Smart Parent


Artikel ASI
Maret 26, 2008, 7:03 am
Diarsipkan di bawah: ASI

ASI ANUGERAH SEMPURNA BAGI IBU DAN BAYI

Minggu pertama bulan Agustus dicanangkan sebagai pekan ASI Sedunia. Untuk tahun ini, tema yang diangkat adalah “Breastfeeding and Family Food: Loving and Healthy.” Tema ini sepertinya tepat sekali ditujukan bagi anak-anak di negeri tercinta. Maraknya kasus busung lapar di berbagai daerah di Indonesia rasanya tidak akan terjadi seandainya semua orang tua mendapat pencerahan akan manfaat ASI.

Namun banyak ibu mengeluh bukannya tidak mau memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, hanya saja jumlah ASI-nya dirasa tak mencukupi. Sebenarnya hal ini tidak akan terjadi bila ibu menguasai teknik menyusui maupun memerah ASI dengan benar. Bagaimana caranya? Jangan khawatir, kami akan membagikan kiatnya untuk Anda. Mulai masa persiapan selama kehamilan, apa yang harus dilakukan bila ASI pertama keluar, sampai bagaimana posisi menyusui yang benar.

Bagi ibu bekerja, dilema kembali menghadang setelah waktu cuti tiga bulan berlalu. Apakah ASI eksklusif akan diteruskan atau cukup sampai di sini saja? Padahal kembali bekerja bukanlah hambatan untuk memberikan ASI eksklusif. Dengan teknik memerah yang benar serta penyimpanan yang tepat, si kecil tetap terpenuhi haknya. Tak kalah pentingnya adalah peran ayah serta dukungan lingkungan.

Tentu masih banyak pertanyaan seputar pemberian ASI yang perlu dituntaskan. Untuk itu, kami mencoba meluruskan mitos dan kesimpangsiuran informasi mengenai ASI.

Selanjutnya, pemberian makanan pendamping ASI menjadi tugas penting saat si bayi telah berusia 6 bulan. Tujuannya mengenalkan rasa dan tekstur makanan yang lebih padat daripada susu. Bagaimana membuatnya? Ikuti aneka resep yang kami sajikan di buklet ini.

Nah, bila Anda ingin memberikan yang terbaik bagi si buah hati, bulatkan tekad untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Daya tahan bayi terhadap penyakit jelas lebih tinggi, dan jalinan emosi ibu-anak akan begitu serasi. Kalau Anda yakin, Anda pasti bisa!

Marfuah Panji Astuti

MANFAAT ASI: IBU SEHAT, BAYI KUAT

Dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, sederet manfaat akan didapat oleh bayi maupun sang ibu.

Banyak penelitian telah membuktikan kehebatan ASI. Cairan kehidupan ini ditengarai memiliki kandungan gizi, nutrisi, dan antibodi yang paling lengkap. Salah satu hasil penelitian yang dilakukan di 6 negara berkembang membuktikan, bayi usia 0-2 bulan yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih rentan terkena infeksi pencernaan hingga 400%!

Yang dimaksud dengan ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa dicampur dengan apa pun, termasuk air bening, vitamin dan obat. Bayi yang sakit dan terpaksa harus diberi obat berarti sudah tidak mendapat ASI eksklusif lagi. Namun harap dipahami, pada dasarnya bayi tipis kemungkinan sakit bila 6 bulan pertama dalam kehidupannya mendapat ASI eksklusif secara benar. Sebab zat antibodi yang terkandung dalam ASI sedemikian sempurna sehingga bisa membentengi bayi dari penyakit apa pun.

Satu hal yang harus diyakini terlebih dulu adalah tiap ibu pasti bisa memberikan ASI untuk bayinya. Tuhan Yang Maha Pemurah telah menciptakan mekanisme produksi ASI begitu rupa sehingga semua bayi pada dasarnya bisa memperoleh haknya. Kendala-kendala yang muncul bisa diatasi selama persiapan yang dilakukan dan teknik pemberiannya benar.

MANFAAT ASI BAGI BAYI

Pemberian ASI secara eksklusif (tidak dicampur apa pun selama 6 bulan berturut-turut) memberikan sederet manfaat:

* Kesehatan

Kandungan antibodi yang terdapat dalam ASI tetap ampuh di segala zaman. Karenanya, bayi yang mendapat ASI eksklusif lebih sehat dan lebih kuat dibanding yang tidak mendapat ASI. ASI juga mampu mencegah terjadinya kanker linfomamaligna (kanker kelenjar).

ASI juga menghindarkan anak dari busung lapar, seperti yang marak belakangan ini. Sebab komponen gizi ASI paling lengkap, termasuk protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin, dan zat-zat penting lain yang belum terungkap. Apalagi ASI adalah cairan hidup yang mampu diserap dan digunakan tubuh dengan cepat. Manfaat ini tetap diperoleh meski status gizi ibu kurang.

* Kecerdasan

Manfaat berikutnya adalah mencerdaskan anak. Dalam ASI terkandung DHA terbaik, selain laktosa yang berfungsi untuk proses mielinisasi otak. Seperti diketahui, mielinisasi otak adalah salah satu proses pematangan otak agar bisa berfungsi optimal. Saat ibu memberikan ASI, terjadi pula proses stimulasi yang merangsang terbentuknya networking antarjaringan otak hingga menjadi lebih banyak dan terjalin sempurna. Ini terjadi melalui suara, tatapan mata, detak jantung, elusan, pancaran dan rasa ASI.

* Emosi

Saat disusui, bayi berada dalam dekapan ibu. Ini akan merangsang terbentuknya EI (Emotional Intelligence). Selain itu, ASI merupakan wujud curahan kasih sayang ibu pada buah hatinya. Doa dan harapan yang didengungkan di telinga anak selama proses menyusui pun akan mengasah kecerdasan spiritual anak.

MANFAAT MEMBERIKAN ASI UNTUK IBU

Selain bermanfaat untuk bayi, proses pemberian ASI juga bermanfaat bagi ibu. Berikut di antaranya:

* Diet alami

ASI eksklusif adalah diet alami bagi ibu. Dengan memberikan ASI eksklusif, berat badan ibu yang bertambah selama hamil akan segera kembali mendekati berat semula. Naiknya hormon oksitosin selagi menyusui, menyebabkan kontraksi semua otot polos, termasuk otot-otot rahim. Nah, karena ini berlangsung terus-menerus, nilainya kurang lebih sama dengan senam perut. Begitu juga aktivitas bangun malam untuk menyusui si kecil yang haus dan mengganti popok basahnya yang setara dengan olahraga. Belum lagi berbagai kegiatan yang dilakukan di siang hari, seperti, menggendong, memberi makan, mengajak bermain dan sebagainya.

* Mencegah kanker

Jangan salah, ASI bisa mencegah kanker, khususnya kanker payudara. Pada saat menyusui, hormon estrogen mengalami penurunan. Sementara tanpa aktivitas menyusui, kadar hormon estrogen tetap tinggi dan inilah yang diduga menjadi salah satu pemicu kanker payudara karena tidak adanya keseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron.

* Mengurangi risiko anemia

Saat memberikan ASI, otomatis risiko perdarahan pascabersalin berkurang. Naiknya kadar hormon oksitosin selama menyusui akan menyebabkan semua otot polos mengalami kontraksi. Kondisi inilah yang mengakibatkan uterus mengecil sekaligus menghentikan perdarahan. Harap diketahui, perdarahan yang berlangsung dalam tenggang waktu lama merupakan salah satu penyebab anemia.

* Manfaat ekonomis

Dengan menyusui, ibu tidak perlu mengeluarkan dana untuk membeli susu/suplemen bagi si kecil. Cukup dengan ASI eksklusif, kebutuhan bayi selama 6 bulan terpenuhi dengan sempurna. Selain tak perlu repot-repot mensterilkan aneka peralatan untuk memberikan susu kepada si kecil.

Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/NAKITA Narasumber:

Dr. I.G.A.N. Partiwi, Sp.A., MARS

ASI TERPAKSA TAK DIBERIKAN SECARA EKSKLUSIF JIKA…

* Ibu terinfeksi HIV, mengidap TBC aktif, dan Hepatitis B aktif.

* Puting ibu terlalu masuk sehingga tak mungkin diisap bayi dan menghambat pemberian ASI. Beberapa kasus puting mendelep masih bisa diatasi. Hanya perlu waktu bagi bayi untuk bereksplorasi dan belajar mengisap pada puting payudara ibu dengan kondisi seperti itu. Toh, bentuk puting seperti apa pun semestinya tidak sampai mengusik refleks isap yang merupakan refleks dasar bayi.

* Si bayi karena berbagai sebab harus mendapat perawatan terpisah dari ibunya dalam jangka waktu lama. Bayi seperti ini tetap dimungkinkan mendapat ASI, meski tentu saja sudah tidak eksklusif lagi. Si bayi pun butuh waktu lebih lama untuk belajar mengisap ASI langsung dari ibunya. Namun seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

JANGAN LUPA, SIAPKAN DIRI SEBELUM MENYUSUI

Persiapan mental dan fisik yang cukup membuat proses menyusui menjadi mudah dan menyenangkan.

PERSIAPAN KALA HAMIL

Proses menyusui sebaiknya sudah dipersiapkan jauh hari sebelum melahirkan. Ini penting supaya ibu benar-benar siap, baik secara mental maupun fisik. Kesiapan ini akan memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI. Berikut beberapa hal yang harus dipersiapkan:

· NIAT

Niat adalah kunci sukses untuk memberikan ASI eksklusif bagi sang buah hati. Niat ini harusnya sudah tertanam kuat jauh hari sebelumnya. Ibu harus bertekad akan memberikan makanan yang terbaik bagi bayinya. Dengan niat bulat, ibu akan berpikir optimis. Dari situ terbentuk energi positif yang akan memengaruhi kesiapan semua organ-organ menyusui sehingga ASI pun bisa mengalir lancar. Jika ibu yakin bisa menyusui, ASI yang keluar pasti banyak. Buang jauh-jauh pikiran negatif, seperti bagaimana kalau ASI tidak keluar, seandainya payudara bermasalah, dan sebagainya.

· HILANGKAN STRES

Usahakan selalu berpikir positif tentang kehamilan. Seandainya ada masalah, konsultasikan pada dokter kandungan. Kehamilan hendaknya jangan sampai memenjarakan Anda. Lakukan semua hal yang menyenangkan selama hamil, seperti jalan-jalan ke mal, berekreasi, berkumpul dengan teman-teman lama, mendalami hobi yang memungkinkan, dan sebagainya. Semua aktivitas tersebut sangat penting untuk menjaga ketenangan batin karena perasaan tenang dan bahagia berpengaruh pada produksi ASI

· PIJAT PAYUDARA

Pijat payudara sangat baik sebagai persiapan sebelum menyusui. Rangsanglah secara lembut dan pelan kedua puting susu dengan tangan. Buatlah gerakan memutar dan lakukan beberapa kali dalam sehari. Konsultasikan aktivitas ini dengan dokter kandungan, sebab pada kasus tertentu tindakan ini pantang dilakukan, terutama untuk ibu yang pernah melahirkan bayi prematur.

· PENUHI GIZI IBU HAMIL DAN MENYUSUI

Kebutuhan gizi ibu meningkat saat hamil dan menyusui. Selain untuk ibu, janin pun membutuhkan pasokan gizi yang tidak sedikit. Itulah sebabnya, asupan makan yang dikonsumsi ibu harus menganut pola makan gizi yang cukup dan seimbang. Sumber tenaga didapat dari karbohidrat; sumber pembangun ada di protein; sedangkan sumber pengatur dan pelindung terdapat pada vitamin dan mineral dari sayur dan buah-buahan. Perhatikan juga pola makan dan usahakan selalu untuk mengonsumsi makanan sehat. Jauhi jajanan yang tidak terjamin kebersihannya. Ingat, pola makan sehat saat hamil tidak hanya penting untuk janin, tapi juga memengaruhi kualitas ASI kelak.

· CIPTAKAN GAYA HIDUP SEHAT

Tujuannya agar kehamilan dan persalinan berlangsung lancar dan janin pun berkembang optimal. Hindari makanan atau minuman yang mengandung kafein dan alkohol, serta jauhi asap rokok. Agar stamina tubuh terjaga, lakukan olahraga secara teratur. Tentu saja bukan olahraga yang berat dengan gerakan menghentak, tapi olahraga ringan seperti berenang atau jalan-jalan pagi. Kondisi ibu yang sehat turut meningkatkan produksi ASI.

Saeful Imam

Narasumber:

dr. Karel A.L Staa, Sp.A, M.D.,
dari RS. Pondok Indah, Jakarta

PEMBERIAN ASI PERTAMA

“Aku pasti bisa!” Itulah yang harus diyakini ibu saat akan menyusui bayinya.

Proses menyusui harus sudah dimulai sejak bayi keluar dari rahim ibu. Dengan begitu, menit-menit pertama setelah persalinan merupakan momen yang sangat menentukan. Begitu pula hari-hari selama ibu dirawat untuk pemulihan. Apa saja yang mesti dilakukan dan diperhatikan? Inilah beberapa di antaranya:

* BERI SENTUHAN KULIT KE KULIT

Skin to skin contact dengan ibu begitu bayi lahir (sebelum dibersihkan) merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Ini penting untuk mengenalkan keberadaan ibu pada bayinya. Selain itu, sentuhan kulit ke kulit merangsang refleks bayi untuk mencari puting dan langsung menyusu pada ibunya. Tindakan ini juga merangsang keluarnya hormon oksitosin yang berguna mengurangi risiko perdarahan pada ibu sesudah bersalin. Oksitosin juga turut berperan merangsang keluarnya kolostrum, yakni zat penting dalam ASI yang kaya protein, antiinfeksi, dan pembersih usus bayi. Kolostrum biasanya keluar sejak hari pertama hingga ketujuh seusai melahirkan.

Khusus untuk bayi yang dilahirkan secara sesar, sentuhan kulit ke kulit bisa dilakukan dengan cara mendekap bayi di dekat pipi ibu. Dua jam seusai operasi, bayi bisa langsung disusui.

Sedangkan untuk bayi dengan berat lahir rendah atau bayi prematur, sentuhan kulit ke kulit masih bisa dilakukan dengan mendekap bayi di perut. Konsultasikan hal ini sebelumnya dengan dokter. Sentuhan kulit ke kulit dan menyusui sesegera mungkin bisa semakin menumbuhsuburkan rasa cinta ibu pada bayinya.

* JANGAN BERI CAIRAN LAIN

Beberapa ibu umumnya tidak langsung bisa menyusui bayinya setelah melahirkan. Mereka membutuhkan waktu puluhan menit hingga satu jam sampai ASI-nya keluar. Pada kondisi ini, banyak ibu yang memberi bayinya air putih atau minuman lain, apalagi jika bayi terlihat sangat kehausan. Ini sebaiknya jangan dilakukan karena bayi baru lahir membawa cukup cairan dalam tubuhnya. Bayi mampu bertahan meski tidak diberi cairan sedikit pun selama 4-6 jam pertama kehidupannya.

Usahakan untuk tetap bersikap relaks, tenang, dan optimis hingga ASI bisa keluar dengan lancar. Kerugian pemberian cairan lain selain ASI adalah bayi jadi enggan mengisap ASI, mengakibatkan diare karena cairan itu mungkin tercemar, alergi, ataupun mengalami bingung puting. Pemberian ASI pertama sesegera mungkin bertujuan untuk mengajari/membiasakan bayi mengisap ASI. Jadi, bukan untuk memberinya asupan makanan awal.

* UTAMAKAN RAWAT GABUNG

Rawat gabung merupakan pilihan tepat bagi ibu yang akan menyusui bayinya. Dengan cara itu, ibu bisa merawat dan memberi ASI kapan pun si kecil membutuhkan. Ada dua alternatif, ibu dan bayi memiliki ranjang terpisah, atau keduanya bersama dalam satu ranjang. Pilihan terakhir dilakukan jika ibu tidak sedang mengidap penyakit parah. Dari segi biaya, rawat gabung jelas lebih hemat sehingga lebih menguntungkan. Mintalah metode rawat gabung ini pada pihak rumah sakit atau klinik bersalin.

* PELAJARI CARA MENYUSUI YANG BENAR

Bagaimana teknik dan posisi menyusui yang benar bisa ditanyakan pada perawat, dokter, maupun pendamping persalinan. Ibu bisa berbaring sembari merangkul bayi atau meletakkan bantal dan selimut sebagai penopang kepala. Posisikan puting dan areola dengan benar. Pemilihan posisi bisa memengaruhi lancarnya ASI. Jangan khawatir bila merasakan demam ringan. Demam ASI ini akan menghilang beberapa jam setelah melahirkan.

Saiful Imam. Foto: Dok. NAKITA

Narasumber:

dr. Karel A.L Staa, Sp.A, M.D.,
dari RS. Pondok Indah, Jakarta


ASI MAKSIMAL BERKAT POSISI TEPAT

Agar nyaman, sesuaikan posisi menyusui dengan kondisi ibu.

Banyak sedikitnya ASI ternyata berhubungan langsung dengan posisi ibu saat menyusui. Posisi yang tepat akan mendorong keluarnya ASI secara maksimal. Apa pun teknik bersalinnya, ibu dapat menyusui bayi sesegera mungkin. Begitu pula jika melahirkan bayi kembar.

* Persalinan normal/spontan

Ibu yang melahirkan secara spontan bisa lebih leluasa dalam memilih posisi menyusui: sambil duduk atau berbaring menyamping pun tak masalah. Jika posisi duduk yang dipilih, gunakan kursi yang nyaman. Upayakan telapak kaki menginjak lantai. Gunakan dingklik (bangku kecil) sebagai pengganjal bila posisi kaki agak menggantung.

* Persalinan sesar

Football position adalah posisi menyusui yang disarankan untuk ibu yang melahirkan melalui persalinan sesar. Pada posisi ini, tubuh bayi digendong dengan salah satu tangan ibu. Upayakan letak kepala bayi berada tepat di bawah payudara dan membentuk garis lurus dengan badan bayi. Posisi ini aman karena bagian bawah perut ibu yang masih nyeri akibat operasi dapat terlindungi. Posisi ini pun merupakan posisi yang paling nyaman bagi ibu maupun bayinya.

* Bayi kembar

Sama dengan ibu yang melahirkan melalui persalinan sesar, football position juga tepat untuk bayi kembar. Caranya: kedua tangan ibu memeluk masing-masing satu kepala bayi, seperti memegang bola. Letakkan tepat di bawah payudara ibu. Posisi kaki bayi boleh dibiarkan menjuntai keluar. Untuk memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki ketinggian kurang lebih sepinggang ibu. Dengan demikian ibu cukup menopang kepala kedua bayi kembarnya saja. Cara lain adalah dengan meletakkan bantal di atas pangkuan ibu. (lihat gambar)

JIKA ASI BERLIMPAH

Untuk ibu yang beruntung memiliki ASI berlimpah dan alirannya deras, ada posisi khusus untuk menghindari agar bayi tidak tersedak. Caranya: ibu tidur telentang lurus sementara bayi diletakkan di atas perut ibu dalam posisi berbaring lurus dengan kepala menghadap ke payudara. (lihat gambar)

PERLEKATAN SAAT MENYUSUI

Selain posisi, hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah perlekatan antara bayi dan ibu saat menyusui. Perlekatan ini penting karena menentukan sedikit-banyaknya ASI yang keluar. Kalau sekadar menempel ke payudara ibu, maka hanya puting yang diisap oleh bayi. Akibatnya meski sudah menyedot sekuat tenaga, ASI hanya keluar sedikit mengingat “gudang” ASI tepat berada di bawah areola. Ibu akan merasa nyeri dan puting pun biasanya lecet.

Berikut tahapan untuk mendapat perlekatan yang baik:

- Temukan posisi senyaman mungkin

Bila ingin duduk, pilihlah kursi yang tidak terlalu tinggi. Upayakan telapak kaki menjejak lantai dengan nyaman. Bila ingin berbaring, perhatikan ketinggian posisi bayi. Usahakan bayi yang mendekatkan diri ke ibu dan bukan sebaliknya. Ini bermanfaat supaya ibu merasa nyaman dan tidak cepat lelah. Bila perlu, manfaatkan bantal sebagai penyangga tubuh bayi.

- Perhatikan posisi bayi

* Idealnya, kepala dan tubuh bayi haruslah lurus dan sejajar.

* Posisi payudara lebih tinggi dari kepala bayi. Jangan sampai kepala bayi lebih tinggi karena bayi pasti sulit menekuk kepalanya sedemikian rupa.

* Dagu bayi harus menempel pada payudara ibu.

* Usahakan supaya dada bayi menempel ke dada ibu atau perutnya menempel ke perut ibu.

* Upayakan semua bagian areola masuk ke dalam mulut bayi. Jika ibu memiliki areola yang besar, utamakan bagian bawahnya masuk lebih banyak dibanding bagian atas. Sekilas bibir bayi tampak dower bila perlekatannya baik dan akan terdengar suara bayi menelan susu (lihat gambar). Sebaliknya, perlekatan yang salah membuat ASI tidak keluar maksimal.

* Arahkan puting dan areola ke langit-langit bayi. Gunakan ibu jari dan jari telunjuk seperti posisi menggunting. Setelah areola masuk seluruhnya ke mulut bayi, jari tangan boleh dilepas.

* Jangan khawatir bayi tak dapat bernapas hanya karena mengisap ASI. Karena kalau tidak bisa bernapas, otomatis bayi akan melepaskan mulutnya dari payudara si ibu kemudian mencari mekanisme senyaman mungkin.

- Lamanya waktu menyusui

Tak perlu khawatir produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi sebab dengan kuasa Tuhan, kapasitas payudara ibu sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Hanya saja, lamanya waktu menyusui berbeda pada setiap bayi, bervariasi antara 15-30 menit. Setelah kenyang, otomatis bayi akan melepaskan isapannya dari payudara ibu. Biarkan saja bayi tertidur meski baru mengisap ASI dari satu payudara. Saat minta disusui kembali, lanjutkan dengan payudara yang satunya. Jadi, jangan buru-buru atau memaksa bayi melepaskan isapannya dari satu payudara hanya agar ia berganti dengan payudara lainnya.

Utami Sri Rahayu. Ilustrasi. Dok. NAKITA

Konsultan ahli:

Dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA.,
Fasilitator Laktasi pada Sentral Laktasi Indonesia


MASALAH YANG KERAP DIJUMPAI SAAT MENYUSUI

Beragam masalah dapat muncul saat ibu menyusui. Namun dengan dukungan keluarga, yakinlah masalah tersebut dapat teratasi.

1. STRES

Ibu yang kurang percaya diri saat menyusui biasanya akan dihantui bayangan stres. Apalagi bila yang dihadapi adalah anak pertama, dimana masih ada rasa “takut” untuk memegang, menggendong, maupun menyusui. Kondisi ini semakin bertambah buruk bila lingkungan keluarga terdekat seperti suami, orang tua, mertua atau saudara yang tinggal serumah tidak memberi dukungan. Padahal bayi yang rewel di usia 2 minggu, 4 minggu, 3 bulan dan 6 bulan adalah wajar karena sedang memasuki masa pertumbuhan yang amat pesat.

Cara mengatasi:

Dukungan dari suami dan keluarga untuk menenangkan atau bahkan membantu perawatan sederhana, seperti mengganti popok, menidurkan, dan sebagainya akan sangat bermanfaat. Bantuan sekecil apa pun semisal mengangkatkan bayi ke pangkuan ibu saat akan disusui pasti menumbuhkan rasa percaya diri ibu. Berikutnya, rasa percaya diri ini berpengaruh langsung pada kelancaran ASI. Bila ibu percaya diri, produksi ASI-nya dijamin lebih lancar dan berlimpah.

2. BINGUNG PUTING

Bayi yang langsung mengisap susu dari botol, umumnya akan mengalami bingung puting. Sebab prinsip kerja mengisap botol sangat berbeda dengan mengisap payudara ibu. Saat mengisap susu botol, bayi tidak perlu menggerakkan lidahnya karena dotnya sudah berlubang. Sedangkan saat menyusu pada payudara ibu, bayi harus menggerakkan lidahnya untuk menekan areola sambil melakukan gerakan mengisap. Jadi, memang butuh keterampilan tersendiri untuk mengisap ASI langsung dari payudara ibu.

Cara mengatasi:

Untuk mengatasinya ibu harus cermat mengamati tanda-tanda bayi yang mulai lapar atau haus. Antara lain bibirnya bergerak-gerak ke sana kemari pertanda gelisah atau langsung menangis. Bila tanda ini mulai terlihat, ibu dapat segera menyusui bayinya. Jangan panik/cemas bila ia terus menangis dan belum mau mengisap karena beberapa saat kemudian pastilah ia akan mencobanya lagi terdorong oleh rasa lapar dan haus. Bila bayi sudah mulai menyusu lagi, hindari pemberian susu melalui botol dan dot.

3. ASI SEDIKIT

Pada dasarnya produksi ASI sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam hal ini refleks oksitosin yang membuat ASI lancar mengalir dari “gudang susu” yang terdapat pada areola. Refleks ini bekerja sebelum dan saat menyusui. Isapan bayi akan menghasilkan rangsangan sensorik dari puting yang selanjutnya menghasilkan hormon oksitosin dalam darah. Pada saat yang sama terjadi pula rangsang sensorik dari puting yang menghasilkan hormon prolaktin dalam darah. Prolaktin inilah yang bertugas memberi perintah langsung kepada “pabrik susu” untuk kembali memproduksi ASI.

Cara mengatasi:

ASI akan berkurang bila tidak langsung diisap atau diperah. Jika payudara tetap penuh akan terbentuk PIF (Prolactin Inhibiting Factor), yakni zat yang menghentikan pembentukan ASI. Jadi, semakin sering diisap, maka produksi ASI pun akan semakin berlimpah.

4. PUTING LECET

Penyebabnya adalah perlekatan yang salah. Terutama bila areola tidak seluruhnya masuk ke dalam mulut bayi tapi hanya bagian putingnya. Akibatnya, puting terasa nyeri dan bila terus dipaksakan untuk menyusui akan lecet.

Cara mengatasi:

Oleskan ASI di puting dan sekitarnya sesaat sebelum menyusui. Efeknya, puting menjadi tidak kaku sekaligus berfungsi sebagai antibiotik meski yang paling penting tentunya memperbaiki perlekatan saat menyusui.

5. MASTITIS/PAYUDARA MERADANG

Bila ASI tak berhasil diisap dan tetap tertahan dalam payudara, maka payudara akan meradang. Untuk menguranginya, mau tidak mau ASI harus dikeluarkan, baik diisap langsung menggunakan alat khusus atau diperah dengan tangan. Umumnya, bayi tidak mau mengisap payudara yang tengah mengalami peradangan karena putingnya kaku.

Cara mengatasi:

Sebagai langkah awal, cobalah mengompres dengan air hangat, kemudian lakukan pemijatan. Caranya, topang bagian bawah payudara dengan satu telapak tangan. Gerakkan jari tangan ke arah puting sambil sesekali lakukan gerakan memutar. Sedangkan untuk memerah, letakkan posisi ibu jari dan telunjuk seperti jarum jam di angka 3 dan 9 (lihat hlm. 14-15), kemudian tekan tegak lurus ke arah dada lalu tarik ke arah luar sambil menekan puting. Lakukan gerakan ini secara berulang-ulang dan sesekali pindahkan jari pada posisi angka 6 dan 12 atau 5 dan 11.

6. PENGGUNAAN ALAT BANTU

Pada bayi-bayi prematur, refleks isap umumnya belum baik. Refleks ini baru muncul/berfungsi baik di usia 32­34 minggu.

Cara mengatasi:

Untuk merangsang kemampuannya mengisap, bantu dengan penggunaan alat khusus. Alat ini akan menampung ASI yang sudah diperas untuk kemudian dialirkan melalui selang halus yang ditempelkan pada payudara ibu. Dengan cara ini bayi akan terangsang untuk mengisap karena ada tetesan ASI melalui selang tadi. Alat ini kerap dimanfaatkan ibu yang mengadopsi anak. Dengan alat ini diharapkan bayi akan terangsang mengisap payudara ibu. Selanjutnya, lewat isapan tersebut produksi oksitosin dan prolaktin akan terpacu sehingga ibu benar-benar mengeluarkan ASI. Ibu dengan kondisi semacam ini umumnya akan berhasil memproduksi ASI dalam jangka waktu 1-6 minggu.

Utami Sri Rahayu. Foto: Dok. NAKITA

Konsultan ahli:

Dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA.,
Fasilitator Laktasi pada Sentral Laktasi Indonesia


5 LANGKAH MEMERAH ASI

Memerah ASI sebetulnya tak sulit selama dilakukan dengan teknik yang benar.

Niat memberikan ASI eksklusif saja ternyata tidak cukup. Banyak ibu
menghadapi kendala, seperti keharusan kembali bekerja. Demi memenuhi hak bayi mendapatkan ASI, ibu harus berupaya lebih. Tinggalkan ASI di rumah sementara ibu bekerja. Toh, ASI bisa diperah, disimpan, untuk kemudian diberikan kepada si kecil. Untuk itulah perlunya keterampilan memerah, terutama bagi ibu yang berhalangan memberikan ASI-nya secara langsung.

PERSIAPAN MEMERAH

Inilah tahapan persiapan memerah ASI:

* Cuci bersih kedua tangan ibu dengan benar dan menggunakan sabun.

* Usahakan relaks dan pilihlah tempat atau ruangan untuk memerah ASI yang tenang dan nyaman.

* Kompres payudara dengan air hangat. Gunakan handuk kecil, waslap, atau kain lembut lainnya.

* Mulailah mengurut payudara dengan langkah sebagai berikut:

A. Massage

* Pergunakan 2 jari, yaitu telunjuk dan jari tengah. Tangan kanan mengurut payudara kiri dan tangan kiri mengurut payudara kanan.

* Bila payudara besar, gunakan keempat jari.

* Dengan tekanan ringan, lakukan gerakan melingkar dari dasar payudara dengan gerakan spiral ke arah puting susu.

B. Stroke

* Dengan menggunakan jari-jari tangan, tekan-tekanlah payudara secara lembut. Dari dasar payudara ke arah puting susu dengan garis lurus, kemudian dilanjutkan secara bertahap ke seluruh bagian payudara.

* Dengan menggunakan sisir yang bergigi lebar, “sisirlah” payudara secara lembut, dari dasar payudara ke arah puting susu.

* Dengan ujung jari, lakukan stroke dari dasar payudara ke arah puting susu.

C. Shake

Dengan posisi tubuh condong ke depan, kocok/goyangkan payudara dengan lembut, biarkan daya tarik bumi meningkatkan stimulasi pengeluaran ASI.

Teknik memerah ASI dengan tangan metode massage, stroking, dan shaking yang disebut metode Marmet dikembangkan oleh Chele Marmet, seorang Lactation Consultant yang menjadi Direktur Lactation Institute di California.

MEMERAH DENGAN TANGAN

1. Letakkan ibu jari di atas kalang payudara dan jari telunjuk serta jari tengah di bawah sekitar 2,5 ­3,8 cm di belakang puting susu membentuk huruf C. Anggaplah payudara sebagai jam, maka posisi/arah ibu jari berada pada jam 12, dua jari lain berada di posisi jam 6. Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tengah saling berhadapan. Jari-jari diletakkan sedemikian rupa sehingga “gudang” ASI berada di bawahnya.

2. Tekan lembut ke arah dada tanpa memindahkan posisi jari-jari tadi. Payudara yang besar dianjurkan untuk diangkat lebih dulu. Kemudian ditekan ke arah dada.

3. Buatlah gerakan menggulung (roll) dengan arah ibu jari dan jari-jari ke depan untuk memerah ASI keluar dari gudang ASI yang terdapat di bawah kalang payudara di belakang puting susu. Jangan menggesekkan ibu jari dan jari-jari pada kulit karena akan menimbulkan rasa sakit atau nyeri.

4. Ulangi gerakan-gerakan tersebut (1,2,3) sampai aliran ASI berkurang. Kemudian pindahkan lokasi ibu jari ke arah jam 11 dan jari-jari ke arah jam 5, lakukan kembali gerakan memerah seperti tadi.

5. Lakukan pada kedua payudara secara bergantian. Begitu tampak ASI memancar dari puting susu, itu berarti gerakan tersebut sudah benar dan berhasil menekan gudang ASI. Jangan lupa untuk meletakkan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperah.

Seluruh prosedur persiapan dan pemerahan dengan tangan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit, meliputi:

- Massage, stroke, dan shake.
- Perah kedua payudara selama 5-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke dan shake.
- Perah kedua payudara selama 3-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke dan shake.
- Perah kedua payudara selama 2-3 menit tiap payudara.

Sebagai catatan, waktu yang dibutuhkan untuk memerah ASI di atas hanyalah patokan saja. Bila pasokan ASI sudah baik/banyak, patokan tersebut dapat diabaikan karena patokan waktu ini bermanfaat bila ASI hanya keluar sedikit atau bahkan belum keluar sama sekali. Yang justru harus diperhatikan adalah aliran ASI. Bila mulai berkurang alirannya segera ganti dengan memerah payudara berikutnya.

Hilman Hilmansyah. Ilustrasi Dok. NAKITA

Konsultan ahli:

dr. Utami Roesli, SpA., MBA., CIMI., IBCLC,
Ketua Yayasan Sentra Laktasi Indonesia

ASI PERAH HANYA KALA IBU-BAYI TERPISAH

Harap diingat, aktivitas menyusui langsung (breastfeeding) sebenarnya lebih bermanfaat dibanding ASI perah. Keterikatan, kedekatan, dan terciptanya suasana aman serta nyaman saat menyusui langsung dapat meningkatkan pertumbuhan fisik maupun psikis bayi. Karena itu, berikan ASI perah hanya kala bayi “terpisah” untuk sementara waktu dari ibunya. Setelah ibu di rumah dan bertemu kembali dengan si kecil, aktivitas menyusui langsung dapat segera dilakukan.

KOSONGKAN “GUDANG” AGAR ASI TERUS DIPRODUKSI

Secara prinsip, payudara terdiri atas tiga unsur utama, yaitu “pabrik”, saluran, dan “gudang” ASI (di daerah warna cokelat atau aerola). Ketiganya ibarat bejana berhubungan. Agar produksi terus berjalan, ASI di gudang harus habis lebih dulu. Bila gudang kosong, barulah pabrik akan mengisinya kembali dan seterusnya. Pendek kata, ASI di gudang harus selalu dihabiskan supaya proses produksi terus berjalan.

Saat memerah ASI, prosesnya hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, bagian yang agak belakanglah yang harus ditekan. Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik yang dilakukan salah. Bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi aktivitas yang tidak sulit.

Kunci memerah ASI dengan tangan adalah menemukan posisi jari-jari yang tepat. Lakukan latihan sampai menemukan posisi atau tempat yang tepat. Menggabungkan pemerahan ASI dengan tangan dan pengurutan payudara merupakan cara memerah ASI yang efektif.

PERAH DENGAN TANGAN LEBIH DIANJURKAN

ASI yang diperah dengan pompa sebenarnya tak direkomendasikan atau tak dianjurkan diberikan kepada bayi. Kenapa? Karena banyak pompa ASI di pasaran yang tidak memenuhi standar. Bahan karet yang terdapat di bagian belakang pompa yang berbentuk seperti bohlam ternyata tak bisa disterilkan. Bahkan bisa menjadi media yang menyalurkan mikroba. Lantaran itu, ASI hasil pompa dianjurkan hanya sebatas untuk mengatasi pembengkakan payudara.

Memang ada pula pompa ASI yang memenuhi standar, seperti pompa elektrik dan pompa berbentuk piston. Namun harganya terbilang mahal. Jadi, yang dianjurkan tetaplah teknik memerah dengan tangan. Selain mudah, tak merepotkan serta tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli peralatan. Modalnya cuma satu, keterampilan ibu memerah ASI dengan tepat seperti di atas.

PENYIMPANAN DAN PEMBERIAN ASI

Setelah diperah, ASI harus disimpan dengan baik agar dapat bertahan lama.

Berikut trik menyimpan ASI:

1. Simpanlah ASI dalam botol atau gelas yang sudah disterilkan terlebih dahulu, lalu tutup rapat-rapat.

2. Sebaiknya cantumkan jam dan tanggal ASI diperah.

3. ASI yang berada di suhu ruangan hanya dapat bertahan 6-8 jam

4. ASI yang disimpan dalam termos es dapat bertahan selama 24 jam.

5. ASI yang disimpan di lemari es dapat bertahan 2 minggu (usahakan tempatnya terpisah dari bahan makanan lain).

6. Jika dimasukkan dalam freezer, ASI bisa tahan sampai 3 bulan. Akan tetapi jangan disimpan di bagian pintu freezer karena di bagian inilah perubahan dan variasi suhu udara paling besar terjadi.

Meski bisa disimpan lama, ASI dianjurkan segera dikonsumsi dalam waktu 2 hari atau 48 jam saja. Kenapa? Karena jika disimpan di lemari es selama 2 minggu kemungkinan ada zat antibodi yang mati akibat udara dingin. Makin lama disimpan tentunya makin banyak zat yang mati. Jadi sebaiknya jangan lewat dari waktu itu supaya kualitas atau komposisinya tidak berubah.

CARA DAN WAKTU PEMBERIAN

Sebelum diberikan kepada bayi, sebaiknya ASI dihangatkan lebih dulu. Tak perlu dipanaskan di atas api karena zat-zat yang terkandung di dalamnya justru akan mati. Jadi, sebatas “dipanaskan” dengan cara merendam gelas/cangkir tempat menyimpan ASI di dalam mangkuk yang telah diisi air hangat.

Berikan ASI perah dengan sendok atau pipet khusus agar si kecil tidak terbiasa mengisap dot dan jadi sulit menyusu pada payudara ibu. Setelah terbiasa dengan dot, bayi hanya akan mengisap ujung puting ibu seperti saat mengedot. Padahal cara menyusu yang benar adalah seluruh aerola ibu masuk ke mulut sang bayi. Alhasil, biasanya ASI yang keluar sedikit, di sisi lain puting ibu malah lecet. Jadi, jalan terbaiknya adalah memberikan ASI perah dengan cara disuapi menggunakan sendok. Tularkan keterampilan ini pada pengasuh, saudara, nenek/kakek sang bayi atau siapa pun yang akan mengasuh si kecil selama ditinggal bekerja.

Lalu kapan sebaiknya ASI perah diberikan? Ya setiap saat si bayi menginginkannya. Sentuhlah pipi si kecil dengan jari. Kalau bayi merespons dengan cara segera membuka mulut dan menoleh ke arah sentuhan tersebut, berarti dia lapar/haus. Segeralah berikan ASI perahan yang sudah disiapkan sebelumnya.

Satu lagi, tak perlu khawatir jika ASI yang berhasil diperah tergolong sedikit. Toh, sebenarnya bayi secara perlahan akan terbiasa dengan kondisi seperti itu. Awalnya mungkin si kecil gelisah karena merasa kurang kenyang, namun 3-4 hari kemudian, bayi akan beradaptasi sambil menunggu ibu kembali ke rumah.

Hilman Hilmansyah. Foto: Ferdi/NAKITA

Konsultan ahli:

dr. Utami Roesli, SpA., MBA., CIMI., IBCLC,
Ketua Yayasan Sentra Laktasi Indonesia

AYAH, DUKUNG IBU, SELAMA MENYUSUI, YA!

Dukungan ayah menentukan keberhasilan program ASI eksklusif.

Di hari pertama seusai melahirkan, ibu pastilah mengalami kelelahan fisik dan mental. Akibatnya, ibu merasa cemas, tidak tenang, hilang semangat, dan sebagainya. Ini merupakan hal normal yang perlu diantisipasi suami maupun pihak keluarga.

Namun dalam beberapa kasus, terutama pada anak pertama, banyak ayah yang lebih sibuk dengan bayinya daripada memerhatikan kebutuhan sang istri. Jika kondisi ini terus-menerus berlanjut maka ibu akan merasa bahwa perhatian suami padanya telah menipis sehingga muncul asumsi-asumsi negatif. Terutama yang terkait erat dengan penampilan fisiknya setelah bersalin. Tubuh yang dianggap tak lagi seindah dulu membuat suami lebih mencintai anak daripada dirinya sebagai istri. Perasaan negatif ini akan membuat refleks oksitosin menurun dan produksi ASI pun terhambat.

HASIL KERJA TIM

Karena pikiran negatif ibu memengaruhi produksi ASI, maka dukungan ayah sangat dibutuhkan. Pentingnya peran ayah dalam mendukung ibu selama memberikan ASI-nya memunculkan istilah breastfeeding father atau ayah menyusui. Jika ibu merasa didukung, dicintai, dan diperhatikan, maka akan muncul emosi positif yang akan meningkatkan produksi hormon oksitosin sehingga produksi ASI pun lancar. Bantulah ibu saat mulai proses menyusui, sehingga cukup waktu baginya untuk istirahat. Sebagai catatan, istirahat yang berkualitas pun penting untuk meningkatkan kualitas ASI.

Bentuk dukungan ayah menyusui sebenarnya cukup banyak, antara lain:

* Tetap memberikan perhatian kepada istri.

* Membantu istri menjaga anak-anak, termasuk kakak si bayi.

* Menciptakan kesempatan agar istri punya waktu lebih banyak dengan si bayi selain cukup waktu untuk beristirahat.

* Tidak melontarkan kritik terhadap bentuk tubuh istri yang umumnya memang melar setelah melahirkan.

* Menemani istri bangun malam hari untuk menyusui, mengganti popok, mengambilkan minum/makan setelah menyusui, menemani ke dokter dan hal-hal lain yang membuat istri menjadi tenang.

Intinya, ayah harus siap setiap saat bila ibu membutuhkan bantuan. Meski secara lahiriah suami tak bisa hamil dan tak bisa memberi ASI, bagaimanapun proses menyusui adalah proses keluarga. Bukankah anak terlahir sebagai bagian keluarga? Jadi merawat dan mendidik anak haruslah dilakukan secara bersama-sama pula.

Santi Hartono. Foto: Dok. nakita

Narasumber:Johanes Papu, Psi.,
psikolog pada www.e-psikologi. com,

sekaligus membagi pengalamannya sebagai ayah menyusui

BENTUK DUKUNGAN LINGKUNGAN:

* POJOK ASI DI MAL DAN TEMPAT UMUM

Saat ini belum banyak fasilitas umum yang menyediakan ruang untuk ibu menyusui. Ini tak lepas dari kebijakan pemerintah dan kesadaran ataupun kepedulian publik terhadap hak-hak anak, termasuk hak bayi untuk mendapatkan ASI. Padahal pemerintah bisa terlibat dengan berbagai cara, misalnya membuat peraturan yang mengharuskan setiap fasilitas umum dilengkapi dengan pojok ASI, sehingga ibu tetap nyaman memberikan ASI-nya meski sedang berada di tempat umum. Dukungan moral dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya.

* KANTOR SAYANG IBU

Kembali bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif. Tentu saja dibutuhkan fasilitas di tempat kerja yang memungkinkan proses ini tetap berjalan. Misalnya tersedia tempat untuk menyusui, memberikan toleransi waktu bagi ibu untuk menyusui bayinya, atau menyediakan ruangan yang memadai untuk memerah dan menyimpan ASI.

Kondisi ini bukan saja baik bagi bayi, tapi juga bagi perusahaan. Penelitian menunjukkan, bayi yang diberi ASI eksklusif tumbuh lebih sehat. Artinya, ia jarang sakit sehingga ibu tak perlu sering izin dari kantor. Memang belum ada penelitian yang mengungkapkan adanya hubungan produktivitas ibu dengan aktivitas menyusui. Tapi satu hal pasti, jika ibu merasa “bersalah” terhadap anaknya karena tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka bisa saja produktivitas kerjanya menurun sebab si ibu sulit memusatkan perhatian pada pekerjaan.

PERTANYAAN FAVORIT SEPUTAR ASI

Banyak ilmu yang masih “abu-abu” seputar ASI. Apakah memang demikian faktanya ataukah sekadar mitos belaka?

* Jika ibu mengalami kesundulan (hamil lagi dalam jarak dekat), apakah pemberian ASI harus dihentikan?

Fakta: Hal ini masih kontroversial. Ada dokter kandungan yang melarang ibu hamil menyusui karena khawatir terjadi kontraksi rahim yang bisa menyebabkan keguguran. Namun ada juga yang tidak melarang. Belum ada penelitian yang betul-betul membuktikan hal tersebut. Juga tak ada anjuran yang pasti dalam keadaan bagaimana seorang ibu hamil harus ekstra hati-hati. Kalau memang merasa nyeri perut dan memiliki riwayat keguguran, bermasalah dengan kandungan, atau malah pernah mengalami perdarahan, sebaiknya hentikan. Akan tetapi kalau kehamilannya sehat-sehat saja alias tidak ada masalah, pemberian ASI bisa diteruskan.

* Sebelum menyusui, ASI yang keluar pertama harus dibuang dulu?

Fakta: Tidak perlu. ASI pertama yang keluar adalah kolostrum yang mengandung banyak zat antibodi untuk kekebalan tubuh. Anggapan ASI yang keluar pertama adalah basi juga tidak benar karena ASI selalu terlindungi dalam payudara ibu. Dengan tujuan membunuh kuman, tiap tetes ASI yang keluar sebelum menyusui boleh saja dioleskan di seputar puting susu ibu.

* Benarkah ASI bisa anyep/dingin/basi?

Fakta: ASI selalu dalam keadaan terlindungi dalam payudara, sehingga tak mungkin basi atau dingin karena selalu sesuai dengan suhu tubuh, kecuali kalau ASI sudah dikeluarkan. Dalam suhu ruang ASI bisa bertahan sekitar 6 jam, dan 2 minggu hari bila ditaruh di kulkas serta 3 bulan di suhu freezer, asalkan tidak sering dibuka-tutup.

* ASI bisa berubah rasa dan warna?

Fakta: Rasa ASI memang bisa berubah dan lebih variatif sesuai dengan makanan yang dikonsumsi ibu. Komposisinya pun tergantung usia anak. Warna ASI juga bisa berubah sesuai kebutuhan zat gizi yang diperlukan bayi.

Inilah urutannya:

- Kolostrum

ASI yang pertama keluar adalah kolostrum yang warnanya agak kekuning-kuningan. Kolostrum banyak mengandung zat antibodi yang bermanfaat bagi tubuh.

- Mature milk

Setelah beberapa hari, tubuh ibu memproduksi susu matang (mature milk) dengan komposisi:

1. Foremilk

Selama 5 menit pertama ASI yang keluar berwarna kebiru-biruan dan tampak encer, dinamakan foremilk. Di dalamnya terkandung protein, laktosa dan nutrisi lainnya.

2. Hindmilk

Selanjutnya, ASI yang diproduksi tubuh disebut hindmilk. Warnanya putih dan mengandung banyak lemak.

* Benarkah payudara kanan mengandung makanan dan yang kiri minuman?

Fakta: Biasanya payudara mana yang disusukan pada bayi tergantung pada kenyamanan posisi ibu. ASI yang dikeluarkan, baik dari payudara kanan maupun kiri, sama-sama mengandung foremilk dan hindmilk atau dengan kata lain memiliki komposisi yang sama. Puaskan bayi pada satu payudara selama kira-kira 15 menit. Bila masih belum puas, barulah pindah ke payudara lainnya. Biasanya ASI yang keluar adalah bagian yang encernya dulu (foremilk), kemudian baru hindmilk.

* Makanan pedas dan bersantan yang dikonsumsi ibu bisa membuat bayi mencret?

Fakta: Tak pernah terjadi bayi mencret hanya gara-gara makanan yang dikonsumsi ibunya. Meski demikian, sebaiknya jangan mengonsumsi makanan yang terlalu merangsang karena ada juga bayi yang menjadi kembung karenanya.

* Ibu menyusui sebaiknya tidak minum es karena membuat bayinya pilek?

Fakta: Tidak ada hubungannya sama sekali. Suhu ASI dalam payudara tetap hangat 37 derajat Celsius. Apa pun yang dikonsumsi ibu akan diserap darah dan nantinya diproduksi menjadi ASI.

* Apakah obat aman dikonsumsi ibu menyusui yang sedang sakit?

Fakta: Rata-rata obat yang diresepkan dokter untuk ibu menyusui kala sakit aman bagi si bayi. Kalaupun ada yang sampai terbawa melalui ASI, pengaruhnya tidak signifikan atau membahayakan bayi. Konsumsi obat juga tidak menyebabkan berkurangnya produksi ASI, kecuali obat-obatan yang mengandung hormon estrogen seperti pil KB, atau obat jenis diuretik yang menyebabkan berkurangnya produksi ASI.

* Jika bayi sakit pilek/batuk maka ibunyalah yang minum obat?

Fakta: Tidak benar. Bila bayi yang sakit, maka obatnya pun harus diminum si bayi dan bukan ibunya. Biasanya obat yang diberikan kepada bayi hanyalah obat-obatan yang sifatnya mengurangi gejala saja. Kalau ibunya yang minum obat, meski keluar melalui ASI, jumlahnya sangat kecil dan tidak bisa dipastikan dosisnya.

* Semasa menyusui ibu harus makan dua porsi lebih banyak?

Fakta: Sebetulnya tidak demikian. Yang terpenting adalah konsumsi menu seimbang. Kalau merasa lapar silakan makan, tapi jangan dipaksa kalau sudah kenyang. Yang harus diperhatikan adalah keseimbangan dan kecukupan gizinya. Sebaiknya ibu pun tidak diet karena komposisi ASI bisa terganggu selain produksinya juga akan berkurang.

* Payudara besar identik dengan ASI berlimpah?

Fakta: Tidak benar. Payudara besar menandakan banyaknya lemak yang menunjang. Sedangkan banyak sedikitnya produksi ASI tergantung pada gudang ASI dimana terdapat kelenjar-kelenjar susu yang menghasilkan ASI. Setiap ibu mempunyai kelenjar yang banyaknya kurang lebih sama.

* Payudara jadi kendur bila menyusui?

Fakta: Justru proses menyusui membuat payudara jadi kencang. Karena adanya kontraksi dari otot-otot dan kelenjar payudara.

* Menyusui bisa mempercepat rahim mengecil kembali?

Fakta: Selama menyusui, refleks isap bayi pada puting susu mem-feedback hormon di otak ibu. Ini menyebabkan kontraksi rahim. Selain mempercepat mengecilnya rahim, kontraksi juga akan mengeluarkan darah nifas yang mungkin masih tertinggal usai melahirkan.

* Bila anak sudah 2 tahun ASI tak bagus lagi?

Fakta: Memang ada anjuran ASI diberikan sampai anak usia 2 tahun saja. Produksi ASI sendiri masih tetap baik. Demikian pula dengan komposisi kandungan gizinya, meskipun telah berubah sesuai usia anak.

* Bayi dengan ASI eksklusif akan susah diberi makanan pendamping lainnya?

Fakta: Justru bayi yang mendapat ASI eksklusif nantinya lebih mudah menerima variasi rasa makanan pendamping. Karena bayi sudah terbiasa memperoleh rasa ASI yang variatif.

* Setelah ibu bekerja produksi ASI akan berkurang?

Fakta: Tidak selalu. Caranya, sebelum dan sesudah bekerja ibu tetap memberikan ASI langsung kepada bayinya. Sementara selama ibu bekerja, ASI tetap dikeluarkan dengan cara diperah tiap 3 jam sekali. Kalau hanya diperah saja tanpa disusukan langsung, produksinya pun akan berkurang karena isapan bayi dapat merangsang kerja otak untuk menghasilkan hormon prolaktin. Bila hanya diperah, rangsang yang ditimbulkannya jelas berbeda.

* Bisakah ASI dikeluarkan kembali setelah menyusuinya terhenti sementara?

Fakta: Sangat mungkin ibu yang pernah menyusui dan memberhentikan ASI-nya kemudian ingin menyusui lagi. Caranya dengan proses relaktasi, yaitu dirangsang melalui isapan bayinya. Butuh waktu beberapa hari untuk bisa keluar lagi. Lebih mudah bila usia bayi kurang dari 2 bulan dibanding bayi 6 bulan ke atas. Namun prinsipnya, bila bayi sering didekatkan, maka suara, tangisan, isapan pada puting susu dan kedekatan ibu dengan bayinya akan membantu produksi ASI kembali, berapa pun usia si bayi.

* Meski ibu malnutrisi komposisi ASI tetap tak berubah?

Fakta: ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi. Kalaupun sampai terjadi malnutrisi, kualitas ASI tetap terjaga dengan mengorbankan sang ibu. Namun kompensasi ini ada batasnya, misalnya ibu dengan malnutrisi berkepanjangan sampai titik tertentu bisa membuat komposisi ASI berubah. Meski demikian tetap lebih baik ASI diberikan daripada tidak sama sekali.

* Bayi yang disusui sampai usia 2 tahun akan lebih lekat dengan orang tuanya?

Fakta: Berdasarkan banyak pengalaman, ikatan anak dengan ibunya menjadi lebih kuat. Kecerdasan emosinya pun lebih stabil dan bagus. Nantinya anak tumbuh menjadi pribadi yang mantap dan penuh percaya diri. Secara intelektual pun anak mempunyai kemampuan yang baik.

*ASI bisa menyebabkan obesitas?

Fakta: Tidak. ASI merupakan cairan hidup. Kandungan yang terdapat di dalamnya begitu diserap tubuh akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Semua zat yang dibutuhkan seperti AA/DHA terdapat dalam ASI dan begitu masuk ke tubuh secara otomatis pula enzim-enzim berharga itu tercipta.

* Bila mengenai pipi bayi, ASI akan menyebabkan eksim/dermatitis?

Fakta: ASI relatif aman. Kemungkinan dermatitis pada pipi bayi karena ASI kecil sekali.

*Bila ASI terkena alat kelamin bayi laki-laki kelak bisa menyebabkan impoten?

Fakta: Tak ada hubungannya sama sekali antara ASI sebagai penyebab impotensi kelak.

*Bayi yang sakit mata bisa sembuh hanya dengan ditetesi ASI?

Fakta: Belum ada penelitiannya. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik segera bawa si kecil ke dokter mata.

* Dilarang menyusui saat magrib karena takut si bayi “kemasukan”?

Fakta: Ini jelas-jelas mitos yang tak ada alasannya. Bayi bisa disusui kapan pun dia membutuhkannya.

*Bolehkah bayi minum ASI donor?

Fakta: Meski bukan ASI dari ibunya, pengaruhnya tetap lebih baik buat si bayi dibanding bila ia mendapat susu formula.

*Bila bayi kuning, ASI harus dihentikan?

Fakta: Bayi kuning awal biasanya terjadi di hari kedua atau kesepuluh dalam kehidupannya. Untuk mencegah agar tak semakin parah, justru sangat dianjurkan pemberian ASI yang lebih banyak. Jadi, jangan batasi frekuensinya dan tak perlu memberi tambahan cairan lainnya seperti air mineral dan sebagainya.

Dedeh Kurniasih. Ilustrator: Pugoeh

Narasumber:

dr. Nanis Sacharina Marzuki, Sp.A.,
Konselor Laktasi dari Klinik Anakku, Cinere, Jakarta

KE MANA BERKONSULTASI TENTANG ASI

Sentra LAKTASI Indonesia:

Jl. Agung Perkasa Raya Blok J5 No. 16 Sunter Agung Podomoro, Jakarta Utara Telp. (021) 651 0183

Jakarta

* PK. St. Carolus
Jl. Salemba Raya No. 41 Jakarta 10440 Telp. (390) 4441 pes. 7257

* RS Husada
Jl. Raya Mangga Besar No. 137-139 Jakarta Barat Telp. (021) 626 0108

* RSAB Harapan Kita
Jl. S. Parman Kav. 87 Jakarta Barat Telp. (021) 566 8284 pes. 1205

* RS Pondok Indah
Jl. Metro Duta Kav. VE Jakarta Selatan Telp. (021) 765 7525

* RS OMC
Jl. Pulomas Barat VI No. 20 Jakarta Timur Telp. (021) 472 3332

* RS Pertamina Jaya
Jl. Achmad Yani No.2 By Pass Jakarta Pusat Telp. (021) 421 1911 ext. 4254

* RSAL Mintoharjo
Jl. Bendungan Hilir Raya Jakarta Pusat Telp. (021) 574 9037/574 9038

* RS Bunda Jakarta
Jl. Teuku Cik Ditiro Jakarta Pusat Telp. (021) 3192 4917

* RS Medistra
Jl. Gatot Subroto Kav. 59 Jakarta Selatan Telp. (021) 527 7382 ext. 217-222

Bekasi

* RSIA Hermina Bekasi
Jl. Kemakmuran No. 39 Margajaya, Bekasi Telp. (021) 884 2121

Depok

* RSIA Hermina Depok
Jl. Raya Siliwangi No. 50 Pancoran Mas, Depok Telp. (021) 7720 2525

Bogor

* RS PMI Bogor
Jl. Pajajaran 80 Bogor Telp. (0251) 324080

* RS Azra Bogor
Jl. Pajajaran No. 129 Bogor Telp. (0251) 318456

Bali

* RSB Puri Bunda
Jl. Gatot Subroto VI/19 Denpasar, Bali Telp. (0361) 437999 Fax. (0361) 433988

Makassar

* Poltekkes Makassar (Aswita Amir, Siti Mardiah, SKM) Jurusan Gizi
Jalan Paccerakkane KM 14 Daya Makassar Telp./Fax. (0411) 510197

Batam

* RS AWAL BROS BATAM
Jl. Gajah Mada Kav. I Baloi, Batam Telp. (0778) 431777

Riau

* RS Awal Bros Pekanbaru
Jl. Jendral Sudirman No.117 Tangkerang Pekanbaru, Riau 28282 Telp. (0761) 47333 ext. 2300

* RS PT Caltex Pacific Indonesia
Pekanbaru Riau Telp. (0761) 594297

Banten

* RS Misi Rangkasbitung Jl. Multatuli No. 41 Rangkasbitung Lebak, Banten 42311 Telp. (0252) 201014

* RS International Bintaro Jl. MH Thamrin No.1 Sektor 7 Bintaro Jaya Tangerang, Banten Telp. (021) 745 5500

* RS. Siloam Gleneagles Jl. Siloam No. 6 Lippo Karawaci Tangerang, Banten Telp. (021) 546 0055 pes. 7151

Surakarta

* Yayasan Kakak (Fajar Yulianta/Sofie)
Jl. Slamet Riyadi No. 534 B Telp. (0271) 711453

Medan

* RSU Dr. Pirngadi
Jl. Prof. H.M. Yamin SH. No.47 Medan 20217 Telp. (061) 453 6022 ext. 267

Yogyakarta

* RS Panti Rapih
Jl. Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223 Telp. (0274) 514845 pes. 227

Surabaya

* RS Mitra Keluarga Surabaya
Jl. Satelit Indah II Darmo Satelit Surabaya 60187 Telp. (031) 734 5333

Semarang

* RS St. Elisabeth
Jl. Kawi No.1 Telp. (024) 831 0076 pes. 7405

Kaltim

* RS Pupuk Kaltim
Jl. Oxygen, Bontang Kalimantan Timur 75313 Telp. (0548) 41118 pes. 237

Irfan Hasuki



Food Poisoning
Maret 26, 2008, 6:54 am
Diarsipkan di bawah: MPASI

About food poisoning…

Almost any food can become contaminated by a virus, bacteria, or parasite and cause food poisoning. Foods can also make you sick if they are contaminated with pesticides or other toxins.

The most common symptoms of food poisoning include vomiting, diarrhea, abdominal cramps, nausea and fever and they begin a short time after eating a contaminated food. In most people symptoms are mild and clear up quickly, but food poisoning can lead to dehydration, kidney failure and even death.

Foods most likely to cause illness include raw or undercooked ground beef (E. coli), pork (bacteria and trichinella worms), chicken (Salmonella), seafood (especially shell fish which can be contaminated with hepatitis A and other viruses and bacteria) , and eggs (Salmonella). Fruits and vegetables can also be contaminated with viruses such as hepatitis A and parasites. Unpasteurized milk and fruit juices (especially apple cider) can also be contaminated with bacteria and should be avoided.

Preventing food poisoning…
To help prevent your family from getting sick from eating contaminated foods, follow these guidelines when buying and preparing their meals:

  • Keep your refrigerator at or below 41 degrees F and your freezer at 0 degrees.
  • When shopping for foods, quickly return home and refrigerate perishable foods and place bags that contain meats, poultry, fish and eggs separately from other foods to avoid contamination.
  • Do not buy or use foods without intact packaging.
  • Do not buy or use cans that have been dented or that are bulging.
  • Consider using a plastic cutting board to prepare foods, since bacteria can become trapped in the grooves of wooden cutting boards.
  • Wash your hands for twenty seconds with soap and warm water before preparing foods, before you begin to prepare a new food and again before you serve the food.
  • Avoid cross-contamination of foods by washing utensils, cutting boards, and all kitchen surfaces that come in contact with raw meats and poultry before preparing a new food with them. Also be careful to use a separate plate for cooked foods then the one you used when the food was still raw.
  • Rinse fruits and vegetables before serving or eating.
  • Thaw and marinate foods in the refrigerator, instead of leaving them out at room temperature.
  • Wash dishcloths in hot water after using them to clean up after raw meats and poultry.
  • Keep pets away from all areas where you prepare foods.
  • Thoroughly cook foods to kill germs and consider using a meat thermometer to ensure proper cooking temperatures. Red meats should be cooked to an interior temperature of 160 degrees F and make sure the inside is brown or gray to make sure it is fully cooked. Hamburgers especially should not be served rare. Poultry should be cooked to an interior temperature of 180 degrees F and until the juices run clear.
  • Refrigerate leftovers and do not leave foods out at room temperature for more than two hours.
  • Throw away partially eaten foods and beverages.
  • Thoroughly reheat leftovers before eating.
  • Do not eat raw eggs.
  • Do not drink unpasteurized milk or fruit juices (especially apple cider that is not pasteurized or heat treated).
  • Do not use foods or beverages that taste, look or smell unusual.

If you are unsure if a food is still good, be safe and throw it out.



Vegetables For Baby
Maret 26, 2008, 6:52 am
Diarsipkan di bawah: MPASI

A Variety of Vegetables Used for Homemade Baby Food Recipes.

Learn all about these healthy and yummy vegetables that may be incorporated into your homemade baby food recipes and baby food meal experience.

Sweet Potato

So is it a Yam or is it a Sweet Potato?

In the United States, Yams and Sweet Potatoes are one and the same and the terms are used interchangeably for the same vegetable. The word “yam” originates from the African word “nyami” which is a starchy root.

True yams are tubers. They are found in Africa and the Caribbean and sometimes in Europe. True yams can grow up to 100 pounds and attain a length of seven feet! Sweet potatoes are “storage roots” and seldom grow to be larger than 2 pound each. Sweet potatoes are in the Morning Glory family and Yams are in their own Yam family. There is a clear difference between the two species and they are not even remotely related.


Broccoli

Broccoli is a member of the cabbage family. It sounds rather odd that broccoli is a member of the cabbage family as it certainly looks nothing like what we think of as cabbage! Broccoli is related closely to cauliflower with the main difference being in coloration. A cool weather crop, broccoli does not grow well in hot summer weather and/or climates.

Broccoli is very high in Vitamin C and is a great source of soluble fiber! Soluble fiber is the fiber that helps loosen up the bowels as it changes its form as it passes through the digestive tract.


Green Beans

Green Beans are just little things yet they are packed full of nutrients that you wouldn’t even think of!

The green bean is also known as the string bean. This variety of bean used to have a fibrous string that ran along the seam of the bean. Another name for the green bean is the “snap bean” because when the ends are broken off for preparing, you often hear a snapping noise.

Corn

First, the good news about Corn! Corn contains a good amount of protein and carbohydrates – making it a great food for energy. Corn however is lacking in so many other nutrients that its nutritional value compared to a majority of other vegetables is substandard.

GM or Bt corn, that which is making more and more headway into the market and onto your dinner table, is continually being modified to contain more Vitamins and “healthy” fats amongst other things. GM and Bt foods are not without controversy and scientists really do not know the impact that these modified foods will have on humans or the environment.

Carrots

Carrots, a most confusing, sometimes fear invoking vegetable when it comes to preparing homemade baby food. This topic will focus on the carrot as a healthy, nutritious food for your baby.

Rather than re-writing the Nitrate article here, we would like to point you to our Nitrates article for almost everything you ever wanted to know about Carrots and Nitrates!

Peas

The nutritional value of peas is amazing when you think of the small size of a cup of peas.

One cup of peas contains more protein that a tablespoon of peanut butter and also provides calcium, Vitamin A and C and Iron too!

These wonderful vegetables are a great first “green” food for baby as they are nutritious, and mostly pleasant to eat. When making homemade peas for baby, you may find it tough getting the “skins” to puree smoothly. If this is the case and your baby is not used to textures yet.

Squash

Squash comes in many shapes, sizes, colours and flavours. Squash of one type or another grows in the United States from Spring right until the last autumn leaf drops from the Fall tree. There are essentially two types of squash “winter” squash and “summer” squash. This topic will explore the many wonders of squash.

Tomatoes

Tomatoes are typically not recommended to be introduced to an infant until somewhere between the 10th and the 12th month of age. The reason for this is due not to possible allergies per se rather the acidity of tomatoes.



Feeding Guide
Maret 26, 2008, 6:37 am
Diarsipkan di bawah: MPASI

Feeding Guide for the First Year

Making appropriate food choices for your baby during the first year of life is very important. More growth occurs during the first year than at any other time in your child’s life. It is important to feed your baby a variety of healthy foods at the proper time. Starting good eating habits at this early stage will help set healthy eating patterns for life.

Recommended feeding guide for the first year:

Do not give solid foods unless your child’s physician advises you to do so. Solid foods should not be started before 4 months of age because:

- breast milk or formula provides your baby all the nutrients that are needed to grow.

- your baby is not physically developed enough to eat solid food from a spoon.

- starting your baby on solid food too early increases the chance that he/she may develop a food allergy.

- feeding your baby solid food too early may lead to overfeeding and being overweight.

The American Academy of Pediatrics recommends that all infants, children, and adolescents take in enough vitamin D through supplements, formula, or cow’s milk to prevent complications from deficiency of this vitamin. Your baby’s physician can recommend the proper type and amount of vitamin D supplement for your baby.

Guide for Formula Feeding (0 to 5 Months)

Divider

All foods made from meat, poultry, fish, dry beans or peas, eggs, nuts, and seeds are considered part of this group. Protein is also found in plants such as legumes, dry beans and peas

Most meat and poultry choices should be lean or low-fat. Fish, nuts, and seeds contain healthy oils, so choose these foods frequently instead of meat or poultry.

Some commonly eaten choices in the protein food group are:

CATEGORY

ITEMS

REMARKS

Meats

Beef, ham, lamb, pork, veal, ground beef, ground pork, ground lamb

Game meats

Bison, rabbit, venison

Processed meat

Sausages, Burger, Ham, Bacon, nuggets

Processed meats such as ham, sausage, frankfurters, and luncheon or deli meats have added sodium and salt, not needed and good for babies and toddlers.

Ovals

Liver, Giblets, brain, others

Liver and other organ meats are high in cholesterol.

Poultry

Chicken, duck, goose, turkey, ground chicken, ground turkey

Egg

chicken eggs
duck eggs

Egg yolks are high in cholesterol, but egg whites are cholesterol-free. Make sure that your child eats fully cooked eggs.

Finfish

Catfish, cod, flounder, haddock, halibut, herring, mackerel, Pollock, porgy, salmon, sea bass, snapper, swordfish, trout, tuna

Select fish rich in omega-3 fatty acids, such as salmon, trout, and herring, more often Choose non-boney fish for your toddlers.

Shellfish

Clams, crab, crayfish, lobster, mussels, octopus, oysters, scallops, squid (calamari), shrimp

Canned fish

Anchovies, clams, tuna, sardines

Dry beans and peas

Black beans, black-eyed peas, chickpeas (garbanzo beans), falafel, kidney beans, lentils, lima beans (mature), navy beans, pinto beans, soy beans, split peas, tofu, tempeh, white beans

Nuts and seeds

Almonds, cashews, hazelnuts, mixed nuts, peanuts, peanut butter, pecans, pistachios, pumpkin seeds, sesame seeds, sunflower seeds, walnut

Sunflower seeds, almonds, and hazelnuts (filberts) are the richest sources of vitamin E in this food group. To help meet vitamin E recommendations, make these your nut and seed choices more often.

Nutrients and Health Implications
Divider

Foods in the protein food group provide nutrients that are vital for health and maintenance of your body. However, choosing foods from this group that are high in saturated fat and cholesterol may have health implications.

Nutrients

  • Meat, poultry, fish, dry beans and peas, eggs, nuts, and seeds supply many nutrients. These include protein, B vitamins (niacin, thiamin, riboflavin, and B6), vitamin E, iron, zinc, and magnesium.
  • Proteins function as building blocks for bones, muscles, cartilage, skin, and blood. They are also building blocks for enzymes, hormones, and vitamins. Proteins are one of three nutrients that provide calories (the others are fat and carbohydrates).
  • B vitamins found in this food group serve a variety of functions in the body. They help the body release energy, play a vital role in the function of the nervous system, aid in the formation of red blood cells, and help build tissues.
  • Vitamin E is an anti-oxidant that helps protect vitamin A and essential fatty acids from cell oxidation.
  • Iron is used to carry oxygen in the blood. Many teenage girls and women in their child-bearing years have iron-deficiency anemia. They should eat foods high in heme-iron (meats) or eat other non-heme iron containing foods along with a food rich in vitamin C, which can improve absorption of non-heme iron.
  • Magnesium is used in building bones and in releasing energy from muscles.
  • Zinc is necessary for biochemical reactions and helps the immune system function properly.

Health implications

  • Diets that are high in saturated fats raise “bad” cholesterol levels in the blood. The “bad” cholesterol is called LDL (low-density lipoprotein) cholesterol. High LDL cholesterol, in turn, increases the risk for coronary heart disease. Some food choices in this group are high in saturated fat. These include fatty cuts of beef, pork, and lamb; regular (75% to 85% lean) ground beef; regular sausages, hot dogs, and bacon; some luncheon meats such as regular bologna and salami; and some poultry such as duck. To help keep blood cholesterol levels healthy, limit the amount of these foods you eat.
  • Diets that are high in cholesterol can raise LDL cholesterol levels in the blood. Cholesterol is only found in foods from animal sources. Some foods from this group are high in cholesterol. These include egg yolks (egg whites are cholesterol-free) and organ meats such as liver and giblets. To help keep blood cholesterol levels healthy, limit the amount of these foods you eat.
  • A high intake of fats makes it difficult to avoid consuming more calories than are needed.

MEATS

Divider

When your baby reaches the 7 and 8 month old mark, you may think of the need to introduce Meats into the diet. One of the most important reasons that parents begin to introduce Meats is for the protein factor. Meat is one of the best sources of “complete” protein available. Along with Meat, some excellent sources of protein are eggs, nuts, and dairy products. Protein is also found in plants such as legumes (like beans, peas, lentils), some vegetable, grains and fruits though these sources of proteins comprise “incomplete” proteins.

Many parents worry that not introducing Meat into an infants diet will harm the baby’s growth. This should not be a concern until baby hits age 12 months and older however. Consider this: a baby’s main source of nutrition comes from either breastmilk, formula, or both during the first 12 months of life. These food sources contain adequate amounts of proteins to sustain and allow your baby to grow and develop properly. Even at the 12 month age mark, your baby still does not require Meat in the diet. What your baby does need is Protein!

As mentioned earlier, there are 2 types of Proteins, Complete and Incomplete. There are 22 essential Amino Acids. Our bodies produce 13 of the essential amino acids however we rely on food sources to get the other 9 essential amino acids.

 Complete Proteins are those that contain all 9 of the essential Amino Acids. The best source of complete protein is Meat, Eggs, Dairy and Nuts and Seeds.

 Incomplete Proteins are lacking in 1 or more of the 9 essential Amino Acids. Plant foods such as legumes, grains, fruits etc.. are considered to contain the Incomplete proteins.

Whether or not you choose to introduce meat into your baby’s diet prior to 12 months of age, if at all, is entirely a personal decision. Rest assured however that Meat itself is NOT a necessity in an infants diet – Protein is!! Your child can receive all the Proteins needed by combing the foods that contain both the complete and the incomplete proteins without ever having to eat Meat. An example; peanut butter and bread, black beans and rice, cottage cheese and avocado, milk and a grain cereal.

FISH AND SHELLFISH

Divider

Fish, specifically shellfish and “boney” fish, are known allergens for an infant. It is often recommended to introduce fish only after a baby has reached 1 year of age. Many sources suggest waiting until after 3 years old. Still, other sources say that introducing fish to a baby at 9-10 months old is perfectly safe. Shellfish should not be introduced to a child who may be allergy prone until around 3 years old or even older. Shellfish such as lobster, oysters et al. can induce deadly allergic reactions. Another reason it is suggested to wait to introduce fish to an infant is due to the levels of mercury that fish may contain. When first introducing fish, it is important to select one of the “white flesh” fish types. Be sure to discuss introducing fish, especially shellfish, with your pediatrician prior to serving it!

Fish are highly nutritional and eating fish 2 times a week is recommended for both adults and children. Fish contain protein, are low in “bad” fats and contain Essential Fatty Acid (EFA’s) – Omega-3 fatty acids. The Omega 3 fatty acids that fish have are DHA and EPA. These EFA’s are not found in any other protein source, not even in meat or plants.

EFA’s found in fish and fish oil products help fight off both physical and mental diseases. It has been suggested and some studies show that fish oil (or other foods that contain Omega 3’s) may even help alleviate ADHD or eczema. Getting these EFA’s from fish itself is better than consuming fish oil supplements. However, if you are not a fan of fish, fish oil is the next best source available. Adding fish oil to your baby’s diet is a possibility and should be thoroughly discussed with your pediatrician!

Flounder, Haddock, Cod, and Sole are the white flesh fish and are considered some of the safest to introduce. They are the most easily digestible and lowest on the allergen list and as such, are best to use when first introducing baby to fish. It is VERY important that you ensure the fish is entirely de-boned!! Be mindful of the fact that some fish contain tiny bones so take great care when de-boning. You may poach, bake or steam the fish and then puree as you would any other meat. Some fish is so tender when cooked that you may be able to simply fork mash it. Don’t be afraid to blend it with veggies or even fruits! Remember, your baby is not aware that flounder mixed with pears is really not a nice mix (for adults anyway!)

Mercury levels in fish has been and will remain a large health concern for women who are considering getting pregnant, who are currently pregnant, who are breastfeeding and also for infants and young children. It is very important that those falling into the above groups do not consume fish with high levels of mercury!! It has been found that fish species such as swordfish, king mackerel, shark and tilefish contain the highest amounts of mercury. Mercury can do severe damage to developing nervous systems should consumption of mercury tainted fish be commonplace. Salmon, contrary to popular belief, has lower levels of mercury than one typically thinks as does tuna. Cold water fish have lower levels of mercury and also contain higher levels of Omega 3’s.

EGGS

Divider

General dietary recommendations from the American Heart Association are that adults eat no more than 3-4 eggs yolks each week. There aren’t any formal recommendations for children, but like adults, it is recommended that children limit their intake of cholesterol to 300mg each day. Since an egg contains about 213mg of cholesterol, eating eggs too often can cause your child to have a diet that is high in cholesterol.

Eggs can be a healthy part of your child’s diet though and shouldn’t be avoided altogether. In addition to being high in cholesterol, eggs also have a lot of benefits, including being high in protein, iron, minerals and B vitamins.

Instead of worrying about how many eggs your child eats, it is more important to look at and plan his overall diet by trying to follow the Food Guide Pyramid.

In the Food Pyramid, eggs are a part of the Meat, Poultry, Fish, Dry Beans and Nuts food group. Younger children, aged 2-6, should get two servings from this food group each day, while older children can have 2-3 servings.

In addition to recommended daily servings from the Meat food group, it is important to look at how much cholesterol your child is getting from other foods. If he already has a diet that is high in cholesterol, with large amounts of whole milk, cheese, yogurt, processed meats or ice cream, then eating eggs on a regular basis is probably not a good idea. If his diet is low in cholesterol and saturated fats and he eats a lot of foods with fiber, then routinely eating eggs is probably okay.

It is also important to keep in mind that the general recommendations for eating 3-4 eggs per week include eggs that are eaten as an ingredient of other foods, such as cakes. For example, if you use 4 eggs to bake a cake and your child eats 2 of the 8 pieces of the cake, then that is equal to eating one whole egg.

And the relationship between dietary cholesterol and how or whether or not it influences your blood cholesterol level is controversial. Many critics of the American Heart Association’s recommendations think that it is much more important to limit the amount of saturated fats in a person’s diet, instead of limiting cholesterol.

MeatsBEANS, NUTS AND SEEDS

Divider

Many people do not make varied choices from this food group, selecting meat or poultry everyday as their and their children main dishes. Varying choices and including fish, nuts, and seeds in meals can boost intake of monounsaturated fatty acids (MUFAs) and polyunsaturated fatty acids (PUFAs). Most fat in the diet should come from MUFAs and PUFAs. Some of the PUFAs are essential for health—the body cannot create them from other fats.

Some nuts and seeds (flax, walnuts) are excellent sources of essential fatty acids, and some (sunflower seeds, almonds, hazelnuts) are good sources of vitamin E.

Tips to help you make wise choices from the meat & beans group
Divider

Go lean with protein:

  1. Omega 3Start with a lean choice:
    • The leanest beef cuts include round steaks and roasts (round eye, top round, bottom round, round tip), top loin, top sirloin, and chuck shoulder and arm roasts.
    • The leanest pork choices include pork loin, tenderloin, center loin, and ham.
    • Choose extra lean ground beef. The label should say at least “90% lean”. You may be able to find ground beef that is 93% or 95% lean.
    • Buy skinless chicken parts, or take off the skin before cooking.
    • Boneless skinless chicken breasts and turkey cutlets are the leanest poultry choices.
    • Choose lean turkey, roast beef, ham, or low-fat luncheon meats for sandwiches instead of luncheon meats with more fat, such as regular bologna or salami.
  2. Keep it lean:
    • Trim away all of the visible fat from meats and poultry before cooking.
    • Broil, grill, roast, poach, or boil meat, poultry, or fish instead of frying.
    • Drain off any fat that appears during cooking.
    • Skip or limit the breading on meat, poultry, or fish. Breading adds fat and calories. It will also cause the food to soak up more fat during frying.
    • Prepare dry beans and peas without added fats.
    • Choose and prepare foods without high fat sauces or gravies.

Vary your protein choices:

  • Choose fish more often for lunch or dinner. Look for fish rich in omega-3 fatty acids, such as salmon, trout, and herring.
    Some ideas are:
    • Salmon steak or filet
    • Salmon loaf
    • Grilled or baked trout
  • Choose dry beans or peas as a main dish or part of a meal often. Some choices are:
    • Stir- fried tofu
    • Baked/boiled beans
    • Rice and beans
  • Choose nuts as a snack, on salads, or in main dishes. Use nuts to replace meat or poultry, not in addition to these items:
    • Use pine nuts in pesto sauce for pasta.
    • Add slivered almonds to steamed vegetables.
    • Add toasted peanuts or cashews to a vegetable stir fry instead of meat.
    • Sprinkle a few nuts on top of low-fat ice cream or frozen yogurt.

Keep it safe to eat:

  • Separate raw, cooked and ready-to-eat foods.
  • Do not wash or rinse meat or poultry.
  • Wash cutting boards, knives, utensils and counter tops in hot soapy water after preparing each food item and before going on to the next one.
  • Store raw meat, poultry and seafood on the bottom shelf of the refrigerator so juices don’t drip onto other foods.
  • Cook foods to a safe temperature to kill microorganisms. Use a meat thermometer, which measures the internal temperature of cooked meat and poultry, to make sure that the meat is cooked all the way through.
  • Chill (refrigerate) perishable food promptly and defrost foods properly. Refrigerate or freeze perishables, prepared food and leftovers within two hours.
  • Plan ahead to defrost foods. Never defrost food on the kitchen counter at room temperature. Thaw food by placing it in the refrigerator, submerging air-tight packaged food in cold tap water, or defrosting on a plate in the microwave.
  • Avoid raw or partially cooked eggs or foods containing raw eggs and raw or undercooked meat and poultry.

Dirangkum oleh: Dian Safitri

Sumber:

www.mypiramid.gov

www.wholesomebabyfood.com

www.keepkidshealthy.com

www.pediatrics.about.com

GRAINS/CEREAL

What foods are in the grain group?
Divider

Any food made from wheat, rice, oats, cornmeal, barley or another cereal grain is a grain product. Bread, pasta, oatmeal, breakfast cereals, tortillas, and grits are examples of grain products.

Grains are divided into 2 subgroups, whole grains and refined grains.

Whole grains contain the entire grain kernel — the bran, germ, and endosperm. Examples include:

  • whole-wheat flour
  • bulgur (cracked wheat)
  • oatmeal
  • brown rice

Refined grains have been milled, a process that removes the bran and germ. This is done to give grains a finer texture and improve their shelf life, but it also removes dietary fiber, iron, and many B vitamins. Some examples of refined grain products are:

  • white flour
  • white bread
  • white rice

Most refined grains are enriched. This means certain B vitamins (thiamin, riboflavin, niacin, folic acid) and iron are added back after processing. Fiber is not added back to enriched grains. Check the ingredient list on refined grain products to make sure that the word “enriched” is included in the grain name. Some food products are made from mixtures of whole grains and refined grains.

How much is needed?
Divider

6-12 month: 2 – 3 small servings per day

1 – 3 years old: 6 servings or more per day

How much is 1 small serving?
Divider

6-12 month: 2 – 3 small servings per day

1 – 3 years old: 6 servings or more per day

1 porsi kecil = ¼ genggaman ibu; roti ½ potong

1 porsi sama dengan 1 iris roti, ½ cangkir nasi/pasta, 1 cangkir cereal


Grains as infants’ first foods
Divider

Grains, especially rice and oatmeal cereal, are the least of the allergenic grains and easy to digest for infants’ developing digesting system thus most babies are started out with those cereals.

Do we have to start giving solid food with cereal?

Do You CAN skip cereals altogether if you want to! Starting with a fruit like avocado or banana or a veggie like sweet potato is a great alternative to cereal(s)! There is no medical need to start baby out with cereals; unless your pediatrician has indicated your baby may need extra iron due to less than overall good health or due to being pre-term. In this instance, you should use a fortified commercial infant cereal and consult with your pediatrician on the best foods to offer as “first” foods.

How to introduce cereal?

Begin with one- fourth teaspoon of cereal and advance to a tablespoon, and so on. Mix it with breastmilk or formula to the desired consistency. Cereal alone is very bland and may be refused by your baby.

Don’t serve a mixed cereal until you’ve tried each of the ingredients separately to be sure baby is not allergic to any of them. Once you know your baby is not allergic to different fruits and cereals, you can experiment by combining various fruits with cereal in various consistencies.

What is the best way to make homemade cereal?

The easiest way to make your own cereals is to grind up the grains on your own. You may take Rice, Oatmeal, pasta etc and use a blender or food processor (or even a coffee grinder) to grind the grains into a powder. This powder then becomes your baby cereal. Cook this powder for 15 minutes until a thin soupy consistency is achieved.

What type of Rice do I use for Homemade Rice Cereals?

The type of brown rice that you would want to use for cereals would ideally be a short-grain brown rice.

Short-grain rice cooks up more soft than does long or medium grain rice. The only caveat is that it may become sticky and “pasty” when pureed so keep an watch over the rice when cooking and pureeing/blending it.

You may use a blend of any type of rice that you like; ensure that it is whole grain however. Brown jasmine rice and plain brown rice make a nice blend for cereals as do basmati and plain brown rice.

If you find that your baby does not like this blend, then consider switching to the plain brown rice type until the palate has become used to solid foods!

What about iron fortification in Homemade Baby Cereal?

You will not be able to “fortify” homemade baby cereals the way commercial cereals are fortified.

There are many things you may add to the cereals that will give an “iron boost” such as formula, breast milk, wheat germ, and brewer’s yeast. Once you have introduced fruits and veggies along with the cereals, you will get Vitamin C which helps to aid in the absorption of iron.

Many infants have been raised on homemade cereals/baby foods – they have never suffered iron deficient anemia nor have they needed additional vitamin/mineral supplements. This is something that you should discuss with your baby’s pediatrician as there may be a medical need for iron fortified cereals and/or supplements.

Can I use quick cook or instant cereal (rice, havermut)?

“Quick” cook grains are processed with enzymes that make give them the ability to be quick cooked. It is best to NOT use these types of grains especially when first introducing cereals to baby.

May Homemade Baby Cereals be frozen like Fruit/Veggie Purees?

Yes, you may freeze homemade cereal. You would use the ice cube tray method (or whatever method of freezing you currently use) as you would for other baby food purees. It tends to be easier to grind and then store the uncooked grains and simply cook a day’s worth as you go. It often happens that when you thaw the cereal, it becomes rubbery and does not reconstitute well. We do hear from parents who have great luck in freezing cereal. You may want to try freezing a few
portions and see how it works for you!

What about wheat?

Around 8 months old, your baby has probably had barley and oatmeal. Both barley and oatmeal contain gluten; gluten is the allergen in wheat. There are many “forms” of wheat and wheat based products.

Doctors generally recommend that baby not have wheat until at least 9 months to 1yr old. Wheat products may be introduced earlier with your pediatrician’s ok and will depend on your family history of food allergies.

Many pediatricians do say that starting baby on some wheat products around 8 months old is acceptable. Make sure to check with your pediatrician before introducing wheat in any form (i.e.. Whole wheat icontoast, pasta, cereals,

People say that giving cereal at night can help baby sleep better, is it true?

Cereals are often suggested as a way to fill baby up, lengthening the interval between feedings, and even sleeping longer at night. This “filler fallacy” is an unwise feeding pattern. Cereal is not nearly as nutritious as breastmilk or formula. Besides, this practice rarely works.

Popcorn icon

Why is it important to eat grains, especially whole grains?
Divider

Eating grains, especially whole grains, provides health benefits. People who eat whole grains as part of a healthy diet have a reduced risk of some chronic diseases. Grains provide many nutrients that are vital for the health and maintenance of our bodies.


Health benefits

  • Consuming foods rich in fiber, such as whole grains, as part of a healthy diet, reduces the risk of coronary heart disease.
  • Consuming foods rich in fiber, such as whole grains, as part of a healthy diet, may reduce constipation.
  • Eating at least 3 ounce equivalents a day of whole grains may help with weight management.
  • Eating grains fortified with folate before and during pregnancy helps prevent neural tube defects during fetal development.

Nutrients

Food sources of the nutrients in bold can be found in the Dietary Guidelines for Americans. Click on the nutrient name to link to the food sources table.

  • Grains are important sources of many nutrients, including dietary fiber, several B vitamins (thiamin, riboflavin, niacin, and folate), and minerals (iron, magnesium, and selenium).
  • Dietary fiber from whole grains, as part of an overall healthy diet, helps reduce blood cholesterol levels and may lower risk of heart disease. Fiber is important for proper bowel function. It helps reduce constipation and diverticulosis. Fiber-containing foods such as whole grains help provide a feeling of fullness with fewer calories. Whole grains are good sources of dietary fiber; most refined (processed) grains contain little fiber.
  • B vitamins (thiamin, riboflavin, niacin, and folate)play a key role in metabolism – they help the body release energy from protein, fat, and carbohydrates. B vitamins are also essential for a healthy nervous system. Many refined grains are enriched with these B vitamins.
  • Folate (folic acid), another B vitamin, helps the body form red blood cells. Women of childbearing age who may become pregnant and those in the first trimester of pregnancy should consume adequate folate, including folic acid from fortified foods or supplements. This reduces the risk of neural tube defects, spina bifida, and anencephaly during fetal development.
  • Iron is used to carry oxygen in the blood. Many teenage girls and women in their childbearing years have iron-deficiency anemia. They should eat foods high in heme-iron (meats) or eat other iron containing foods along with foods rich in vitamin C, which can improve absorption of non-heme iron. Whole and enriched refined grain products are major sources of non-heme iron.
  • Whole grains are sources of magnesium and selenium. Magnesium is a mineral used in building bones and releasing energy from muscles. Selenium protects cells from oxidation. It is also important for a healthy immune system.

Tips to help you eat whole grains
Divider

At Meals:

  • To eat more whole grains, substitute a whole-grain product for a refined product – such as eating whole-wheat bread instead of white bread or brown rice instead of white rice. It’s important to substitute the whole-grain product for the refined one, rather than adding the whole-grain product.
  • For a change, try brown rice or whole-wheat pasta. Try brown rice stuffing in baked green peppers or tomatoes and whole-wheat macaroni in macaroni and cheese.
  • Use cereal puree as thickening ingredient in your baby food recipes.

As Snacks:

  • Snack on ready-to-eat, whole grain cereals such as toasted oat cereal.
  • Add whole-grain flour or oatmeal when making cookies or other baked treats.
  • Popcorn, a whole grain, can be a healthy snack with little or no added salt and butter.

Whole Grain Tips for Children

  • Set a good example for children by eating whole grains with meals or as snacks.
  • Let children select and help prepare a whole grain side dish.
  • Teach older children to read the ingredient list on cereals or snack food packages and choose those with whole grains at the top of the list.

Sumber: www.mypiramid.gov



Obesitas dan Overweight
Maret 26, 2008, 6:34 am
Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN

Overweight and Obesity
Defining Overweight and Obesity

Overweight and Obesity Among Adults

Results of the National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) 1999–2000 indicate that an estimated 64 percent of U.S. adults are either overweight or obese, defined as having a body mass index (BMI) of 25 or more.

Overweight

Overweight refers to increased body weight in relation to height, when compared to some standard of acceptable or desirable weight (NRC p.114; Stunkard p.14). NOTE: Overweight may or may not be due to increases in body fat. It may also be due to an increase in lean muscle. For example, professional athletes may be very lean and muscular, with very little body fat, yet they may weigh more than others of the same height. While they may qualify as “overweight” due to their large muscle mass, they are not necessarily “over fat,” regardless of BMI.

Desirable weight standards are derived in a number of ways:

  • By using a mathematical formula known as Body Mass Index (BMI), which represents weight levels associated with the lowest overall risk to health. Desirable BMI levels may vary with age.
  • By using actual heights and weights measured and collected on people who are representative of the U.S. population by the National Center for Health Statistics. Other desirable weight tables have been created by the Metropolitan Life Insurance Company, based on their client populations.

These sources are consistent with the U.S. Dietary Guidelines and with the National Heart, Lung, and Blood Institute’s Clinical Guidelines on the Identification, Evaluation, and Treatment of Overweight and Obesity in Adults.

Obesity

Obesity is defined as an excessively high amount of body fat or adipose tissue in relation to lean body mass. (NRC p114; Stunkard p14) The amount of body fat (or adiposity) includes concern for both the distribution of fat throughout the body and the size of the adipose tissue deposits. Body fat distribution can be estimated by skinfold measures, waist-to-hip circumference ratios, or techniques such as ultrasound, computed tomography, or magnetic resonance imaging.

Overweight and Obesity Among Children and Adolescents

  • The percentage of children and adolescents who are defined as overweight has more than doubled since the early 1970s.
  • About 15 percent of children and adolescents are now overweight.

In spite of the public health impact of obesity and overweight, these conditions have not been a major public health priority in the past. Halting and reversing the upward trend of the obesity epidemic will require effective collaboration among government, voluntary, and private sectors, as well as a commitment to action by individuals and communities across the nation.

Body Mass Index (BMI)

BMI is a common measure expressing the relationship (or ratio) of weight-to-height. It is a mathematical formula in which a person’s body weight in kilograms is divided by the square of his or her height in meters (i.e., wt/(ht)2. The BMI is more highly correlated with body fat than any other indicator of height and weight (NRC p563).

Individuals with a BMI of 25 to 29.9 are considered overweight, while individuals with a BMI of 30 or more are considered obese.

What BMI levels are risky?

According to the NIH Clinical Guidelines on the Identification, Evaluation, and Treatment of Overweight and Obesity in Adults, all adults (aged 18 years or older) who have a BMI of 25 or more are considered at risk for premature death and disability as a consequence of overweight and obesity. These health risks increase even more as the severity of an individual’s obesity increases.

Waist circumference

Waist circumference is a common measure used to assess abdominal fat content. The presence of excess body fat in the abdomen, when out of proportion to total body fat, is considered an independent predictor of risk factors and ailments associated with obesity.

What waist size is risky? Undesirable waist circumferences differ for men and women.

  • Men are at risk who have a waist measurement greater than 40 inches (102 cm).
  • Women are at risk who have a waist measurement greater than 35 inches (88 cm).

NOTE: If a person has short stature (under 5 feet in height) or has a BMI of 35 or above, waist circumference standards used for the general population may not apply.

Waist-to-hip ratio (WHR)

Waist-to-hip ratio (WHR) is the ratio of a person’s waist circumference to hip circumference, mathematically calculated as the waist circumference divided by the hip circumference. For most people, carrying extra weight around their middle increases health risks more than carrying extra weight around their hips or thighs. (NOTE: Overall obesity is still more risky than body fat storage locations or waist-to-hip ratio.)

What waist-to-hip ratio is considered risky?
For both men and women, a waist-to-hip ratio of 1.0 or higher is considered “at risk” or in the danger zone for undesirable health consequences such as heart disease and other ailments connected with being overweight.

What is a good waist-to-hip ratio?
For men, a ratio of .90 or less is considered safe.
For women, a ratio of .80 or less is considered safe.

References

Stunkard AJ, Wadden TA. (Editors) Obesity: theory and therapy, Second Edition. New York : Raven Press, 1993.

National Research Council. Diet and health: implications for reducing chronic disease risk. Washington , DC : National Academy Press, 1989.

National Institutes of Health. Clinical guidelines on the identification, evaluation, and treatment of overweight and obesity in adults. Bethesda , Maryland : Department of Health and Human Services, National Institutes of Health, National Heart, Lung, and Blood Institute, 1998.

http://www.surgeongeneral.gov/topics/obesity/calltoaction/fact_adolescents.htm

The Surgeon General’s Call To Action To Prevent and Decrease Overweight and Obesity

Overweight in Children and Adolescents

THE PROBLEM OF OVERWEIGHT IN CHILDREN AND ADOLESCENTS

 In 1999, 13% of children aged 6 to 11 years and 14% of adolescents aged 12 to 19 years in the United States were overweight. This prevalence has nearly tripled for adolescents in the past 2 decades.

 Risk factors for heart disease, such as high cholesterol and high blood pressure, occur with increased frequency in overweight children and adolescents compared to children with a healthy weight.

 Type 2 diabetes, previously considered an adult disease, has increased dramatically in children and adolescents. Overweight and obesity are closely linked to type 2 diabetes.

 Overweight adolescents have a 70% chance of becoming overweight or obese adults. This increases to 80% if one or more parent is overweight or obese. Overweight or obese adults are at risk for a number of health problems including heart disease, type 2 diabetes, high blood pressure, and some forms of cancer.

 The most immediate consequence of overweight as perceived by the children themselves is social discrimination. This is associated with poor self-esteem and depression.

THE CAUSES OF OVERWEIGHT

 Overweight in children and adolescents is generally caused by lack of physical activity, unhealthy eating patterns, or a combination of the two, with genetics and lifestyle both playing important roles in determining a child’s weight.

 Our society has become very sedentary. Television, computer and video games contribute to children’s inactive lifestyles.

 43% of adolescents watch more than 2 hours of television each day.

 Children, especially girls, become less active as they move through adolescence.

DETERMINATION OF OVERWEIGHT IN CHILDREN AND ADOLESCENTS

 Doctors and other health care professionals are the best people to determine whether your child or adolescent’s weight is healthy, and they can help rule out rare medical problems as the cause of unhealthy weight.

 A Body Mass Index (BMI) can be calculated from measurements of height and weight. Health professionals often use a BMI “growth chart” to help them assess whether a child or adolescent is overweight.

 A physician will also consider your child or adolescent’s age and growth patterns to determine whether his or her weight is healthy.

GENERAL SUGGESTIONS

 Let your child know he or she is loved and appreciated whatever his or her weight. An overweight child probably knows better than anyone else that he or she has a weight problem. Overweight children need support, acceptance, and encouragement from their parents.

 Focus on your child’s health and positive qualities, not your child’s weight.

 Try not to make your child feel different if he or she is overweight but focus on gradually changing your family’s physical activity and eating habits.

 Be a good role model for your child. If your child sees you enjoying healthy foods and physical activity, he or she is more likely to do the same now and for the rest of his or her life.

 Realize that an appropriate goal for many overweight children is to maintain their current weight while growing normally in height.

PHYSICAL ACTIVITY SUGGESTIONS

 Be physically active. It is recommended that Americans accumulate at least 30 minutes (adults) or 60 minutes (children) of moderate physical activity most days of the week. Even greater amounts of physical activity may be necessary for the prevention of weight gain, for weight loss, or for sustaining weight loss.

 Plan family activities that provide everyone with exercise and enjoyment.

 Provide a safe environment for your children and their friends to play actively; encourage swimming, biking, skating, ball sports, and other fun activities.

 Reduce the amount of time you and your family spend in sedentary activities, such as watching TV or playing video games. Limit TV time to less than 2 hours a day.

HEALTHY EATING SUGGESTIONS

 Follow the Dietary Guidelines for healthy eating (www.health.gov/dietaryguidelines).

 Guide your family’s choices rather than dictate foods.

 Encourage your child to eat when hungry and to eat slowly.

 Eat meals together as a family as often as possible.

 Carefully cut down on the amount of fat and calories in your family’s diet.

 Don’t place your child on a restrictive diet.

 Avoid the use of food as a reward.

 Avoid withholding food as punishment.

 Children should be encouraged to drink water and to limit intake of beverages with added sugars, such as soft drinks, fruit juice drinks, and sports drinks.

 Plan for healthy snacks.

 Stock the refrigerator with fat-free or low-fat milk, fresh fruit, and vegetables instead of soft drinks or snacks that are high in fat, calories, or added sugars and low in essential nutrients.

 Aim to eat at least 5 servings of fruits and vegetables each day.

 Discourage eating meals or snacks while watching TV.

 Eating a healthy breakfast is a good way to start the day and may be important in achieving and maintaining a healthy weight.

IF YOUR CHILD IS OVERWEIGHT

 Many overweight children who are still growing will not need to lose weight, but can reduce their rate of weight gain so that they can “grow into” their weight.

 Your child’s diet should be safe and nutritious. It should include all of the Recommended Dietary Allowances (RDAs) for vitamins, minerals, and protein and contain the foods from the major Food Guide Pyramid groups. Any weight-loss diet should be low in calories (energy) only, not in essential nutrients.

 Even with extremely overweight children, weight loss should be gradual.

 Crash diets and diet pills can compromise growth and are not recommended by many health care professionals.

 Weight lost during a diet is frequently regained unless children are motivated to change their eating habits and activity levels for a lifetime.

 Weight control must be considered a lifelong effort.

 Any weight management program for children should be supervised by a physician.

OBESITY RISK MAY STEM FROM PRE-BIRTH AND EARLY CHILDHOOD FACTORS



Below is a news release on the supplement to the October issue of Pediatrics, the peer-reviewed, scientific journal of the American Academy of Pediatrics (AAP).

For Release:
October 4, 2004, 12:01 am (ET)

CHICAGO – A child’s risk of becoming obese may begin before birth and continue throughout infancy and early childhood – critical periods for cellular growth and development, according to research results discussed during a national conference and outlined in the October supplement to Pediatrics.

The conference, “Preventing Childhood Obesity: A National Conference Focusing on Pregnancy, Infancy, and Early Childhood Factors,” was organized by the non-profit organization Shape Up America! The Washington , DC , conference was held in December 2003.

During the last 30 years, the number of obese children and adults has grown rapidly. The percentage of children ages 6 to 11 who are overweight increased from 4 percent in the 1970s to 15 percent in 1999-2000.

Studies presented at the conference showed that a child’s size at birth and early eating habits may affect body mass and weight gain. Such critical periods, according to researchers, should be the focus of childhood obesity prevention efforts.

While large for gestational age (LGA) infants (generally greater than the 90th percentile of weight at birth) are more susceptible to high weight or high body mass index (BMI) later in life, these infants have a greater proportion of lean tissue relative to body fat and a lower risk of cardiovascular disease, stroke, hypertension, and type 2 diabetes at a given BMI.

Conversely, small for gestational age (SGA) infants have a greater percentage of body fat and a higher risk of obesity-related conditions and diseases.

Rapid infant weight gain during the first year of life increases the risk of high adult BMI, particularly for SGA infants. An early “adiposity rebound,” the time in childhood when body fat reaches a minimum and then rises – usually between ages 5 and 6 – also increases adult obesity risk.

Breastfeeding may prevent obesity later in life, according to the supplement, as can a parent’s encouragement of healthy eating during the toddler and early childhood years. Increased activity and decreased television viewing were also encouraged.

The conference recommended more research on the effects of breastfeeding and formula, early exposure to flavors and food groups, and parental feeding styles on later child behavior, food choices and body weight. Increased monitoring of pediatric weight and improved tools for measuring and defining obesity and body mass were also encouraged.

The American Academy of Pediatrics is an organization of 60,000 primary care pediatricians, pediatric medical subspecialists and pediatric surgical specialists dedicated to the health, safety and well-being of infants, children, adolescents and young adults.

http://www.aap.org/advocacy/releases/octobesity.htm

Assalamu’alaikum.. good night all..

Membaca postingan dari Smart Parents, saya merasa bersyukur sekali, kita adalah bagian dari bangsa ini yang merasakan nikmat kesehatan dan kesejahteraan yang Alloh berikan. Beberapa SPs menceritakan keluhannya mengenai pola dan kebiasaan makan anaknya. Bingung… karena tidak tahu jenis makanan apa yang harus diberikan kepada anaknya. Bukan bingung karena tidak bisa memberi makan anaknya. Bingung… dengan variasi makanan yang ada, harus diberikan berapa banyak dan kapan diberikannya. Bukan bingung karena tidak punya uang untuk membeli makanan. Bingung… harus memberikan susu formula merek apa. Bukan bingung karena tidak bisa membelikan susu bagi anaknya (jadi teringat lagunya Iwan Fals yang menceritakan ketidak sanggupannya membeli susu karena harga BBM naik).

Saat dinas jaga dua malam lalu, di rawat inap terbaring seorang balita berumur 2 tahun dengan BB 6 kg saja! Itupun setelah melewati masa perawatan semingguan, tentunya dengan sedikit perbaikan gizi. Balita yang dirawat di sebuah klinik cuma-cuma khusus dhu’afa (warga miskin) ini tinggal di sekitar Ciputat, yang berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan. Ia didiagnosis busung lapar, tepatnya Kurang Energi Protein (KEP) tipe marasmus, dengan diare dehidrasi sedang. Ini adalah fakta: seorang balita dengan busung lapar di tepian Jakarta!

Barusan browsing di detik.com dan kompas.com, baru ‘ditemukan’ seorang balita 2,5 tahun dengan busung lapar juga di Jakarta Utara. Dua kasus ini jelas-jelas berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu.

Saya kadang merasa bersyukur, bisa bekerja di tempat yang membuat saya bersentuhan langsung dengan mereka yang papa. Yang kerjanya hanya sebagai kuli bangunan–jika tidak ada proyek, maka mereka sebagai kepala keluarga menganggur yang kerjanya sebagai pedagang mainan di sebuah SD, padahal anaknya yang berumur 8 tahun menderita hipertensi grade 2 dengan penyebab yang tidak jelas; yang kerjanya sebagai tukang urut panggilan; yang kerjanya sebagai pengamen jalanan, sedangkan ia menderita diabetes melitus tipe 1 yang langka; yang kerjanya sebagai pembantu rumah tangga dan menderita DM tipe 2 dengan komplikasi; dan yang-yang lain. Mudah-mudahan saya bisa tetap ‘terjaga’ dan mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan-Nya pada saya, dengan melihat keadaan mereka.

Saya pun banyak belajar dari para SPs di milis ini. Mereka yang diberi kesempatan untuk mampu memperhatikan kesehatan dirinya dan orang-orang yang dicintainya. Buah hati mereka. Dengan tiada suatu kendala ekonomi pun. Maka sudah sepatutnya kita mensyukuri nikmat ini.

Mudah-mudahan kita semua senantiasa diberikan kemampuan untuk melihat ke sekeliling kita, yang jauh lebih kekurangan.

http://www.lkc.or.id

http://drarifianto.multiply.com



Berkurang Makanan Bayi
Maret 26, 2008, 6:28 am
Diarsipkan di bawah: MPASI

BERKURANGNYA MAKANAN “BAYI”

9 –12 Bulan

Bayi anda sudah mendekati masa batitanya sekarang. Dia lincah dan seringkali tidak bisa diam. Semakin mendekati ulang tahun pertamanya, ia makin membutuhkan makanan padat yang bervariasi dan semakin banyak jumlahnya.

Beberapa bulan kedepan, bayi anda akan mengurangi konsumsi makanan “bayi” nya dan lebih banyak makanan dewasa (table food) dan bahkan mulai tidak terlalu tertarik dengan ASI atau susu botolnya. Sekalipun ia sangat tertarik dengan makanan padat, ASI dan susu formula masih memberikan fondasi nutrisi dalam masa laju pertumbuhan ini.

Usia 9-12 bulan

Tanda kesiapan untuk pemberian makanan padat dan finger food
• Sama halnya dengan 6-8 bulan, PLUS

• Mengunyah dengan lebih mudah

• Lebih banyak gigi yang tumbuh
• Mengambil makanan dan obyek lain dengan jempol dan telunjuknya atau jari tengah
• Memasukkan apapun ke mulut
• Menggerakkan rahang seperti sedang mengunyah

• Aktif bergerak merasakan, mencium bau, bersuara dan penglihatan

• Bersiap untuk berubah dari ASI atau botol ke cangkir

Apa yang dimakan

• ASI dan susu formula DITAMBAH

• Biji-bijian (beras, oatmeal, gandum)

• Sayuran dan buah-buahan

• Daging merah dan daging unggas giling

• Kuning telur

• Mashed cooked beans, peas and lentils Kacang, kacang polong dan kacang lentil rebus yang ditumbuk

• Keju cheddar dan yogurt khusus bayi (bukan yang rendah lemak atau yang tanpa lemak)

• Makan yang bisa dipegang sendiri (finger food): wafel yang dipanggang sebentar, potong-potong; potongan pisang; biskuit bayi; sereal dengan kadar gula rendah

• Jus buah tanpa sitrus

• TANPA tambahan susu sapi

Tipe

· 3-4 bahan (diberikan terpisah atau dicampur)

· Berbentuk potongan atau bisa dipegangnya)

· Dimasak (kecuali alpukat dan pisang)

Frekwensi

· Makanan 1-2 kali per hari

· Camilan: 1 kali per hari

· ASI: sesuai keinginan atau setiap 4-5 jam

Porsi sehari

· 24-31 oz susu formula

· ¼ hingga 1/3 cangkir produk susu (yogurt bayi, keju cheddar parut)

· ¼ hingga ½ cangkir sereal

· ¼ hingga ½ cangkir buah

· ¼ hingga ½ cangkir sayuran

· 1/8 hingga ¼ cangkir makanan sumber protein

· 3-4 oz jus buah tanpa sitrus

Tip memberi makan

Pada masa ini, bayi anda sedang berkembang menjadi seorang petualang sejati – merangkak dan mungkin mulai berjalan. Ia mungkin tidak bermasalah dalam mengunyah makanan padatnya, namun masih ada poin-poin penting yang harus diingat. Selera makannya masih berkembang, maka berilah contoh yang baik dan berikan pilihan makanan yang baik agar terbentuk kebiasaan makan yang sehat.

· Perkenalkan satu makanan baru setiap kali, dengan selang waktu minimal 3 hari untuk memastikan bahwa bayi anda tidak alergi

· Begitu ia mulai mengunyah

- Perkenalkan makanan yang memiliki tekstur. Hancurkan buah dan sayuran matang dengan garpu atau beli makanan bayi siap saji yang memiliki lebih banyak tekstur. Pilih makanan yang perlu dikunyah.

- Coba berikan makanan yang tidak licin di sendoknya, seperti bubur oatmeal atau bubur daging.

· Pada tahap ini, kemampuan bayi untuk mengambil dengan menggunakan jempol dan telunjuknya makin berkembang.

- Perkenalkan makanan yang bisa dipegangnya sendiri dari jenis yang baik termasuk wortel matang, kentang, kacang polong atau buah lunak yang dipotong seukuran suapannya.

- Beri anak anda sendok sendiri pada saat makan dan biarkan ia menyuap sendiri. Ini juga untuk mencegahnya merebut sendok anda. Biasanya ia baru benar-benar bisa menyuap setelah ulang tahunnya yang pertama, namun ini merupakan latihan yang baik dan menunjukkan padanya bahwa anda percaya padanya. Kentang tumbuk dan apel tumbuk merupakan awal yang baik untuknya. Sambil ia menyuapi dirinya sendiri, andapun bisa menyuapinya.

· Tunda penggunaan susu sapi murni hingga setelah berusia satu tahun.

Susu sapi bukanlah pengganti yang sesuai untuk ASI atau susu formula. Tundalah pengenalan terhadap susu sapi murni ini hingga ia berusia satu tahun.

· Ajak makan bersama seluruh keluarga

Ajak bayi anda makan bersama keluarga. Ia pasti menyukai suasananya.

· Berantakan bukanlah masalah.

Eksplorasi dan mencoba hal baru selama makan pasti menyebabkan berantakan. Hal ini sangat biasa pada masa belajar. Agar tidak merasa frustrasi, sebelum waktu makan tempatkan keset plastik dibawah kursi makannya dan pastikan ada lap pembersih di dekat anda. Akan jauh lebih baik bila pemberian makan dilakukan pada saat anak lapar dan ingin makan, bukan pada saat ingin bermain

· Tawarkan makanan yang berbeda dan bervariasi

- Makan makanan yang berbeda-beda rasa, bentuk dan teksturnya akan memastikan anak mendapatkan serangkaian nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, selain itu juga membentuk kebiasaan makan yang sehat dengan membiasakan makan makanan yang beragam. Jangan biarkan selera makan anda pribadi mempengaruhi jenis makanan yang anda berikan untuk anak.

- Sajikan tiap makanan satu per satu dan tidak tercampur satu dengan lainnya, biarkan bayi anda merasakan perbedaan rasa dari setiap bahan makanan yang tersaji. Cobalah.

· Waspadai bahaya tercekik

Beberapa makanan memiliki ukuran, bentuk dan teksturnya tersendiri yang mungkin saja menyangkut di tenggorokan anak dan menyebabkannya tercekik. Hindari makanan yang licin atau berbentuk bulat seperti anggur dan permen yang keras. Beberapa makanan lain yang perlu diperhatikan adalah kacang, gumpalan selai kacang, potongan wortel mentah, hotdog/sosis atau daging dengan ukuran besar lainnya dan popcorn.

· Minum dari cangkir

- Tiap bayi memiliki selera cangkirnya sendiri-sendiri. Umumnya, ketika belajar pertama kali, sebaiknya gunakan cangkir yang ringan, tanpa kuping atau sedotan. Sedotan perlu dihindari pada saat masa awal karena bayi anda perlu belajar bagaimana memindahkan cairan dari bagian depan ke bagian belakang mulutnya.

- Waktu makan siang dan makan malam adalah saat yang tepat untuk menggunakan cangkir karena bayi anda juga mendapatkan nutrisi dari makanan padatnya. Kemudian, cobalah pada waktu pagi hari dan kemudian malam hari.



Pola Makan Anak
Maret 26, 2008, 6:14 am
Diarsipkan di bawah: MPASI, POLA MAKAN

Awasi Pola Makan Anak Anda

Reporter: Ellyana Nurcahyanti

detikcom – Jakarta, Masih banyak orangtua mengira di dalam makanan serta minuman anak yang mengandung gula tidak tersimpan kadar kalori yang tinggi. Sebaiknya segeralah mengubah pola pikir ini.

Meskipun terbebas dari lemak sekalipun kadar kalori dalam makanan serta minuman masih tetap ada. Perhatikan dosisnya. Jangan sampai berlebihan sebab tidak baik bagi keseimbangan metabolisme tubuh untuk perkembangan dan pertumbuhan anak.

Mengkonsumsi kalori yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari, walaupun dalam bentuk gula, nantinya juga akan tersimpan sebagai lemak di dalam tubuh. Hal ini membuat kandungan gula atau karbohidrat dalam otak menjadi berlebihan.

Mengurangi kadar gula dalam makanan anak Anda sangat berguna untuk memperoleh tubuh yang sehat dan bebas penyakit. Jauhkan anak Anda dari minuman yang mengandung soda, minuman instant bercita rasa buah, serta aneka minuman yang mengandung pewarna. Karena jenis minuman ini dapat menaikkan kadar gula sebanyak 100 gr sehari.

Wajar adanya bagi seorang anak untuk mengkonsumsi minuman yang mengandung gula lebih dari 1000 kalori sehari. Ini dikarenakan 16 ons dari minuman tersebut mengandung 70 gr gula atau lebih. Dan hal tersebut sama saja dengan kadar gula yang terdapat di dalam 3 potong cake.

Anak-anak pada umumnya gemar mengkonsumsi jus atau minuman yang mengandung rasa buah. Meskipun minuman buah atau jus yang diminumnya itu merupakan jus buah alami tanpa bahan pengawet, namun dapat menjadi sumber kalori dan gula yang sangat besar. Misalkan saja, dalam 12 ons gelas jus anggur, terkandung di dalamnya 60 gr fructose atau gula buah serta lebih dari 200 kalori.

Hingga kini mungkin Anda berpikir bahwa asupan makanan serta minuman yang dikonsumsi oleh si kecil semata-mata berguna bagi perkembangan serta pertumbuhannya. Namun, semua itu haruslah disesuaikan dengan kondisi kesehatan anak Anda.

Sebaiknya jangan terlalu banyak memberinya makanan serta minuman yang mengandung kadar gula tinggi. Biasakan untuk mengajari anak Anda pola hidup sehat sejak dini.(msh)

sumber : detik.com



Menu MPASI 4
Maret 26, 2008, 6:04 am
Diarsipkan di bawah: MPASI

Menu Makanan Bayi (4)

MENU UNTUK BAYI USIA 10-12 BULAN

BAHAN: SUMBER PROTEIN

TAHU KUKUS
Nutrisi Utama: Protein

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:
1 bungkus tahu sutera (atau 1 buah tahu putih)

Cara Membuat:

1. Tahu dibersihkan dan dipotong-potong. Kukus sampai matang.

2. Sajikan

TEMPE KUKUS

Nutrisi Utama: Protein

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:
100 gr tempe

Cara Membuat:
1. Tempe dibersihkan dan dicincang. Kukus sampai matang.

2. Sajikan.

AYAM/DAGING KUKUS

Nutrisi Utama: Protein

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 dada ayam tanpa kulit dan lemak

atau

3 sdm daging sapi cincang tanpa lemak


Cara Membuat:

1. Kukus ayam/daging hingga matang (10-12 menit).

2. Sajikan.

HATI AYAM KUKUS

Nutrisi Utama: Protein, Zat Besi, Zinc & Vitamin A

Kategori: Sumber Protein; Anak Usia 10 bln+

Bahan:

1 pasang hati ayam
1 cangkir air atau kaldu ayam

ASI/susu formula


Cara Membuat:

1. Bersihkan hati ayam.

2. Rebus hati ayam dengan air atau kaldu ayam dengan api kecil.

3. Tiriskan lalu potong-potong.

AYAM + PISANG

Nutrisi Utama: Beta-karotin, Protein, Potasium

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 fillet dada ayam, potong dadu
½ buah pisang ambon yang matang.


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit sampai matang (daging ayam akan terlihat putih saat matang). Angkat dan tiriskan.

2. Pisang dipotong-potong.

3. Campurkan lalu sajikan.

AYAM + APEL

Nutrisi Utama: Vitamin C, Protein

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 fillet dada ayam, potong dadu
1 buah apel, kupas, buang bagian tengahnya, potong-potong


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit sampai matang (daging ayam akan terlihat putih saat matang). Angkat dan tiriskan.

2. Kukus apel sampai lunak.

3. Campurkan lalu sajikan.

AYAM + ALPUKAT

Nutrisi Utama: Vitamin C, Protein, Potasium

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 fillet dada ayam, potong dadu
1 buah alpukat, ambil daging buahnya, potong-potong


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit sampai matang (daging ayam akan terlihat putih saat matang). Angkat dan tiriskan.

2. Sajikan ayam + alpukat.

AYAM + WORTEL

Nutrisi Utama: Vitamin C, Beta Karotin, Protein

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 fillet dada ayam, potong dadu

1 batang wortel, kupas, potong-potong bundar


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit sampai matang (daging ayam akan terlihat putih saat matang). Angkat dan tiriskan.

2. Kukus wortel sampai lunak.

3. Campurkan lalu sajikan.

AYAM + ALPUKAT + WORTEL

Nutrisi Utama: Vitamin C, Beta Karotin, Protein, Potasium

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 fillet dada ayam, potong dadu
1 buah alpukat, ambil daging buahnya, potong-potong

1 batang wortel, kupas, potong-potong bundar


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit sampai matang (daging ayam akan terlihat putih saat matang). Angkat dan tiriskan.

2. Kukus wortel sampai lunak.

3. Campurkan wortel dan alpukat.

4. Sajikan bersama dengan ayam rebus.

AYAM + ALPUKAT + KACANG POLONG

Nutrisi Utama: Vitamin C, Protein, Potasium

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 fillet dada ayam, potong dadu
1 buah alpukat, ambil daging buahnya, potong-potong

2 sdm kacang polong, cuci bersih


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit sampai matang (daging ayam akan terlihat putih saat matang). Angkat dan tiriskan.

2. Didihkan 1 cangkir air lalu rebus kacang polong selama 5 menit. Tiriskan. Penyet-penyet kacang polong dengan sendok atau cobek.

3. Campur alpukat + kacang polong. Sajikan bersama dengan ayam rebus.

AYAM + PISANG + WORTEL

Nutrisi Utama: Vitamin C, Beta Karotin, Protein, Potasium

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 fillet dada ayam, potong dadu
1 buah pisang, ambil daging buahnya

1 batang wortel, kupas, potong-potong bundar


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit sampai matang (daging ayam akan terlihat putih saat matang). Angkat dan tiriskan.

2. Kukus wortel sampai lunak.

3. Penyet-penyet pisang dengan sendok atau cobek.

4. Campurkan pisang dengan wortel.

5. Sajikan bersama dengan ayam rebus.

AYAM + SAYUR HIJAU

Nutrisi Utama: Vitamin C, Protein, Zat Besi

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 fillet dada ayam, potong dadu
2 sdm kacang polong, cuci bersih

1 genggam daun bayam, cuci bersih


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit sampai matang (daging ayam akan terlihat putih saat matang). Angkat dan tiriskan. Ambil airnya 3 sdm.

2. Didihkan air lalu rebus kacang polong sampai lunak. Tiriskan. Penyet-penyet dengan sendok/cobek.

3. Pakai sisa air rebusan kacang polong untuk merebus bayam. Tiriskan. Rajang daun bayam.

4. Campurkan kacang polong + bayam + air rebusan ayam.

5. Sajikan sayuran hijau dengan ayam rebus.

AYAM + UBI JALAR

Nutrisi Utama: Vitamin C, Protein, Zat Besi

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

1 fillet dada ayam, potong dadu
1 buah ubi jalar, kupas, potong-potong


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit sampai matang (daging ayam akan terlihat putih saat matang).

2. Kukus ubi sampai empuk.

3. Sajikan ubi jalar dan ayam.

HATI AYAM + PISANG

Nutrisi Utama: Protein, Zat Besi, Zinc & Vitamin A

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

3 potong hati ayam, cuci bersih
1 buah pisang, ambil daging buahnya


Cara Membuat:

1. Rebus hati ayam selama 20 menit sampai matang. Cincang kasar.

2. Potong-potong daging pisang.

3. Sajikan hati dan pisang.

HATI AYAM + PISANG + KACANG POLONG

Nutrisi Utama: Protein, Zat Besi, Zinc & Vitamin A

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

3 potong hati ayam, cuci bersih
1 buah pisang, ambil daging buahnya

2 sdm kacang polong, cuci bersih


Cara Membuat:

1. Rebus hati ayam selama 20 menit sampai matang. Tiriskan. Cincang kasar.

2. Didihkan sisa air rebusan hati lalu rebus kacang polong sampai matang. Penyet-penyet dengan sendok atau cobek.

3. Potong-potong daging pisang.

4. Sajikan hati + pisang + kacang polong.

HATI AYAM + ALPUKAT

Nutrisi Utama: Protein, Zat Besi, Zinc & Potasium

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

3 potong hati ayam, cuci bersih
1 buah alpukat, ambil daging buahnya


Cara Membuat:

1. Rebus hati ayam selama 20 menit sampai matang. Cincang kasar.

2. Potong-potong daging alpukat.

3. Sajikan hati + alpukat.

HATI AYAM + APEL

Nutrisi Utama: Protein, Zat Besi, Zinc & Vitamin A, Vitamin C

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

3 potong hati ayam, cuci bersih
1 buah apel, kupas, buang bagian tengahnya, potong-potong


Cara Membuat:

1. Rebus hati ayam selama 20 menit sampai matang. Cincang kasar.

2. Kukus apel sampai lunak.

3. Campur bahan, beri 3 sdm air rebusan hati jika suka. Sajikan.

HATI AYAM + WORTEL

Nutrisi Utama: Protein, Beta Karotin, Zat Besi, Zinc & Vitamin A

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

3 potong hati ayam, cuci bersih
1 batang wortel, kupas, potong dadu


Cara Membuat:

1. Rebus hati ayam selama 20 menit sampai matang. Cincang kasar.

2. Kukus wortel sampai lunak.

3. Campur hati dan wortel, beri 3 sdm air rebusan hati jika suka.

HATI AYAM + KENTANG + WORTEL

Nutrisi Utama: Protein, Beta Karotin, Karbohidrat, Zat Besi, Zinc & Vitamin A

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

3 potong hati ayam, cuci bersih
1 batang wortel, kupas, potong dadu
2 buah kentang ukuran sedang, kupas, potong-potong
Cara Membuat:

1. Rebus hati ayam selama 20 menit sampai matang. Cincang kasar.

2. Kukus wortel dan kentang sampai lunak.

3. Campur bahan, beri 3 sdm air rebusan hati jika suka. Sajikan.

HATI AYAM + KENTANG + APEL

Nutrisi Utama: Protein, Karbohidrat, Zat Besi, Zinc & Vitamin A, Vitamin C

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

3 potong hati ayam, cuci bersih
1 buah apel, kupas, buang bagian tengahnya, potong-potong
2 buah kentang ukuran sedang, kupas, potong-potong


Cara Membuat:

1. Rebus hati ayam selama 20 menit sampai matang. Cincang kasar.

2. Kukus apel dan kentang sampai lunak.

3. Campur bahan, beri 3 sdm air rebusan hati jika suka. Sajikan.

HATI AYAM + KENTANG + SAYUR HIJAU

Nutrisi Utama: Protein, Karbohidrat, Zat Besi, Zinc & Vitamin A, Vitamin C

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+

Bahan:

3 potong hati ayam, cuci bersih
3 kuntum brokoli, cuci bersih
2 sdm kacang polong, cuci bersih

2 buah kentang ukuran sedang, kupas, potong-potong


Cara Membuat:

1. Rebus hati ayam selama 20 menit sampai matang. Cincang kasar.

2. Kukus kentang sampai lunak.

3. Didihkan 1 cangkir air, lalu rebus brokoli + kacang polong selama 5 menit. Tiriskan. Cincang kasar brokoli.

4. Campur kentang + hati ayam.

5. Sajikan bersama campuran brokoli + kacang polong.

NASI AYAM
Nutrisi Utama: Protein, Vitamin B & Zat Besi

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+


1 cangkir nasi matang (lebih baik dari beras merah/coklat)
1 potong dada ayam tanpa tulang dan kulit


Cara Membuat:

1. Rebus ayam selama 20 menit atau sampai ayam matang (daging berwarna putih). Angkat dan tiriskan. Simpan kaldunya. Cincang kasar.

2. Tambahkan nasi, aduk rata. Tambahkan kaldu sesuai selera.

SUP KRIM AYAM

Nutrisi Utama: Protein, Zat Besi & Kalsium

Kategori: Sumber Protein; Usia 10 bln+


Bahan:

1 dada ayam tanpa tulang dan kulit

1 cangkir ASI/susu formula
2 sdt tepung maizena, larutkan dengan 1 sdm air


Cara Membuat:

1. Hilangkan kulit, lemak dan sisa-sisa tulang pada ayam. Cuci sampai bersih, potong dadu.

2. Rebus ayam dengan air secukupnya selama 10 menit atau sampai ayam matang. Angkat dan tiriskan. Daging ayam dicincang kasar.

3. Didihkan ASI/Susu Formula lalu beri larutan maizena, aduk sampai kental.

4. Masukkan cincangan ayam, aduk rata.

SUP KRIM AYAM DAN KENTANG

Nutrisi Utama: Protein, Karbohidrat, Zat Besi & Kalsium

Kategori: Sumber Protein; Sayuran; Usia 10 bln+

Bahan:

1/3 cangkir daging ayam tanpa tulang dan kulit yang sudah matang (dikukus/rebus) dan dipotong dadu
1/4 cangkir kentang rebus/kukus, potong dadu
1 sdm keju cheddar parut
1/4 cangkir /susu formula

Optional:
2 sdt margarine/mentega/unsalted butter
Cereal/tepung sereal bayi


Cara Membuat:

1. Masak daging ayam, kentang, dan ASI/Susu Formula di atas api kecil selama 10 menit.

2. Masukkan keju dan sereal, aduk sampai matang.

AYAM + TAHU/TEMPE

Nutrisi Utama: Protein

Kategori: Sumber Protein;Usia 10 bln+

Bahan:
½ cangkir daging sapi/ayam cincang tanpa lemak

1 potong tahu putih, cuci bersih

Cara Membuat:

1. Kukus daging/ayam sampai matang.

2. Kukus tahu sampai matang.

3. Campurkan lalu sajikan.

BUBUR AYAM

Kategori: Sumber Protein; Cereal; Usia 10 bln+

Nutrisi Utama: Protein, Karbohidrat, Zat Besi & Kalsium

Bahan:

50 gr beras yang sudah direndam air

350 ml air

50 gr daging ayam cincang

1 kuning telur

3 sendok takar susu formula

Cara Membuat:

1. Campur beras dan air dalam panci. Tutup panci dan masak sampai air mendidih selama kurang lebih 15 menit. Aduk sampai menjadi matang dan lunak.

2. Masukkan ayam cincang, aduk rata sampai ayam matang.

3. Kuning telur dikocok lepas, masukkan dalam bubur, aduk rata. Bubuhi susu formula, aduk hingga rata.Angkat dan dinginkan.

4. Hidangkan secara terpisah dengan sayuran hijau yang sudah matang (misal: kacang polong)

HATI AYAM + TAHU/TEMPE
Kategori: Sumber Protein; Anak 10 bln+

Bahan :
75 gr tempe cincang
75 gr hati ayam cincang

Cara membuat :

1. Tempe dan ati ayam dicuci bersih. Potong kecil-kecil.

2. Kukus 5-10 menit. Angkat. Tambahkan air matang/kaldu yang telah dipanaskan untuk mengencerkan hingga kekentalan yang diinginkan.

3. Sajikan dengan puree cereal/makaroni dan sayuran.

Cemilan Untuk Anak

Kata snack seringkali diterjemahkan menjadi makanan ringan, sehingga snack hampir selalu dikonotasikan sebagai keripik, chips, biskuit, wafer, minuman bersoda atau makanan/minuman kemasan lainnya yang cemilancemilanmemiliki kalori tinggi tetapi bernutrisi sangat rendah. Popularitas makanan yang mengakibatkan kegemukan ini mungkin salah satu faktor yang menyebabkan epidemi kegemukan pada masa kanak-kanak di negeri ini.

Sedianya, snack lebih tepat diartikan sebagai cemilan, kudapan atau makanan selingan yang sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang sehat dan bermanfaat untuk anak. Sehingga, mengemil, atau memberikan cemilan sebetulnya bukan merupakan sesuatu yang buruk untuk dilakukan. Isi dari cemilan untuk anaklah yang sebenarnya paling penting untuk diperhatikan. Menyediakan pilihan cemilan yang sehat hari ini dapat membantu anak anda untuk belajar membuat pilihan makanan yang sehat di masa datang. Cemilan sendiri dapat memiliki andil yang besar pada asupan nutrisi harian untuk anak-anak dari berbagai usia.

Pentingnya cemilan

Bagaimana makan cemilan yang baik

Strategi pemberian cemilan

Bijak dalam pemilihan jenis cemilan

Yang perlu diwaspadai dalam pemberian cemilan

Pentingnya cemilan

Anak-anak kecil sesungguhnya memerlukan cemilan. Perut mereka masih kecil, sehingga mereka sering kali tidak bisa mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan dalam sehari hanya melalui makan pagi, siang dan sore. Mereka membutuhkan porsi makanan yang lebih kecil tapi lebih sering.

Perkembangan pertumbuhan anak akan melambat setelah ulang tahun pertama. Karena mereka membutuhkan sedikit kalori pada masa ini, mereka cenderung untuk makan lebih sedikit. Untuk itu, Anda harus selalu menyediakan pilihan makanan yang sehat untuk makan maupun cemilan. Jangan cepat cemas atau memaksa anak untuk menghabiskan isi piringnya.

Bagaimana makan cemilan yang baik

Mengemil adalah sesuatu yang alami yang telah dimulai dari saat kelahiran, yaitu ketika bayi menyusui kapanpun Ia haus/lapar. Saat anak beranjak besar, mereka tetap perlu sering makan. Kebutuhan akan energi yang sangat tinggi serta pertumbuhan tubuh anak usia batita dan prasekolah membuat makan cemilan di antara waktu makan menjadi suatu kebutuhan. Karena kapasitas perut mereka yang terbatas, hampir tidak mungkin membuat mereka mendapatkan semua nutrisi dan kalori yang dibutuhkan hanya dari makan tiga kali sehari.

Saat anak mulai masuk sekolah, mereka masih terus membutuhkan energi dalam jumlah besar dibandingkan dengan ukuran tubuh mereka yang kecil. Makan sebanyak enam kali dalam sehari bukan hanya suatu hal yang normal, tapi merupakan sesuatu yang ideal. Menyediakan makan tiga kali sehari ditambah dua atau tiga kali cemilan untuk dimakan di antara tiga waktu makan tersebut, merupakan cara yang sangat baik untuk memastikan mereka mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Tapi, tentu saja, ada aturannya:

1. Cemilan harus memiliki nilai nutrisi sebagai tambahan bagi asupan nutrisi harian, bukan menguranginya. Biasanya, anak-anak mendapatkan maksimal 25 persen kalori hariannya dari cemilan, jadi sangat penting untuk diingat bahwa makanan yang mereka makan harus bermanfaat dan bergizi. Cemilan dapat menjadi penambah kekurangan nutrisi dan menjadi pengganti makanan dan nutrisi yang tidak mereka dapatkan pada saat sarapan, makan siang dan makan malam.

Bila anak Anda dapat menghabiskan lauk pauk berupa daging dan sayuran pada saat makan siang, tapi kehilangan selera sebelum ia sempat makan buah atau minum susu, itu bukan masalah besar. Anda bisa mengganti asupan nutrisinya dengan cemilan dengan menawarkan makanan seperti stroberi segar dan yogurt, atau apel potong dan keju. Makan cemilan juga bisa jadi kesempatan yang baik untuk mengenalkan makanan baru pada anak-anak dengan suasana yang menyenangkan dan tanpa tekanan.

Meskipun anak anda termasuk kelebihan berat badan, jangan larang ia untuk makan cemilan. Bila dilakukan dengan benar, makan cemilan bisa menjadi faktor penurun berat badan, bukan penambah berat badan. Makan makanan bergizi dalam porsi kecil diantara makan besar adalah cara yang sangat baik untuk mengusir rasa lapar and mencegah makan terlalu banyak pada saat makan besar.

2. Berikan dengan porsi sesuai usia anak. Salah satu peraturan pemberian porsi makan untuk batita yang baik untuk diikuti adalah pemberian 1 sendok makan cemilan per tahun usia anak. Jadi jika anak berusia 2 tahun, berikan 2 sendok makan cemilan di antara waktu makannya. Tentunya, Anda selalu dapat memberikan tambahan lagi bila mereka masih lapar. Namun, harap diingat bahwa porsi yang besar akan menurunkan nafsu makan anak saat waktu makan tiba.

3. Berikan antara waktu makan. Anak boleh makan cemilan setiap 3-4 jam dengan catatan anak mengemil karena merasa lapar bukan sedang bosan atau lapar mata. Jangan biarkan anak mengemil menjelang makan utama.

4. Waspadai jenis makanan tertentu yang dapat menyebabkan anak-anak tersedak. Makanan tertentu mempunyai tekstur, bentuk dan ukuran yang bisa menyebabkan anak-anak tersedak. Hindari pemberian permen, selai kacang, sayuran mentah, popcorn, kacang-kacangan, dan buah yang dikeringkan –seperti kismis – untuk anak dibawah 3 tahun. Belah hotdog secara memanjang menjadi 4 bagian lalu potong kecil-kecil. Belah anggur menjadi dua bagian yang lebih kecil.

Strategi pemberian cemilan:

1. Rencanakan pemberian cemilan, jangan dilarang sama sekali. Anak biasanya akan menyambar apa saja yang dekat dan mudah untuk diambil, baik di meja tamu, meja makan atau di kulkas. Jika yang tersedia kue kering atau permen, mereka akan memakannya. Jika tidak ada kue dan permen, maka buah segar pun akan dilahapnya.

Jadi, pastikan Anda selalu hanya menyimpan dan menyediakan makanan dan cemilan bergizi di meja, kulkas dan lemari penyimpanan makanan.

Selain itu, rencanakan dan buatlah jadwal agar anak-anak dapat makan cemilan sekitar dua jam sebelum makan besar.

2. Sediakan variasi. Sediakan cemilan dengan berbagai variasi. Bila anda menghidangkan cemilan yang sama berulang kali, anak-anak bisa bosan dan minta agar diberi kupadan yang tidak sehat, seperti kue kering dan kripik.

3. Hidangkan dengan cara yang bervariasi. Sajikan buah dengan cara yang menarik untuk menarik minat anak-anak. Potong makanan dengan bentuk yang lucu dan ukuran kecil agar dapat langsung dimakan. Sajikan seledri dengan mentega kacang, contohnya, atau wortel dengan celupan yang rendah lemak. Tawarkan crackers rasa keju dengan beberapa variasinya. Potong sayuran dengan bentuk yang berbeda agar kelihatan lebih menarik.

4. Bangkitkan kretivitas anak. Berikan tusuk gigi warna-warni pada anak-anakyang dapat mereka gunakan untuk membuat bentuk bangunan dari potongan sayur dan buah-buahan. Isi botol isi ulang yang dapat dipencet dengan yogurt rendah lemak atau saus salad dan biarkan mereka menghias makanannya sendiri. Berikan botol garam yang diisi dengan sprinkle, dan biarkan mereka menambahkan warna-warni pada makanan mereka.

5. Tunjukkan contoh yang baik. Anak-anak mempelajari kebiasaan makan, seperti juga mereka mempelajari hal-hal yang lain: dengan mencontoh dari orang tua mereka. Anda tidak dapat mengharapkan anak anda untuk menyukai brokoli dan susu rendah lemak bila anda makan kripik kentang dan minum minuman bersoda. Pilih makanan bergizi untuk diri anda sendiri, dan ajak anak-anak untuk makan bersama dengan anda.

6. Gunakan pendekatan “personal”. Anak-anak suka sekali makan sesuatu yang mereka buat sendiri. Ajak mereka untuk mencari resep cemilan dari buku resep atau dari internet. Bantu mereka untuk membuat daftar belanja dan berbelanja bahan-bahan yang sesuai dengan isi resepnya. Mereka akan senang sekali diajak membuat cemilan sesuai dengan resep baru itu, dan mereka akan dengan gembira makan sesuatu yang dibuat sesuai dengan kreasi mereka.

7. Tawarkan pilihan makanan dari kelompok yang sama. Contohnya, jangan katakan: “Kamu mau eskrim atau donat?” Sebaiknya, tawarkan pilihan makanan dari kelompok yang sama, seperti “apel atau jeruk”, roti isi selai buah atau roti isi selai kacang”, “pudding tape atau jelly” dan lain sebagainya.

8. Jangan putus asa jika anak sangat pemilih. Orang tua dan pengasuh tidak boleh memaksa bila anak menolak cemilan, terutama yang belum dikenalnya. Tawarkan dulu dalam porsi kecil. Setelah beberapa kali ditawarkan, biasanya anak akan mulai menyukai cemilan yang baru dikenalnya itu.

Kebiasaan makan cemilan anak-anak anda tidak akan berubah dalam satu malam, tapi cobalah untuk melihat perubahannya dalam beberapa minggu dan bulan. Mengajarkan anak anda untuk membuat cemilan sehat hari ini akan membuat seluruh keluarga anda menuai keuntungannya sepanjang hidup.

Bijak dalam memilih jenis cemilan

Meskipun mengemil adalah kebiasaan yang baik, sebagian besar cemilan yang dikonsumsi oleh anak-anak kita ternyata bukan cemilan yang baik untuk mereka. Bila dibiarkan untuk memilih sendiri, maka anak-anak cenderung akan membuat pilihan yang buruk, mereka akan lebih memilih makanan yang manis-manis dengan zat pemanis buatan dan kadar lemak yang tingga, ataugorengan dan makanan gurih lain yang kandungan lemak dan garamnya tinggi. Oleh karena itu, para orang tua berperan penting untuk memberikan pilihan cemilan yang lezat tapi sehat, seperti buah dan sayuran segar, atau bahkan roti tangkap.

Seperti yang anda bisa duga, junk food, yang oleh sebagian besar dari kita dianggap sebagai makanan cemilan, tidak berada dalam lima kelompok makanan dasar (kelompok beras/serelia, sayuran, buah-buahan, sumber protein serta susu/produk susu olahan).

Tidak sesuai dengan namanya, cemilan seperti permen susu, cheese balls atau cheese cake bukanlah makanan yang termasuk dalam kelompok susu, sama seperti kripik kentang atau kripik jagung tidak termasuk dalam kelompok sayur-sayuran. Banyak cemilan yang bermanfaat dan baik untuk anak-anak dalam kelima kelompok makanan ini, dan anak-anak seharusnya didorong untuk lebih menyukai makanan dasar bila mungkin.

Pilih makanan yang dapat memuaskan rasa lapar anak-anak anda, berikan asupan energi dan nutrisi yang penting bagi tubuh mereka. Pilih makanan dengan berbagai veriasi untuk memastikan anda mendapatkan semua nutrisi yang diperlukan. dan buat cemilan buatan sendiri buatan anda kelihatan lebih menarik. Berikut ada beberapa cemilan terbaik yang bisa dipilih:

· Gandum/Sereal. Cemilan yang terbuat dari whole-grain mengandung karbohidrat kompleks dan serat tinggi, yang dapat memberikan asupan energi dalam jangka waktu yang cukup lama. Cari jenis cemilan seperti crackers, oatmeal/havermut, cereal, roti (dengan mentega tanpa garam, selai kacang, selai buah, taburan meses..

· Sayur dan buah-buahan. Makan sayur dan buah-buahan membuat perut anda terasa penuh tanpa menambah lemak dan hanya sedikit kalori. Mereka juga mengandung vitamin, mineral, serat dan nutrisi lainnya. Contoh: potongan buah segar, potongan sayur yang dikukus (wortel, brokoli, dll) disajikan dengan celupan/olesan lezat (spt saus keju, selai, dll), ubi/singkong kukus/rebus, jus wortel, kentang panggang, cake wortel, cake pisang, dll.

· Kacang-kacangan dan biji-bijian. Kacang-kacangan dan biji-bijian adalah sumber protein yang baik, yang dapat membuat perut anda terasa kenyang lebih lama. Lemak yang ada pada kacang-kacangan dan biji-bijian adalah monounsaturated fat – lemak tak jenuh tunggal (?), suatu jenis lemak yang baik bagi tubuh. Kacang-kacangan dan buah-buahan mengandung kalori yang sangat tinggi, jadi jangan makan terlalu banyak. Contoh: bubur kacang hijau, susu kacang kedelai, kacang polong kukus.

· Produk susu. Keju, yogurt dan produk yang mengandung susu lain adalah sumber kalsium, protein dan nutrisi lainnya. Produk susu dapat memiliki kandungan lemak yang tinggi, jadi pilih produk yang rendah lemak. Yogurt mungkin mengandung banyak tambahan gula, jadi anda bisa mempertimbangkan penggunaan yogurt yang “ringan” bila anda ingin membatasi asupan kalori anda. Contoh cemilan: susu UHT dalam kemasa, yogurt plain, milkshake buah (susu diblender dengan buah segar dan es krim vanili), yogurt plus potongan buah, puding yang mengandung susu.

Meskipun cemilan dapat menjadi tambahan dalam menu yang sehat, cemilan juga dapat menjadi sumber kelebihan kalori bila tidak dimakan dengan hati-hati. Sebagai contoh, sejumlah kacang almond (sekitar 23 biji atau segenggam) mengandung 164 kalori. Akan tetapi bila anda makan segenggam segenggam sehingga jumlah totalnya menjadi satu cangkir kacang almon, maka hitungan kalorinya akan melonjak menjadi lebih dari 800 kalori.

Perhatikan tips pemberian cemilan berikut ini:

Jus buah: kawan atau lawan?

Anak-anak sering kali lebih memilih jus buah dibandingkan air putih atau buah segar karena jus rasanya lebih enak bagi mereka. Dan banyak orang tua yang tidak melihat adanya masalah dalam pemberian jus buah dalam jumlah yang tidak terbatas, karena jus sering dipromosikan sebagai sumber protein yang bagus.

Meskipun jus memang mengandung sejumlah nutrisi yang sehat, namun jumlah kalorinya yang tinggi dapat mengakibatkan penambahan berat badan dan menyebabkan kerusakan gigi bila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan. Beberapa produk minuman jus, termasuk yang mengandung 100 persen jus, memiliki kandungan kalori lebih besar dari minuman bersoda yang mengandung gula. Selain itu, jus juga tidak mengandung serat yang sehat seperti buah-buahan segar.

American Academy of Pediatrics – Badan Kesehatan anak-anak di Amerika merekomendasikan anak-anak untuk minum jus tidak lebih dari 6 ounce (kurang dari 0.2 liter) porsi dalam sehari. Pertimbangkan juga penggunaan jus yang mengandung tambahan kalsium, terutama bila anak anda menolak minum susu atau produk yang mengandung susu.

Gula dapat merusak gigi

Cemilan yang mengandung gula, termasuk minuman ringan bersoda dan jus buah, dapat menyebabkan gigi berlubang. Bakteri yang terdapat dalam mulut mengubah gula menjadi sejenis asam yang mengikis enamel gigi. Asam ini akan terus menerus merusak gigi selama setidaknya 20 menit.

Permen yang kenyaldan lengket biasanya lebih merusak karena permen seperti ini akan lebih lama berada dalam mulut anda. Membiarkan balita anda menghisap jus dari sippy cup atau botol sepanjang hari akan menyebabkan gigi mereka mandi gula yang akan berlangsung sepanjang hari.

Mengembangkan pilihan

Begitu anak-anak mulai masuk sekolah, pilihan makanan mereka akan berkembang lebih daripada apa yang anda pilih dan beli di toko penjual bahan pangan. Tapi anda masih memiliki kendali atas apa yang ada di dalam kulkas anda untuk dimakan sebagai cemilan setelah pulang dari sekolah. Biasanya mereka akan menyambar apa saja yang dekat dan mudah untuk diambil.

Bila yang tersedia adalah kue kering, mereka akan memakannya. Bila kue tidak tersedia, buah segar dan sayuran mentah akan kelihatan enak sekali. Cobalah untuk membuat beberapa pilihan sayuran yang telah dipotong dan siap dimakan dan simpan dalam kulkas.

Minuman yang mengandung gula

Perhatikan juga apa yang diminum oleh anak-anak anda. Pada usia 14 tahun, sepertiga anak perempuan dan lebih dari setengah anak laki-laki di Amerika minum setidaknya 8 ounce (lebih dari 0.2 liter) porsi soft drink atau minuman ringan bergula lainnya dalam sehari.

Bila anda memeriksa kandungan gula dan kalori pada minuman ringan tersebut, harus diingat bahwa setiap botol 20 ounce mengandung kalori untuk 2,5 porsi minuman. Itu artinya sebotol minuman ringan yang mengandung 100 kalori per porsi membuat anda mendapatkan asupan 250 kalori bila anda minum satu botol penuh.

Label nutrisi: Coba lihat yang tersirat

Anda mungkin bisa melihat banyak produk makanan dengan label, rendah lemak (low fat), lemak yang dikurangi (reduced fat), rendah kalori (low calorie), ringan (light/mild), bebas gula (sugar free) atau bebas lemak (fat free). Hati-hati dalam mengevaluasi klaim kandungan nutrisi seperti ini.

Kadang-kadang, apa yang kelihatannya sehat sebetulnya tidak sehat sama sekali. Sebagai contoh, produk makanan yang dijual sebagai rendah lemak atau bebas lemak dapat mengandung kalori tinggi, dan walaupun kebanyakan makanan cemilan sebetulnya “bebas kolesterol”, namun tetap saja makanan ini memiliki kandungan lemak, lemak jenuh, dan gula yang tinggi.

Perang melawan iklan televisi

Anak-nak sering kali menuntut meminta makanan cemilan jenis terbaru, terutama bila mereka melihatnya di iklan televisi. Untuk mengatasinya, batasilah jumlah jam dimana anak-anak anda boleh menonton televisi agar dapat mengurangi kesempatan anak-anak anda terpapar pada iklan-iklan seperti ini serta membantu mereka mengurangi resiko terkena obesitas.

Anak-anak yang menonton televisi lebih dari lima jam sehari akan memiliki resiko terkena obesitas empat kali lebih besar daripada mereka yang menonton televisi kurang dari dua jam sehari. Anak-anak biasanya akan lebih aktif secara fisik bila orang tua mereka membatasi waktu mereka untuk berada di depan layar – termasuk layar televisi, komputer dan video games – menjadi tidak lebih dari dua jam sehari.

Makan di depan televisi juga merupakan kebiasaan yang buruk untuk semua kelompok umur. Orang cenderung untuk makan lebih banyak daripada yang mereka sadari selama periode ini dimana mereka mengunyah tanpa berpikir. (WM/DS/

Sumber:

· Snacking Done Right, By Dr. Rallie McAllister,

http://www.keepkidshealthy.com/nutrition/snacking.html

· Snack attack: Know what foods to choose when hunger strikes

http://www.mayoclinic.com/invoke.cfm?id=HQ01396

· Children’s snacks: Don’t ban them, plan them!,

http://www.mayoclinic.com/invoke.cfm?id=HQ00419

Jus Buah dan Anak Anda

Sebagai orang tua, Anda mungkin sudah mengetahui bahwa soft drinks dan minuman bersoda bukan pilihan yang terbaik bagi anak Anda karena kandungan nutrisi yang rendah, berkalori yang tinggi, dan dapat menyebabkan obesitas dan pengeroposan igi. Tapi Anda mungkin terkejut saat mengetahui bahwa jus buah, yang sering dianggap sebagai bagian penting dati makanan bayi dan anak anda, bukanlah pilihan yang terbaik pula.

The American Academy of Pediatrics (AAP) Committee on Nutrition telah melakukan penelitian mengenai konsumsi jus buah pada bayi, balita, anak dan remaja. Jus buah didefinisikan sebagai jus murni, yang pada umumnya terdiri dari air dan juga karbohidrat (gula), sedikit protein dan mineral, serta vitamin dan kalsium.

Jus buah tidak mengandung protein, lemak, mineral, atau vitamin selain vitamin C dalam jumlah yang signifikan. Jus buah mempunyai kandungan karbohidrat (gula) yang besar, sehingga jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, dapat menyebabkan diare, nyeri perut, kembung dan gas dalam perut/usus. Selain itu, kebanyakan jus tidak mengandung serat – jadi jus buah tidak memberikan keuntungan nutrisi yang berarti dibandingkan buah segar. Selain itu konsumsi jus buah dapat mengganggu kemampuan anak untuk mengembangkan kebiasaan makan buah-buahan. Jadi, jangan jadikan jus buah sebagai pengganti kebutuhan anak Anda terhadap nutrisi dalam buah-buahan. jangan dijadikan pengganti buah-buahan.

Sebagian jus buah atau minuman sari buah yang dijual di pasaran diberikan tambahan kalsium untuk menghasilkan gigi dan tulang yang sehat dan kuat. Tetapi konsumsi jus buah dapat menyebabkan pengeroposan gigi jika anak diperbolehkan untuk memegang jus dalam botol, cangkir atau kemasan kotak sepanjang hari atau saat waktu tidur. Selain itu, minuman sari buah – yang bukan jus buah murni – dapat mengandung pemanis tambahan, perasa buatan dan bahan-bahan lainnya.

Studi AAP menunjukkan bahwa pemberian jus buah pada anak usia 4-6 bulan – terutama yang pernah mengalami kolik – sebelum mereka diperkenalkan dengan makanan padat, dapat mengakibatkan kesulitan penyerapan karbohidrat. Anak yang rentan terhadap kolik akan menjadi rewel, mengalami gangguan tidur dan memiliki lebih banyak gas dalam usus/perut, setelah meminum jus tertentu, seperti apel dan pear.

Dalam laporannya, komite tersebut juga menyatakan bahwa anak dapat terkena penyakit akibat makanan, dikarenakan mengkonsumsi jus yang tidak terparturisasi.

Pemberian jus buah pada bayi yang belum mendapatkan makanan padat dapat menyebabkan malnutrisi jika jus tersebut digunakan sebagai pengganti ASI atau susu formula yang mengandung lebih banyak protein, zat besi, kalsium, dan lemak daripada jus.

Selain itu, jika jus diminum langsung dari botol atau cangkir, maka gula yang terkandung dalam jus akan menyebabkan pengeroposan gigi. Anak balita cenderung mengkonsumsi jus buah secara berlebihan karena rasanya yang lezat, hal ini dapat berakibat dengan pengeroposan gigi, diare, obesitas, atau malnutrisi. Walaupun remaja dan anak yang lebih dewasa cenderung mengkonsumsi jus dalam jumlah yang lebih sedikit, mereka juga dapat terkena obesitas jika mereka mengkonsumsi jus secara berlebihan.

AAP memberikan rekomendasi terbarunya mengenai pemberian/konsumsi jus buah pada bayi dan anak-anak:

1. Jus buah tidak boleh diberikan pada bayi di bawah 6 bulan.

2. Setelah 6 bulan, bayi tidak boleh mengkonsumsi jus buah dari botol dan cangkir, yang menyebabkan mereka dapat dengan mudah meminumnya sepanjang hari. (Jangan biarkan anak menghisap jus buah dari botol dan cangkir, berikan jus buah saat waktu makan)

3. Bayi tidak boleh diberikan jus buah saat waktu tidur.

4. Untuk anak usia 1 sampai 6 tahun , konsumsi jus harus dibatasi sebanyak 4-6 ons per hari (kira-kira 110-165 ml per hari).

5. Untuk anak usia 7 sampai 18 tahun, konsumsi jus harus dibatasi sebanyak 8-12 ons per hari (kira-kira 230-330 ml per hari).

6. Anak-anak harus didorong untuk mengkonsumsi buah-buahan (potong).

AAP menyatakan bahwa jus buah murni adalah sehat jika diberikan dalam jumlah yang tepat bagi bayi dan anak-anak. Konsumsi jus buah yang berlebih menyebabkan malnutrisi, diare, berbagai penyakit perut, dan pengeroposan gigi.

Jika anak Anda susah makan, perhatikan jumlah jus buah yang dikonsumsinya, ia mungkin kenyang karena minum jus sehingga tidak ada ruang lagi untuk makanan yang lebih sehat.

Jika anak Anda terlalu banyak mengkonsumsi jus buah, Anda bisa mengurangi jumlah konsumsinya dengan secara bertahap menambahkan air pada jus. Dan ingat, air dan susu (sapid an kedelai) adalah minuman yang lebih sehat untuk anak Anda. (Dian Safitri)

Sumber:

http://www.disabilityuk.com/health/obesity/health10.htm

http://www.aap.org/advocacy/archives/maystudies.htm

http://www.aap.org/mrt/May01.htm

Cara Menghindari Bahaya Tersedak Makanan

1. Kenali makanan yang bisa mengakibatkan anak Anda tersedak, yaitu: biasanya makanan keras, halus, licin, kenyal, dan bulat penuh. Antara lain:

· Sosis/Hot dogs: Anak Anda bisa tersedak jika menggigit hot dog, oleh karenanya, selalu potong sosis dadu kecil.

· Irisan buah atau sayuran (segar/mentah atau yang dimasak): Untuk bayi 6-9 bulan buah dan sayuran harus dimasak dan dihaluskan (blender atau dengan saringan kawat) untuk bayi 10-12 bulan berikan buah/sayuran yang dimasak dan dicincang halus. Untuk batita mulai bisa diberikan buah/sayuran tanpa dimasak terlebih dahulu, namun berikan potongan kecil/dadu (seukuran kacang polong).

· Potongan daging: daging harus dimasak dan dihaluskan (blender dan cincang) atau dipotong dadu kecil untuk menghindari bahaya tersedak. Hindari pemberian sate untuk anak batita.

· Cheese cubes: Potong kotak-kotak keju menjadi irisan atu potongan kecil-kecil.

· Buah bulat penuh: Potong anggur, tomat ceri, ceri, bola-bola buah (seperti utk cocktail) dan buah beri lain menjadi 4 bagian. Buah bulat penuh bisa tersangkut di kerongkongan anak Anda.

· Makanan yang kecil dan keras: Permen, kacang bulat utuh, popcorn, lollipop, kismis, kurma, dan buah kering lainnya, biji-bijian, dan kuaci dapat menyebabkan anak tersedak.

· Makanan tertentu yang licin, halus dan kenyal yang mungkin menyangkut di kerongkongan anak, seperti permen karet, selai kacang, dan permen jeli.

· Buah yang sulit untuk dikunyah dan telan: kripik kentang/jagung, potongan daging, dll.

2. Perkenalkan jenis-jenis makanan tersebut sesuai usia yang direkomendasikan.

3. Selalu awasi anak saat makan, untuk menghindari bahaya tersedak saat makan.

4. Jangan makan dan memberikan makanan di dalam mobil atau kendaraan lain yang sedang bergerak.

5. Jangan biarkan anak makan sambil berlarian atau bermain-main.

6. Potong makanan sesuai ukuran dan kemampuan anak.

7. Jika anak sudah memiliki beberapa buah gigi, pastikan makanan yang diberikan lunak dan mudah dikunyah. (DS)

Sumber:

Parents’ Survival Guide to Transitional Feeding, The Institute of Pediatric Nutrition.

http://www.babycenter.com/refcap/baby/babyfeeding/9195.htm