Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Konflik antara pasien, keluarga pasien dan penyedia layanan kesehatan amat sering terjadi. Penyebab utamanya adalah ketidaksamaan persepsi akibat perbedaan konsep berpikir, stimulasi secara individu akibat perbedaan waktu, tempat, adat istiadat dan tingkat pendidikan.
Pakar neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Teguh Asaad Suhatno Ranakusuma mengungkap perlunya interaksi antara manusia dengan manusia, manusia dengan komunitas, manusia dengan masyarakat dan manusia dengan lingkungan hidup untuk meningkatkan pola pikir. Karena, nilai-nilai manusia berubah. Pun ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Teguh Ranakusuma, berbagai permasalahan kesehatan yang kompleks itu hanya dapat terpecahkan dengan konsep jejaring otak. `’Konsep jejaring otak adalah suatu hasil akhir dari upaya keterpaduan sel-sel otak atau neuron yang multifungsi dalam menjawab berbagai jenis rangsangan yang masuk ke pancaindera,” ujar Teguh dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Neurologi di FKUI dengan judul `Konsep Jejaring Otak Sebagai Model Rekayasa dalam Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia, Penanggulangan Masalah Kependudukan dan Kesehatan serta Pendidikan di Indonesia’, Kamis (19\7).
Teguh memaparkan sel otak punya kemampuan amat tinggi untuk berkomunikasi dengan ribuan dan bahkan 15 ribu sel di lapisan terluar otak (korteks sorebri). Untuk itu, sel otak juga perlu dioptimalkan dengan pembelajaran yang terprogram dan terukur dan menguntungkan semua pihak baik manusia maupun alam.
Lebih jauh Teguh menyatakan, selama ini perkembangan ilmu kedokteran diagnostik dan pengobatan telah banyak mencapai hasil memuaskan berupa penurunan angka kematian. `’Akan tetapi, di lain pihak angka kecacatan semakin tinggi dengan kualitas hidup yang lebih rendah, tidak produktif dengan biaya hidup tinggi,” jelasnya.
Berkaca dari kondisi itu, kata Teguh, seharusnya pengembangan ilmu kedokteran mencakup dua arah, hulu dan hilir. Ke hulu ditekankan pada paencegahan melalui marker-marker biomolekuler, mengubah perilaku, dan kebiasaan tak baik. ”Ke hilir menganut filosofi cepat, tepat, cermat, dan akurat, yang sesuai dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia,” tegasnya. Perkembangan ilmu saraf atau neurologi, kata Teguh, juga bergerak terus untuk membangun riset kedokteran dan teknologi. ”Ilmu ini mencoba mengurai kemampuan otak yang merupakan fitrah Allah SWT bagi manusia,” katanya.
Dengan kemampuan otaknya, tambah dia lagi, manusia bisa berpikir, berakal dan berbudi sehingga menjadikannya lebih tinggi derajatnya dari mahluk lain di bumi. `’Berkembangnya ilmu dan teknologi memungkinkan manusia mengungkapkan mekanisme dan kemampuan otak dan susunan saraf lainnya yang notabene menjadi dasar intelektualitasnya.”
Awal dari perkembangan intelektual manusia, kata Teguh, dimulai sejak masa konsepsi, yakni pertumbuhan janin, persalinan, bayi, balita, kanak-kanak, prasekolah, sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama, sekolah lanjutan atas baik umum maupun kejuruan-akademi, hingga perguruan tinggi.
`’Pencapaian tingkat tertinggi suatu pendidikan sangat tergantung pada tingkat kesehatan mentalitas jejaring otak, kualitas hidup, dan kualitas pendidikan,” ungkapnya. Dalam aplikasinya, kata Teguh, neurologi didasarkan pada manifestasi atau symptoms dan gambaran klinis. Manifestasi klinis, lanjut dia, tampak statis akan tetapi gambaran klinis belakangan ini terus berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kesehatan khususnya bioteknologi.
Teguh mengakui, saat ini banyak terungkap perkembangan bioteknologi yang diwujudkan melalui ekspresi genom, yaitu bermacam-macam proteonomik yang muncul seiring dengan masalah medis yang termanifestasi. Teknologi diagnostik kedokteran sangat berkembang dan transparan. `’Untuk mensejajarkan langkah dengan kemajuan ini tak ayal lagi tingkat kompetensi para profesional pun haruslah diasah dengan selalu meng-up-date khazanah ilmu pengetahuan yang disertai dengan keterampilan tinggi serta dilandasi etika moral profesi,” jelasnya.
Berbagai permasalahan yang kompleks, tutur Teguh, pada akhirnya hanya dapat terpecahkan dengan konsep jejaring otak. ‘`Multisistem nanluhur ini diciptakan sedemikian rupa hingga memiliki efisiensi dan efikasi yang sangat tinggi,” ingatnya.
Teguh menjamin, mempertahankan dan mengoptimalkan jejaring otak dengan meningkatkan pendidikan, kesehatan jiwa dan raga, serta lingkungan hidup akan menaikkan kemampuan hidup manusia. `’Seiring dengan semua upaya itu jejaring otak pun sesuai fitrahnya sudah selayaknya menunduk untuk bertahan secara spiritual hingga pada akhinya seluruh neuron pun akan berzikir,” tegasnya.
Ikhtisar:
- Sel otak punya kemampuan komunikasi amat tinggi dengan belasan ribu sel di luar otak
- Kemampuan jejaring otak bisa dioptimalkan dengan pendidikan dan meningkatkan kesehatan jiwa dan raga
sumber: republika
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
