Smart Parent


Susu Sapi Segar
Maret 18, 2008, 9:57 am
Diarsipkan di bawah: Susu Sapi

SUSU SAPI SEGAR: SI MURNI YANG TAK KALAH HEBATNYA
Oleh: Imelda Scorvia, STP

Siapa yang tak kenal slogan 4 sehat 5 sempurna. Makan nasi, sayur,
lauk pauk dan buah, belumlah sempurna jika tidak minum susu. Susu
merupakan sumber kalsium yang sangat penting untuk pembentukan tulang
dan gigi. Selain itu susu juga mengandung protein, lemak yang kaya
akan asam lemak omega-3 dan omega-6, karbohidrat, vitamin dan
mineral. Kandungan zat gizi yang lengkap tersebut menjadikan susu
sebagai makanan yang sangat ideal.

Mengingat perannya yang sangat besar dalam tubuh, khususnya bagi anak-
anak yang masih dalam tahap pertumbuhan, maka susu merupakan produk
marketing yang sangat potensial. Dalam satu dekade belakangan ini
para produsen susu berlomba-lomba mempromosikan produknya dengan cara
menambahkan zat-zat tertentu yang dipercaya dapat mencerdaskan otak,
meningkatkan daya tahan tubuh, dan berbagai iming-iming lainnya. Hal
ini tentu saja menjadi daya tarik bagi para orang tua masa kini yang
mempunyai ekspektasi tinggi terhadap putra putrinya. Semakin tinggi
ekspektasi, semakin tinggi pengorbanan, dan bisa saja berarti semakin
mahal susu formula yang harus dibeli untuk memenuhi ekspektasi
tersebut.

Gencarnya promosi susu formula atau susu pertumbuhan (untuk 1 tahun
keatas ) di media cetak, elektronik, ataupun berbagai acara off-air
membuat sebagian konsumen bingung memilih. Produsen semakin pintar
menciptakan klaim agar produknya berbeda dengan pesaingnya. Tetapi
tahukah anda, bahwa kebanyakan zat-zat `penting’ yang difortifikasi
atau ditambahkan oleh para produsen tersebut sebenarnya sudah secara
alami terdapat dalam susu sapi? Berikut beberapa komponen gizi yang
kerap dijadikan unggulan berbagai produk susu pertumbuhan.

Susu sapi kaya akan asam lemak omega-3 dan omega-6. Asam lemak
esensial pada omega-3 adalah alfa-linolenic acid /ALA), secara alami
akan disintesis oleh tubuh menjadi asam dokosaheksaenoat (DHA) dan
asam eikosapentaenoat (EPA).

Sedangkan asam lemak esensial pada omega-6 adalah asam linoleat (LA),
yang secara alami akan diubah dalam tubuh menjadi asam arakidonat
(AA/ARA).

AA dan DHA berperan penting dalam pembentukan sel-sel otak dan proses
penglihatan. Jumlah DHA pada otak mencapai sepertiga dari lemak otak.
Pada retina mata terdapat DHA dalam konsentrasi tinggi, yang
disintesis tubuh melalui makanan. Semakin baik nutrisi yang
diberikan, semakin baik mata menjalankan fungsinya. Pada anak tipe
visual learners, better eyes mean better brains.

Sphingomyelin merupakan salah satu fraksi pada lemak susu yang
dibutuhkan untuk proses mielinisasi sel-sel neuron di otak.

Zat gizi penting lain yang terdapat pada susu sapi adalah protein.
Fungsi utama protein adalah membentuk sel dan jaringan baru,
menggantikan sel dan jaringan yang telah rusak. Protein disusun oleh
kelompok asam amino yang masing-masing keunikannya ditetapkan oleh
sebuah kode genetik. Sebanyak 20 asam amino standar digunakan sel
untuk biosintesis protein. Asam amino tersebut antara lain adalah
isoleusin, leusin, lysin, tryptophan, metionin, penilalanin
(esensial) ; alanin, glutamin, glutamat, sistein, tyrosine (non
esensial).

Immunoglobulin dan laktoferin merupakan bagian dari fraksi protein
whey yang terdapat pada susu sapi. Immunoglobulin dapat meningkatkan
sistim kekebalan tubuh dan berperan sebagai anti-diare karena
kemampuannya dalam menghambat bakteri penyebab diare. Laktoferin
berperan sebagai antioksidan, anti-mikroba, anti-virus, anti-kanker,
pengikat racun, meningkatkan sistim imun dan membantu penyerapan zat
besi.

Kolin adalah komponen organik, termasuk zat gizi esensial dan
dikelompokkan bersama vitamin B kompleks. Kolin merupakan prekursor
kimia yang dibutuhkan untuk memproduksi neurotransmitter asetilkolin.
Neurotransmitter adalah pembawa pesan dari satu sel otak ke sel
lainnya. Semakin banyak neurotransmitter, semakin cerdas. Penelitian
menunjukkan bahwa daya ingat, kecerdasan dan suasana hati seseorang
sebagian dipengaruhi oleh metabolisme asetilkolin dalam otak. Dalam
segelas susu sapi mengandung sekitar 10-20 mg kolin.

Vitamin adalah zat gizi berupa komponen organik yang dibutuhkan dalam
jumlah kecil untuk membantu metabolisme pada makhluk hidup. Vitamin
mempunyai peranan penting dalam masa pertumbuhan dan perkembangan.
Jika proses tumbuh dan kembang telah usai, vitamin menjadi zat gizi
penting untuk pemeliharaan sel, jaringan dan organ-organ penyusun
organime multisel (misal: manusia). Vitamin juga memungkinkan tubuh
menggunakan energi kimiawi yang berasal dari makanan, dan membantu
proses protein, karbohidrat dan lemak yang dibutuhkan untuk
pernafasan.

Vitamin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan adalah
molekul yang dapat memperlambat atau mencegah reaksi oksidasi dari
molekul lain. Reaksi oksidasi dapat menghasilkan radikal bebas, yang
menyebabkan terjadinya reaksi berantai perusakan sel. Vitamin yang
termasuk antioksidan adalah vitamin C (asam askorbat) dan vitamin E
(á-tokoferol).

Susu mengandung vitamin-vitamin yang dapat dikelompokkan menjadi
vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, K) dan vitamin yang
larut dalam air ( 8 vitamin B – B1, B2, B3, B5, B6, B7 (biotin), B9
(asam folat), B12 – dan vitamin C).

Mineral merupakan unsur-unsur kimia yang dibutuhkan makhluk hidup –
selain karbon, hidrogen, nitrogen dan oksigen – yang pada umumnya
terdapat dalam molekul organik. Mineral dikelompokkan menjadi mineral
makro (dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar) dan mineral mikro/trace
minerals (dibutuhkan tubuh dalam jumlah relatif kecil). Dalam susu
sapi mengandung beberapa mineral makro seperti kalsium (untuk
pembentukan tulang dan gigi, menjaga kesehatan sistim pencernaan,
menetralisir asam, membersihkan zat-zat beracun, membantu aliran
darah), natrium, kalium, klorida, magnesium, fosfor. Beberapa mineral
mikro yang terdapat pada susu adalah iodium, zink, zat besi,
selenium, mangan.

Melihat berbagai fakta diatas, julukan One-stop shopping for
nutrition memang pantas diberikan untuk susu sapi. Tapi hal ini bukan
berarti mengkonsumsi susu sapi secara berlebihan mengingat tak ada
satu bahan pangan pun yang mengandung semua zat gizi sesuai kebutuhan
(kecuali ASI untuk bayi usia 0-6 bulan). Dengan mengkonsumsi beragam
makanan maka kebutuhan komponen gizi dapat saling melengkapi.
Mengkonsumsi susu sapi secara berlebihan dapat mengakibatkan
berkurangnya konsumsi makanan lainnya.

Tidak disarankan mengkonsumsi susu sapi mentah (yang belum diproses
sama sekali). Susu sapi mentah dapat menjadi media pertumbuhan
berbagai bakteri patogen. Susu sapi yang telah mengalami proses
pengolahan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yakni susu pasteurisasi,
susu UHT dan susu bubuk.

Susu pasteurisasi adalah susu yang dipanaskan pada suhu 63-72 derajat
Celcius selama 15-20 detik untuk membunuh virus dan organisme patogen
seperti bakteri, jamur, protozoa dan ragi. Proses ini tidak membunuh
semua mikroorganisme, hanya mengurangi jumlahnya sehingga tidak dapat
menyebabkan penyakit. Susu pasteurisasi biasanya dikemas dalam
kemasan karton. Karena proses ini tidak membunuh semua
mikroorganisme, maka umur simpan produk ini cukup singkat yaitu
sekitar 1 minggu dan harus disimpan di lemari pendingin, pada suhu 5-
6 derajat Celcius. Pendeknya umur simpan produk susu ini membuat anda
harus sedikit lebih rajin menyambangi supermarket untuk memenuhi
kebutuhan harian susu.

Susu UHT (Ultra High Temperature) adalah susu yang diproses dengan
pemanasan pada suhu tinggi (135-145 derajat Celcius) dalam waktu yang
singkat (2-5 detik). Pemanasan suhu tinggi bertujuan untuk membunuh
semua mikroorganisme dan spora pada susu. Tingginya suhu juga
mempersingkat waktu proses sehingga mengurangi kerusakan zat-zat
gizi, sehingga susu tetap memiliki mutu baik. Kemasan susu UHT yang
beredar di pasaran saat ini terdiri dari 2 jenis, yaitu kemasan kotak
(kecil dan besar) dan kemasan kantong (dikenal dengan susu bantal).
Dengan teknologi UHT, maka umur simpan susu ini bisa mencapai 10
bulan dalam suhu ruang meskipun tanpa bahan pengawet (selama kemasan
masih belum dibuka dan tidak bocor atau kembung).

Susu bubuk berasal dari susu segar yang dikeringkan. Karena berbentuk
bubuk, maka produk ini tidak mudah rusak dan praktis dalam
penyimpanan dan transportasi. Namun proses pengeringan menyebabkan
susu bubuk mengalami penurunan nilai gizi lebih banyak daripada susu
cair segar olahan (susu pasteurisasi dan susu UHT). Untuk
menggantikan zat-zat gizi yang rusak tersebut, maka produsen
melakukan fortifikasi (penambahan) zat-zat gizi dari luar seperti
vitamin, mineral, sampai zat-zat gizi `khas’ untuk kecerdasan dan
kesehatan.

Selain untuk menggantikan zat gizi yang rusak akibat proses
pengeringan, fortifikasi dimanfaatkan untuk memberikan nilai tambah
bagi suatu produk susu pertumbuhan. Semakin banyak fortifikasi,
semakin canggih iming-iming, semakin mahal harga susu (dan produsen
pun semakin untung).

Padahal, berbagai zat fortifikasi tersebut belum tentu dapat diserap
dan digunakan oleh tubuh sama seperti zat-zat gizi alami yang
terdapat dalam susu sapi segar. Selain itu, jangan lupa juga bahwa
sebagian besar zat fortifikasi memang secara alami terdapat dalam
susu sapi. Gencarnya promosi susu dapat membuat konsumen melupakan
tujuan utama mengkonsumsi susu sapi, yakni untuk memenuhi kebutuhan
kalsium. Pembentukan peak bone mass (massa tulang puncak) akan
tercapai di usia 20-30 tahun. Oleh karena itu, konsumsi susu 2-3
gelas per hari secara teratur hendaknya dilakukan sejak anak-anak,
remaja, dewasa untuk mencapai massa tulang puncak, dan dilanjutkan
hingga usia lanjut untuk mempertahankan massa tulang.

Susu cair segar olahan merupakan bentuk susu sapi yang ideal. Zat
gizinya yang lengkap, mudah diserap tubuh dan harganya tak menguras
kantong. Anda pun tidak perlu terlalu khawatir jika terjadi kenaikan
harga susu dunia seperti yang pernah terjadi belum lama ini. Sebagian
besar susu cair segar olahan yang beredar di pasaran adalah produk
lokal, tidak membutuhkan susu impor sebagai bahan baku seperti pada
pembuatan susu formula. Memilih susu cair sebaiknya yang mengandung
100 % susu sapi murni, tanpa tambahan cita rasa, pemanis, pewarna
ataupun bahan lainnya. (dari berbagai sumber)



Susu Sapi Ogah Ah
Maret 18, 2008, 9:56 am
Diarsipkan di bawah: Susu Sapi

Susu Sapi Ogah Ah

EVY RACHMAWATI

Air susu ibu alias ASI adalah nutrisi alami yang terbaik bagi anak. Sayangnya, makin banyak ibu yang memberikan susu botol kepada bayinya karena kesibukan kerja atau merasa ASI kurang memenuhi kebutuhan si kecil. Apalagi para produsen susu formula kian gencar mengiklankan produknya.

Padahal, tidak semua bayi bisa menerima susu yang mengandung protein sapi. Mohamad Raka Pratama (5 bulan) salah satunya. Semula, ia tidak menunjukkan gejala alergi saat diberi minum susu formula yang mengandung protein susu di Rumah Sakit Bersalin Mutiara Bunda, Tangerang. “Sampai dua hari setelah lahir, ASI ibunya belum keluar. Karena nangis terus, Raka dikasih susu formula,” tutur Ny Titin Martini (46), nenek dari Raka.

Beberapa hari kemudian, Raka menderita panas tinggi. Kulitnya kemerahan, terutama di bagian muka, kaki, dan badan. Oleh dokter yang merawat, ia didiagnosis menderita campak, lalu diberi obat antibiotik dan bedak antigatal. Karena ibunya memiliki riwayat menderita asma, dokter mulai mencurigai adanya gejala alergi susu sapi sehingga disarankan agar berganti susu formula.

“Obat antibiotiknya diminum, tetapi susu belum diganti karena menghabiskan susu yang dari rumah sakit. Ternyata, Raka malah mencret, sehari bisa sampai 15 kali. Pada tubuhnya keluar bercak-bercak merah seperti gabakan,” ungkap Ny Titin. Bahkan, tinja yang keluar berlendir dan bercampur dengan sedikit darah.

Seusai diperiksa di laboratorium, ternyata kadar alergi susu sapinya sangat tinggi. Setelah diganti dengan produk susu formula hipoalergenik yang ekstensif, ruam merah pada kulit berangsur berkurang, tetapi tetap mencret. Oleh dokter spesialis alergi anak, Raka dianjurkan mengonsumsi susu formula berbahan dasar susu kedelai (soya).

“Setelah minum susu formula yang mengandung kedelai, diarenya cepat sembuh. Bercak kemerahan pada kulit Raka juga hilang. Sampai sekarang, cucu saya tidak lagi diare, bahkan tumbuh sehat dan sudah makan bubur susu yang tidak mengandung susu sapi,” kata Ny Titin, warga Ciledug, Tangerang.

Lain lagi cerita tentang Cut Fabiayya Habibie (empat bulan dua pekan). Anak pasangan Rifsia dan Habibie ini justru menderita alergi susu sapi dari makanan yang dikonsumsi ibunya. Saat berusia lebih dari satu bulan, bagian pipinya ruam merah. Ia juga mencret berulang kali dalam sehari. Padahal, begitu pulang dari rumah sakit, ia mendapatkan ASI secara eksklusif dari ibunya.

Setelah diperiksa dokter, ia ternyata menderita alergi susu sapi. Bakat alergi itu berasal dari kedua orangtuanya yang menderita asma. Penyebabnya, selama menyusui, ibunya mengonsumsi susu untuk ibu menyusui dan makan beberapa jenis makanan yang berpotensi menimbulkan alergi. “Sekarang saya pantang makan ikan laut, kacang tanah, dan telur. Susunya juga diganti susu kedelai,” tutur Rifsia, warga Cempaka Putih, Jakarta Pusat, ini.

Alergi pada anak

Angka kejadian penyakit alergi pada anak belakangan ini meningkat seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat modern, pencemaran lingkungan, dan zat-zat yang ada dalam makanan. “Alergi adalah reaksi kekebalan yang menyimpang dari normal dan menimbulkan gejala yang merugikan tubuh,” kata Ketua Kelompok Kerja Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr Zakiudin Munasir SpA (K).

Dalam tubuh terdapat lima jenis antibodi atau imunoglobulin, yaitu imunoglobulin G, A, M, E, dan D. Imunoglobulin E adalah antibodi yang banyak berperan pada reaksi alergi. Dalam tubuh penderita alergi, ada imunoglobulin E berkadar tinggi, terutama imunoglobulin E yang spesifik terhadap zat-zat tertentu pemicu reaksi alergi, seperti debu, bulu binatang, serbuk bunga atau makanan tertentu, seperti telur, susu, dan ikan laut.

Di Amerika Serikat dilaporkan angka kejadian alergi pada anak prasekolah 10 hingga 12 persen, dan pada usia sekolah 8,5 sampai 12,2 persen. Di Indonesia, angka kejadian alergi pada anak Indonesia belum banyak diteliti. Dari penelitian di Kelurahan Utan Kayu, Jakarta Pusat, ternyata 25,5 persen anak menderita alergi, antara lain gejala alergi pada hidung dan kulit.

Penyakit alergi hanya mengenai anak dengan bakat alergi yang disebut atopik. Artinya, ada bakat atopik atau alergi yang diturunkan salah satu atau kedua orangtuanya, terutama ibu. “Sekarang banyak ibu bekerja sehingga tidak bisa menyusui secara penuh. Jadi, bayi lalu minum susu formula. Pada anak yang berbakat alergi, susu formula berbahan dasar susu sapi bisa jadi pencetus terjadinya alergi,” ujarnya.

Sekitar 20 persen anak usia satu tahun pernah mengalami reaksi terhadap makanan yang diberikan, termasuk yang disebabkan reaksi alergi. Susu sapi merupakan protein asing utama bagi bayi pada bulan-bulan awal kehidupan yang dapat menimbulkan reaksi alergi pertama. “Karena fungsi ususnya belum sempurna, protein susu sapi tidak bisa dipecah dengan sempurna,” kata Zakiudin.

Protein susu sapi dapat menimbulkan alergi yang menetap sampai akhir masa kanak-kanak, baik dalam bentuk susu murni atau bentuk lain. Anak yang alergi susu sapi tidak selalu alergi terhadap daging sapi. “Gejala khas pada anak yang alergi susu sapi adalah diare dengan tinja berdarah. Kalau protein susu sapi sudah masuk ke dalam tubuh, kulit bisa kemerahan,” paparnya.

Spesialis anak dari Klinik Alergi Rumah Sakit Bunda Jakarta, dr Widodo Judarwanto, dalam artikelnya menyatakan, sistem kekebalan tubuh bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan muncul. Terdapat lebih dari 40 jenis protein berbeda dalam susu sapi yang berpotensi menyebabkan sensitivitas, antara lain lactoglobulin dan casein.

Gangguan akibat alergi susu formula bisa timbul karena reaksi cepat atau timbulnya gejala kurang dari empat jam. Pada reaksi lambat atau gejala baru timbul setelah lebih dari empat jam. Tanda dan gejala alergi susu hampir sama dengan alergi makanan. Gangguan itu dapat mengganggu semua organ tubuh, terutama pencernaan, kulit, dan saluran napas.

Banyak penelitian terakhir mengungkapkan, gangguan saluran cerna kronis dengan berbagai mekanisme imunopatofisiologis dan imunopatobiologis dapat mengakibatkan gangguan neurofungsional otak. Gangguan fungsi otak itu dapat memengaruhi gangguan perilaku, seperti kurang konsentrasi, mudah emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, hingga memperberat gejala hiperaktif dan autis.

Penanganan sejak dini

Pencegahan timbulnya gejala alergi pada anak yang lahir dari keluarga yang mempunyai bakat alergi sebaiknya dimulai saat anak dalam kandungan. Ibu hamil yang punya riwayat alergi dalam keluarganya tidak perlu diet pencegahan terhadap makanan yang menimbulkan alergi untuk mencegah terjadinya kekurangan gizi dalam kandungan. Yang penting adalah menghindari asap rokok. “Jika tidak segera ditangani, alergi bisa merusak jaringan tubuh dan menimbulkan alergi lain,” tutur Zakiudin.

Pemberian ASI eksklusif dapat mencegah terjadinya alergi di kemudian hari. Tindakan pencegahan terhadap makanan yang menimbulkan alergi perlu dilakukan oleh ibu menyusui dan dilanjutkan sampai bayi berusia satu hingga dua tahun. Selain menghindari makanan yang hiperalergenik, perlu juga dilakukan menghindari alergen yang berasal dari lingkungan, misalnya debu dan asap rokok.

Jika curiga adanya ketidakcocokan susu formula, orangtua sebaiknya tidak terlalu cepat memvonis susu sapi adalah penyebabnya. Widodo mengatakan, gangguan bisa timbul karena kandungan yang terdapat dalam susu formula, seperti laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa, komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, dan minyak kelapa sawit. Dalam pemberian ASI, diet yang dikonsumsi ibu juga dapat mengakibatkan gangguan alergi.

Untuk memastikan apakah alergi susu sapi atau tidak, anak bisa menjalani pemeriksaan laboratorium. Jika perlu, konsultasikan kepada dokter spesialis alergi anak, gastroenterologi anak, atau metabolik dan endokrinologi anak. Yang penting, orangtua perlu hati-hati dalam memilih susu formula dan mencermati gangguan organ tubuh yang terjadi terus-menerus dalam jangka panjang, seperti batuk, sesak, diare, dan sulit buang air besar.

“Bila anak tidak mendapat ASI, dapat diberikan susu formula yang hipoalergenik,” kata Zakiudin.

Jika sudah terjadi alergi terhadap susu sapi, anak tidak boleh mendapat formula susu sapi biasa, tetapi harus diberi susu formula yang khusus untuk alergi dalam bentuk susu hipoalergenik yang ekstensif atau susu formula kedelai. Anak yang mendapat formula susu kedelai tetap akan mengalami tumbuh kembang yang baik, tetapi 30 hingga 40 persen dari anak yang alergi susu sapi juga alergi susu kedelai. Pada saat anak memerlukan makanan tambahan pendamping ASI, misalnya bubur susu, sebaiknya juga diberikan bubur yang tidak mengandung susu sapi, tetapi misalnya dengan memakai susu sapi yang hipoalergenik atau susu kedelai. “Alergi susu sapi akan membaik jika usia anak bertambah. Penderita biasanya bisa menerima susu sapi setelah berusia di atas satu atau dua tahun. Karena itu, setiap enam bulan sekali, anak bisa mencoba minum susu sapi,” tutur Zakiudin.



Produk Susu Sapi
Maret 18, 2008, 9:45 am
Diarsipkan di bawah: Susu Sapi

Secuil tentang Produk Susu Sapi

Published by Lita January 16th, 2007

Kali ini mau menebus janji untuk menulis tentang susu. Sesedikit yang saya tahu. Selamat membaca.

Per kata, susu adalah makanan cair yang diproduksi oleh kelenjar susu mamalia betina. Dalam istilah, kata susu juga digunakan untuk cairan pengganti susu (nah lho!) yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya susu kedelai (atau coconut milk dalam perbendaharaan istilah bahasa Inggris).

Sedangkan definisi susu secara kimiawi adalah emulsi (campuran zat yang tidak saling larut) butiran lemak dalam cairan berbahan dasar air. Dalam kata lain, kandungan terbesar susu adalah air dan lemak.

Susu mentah

Susu mentah adalah susu yang tidak diproses, baik pasteurisasi (pemanasan) maupun homogenisasi (perlakuan tekanan udara terhadap susu untuk mencegah krim terpisah dari cairan) sebelum dikonsumsi oleh manusia. Rasanya berbeda dibandingkan dengan susu yang diproses, begitu juga dengan kemudahan cernanya.

Tidak ada kesepakatan yang definitif apakah susu mentah lebih menyehatkan dibandingkan dengan susu yang diproses lebih dulu. Yang pasti, susu mentah lebih berisiko menyebabkan penyakit akibat kemungkinan hadirnya mikroorganisme patogen.

Sanitasi dapat mencegah kontaminasi sebisa mungkin. Tapi memastikan matinya kontaminan patogen lebih penting daripada menjunjung selisih nutrisi antara susu mentah dan susu terproses. Lagipula, susu bukan makanan utama manusia (kecuali pada 1 tahun pertama kehidupan). Bagian besar nutrisi anda diperoleh dari makanan dengan pola konsumsi yang sesuai piramida makanan.

Di artikel ini dijelaskan mengapa susu segar mentah memiliki segala keuntungan dibandingkan dengan susu segar yang diproses, khususnya pasteurisasi. Jika ingin membacanya, harap diingat bahwa tulisan tersebut dibuat tahun 1938 saat teknologi pasteurisasi masih sangat terbatas, jadi mungkin tidak lagi sepenuhnya berlaku saat ini.

Pihak yang mendukung konsumsi susu mentah misalnya Realmilk (sumber artikel yang saya sebut di paragraf sebelum ini). Para pendukung susu mentah punya segala alasan untuk mengatakan bahwa susu mentah adalah yang terbaik. Mereka bahkan mengklaim bahwa anak sapi yang diberi susu pasteurisasi akan mati sebelum dewasa. Mereka percaya:

  • Pasteurisasi membunuh sebagian besar (jika tidak semua) mikroorganisme alami (termasuk yang menguntungkan karena membantu proses pencernaan dan metabolisme susu) dan merusak banyak kandungan nutrisi.
  • Bakteri baik (probiotik, pasti pernah denger dong di iklan? ) meningkatkan kesehatan dengan cara menekan jumlah bakteri jahat dan membantu mencegah pertumbuhan ragi di usus, misalnya Candida.
  • Pasteurisasi menghancurkan enzim yang membantu proses pencernaan. Laktase adalah enzim yang diproduksi oleh bakteri yang terdapat pada susu mentah -yang tidak dipasteurisasi- yang membantu pencernaan gula susu (laktosa), sehingga segelintir ‘penderita’ intoleransi laktosa dapat mengonsumsi produk susu non-pasteurisasi.
  • Pada whole milk (maksudnya, susu yang utuh dengan segala apapun yang ada secara alami di dalamnya) dan percaya bahwa lemak dalam susu mentah dapat meningkatkan kesehatan.

Membeli susu langsung dari peternakan dapat (sekali lagi: dapat! tidak harus berarti ‘selalu‘) berarti mendapatkan susu yang usianya baru beberapa menit, atau maksimal jam, yang jika didinginkan dengan layak dapat bertahan selama 8 hari. Berlawanan dengan kebanyakan susu pasteurisasi yang dijual di supermarket, yang berumur 5-6 hari.

Pihak yang menentang konsumsi susu mentah misalnya adalah US-FDA. Berikut adalah penggalan dari artikelnya (FDA Consumer magazine, September-October 2004 Issue):

Meminum susu mentah atau produk-susu dalam keadaan mentah adalah seperti “bermain rolet Rusia (berjudi) dengan kesehatan anda,” ujar John Sheehan, direktur Divisi Keamanan Produk Susu dan Telur di FDA. “Kami mendapati sejumlah kasus kejadian penyakit yang menular lewat makanan setiap tahunnya yang berkaitan dengan konsumsi susu mentah.”

Pada tahun 2001, lebih dari 300 orang di Amerika Serikat jatuh sakit setelah minum susu mentah atau makan keju yang dibuat dari susu mentah. Sedangkan pada tahun 2002, hampir 200 orang sakit akibat hal yang sama, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC, Centers for Disease Control and Prevention).

Susu mentah dapat menjadi inang bagi organisme patogen (penyebab penyakit), seperti bakteri campylobacter, escherichia, listeria, salmonella, yersinia, dan brucella. Gejala umum dari penyakit yang bersumber dari makanan (yang mengandung bakteri-bakteri tersebut) adalah diare, kram perut, demam, sakit kepala, muntah-muntah, dan lemas.

Kebanyakan orang yang sehat, pulih dari penyakit yang bersumber dari makanan dalam waktu singkat, tapi beberapa orang dapat mengalami sekumpulan gejala yang sifatnya kronis, parah, atau bahkan mengancam jiwa.

Orang-orang dengan kekebalan tubuh yang (me)lemah, misalnya manula, anak-anak, dan yang mengalami penyakit atau dalam kondisi tertentu, paling berisiko terhadap infeksi patogen yang mungkin terdapat dalam susu mentah.

Pada ibu hamil, penyakit yang disebabkan oleh Listeria monocytogenes dapat mengakibatkan keguguran, kematian janin, atau bayi-baru-lahir yang sakit atau mati. Sedangkan infeksi yang disebabkan oleh Escherichia coli bisa menyebabkan sindrom hemolytic uremic, suatu kondisi yang dapat menyebabkan gagal ginjal dan kematian.

Beberapa penyakit yang dapat dicegah oleh proses pasteurisasi adalah tuberkulosis, diphteri, polio, salmonelosis, radang tenggorokan (bakterial), demam scarlet, dan tipus.

Susu segar

Jenis susu ini hanya sedikit berbeda dengan susu mentah. Susu mentah pasti ™ tidak diproses. Sedangkan susu segar (yang diedarkan oleh penjual berkendara motor dengan tabung sebesar tabung gas, misalnya) sebagian ada yang sudah dipasteurisasi dulu di peternakan.

Karena itu, saya cenderung pada pengertian bahwa susu segar adalah ‘whole milk‘, susu hasil perahan yang tidak ditambahkan apa-apa dan tidak mengalami proses yang mengubah bentuknya.

Untuk tahu apakah susu segar berstatus mentah atau dipasteurisasi lebih dulu, tanyakan pada penjualnya.

Sayangnya, karena susu segar juga ada yang tidak berlabel (hanya berjudul ’susu segar’), kita tidak bisa tahu apakah susu ditambahi air, vitamin, pengawet, perasa, diproses dulu, atau sudah diskim (diambil lemak susunya). Ada baiknya untuk hanya membeli susu segar dari produsen, pengedar atau pengecer yang sudah anda kenal baik dan dipercaya.

Susu pasteurisasi

Pasteurisasi adalah proses memanaskan makanan dengan tujuan membunuh organisme patogen (dapat menyebabkan penyakit) seperti bakteri, virus, protozoa, jamur (kapang), dan ragi.

Tidak seperti sterilisasi yang mematikan semua mikroorganisme, baik yang patogen maupun yang menguntungkan. Pasteurisasi mengurangi jumlah mikroorganisme hidup hingga tidak lagi berisiko menyebabkan penyakit (dengan asumsi produk yang telah dipasteurisasi disimpan dalam keadaan dingin dan dikonsumsi sebelum tanggal kadaluarsa).

Segolongan orang berpendapat bahwa kasein dalam susu pasteurisasi telah berubah menjadi beta-casomorphin-7, yang diduga ada hubungannya dengan autisme. Argumentasi ini didasarkan pada pengetahuan yang kurang layak tentang pencernaan kasein.

Yang mengubah kasein menjadi casomorphin adalah sistem pencernaan manusia, bukan proses pasteurisasi susu. Dengan demikian sumber kasein, apapun bentuknya (susu pasteurisasi, keju, yogurt, dan lain-lain), hasil cernanya tetap sama.

Sebagai tambahan, kasein tidak terdegradasi pada temperatur proses pasteurisasi, tapi terkoagulasi (tergumpalkan) pada saat dididihkan. Ini menjelaskan mengapa susu yang dididihkan memiliki konsistensi (penampakan ‘kesatuan bentuk’) yang berbeda. Dan karena itulah, sebaiknya susu tidak dididihkan.

Untuk definisi pendidihan sendiri, sila simak boiling, agar tidak rancu dengan pernyataan ‘kalau begitu saat susu dipanaskan dengan pasteurisasi atau UHT maka kaseinnya rusak, karena susunya dididihkan’.

Susu UHT (Ultra-High Temperature processing)

Susu UHT tidak berbeda jauh dengan susu pasteurisasi. Sama-sama dengan panas (tapi temperaturnya berbeda), sama-sama memperhitungkan waktu pemanasan, yang keduanya bertujuan untuk meminimasi mikroorganisme patogen namun tetap menjaga keutuhan kandungan gizi (kerusakan sesedikit mungkin).

Bedanya dengan pasteurisasi, UHT membunuh semua mikroorganisme. Karena itu, susu UHT dikenal juga dengan sebutan susu steril.

Membedakan produk susu pasteurisasi dan susu UHT

Kemasan

Susu pasteurisasi biasanya dikemas dalam kotak karton dengan bagian atas menyerupai bentuk atap rumah (limas segiempat). Dulu untuk membuka kemasan harus dengan merobeknya (sistem cubit-tarik, pinch-pull). Sekarang kebanyakan sudah memakai tutup berulir, mirip tutup botol sirup.

Sedangkan kemasan susu UHT biasanya berbentuk balok dengan bagian atas mendatar. Dulu untuk membuka kemasan, bagian tepi atas kotak harus ditarik lalu digunting. Sekarang kebanyakan sudah memakai tutup flip-top, dengan segel dalam berupa lembaran alumunium.

Tempat penyimpanan

Susu pasteurisasi HARUS disimpan di lemari pendingin. Tak ada pilihan lain. Dengan begitu anda tak akan menemukannya di rak biasa (tak berpendingin) bersama produk minuman atau susu lain.

Sedangkan susu UHT dapat disimpan di rak biasa atau lemari pendingin. Umumnya di rak biasa, demi penghematan. Dan kalau ada yang diletakkan di lemari pendingin, itu adalah layanan ekstra untuk pelanggan yang suka produk dingin.

Shelf-life

Umur simpan susu pasteurisasi maksimal 1 minggu terhitung sejak tanggal produksi. Catatan penting, umur simpan ini dipengaruhi oleh temperatur penyimpanan (biasanya tertera di kemasan). Dengan begitu, semakin tinggi temperatur penyimpanan, semakin singkat umur simpannya (mencapai beberapa jam saja).

Umur simpan susu UHT bisa mencapai 1 tahun terhitung sejak tanggal produksi, tergantung proses dan produsennya. Dengan catatan, jika sudah dibuka, maka umur simpan (yang berbulan-bulan itu) tidak berlaku lagi dan sisa susu (jika tidak langsung habis diminum) harus disimpan di lemari pendingin.

Kenapa umur simpannya berbeda? Karena perlakuan proses kedua jenis susu tersebut berbeda. Lihat lagi penjelasan sebelumnya tentang susu UHT.

Merek

Ini memang hanya dapat anda ‘kuasai’ jika sangat terbiasa dan teratur menyambangi supermarket serta pengamat-produk yang jeli.

Beberapa produsen hanya membuat susu pasteurisasi dan tidak membuat susu UHT (misalnya merek D*amond). Begitu juga sebaliknya, ada pula yang hanya membuat susu UHT dan tidak memproduksi susu pasteurisasi (misalnya merek U*tra). Ada pula yang membuat keduanya, seperti I*domilk.

Label

Jika anda merasa tidak yakin, cermati labelnya. Ada merek susu UHT terkenal yang ternyata tidak mencantumkan bahwa produk tersebut diproses secara UHT (misalnya U*tra). Tapi tanggal kadaluarsanya jelas ‘berkata’ bahwa susu tersebut adalah susu UHT (karena berlaku setahun).

Sedangkan produk susu pasteurisasi setidaknya punya keterangan penyimpanan (temperatur versus waktu) berupa diagram atau tabel sederhana.

Susu bubuk

Susu bubuk dibuat dari padatan susu yang dikeringkan. Cukup menarik untuk diketahui bahwa susu bubuk banyak ditemukan di negara-negara berkembang akibat biaya transportasi dan penyimpanan yang lebih murah (karena tidak memerlukan pendinginan) dibandingkan jenis susu yang disebutkan sebelum ini.

*Hoho… jadi jelas bahwa bentuk susu bukanlah lambang kemakmuran, seperti mungkin disangka sebagian orang bahwa susu bubuk lebih baik, lebih bergizi, lebih higinis, dan (yang paling gak penting) lebih bergengsi (iye soale harganya -kebanyakan- lebih mahal, terutama jika dikeluarkan produsen semacam Wy*th)*

Semakin panjang proses, semakin banyak nutrisi yang rusak/hilang. Dan tentu saja proses dari susu segar hingga susu bubuk memiliki tahap yang lebih banyak daripada susu yang ‘hanya’ dipasteurisasi atau diproses secara UHT. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa susu bubuk ada di bagian bawah ‘rantai kualitas’ produk susu.

Untuk mengatasi kehilangan nutrisi, produsen susu bubuk lalu menambahkan (fortify) berbagai vitamin, mineral, dan apapun itu (dari yang penting sampai yang belum ketahuan penting/tidaknya) ke dalam produk susunya. Dikurangi, lalu ditambal, kemudian dijual dengan iklan ‘diperkuat dengan A, B, C’. Begitu kira-kira.

Demikian sekilas dari saya. Mohon bantu saya melengkapi.

Beberapa taut sumber:



Sterilisasi Botol Susu
Maret 18, 2008, 9:30 am
Diarsipkan di bawah: Susu Sapi

SAMPAI KAPAN BOTOL BAYI MESTI DISTERILISASI?

Sterilisasi mencegah infeksi pada bayi, terutama yang menyebabkan diare. Sampai bayi berusia 1 tahun, botol susunya mesti terus disterilisasi. Kecuali kalau susu untuk si kecil didapat langsung dari ibu. Lewat usia setahun untungnya kekebalan tubuh bayi sudah lebih baik, sehingga sterilisasi botol tak mutlak lagi. Selain itu ia juga sudah mendapatkan beragam imunisasi yang diharapkan bisa melindungi tubuhnya dari berbagai penyakit. Dengan kata lain, selepas usia 1 tahun, orangtua bisa memperlonggar “tingkat” sterilitas peralatan makan dan minumnya.
Jika si kecil ingin minum biasakan ia belajar menuangkan air langsung ke gelas seperti milik anggota keluarga lainnya. Latihan ini sangat penting untuk mendukung kemandirian seka-ligus perkembangan motoriknya. Yang pasti, orangtua tak perlu repot-repot mensterilkan gelasnya terlebih dulu, apalagi sampai harus merebusnya.
Kenapa boleh agak longgar? Tak lain karena pada dasarnya kuman memberi manfaat tersendiri dalam membentuk kekebalan tubuh anak. Setiap kuman
yang masuk justru akan membangun kekebalan tubuh sehingga kalau kemasukan jenis kuman yang sama, jadi tidak gampang sakit. Gambaran ini mirip dengan vaksinasi; dengan memasukkan bibit penyakit TBC yang sudah dilemahkan diharapkan anak menjadi kebal terhadapnya. Seperti halnya pada organ-organ lain, pada usus pun kuman membentuk semacam ekosistem. Dalam jumlah tertentu, kuman-kuman tadi akan menjaga ekosis-tem dalam pencernaan. Itulah mengapa perlakuan kelewat bersih justru akan membuat kekebalan alamiah bayi berkurang. Contohnya, selalu menggendong bayi padahal sudah saatnya ia menjajal kemampuan merangkak di lantai. Begitu pula buah yang seharusnya bisa diberikan dalam keadaan segar di usia 6 bulan, tak perlu dikukus atau direbus dulu supaya
steril.

BOTOL SUSU MESTI DIREBUS
Cara mensterilkan botol susu berbeda dengan peralatan makan dan minum lainnya. Untuk botol, bersihkan dengan lebih cermat mengingat botol lebih banyak memiliki lekak-lekuk dan lipatan di dalam dot yang amat potensial menyimpan sisa-sisa susu. Rebuslah botol-botol susu tadi dalam panci berisi air mendidih sekitar 15 menit. Proses merebus seperti ini akan membuat bibit penyakit yang mungkin ada dalam botol-botol tersebut mati. Jika kurang dari 15 menit dikhawatirkan masih ada sisa-sisa kuman yang belum mati oleh proses pemanasan.
Selain dengan cara merebus, sterilisasi juga bisa dilakukan dengan menggunakan alat otomatis bertenaga listrik. Bahkan saat ini tidak sedikit microwave yang memiliki fasilitas pensteril botol susu. Segera angkat lalu tiriskan botol susu yang sudah disterilkan. Kemudian simpan botol yang sudah dibersihkan di tempat bersih dan kering. Jangan sampai botol dibiarkan begitu saja di dalam panci atau alat pensteril botol hingga airnya dingin kembali. Kalau sudah begini, langkah
pensterilan jadi sia-sia karena mikroorganisme lain seperti bakteri, kuman, dan yang paling banyak adalah jamur, akan masuk kembali ke air tersebut dan menempel lagi pada botol susu. Tentu saja banyak atau sedikitnya kuman dan jamur terkait dengan sanitasi dan keadaan lingkungan sekitar. Jika relatif bersih, jumlah kumannya pastilah tidak sebanyak yang berada di lingkungan kotor. Namun
perlu diingat, meski jumlahnya sedikit tidak berarti kuman dan jamur ini tidak bisa membuat bayi sakit.

PERABOT MAKAN CUKUP DISIRAM AIR PANAS
Berbeda dengan botol susu, peralatan makan seperti gelas, piring dan sendok cukup disiram air panas saja. Atau bisa juga dengan memasukkannya ke panci khusus berisi air panas. Pertimbangannya, peralatan makan dan minum umumnya digunakan tak sesering botol dan dalam waktu relatif pendek. Lagi pula seusai dipakai makan, umumnya langsung dicuci. Kebiasaan ini tentu berbeda dibanding botol susu yang kerap digunakan berulang-ulang sejak pagi hingga malam masing-masing untuk jangka waktu cukup lama.

MAINAN CUKUP DIBERSIHKAN
Selain peralatan makan dan minum, semua benda yang sering bersentuhan dengan anak saat beraktivitas, terutama bermain, tak boleh luput dari perhatian. Sebelum menggendong atau mengajak anak bermain, cucilah tangan Anda menggunakan sabun. Bersihkan pula semua mainan si kecil secara berkala, misalnya 2-3 hari sekali, sebab menjelang berusia setahun anak mulai senang menggigit-gigit atau memasukkan benda apa saja ke mulutnya. Namun, tak perlu direbus karena bahan mainannya belum tentu tahan panas.

MENANGANI DIARE
Tidak sterilnya botol dan peralatan makan memberi kontribusi yang besar sebagai penyebab anak sakit, terutama diare. Diare terjadi lantaran tubuh menolak bibit penyakit atau zat asing yang masuk ke dalam sistem pencernaan. Banyak sekali bakteri, virus, atau amuba, yang menyebabkan diare, di antaranya salmonella dan shigella. Diare bisa diamati dari kotoran berupa cairan dengan frekuensi yang lebih sering. Disamping gejala lain seperti demam, lemas, dan kadang disertai kerewelan.
Meski lazim terjadi pada anak, diare tidak boleh dianggap sepele. Lakukan penanganan segera dengan memberinya cairan sebanyak mungkin agar anak tak mengalami dehidrasi alias kekurangan cairan. Jangan lupakan pemberian cairan oralit yang kini tersedia dalam aroma yang disukai anak. Kalau tak memungkinkan, buatlah larutan gula dan garam dengan komposisi yang tepat, yakni 1 sendok teh gula dicampur dengan 1/2 sendok teh garam, lalu masukkan ke dalam segelas air.
Pemberian susu formula pun sebaiknya dihentikan untuk sementara waktu karena dinding usus si kecil yang sedang mengalami diare umumnya harus “bekerja berat” mencerna susu formula. Kalaupun tetap ingin melanjutkan pemberian susu formula, pilihkan susu formula khusus dengan kandungan rendah laktosa (low lactose). Selain itu, berikan makanan yang lembut atau bubur agar anak mudah mencernanya.
Umumnya diare akan sembuh sendiri dalam waktu 3-7 hari. Jika dalam tenggang waktu itu belum sembuh juga, perlu diteliti lagi penyebab pasti anak mengalami diare. Bisa jadi anak terserang penyakit tifus atau penyakit lain sehingga diarenya sulit berhenti. Bawa anak secepatnya ke rumah sakit atau ke dokter terdekat jika si bayi sudah malas makan dan minum, disertai muntah terus-menerus atau dalam jumlah banyak, dan badannya semakin lemas serta mata terlihat cekung.

dr. Eva J. Soelaeman, Sp.A (K)
dari RSAB Harapan Kita



Susu Pertumbuhan Anak
Maret 18, 2008, 9:26 am
Diarsipkan di bawah: Susu Sapi

Memilih Susu Pertumbuhan untuk Anak

Oleh: Dokter Handrawan Nadesul

Pertumbuhan tak hanya sampai bayi namun berlangsung dari balita hingga akhir akil balik. Khususnya periode balita adalah masa yang relatif singkat, namun sarat akan proses pertumbuhan. Gizi adalah faktor lingkungan yang ikut menentukan suksesnya pertumbuhan. Saat usia menginjak setahun hendaklah anak mulai diperkenalkan beragam makanan keluarga, yang disempurnakan dengan susu. Susu adalah sumber gizi yang baik yang dibutuhkan oleh balita untuk mendukung pertumbuhannya. Bermacam jenis susu yang beredar sering membuat kita bertanya-tanya bagaimana memilih susu.

ANAK yang sudah berumur lebih dari satu tahun tentu tak cukup hanya diberi susu. Tubuh mereka membutuhkan zat-zat gizi dari beragam makanan keluarga dan susu dengan kandungan gizi yang lebih lengkap selain lebih besar pula takarannya. Dan itu yang akan mendampingi menu hariannya.

Semakin beragam menu harian diterima anak balita, semakin terpenuhi kecukupan seluruh zat gizi yang tubuh mereka butuhkan. Peran susu pertumbuhan dibutuhkan untuk membantu memenuhi kecukupan protein, mineral dan elemen, khususnya kalsium. Dalam sehari anak balita dianjurkan mengonsumsi 3 gelas susu pertumbuhan. Memilih susu pertumbuhan yang memenuhi syarat dan atau yang memberi nilai tambah, ikut mendukung tumbuh-kembang anak optimal.

Asupan gizi dan energi untuk pertumbuhannya haruslah memadai yang artinya tak kekurangan maupun kelebihan. Kelebihan porsi energi (kalori) yang anak terima untuk waktu lama akan menjadikan anak bertambah berat, atau malah kegemukan. Dalam hal kalori (satuan energi), anak batita (bawah tiga tahun) membutuhkan sekitar 1220 kalori sehari, meningkat menjadi 1720 kalori bagi balita setelah usia batita.

Kelebihan vitamin A,D,E, dan K yang tak larut dalam air sehingga dapat bersifat ”racun” yang ditimbun dalam tubuh. Termasuk bila tubuh anak kelebihan mineral, dan elemen. Dan kondisi begini sama tidak menyehatkan dengan sekiranya tubuh anak sampai kekurangan satu atau lebih zat gizi.

Kecukupan zat gizi lainnya sudah baku sebagaimana tercantum dalam daftar AKG (Angka Kecukupan Gizi) dari departemen kesehatan bisa juga dari Codex Alementarius Comission (CAC) dari FAO/WHO. Sebuah produk makanan dinilai memenuhi syarat apabila kandungan zat gizinya sesuai dengan rujukan AKG atau CAC untuk masing-masing kelompok umur anak.

Susu pertumbuhan Tentang susu untuk pertumbuhan ( growing-up milk ) tidak selalu persis sama kandungan, maupun keanekaragaman zat gizinya. Selain berisi bahan dasar susu yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan gizi untuk anak di atas satu tahun, ada yang menambahkan beberapa jenis suplemen sehingga memiliki nilai tambah untuk mendukung pertumbuhan anak.

Pengayaan susu bagi pertumbuhan sebagaimana banyak dipasarkan dewasa ini, antara lain ada yang ditambah:

  • Zat prebiotik dan probiotik , yang berfungsi menyuburkan flora usus, sehingga pencernaan anak lebih lancar, dan mendukung daya tahan.
  • Penambahan jenis-jenis asam lemak esensial linoleat dan linolenat atau turunannya.
  • Antioksidan (penawar radikal bebas)
  • Berbagai zat yang memiliki sifat mendukung kekebalan ( imuno-modulator ) misalnya seng (zn), selenium, zat besi,

Kesemua itu dimaksud untuk mendukung pertumbuhan, termasuk tentu untuk pertumbuhan otak anak.

Melihat demikian beragam produk susu untuk pertumbuhan yang ditawarkan, tentu perlu kejelian konsumen untuk tepat memilih. Kita sadar, bahwa orang-tua berperan besar dalam menghantar dan mendampingi pertumbuhan anak dengan memberi gizi dari makanan keluarga dan memilihkan susu bagi pertumbuhan yang tepat. Tentu selain target berkualitas tinggi, pertimbangan ekonomi juga menjadi perhitungan dipilih tidaknya sebuah produk susu.

Kalau kita amati, kandungan protein susu pertumbuhan berkisar antara 18 gram sampai 25 gram dalam setiap 100 gram bubuk susunya. Kandungan lemaknya ada yang hanya 3 gram saja, namun ada pula yang sampai 20 gram. Kandungan karbohidrat berada di kisaran 55 gram sampai 69 gram, dan rata-rata kalori yang diberikan 100 gram bubuk susu mencapai 390 kalori sampai 470 kalori.

Dalam memilih susu, pertimbangan utama ialah untuk menunjang optimalnya petumbuhan anak, wawasan akan kualitas susu ikut memegang peranan. Bagaimana ibu lebih kritis, tidak mudah percaya informasi yang belum jelas, dan mengenal gizi untuk kebutuhan tubuh anak dan sebuah produk susu. Untuk itu bantuan nasihat ahli kesehatan diperlukan. Lebih sering bertanya, banyak membaca, mengikuti acara seminar kesehatan, bagian dari upaya memperkaya wawasan sehat bagi orang-tua.

Memperkaya wawasan sehat dapat dari media massa, internet, tentu saja pada setiap kesempatan bertemu dengan dokter, atau ahli gizi. Percaya saja pada mitos, atau sumber yang tidak berkompeten, justru akan merugikan anak.

Mitos anak sudah tidak membutuhkan susu lagi, tentu tak menguntungkan. Kita tahu bahwa untuk membangun fondasi tulang-belulang anak, susu masih terus dibutuhkan sampai usia akil balik.

Kita melihat kebanyakan kasus osteroporosis yang banyak ditemukan di negara sedang berkembang, lantaran kebanyakan orang sudah tidak minum susu lagi setelah usia bayi, padahal fondasi pertumbuhan masih belum selesai dibangun.

Sekali lagi, ibu perlu bijak memilihkan anak-anaknya susu demi pertumbuhan yang optimal. Selain memiliki wawasan luas ihwal makanan dan susu sebagai sumber gizi, diperlukan pula hati agar ibu tidak sampai salah memilih.



Alergi Susu Sapi
Maret 18, 2008, 9:25 am
Diarsipkan di bawah: Susu Sapi

Mari Kita Kenali Alergi Susu Sapi

Apakah alergi susu sapi itu

Susu yang biasa kita minum sebenarnya terdiri dari protein, karbohidrat atau gula, lemak, vitamin, mineral, dan air. Pada kasus alergi susu sapi, yang menyebabkan terjadinya reaksi alergi itu sendiri adalah kandungan protein dalam susu tersebut. Alergi susu sapi dapat juga terjadi pada bayi atau anak-anak yang mengonsumsi ASI maupun susu formula. Jika seorang ibu yang sedang menyusui ternyata juga mengonsumsi susu sapi, maka diduga hal itu akan mempengaruhi ASInya, sehingga bayi yang mengonsumsi ASI tersebut akan menunjukkan gejala alergi terhadap susu sapi. Alergi susu sapi memang merupakan alergi terhadap makanan yang? sering terjadi pada?bayi atau anak-anak.


Apa saja gejala-gejala alergi susu sapi?

Bayi yang alergi terhadap protein susu sapi biasanya mengalami gejala sebagai berikut:

  • eksim
  • kulit merah-merah
  • nyeri atau kejang perut
  • muntah
  • diare

Beberapa anak ada pula yang menderita reaksi alergi?sangat serius yang disebut dengan reaksi anaphylaxis. Reaksi itu biasanya terjadi mendadak beberapa menit setelah mengonsumsi susu. Gejala paling serius dari reaksi anaphylaxis adalah bengkak pada wajah, mulut, lidah, hingga kesulitan untuk bernafas. Rasa gatal, wajah yang memerah, dan muntah-muntah biasanya juga sering timbul sebagai tanda terjadinya reaksi anaphylaxis. Jika si anak mengalami gejala seperti itu, sebaiknya segera diberikan pertolongan medis agar tidak terjadi reaksi anaphylaxis yang lebih fatal. Anak yang mengalami reaksi anaphylaxis diduga jumlahnya masih sedikit.

Bagaimana cara pengobatan alergi?susu sapi?

  1. Untuk bayi yang diberikan ASI
    Jika si ibu menyusui atau memberikan ASI kepada bayi dan ternyata si buah hati?menderita alergi susu, pemberian ASI tidak perlu dihentikan. Gejala alergi pada bayi dapat dikurangi?dengan cara mengontrol makanan yang dikonsumsi oleh si ibu karena hal itu dapat berpengaruh pada ASI yang dikonsumsi oleh si bayi.
  2. Untuk bayi yang diberikan susu formula
    Jika bayi dinyatakan menderita alergi susu sapi dan selama ini selalu diberikan susu formula, dokter biasanya akan merekomendasikan untuk mengganti susu formulanya dengan susu?kedelai atau susu formula hidrolisat.

Kapan seorang bayi dapat mengonsumsi lagi makanan hariannya secara normal?

Selama bayi itu bertumbuh, kita dapat saja mulai memberikan susu sapi ke dalam makanannya, namun sebaiknya dikonsultasikan ke dokter terlebih dahulu. Dokter biasanya akan merekomendasikan si bayi untuk tidak mengonsumsi makanan yang mengandung susu pada 12-18 bulan pertama. Dokter kemudian akan menguji pemberian susu sapi kepada si anak setiap 6 bulan untuk menetapkan apakah si anak masih alergi terhadap susu atau tidak. Sebelum dokter menyatakan bahwa si anak sudah aman terhadap alergi susu, sebaiknya kita jangan mencoba untuk memberikan makanan yang mengandung susu pada si bayi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Makanan seperti apa yang harus dihindari oleh anak yang menderita alergi susu sapi?

Beberapa jenis makanan yang harus dihindari oleh anak yang menderita alergi susu sapi, yaitu:

  1. Berbagai jenis susu sapi atau makanan yang mengandung susu sapi (termasuk skim, dried, evaporated maupuncondensed milk)
  2. Lactaid, yaitu produk susu yang diproses secara khusus untuk mereka yang mengalami gangguan lactose intolerance. Lactaid diduga masih mengandung protein susu sapi, jadi sebaiknya jangan diberikan kepada anak-anak yang menderita alergi.
  3. Mentega atau susu mentega.
  4. Produk kedelai yang mengandung susu sapi.
  5. Produk-produk makanan yang mengandung kasein, kaseinat, sodium atau kalsium kaseinat, lactalbumin, danwhey

Susu Formula Timbulkan Alergi pada Bayi

Tak banyak orangtua yang menyadari kalau bayinya alergi terhadap susu sapi, padahal sekitar tiga persen bayi di Indonesia mengalaminya. Gejala yang muncul biasanya kulit kemerahan dan gatal-gatal seperti penyakit eksim (atopic dermatitis), sering pilek, bersin-bersin, sampai diare. Jika tidak ditangani, alergi susu sapi bisa mengakibatkan berbagai macam penyakit alergi.

Alergi terhadap protein susu sapi terjadi jika sistem kekebalan tubuh bayi melawan protein yang terdapat dalam susu sapi. “Susu sapi adalah protein asing, sehingga saat masuk ke tubuh bisa terangsang menjadi alergi, terutama pada mereka yang memiliki faktor keturunan alergi,” kata dr. Zakiudin Munasir, Sp.A (K) dari bagian anak, RSCM.

Anak-anak berusia di bawah 3 tahun adalah usia yang rentan mengalami alergi susu karena fungsi ususnya belum sempurna. Jika kedua orangtua si anak memiliki riwayat alergi, risiko anak terkena alergi bisa sampai 80 persen, yang paling dominan untuk menurunkan alergi adalah pihak ibu.

“Protein yang terdapat pada susu sapi adalah protein whey dan beta-lactoglobulin, yang dominan sebagai pencetus alergi adalah protein whey. Sayangnya semua produk susu formula mengandung protein ini,” paparnya.

Untuk itu ia menyarankan agar para ibu memberikan ASI eksklusif sampai bayi berumur 6 bulan. “Jika tidak memungkinkan, bisa diganti dengan susu hipoalergenik, susu sapi yang dihidrolisis parsial untuk merangsang timbulnya toleransi susu sapi.”

Selain faktor pemicu alergi (alergan) dari susu sapi, dr. Zakiudin juga menjelaskan agar para ibu yang memiliki risiko menurunkan alergi dan sedang memberikan ASI eksklusif menghindari makanan yang bisa memicu alergi seperti susu, makanan laut atau telur. Sebagai pengganti, para ibu bisa menggantinya dengan makanan yang memiliki kadar gizi sama.

Banyak orang yang sering menganggap sepele alergi, padahal alergi juga bisa menyerang semua organ tubuh berikut sistem fungsinya. Pada anak-anak, bisa menyebabkan perkembangan kecerdasan terlambat serta muncul gangguan perilaku. Anak yang alergi juga sangat rentan terkena infeksi virus.

Pengobatan yang paling baik pada penyakit alergi adalah dengan menghindari faktor pencetusnya. Dalam hal ini Anda sebagai orangtua harus mengganti susu formula dengan susu yang yang bersifat hipoalergenik.

Penulis: An



Flat-Inverted Nipple
Maret 18, 2008, 9:21 am
Diarsipkan di bawah: ASI

Low milk supply; flat and inverted nipples

Breastfeeding is the way women have fed their babies from the beginning of time, so you should expect the process to proceed uneventfully, right? After all, it seems only fair that a woman who makes the positive choice to breastfeed her baby would be able to nurse as long as she desires. The surprising and disappointing truth is that lactation problems do occur, even among women with the best of intentions and the highest motivation to succeed at breastfeeding. Sometimes problems involve the mother’s breasts and nipples or relate to her overall health. At other times, breastfeeding problems involve the baby or impact the baby’s well-being. Some problems are due to circumstances beyond our control, while others are the direct result of lack of knowledge or lack of confidence, improper technique, or bad advice. Most problems that cause women to discontinue breastfeeding before they had wanted arise within the first few weeks, but a breastfeeding complaint can present at any point in the course of lactation. Whether breastfeeding problems begin in the hospital or surface months later, they can be the source of great stress and threaten long-term breastfeeding.

The Importance of Getting Help Early
The early recognition and treatment of a breastfeeding problem offers the best chance that the difficulty can be resolved successfully. The chief message is: Get help as quickly as possible so you can resolve your problem before it becomes complicated by insufficient milk. Unfortunately, many health professionals practice a wait-and-see approach to breastfeeding complaints, hoping that any difficulties automatically will self-correct between office visits. This nonintervention approach is understandable considering how little training most health professionals receive about the management of breastfeeding problems. Without corrective measures, however, many problems are compounded by low milk or an underweight baby, making a bad situation worse.

Why Breastfeeding Problems Are Readily Complicated by Low Milk Supply
Breastfeeding difficulties can cause physical discomfort, exhaustion and frustration, as well as infant fussiness and poor infant growth. Furthermore, many breastfeeding problems readily become complicated by low milk supply. Often, complaints in breastfeeding women are linked to ineffective or infrequent emptying of milk. If milk is not removed from the breasts regularly, a chemical inhibitor in residual milk accumulates and decreases further milk production. In addition, excessive pressure from unemptied milk can cause damage to the milk-producing glands. Thus, milk left in the breast acts to decrease further milk production. Problems that impair milk removal-infrequent or short feedings, inverted nipples, breast infections, sore nipples, breast engorgement-can quickly result in diminished milk production.

Flat and Inverted Nipples
A flat nipple is one that cannot be made to protrude with stimulation. An inverted nipple retracts inward instead of becoming erect when the areola is compressed. Both flat and inverted nipples can make it difficult for an infant to grasp the breast correctly. They also are more prone to trauma from early breastfeeding efforts, which can result in painful cracks and damaged skin. When flat or inverted nipples are discovered prenatally, several treatment options are available to draw the nipples out. The most popular of these is the wearing of breast shells, also known as milk cups, over the nipples inside the maternity bra. These dome-shaped devices have an inner ring that is worn over the nipple. When a breast shell is situated over a flat or inverted nipple, it applies steady pressure at the base of the nipple which causes it to protrude through the central opening.

When prenatal treatment isn’t possible or when the problem isn’t detected until after delivery, mothers may need extra help with getting started breastfeeding. Whether or not your flat or inverted nipple(s) was treated prenatally, the most important thing you can do when your baby is born is to get skilled help with proper breastfeeding technique and expert guidance in helping your baby attach to your breast correctly.

Flat nipples can range from those that are only slightly less protuberant than normal, to nipples that are almost indistinguishable from the surrounding areola. Inverted nipples range from those with a slight central crease or dimple to deep central inversions that interfere with infant latch-on and prevent milk from flowing normally. Depending on the characteristics of your particular nipples, your baby may be able to latch on and draw your nipples out without any special treatment. If your baby is having trouble grasping your flat or inverted nipples, you can try the following strategies:

  • Gently compress and roll your nipple between your thumb and index finger for a minute to try to make it more erect before attempting to feed your baby. With patience and persistence, your baby can probably attach to your breast and nurse effectively even if you have flat or inverted nipples.
  • Use a breast pump to draw your nipple(s) out immediately before breastfeeding your baby. A hospital-grade electric pump may be available on the postpartum floor for your convenient use. If an electric pump is not available, a hand pump can be used to create steady, gentle suction for about thirty seconds.
  • If one nipple is more protuberant than the other, begin your breastfeeding attempts using that nipple. Once your baby learns to nurse from one breast, he may be better able to draw the nipple out on the other side. You can build on this initial success as you offer the more difficult side.
  • Wear breast shells for about thirty minutes before each feeding to help pull your nipples out. Obviously, the devices must be removed prior to breastfeeding. Some women can tolerate longer periods of wear, but overuse of breast shells can make nipples sore by trapping moisture. They can also cause plugged ducts by pressing against swollen breast tissues once milk comes in. (Any leaking milk that collects in the shells should be discarded.)
  • If your baby has not learned to latch on well to both breasts and nurse effectively within twenty-four hours of birth, I recommend that you begin regular milk expression. Use the most effective pump you can obtain, preferably a hospital-grade electric breast pump with a dual collection system. Pump your breasts for approximately ten minutes after each feeding attempt. Pumping serves several purposes. It draws your nipples out with each pump cycle, and it provides effective draining of your breasts to assure you continue to produce a plentiful milk supply. Pumping also obtains expressed breast milk to use to supplement your baby until she learns to nurse effectively.
  • While your baby is learning to breastfeed correctly, some experts believe it is preferable not to use a bottle to give the required supplemental milk. They argue that a preference for bottle-feeding can easily develop in babies who haven’t learned to nurse effectively. These advocates recommend cup feeding or another alternative method of giving the extra milk. Other breastfeeding proponents insist that using bottles doesn’t necessarily interfere with learning to nurse, so long as the mother’s milk supply is kept plentiful by frequent pumping, and the baby is guided in correct breastfeeding technique. When a baby is having trouble learning to nurse due to flat or inverted nipples, I suggest temporarily avoiding bottle-feeding, if possible, and choosing an alternative method of feeding supplemental milk, at least during the period you are in the hospital.

Most importantly, keep first things first. Your top priorities are assuring your baby receives sufficient milk and preserving a generous breast-milk supply. With regular pumping and persistent attempts at the breast, your baby will probably be able to eventually breastfeed well. Rarely, a woman might have to pump several weeks until her nipples have been drawn out sufficiently for her baby to learn to nurse effectively. But such extra effort is well worth the benefits gained by breastfeeding.



Lima Besar Susu Mahal
Maret 18, 2008, 9:18 am
Diarsipkan di bawah: Susu Sapi

Peta persaingan bisnis susu formula
Perputaran duit di bisnis susu formula mencapai Rp 6 triliun setahun. Sepertiganya milik kelas premium dan sisanya kelas biasa. Di kelas premium persaingan sangat ketat. Di kelas biasa, Nestle masih menjadi raja.
Sigit Rahardjo, Fifi Yulianti

Kalau sudah ngomong susu, yang terdengar adalah keluhan-keluhan bernada dalam. Apalagi di kalangan ibu-ibu yang mempunyai bayi: betapa kian mahal harga susu, kian tak terbeli. Tapi, berbagai keluhan itu rupanya tenggelam dalam keriuhan bisnis besar yang amat menggiurkan. Tak usah bicara soal kebutuhan susu semua usia. Susu untuk di bawah lima tahun saja, ceruk pasarnya demikian besar. Hitungan kasarnya, berdasarkan sensus tahun 2000 lalu, jumlah balita di Indonesia mencapai 20 juta lebih. Katakanlah, 10%-nya setiap hari harus minum susu. Setiap anak membutuhkan 0,6 liter sampai 1 liter susu setiap hari. Tentu jumlah susu yang dibutuhkan sangat besar.

Jadi, tak heranlah bila para produsen susu menjadi begitu gemuk-gemuk. Pertumbuhan pasar susu setiap tahunnya mencapai 20% sampai 35%. Bertumbuhnya susu ini tentu membuat produsen makin antusias.

Pemain asing seperti Mead Johnson pun menyambar peluang emas ini. Sejak 2001 silam, produsen susu asal Amerika ini membuka kantor operasional langsung di Jakarta. PT Mead Johnson Indonesia itu bukan sekadar kantor keagenan. Demikian juga dengan raksasa susu dunia lainnya seperti Abbott, Wyett, juga Nutricia. Pemain lain, seperti Friesche Flag, Nestle, atau Sari Husada, meski tidak kuat di susu premium atau superpremium, namun mereka lebih besar penjualannya di susu kelas bawah.

Mereka saling berlomba menyusun strategi pemasaran yang paling jitu. Di antaranya dengan membuat susu yang paling lengkap kandungan gizinya. Mulai dari yang mengandung AA, DHA, EPA, atau yang terbaru: EyQ. Semua tambahan kandungan itu jelas mempengaruhi harga pula. Untuk susu formula ukuran 400 gram, rentang harganya mulai dari Rp 20.000-an untuk kelas bawah. Di kelas atas, harganya antara Rp 40.000 hingga Rp 70.000 sekaleng kecil itu. ”Di kelas atas kita membaginya lagi menjadi premium dan superpremium,” papar Cecep Fathoni, Business Unit Manager Nutricia Indonesia Sejahtera.

Lebih banyak bermain di susu pertumbuhan

Dalam perkembangannya, menurut Ruby Hermanto, Marketing Head Pediatric Nutricion Division PT Abbott Indonesia, di bisnis susu ini makin banyak pengelompokannya. Ini dimulai dari starter formula untuk usia 0 sampai 6 bulan, follow on formula untuk usia 6 bulan sampai 12 bulan, lantas growing up milk, untuk usia di atas setahun dan di bawah lima tahun.

Ruby mengakui tak gampang berjualan susu. Untuk susu formula usia nol sampai setahun pemerintah melarang untuk beriklan. Karena itu, produsen pun enggan bermain susu untuk kelompok usia ini. Apalagi, ”Pertumbuhan di kelas starter ini sudah stagnan. Kami cenderung bermain di kelas growing up,” timpal Cecep.

Toh, dalam setahun angka penjualan susu formula ini menunjukkan angka yang luar biasa. Ruby mengutip data yang dikeluarkan AC Nielsen. Setidaknya Rp 6 triliun dihasilkan dari penjualan susu, baik itu untuk kelas bawah, premium, maupun superpremium. ”Sebesar Rp 2 triliun sampai Rp 2,5 triliun itu milik susu formula kelas premium,” tandas Ruby.

Duit sebesar itu dikuasai lima pemain besar. ”Abbott masuk hitungan ini,” ucap Ruby, bangga. Empat pemain lainnya adalah Wyett, Mead Johnson, Nutricia, dan Sang Hyang Perkasa. Namun, Ruby menolak menyebutkan berapa besar produk Abbott yang bisa terserap pasar. ”Kalau itu saya tak bisa menyebutkan,” elaknya.

Nutricia Indonesia bahkan berani menyebutkan, di kelas premium dan superpremium itu, mereka bisa menguasai penjualan hingga 11%. Saingan terdekatnya adalah Wyett dan Mead Johnson. ”Karena mereka ini lebih dulu bermain di kelas premium dan superpremium,” tukas Cecep.

Bisa dikatakan persaingan di susu formula premium dan superpremium ini sangat ketat. Untuk kelas premium, produk Nutricia seperti Bebelac bersaing dengan S 26 Reguler milik Wyeth, Enfamil Reguler milik Mead Johnson, Morinaga BMT milik Sang Hyang Perkasa, dan Vitalac milik Sari Husada, juga dengan Pediasure milik Abbott.

Begitu halnya di kelas superpremium. Nutricia mempunyai unggulan Nutricia Royal, Wyett mempunyai S 26 Gold, Mead Johnson tampil dengan susu premium merek Enfamil Plus. Lantas, Sang Hyang Perkasa dengan produknya Morinaga Platinum, dan Abbott punya merek Pediasure Gains and Advance EyQ. Pemain lain di pasar ini adalah Nestle dengan merek Nan, namun tak begitu besar penetrasinya di pasar.

Pasar susu kelas bawah lebih besar

Adapun sisanya yang sebesar Rp 3,5 triliun dinikmati susu formula kelas bawah. Di kelas susu biasa ini, tak bisa dipungkiri, Nestle masih merajai. Diperkirakan dari kue sebesar itu, Nestle mempunyai angka penjualan mencapai hampir 50%. Sisanya, tentunya dibagi de-ngan pemain lain seperti Sari Husada atau Friesche Flag, produsen susu Bendera.

Namun, seperti halnya Abbott, Nestle pun enggan mengungkapkan berapa angka penjualannya di Indonesia. ”Kami tidak bisa menyebutkan angka volume susu bayi yang didistribusikan,” ujar Brata T. Hardjosubroto, Head of Public Relations PT Nestle Indonesia. Namun, Brata mengakui, kontribusi penjualan susu di Indonesia cukup lumayan untuk menggembungkan kas Nestle.

Susu formula milik Nestle yang tergolong kelas menengah ini adalah Lactogen. Untuk berat 800 gram harganya sekitar Rp 40 .000. Adapun Nan harganya Rp 50.000 untuk 400 gram. Isi kandungannya hampir sama. Bedanya, Nan mengandung asam linoleat dan asam linolenat yang jika dicerna bayi akan menghasilkan AA dan DHA. Akan halnya Lactogen, mengandung AA dan DHA langsung.

Yang terbuka justru PT Sari Husada. Produsen susu anak SGM, Lactamil, dan Vitalac ini dalam setahun bisa memproduksi susu sebanyak 41.500 ton. Dari jumlah itu, ”Untuk keperluan produk sendiri sebanyak 80%,” ujar Rachmat Suhappy, Direktur Produksi PT Sari Husada Tbk.

Angka penjualannya pun terus meningkat. Pada 2003 lalu, angka penjualannya mencapai Rp 1,1 triliun, meningkat dari Rp 1,02 triliun tahun sebelumnya. Adapun laba bersihnya mencapai Rp 220,6 miliar.

Jadi, sepanjang tahun 2003 pertumbuhan volume bertambah sebesar 16%. ”Laba bersih bertumbuh sebesar 24,4%,” tutur Jenny Go, Direktur Marketing Sari Husada.
Nah, betapa besar untung berbisnis susu ini.

Bisnis memang tak Kenal Saudara

Sudah banyak yang tahu, 80% saham PT Sari Husada Tbk dimiliki Nutricia International BV. Perusahaan multinasional asal Negeri Kincir Angin ini juga pemilik PT Nutricia Indonesia Sejahtera (NIS). Uniknya, mereka bersaing untuk produk susu formula balita kelas tengah.

Produk Sari Husada seperti Vitalac adalah sekelas dengan Bebelac milik NIS. Semula keduanya memang rukun-rukun saja. Bahkan saling berbagi pasar. Namun, sejak awal 2004, kongsi ini pecah. Sari Husada pun tak malu lagi membikin produk yang bersaing dengan saudaranya itu. Tengok saja, Vitalac 1, 2, dan 3, SGM 1,2 ,3, dan 4, serta Vitalac LF (Lactosa Free) itu berimpit ketat dengan produk NIS seperti Bebelac 1, 2, dan 3.



DHA Sulit Diserap Bayi
Maret 18, 2008, 9:05 am
Diarsipkan di bawah: Susu Sapi

DHA Sulit Diserap Bayi, Jangan Terpengaruh Iklan Susu

JAKARTA (MEDIA) : Tingkat konsumsi Docosahexanoic Acid (DHA) yang berlebihan akan membahayakan metabolisme tubuh. Sebab tubuh terpaksa dibebani pekerjaan yang lebih berat untuk mengeluarkan asam lemak esensial tersebut. Spesialis penyakit anak Dr. Utami Roesli MBA, mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan di Australia, Amerika Serikat maupun Eropa, bahwa di tiga kawasan negara maju ini, belum dihasilkan efektifitas dari penambahan DHA dalam produk susu maupun
makanan bayi dan anak-anak termasuk untuk ibu hamil. “Jadi belum ada anjuran untuk menambahkan unsur asam linoleat dan asam linolenat itu ke dalam susu”, ujarnya kepada Media, kemarin di Jakarta. Lebih jauh ditegaskan, seperti juga lemak susu sapi, maka asupan DHA tsb. tersebut bukan merupakan ikatan rantai panjang, sehingga masih sulit diserap oleh pencernaan bayi. Terlebih lagi, katanya, karena susu yang akan dikonsumsi ini harus dibuat dengan menggunakan air panas
hingga mengalami proses pemanasan. Akibatnya, aktifitas enzim desaturase dan elongase yang memfasilitasi pembentukan DHA dalam tubuh secara otomatis hancur. Karena itu, Utami, sebagai pakar air susu ibu (ASI) mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, supaya jangan terpengaruh terhadap iklan susu dan makanan pendamping ASI yang mengandung DHA dengan iming-iming mampu meningkatkan kecerdasan bayi. “Asam lemak esensial tersebut justru cukup terkandung dalam ASI, bahkan unsur DHA-nya tergolong ikatan rantai panjang yang sangat mudah diserap pencernaan bayi”, ujarnya. Karena itu dia menganjurkan agar bayi diberikan ASI sejak lahir sampai umur 4 bulan, karena asam lemak ASI
juga terdiri dari asam arakidonat. “Berarti, kandungannya melebihi unsur asam linoleat dan asam linolenat”. Setelah empat bulan, katanya, bayi dapat diberikan tempe yang mengandung pula asam linoleat maupun asam linolenat karena lemaknya termasuk ikatan rantai panjang. Utami menjelaskan, setelah mencapai umur enam bulan, bayi juga dapat diberikan ikan laut, yang secara alami mengandung pula kedua asam lemak itu tanpa harus mengonsumsi susu formula.
Menyesatkan Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Rumah Sakit Saint Carolus ini mengakui, semboyan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang berlaku sejak dulu dinilai telah menyesatkan masyarakat. “Orang beranggapan konsumsi makanan sehari-hari belum sempurna jika tidak minum susu. Susu bukan berarti tidak penting, namun bukan segala-galanya”, tegasnya lagi. Dia bahkan melihat iklan susu maupun makanan bayi dan anak-anak yang diimplementasi dengan DHA cenderung menyesatkan masayarakat, karena produsen memanfaatkan kebodohan
konsumen yang tak memahami manfaat sesungguhnya dari unsur tambahan tersebut.
Sementara, kalangan spesialis gizi di Indonesia umumnya menyatakan masih awam terhadap kandungan DHA dalam susu. Karena sampai sejauh ini, belum pernah dilakukan penelitian tentang manfaatnya. Dokter Soebagyo Sumodihardjo MSc, pakar gizi dari bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengungkapkan pihaknya baru mengetahui hal itu dari media massa. Ketika ditemui Media usai pembukaan lokakarya “Pemerataan serta Peningkatan Pemanfaatan Lulusan Pendidikan Tenaga Kesehatan di Sektor Non-Departemen Kesehatan dan Kesejahteraaan Sosial” kemarin di Jakarta, dia belum bersedia dimintai komentarnya. “Saya baru mengkliping dan belum membaca literatur”, ujarnya. Dia berjanji memberitahukan hal tersebut seminggu kemudian setelah segala informasi dikumpulkan dari berbagai sumber. Spesialis Anak Dr. Sri S. Nasar sebelumnya menginformasikan bahwa overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Dikatakan bahwa gejalanya berupa perdarahan, mirip flek-flek berwarna kebiruan di kulit. “Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun
tikus, tapi gejalanya berbeda”. (Rse/V-1)



Konsumsi Susu Balita
Maret 18, 2008, 8:41 am
Diarsipkan di bawah: Susu Sapi

Apakah Si Balita Sudah Cukup Mengonsumsi Susu?

Oleh: dr. Handrawan Nadesul



Kebutuhan gizi anak untuk bertumbuh berbeda sesuai dengan umurnya. Setelah lewat umur setahun, anak membutuhkan kecukupan yang berbeda dengan selagi bayi. Dengan sudah tumbuhnya gigi-geligi, jenis makanan anak sudah dapat memperoleh makanan yang berasal dari menu yang dikerat dan dikunyah. Susu saja sudah tak lagi cukup. Dengan bertumbuhnya organ-organ tubuh, dan aktivitas anak yang lebih tinggi, anak membutuhkan lebih banyak kalori, dan kelengkapan nutrisi, termasuk masih perlu terus minum susu.

SETELAH berumur setahun, makanan anak sudah sama dengan menu orang dewasa. Melihat laju pertumbuhannya, kita mengelompokkan anak usia prasekolah (balita) menjadi kelompok batita atau bayi di bawah tiga tahun (toddler), dan kelompok 4-5 tahun. Masing-masing kelompok usia tidak sama kebutuhan nutrisinya.

Namun kendati susu sudah tak bisa diandalkan, kebutuhan anak akan susu tetap tak boleh diabaikan. Setelah berumur setahun, anak masih tetap memerlukan minum susu sekurang-kurangnya dua kali sehari (lihat tabel jadwal makan balita).

Apa yang diperoleh anak dari minum susu?

Selain protein dalam susu, serta zat-zat gizi unggul lainnya, anak terjamin kecukupan asupan kalsium atau zat kapurnya. Kita tahu kalsium merupakan bahan dasar pembentukan tulang-belulang. Proses ini tak bisa ditunda, atau pembentukannya tidak menjadi sempurna.

Fondasi pembentukan tulang selesai sebelum anak berusia pubertas. Dan fondasi tulang baru akan kokoh bila pasokan kalsium sejak balita selalu mencukupi. Bersama mineral fosfor, kalsium membentuk kerangka tulang-belulang tubuh. Tulang sendiri dapat berperan sebagai depot cadangan kedua jenis mineral, bila diperlukan.

Bila pasokan kalsium dari makanan tidak mencukupi, tubuh mengambilnya dari tulang, sehingga lama-kelamaan tulang menjadi keropos. Seperti itu yang banyak terjadi pada orang Indonesia karena rata-rata sudah berhenti minum susu sebelum usia balita.

Untuk pembentukan tulang selain kalsium dan fosfor tubuh juga membutuhkan vitamin A, C, dan D yang tak boleh kurang pula. Di samping itu, tentu hormon gondok, hormon anak gondok, serta hormon seks ikut berperan pula. Yang tak kurang pentingnya, paparan cahaya matahari pagi, selain gerak badan. Kesemua itu yang menjadikan pembentukan tulang bisa optimal pada waktunya.

Kita tahu semua zat penunjang pembentukan tulang ditemukan dalam susu. Maka susu idealnya tidak boleh hilang dari menu harian anak. Bahkan sampai anak dewasa. Orang Barat malah mengonsumsi susu sampai uzur.

Setelah anak disapih, anak memperoleh kecukupan kalsium dari menu hariannya. Sumber kalsium dalam menu harian dapat diperoleh dari ikan teri, buntil, kue koya, keremes, keripik tempe goreng, tahu dan toge goreng, selain dari aneka produk laut. Namun tidak setiap anak menyukai jenis menu yang tinggi kalsiumnya itu. Oleh sebab itu susu tetap penting di masa pertumbuhan sebagai sumber kalsium.

Perlu diingat, kelompok anak berumur 1-3 tahun sangat rentan terhadap kekurangan gizi, khususnya kekurangan vitamin A, kalori, dan protein.Sudah lengkapnya gigi-geligi anak pada umur dua sampai dua setengah tahun, merupakan petunjuk bahwa anak sudah harus mengonsumsi jenis menu (padat) apa saja untuk mencukupi kebutuhan tubuh akan seluruh zat gizi.

Selain bertambah kebutuhan kalorinya, anak membutuhkan lebih besar takaran semua zat gizi untuk menjamin bertumbuh optimalnya organ-organ tubuh. Namun untuk bisa begitu anak belum bisa mengaturnya sendiri, melainkan masih bergantung pada orang lain. Dalam hal ini bergantung pada bantuan ibunya. Hari depan status gizi anak sangat ditentukan isi meja makan ibu.

Pada kelompok 4-5 tahun, organ-organ tubuh anak bertumbuh pesat, sehingga pertumbuhan fisik anak kelompok umur ini terlihat melambat. Rata-rata anak cenderung kelihatan kurus. Hal seperti itu berlangsung sampai menjelang usia pubertas.

Kelompok anak berumur 4-5 tahun juga masih sama rentan terhadap kekurangan gizi, selain terinfeksi juga. Dan itu ikut ditentukan pula oleh bagaimana cerdas ibu memberi menu pilihan, termasuk kecukupan memberinya susu. Bila nutrisi anak tak mencukupi, tubuh anak lebih rentan dibanding anak yang nutrisi harianya terpenuhi.

Anak balita terancam kekurangan gizi karena asupan gizi yang tidak lengkap dan berkurangnya konsumsi susu di menu hariannya. Sering-sering hal ini disebabkankan ketidaktahuan ibu. Pertumbuhan anak akan melambat. Anak jadi rewel, dan masih merengek sehabis diberi makan. Tidur mungkin tak nyenyak, sering sembelit, dan diare. Kondisi anak begini merupakan lingkaran setan. Akibat sembelit, selera makan juga ikut menurun. Kurang nafsu makan, asupan makan jadi berkurang. Dan itu berarti kecukupan seluruh zat gizi juga tak bisa memadai.

Susu sendiri kaya akan kalsium. Berbeda dengan kalsium dalam tablet atau tablet celup (effervescent), yang tidak seluruhnya diserap usus, kalsium susu hampir sempurna diserap masuk ke dalam darah. Maka keputusan anak tetap diberi susu menjadi vital.

Sekurang-kurangnya anak balita minum susu dua kali sehari. Dua gelas susu, atau masing-masing 250 cc susu, sangat berarti untuk memasok kecukupan kalsium tubuhnya. Dan di tangan ibu yang tak lupa memberikan susu itulah kebutuhan anak akan kalsium senantiasa tercukupi.***

Contoh Jadwal Makan Harian Balita

Pukul 06.00 Segelas (250 cc) susu
Pukul 08.00 Nasi, telur, tumis sayur
Pukul 10.00 Buah, kue, biskuit, keripik tempe
Pukul 13.00 Nasi, semur daging, sayur lodeh
Pukul 16.00 Buah, bubur kacang ijo, kue koya
Pukul 18.00 Nasi, ikan goreng, sup daging, tempe, tahu goreng
Pukul 20.00 Segelas (250 cc) susu