies?
Because these babies are born early, their mother may have trouble
initiating lactation, especially if they have been ill during
pregnancy. Premature babies often require treatments that prevent
the normal breast feeding pattern and their mother’s milk supply may
decline for this reason.
Are mothers paid for their donation?
No. We recognise that donating breast milk is an extremely generous
gift and in turn to ensure that it is safely supplied free of charge
to hospitalised infants in need.
May I drink alcohol?
There is no long-term harm in drinking occasional small amounts of
alcohol while you are a donor. It is best however to leave as much
time as possible between taking alcohol and you should avoid
drinking more than 2 standard drinks. Alcohol leaves your breast
milk approximately 2 hours after consumption.
What if I am ill or a member of my family is ill?
Please let the milk bank know if you are unwell with any symptoms
that you feel are more than the common cold. Most minor illnesses
will not affect your milk. However if you are feeling unwell you may
want to stop donating for a while, until you feel better.
What if I have taken any medications?
Breast milk is only suitable for milk bank donation if you have
taken no medications or herbal remedies in the 48 hours before
expressing. If you wish to express anyway and keep the milk for your
own baby, it is important to label that milk with the medication or
remedy you have used.
What if I have vaccinations whilst a milk donor?
Please inform the milk bank if you are about to have, or have
recently had any vaccinations.
Are all of my details obtained by PREM Bank confidential?
The PREM Bank is required by law to maintain the confidentiality of
donor information, questionnaire and blood testing. As a milk bank
donor you are given a specific donor number as identification for
milk bank purposes.
Will I be able to meet the babies who are receiving my milk?
Generally individual donors do not meet the specific babies, mothers
or families who receive their milk. This is part of the PREM Bank
policy. The milk bank however does offer all donor mums a tour of
the Special Care Nursery here at King Edward Memorial Hospital
(KEMH). This is a very special time for you where we can explain and
talk about the issues relating to the very premature babies we are
feeding.
What equipment do I need and how do I store my expressed breast milk?
The PREM Bank provides you with a donor kit including a breast pump,
sterilised collection bottles and labels. As community awareness
about the milk bank operation increases, we may ask that you are
given a waiting list placement until a breast pump and/or more
donors are required.
Information about storing of your breast milk is available in the
PREM Bank Donor Information Kit Package, which is given to you to
take home.
Can I use my own breast pump to donate milk?
It is very important that you have the best opportunity to express
in a safe effective manner, which over the long term will not affect
your breast tissue, your hands or the milk you express. For this
reason hand pumps are not recommended. The PREM Bank uses specific
hospital grade mechanical breast pumps endorsed by the Department of
Neonatal Paediatrics at KEMH.
What arrangements will be made to get the milk to the milk bank?
When you have filled most of the collection bottles at home, we ask
that you phone the staff at the PREM Bank to organise a convenient
time for delivery of your milk and to collect a new supply of
bottles. This is best done during office hours Monday to Friday.
Please use an insulated esky or bag with ice packs to ensure it is
frozen during transit.
If you are interested in becoming a donor and willing to participate
in the screening process please take our online preliminary Donor
Screening Assessment. If you do not register or complete the
assessment, no information is stored. If you register, all
information is kept in the strictest confidence.
Milk Donor
http://www.ukamb.org/donor.htm
Women who have decided to breastfeed will know breastmilk is the
ideal food for babies. It is especially important for babies who are
sick or premature. Giving these babies breastmilk increases their
chances of survival and helps their long-term development. Sometimes
their mothers cannot feed them because they are sick or under too
much stress to produce enough milk.
Can any breastfeeding mother be a milk donor?
Milk banks welcome enquiries from any woman who already has stored
milk or who wishes to become a regular donor and is breastfeeding or
planning to breastfeed.
However, although a mother’s milk is ideal for her own baby, extra
care needs to be taken with tiny or sick babies. Milk banks cannot
accept milk from women who smoke or use illegal drugs and all
potential donors have to be tested for infections that may be passed
on through the milk.
In addition you cannot donate breastmilk if you have received a
blood transfusion since 1980.
Do I need to live near a Milk Bank?
Different milk banks have different policies about how far they will
travel to collect donated milk and a few may not collect at all and
rely on donors delivering their milk. Your nearest milk bank will be
able to tell you if you are too far away to make becoming a donor
impractical.
If you are unable to become a donor for any reason but would like to
support the work of UKAMB in establishing a national service please
go to `What can I do support UKAMB?’.
How much milk do milk banks expect from donors?
Donors are asked to express their milk. The amount of milk collected
from each donor varies from woman to woman and from week to week.
Most useful is a regular supply of small amounts although some milk
banks also take larger one-off donations. Every drop of milk is
valuable and small or sick babies benefit from even the smallest
quantities of breastmilk. Premature babies will often start with
less than 20mls per day. One ounce of milk will feed a tiny
premature baby for 1 ½ days.
The law of supply and demand ensures that a donor’s own baby will
not go short of milk and some mothers even find that expressing
regularly means they end up with a better supply of milk for their
own babies.
Donor health and lifestyle
If you are interested in becoming a donor, please contact your local
milk bank. Staff there will be happy to answer any questions you may
have.
The milk bank will need to know that you are in generally good
health and most will ask that your baby is under 6 months of age
when you start donating (See FAQ section). You may continue to
donate when your baby is older than this.
Some of the questions that you may be asked are:
Do you have any medical condition?
Do you routinely take any medicines including herbal remedies?
Answering yes to these questions does not mean that you cannot be a
donor, but the milk bank staff may want to talk further to you.
Do you smoke or use illegal drugs?*
Do you routinely drink more than 2 units of alcohol per day or 3
cups of caffeinated coffee or other caffeine-containing drinks per
day (cola drinks, sports drinks, Red Bull etc)?*
Have you tested positive for HIV 1 or 2, Hepatitis B or C, HTLV l
or ll or syphilis?*
The milk bank will arrange for a sample of blood to be taken and
tested for infections, which might be passed on through your milk.
*If you answer yes to any of these questions the milk bank will not
be able to accept your milk.
If you are accepted as a milk donor – what then?
When can you start expressing?
Most mothers prefer to wait until they and their baby are confident
in the breastfeeding relationship before they begin to express for
the milk bank. However some like to start sooner than this if they
have a large surplus of milk in the early weeks. Many donors start
within a month or so of their baby’s birth and then continue for as
long as they wish.
When should you express?
It is helpful to try to set up a regular routine such as expressing
at the same time every day because it is more difficult to keep up
an extra supply of milk if you only express occasionally. Some
donors find it easiest to express from one breast while the baby is
feeding from the other.
Will you have enough milk?
The body adjusts the amount of milk produced to meet the changing
needs of the baby at different times and will respond in the same
way if mothers express regularly. If you are worried that your own
baby may not be getting enough, you can express after your baby has
fed.
Milk donors, like all mothers, benefit from a healthy diet and
plenty of rest.
How much milk should you express?
Every drop counts. There are no rules about how much milk you should
express – you donate what you can. Different women produce different
amounts at different times.
You will find that the amount you are able to express will vary from
day to day and as your baby grows. Even small amounts are valuable
to the milk bank.
What equipment is needed?
Breast pumps:
Unless you decide to express by hand, you will need a breast pump.
If you have one of your own you may continue to use it, but milk
banks also provide breast pumps if you would like to borrow one.
Sterilising equipment:
If you use a pump you will need to sterilise it each time it is
used. Any container used for hand expression will also need to be
sterilised. Steam sterilisers or cold water sterilisers may be used.
Alternatively you may use a large plastic container with a lid and
sterilising tablets or liquid.
Bottles and labels:
The milk bank will provide sterilised collection bottles and labels.
Storing and delivering milk:
Milk banks usually ask donors to freeze their milk in a 3 star
freezer, and will collect the milk from them regularly.
What about medications?
Breastmilk is only suitable for donation to the milk bank if you
have taken no medications or herbal remedies in the 48 hours before
you expressed. The progesterone-only contraceptive pill, and asthma
inhalers may be used by donors.
Can alcohol be drunk?
Milk donors can drink alcohol in moderation. It is best to leave as
much time as possible between taking the alcohol and expressing.
Donors should avoid drinking more than 2 unit of alcohol daily.
What arrangements will be made to get the milk to the milk bank?
Most milk banks will make arrangements to collect your milk. How
often they do this will depend on how urgently they need the milk
and how much you are able to store at home. If you are expressing
regularly they will usually try to collect your milk at least every
two or three weeks.
Frequently Asked Questions
How to I store the milk?
When you have finished expressing, pour the milk carefully into the
storage bottles. Do not touch the inside of the cap or the bottles.
Always leave a 2cm gap at the top of each bottle as the milk will
expand when frozen. Replace the cap securely and label the bottle
with your Surname or milk bank ID number and date.
You can freeze the milk immediately after expressing. If you wish to
add to the bottle throughout the day, you can store it in the fridge
for up to 24 hours before freezing it. Bottles with some frozen milk
in them can be topped up later and the date added to the label.
Bottles stored in the fridge or freezer should be kept away from
other food by storing them in a sealed bag or plastic container.
What if I have taken any medications?
Breastmilk is only suitable for donation to the milk bank if you
have taken no medications or herbal remedies in the 48 hours before
you expressed.
If you wish to express anyway and keep the milk for your own baby,
it is important that you label the milk accordingly.
Please inform the milk bank if you have any vaccinations.
What if I am ill?
Please let the milk bank know if you are unwell. Most minor
illnesses will not affect your milk. However, if you are feeling
unwell you may want to stop donating for a while.
Confidentiality
Any information which milk banks hold about donors is kept in strict
confidence.
Are donors able to meet the babies who are receiving the milk?
Generally individual donors do not meet the babies who receive the
milk, or their families. This is part of the confidentiality policy.
However, milk banks try to keep donors up to date with what happens
to their milk, where it goes and other information about milk
banking.
Diarsipkan di bawah: ASI
Donor ASI – Aman Ngga Ya?
oleh: Mia Sutanto, SH, LL.M, Konselor Laktasi
Keunggulan Air Susu Ibu (ASI) memang sudah lama diyakini dan dibuktikan baik oleh para peneliti, tenaga kesehatan maupun para ibu-ibu yang menyusui dan bayi mereka masing-masing yang mengkonsumsi ASI. WHO (Badan Kesehatan Dunia) sendiri telah secara resmi merekomendasikan bahwa ASI diberikan secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan seorang bayi, pada saat usia 6 bulan mulai diberikan makanan pendamping ASI yang berkualitas dan pemberian ASI diteruskan hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih.
Hal ini semakin menegaskan perlunya dan pentingnya pemberian ASI bagi seorang bayi, terutama bayi prematur. Sayang sekali, karena satu dan lain hal banyak wanita yang tidak dapat menyusui bayinya, namun karena mengakui keunggulan ASI dan ingin menghindari berbagai macam masalah kesehatan dan tumbuh kembang bayi dan anak yang terkait dengan penggunaan susu formula, maka para wanita tersebut tetap ingin memberikan ASI kepada bayi-bayi mereka. Di sisi lain, beberapa ibu mempunyai produksi dan simpanan ASI perah yang berlebih, sehingga sayang untuk dibuang dan mereka memilih untuk mendonorkan ASI perah tersebut. WHO sendiri telah menetapkan protokol pemberian asupan bagi bayi sesuai dengan urutannya sebagai berikut: (1) ASI langsung dari ibunya, (2) ASI perah dari ibunya, (3) ASI donor dari ibu lain, dan (4) susu formula.
Dalam hal berbagi ASI atau melakukan dan menerima donor ASI, memang ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan. Artikel ini akan membahas dari segi kesehatan dan pandangan hukum agama Islam.
Kesehatan
- HIV/AIDS
Walaupun penelitian terbaru yang dilakukan telah menemukan bahwa apabila seorang ibu yang positif HIV menyusui secara eksklusif bayinya selama 6 bulan, maka justru akan menurunkan resiko penularan terhadap bayinya, namun dalam hal berbagi ASI, seorang ibu yang positif HIV tidak dianjurkan untuk mendonorkan ASI (kekhawatiran terhadap resiko penularan serta efek sampingan dan terapi pengobatan yang sedang dijalankan). Di luar negeri, ASI donor secara rutin di-pasteurisasi, karena virus HIV dapat di non-aktifkan dengan memanaskan ASI pada suhu derajat yang tinggi. Pasteurisasi dapat juga dilakukan di rumah.
- Hepatitis B dan C
Secara teori, memang ada kemungkin resiko penularan virus Hepatitis B dan C, tetapi ini hanya akan terjadi apabila ASI yang didonorkan terkontaminasi oleh darah seorang ibu yang menderita penyakit tersebut (kontaminasi darah dalam ASI yang disebabkan, misalnya, oleh putting luka/lecet).
- TBC
Resiko penularan TBC melalui ASI donor hampir tidak ada, kecuali apabila ibu yang mendonorkan ASI menderita infeksi TBC yang memang terlokalisasi di daerah payudara, kasus yang sangat jarang terjadi. Resiko penularan TBC pada seorang bayi yang sedang menyusu akan terjadi ketika ibunya yang terinfeksi dengan penyakit tersebut bernafas atau batuk tepat di muka bayinya, sehingga partikel-partikel TBC akan terhirup langsung oleh bayi. Penularan tidak terjadi melalui ASI.
- CMV (cytomegalovirus) dan HTLV (human T lymphotropic virus)
Seorang ibu yang terinfeksi dengan CMV, maka ada kemungkinan ASI-nya juga mengadung virus tersebut sehingga timbul resiko penularan terhadap bayinya. Namun demikian, karena manfaat pemberian ASI jauh melebihi resiko penularan itu sendiri (resiko penularannya tergolong kecil), dan karena ASI mengadung zat-zat antibodi yang melindungi terhadap penyakit CMV, maka ibu yang terinfeksi CMV tetap dianjurkan untuk terus menyusui bayinya. Untuk donor ASI, ibu yang terinfeksi dengan CMV tidak dianjurkan untuk menyumbangkan ASI-nya.
Sama dengan kasus seorang ibu yang menderita penyakit HIV/AIDS dan CMV, seorang ibu yang terinfeksi HTLV juga tidak disarankan untuk menyumbangkan ASI-nya. Namun demikian, HTLV-1 (dan seluruh sel-selnya) akan musnah dalam jangka waktu 20 menit dengan memanaskan pada suhu 56°C (atau dalam jangka waktu 10 menit pada suhu 56°C), atau membekukan pada suhu -20°C selama 12 jam. (56 May JT. Molecular Virology: Tables of Antimicrobial Factors and Microbial Contaminants in Human Milk. Table 7: Effect of heat treatment or storage on antimicrobial factors in human milk).
- Rokok, Narkoba dan Alkohol
Penting untuk mengetahui apakah ibu yang mendonorkan ASI adalah seorang perokok, sering mengkonsumsi alkohol (kurang dari 1 gelas per hari biasanya dianggap aman – tetapi alkohol dapat menyebabkan gangguan tidur pada bayi), dan mengkonsumsi kafein dalam jumlah yang besar (lebih dari 1-2 cangkir perhari – dapat menyebabkan bayi menjadi rewel). Penggunaan seluruh jenis narkotika dan obat-obatan terlarang adalah tidak aman.
- Obat-obatan
Sebagian besar obat-obatan yang dijual secara bebas maupun yang diresepkan oleh dokter adalah tergolong aman, dan daftar obat-obatan yang termasuk tidak aman bagi seorang ibu yang menyusui sangat pendek. Contoh obat-obatan yang aman termasuk antibiotika, obat asma, tiroid dan anti-depresan. Untuk referensi tingkat keamanan obat-obatan yang dikonsumsi oleh seorang ibu menyusui, dapat menggunakan buku karangan Thomas Hale, berjudul “Medications and Mothers Milk”, atau gunakan daftar yang diterbitkan oleh AAP (American Academy of Pediatrics) (The Transfer of Drugs and Other Chemicals Into Human Milk — Committee on Drugs 108 (3): 776 — AAP Policy), atau gunakan LactMed Search. Catatan, bank ASI yang terdapat di luar negeri sebagian besar tidak menerima donor ASI dari seorang ibu yang sedang mengkonsumsi obat-obatan maupun seorang ibu yang merokok.
(sumber: Massachusetts Breastfeeding Coalition, March 2005 dan GUIDELINES FOR THE ESTABLISHMENT AND OPERATION OF HUMAN MILK BANKS IN THE UK dan Nutritional Support of the VLBW Infant)
Hukum Islam
Pertama-tama, yang harus diingat adalah tulisan ini hanya menjadi bahan acuan dan sumber referensi saja, terutama jika menyangkut masalah agama dan kepercayaan. Silahkan anda mengambil yang terbaik untuk kemudian menentukan sendiri pilihan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Memang dalam hal donor ASI, yang seringkali menjadi bahan perdebatan bagi kalangan muslim adalah apakah bayi yang menerima donor ASI akan otomatis menjadi saudara sepersusuan dengan bayi yang ibunya mendonorkan ASI tersebut?
- Berbagi ASI – Otomatis Menjadi Saudara Sepersusuan
Ada sebagian golongan yang menyatakan bahwa apabila seorang bayi minum ASI dari ibu lain, baik secara langsung (dari payudara) atau tidak (dengan ASI perah), maka secara MUTLAK bayi tersebut akan menjadi saudara sepersusuan dengan bayi ibu yang mendonorkan ASI tersebut (apabila kedua bayi tersebut berlainan jenis, perempuan dan laki-laki, maka di kemudian hari dilarang untuk menikah). Dalam hal ini, sudut pandangan yang diambil adalah bahwa dengan minum 3 tegukan ASI (langsung dari payudara ataupun ASI perah), maka kedua bayi tersebut sudah otomatis menjadi saudara sepersusuan karena pertimbangan cairan ASI yang sudah masuk ke dalam tubuh bayi penerima donor.
- Berbagi ASI – Tidak Otomatis Menjadi Saudara Sepersusuan
Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dalam Fatwa-Fatwa Kontemporer (Gema Insani Press), tidak semudah itu seorang bayi yang menyusu pada ibu lain menjadi saudara sepersusuan dengan bayi ibu tersebut. Syarat utama adalah apabila seorang bayi yang disusui oleh ibu lain, maka hal tersebut menimbulkan “…rasa keibuan yang menyerupai rasa keibuan karena nasab, yang menumbuhkan rasa kekanakan (sebagai anak), persaudaraan (sesusuan), dan kekerabatan-kekerabatan lainnya.” Kemudian, diterangkan pula bahwa, “”Adapun sifat penyusuan yang mengharamkan (perkawinan) hanyalah yang menyusu dengan cara menghisap tetek wanita yang menyusui dengan mulutnya.”
Sehingga menurut pandangan Dr. Yusuf Qardhawi, bayi yang mendapatkan donor ASI dari ibu lain, yaitu ASI perah dan bukan menyusu langsung pada ibu donor tersebut, maka TIDAK akan menjadi saudara sepersusuan dengan bayi si ibu pendonor. (Sumber: Bank Susu, hal. 1 dan Bank Susu, hal. 2)
- Hubungan Anak dengan Ibu Susu dan Saudara Sepersusuan (sumber: Tabloid Nakita)
ASI adalah filtrasi darah ibu sehingga ASI bisa menjadi pembawa sifat. Maka dari itulah ada hukum yang menyebutkan ibu susu dengan anak yang mendapatkan susu dari dirinya, hukumnya sama seperti halnya ibu dengan anak kandung. Begitu juga, anak-anak si ibu susu menjadi saudara sepersusuan anak tersebut.
“Antara ibu susu dengan anak yang mendapat susu darinya jatuh hukum Tahrim (haram kawin-Red.) kepada mereka, tak terkecuali kepada saudara sepersusuan mereka,” (makalah Hj. Nur Endah Nizar Lc., fungsionaris Nahdatul Ulama (NU) Jatim yang juga anggota DPRD Jatim, dengan judul *Keutamaan Air Susu Ibu (ASI) Ditinjau dari Syariat Agama Islam dan Kesehatan*), karena:
- Dalam kegiatan menyusui anak akan selalu timbul hubungan batin antara ibu yang menyusui dan bayi atau anak yang menerima ASI, yakni hubungan batin dalam bentuk kasih sayang. Sekalipun anak yang disusukan itu bukan anak kandung.
- Jika seorang anak disusukan wanita yang bukan ibu kandungnya, otomatis dia akan menjadi ibunya. Oleh sebab itu berlaku Tahrim sebagaimana sabda Rasullah SAW, “Bahwa menyusukan menyebabkan tahrim, sama seperti tahrimnya melahirkan, atau pengharaman sebab kelahiran.” (HR Muslim).
Sekalipun begitu, antara ibu susu, anak yang disusukan, dan saudara sepersusuan bisa tidak timbul hukum Tahrim, jika:
- Pemberian ASI melalui jarum suntik. Maksudnya, secara tak langsung; diperah dulu lalu diberikan lewat botol susu atau sendok;
- ASI diencerkan, dikentalkan, dibekukan, atau dibuat bahan makanan terlebih dulu sebelum dikonsumsi;
- ASI dicampur air, obat, minyak, dan atau sebaliknya;
- ASI dicampur ke dalam makanan anak, dan atau sebaliknya;
- ASI ibu yang satu telah dicampur dengan ASI ibu lain baru kemudian diminumkan pada anak
Menyusu Dari Ibu Lain
Memang, yang terbaik adalah ASI ibu kandung, tetapi masih jauh lebih baik ASI dari ibu lain ketimbang susu formula.
Bayi mendapat ASI dari ibu lain sebetulnya bukan hal baru. Bukankah Nabi Muhammad SAW pun memiliki ibu susu? Apalagi, seperti kita ketahui bersama, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Kualitasnya jauh lebih unggul daripada susu formula merek apa pun.
Lagi pula, ASI dari ibu kandung maupun ibu susu, pada dasarnya sama saja. Memang, seperti dikatakan dr. Utami Roesli, SpA., MBA., IBCLC., untuk perkembangan otak dan pertumbuhan fisik bayi, ASI ibu kandung tentu lebih baik daripada ASI ibu susu. “Sebab, komposisi ASI ibu kandung berubah setiap saat disesuaikan dengan kebutuhan bayinya saat itu,” tambah pakar ASI dari RS Sint. Carolus, Jakarta ini. Namun, “Inti ASI dari ibu susu sama saja dengan ASI dari ibu kandung, yakni mengandung nutrien lengkap. Dari karbohidrat, vitamin, mineral, lemak ikatan panjang, protein, dan juga mengandung zat-zat atau cairan hidup, seperti hormon pertumbuhan, enzim penyerapan, serta antibodi. Semua zat hidup ini tak ada dalam susu formula karena susu formula adalah cairan mati.”
Jadi masih lebih baik mengonsumsi ASI dari ibu susu ketimbang susu formula. “Sekalipun ‘kelas sosial’ ibu susu berada di bawah ibu kandung,” tandasnya. Bisa dibilang perbedaan tersebut tak berarti jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat bayi dari ASI. “Sayangnya, di negara ini sangat sedikit ibu yang mau mendonorkan ASI-nya,” lanjut Utami yang merupakan Ketua Yayasan Sentra Laktasi Indonesia.
Jadi, bila ibu kandung tak bisa memberikan ASI-nya, karena meninggal, sakit berat, terinfeksi HIV ataupun virus hepatitis, maka sebaiknya diupayakan untuk dicarikan ibu susu agar si bayi tetap bisa mendapatkan ASI. Tak perlu mencari ibu susu dengan bayi yang seusia. “Sah-sah saja jika bayi usia 6 bulan menjadi anak susu dari ibu dengan bayi usia 1 bulan,” kata Utami. Kualitas ASI yang mencakup kandungan gizi, nutrien, dan manfaatnya tetap dapat diperoleh si bayi. Hanya saja, diakui Utami, komposisinya memang kurang pas. “Kalau boleh diumpamakan, ASI dari ibu yang anaknya beda usia, sama dengan baju jadi dari toko yang enak dipakai, bagus dan pas, tetapi jauh lebih enak baju yang dipesan di tukang jahit karena ukurannya benar-benar disesuaikan dengan lekuk dan proporsi tubuh kita.” Sekalipun demikian, bila dibandingkan dengan susu formula, ASI ibu lain tetap lebih baik.
Syarat Menjadi Ibu Susu
Tentunya, tak sembarang perempuan bisa menjadi ibu susu. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Kata Utami, persyaratannya tidak berbeda dari persyaratan untuk mendonorkan darah. Antara lain:
* Tak ditemukan infeksi menular (HIV/AIDS, hepatitis) pada diri calon ibu susu; dalam satu bulan ke belakang ibu susu tak terkena cacar air; bukan pengguna narkoba, dan kebutuhan gizinya selalu terpenuhi.
* Calon ibu susu rela dan mau menjadi ibu susu, serta tetap memberikan ASI kepada anak kandungnya sendiri.
Hubungan Anak Dengan Ibu Susu Dan Saudara Sepersusuan
Ada satu hal yang perlu dipahami dan digarisbawahi mengenai hal ini, seperti dikatakan Utami, dunia kesehatan sepaham dengan hukum agama yang menyebutkan ASI adalah filtrasi darah ibu sehingga ASI bisa menjadi pembawa sifat.
Maka dari itulah ada hukum yang menyebutkan ibu susu dengan anak yang mendapatkan susu dari dirinya, hukumnya sama seperti halnya ibu dengan anak kandung. Begitu juga, anak-anak si ibu susu menjadi saudara sepersusuan anak tersebut.
“Antara ibu susu dengan anak yang mendapat susu darinya jatuh hukum Tahrim (haram kawin-Red.) kepada mereka, tak terkecuali kepada saudara sepersusuan mereka,” kata Utami mengutip makalah Hj. Nur Endah Nizar Lc., fungsionaris Nahdatul Ulama (NU) Jatim yang juga anggota DPRD Jatim, dengan judul Keutamaan Air Susu Ibu (ASI) Ditinjau dari Syariat Agama Islam dan Kesehatan.
Dalam makalah yang dibawakan di acara Rountable Discussion tentang pembuatan rancangan peraturan pemerintah tentang pemasaran susu formula (14/03) disebutkan hukum Tahrim timbul karena:
1. Dalam kegiatan menyusui anak akan selalu timbul hubungan batin antara ibu yang menyusui dan bayi atau anak yang menerima ASI, yakni hubungan batin dalam bentuk kasih sayang. Sekalipun anak yang disusukan itu bukan anak kandung.
2. Jika seorang anak disusukan wanita yang bukan ibu kandungnya, otomatis dia akan menjadi ibunya. Oleh sebab itu berlaku Tahrim sebagaimana sabda Rasullah SAW, “Bahwa menyusukan menyebabkan tahrim, sama seperti tahrimnya melahirkan, atau pengharaman sebab kelahiran.” (HR Muslim)
Sekalipun begitu, antara ibu susu, anak yang disusukan, dan saudara sepersusuan bisa tidak timbul hukum Tahrim, jika:
1. Pemberian ASI melalui jarum suntik. Maksudnya, secara tak langsung; diperah dulu lalu diberikan lewat botol susu atau sendok.
2. ASI diencerkan, dikentalkan, dibekukan, atau dibuat bahan makanan terlebih dulu sebelum dikonsumsi.
3. ASI dicampur air, obat, minyak, dan atau sebaliknya.
4. ASI dicampur ke dalam makanan anak, dan atau sebaliknya.
5. ASI ibu yang satu telah dicampur dengan ASI ibu lain baru kemudian diminumkan pada anak.
Beda Kandungan ASI dan Susu Formula
Kandungan nutrien ASI tentu saja berbeda dari susu sapi yang merupakan bahan susu formula. Contoh, kandungan lemak utama ASI adalah lemak ikatan panjang, sedangkan susu sapi mengandung lemak ikatan pendek. “Lemak ikatan panjang adalah cikal bakal DHA dan AA untuk perkembangan otak,” tambah Utami. Karena itulah kenapa produsen susu formula menambahkan produknya dengan kandungan DHA dan AA yang tak terdapat pada susu sapi.
Akan tetapi, DHA dan AA tambahan ini baru bisa terserap dengan baik jika si bayi memiliki enzim penyerapan yang cukup. Padahal, enzim dalam tubuh bayi masih belum berfungsi penuh dan jumlahnya sedikit. “Nah, zat penyerapan DHA dan AA dari ASI sudah disertakan oleh Tuhan, sehingga mudah diserap oleh tubuh. Sedangkan susu formula tidak disertai enzim penyerapan sehingga lebih bergantung pada enzim bayi yang sudah ada. Akibatnya, penyerapan jadi tidak maksimal atau malah sedikit sekali.”
Jika ada susu formula mengklaim dirinya menyertakan enzim penyerapan dalam produk susunya, menurut Utami, besar kemungkinan tidak efektif karena enzim akan mati jika dipanaskan.
Gazali Solahuddin. Foto: Iman/nakita
Diarsipkan di bawah: ASI
Hand Expressing Your Milk
(from www.askdrsears.com)
The Low-Tech Approach: Hand Expression
Expressing milk by hand works very well for some women. It’s a handy skill to have when:
- You are caught somewhere with full breasts and you don’t have your baby or a breastpump, you’ll be able to relieve breast fullness and avoid problems with engorgement.
- You do not need to express milk regularly.
- Your breasts are more responsive to the skin-to-skin feeling of hand expression than to plastic pump parts.
Here’s 6 Easy Steps to Express Milk From Your Breast By Hand:
- Position your hand on your breast, with the thumb above and fingers underneath, about an inch to an inch-and-a-half behind the nipple. If your breast were a clock, your thumb would be at 12 o’clock and your fingers at 6 o’clock. Don’t cup your breast in your hand. Instead, your thumb and fingers should be directly across the nipple from each other.
- Press your thumb and fingers directly back into the breast tissue, towards the wall of your chest. Don’t move them further apart. Just press straight back into the breast.
- Roll your fingers and thumb forward to squeeze milk out of the milk sinuses, which are located under the areola behind the nipple. Don’t slide the thumb or fingers along the skin–this will quickly make you sore.
- Repeat this sequence–position, press, roll–until the milk flow ceases. Then move your hand so that the thumb and fingers are positioned at 11 and 5 o’clock and do it again. Use both hands to work your way around one breast, then switch to the other side until you have emptied all of the milk sinuses. As soon as you see milk squirting from your nipple, you know you are compressing the underlying milk sinuses. (This position is also where baby’s gums should be during efficient latch-on.)
- The trick to hand expression is discovering where to position your fingers. Experiment until you find the right spot. Having someone show you how is very helpful, too.
- Combining hand-expression with breast massage can be a very effective way to stimulate the milk-ejection reflex. Massage first, then express. Massage again, and repeat the hand- expressing routine.
“When I relaxed, I could pump more milk. A friend who’s a dairy farmer told me that cows yield less milk when they’re in a bad mood or if milked by a stranger.”
HOW TO COLLECT THE MILK
When you hand-express, milk sprays out in all directions.
- If you’re expressing just to make your breasts more comfortable, you can lean over a sink or express into a towel.
- If you want to save the milk, you’ll need something in which to collect it. Some mothers manage to aim the nipple directly into a baby bottle. Or, try a container with a wider mouth, like a coffee cup or a small jar. As the cup fills up, transfer the milk to a storage container. (See Storing Human Milk for suggestions.)
The Medela company makes a special funnel for hand-expression that collects the milk and channels it down into a standard baby bottle.
