Smart Parent


Ngeces
Maret 24, 2008, 9:47 am
Diarsipkan di bawah: KELAINAN BAYI

Ngeces Tidak Normal, Bila…

Oleh: Dr. Luh Karunia Wahyuni, SpRM

Sehari-hari sering kita jumpai anak balita dengan air liur yang menetes dari sudut bibir, terus menerus disertai mulut yang selalu terbuka, dapat diibaratkan seperti keran bocor. Anak seperti tidak peduli dengan pipi, dagu dan leher yang selalu basah. Kondisi seperti itu disebut drooling (ngeces).

Pada dasarnya kontrol terhadap ngeces terjadi bertahap sesuai dengan perkembangan anak. Kontrol ini berhubungan dengan posisi tubuh anak, kegiatan yang sedang dilakukan anak, kemampuan anak mengontrol gerakan mulut serta tingkat perkembangan gerak anak.

Jangan-jangan tumbuh gigi
Ngeces sering terjadi saat anak sedang mempelajari keterampilan gerak yang baru dan berlanjut sampai anak mencapai kemampuan melakukan gerakan secara otomatis. Sering terjadi pula selama, sebelum dan setelah tumbuh gigi baru.

Pada usia 1-3 bulan, anak jarang ngeces karena produksi air liur masih minimal. Saat usia 6 bulan, anak akan ngeces pada posisi berbaring, terlentang, tengkurap atau duduk. Demikian bila anak mulai bicara (babling), meraih, menunjuk atau tumbuh gigi. Usia 9 bulan, anak dapat duduk atau merangkak tanpa ngeces. Pada usia ini anak akan ngeces saat makan makanan tertentu.

Pada usia 15-18 bulan anak ngeces bila melakukan gerakan halus seperti makan sendiri. Sedangkan pada usia 2 tahun anak seharusnya tidak ngeces lagi sekalipun melakukan gerakan yang sudah trampil seperti menggambar, makan sendiri atau bermain.

Jika kita cermati penjelasan di atas, ngeces pada usia tertentu masih dianggap normal. Penjelasan di atas dapat dipergunakan oleh orangtua sebagai patokan untuk mengenali apakah ngeces masih dalam batas wajar.

Tidak normal, bila…
Ada berbagai kondisi yang menyebabkan ngeces tidak lagi sebagai suatu keadaan yang normal misalnya:

  • Mulut terbuka terus sehingga anak sulit menelan. Kita dapat mencoba merasakan menelan air liur saat mulut terbuka, betapa sulitnya. Mulut yang terbuka terus kemungkinan berhubungan dengan infeksi saluran napas yang kronis atau hidung selalu mampet.
  • Frekuensi tidak adekuat sehingga air liur menumpuk dan terjadilah ngeces. Pada dasarnya manusia normal akan menelan ludah 2 kali per menit saat sadar dan 1 kali per menit saat tidur.
  • Adanya gangguan pada saraf cranialis yang bertanggung jawab terhadap proses menelan.
  • Fungsi menelan yang tidak optimal karena rahang tidak stabil, terjadi perubahan tonus (ketegangan) otot pipi, bibir ataupun kelemahan pada otot penyangga tubuh.

Bila masalah ini dibiarkan tidak ditangani dengan baik tentu saja akan mengganggu perkembangan anak lebih lanjut terutama dalam fungsi makan dan bicara, serta pertumbuhan gigi. Seperti diketahui, kita mempergunakan otot wajah, bibir, rahang, lidah yang sama untuk aktifitas bicara maupun makan. Artinya bila anak kita ngeces terus menerus harus waspada terhadap kemungkinan keterlambatan bicara. Seberat keterlambatannya tentu saja tergantung dari kondisi yang mendasari ngeces tersebut.

Dokter akan melakukan evaluasi secara menyeluruh hal-hal yang menyebabkan ngeces dan penanganan sering kali sangat sederhana cukup dengan memposisikan tubuh dengan baik maka ngeces teratasi.

Jadi ngeces seperti keran bocor dapat diatasi dengan penanganan yang tepat.

Usia 6-8 Bulan – Makanan Lumat

Saat mulai memberi si kecil makanan padat, jangan bertubi-tubi memberi aneka jenis makanan dalam waktu singkat. Beri jeda beberapa hari antara setiap jenis makanan baru, sehingga tidak terlalu memaksa anak. Anda pun punya cukup waktu untuk memantau kalau-kalau ada masalah yang timbul berkaitan dengan makanan tertentu.

Juga, biarkan bayi memutuskan berapa banyak makanan yang mau ditelannya. Untuk beberapa jenis makanan—dalam sehari—bayi Anda bisa jadi kelihatannya tidak makan terlalu banyak. Sedangkan bayi lain malah kelihatan sangat rakus. Tidak usah pusing. Ikuti saja apa maunya. Yang penting, Anda selalu memantau proses tumbuh kembangnya secara teratur.

Bagaimana memulainya?
Setelah usia 6 bulan, makanan padat pertama si kecil ini adalah makanan lumat, yakni bubur susu dan buah. Selama 2 minggu pertama, si kecil cukup diberi dua jenis makanan ini. Makanan lumat mudah dicerna dan cepat meninggalkan lambung si kecil. Pemberian makanan lumat ini dimulai dalam bentuk encer dan jumlahnya sedikit. Secara bertahap, makanan dikentalkan serta jumlahnya ditambah.

Pemberian secara bertahap ini perlu dilakukan karena sampai usia ini, jenis makanan yang paling bayi kenal adalah ASI (dan ia masih tetap membutuhkannya sampai usia 2 tahun). Jika ia mendorong keluar makanan atau menutup mulut rapat-rapat, jangan paksa. Mungkin ia belum siap untuk makan makanan padat.

Setelah bayi berhasil melalui masa 2 minggu ini dengan baik, Anda bisa memberinya makanan lunak, yakni nasi tim saring, sebanyak 1 kali dalam sehari. Nasi tim ini harus terdiri dari sumber karbohidrat, sumber protein, serta sumber zat pengatur.

Bagaimana dengan buah? Sebaiknya disajikan dengan cara disaring dan mulailah dengan buah berserat rendah. Misalnya, jeruk, pisang, pepaya, dan avokad. Secara bertahap, Anda boleh memberinya buah lain.

Peralihan dari makanan lumat ke makanan lunak juga perlu dilakukan secara bertahap. Ini berarti, Anda perlu mengatur kekasaran teksturnya. Awalnya, pilih sayur berserat rendah, seperti wortel, tomat, bayam, dan sebagainya. Setelahnya, Anda bisa memberinya brokoli dan lainnya.

Makan dari sendok butuh keterampilan tersendiri. Bisa jadi, Anda harus uji coba selama beberapa kali sampai bayi betul-betul terbiasa. Di usia ini, kebanyakan pemenuhan kalori masih berasal dari ASI. Dan tujuan utama mengenalkan makanan padat pada bayi adalah mengajarinya cara makan yang benar-benar berbeda serta memperkenalkan aneka citarasa dan tekstur makanan baru. Yang terpenting, buat proses belajar mengenal makanan baru jadi pengalaman yang menyenangkan.

Pentingnya Variasi
Untuk memperkenalkan makanan pada bayi, mulailah dengan 1 jenis makanan. Tunggu paling tidak selama 4 hari sebelum mengenalkan makanan jenis lain. Adanya tenggang waktu membuat bayi makin mengenal dan bisa menerima makanan barunya. Reaksi alergi biasanya baru muncul beberapa hari setelah jenis makanan itu dikonsumsi. Jika timbul reaksi alergi jenis tertentu, Anda jadi tahu persis penyebabnya.

Sebagian pakar percaya, penting untuk mulai memperkenalkan sayuran hijau dulu, sehingga pola citarasa bayi tidak ‘termanjakan’ dengan rasa manis dari buah-buahan. Sebagian pakar lagi menganggap itu hanya mitos belaka. Menurut mereka, bayi terlahir dengan menyukai yang manis-manis. Anda bisa mengombinasikan kedua pendapat ini, dan melihat mana yang paling pas buat bayi Anda.

Yang pasti, mengombinasikan berbagai jenis makanan akan membuat bayi tidak cepat bosan, memicu selera makannya plus tidak menjadikannya si pemilih makanan. Jangan sampai ia terbiasa makan makanan yang itu-itu saja. Ia bisa kekurangan gizi yang dibutuhkannya.

Jadikan Sebagai Rutinitas
Waktu makan—sarapan, makan siang dan makan malam—harus Anda terapkan secara konsisten. Ini bukannya tanpa alasan. Sistem pencernaan bayi perlu dilatih untuk belajar menerima, mencerna, serta menyerap makanan pada waktu-waktu yang ditentukan.

Untuk masing-masing waktu makan itu, sajikan kelompok makanan yang ada dalam tabel ‘Jadwal pemberian makanan si kecil’. Perlu dicatat, kalau kenyang si kecil akan memberi sinyal. Misalnya, menjulurkan lidah atau memalingkan kepala. Jadi, jangan takut si kecil akan makan secara berlebihan.

Mulai Memperkenalkan Biskuit
Anda sudah bisa mulai memberi biskuit bayi sebagai camilan di antara waktu makan. Koordinasi antara mata dan tangannya sudah cukup baik, sehingga ia bisa membawa tangannya ke mulut. Pada umur 7 bulan, rata-rata bayi sudah mampu makan sendiri biskuitnya.

Umumnya, tekstur biskuit yang lembut membuat bayi mudah mengemutnya, bahkan akan membantu merangsang pertumbuhan giginya.

Gizi Penting untuk Usia 6-12 Bulan

Pada usia 6-12 bulan, pola makan anak harus mengikuti piramida makanan. Makin ke atas makin sedikit porsi makanan yang harus dikonsumsi anak. Berikut urutannya dari paling bawah ke paling atas:

  • Sumber karbohidrat, yakni roti, jagung, nasi, cereal, dan sebagainya, dikonsumsi sebanyak 1-3 kali/hari @ 1 mangkuk kecil.
  • Sumber zat pengatur, yaknis sayuran dikonsumsi sebanyak 1-2 kali/hari sekitar 25-50 g mentah. Buah dikonsumsi sebanyak 1-2 kali/hari sekitar 25-75 g.
  • Sumber protein yaitu ASI dikonsumsi sebanyak 2-3 kali/hari. Protein lainnya dikonsumsi sebanyak 1-3 kali/hari. Misalnya, ayam kampung (paha bawah), telur (1/2–1 butir), daging (1/2 potong sedang/20 g), kacang-kacangan (1-2 sendok makan), tahu (1 potong/50 g), tempe (1 potong/25 g), serta ikan (1 potong sedang/20 g).
  • Bila perlu, berikan sumber lemak berupa minyak sebanyak 1/2 sendok teh.

Penting: ASI adalah sumber utama untuk karbohidrat, lemak dan protein.

Masalah Makanan yang Bisa Timbul Bagi Bayi Usia 6-8 Bulan: Alergi Makanan

Alergi makanan adalah suatu reaksi yang timbul pada tubuh setelah seseorang mengonsumsi suatu jenis makanan. Reaksi ini dipicu oleh kondisi kekebalan tubuh pada orang tersebut.

Bila salah satu dari Anda atau pasangan Anda punya riwayat alergi makanan, risikonya pada si kecil meningkat sampai 20-30%. Jika Anda berdua alergi, risikonya pada anak naik lagi hingga 40-70%.

Tanda-tanda si kecil mengalami alergi makanan, adalah jika setelah Anda memberinya satu jenis makanan, ia menunjukkan gejala-gejala, antara lain:

  • Ruam di kulit
  • Diare
  • Muntah

Munculnya alergi membutuhkan lebih dari satu kali paparan untuk sensitif terhadap alergen. Dan jika anak Anda menolak satu jenis makanan, ini belum tentu berarti ia mengalami alergi. Siapa tahu ia hanya tidak mau makan saja.

Perlu dicatat: Menangis terus-menerus bisa pula menjadi pertanda alergi makanan, meski umumnya diikuti ruam, diare, atau muntah.

Kebanyakan anak yang alergi makanan akhirnya bisa mengatasi alerginya. Makanya, Anda bisa memperkenalkan lagi makanan itu dengan aman (konsultasi dulu dengan dokter anak Anda).



Neonatal jaundice
Maret 24, 2008, 9:37 am
Diarsipkan di bawah: JAUNDICE

Strategies to reduce bilirubin-induced complications

Kristin Melton, MD; Henry T. Akinbi, MD

VOL 106 / NO 6 / NOVEMBER 1999 / POSTGRADUATE MEDICINE



CME learning objectives

  • To identify infants at risk for severe neonatal jaundice
  • To optimize the benefits from phototherapy
  • To select infants who could be safely managed at home


This page is best viewed with a browser that supports tables

Preview: Along with the recent trend toward shorter postdelivery hospital stays has come an increase in complications from hyperbilirubinemia. Because of this, primary care physicians need to be on the lookout for newborns at risk and may need to coordinate parent education, home phototherapy, and follow-up visits. The authors discuss the process, diagnosis, and management of hyperbilirubinemia and describe in detail risk factors that may preclude early hospital discharge or indicate that monitoring should take place after discharge.
Melton K, Akinbi HT. Neonatal jaundice: strategies to reduce bilirubin-induced complications. Postgrad Med 1999;106(6):167-78



Neonatal jaundice affects 60% of full-term infants and 80% of preterm infants in the first 3 days after birth. Although transient, the condition accounts for up to 75% of hospital readmissions in the first week after birth (1). In one Canadian study (2), shorter neonatal hospital stays correlated with an overall tripling of readmissions.

Severe hyperbilirubinemia is relatively uncommon, but infants at risk must be carefully monitored. Kernicterus, the most severe complication of hyperbilirubinemia, has increased in incidence as neonatal hospital stays have become shorter (3-5).

This article is intended to help physicians identify newborns at risk for severe hyperbilirubinemia, who may not be ideal candidates for early hospital discharge. Management, including follow-up care and home phototherapy, is also described.

Classification

Hyperbilirubinemia in newborns is primarily due to immaturity of the liver enzyme system (see box below). Jaundice can be classified as physiologic or nonphysiologic according to postdelivery timing of onset, clinical course, resolution, rate of bilirubin increases, and total serum bilirubin levels.

Physiologic jaundice
Jaundice in healthy, full-term newborns has been termed physiologic because hyperbilirubinemia occurs universally in neonates. Total serum bilirubin concentration usually peaks at 5 to 12 mg/dL on the second or third day after birth.

Nonphysiologic jaundice
Jaundice should be considered nonphysiologic, or pathologic, if it occurs less than 24 hours after birth, if bilirubin levels rise at a rate of greater than 0.5 mg/dL per hour or 5 mg/dL per day, if total bilirubin levels exceed 15 mg/dL in a full-term infant or 10 mg/dL in a preterm infant, if evidence of acute hemolysis exists, or if hyperbilirubinemia persists beyond 10 days in a full-term infant or 21 days in a preterm infant. (However, mild jaundice may persist for up to 2 weeks in breast-fed infants.)

Kernicterus
Severe hyperbilirubinemia could result in kernicterus. This condition is characterized by bilirubin staining of the basal ganglia and involves diffuse neuronal damage, which results in severe neurologic sequelae. Kernicterus rarely occurs with bilirubin levels lower than 20 mg/dL but typically occurs when levels exceed 30 mg/dL. When levels are between 20 and 30 mg/dL, concomitant conditions such as prematurity and hemolytic disease may increase the risk of kernicterus.

Clinically, bilirubin encephalopathy progresses through three phases. In the first 2 to 3 days the infant is lethargic and hypotonic and sucks weakly. Progression is marked by hypertonia (especially of the extensor muscles), arching, opisthotonic posturing, fever, seizures, and high-pitched crying. In the final phase, the patient is hypotonic for several years, then gradually becomes hypertonic. Affected children have marked developmental and motor delays in the form of choreoathetoid cerebral palsy. Mental retardation may also be present. Other sequelae include extrapyramidal disturbances, auditory abnormalities, gaze palsies, and dental dysplasias.

Risk factors for severe hyperbilirubinemia

With short neonatal hospital stays, jaundice may not be apparent–and certainly has not yet peaked–at the time of hospital discharge. Therefore infants at risk for severe hyperbilirubinemia should be identified so they can be observed closely both while in the hospital and after discharge.

Breast-feeding
Breast-feeding is an important risk factor for hyperbilirubinemia, probably owing to high levels of beta-glucuronidase in breast milk and, if maternal milk supply is not yet adequate in the first few days, decreased caloric intake and delayed passage of meconium. Jaundice is three times more likely to occur in breast-fed than in formula-fed infants, and progression to severe hyperbilirubinemia is six times more likely (6). Of 31 cases of kernicterus reported from 1990 to 1998 (7), all but one of the infants were breast-fed.

Low birth weight and prematurity
Infants born at 35 to 37 weeks’ gestation–who are often treated as full-term infants–are more likely to breast-feed poorly and to have significant weight loss than their full-term counterparts. They are four times more likely than full-term infants to have a bilirubin level greater than 13 mg/dL (8). In the Collaborative Perinatal Project of the National Institute of Neurological and Communicative Disorders and Stroke (9), in which more than 50,000 infants were studied prospectively, 10% to 20% of infants weighing less than 2,500 g (5.5 lb) at birth had total serum bilirubin levels higher than 15 mg/dL in the first week after birth. Poor caloric intake and excessive weight loss have also been correlated with an increased risk of jaundice in full-term infants.

Ethnicity
Infants of East Asian and Native American descent have higher levels of bilirubin than white infants, who in turn have higher bilirubin levels than infants of African descent. Glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD) deficiency is more prevalent in infants of East Asian, Greek, and African descent.

Sickle cell anemia does not predispose newborn infants to jaundice.

Hemolytic conditions
Hemolysis from blood-type incompatibilities plays a significant role in neonatal hyperbilirubinemia, and moderate jaundice usually develops in infants with ABO incompatibilities. Many hospitals routinely perform blood type and Coombs’ tests on infants of mothers who have blood type O.

Development of severe hyperbilirubinemia, often requiring treatment, is classic in infants with Rh isoimmunization. These infants appear to be at much higher risk for kernicterus and neurologic sequelae than those with nonhemolytic hyperbilirubinemia. The incidence of severe Rh isoimmunization decreased dramatically following the introduction of Rho(D) immune globulin (Gamulin Rh, HypRho-D, RhoGAM) to 0.17% of offspring of Rh-negative mothers (10).

Hemolysis can result from other inherited or congenital causes. Hereditary spherocytosis or elliptocytosis can be present in the newborn. G6PD deficiency is often overlooked, difficult to recognize, and unique because jaundice may not develop until after the fourth day postdelivery.

Polycythemia contributing to hyperbilirubinemia is seen in infants who are large or small for their gestational age, as well as in trisomic syndromes, placental transfusion syndrome (twin-to-twin transfusion) and maternal-fetal transfusion.

Newborn infants with a sibling who had jaundice are at increased risk of severe hyperbilirubinemia. Boys are also at increased risk.

Infants of diabetic mothers often have macrosomia, polycythemia, ineffective erythropoiesis, and increased levels of hemoglobin F contributing to bilirubin elevations.

Extravasated blood in ecchymosis, cephalohematomas, subgaleal hemorrhage, intraventricular or intracranial hemorrhage, pulmonary hemorrhage, or adrenal hemorrhage can predispose a newborn infant to severe hyperbilirubinemia resulting from breakdown of the blood.

Finally, sepsis, hypothyroidism, and galactosemia are neonatal conditions that may cause jaundice. Jaundice is rarely the only manifestation of these disorders, however, and the clinical presentation often suggests the diagnosis.

Diagnosis

Jaundice usually becomes apparent when total bilirubin levels exceed 5 mg/dL. Neonatal jaundice progresses in a cephalopedal direction. However, estimates of total serum bilirubin levels based on visual evaluation are often inaccurate because of interobserver variability, especially in dark-skinned infants.

Laboratory testing should be reserved for infants with nonphysiologic jaundice. Routine measurement of total serum bilirubin levels in infants who do not meet the criteria for nonphysiologic jaundice is not warranted. Laboratory evaluation should be fairly minimal because test results are often nonrevealing, even in the presence of hemolysis. In up to 50% of infants with severe jaundice, breast-feeding and lower gestational age are the only causes identified despite extensive workups (11). No data on the sensitivity and specificity of routine testing for hyperbilirubinemia are available.

Hematocrit, reticulocyte count, and peripheral blood smear results may be informative, but these do not always correlate with the degree of hemolysis. Evaluation for G6PD deficiency and pyruvate kinase deficiency should be considered, especially for infants who are older than 4 days, who have a significant family history, or who are of Asian, Mediterranean, or African descent and have severe hyperbilirubinemia. A direct (conjugated) bilirubin level should be obtained for infants with jaundice that persists longer than 2 weeks or with dark urine or acholic stools. Blood type, Rh factor, and nonagglutinating antibody level (by a Coombs’ test) should be determined for infants of mothers who have O or Rh-negative blood type or who have had no prenatal care, because of the potential for isoimmunization.

The clinical significance of bilirubin levels depends on postnatal age, in hours. A bilirubin level of 12 mg/dL may be pathologic in an infant younger than 48 hours, but is benign in an infant older than 72 hours.

Treatment

To address the controversy and confusion regarding levels of hyperbilirubinemia that require treatment, the American Academy of Pediatrics (AAP) has developed a practice parameter for management of hyperbilirubinemia in the healthy, full-term newborn (table 1) (12). With severe hyperbilirubinemia, intense phototherapy consisting of at least double phototherapy using a fiberoptic blanket and one or two banks of phototherapy light should be initiated while preparations for exchange transfusion are being made. If phototherapy fails to produce a change of 1 to 2 mg/dL in 4 to 6 hours, initiation of exchange transfusion is recommended. Infants with any of the previously mentioned risk factors (eg, a hemolytic condition, breast-feeding, prematurity, diabetes in the mother) are at increased risk for severe hyperbilirubinemia, and the method of treatment should be carefully considered.

Table 1. Guidelines for management of hyperbilirubinemia in healthy, full-term infants

Age (hr)

Total serum bilirubin level (mg/dL)


Consider phototherapy

Initiate phototherapy

Initiate exchange transfusion if intense phototherapy* fails

Initiate exchange transfusion



25-48**

>12

>15

>20

>25



49-72

>15

>18

>25

>30



>72

>17

>20

>25

>30



*At least double phototherapy using two banks of phototherapy lights or a fiberoptic blanket and a bank of lights.

**Full-term infants who are clinically jaundiced at <24 hours old are not considered healthy and require further evaluation.

Adapted, with permission, from the American Academy of Pediatrics (12).



Full-term infants who have normal findings on physical examination, no underlying serious illness or feeding difficulties, and no potential for blood incompatibility can be safely managed at home by following recommendations proposed by the AAP (12).

Phototherapy
The mainstay in treatment of hyperbilirubinemia is phototherapy, which is safe and widely available. Its effectiveness was demonstrated in a study by the National Institute of Child Health and Human Development of a cohort of 1,339 infants (13). Only 4% of those treated with phototherapy required exchange transfusion, compared with 24.4% of those who did not receive phototherapy. Light emitted at a wavelength of 425 to 475 nm converts bilirubin to a water-soluble form that can be excreted in the bile or urine without glucuronidation.

Multiple factors can influence the effectiveness of phototherapy, including the type and intensity of the light and the extent of skin surface exposure. “Special blue” fluorescent light has been shown to be most effective, although many nurseries use a combination of daylight, white, and blue lamps. Recently, fiberoptic blankets have been developed that emit light in the blue-green spectrum. These are effective, convenient forms of phototherapy. The intensity of light delivered is inversely related to the distance between the light source and the skin surface.

Phototherapy acts by altering the bilirubin that is deposited in the subcutaneous tissue. Therefore, the area of the skin exposed to phototherapy should be maximized. This has been made more practical with the development of fiberoptic phototherapy blankets that can be wrapped around an infant. Double phototherapy can reduce bilirubin levels twice as fast as single phototherapy (14) and can be accomplished by using the combination of a blanket and a bank of lights or by using two banks of lights.

Home-based care for neonatal jaundice has become more prevalent than hospital care, and the availability of fiberoptic blankets has made it convenient. The benefits of home phototherapy include decreased cost, less disruption of the parent-child relationship, and better maintenance of breast-feeding. It has been shown to be as effective as hospital-based therapy when used appropriately in situations where intense phototherapy is not required (15). Parents must be carefully instructed about use of the phototherapy blanket, because the primary problem has been inconsistent or inadequate application. Infants should remain in the blanket at all times, including during feedings.

Infants receiving home phototherapy need daily follow-up visits by a nurse, who performs a physical examination and measures the total serum bilirubin level. If bilirubin levels continue to rise, hospital readmission should be considered. Discontinuation of home phototherapy is safe once the total serum bilirubin level has decreased to less than 15 mg/dL in healthy full-term infants older than 4 days. Office evaluation within 2 to 3 days of discontinuing home phototherapy is recommended.

Potential side effects of phototherapy, when used in the presence of elevated direct bilirubin levels, include watery diarrhea, increased insensible water loss, skin rash, and transient bronzing of the skin. The possibility of increased insensible water loss underscores the importance of appropriate hydration. Many infants who are readmitted because of hyperbilirubinemia are mildly to moderately dehydrated. Breast-feeding should be increased to every 2 to 2 1/2 hours. Increased feedings can increase peristalsis and meconium passage, decreasing bilirubin resorption into the enterohepatic circulation.

Formula supplements should be considered if adequate lactation has not been established. Supplementation with plain water or dextrose water has been associated with increased bilirubin levels and carries the risk of iatrogenic hyponatremia (16). Intravenous fluids are indicated only in infants who are unable to take oral nutrition.

Exchange transfusion
Full-term infants rarely require exchange transfusion if intense phototherapy is initiated in a timely manner (17). Exchange transfusion should be considered if the total serum bilirubin level is higher than 25 mg/dL and continues to rise despite intense in-hospital phototherapy. Exchange transfusion corrects anemia associated with hemolysis and is effective in removing sensitized red blood cells before they are hemolyzed. It also removes about 60% of bilirubin from the plasma, resulting in a clearance of about 30% to 40% of the total bilirubin as it equilibrates with the extravascular tissues.

Exchange transfusion is associated with more complications than phototherapy. It carries a 5% risk of major morbidity and a risk of 2 to 3 deaths per 1,000 procedures (18). Along with the risks associated with blood exposure, infants receiving exchange transfusion have increased risks of infection, necrotizing enterocolitis, acidosis, hypocalcemia, hypoglycemia, electrolyte abnormalities, and air embolism.

Guidelines for follow-up
To minimize the complications from neonatal jaundice, parental education and a patient tracking system are critical. The AAP recommends that infants discharged from the hospital within 48 hours of birth receive follow-up care within 2 to 3 days by their primary care physician (12). Infants at risk for severe hyperbilirubinemia should receive follow-up care within 48 hours of discharge. The recommendations leave follow-up specifics at the discretion of the physician. Appropriate follow-up for breast-fed infants may simply be a home health visit, while those with other risk factors may require an office visit.

Summary

Neonatal hyperbilirubinemia is the most common reason for hospital readmission in the first 2 weeks of life. Kernicterus is still relatively uncommon but has been on the rise with the institution in the 1990s of aggressive early postnatal discharge policies. Bilirubin-induced complications can be prevented by instituting a neonatal jaundice protocol to identify infants at risk for significant hyperbilirubinemia, by ensuring adequate parental education and preparedness, and by implementing a good neonatal tracking system for follow-up care. Hyperbilirubinemia is easily treated with phototherapy, which can be administered at home in selected infants.

References

  1. Britton JR, Britton HL, Beebe SA. Early discharge of the term newborn: a continued dilemma. Pediatrics 1994;94(3):291-5
  2. Lee KS, Perlman M, Ballantyne M, et al. Association between duration of neonatal hospital stay and readmission rates. J Pediatr 1995;127(5):758-66
  3. Catz C, Hanson JW, Simpson L, et al. Summary of workshop: early discharge and neonatal hyperbilirubinemia. Pediatrics 1995;96(4 Pt 1):743-5
  4. Maisels MJ, Newman TB. Kernicterus in otherwise healthy, breast-fed term newborns. Pediatrics 1995;96(4 Pt 1):730-3
  5. Brown AK, Johnson L. Loss of concern about jaundice and the reemergence of kernicterus in full-term infants in the era of managed care. In: Fanaroff AA, Klaus MH, eds. The year book of neonatal and perinatal medicine. St Louis: Mosby-Year Book, 1996:17-28
  6. Schneider AP 2d. Breast milk jaundice in the newborn: a real entity. JAMA 1986;255(23):3270-4 [Erratum, JAMA 1986;256(23):3218]
  7. Johnson L, Bhutani VK. Guidelines for management of the jaundiced term and near-term infant. Clin Perinatol 1998;25(3):555-74
  8. Gale R, Seidman DS, Dollberg S, et al. Epidemiology of neonatal jaundice in the Jerusalem population. J Pediatr Gastroenterol Nutr 1990;10(1):82-6
  9. Hardy JB, Drage JS, Jackson EC. The Collaborative Perinatal Project of the National Institute of Neurological and Communicative Disorders and Stroke. Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1979:104
  10. McMaster conference on prevention of Rh immunization: 28-30 September, 1977. Vox Sang 1979;36(1):50-64
  11. Newman TB, Easterling MJ, Goldman ES, et al. Laboratory evaluation of jaundice in newborns: frequency, cost, and yield. Am J Dis Child 1990;144(3):364-8 [Erratum, Am J Dis Child 1992;146(2):1420-1]
  12. Practice parameter: management of hyperbilirubinemia in the healthy term newborn. American Academy of Pediatrics. Provisional Committee for Quality Improvement and Subcommittee on Hyperbilirubinemia. Pediatrics 1994;94(4 Pt 1):558-65 [Erratum, Pediatrics 1995;95(3):458-61]
  13. Brown AK, Kim MH, Wu PY, et al. Efficacy of phototherapy in prevention and management of neonatal hyperbilirubinemia. Pediatrics 1985;75(2 Pt 2):393-400
  14. Holtrop PC, Ruedisueli K, Maisels MJ. Double versus single phototherapy in low birth weight newborns. Pediatrics 1992;90(5):674-7
  15. Slater L, Brewer MF. Home versus hospital phototherapy for term infants with hyperbilirubinemia: a comparative study. Pediatrics 1984;73(4):515-9
  16. de Carvalho M, Hall M, Harvey D. Effects of water supplementation on physiological jaundice in breast-fed babies. Arch Dis Child 1981;56(7):568-9
  17. Jackson JC. Adverse events associated with exchange transfusion in healthy and ill newborns. Pediatrics 1997;99(5):E7
  18. Keenan WJ, Novak KK, Sutherland JM, et al. Morbidity and mortality associated with exchange transfusion. Pediatrics 1985;75(2 Pt 2):417-21


How bilirubin is metabolized

Bilirubin is a product of heme catabolism. In the neonate, destruction of senescent erythrocytes accounts for 75% of the bilirubin produced. Almost completely insoluble in water, bilirubin must be bound to albumin for transport in the plasma. Bound bilirubin coexists with a small unbound fraction determined by both the molar ratio of albumin to bilirubin and the binding affinity of albumin.

Prenatal clearing
Unbound fetal bilirubin continuously crosses the placenta to the mother because of the greater albumin-binding capacity of maternal serum. Bilirubin from the fetus is conjugated to glucuronic acid in the maternal liver in a reaction catalyzed by uridine diphosphate glucuronosyltransferase (UDPGT). In healthy adults, this enzyme is present in great excess so that even the by-products of major hemolytic events do not exceed the UDPGT needed to convert bilirubin to its glucuronide form. In the mother, the bilirubin glucuronide, which is water-soluble, is secreted by active transport into the bile canaliculi and becomes concentrated in the gallbladder before excretion into the intestinal tract. In the intestine, some of the bilirubin glucuronide can be deconjugated to water-insoluble unbound bilirubin, which readily enters the enterohepatic circulation. Deconjugation and resorption of bilirubin is minimal in adults, however, because of the action of intestinal bacteria, which progressively convert the bilirubin glucuronide into water-soluble stercobilins and urobilins that are excreted in the stool.

Neonatal metabolism
In the liver of the fetus and newborn, the activity of UDPGT is limited because of immaturity of the liver enzyme system. At birth, the UDPGT activity level is only 0.1% to 1% that of the adult (1). Activity increases over time but does not reach adult levels until 6 to 14 weeks after birth. As a result, bilirubin accumulates in the bloodstream of all newborns.

Not only is the liver of the newborn deficient in its enzyme activity levels, the daily load of bilirubin excretion is disproportionately large. A twofold increase in neonatal bilirubin production occurs as a result of both a higher circulating erythrocyte volume and an erythrocyte life span shortened from 120 to 90 days. Newborns also have higher levels of intestinal beta glucuronidase than adults, resulting in much greater resorption of unconjugated bilirubin through the enterohepatic circulation. This is especially true of breast-fed babies, who receive additional beta-glucuronidase in breast milk. Also, since infants lack intestinal bacterial flora, very little bilirubin glucuronide is converted to stercobilins and urobilins, with the result that both conjugated and unconjugated bilirubins are excreted as the golden-yellow pigment characteristic of the stools of the newborn.

Reference

  1. Kawade N, Onishi S. The prenatal and postnatal development of UDP-glucuronyltransferase activity towards bilirubin and the effect of premature birth on this activity in the human liver. Biochem J 1981;196(1):257-60


The authors are indebted to Lois Johnson, MD, and Edward Donovan, MD, for their helpful input, and to Ann Maher for her secretarial help.

Dr Melton is a fellow and Dr Akinbi is assistant professor, divisions of neonatology and pulmonary biology, Children’s Hospital Medical Center, Cincinnati, Ohio. Correspondence: Henry T. Akinbi, MD, Children’s Hospital Medical Center, Division of Pulmonary Biology, 3333 Burnet Ave, Cincinnati, OH 45229-3039. E-mail: akinh0@chmcc.org.



Kuning Bayi
Maret 24, 2008, 9:32 am
Diarsipkan di bawah: JAUNDICE

Penulis: Iesje Martiza Sabaroedin

Pada kehidupan sehari-hari kadang-kadang kita bertemu ibu-ibu yang mengeluh bahwa anak/bayinya menderita sakit kuning . Sebetulnya mengapa anak/bayinya dikatakan sakit kuning?

Alasan sebetulnya anak/bayi tersebut dikatakan sakit kuning karena ibu melihat kulit bayinya menjadi kuning atau lebih jelas lagi matanya terlihat kuning. Kuning pada kulit atau mata itu disebabkan peningkatan kadar bilirubin di dalam darah penderita.

Bilirubin adalah suatu hasil pemecahan sel darah merah (eritrosit). Eritrosit hidup selama 120 hari di dalam tubuh kita, setelah itu eritrosit akan pecah.

Pada keadaan normal bilirubin tersebut akan berikatan dengan protein (albumin) dan dibawa ke hati untuk dikonjugasikan/digabungkan dengan enzim hati untuk menghilangkan efek racunnya.

Bilirubin yang telah dikonjugasi di dalam hati tersebut akan dibawa keusus. Sebagian besar dibuang melalui tinja dan sebagian kecil kembali masuk ke dalam hati dalam keadaan tidak dikonjugasi, dan di hati akan dikonjugasi kembali dan demikian seterusnya.

Pada keadaan yang tidak biasa terjadi peningkatan bilirubin di dalam penderita. Peningkatan ini dapat terjadi pada Bilirubin yang belum dikonjugasi, atau pada bilirubin yang telah dikonjugasi. Peningkatan bilirubin yang belum di konjugasi (efek racunnya belum hilang), pada kadar tinggi dapat menyebabkan pengendapan bilirubin tersebut di sel-sel otak yang mengakibatkan terjadinya kejang-kejang berat (kem icterus). Akhirnya, dapat menyebabkan kematian atau bila sembuh akan meninggalkan gejala sisi berupa keterbelakangan mental, lumpuh, dsb.

Untuk menghindari gejala-gejala berat yang diakibatkan peningkatan bilirubin yang tidak dikonjugasi di dalam darah, maka harus dilakukan tranfusi darah.

Bayi kuning karena peningkatan bilirubin belum dikonjugasi dapat terjadi pada:

1. Bayi normal baru lahir

Pada bayi baru lahir, enzim hati yang berfungsi sempurna sehingga banyak bilirubin tidak dapat dikonjugasi dan bayi terlihat kuning.

Dengan bertambahnya umur bayi maka enzim hati tersebut akan lebih baik fungsinya, bilirubin akan lebih banyak dikonjugasi, dan warna kuning pada tubuh serta mata bayi berkurang, lalu menghilang. Proses ini memerlukan waktu sekitar seminggu untuk bayi lahir dengan berat badan normal dan sekitar dua minggu untuk bayi lahir dengan berat badan rendah. Biasanya peningkatan bilirubin pada keadaan ini jarang mencapai kadar bilirubin yang berbahaya bagi bayi.

Untuk mempercepat konjugasi bilirubin dapat dilakukan pemberian sinar biru (fototerapi), yaitu sinar khusus yang dapat membantu kerja enzim hati sehingga proses konjugasi lebih cepat terjadi.

2. Penyakit yang berhubungan dengan pemecahan darah (eritrosit) yang berlebihan, antara lain:

- Golongan darah ibu dan bayi tidak sesuai. Dalam dunia kedokteran keadaan ini dikenal sebagai ABO incompability. Pada keadaan ini golongan darah ibu O, sedangkan bayinya golongan A atau B. Atau pada ibu yang bergolongan darah Rhesus negatif, sedangkan golongan darah bayi Rhesus positif.

- Kurangnya enzim glukosa 6 phosphat dehydrogenase (G6PD) enzim yang berada di dinding sel darah merah yang berfungsi menjaga keutuhan dinding sel darah menjadi mudah pecah sehingga terjadi peningkatan bilirubin.

- Penyakit bawaan atau turunan.

Ada beberapa penyakit bawaan atau turunan menyebabkan gangguan pada proses konjugasi bilirubin di hati. Penyakit-penyakit tersebut, antara lain adalah sindrom Crigler Najjar dan sindrom Gillbert.

3. Bayi kuning karena bilirubin terkonjugasi yang meningkat

  • Radang hati akut yang biasa disebut hepatitis. Pada keadaan ini terjadi kerusakan sel-sel hati, menyebabkan perlambatan aliran bilirubin/empedu ke usus sehingga bilirubin yang dibuang melalui tinja berkurang.

    Akibatnya, terjadi penimbunan bilirubin di hati yang sebagian akan masuk ke dalam aliran darah, akan menyebabkan kadar bilirubin terkonjugasi di dalam darah meningkat.

    Hepatitis pada bayi baru lahir antara lain disebabkan infeksi toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus, herpes simplex, atau yang lebih dikenal sebagai infeksi TORCH.

Sumber: idai.or.id



Menghindari Bayi Cacat
Maret 24, 2008, 9:09 am
Diarsipkan di bawah: KELAINAN BAYI

Kiat Menghindari Bayi Lahir Cacat

Oleh Baiturokhim

Kelahiran anak merupakan dambaan setiap keluarga yang tidak ternilai harganya. Diharapkan, kelahiran anak yang masih dalam kandungan bisa selamat, sehat dan tidak mengalami cacat apapun. Namun demikian, seringkali anak yang terlahir telah mengalami cacat sejak dari kandungan.
Pada umumnya, terdapat banyak faktor yang diduga berpengaruh selama ibu mengandung seperti halnya obat-obatan, kekurangan gizi, stres psikologik dan lahir prematur dapat berpeluang terhadap akibat bayi terlahir cacat mental ataupun fisik. Memang betul, bayi terlahir cacat tersebut merupakan suatu musibah yang datang dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tetapi manusia diharuskan untuk menggunakan akalnya dalam upaya mencegah kejadian tersebut.
Selama janin berproses dalam kandungan, dari tahap pertama ke tahap berikutnya telah diketahui ada masa-masa peka. Pada masa ini, terdapat tahap tertentu yang sangat membahayakan bagi perkembangan janin. Jika pada masa peka ini terjadi benturan dengan zat-zat tertentu akan menyebabkan keguguran atau bayi terlahir cacat. Demikian halnya, jika selama kehamilan si ibu mengalami stres berat maka akan berpeluang besar terhadap proses kelahiran dan anak mengalami kelainan.
Kiat Menghindari
Dalam upaya menghindari bayi terlahir cacat maka setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan oleh ibu hamil. Dan ini akan menentukan kesehatan atau cacat bayi sejak bulan pertama hingga akhir kehamilan.
Pertama, hindari kebiasaan meminum obat tanpa sepengetahuan dokter. Biasanya ibu yang mengalami kehamilan, kondisi badan semakin lama semakin melemah. Ketegangan mental semakin meningkat sehingga timbul perasaan jengkel. Bagi ibu yang tidak bersabar, dengan sembarangan akan membeli dan meminum obat tertentu. Bahkan, banyak ibu hamil justru menyukai minum obat penenang, semisal thalidomit.
Sekilas memang obat penenang dapat menghindari beban stres kehamilan. Namun pemakaian obat penenang justru sebenarnya sangat membahayakan, menyebabkan cacat pada janin yang dikandungnya. Terutama sekali jika minum obat penenang tersebut sering pada minggu kelima dan minggu ketujuh.
Disamping itu, penyinaran rontgen yang berlebihan juga sangat membahayakan. Biasanya akibat yang akan dialami anak adalah gangguan terhadap gerakan-gerakan motorik. Semakin banyak penyinaran rontgen maka dampak yang akan ditimbulkanya semakin besar.
Kedua, hindari ketegangan emosional. Di usia kehamilan yang semakin tua, pada umumnya ketegangan emosional semakin tinggi. Walaupun hal ini sulit untuk dihindarkan, namun setidaknya ada usaha yang kuat untuk untuk menghindarinya. Dalam hal ini terdapat sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fels sangat menarik untuk direnungkan.
Dalam hasil penelitianya ditemukan bahwa wanita hamil dengan susunan syaraf otonom yang labil, memiliki fetus-fetus paling aktif. Kondisi seperti ini akan menyebabkan ibu hamil mengalami ketegangan emosi, reaktif dan mudah tersinggung. Misalnya, jika suami mengancam hendak membunuh istrinya yang sedang hamil, karena tuduhan perselingkuhan. Dalam hal ini, akan sangat mengguncang kejiwaan istri. Akibat dari kegoncanagn emosi ini, biasanya anak akan terlahir dengan berat badan yang kurang dibanding dengan panjangnya. Pada perkembangan berikutnya, anak akan mengalami gangguan sulit makan.
Akibat lain, jika kegoncangan psikis ibu terjadi pada bulan pertama kehamilan. Biasanya anak akan terlahir dengan memiliki gangguan mental yang kurang normal. Gangguan ini biasanya disebut down syndrome. Sedangkan jika gangguan emosi terjadi pada bulan kedua kehamilan, maka akan mengakibatkan terjadinya gangguan ”syndroma nafsu terhambat.” Anak-anak yang demikian akan memiliki ciri apatis, pasif, dan tampak tidak bergairah.
Demikian halnya sebuah hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Thomas O’Connor di Institute of Psychiatry – London sebagai berikut. Bahwa dari 7.000 ibu yang pernah mengalami stres saat kehamilan maka akan berdampak pada perkembangan anak. Sebanyak 15 persen anak yang terlahir menjadi hiperaktif.
Ketiga, hindari kepercayaan takhayul. Di masyarakat tradisional masih sangat subur sebuah kepercayaan takhayul terutama yang berhubungan dengan kehamilan. Misalnya, jika ibu hamil membenci orang buta, maka anak yang bakal terlahir cenderung ikut buta. Contoh lain, jika saat istri hamil, suami dilarang membunuh ular. Sebab jika hal ini dilanggar maka anak yang akan terlahir cenderung kepalanya menyerupai ular.
Memang terdapat penelitian terhadap kepercayaan takhayul, namun sebisa mungkin ibu hamil harus tetap dapat mengendalikan diri dengan sebaik-baiknya. Terdapat sebuah penelitian yang dilakukan di laboratorium psikologi di Nijmogen – Belanda. Penelitian tersebut menemukan bahwa sebenarnya kepercayaan takhayul bagi ibu hamil muncul disebabkan dinamika sistem hormonal. Jika ibu hamil sangat mempercayai takhayul, maka hal tersebut akan mempengaruhi instabilitas hormonal yang akan merembet ke arah perubahan psikis. Setelah psikis goncang, maka akan merembet ke arah janin yang dikandungnya.
Sebuah kepercayaan takhayul lainya adalah kondisi ngidam. Dalam kacamata psikologi, bahwa ngidam sebenarnya hanya sebuah reaksi lain dari ketidakmenentuan emosi ibu dalam menghadapi kehamilan. Misalnya, ketika ibu hamil dan mengidam yang harus makan beras satu gelas setiap hari, kiranya hanya merupakan kondisi instabilitas emosi, yang seharusnya dapat dikendalikan. Jika hal ini dibiarkan tentu akan mengganggu kesehatan.
Disamping itu, terdapat kepercayaan takhayul lainya yang harus dihindari. Yakni, sebuah kepercayaan tradisional bahwa jika ibu hamil banyak membayangkan nenek atau famili sedarahnya yang telah meninggal dunia, maka anak yang terlahir akan menirunya. Kepercayaan takhayul ini disebut sebagai ìreinkarnasi atau titisan arwahî. Hal tersebut sangat tidak dapat dibenarkan. Jika seandainya seorang anak membawa ciri fisik mirip kakek yang telah meninggal, sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah.
George Mendel, seorang ahli kandungan (ginekolog) telah menemukan dalam sebuah penelitian bahwa memang ada kecenderungan gen tertentu diturunkan. Misalnya, jika terdapat gen dari seorang kakek mendominasi, maka berpeluang untuk menurun pada cucunya. Hanya seberapa jauh kecenderungan penurunan tersebut tergantung pada prosentase gen yang terbawa dari kakeknya.
Keempat, hindari sikap penolakan terhadap janin. Bahwa sikap menolak terhadap kehamilan akan berpeluang terhadap kecacatan sikap dan perilaku anak kelak dalam hidupnya. Sebab, dengan adanya sikap penolakan maka akan berpengaruh terhadap cara pengasuhan yang semena-mena. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Geisser di Jerman Timur dan Sears di Amerika Serikat tentang sikap ibu hamil. Bahwa lebih dari 90 persen ibu yang menyukai janin yang dikandungnya, tetap terbawa hingga anak lahir dan besar.
Setelah mengetahui beberapa bahaya bayi dalam kandungan, seharusnya dijadikan pijakan. Ibu yang sedang hamil harus berhati-hati, kecacatan anak karena ulah orang tua akan berakibat fatal hingga di hari tua. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?

(psikolog alumni Universitas Airlangga)



Gangguan Jantung
Maret 24, 2008, 9:06 am
Diarsipkan di bawah: KELAINAN BAYI

Di Usia 7 Bulan, Anakku Mesti Operasi Jantung”

Putri keduaku lahir prematur. Dengan berat badan hanya kg ia harus menjalani operasi, karena klep jantungnya tidak menutup.

Setelah menikah selama lima tahun dengan Anni Haryani (34 tahun) warganegara Indonesia yang tinggal di Bandung, tak terperikan gembiranya aku, Abdul Rahim bin Ismail (50 tahun), tatkala anak yang aku tunggu-tunggu hadir di pangkuan kami.

Aku dan Anni telah berobat ke mana-mana, termasuk pada dokter terkenal yang berhasil membuat pasangan yang mendamba anak memperolehnya. Namun, pada kami tidak demikian. Aku khawatir. Usiaku tidak muda lagi (aku menikah di usia 43 tahun ) dan terus bertambah.

Istriku yang berbeda usia 16 tahun dengan aku, baru hamil setelah menjalani pengobatan alternatif. Anak pertama kami Syarifah Nuraini yang kami panggil Syasya (kini 6,5 tahun) lahir pada 18 Oktober 1997. Ia hampir saja lahir prematur delapan bulan, namun dapat ditahan hingga bisa lahir tepat waktu. Syukurlah, Syasya tak mengalami gangguan kesehatan.

Enam tahun kemudian, lahir anak kedua kami Syarifah Nur Aisah atau Aisah pada 22 Desember 2003. Cerita kelahiran Aisah tidak semulus kakaknya. Ia lahir ketika usia kandungan istriku baru 32 minggu.

Mencoba bertahan

Awal cerita ini bermula ketika di usia kandungan 32 minggu tiba-tiba Anni mengalami kontraksi dan mulas terus menerus. Awalnya cuma lima menit sekali, dan lalu berlanjut tiga menit sekali. Akhirnya, karena Anni tak tahan, kami pergi ke dokter kandungan langganan kami, dr. Sofie Sp.OG. Dokter meminta kami untuk segera ke rumah sakit.

Kami pergi ke Rumah Sakit Bersalin (RSB) Teja di Bandung, tempat Syasya dilahirkan. Suster segera melakukan pemeriksaan dan langsung mengontak dokter kandungan kami. Dokter meminta istriku untuk bertahan, karena usia kandungan belum cukup umur. Namun, bayiku sudah berada di posisi lahir. Pembukaan sudah delapan. Artinya, bayi sudah mau lahir.

Saat dokter datang ia minta izin padaku untuk segera melakukan tindakan. Aku langsung menyetujuinya. Yang penting, istri dan anakku selamat. Istriku pun melahirkan secara normal.

Berat badan bayi prematur kami hanya 1500 gram. Saat dilakukan pemeriksaan, dokter anak yang memeriksa, dr. Abdurrahman Sp.A, langsung melihat organ-organ anakku memang belum bekerja sempurna.

Pertama, dokter mendeteksi paru-paru Aisah belum berkembang. Dadanya mendekuk ke dalam, dan waktu bernapas mengeluarkan bunyi. Dalam istilah kedokteran ini disebut Hyaline Membrane Disease . Selang lima menit, aku dipanggil dokter. Menurutnya, anakku harus segera dirawat di rumah sakit yang mempunyai peralatan lengkap.

Hanya selang sepuluh menit dari waktu dilahirkan, Aisah dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Borromeus, Bandung, yang memiliki peralatan lebih lengkap. Antara lain, alat bantu pernapasan bayi. Istriku bahkan belum sempat bertemu Aisah.

Gangguan jantung

Di RS Borromeus, Aisah langsung dirawat di NICU ( Neonatus Intensive Care Unit ) dan dipantau terus. Ketika dilakukan echocardiography (perekaman posisi dan gerakan dinding jantung atau struktrur dalam jantung melalui gema yang diperoleh dari pancaran gelombang ultrasonik), ada gangguan pada jantungnya, sehingga badan Aisah membiru.

Dokter mengatakan ada gangguan pada aliran darahnya. Tetapi, karena RS Borromeus tidak punya ahli jantung, mereka merujuk Aisah ke Rumah Sakit Anak dan Bersalin (RSAB) Harapan Kita, Jakarta. Selain karena peralatan dokter anak dan jantung lumayan lengkap, di area RSAB itu ada pula rumah sakit khusus jantung.

Istriku gelisah bukan main mendengar apa yang dialami buah hati yang baru dilahirkannya. Apalagi, ketika itu aku, yang berkebangsaan Singapura, sedang berada di Singapura untuk mengurus surat izin tinggal di Indonesia bagi anak pertamaku, Syasya. Padahal, apa pun tindakan yang akan dilakukan pada Aisah harus menunggu izinku sebagai ayahnya.

Jangan ditanya perasaan aku dan istriku mengetahui anak kami mengalami gangguan jantung. Rasanya seperti buah tomat dilempar dari lantai sepuluh. Hancur hatiku! Rasanya aku mau menangis. Tapi, tak ada air mata yang keluar.

Setelah urusan di Singapura selesai, tanggal 8 Januari 2004, kembali ke Bandung. Keesokan harinya aku berkonsultasi dengan dokter anak, dan tanggal 10 Januari 2004, pukul 05.00, agar tak terjebak macet, anakku langsung dibawa dengan ambulans ke RSAB Harapan Kita, Jakarta.

Khawatir keracunan darah

Di RSAB Harapan Kita, aku langsung bertemu dokter spesialis jantung anak, dr. Poppy Sp.J. Anakku diperiksa lagi, dilakukan echocardiography lagi, dan dianalisa lagi.

Dokter menjelaskan bahwa jantung anakku mengalami kelainan. Menurutnya, anakku harus menjalani operasi pada jantungnya agar klep jantungnya menutup. Kalau tidak ditutup, dikhawatirkan Aisah akan mengalami keracunan darah.

Aku tak bisa membayangkan jantung darah dagingku harus diutak-atik. Bayangkan, jantung anak usia tujuh bulan sebesar apa? Jantung orang dewasa saja hanya sebesar genggaman tangan. Mungkin jantung Aisah hanya sebesar jantung ayam! Tapi, aku serahkan semua pada dokter yang menangani anakku.

Setelah lima hari di RSAB Harapan Kita, tanggal 15 Januari 2004 dilakukan operasi pada siang hari jam 13.00 selama dua jam. Operasi dilakukan oleh tim dokter ahli jantung RS Jantung Harapan Kita dengan tim dokter anak RSAB Harapan Kita.

Setelah operasi, keadaan anakku membaik, tapi tetap harus dipantau. Kira-kira seminggu kemudian, tanggal 25 Januari 2004, mulai terlihat perubahan. Aisah tampak lebih sehat.

Sampai saat ini (saat wawancara dilakukan tanggal 17 Februari 2004, Red. ) anakku masih dirawat di inkubator. Ia mulai mau minum banyak. Aisah diberi ASI dan susu formula, karena ASI istriku tidak begitu banyak.

Karena refleks mengisapnya belum ada, Aisah tidak minum langsung dari botol atau payudara ibunya. Susu diberikan menggunakan sendok. Kadang-kadang refleks menelannya pun belum baik. Aisah lupa kalau harus menelan. Tapi, perlahan-lahan, Aisah belajar minum dari botol walau refleks mengisapnya belum bagus (saat Ayahbunda bertemu Aisah, ia sudah pandai mengisap dari botol walau perlahan, Red. ).

Boleh pulang

Sudah dua bulan Aisah di inkubator. Walau masih dirawat di inkubator, ia tidak lagi menggunakan alat bantu napas (oksigen). Yang menggembirakan, di usia memasuki sembilan bulan, berat badan Aisah mencapai 2850 gram. Dalam dua bulan, berat badannya naik kurang-lebih 1400 gram (Tanggal 23 Februari 2004, kondisi Aisah membaik dan diperbolehkan pulang dengan berat badan mencapai 3100 gram. Fungsi jantung dan paru-parunya pun membaik, Red. ).

Aku mengucapkan terimakasih kepada semua tim dokter yang menangani anakku di RSAB Harapan Kita, baik tim dokter anak bagian perinatologi maupun tim dokter jantung anak dari RS Jantung Harapan Kita, juga dokter kebidanan dan dokter anak kami di Bandung, serta seluruh staf di RS Borromeus dan RS Teja, Bandung. Melalui merekalah Tuhan menganugerahkan kesehatan kepada Aisah, sehingga sampai hari ini dia tetap berada di tengah-tengah kami.

Laila Andaryani Hadis

dr. Rudy Firmansjah B.Rifai, SpA
Ketua Tim Perawatan dan Penanganan Aisah,
Bagian Perinatologi RSAB Harapan Kita, Jakarta

Lahir Prematur Sebabkan Jantung Aisah Mengalami Gangguan

Apa yang terjadi pada Aisah adalah suatu kondisi yang disebut Patent Ductus Arteriosus ( PDA). PDA merupakan gangguan jantung yang terjadi bila ductus arteriosus atau DA (pembuluh darah janin sementara yang menghubungkan aorta – batang nadi – dan pembuluh darah paru) tidak menutup.

DA berada dalam kondisi terbuka waktu bayi masih di dalam rahim. DA ini berfungsi sebagai short cut yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Ini karena ketika di dalam rahim janin mendapatkan oksigen dan nutrisi dari ibunya melalui plasenta dan tali pusat, bukan dari paru-paru.

Setelah lahir, saat paru-paru berkembang, DA secara otomatis menutup. Penutupan DA ini menjamin darah menuju paru-paru mengambil oksigen untuk dibawa ke seluruh tubuh. Penutupan DA biasanya terjadi saat bayi lahir dalam usia kandungan yang cukup, ketika terjadi perubahan hormon yang menyebabkan paru-paru tersebut terisi udara. Jika DA menutup secara sempurna, darah dipompa dari jantung menuju paru-paru, kembali ke jantung dan dialirkan ke seluruh tubuh melalui aorta.

Pada sebagian bayi, terutama bayi yang lahir prematur, karena paru-parunya belum berkembang , DA tetap terbuka atau tidak menutup secara sempurna. Keadaan ini menyebabkan aliran darah dalam jumlah berlebihan masuk ke paru-paru. Akibatnya, cepat atau lambat, paru-paru penuh darah dan akhirnya menyebabkan pembesaran bilik jantung kanan. Inilah yang terjadi pada Aisah. Ia lahir prematur pada usia kandungan 32 minggu, dan paru-parunya belum berkembang secara sempurna.

Kasus PDA pada bayi prematur, berkisar 60 – 70 persen, tapi tidak semua bergejala. Apa yang dilakukan pada Aisah adalah mengikat PDA sehingga DA -nya menutup dan akhirnya fungsi jantung dan paru-paru Aisah berfungsi normal.

Operasi dilakukan oleh dokter ahli jantung anak dari RS Jantung Harapan Kita. Sedangkan perawatan Aisah dipantau tim dokter anak perinatologi dari RSAB Harapan Kita. Tim dokter berjumlah 10 orang, terdiri dari tiga orang tim dokter bedah jantung anak dan tujuh orang tim dokter perinatologi. Operasi ini berhasil dan Aisah kembali ke orang tuanya.



Ubun Ubun Menutup
Maret 24, 2008, 9:01 am
Diarsipkan di bawah: KELAINAN BAYI

BILA UBUN UBUN MENUTUP TERLALU CEPAT

Sekian lama orang tua khawatir kalau-kalau ubun-ubun bayinya tak kunjung menutup. Malah ada yang berpikir makin cepat makin baik, padahal sebenarnya proses menutup yang terlalu cepat bisa lebih berbahaya.


Sampai beberapa bulan setelah dilahirkan, tulang-tulang kepala bayi sebetulnya belum menyambung satu sama lain. Namun letaknya telah tersusun berdampingan secara rapi. Keadaan ini memungkinkan jaringan otak berkembang menjadi lebih besar, karena terdapat ruang yang bisa mengikuti besarnya otak.

Perlu diketahui, kepala bayi dibentuk oleh beberapa lempeng tulang, yaitu 1 buah tulang di bagian belakang (tulang oksipital), 2 buah tulang di kanan dan kiri (tulang parietal), dan 2 buah tulang di depan tulang frontal). Di antara tulang-tulang yang belum bersambung itu terdapat celah yang disebut sutura. Sutura-sutura ini ada yang membujur dan ada pula yang melintang. Nah, titik silang celah-celah itulah yang membentuk ubun-ubun depan (besar) dan ubun-ubun belakang (kecil).

Ubun-ubun dan sutura-sutura ini normalnya menutup antara usia 6-20 bulan,” kata dr. Irawan Mangunatmaja, Sp.A(K) dari Sub-Bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Jadi, kalau ternyata di bawah usia 6 bulan sutura tulang tengkoraknya sudah menutup, bisa dikatakan menutup terlalu cepat. Jika masing-masing tulang sudah bersambungan satu sama lain, biasanya ubunubun juga ikut menutup. Istilah medis untuk penutupan sutura ini, craniosynostosis, berasal dari kata cranio yang berarti tulang tengkorak, syn yang berarti bergabung, dan ostosis yang artinya tulang.

Secara kasat mata, akibat proses penutupan tulang tengkorak yang kelewat dini bisa dilihat melalui bentuk kepala yang tak normal.Ketidaknormalan ini terjadi karena pertumbuhan kepala cenderung mengarah ke tulang yang suturanya menutup belakangan. Ketidaknormalanbentuk itu tentu saja tampak berbeda-beda, tergantung sutura mana yang menutup lebih dulu. “Sebagai contoh, kalau sutura
bagian depan sudah menutup lebih dulu, pertumbuhan kepala akan lebih mengarah ke belakang, dan akibatnya kepala jadi panjul.”


DETEKSI KELAINAN
“Sutura atau ubun-ubun yang sudah menutup bisa mulai diketahui dari pemeriksaan yang dilakukan saat bayi baru lahir.” Dokter yang menolong persalinan biasanya dengan mudah bisa melihat kelainan itu. Ia akan curiga bila kepala bayi tampak lebih kecil dibandingkan badan. Yang normal, kepala bayi justru terlihat lebih besar daripada bagian tubuh lainnya karena keliling lingkar luar kepalanya sama dengan keliling dadanya.

“Inilah letak pentingnya mengukur lingkar kepala bayi pada saat ia lahir,” tandas Irawan. Dengan begitu, bisa segera diketahui bila sudah ada kecenderungan ubun-ubun menutup terlalu cepat. Pengukuran ini tentusaja tidak hanya sekali, tapi terus dilakukan setiap bulan bersamaan dengan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak. Untuk mengetahui apakah ukuran lingkar kepala bayi normal atau tidak, dokter berpatokan pada grafik lingkar kepala berdasarkan umur yang
disebut grafik Nellhaus. Dengan grafik ini, adanya kelainan pada ukuran lingkar kepala dan proses pertumbuhannya bisa terdeteksi, baik jikakepala terlalu besar (misalnya karena hidrosefalus) atau
terlalukecil, misalnya karena craniosynostosis.

“Selain itu, pemeriksaan bisa dilakukan dengan meraba ubun-ubun besar bayi, apakah ukurannya normal atau tidak. Diameter ubun-ubun besar yang normal berkisar antara 0,63,6 cm dan bila diraba akan terasa berdenyut karena memang ada pembuluh darah di bawahnya,” kata Irawan.

Pemeriksaan ubun-ubun dan lingkar kepala ini sebenarnya tidak sulit. Orang tua pun bisa melakukannya di rumah. Lain hal dengan perabaan terhadap sutura kepala bayi yang biasanya agak lebih sulit. Bagaimanapun, celah antar tulang ini memang tak sebesar ubun-ubun.

Jika dari pemeriksaan ukuran dan perabaan kepala dicurigai ubun-ubun menutup terlalu cepat, dokter akan memeriksanya lebih jauh dengan CT Scan. Alat ini bisa memberi gambaran yang lebih jelas.

PENYEBAB DAN DAMPAK
Jika pada saat dilahirkan ubun-ubun bayi sudah menutup, maka kemungkinan penyebabnya bisa merupakan kelainan bawaan atau infeksi selama kehamilan. Di samping itu, craniosynostosis antara lain bisajuga disebabkan gangguan perkembangan jaringan otak dan kelainan tulang seperti osteopetrosis (pertumbuhan dan kepadatan tulang yang berlebihan).

Namun pada kebanyakan kasus, kelainan tulang hanya merupakan salah satu dari beberapa kelainan yang ditemukan dalam sindrom-sindrom tertentu. Oleh karena itu, dokter juga akan melihat, apakah kelainan pada ubun ubun dan tulang kepala ini merupakan satu-satunya kelainan, atau merupakan bagian dari berbagai kelainan dalam sindrom tertentu. Kalau ternyata ada kelainan pada organ lain, tentunya akan dilihat juga, bagaimana penanganannya secara keseluruhan, tidak hanya kelainan di tulang tengkoraknya ini.

Sudah pasti, ubun-ubun yang menutup terlalu cepat akan menghambat perkembangan otak bayi dan menimbulkan gangguan. Dengan kata lain, sel-sel otak yang yang seharusnya berkembang malah tertahan oleh tulang tengkoraknya sendiri. “Biasanya gangguan yang muncul berupa cerebral
palsy, atau kelumpuhan yang sifatnya kaku,” tutur Irawan.

Kalau saja, penutupan yang terlalu cepat itu terjadi pada usia yang tidak jauh dari batas normal (6-20 bulan), tentu kelainannya takterlalu berat. Begitu pula jika ubun-ubun yang menutup itu tak
diikuti dengan penutupan sutura-sutura lainnya, maka gangguan yang terjadi tentu akan lebih ringan daripada bila ubun-ubun dan suturanya sama-sama sudah menutup.

Beda halnya jika proses penutupan tulang tengkorak berlangsung sejak baru lahir atau berada di kandungan, proses keterhambatan perkembangan otaknya tentu lebih lama sehingga gangguan yang timbul akan lebih banyak dan berat. Artinya, manifestasi gangguan tumbuh kembang pada
bayi yang bersangkutan bisa berbeda-beda, tergantung pada bagian otak sebelah mana yang perkembangannya terhambat, dan kapan terjadinya prosespenghambatan atau penutupan itu.

HARUS OPERASI
Jika memang diketahui suturanya sudah menutup, maka perlu dilakukan tindakan operasi oleh dokter bedah saraf untuk melepas lagi sambungan tersebut. Dengan begitu, diharapkan otaknya tetap bisa terus tumbuh dan berkembang. “Ini satu-satunya cara untuk mencegah gangguan makin parah.” ujar Irawan. “Hanya saja, kadangkala walau sudah dioperasi, tulang tulang itu bisa cepat menyambung lagi.”

Pertimbangan untuk mengambil tindakan operasi, juga bergantung pada apakah si bayi mengalami peningkatan tekanan intra kranial (dalam kepala). Jika memang terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan dalam kepala, maka tindakan operasi harus segera dilakukan.

Tekanan bisa terjadi bila sutura kepala dan ubun-ubun sudah menyatu sementara jaringan otak di bawahnya tetap berkembang dan bertambah besar sehingga dalam rongga otak tak lagi tersedia ruang. Desakan yang terus-menerus bahkan bisa sampai menimbulkan herniasi, yaitu ada bagian otak yang terdorong keluar dari rongga otak ke arah dasar kepala. Pada anak, gejala peningkatan tekanan dalam kepala ini bisa berupa muntah, lemas tak bertenaga (letargi), dan matanya melotot. “Bahkan kalau sudah berat keadaannya, bisa ada gangguan kesadaran,” demikian Irawan memberi gambaran.

Sebaliknya, bila diketahui bahwa jaringan otak bayi yang bersangkutan tidak lagi berkembang dan karenanya tak terjadi peningkatan tekanan intra kranial, maka tindakan operasi tak dilakukan. “Manfaatnya tidak akan besar,” komentarnya, “bahkan bisa jadi sutura di kepala dan ubun-ubun itu menutup lebih cepat karena memang otaknya tak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.” Jika memang demikian yang terjadi, maka upaya penanganan harus difokuskan pada terapi untuk mengatasi kerusakan atau gangguan perkembangan yang telah terjadi.



Napas Bayi Bermasalah
Maret 24, 2008, 8:22 am
Diarsipkan di bawah: KELAINAN BAYI

Bila Napas Si Kecil Bermasalah

By Dr. Darmawan BS, SpA(K) – Divisi pulmonologi , Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM,

Dok, napas anak saya bunyi dan kalau diraba seperti ada getaran, bahaya tidak dok, saya takut ada flek paru” Banyak orang tua yang khawatir bila anaknya mengalami keluhan ini, bila tidak diluruskan, orang tua seringkali shopping ke banyak dokter karena khawatir.

Chesty child adalah suatu istilah yang longgar untuk menggambarkan seorang bayi/anak yang tampaknya mudah sekali mengalami gejala di saluran napas, atau disebut chestiness. Gejala pernapasan ini berupa batuk, mengi (napas ngik-ngik), stridor, napas berbunyi (noisy breathing) atau ‘sekedar’ napas grok-grok. Fenomena ini cukup sering dijumpai dalam praktek sehari-hari, sayangnya kita tidak mempunyai padanan kata yang tepat. Karena ini merupakan istilah longgar dapat diterapkan dari neonatus dengan napas grok-grok hingga anak-anak yang mengalami keluhan batuk kronik berulang. Biasanya mulai bergejala sejak umur sangat muda hingga awal usia sekolah.

Perlu dikomunikasikan

Terkadang pada keadaan berat, orang tua melaporkan bahwa bila diraba dada si anak akan terasa getaran napasnya. Bila tidak ditangani dengan baik, orang tua akan terus khawatir dan berkeliling ‘shopping’ ke banyak dokter. Ada juga yang akhirnya dipenuhi kekhawatirannya oleh dokter dengan dinyatakan sebagai flek paru. Bila masih bayi, kemungkinan penyebab yang paling sering ditanyakan adalah “Apakah bukan karena waktu lahir petugas kurang bersih merawat jalan napasnya?” Jawaban praktisnya adalah “Bila memang kurang bersih waktu lahirnya, anak saat ini mestinya sudah ada di surga. Nyatanya si kecil masih di sini, jadi pasti bersih waktu petugas merawat jalan napasnya”.

Untuk itu kita perlu lebih cermat menangani kasus chesty child. Suatu survei tentang kepuasan pasien oleh dr. Steven Feldman baru-baru ini disimpulkan pasien akan puas bila dapat menjalani komunikasi dengan dokternya, serta dokter yang suportif dan care. Kuncinya komunikasi, memberi penjelasan pada orang tua pasien dengan bahasa awam apa yang dialami anaknya.

Selalu memproduksi lendir

Saluran napas setiap saat akan memproduksi sekret (lendir) yang bermanfaat untuk fungsi pernapasan itu sendiri. Sekret ini akan dibersihkan oleh sistem bersihan mukosilier di dinding saluran napas. Bila jumlah sekret sedikit, secara tak sadar akan tertelan, bila banyak, akan merangsang refleks batuk. Pada bayi muda, kemampuan bersihan ini belum optimal hingga sekretnya tak bisa dibersihkan sempurna. Itulah mengapa bayi kecil sering bernapas grok-grok. Tetapi semakin ia besar, meningkat pula kemampuan bersihan mukosilier hingga gejala diharapkan akan membaik seiring perjalanan waktu.

Cari penyebab

Bila gejala chestiness berat atau berlanjut, perlu dicari dan ditelusuri faktor lain yang berperan. Pajanan asap rokok merupakan satu hal yang wajib digali informasinya bila bertemu dengan pasien chesty child. Merokok pasif merupakan salah satu penyebab tersering terjadinya chestiness, dan dapat merupakan penyebab tunggal. Pajanan ini bukan hanya terjadi bila si perokok merokok dalam rumah. Merokok di teras, garasi, dan kamar mandi bisa menimbulkan polusi karena asap bisa menelusup ke mana pun. Penghindaran asap rokok ini saja biasanya sudah sangat mengurangi keluhan pasien, atau gejala chestiness hilang sama sekali.

Selain asap rokok, keluhan chestiness akan lebih menonjol bila ada riwayat alergi dalam keluarga. Perlu ditelusuri adanya alergi dalam keluarga ayah dan ibu pasien. Kalau perlu ditelusuri hingga buyutnya. Sebagian besar chesty child, yaitu sekitar separuhnya ternyata mengalami asma. Oleh karena itu, bila berjumpa dengan chesty child, perlu penggalian ke arah asma. Misalnya ada pola berulang, gejala memburuk malam hari, dan gejal amembaik dengan pemberian obat asma. Juga perlu ditanyakan adanya faktor pencetus baik lingkungan (debu rumah, bulu binatang, asap, dll), pencetus makanan (es, coklat, makanan bervetsin), atau tertular salesma (common cold), aktifitas fisis berlebihan, udara dingin, dan sebagainya.

Sebagian chesty child lain, gejala muncul sebagai manifestasi akut infeksi respiratorik akut (IRA) berulang karena virus (recurrent viral ARI) tanpa kelainan lain. Hingga saat ini belum jelas benar mengapa pada sebagian anak mudah megnalami chestiness ini. Tapi mengingat ditemukannya pola sama dalam keluarga, diduga faktor genetik ikut berperan. Anak ‘sehat’ megnalami beberapa kali episode IRA, normalnya tak lebih dari 6-8 kali pertahun dengan durasi kurang dari seminggu, umumnya 2-3 hari. Pada chesty child, episode batuk pilek lebih sering terjadi, bisa dengan atau tanpa demam. Pencetus chestiness tidak selalu karena IRA, tapi dapat karena berbagai hal lain, sperti polutan baik dalam rumah atau luar rumah. Durasi chestiness juga berlangsung lebih lama, lebih dari seminggu atau bahkan lebih dari dua minggu.

Pada sebagian kecil chesty child dapat ditemukan penyakit dasar yang lebih serius seperti refluks gastroesofagus (aliran balik cairan lambung ke esofagus), laringotrakeomalasia (kelemahan saluran tenggorokan dan trakea), gangguan menelan, bronkiektasis, dan lain-lain. Pada anak dengan gangguan saraf otot (neuromuskular), misalnya palsi serebral biasanya jug amengalami gejala chestiness. Pada pasien tersebut terjadi gangguan fungsi otot menelan dan atau otot yang berperan dalam proses batuk. Biasanya pasien juga mengalami gangguan fungsi bersihan mukosilier berlanjut. Sebagai hasilnya, pasien dengan gangguan neuromuskular juga menjadi chesty child dengan gejala makin berat bila ada faktor pendukung, misalnya IRA atau polutan dan alergen.

Waspadi berbagai kelainan

Tampak terlihat kalau chesty child mencakup anak dengan kelainan klinis pernapasan yang luas, termasuk batuk kronik berulang. Pendekatan klinis praktisnya adalah pertama mencari kemungkinan pajanan asap rokok sebagai penyebabnya. Langka kedua, digali kemungkinan ke arah asma. Biasanya sebagian besar sudah terjaring dalam dua hal tersebut. Bila tidak, lanjutkan penelusuran ke arah penyakit dasar lain yang lebih serius. Tidak lupa kemungkinan kelainan bawaan bila terjadi paa usia sangat muda. Perlu diingat pula kemungkinan kelainan neuormuskular sebagai faktor dasar terjadinya chestiness.

Referensi:

Susanto DB. Chesty child. Bulletin IDAI: Des 2006. XXVI;49. Hal40-42



Understanding Growth Chart
Maret 24, 2008, 8:20 am
Diarsipkan di bawah: BB TB dan GC

Understanding Growth Charts
Instructions for using growth charts

Growth charts are an important way for pediatricians to monitor your child’s growth. With the availability of growth charts on the Internet, many parents have begun using them at home too.

Since the growth charts compact a lot of information into a small space, they can be a little confusing to use and I often get requests for help from parents who don’t understand how to plot their child on the charts.

This guide, and the picture below, should provide you with all of the information you need to use the growth charts to follow how well your child is growing.

The first step is to find the right growth chart. In our example, we are going to find the percentile for a 2 year old boy who weighs 30 pounds, so we will use the growth chart for Boys from Birth to 36 Months.

Next, (step A on the chart below) find your child’s age at the bottom of the chart and draw a vertical line (a straight line up and down) on the growth chart. In our example, we drew a line through 24 months or 2 years.

Now find your child’s weight on the right hand side of the chart, 30 pounds in our example, and draw a horizontal line (a straight line from side to side). This is step B in our example. Keep in mind that you don’t have to really physically draw a line on the growth charts. If you really do that each time, your growth chart will look very messy and will be hard to read. Instead, just imagine where the line should be or draw a light line with a pencil that you can later erase.

Step C involves finding the spot where these two lines intersect or cross each other. Find the curve that is closest to this spot and follow it up and to the right until you find the number that corresponds to your child’s percentile (step D).

In our example, you can see that a two year old boy who is 30 pounds is at the 75th percentile for his weight. What does that mean? It means that he weighs more than about 75% of boys his age. It also means that 25% of 2 year old boys weigh more than he does. Is that normal? Sure, if that is where he has always been on the growth charts.

Growth Chart Examples

Finding your child’s percentile is a little harder if a curve doesn’t actually pass through the spot where your child’s age and weight come together. For example, what would you do if the boy in our example actually weighed 31 pounds? You would use all of the same steps and would have to imagine a curve that is somewhere between the 75th and 90th percentiles and figure that he was at about the 80th-85th percentile.

If your child is above the 95th or below the 5th percentile, then you will also not be able to find an exact percentile, except to say that he is above or below the growth chart.

You can use the same steps to plot your child’s height and body mass index.

Here are some more examples (try them before looking at the answers below):

A. What is the percentile for a 2 year old boy who is 2 feet 10 1/2 inches (34 1/2 inches)? What is the percentile for a 13 year old girl who is 80 pounds?

B. What is the percentile for a 16 year old girl who is 5 foot 4 inches (64 inches)?

C. What is the percentile for a 9 year old who has a body mass index of 18?

D. What is the percentile for a 6 month old girl who is 14 pounds?

It is also important to understand that the growth charts are best used to follow your child’s growth over time or to find a pattern of his growth. Plotting your child’s weight and height at different ages and seeing if he follows a growth curve is more important than where he is at any one time. Even if your child is at the 5th percentile for his weight, which means that 95% of kids his age weigh more than he does, if he has always been at the 5th percentile, then he is likely growing normally. It would be concerning and it might mean there was a problem with his growth if he had previously been at the 50th or 75th percentile and had now fallen down to the 5th percentile.

Also remember that children between the ages of 6 and 18 months can normally move up or down on their percentiles, but older children should follow their growth curve fairly closely.
Answers to examples: A) 50th percentile, B) 10th percentile, C) 50th percentile, D) 75th percentile, E) about the 15th percentile

http://pediatrics.about.com/cs/growthcharts2/l/aa050802a.htm



Tabel BB – TB
Maret 24, 2008, 8:13 am
Diarsipkan di bawah: BB TB dan GC

Tabel Tinggi Badan – Berat Badan

DEFINISI

tabel tinggi badan – berat badan bisa digunakan untuk bayi, anak-anak, remaja dan dewasa.
tabel ini bisa digunakan untuk menentukan kisaran berat badan yang dianjurkan bagi tinggi badan tertentu (berat badan ideal).
kisaran tersebut berdasarkan kepada ukuran kerangka tubuh dan dibedakan antara pria dan wanita.taksiran ini merupakan angka perkiraan dan pada keadaan tertentu bisa bersifat tidak akurat (misalnya pada orang yang berotot atau pada wanita hamil).

fungsi dari tabel berat badan-tinggi badan adalah untuk membantu menentukan apakah berat badan seseorang masih dalam kisaran yang sesuai untuk tinggi badan dan ukuran kerangkanya.

penambahan atau penurunan berat badan digolongkan berdasarkan persentase kenaikan atau berkurangnya berat badan total (berat badan yang sesungguhnya, bukan berat badan ideal).
perhitungannya adalah sebagai berikut:
penambahan/penurunan berat badan ———————————– x 100
berat badan sebelumnya
contoh : penurunan berat badan sebesar 10 kg dari 70 kg menjadi 60 kg.
10/70 x 100 = 14% dari berat badan total.

obesitas digolongkan berdasarkan persentase atas berat badan ideal.
untuk menghitung persentase dari kelebihan berat badan, selisih antara berat badan sesungguhnya dengan berat badan ideal dibagi dengan berat badan ideal lalu dikalikan 100.
contoh : berat badan ideal adalah 60 kg, berat badan sesungguhnya adalah 75 kg. perhitungannya adalah sebagai berikut:
75-60 = 15
15/60 x 100 = 25% kelebihan berat badan.

menentukan berat badan yang diinginkan.

jika tabel tidak dapat digunakan, maka ada cara yang sederhana untuk menentukan berat badan yang diinginkan:

- wanita : berat badan 50 kg untuk tinggi badan 150 cm, setiap penambahan 2,5 cm maka berat badan bertambah sebanyak 2,5 kg.

- pria : berat badan 53 kg untuk tinggi badan 150 cm, setiap penambahan 2,5 cm maka berat badan bertambah sebanyak 3 kg.

- untuk ukuran kerangka besar ditambahkan 10% dan untuk ukuran kerangka kecil dikurangi 10%.

menentukan ukuran kerangka.

untuk menentukan ukuran kerangka tubuh, dilakukan pengukuran pergelangan tangan dengan pita meteran dan gunakan tabel berikut untuk menentukan apakah seseorang memiliki tulang yang kecil, sedang atau besar.

jenis kelamin

tinggi badan

tinggi badan 155-162,5 cm

tinggi badan > 162,5 cm

ukuran

wanita

s

wanita

13,75-14,375 cm

15-15,625 cm

15,625-16,25 cm

m

wanita

> 14,375 cm

> 15,625 cm

> 16,25 cm

l

pria

-

-

13,75-16,25 cm

s

pria

-

-

16,25-18,75 cm

m

pria

-

-

> 18,75 cm

l


untuk mempertahankan berat badan yang diinginkan, gunakanlah perhitungan berikut untuk menentukan kebutuhan kalori perhari:

- untuk orang yang sangat aktif : 9 kalori/kg bb

- untuk orang dengan aktivitas yang normal : 7,5 kalori/kg bb

- untuk orang yang berusia > 55 tahun atau untuk orang dengan aktivitas yang ringan : 6,5 kalori/kg bb

- untuk orang dengan kelebihan berat badan atau orang yang tidak aktif : 5 kalori/kg bb.
dengan rumus diatas, kita bisa menentukan berat badan yang diinginkan.

panduan umum untuk berat badan anak-anak

usia

berat badan rata-rata
(dalam kilogram)

batas bawah
(dalam kilogram)

batas atas
(dalam kilogram)

bayi baru lahir cukup bulan

3,5

2,75

4,25

3 bulan

6,6 (laki-laki)
5,75 (perempuan)

5,1 (laki-laki)
4,8 (perempuan)

7,75 (laki-laki)
7 (perempuan)

6 bulan

8,6 (laki-laki)
8 (perempuan)

7,25 (laki-laki)
6,6 (perempuan)

10 (laki-laki)
9,25 (perempuan)

9 bulan

10,1 (laki-laki)
9,5 (perempuan)

8,85 (laki-laki)
7,5 (perempuan)

11,5 (laki-laki)
10,75 (perempuan)

12 bulan

11,25 (laki-laki)
10,5 (perempuan

9,85 (laki-laki)
9 (perempuan)

12,75 (laki-laki)
12 (perempuan)

18 bulan

12,6 (laki-laki)
12 (perempuan

11 (laki-laki)
10,75 (perempuan)

14,5 (laki-laki)
13,5 (perempuan)

2 tahun

13,85 (laki-laki)
13,25 (perempuan)

12 (laki-laki)
11,25 (perempuan)

15,75 (laki-laki)
15 (perempuan)

4 tahun

18,5 (laki-laki)
17,5 (perempuan)

15,5 (laki-laki)
15 (perempuan)

21,5 (laki-laki)
20,85 (perempuan)

6 tahun

22,5 (laki-laki)
22 (perempuan)

19 (laki-laki)
18,5 (perempuan)

26,5 (laki-laki)
26,5 (perempuan)

8 tahun

27,5 (laki-laki)
27,5 (perempuan)

24 (laki-laki)
22,5 (perempuan)

34 (laki-laki)
35 (perempuan)

10 tahun

34 (laki-laki)
35,5 (perempuan)

28 (laki-laki)
28,5 (perempuan)

45 (laki-laki)
49 (perempuan

12 tahun

44 (laki-laki)
46 (perempuan)

35 (laki-laki)
36 (perempuan)

56 (laki-laki)
61,5 (perempuan)

14 tahun

56 (laki-laki)
55 (perempuan)

45 (laki-laki)
45 (perempuan)

72,5 (laki-laki)
72,5 (perempuan)

16 tahun

68 (laki-laki)
61,5 (perempuan)

56 (laki-laki)
50 (perempuan)

86 (laki-laki)
79 (perempuan)

18 tahun

76 (laki-laki)
62 (perempuan)

63,5 (laki-laki)
52,5 (perempuan)

97,5 (laki-laki)
80 (perempuan)



Anak Tidak Boleh Gemuk
Maret 24, 2008, 7:40 am
Diarsipkan di bawah: BB TB dan GC

Mengapa Anak Tidak Boleh Gemuk ?

Oleh Kompas Cyber Media

Ada banyak alasan medis kenapa anak tidak boleh gemuk.

Kebangkitan ekonomi, perubahan kultur, dan teknologi pangan melahirkan generasi anak gemuk. Padahal gemuk sejak kecil itu tidak sehat.

Mengapa banyak anak gemuk sekarang ?

Bukan saja di negara-negara maju, di negara sedang berkembang seperti Indonesia, di kota maupun di sebagian desa, semakin banyak ditemukan anak yang gemuk. Tidak selalu harus berasal dari keluarga kecukupan. Makan nasi melebihi porsi pun bisa saja bikin badan jadi luar biasa subur.

Gemuk sudah menjadi wabah di dunia. Dulu, negara-negara di Afrika banyak yang kelaparan. Sekarang, pusat-pusat pelangsingan tubuh sudah mulai banyak bermunculan di sana. Pola makan berlebih dan harga buah serta sayur-mayur lebih tinggi dari harga gorengan, gula, dan camilan, itulah yang menjadikan tubuh cenderung kelebihan kalori.

Gemuk juga untuk sebagian orang masih menyimpan lambang kemakmuran. Benar. Sebagian besar orang tua, ibu khususnya, menginginkan anaknya berbadan gemuk. Selain lucu, anak montok juga melambangkan keluarga yang makmur. Pesan keliru yang diwariskan sebagai mitos inilah yang perlu dikoreksi, oleh karena anak yang tidak gemuklah yang sebetulnya didambakan pemerintah di negara maju. Di mana-mana negara maju, lebih banyak manajer yang tidak gemuk dibanding yang gemuk.

Kini, Amerika Serikat tengah bergulat menghadapi anak sekolah yang lebih separo populasinya tergolong gemuk. Sebagian besar membutuhkan konsultasi dokter. Berbagai upaya dilakukan, namun belum seluruhnya teratasi. Kita bisa memaklumi kalau anak Amerika cenderung kelebihan berat badan, mungkin sudah sejak usia bayi mula. Namun, kalau banyak pula anak-anak kita yang gemuk, tentu ada yang keliru dalam pola dan kebiasaan makan mereka. Junk food adalah salah satu penyebabnya.

Anak-anak di negara maju, pilihan menunya-lah yang cenderung membuat mereka jadi kelebihan berat badan. Kita memahami, menu junk food kaya lemak, boros gula, dan garam, serta sangat tinggi kalori. Lidah anak zaman sekarang sudah terkondisikan dengan cita rasa gurih, manis, asin, dan serba berbumbu. Itu pula yang menggiring mereka tidak lagi begitu menyukai menu meja makan ibu.

Demikian pula agaknya anak-anak kita di perkotaan. Mereka sudah terkondisikan pula oleh menu harian yang serba junk food di luar rumah, dan kehilangan selera makannya di meja makan ibu. Semakin dimanjakan anak oleh menu di luar rumah yang cenderung melebihi porsi kebutuhan tubuh, semakin besar potensi untuk menjadi gemuk, dan terus bertambah gemuk.

Anak dan bayi di pedesaan, yang bukan dari keluarga kecukupan pun, sudah tercemar oleh pilihan menu (jajanan) yang sekaliber junk food, kalau jenis jajanan pizza, burger, atau hot dog sudah masuk desa, selain penganan yang serba manis, dan berlemak tinggi.

Selain itu, rata-rata bayi di desa juga sudah lebih dini dan belum waktunya diperkenalkan jenis makanan padat, sehingga badannya rata-rata melebihi ukuran seusianya, mungkin lantaran ketidaktahuan.

Memberi nasi, pisang, bubur, sebelum bayi berumur 5 bulan, salah satu penyebab kenapa banyak bayi di pedesaan yang gembrot.

Kegemukan sejak bayi tidak boleh terjadi, oleh karena pola dan ukuran sel-sel lemak tubuhnya sudah telanjur terbentuk salah. Selain jumlah sel-sel lemaknya terbentuk lebih banyak dari anak normal, ukurannya pun lebih besar. Itu maka, sebaiknya anak tidak gemuk sejak usia bayi. Gemuk yang sudah telanjur terbentuk, sukar mengempiskannya lagi, kecuali menerimanya saja sebagai bakat yang dibawanya sampai usia dewasa.

Anak gemuk bolehkah berdiet, dan minum obat antilemak ?

Diet tanpa pengawasan dokter tidak dianjurkan bagi anak yang gemuk. Dalam masa pertumbuhan, tubuh anak tidak boleh sampai kekurangan zat gizi. Jika diet menguruskan badan tidak tepat, yang berkurang dalam menu bukan cuma kalorinya, melainkan juga semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh anak untuk pertumbuhan. Bukan cuma lemak dan kalori yang berkurang dengan diet langsing bukan dari dokter, melainkan semua zat yang terkandung dalam menu harian akan ikut susut juga. Dan ini tidak boleh terjadi.

Obat antilemak seperti yang dikonsumsi orang dewasa yang lemak darahnya tinggi, tidak dianjurkan diberikan kepada anak. Diharapkan, dengan mengurangi porsi menu berlemak-berkolesterol, ditambah rutin latihan jasmani, lemak darahnya bisa turun menjadi normal.

Yang dapat dilakukan mungkin dengan cara akupunktur yang bisa menekan nafsu makan, sambil tetap mengatur kecukupan gizi agar pertumbuhan anak tetap tercukupi. Perilaku makan merupakan kesulitan terberat dalam upaya penurunan berat badan. “Lapar mata” adalah salah satu tantangannya.

Anak yang “lapar mata” terdorong untuk makan (apa saja) kendati tidak sedang lapar.Mestinya, tubuh dilatih hanya makan kalau sedang merasa lapar saja. Makan kapan saja melihat atau ditawarkan makanan (echo), akan mengondisikan tubuh senantiasa terdorong ingin makan kendati tidak merasa lapar.

Bagaimana supaya tidak telanjur menjadi gemuk ?

Bayi dan anak menjadi gemuk jika porsi yang dimakan melebihi kebutuhan tubuh. Kelebihan kalori disimpan menjadi lemak, dan gajih di bawah kulit. Sel-sel lemak tubuhnya menjadi besar-besar, selain jumlahnya lebih banyak dari anak normal.

Susu sapi harus dituding sebagai salah satu penyebab lainnnya. Kita tahu lemak dalam susu sapi lebih tinggi dari lemak ASI. Lemak susu sapi disiapkan untuk membangun tubuh anak sapi, bukan tubuh anak manusia. Maka masih tetap bijak jika ibu tetap hanya memilih ASI untuk bayi, daripada membiarkan menjadi gembrot oleh susu sapi nantinya.

Jika bayi diberikan makanan sesuai dengan umur dan tahapan perkembangan usianya, kecil kemungkinan anak bakal gemuk. Kita tahu, ada tahapan pemberian makanan bayi yang tidak boleh dilanggar.

Selain agar tubuh anak tidak dirugikan oleh menu yang tidak tepat, kemungkinan anak menjadi kelebihan berat badan pun tidak perlu sampai terjadi. Buat anak di atas setahun, tentu pilihan susunya hanya susu sapi. Jika anak sudah gemuk, pilihlah susu nonfat, yang sudah dibuang lemak susunya. Anak hanya membutuhkan kandungan protein susunya.

Biasakan anak banyak gerak. Latihan jasmani bukan sekadar permainan, melainkan harus dimanfaatkan juga untuk membantu membangun tulang dan otot, selain membakar kelebihan kalori yang diperoleh dari makanan yang mungkin berlebih. Semakin kurang bergerak, berolahraga, dan latihan jasmani, semakin besar kemungkinan menjadi gemuk, dan badan anak pun tidak bugar. Kurikulum olahraga di sekolah kita sangat kurang memadai. Semboyan hidup anak sekolah di negara maju, tiada hari tanpa olahraga.

Selera makan anak yang sudah telanjur gemuk umumnya jadi meningkat luar biasa. Itu maka, anak yang sudah telanjur gemuk dengan mudah bertambah berat badannya kalau dorongan untuk terus makannya tidak ditahan, atau terkendali.

Bayi normal akan bertambah berat 2 kali lipat pada usia 5 bulan, dan menjadi 3 kali lipat ketika berumur setahun. Selanjutnya berat badan ideal anak sampai usia 11 tahun bisa dihitung dengan rumus 8 + (2 X umur) kg. Anak yang berumur 5 tahun, idealnya memiliki berat badan 8 + (2 X 5) kg atau 18 kg. Lebih dari itu waspada.

Namun, lebih tepat untuk usia di atas setahun dipakai formula Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index), yang dihitung dengan cara membagi angka berat badan dengan tinggi badan (dalam meter). Nilai 23 – 25 tergolong ideal, dan lebih dari 25 berarti sudah kelebihan berat.

Gemuk juga bisa berarti penyakit

Anak yang gemuk bukan cuma sebab kesalahan memberi makan berlebihan, melainkan bisa juga sebagai sebuah kasus penyakit. Ada beberapa jenis penyakit (kelainan hormon dan gen) yang membuat tubuh anak gemuk abnormal, dan gemuknya kelihatan tidak sehat.

Dalam hal gemuk penyakit, tidak mudah mengoreksinya, karena memang ada yang salah dalam sistem hormonal atau gennya. Gemuk yang tak terkendali dengan diet, dan upaya membuang kalori ini, tergolong gemuk yang harus diterima apa adanya, dengan segenap risiko yang dibawanya.

Bagaimana mengatasi anak gemuk ?

Ini masalah baru yang dihadapi Amerika sekarang. Baru-baru ini, sekolah di AS membuat kartu rapor berat badan. Anak yang dinyatakan kelebihan berat badan memerlukan konsultasi dokter untuk diet khusus, dan latihan jasmani ekstra agar berat badan ideal bisa tercapai.

Di sekolah-sekolah Singapura, misalnya, anak yang kelebihan berat badan diberi porsi olahraga yang lebih banyak dibanding anak yang tidak gemuk, agar berat badannya menyusut menjadi tidak gemuk lagi.

Kegemukan diantisipasi medis bisa membawa banyak penyakit, sehingga sumber daya manusia menjadi kurang berkualitas.

Dengan kartu rapor berat badan, anak dipantau terus oleh sekolah sampai batas tidak gemuknya tercapai. Setelah itu, berat badan yang tercapai ideal dipertahankan dengan cara makan tidak rakus, dan pilihan menunya tepat, sambil tetap berolahraga sehingga gemuknya tidak kambuh.

Anak gemuk apakah berarti profil lemak dalam darahnya juga tinggi ?

Ya, hal itulah yang paling kita takuti. Kebanyakan remaja Amerika yang pola makan dan pilihan menunya serba junk food itu, rata-rata sudah kelebihan kadar lemak dalam darahnya.

Walau tidak selalu harus lemak dalam darahnya tinggi, namun kebanyakan remaja di negara maju, kolesterol dan trigliseride-nya sudah di atas normal. Itu berarti, risiko muncul malapetaka akibat tingginya profil lemak tubuhnya, sudah dimulai sejak usia pubertas mula. Dan itu yang menerangkan, mengapa dewasa ini banyak serangan jantung atau stroke muncul pada usia yang lebih dini. Semakin banyak stroke dan serangan jantung koroner prematur (kurang dari usia 40 tahun) muncul sekarang ini.

Lemak dalam darah yang berlebih kini diyakini juga mencetuskan bangkitnya kanker di organ tubuh mana saja, kanker rahim, ginjal, dan payudara khususnya. Risiko perlemakan hati, kencing manis, juga didongkrak oleh dibiarkan semakin tingginya lemak dalam darah. (Tabloid Nova)