Diarsipkan di bawah: STIMULASI BAYI
EKSPLORASI TUBUH RANGSANG KECERDASAN BAYI
Eksplorasi tubuh merupakan salah satu aspek perkembangan yang harus terjadi pada bayi.
Jika si kecil memegang-megang jari-jemari tangan atau kakinya, itu bukan karena sekadar iseng. Namun sebenarnya ia tengah melakukan pengamatan pada lingkungan. Apa arti semua ini? Salah satunya bahwa perkembangan sosial dan personal sosialnya normal. Bahkan eksplorasi tubuhselain dapat meningkatkan keterampilan motorik halus bayijuga didengung-dengungkan jitu meningkatkan kecerdasannya. Soalnya, kegiatan ini sama saja dengan ia merangsang fungsi-fungsi di dalam otaknya.
Jadi kalau bayi terlihat pasif tidak pernah tampak mengeksplorasi tubuhnyaorang tua patut curiga. Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak “beres” padanya. Bisa saja secara fisik ia bermasalah. Memiliki kendala pada fungsi penglihatannya, contohnya, akan membuat bayi jadi tidak mampu melakukan pengamatan pada anggota tubuhnya. Mungkin juga terjadi masalah pada anggota geraknya. Seperti kelumpuhan pada tangan atau kaki sehingga dia tak bisa mengangkatnya untuk diamati. Kalau ada kecurigaan seperti ini akan sangat bijaksana jika kita segera berkonsultasi pada ahli.
EKSPLORASI TUBUH
Terlepas dari itu, berikut beberapa pertanyaan yang umum diajukan orang tua soal eksplorasi tubuh yang dilakukan bayi:
Mengapa bayi mengeksplorasi tubuhnya?
Karena anggota tubuh merupakan bagian yang terdekat atau mudah terjangkau oleh dirinya.
Kapan perkembangan ini dimulai?
Bayi mulai mengeksplorasi tubuhnya sekitar usia 3-4 bulan atau sebelum ia bisa tengkurap. Dimulai dari tangan yang merupakan anggota tubuh terdekat. Awalnya dia akan mengamati satu tangan baru kemudian kedua-duanya. Pengamatan akan dilakukan berulang-ulang hingga ia mencapai suatu kemampuan baru. Umpamanya, bisa memasukkan jari-jemarinya ke mulut.
Usia 4-5 bulan, si kecil mulai mengeksplorasi ke arah kaki. Itu pun akan dilakukannya berulang kali sampai ia berhasil “mencicipi” tapak kaki mungilnya dengan mulut. Tak heran, usia bayi identik dengan fase oral karena kepuasan bereksplorasi baru didapat saat ia sudah memasukan semua hal yang ingin diketahuinya ke mulut. Apa yang biasa dieksplorasi?
Semua anggota tubuh yang dapat dilihat; mulai tangan, kaki, hingga perut. Setelah si kecil dapat duduk, tengkurap, atau merangkak, penjelajahannya akan beralih ke anggota tubuh lain dan juga pada hal lain di sekitarnya.
STIMULASI AGAR OPTIMAL
Nah, kegiatan eksplorasi tubuh ini bisa dimanfaatkan lebih oleh orang tua. Berikut beberapa caranya:
* Stimulasi suara. Saat ia mengamati tangannya coba berikan ia mainan kerincingan. Suara yang keluar saat ia menggerak-gerakan tangan akan membuatnya lebih eskploratif.
* Stimulasi tekstur. Gunakan bahan bertekstur- seperti handuk dan sapu tangan sutera- untuk merangsang indera perabanya. Si kecil jadi tahu kalau handuk memiliki tekstur kasar sementara sapu tangan terasa lembut.
* Stimulasi warna. Berikan juga ia mainan-mainan berwarna cerah yang berguna untuk menstimulasi penglihatannya.
* Stimulasi anggota tubuh. Tunjukkan anggota tubuh yang tengah ia amati lalu sebutkan namanya. “Ini namanya tangan, sayang. Nah, ini kaki. Sekitar usia 12-14 bulan hal itu dapat kita lakukan dengan lebih lancar lagi.
MASTURBASI=EKSPLORASI TUBUH?
Masturbasi bisa ditemui pada bayi walau angka kejadiannya kecil. Yang perlu diketahui, masturbasi tidak sama dengan eksplorasi tubuh. Kasus masturbasi lebih sering ditemui pada bayi perempuan di usia 6 bulanan ketimbang bayi laki-laki. Ini berkaitan dengan daerah klitoris yang secara anatomis lebih mudah terangsang ketimbang penis. Jika bayi perempuan tak sengaja menggesek-gesekkan kakinya dengan posisi menyilang, katakanlah, bisa menimbulkan orgasme, yang akan tampak seperti ia mengalami kejang; kedua kakinya kaku dengan posisi menjepit alat kemaluan. Beberapa saat kemudian bayi akanterlihat relaks. Sensasi yang dirasakan akan membuatnya mengulangi kembali dan si bayi akan menangis jika ada yang mencoba menghentikannya.
Kasus ini tidak tertutup kemungkinan juga terjadi pada bayi laki-laki. Sejak awal kelahiran baik bayi laki-laki maupun perempuan sebetulnya sudah mengalami perkembangan seksual tetapi belum matang. Oleh karena itulah, bayi yang bermasturbasi dinyatakan tidak normal karena sebenarnya ia masih dalam tahap kepuasan oral bukan kepuasaan genital. Pada usia prasekolah, 4-5 tahun, baru umumnya kepuasan ini berkembang ditandai dengan kesukaan anak memainkan alat kelaminnya.
Diarsipkan di bawah: STIMULASI BAYI
Einstein Never Used Flash Cards
Sebelum Anda membaca buku pintar ini, terlebih dahulu saya ingin bertanya, bagaimana cara Anda membuat anak menjadi pintar? Menyuruhnya belajar sepulang sekolah dengan jadwal teratur atau justru membiarkan sianak bermain dan tak memaksanya mengulang pelajaran di sekolah? Buku yang ditulis oleh Kathy Hirsh-Pasek, PhD, Roberta M. Golinkoff, PhD dan Diane Eyer, PhD ini meluluhkan berbagai mitos pendidikan dan menunjukkan mengapa membiarkan anak-anak menikmati masa kecil adalah cara yang paling baik bagi perkembangan pemikiran mereka kelak. “Bermain bagi seorang anak bagaikan bensin bagi sebuah mobil,” ujar Kathy-Pasek dan Roberta Michnick Golinkoff dalam karya yang dinobatkan sebagai Buku Psikologi Terbaik 2003.
Jangan terkaget-kaget saat membaca buku ini, karena memang penulisnya memiliki pendapat yang kontras dengan pandangan para orang tua yang salah kaprah. Tidak sedikit orang tua yang membatasi anak-anak bermain. Anak-anak itu dipaksa menghapal dan dibebani berbagai pelajaran sejak usia dini, bahkan saat dia prasekolah. Einstein Never Used Flash Cards menentang semua praktik yang keliru itu dengan membeberkan hasil penelitian terbaru tentang cara sejati membantu anak-anak tumbuh dan belajar. Ternyata, anak-anak perlu dibiarkan mengembangkan rasa ingin tahunya sendiri, bukannya dibebani berbagai pekerjaan sekolah yang kaku, dan terkadang membosankan. Anak prasekolah yang dibebaskan untuk menikmati masa bermain akan lebih sukses ketimbang anak yang dipaksa menghapal dan digenjot perkembangan intelektualnya. Buku ini lumayan komplit dan bisa menjadi panduan para orang tua dalam mendidik anak karena berisi proses pembelajaran dari sudut pandang anak, kiat membantu anak berkembang dalam berbagai bidang (matematika, membaca, komunikasi verbal, sains dan keterampilan sosial), cara menuntun anak belajar melalui berbagai permainan yang sesuai usia
sekaligus membangun inisiatif, kreativitas, rasa ingin tahu, empati dan kepercayaan diri. Anda juga akan mengetahui bagaimana proses bermain akan meningkatkan
kemampuan anak untuk memecahkan masalah dan memusatkan perhatian, serta tentu saja pentingnya kecerdasan emosional bagi kesuksesan pendidikan
dan kehidupan anak. Buku ini masuk urutan ‘wajib baca’ untuk para orang tua yang ingin menjadikan anaknya seperti Einstein tanpa perlu terburu-buru.
Diarsipkan di bawah: STIMULASI BAYI
Edukasi Pikiran Bawah Sadar Anak
Oleh ariesandi | January 29, 2007
Kita semua tahu bahwa manusia mempunyai dua macam bentuk pikiran yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar mempunyai fungsi mengidentifikasi informasi yang masuk, membandingkan dengan data yang sudah ada dalam memori kita, menganalisa data yang baru masuk tersebut dan memutuskan data baru akan disimpan, dibuang atau diabaikan sementara.
Sementara itu pikiran bawah sadar yang kapasitasnya jauh lebih besar dari pikiran sadar mempunyai fungsi yang jauh lebih komplek. Semua fungsi organ tubuh kita diatur cara kerjanya dari pikiran bawah sadar. Selain itu nilai-nilai yang kita pegang, sistem kepercayaan dan keyakinan terhadap segala sesuatu juga disimpan di sini. Memori jangka panjang kita juga terdapat dalam pikiran bawah sadar.
Pernahkah anda perhatikan seorang anak kecil yang akan tidur dan selalu mencari bantal ”kumal” kesayangannya ? Darimanakah pikiran ini muncul dalam benaknya ? Siapakah yang mengendalikannya ? Itulah hasil kerja pikiran bawah sadar.
Pikiran bawah sadar mengendalikan hampir sembilan puluh persen pemikiran dan tindakan kita. Ingin contoh nyata ? Baiklah, bayangkan tiba-tiba di depan anda saat ini, pada jarak kurang lebih 3 meter, anda melihat sekelebat bayangan yang mirip seperti bentuk ular. Anda menajamkan pandangan untuk melihat lebih jelas dan ternyata …… memang benar …. itu ular kobra yang tampaknya kelaparan. Tubuhnya yang sebesar paha orang dewasa bergerak lambat namun pasti. Suaranya mendesis membuat bulu kuduk berdiri, pandangan matanya sangat bengis dan gigi taringnya mencuat keluar disertai lidahnya yang menjulur-julur siap menerkam apapun yang bisa membuatnya kenyang. Apa yang akan anda lakukan ?
Yaa …. hampir sebagian besar dari kita akan memutuskan untuk lari. Ooops maaf jika anda wanita, anda akan berteriak dulu, bukan ? Baru setelah itu lari. Mengapa ? Karena sebagian besar dari kita tidak pernah tahu bagaimana menaklukkan kobra. Bahkan seandainya tahupun kita lebih baik lari dan mencari bantuan daripada melawannya bukan ?
Bagaimana jika seandainya anda dari kecil sudah diberitahu bahwa kobra itu mendatangkan rejeki. Orangtua anda mengatakan bahwa rumah yang ditempati sekarang adalah hasil dari berjualan kobra. Apakah anda akan lari jika menemui kobra di depan anda ? Tidak bukan ! Anda pasti berpikir ” wah ini rejeki, tanpa dicari muncul di depan mata ”.
Apa yang membedakan situasi di atas ? Yang membedakan adalah program pikiran yang ada dalam pikiran kita. Program tersebut mengendap dalam bawah sadar dan akan terpicu keluar oleh suatu kejadian tertentu. Ada banyak sekali program di dalam bawah sadar kita. Pernahkah anda memperhatikan program seperti apa yang masuk dalam pikiran kita setiap harinya ?
Pikiran bawah tidak bisa menolak apapun yang anda masukkan melalui kelima panca indera anda. Bahkan hal-hal yang tidak anda perhatikan secara sadar akan terekam dalam pikiran bawah sadar.
Bagaimana dengan anak-anak kita ? Kebanyakan orangtua sekarang sibuk memberikan ’makanan’ pada ’pikiran’ sadar anaknya. Anak usia 3 tahun – 4 tahun sudah dibawa pergi ke tempat les bahasa inggris, les mandarin, les menulis, membaca dan lain sebagainya.
Mereka mengatakan itu sudah tuntutan jaman. Oh ya…. jaman yang mana ? Dan tuntutan seperti apa persisnya ? Pernahkah anda secara serius memikirkan apa yang sebenarnya dituntut oleh anak-anak kita ? Dan apa yang sebenarnya dituntut oleh sebuah kehidupan sukses ?
Marilah kita lihat sekeliling kita, ada banyak orang yang menguasai bahasa Inggris dengan bagus ( apalagi di Inggris dan Amrik sono ) tetapi tidak punya pekerjaan. Dan ada banyak orang juga yang hanya lulusan SMU dan kurang bisa bahasa Inggris tetapi sukses luar biasa ! Ada banyak sarjana S1, S2 bahkan S3 yang hidupnya biasa-biasa saja.
Apakah artinya itu ? Itu semua artinya adalah netral. Kesemuanya itu adalah variabel. Variabel bisa bernilai benar ataupun salah. Seperti x + 2 = 5 akan benar jika x diganti dengan angka 3 dan akan salah jika x diganti dengan angka 4 atau 8. Bahasa Inggris, Mandarin, gelar sarjana, IQ tinggi, masuk sekolah top dan nilai IP tinggi adalah variabel. Tidak menjamin 100% hidup akan sukses !
Lalu apa yang menjadi variabel tetap ? Apakah ada ? Tentunya ada. Lihatlah kehidupan ratusan milyuner dalam dan luar negri, pelajarilah dan tariklah kesimpulan adakah variabel tetapnya ?
Satu hal pasti yang dimiliki oleh mereka semua adalah konsep diri sehat. Di manakah konsep diri sehat ini tersimpan ? Dalam pikiran bawah sadar.
Inilah yang harus kita jaga dalam diri setiap anak. Dengan konsep diri sehat hampir semua hal dapat dilakukan oleh seorang anak yang tumbuh menjadi dewasa. Jika kita berbicara konsep diri sehat kita bicara diri ideal sehat, citra diri sehat dan harga diri sehat. Dan jika kita bicara tiga hal ini kita bicara seorang yang memiliki impian, yang bersedia mewujudkannya dalam kehidupan nyata dengan apapun yang ada di tangannya. Kita bicara mengenai semangat tinggi, keyakinan dan kepercayaan positif, kreativitas tanpa henti, keuletan, keberanian menempuh perjalanan hidup, ketegaran seorang manusia dan kemampuan untuk mempelajari apapun juga yang diperlukan untuk sebuah kesuksesan !!
Apakah konsep diri positif ini bisa dikondisikan ? Ya !!! Anda bisa menciptakan kondisi yang mendukung. Caranya adalah dengan memahami bagaimana konsep diri ini tertanam dalam pikiran bawah sadar. Konsep diri tertanam dalam pikiran bawah sadar melalui pengulangan, pengalaman, tradisi dan model dari figur yang memiliki otoritas di mata anak.
Perhatikanlah apa yang berulang kali anda lakukan, ucapkan dan pikirkan terhadap anak-anak. Itulah yang nantinya akan membentuk mereka. Dari bahan dasar ini mereka akan mengembangkan diri mereka melalui pergaulan dengan lingkungan.
Mengapa bayi 1 tahun belajar berdiri dan berjalan ? Karena sejak ia bisa menggunakan matanya ia melihat orang-orang di sekitarnya berdiri ditopang kedua kaki dan berjalan. Cobalah anda bayangkan bagaimana jika sang bayi hanya melihat orang merangkak sejak ia bisa menggunakan matanya untuk melihat.
Sejauh apakah pengaruh program pikiran bawah sadar ? Program pikiran bawah sadar akan menentukan sukses tidaknya kehidupan seseorang. Dengan cara lain bisa dikatakan kehidupan yang dijalani seseorang adalah perwujudan dari program yang ada di bawah sadarnya dalam tingkat tertentu.
Pastikan bahwa tindakan / perlakuan dan ucapan / perkataan anda ke anak-anak mempunyai pengaruh yang positif bagi perkembangan dirinya. Karena itulah yang akan membentuk dirinya kelak.
Diarsipkan di bawah: STIMULASI BAYI
Brain Games untuk Si Kecil
Meliana Simarmata
Tahukah Anda bahwa otak bayi 250% lebih aktif dari otak orang dewasa? Apakah Anda juga tahu, kalau seorang bayi berusia tiga bulan, otaknya telah membentuk 1000 triliun koneksi yang jumlahnya kira-kira dua kali jumlah yang dimiliki orang dewasa dan berkembang lebih cepat di tahun pertama kehidupannya
Untuk mengoptimalkan perkembangan otaknya, cara yang terbaik adalah dengan melakukan sesuatu yang disenangi bayi. Karena bagaimana pun bayi memerlukan suatu lingkungan yang menarik untuk dijelajahi yang aman dan dipenuhi oleh orang-orang yang akan memberi tanggapan terhadap kebutuhan emosi dan intelektualnya. Permainan mengasyikkan dan mencerdaskan bisa jadi pilihan yang tepat.
Jackie Silberg, pemerhati dan pakar pertumbuhan dini anak, memberikan beberapa ide permainan seru yang bisa dilakukan bersama bayi mungil Anda dan sangat baik untuk membangun kapasitas otaknya.
0-3 Bulan
1. Permainan Meniup
Temuan riset :
Pengalaman sensorik positif dan interaksi sosial dengan orang dewasa mendorong kemampuan kognitif bayi.
Aturan main :
Permainan ini membantu bayi menyadari perbedaan pada setiap bagian tubuhnya.
Tiup dengan lembut telapak tangan si kecil sambil mengatakan,?Ini telapak tanganmu…?
Kemudian ciumlah telapak tangannya.
Tiuplah bagian tubuh lain. Hampir semua bayi menyukai tiupan lembut pada siku, jemari tangan, leher, pipi dan jemari kaki.
2. Ini Jariku
Temuan Riset :
Usaha untuk mengambil objek tertentu membantu otak mengembangkan koordinasi tangan-mata.
Aturan main :
Permainan ini menguatkan tangan dan jemari bayi.
Letakkan si kecil di pangkuan kita.
Masukkan jari telunjuk kita ke tangan si kecil.
Ia mungkin akan menggengam jari kita sebagai refleks alami bayi yang baru lahir.
Tiap kali ia menggenggam jari kita, ucapkan perkataan indah seperti,?Aduh, manisnya kamu!? atau ?Anak papa/mama memang pintar!?
Permainan ini juga mengembangkan keterampilan menelusuri sesuatu.
3.Pengalaman Sensorik
Temuan Riset :
Apa yang dilihat dan dicium bayi menyebabkan terbentuknya koneksi otak, terutama jika pengalaman tersebut terjadi dengan cara yang disukai, konsisten dan dapat diduga.
Aturan main :
Membuat bayi kita merasakan berbagai sensasi berbeda. Mulailah dengan bahan satin, wol dan bahan handuk.
Berikan si kecil kesempatan untuk mencium bebauan yang berbeda dengan menghirup bau jeruk yang baru dikupas atau keluarlah untuk menghirup wangi bunga.
3-6 Bulan
1. Angkat-angkat Naik
Temuan Riset :
Melatih membantu otak menghaluskan sirkuit untuk perkembangan keterampilan motorik
Aturan main :
Melatih lengan dan kaki si kecil akan membantu mengembangkan otot dan koordinasi motoriknya.
Ketika bayi sedang berbaring, dengan perlahan dan tanpa memaksa, angkatlah satu kaki dengan perlahan dan ucapkan sajak berikut :
”Angkat-angkat naik
Satu, dua, turun (turunkan kakinya)
Ulangi dengan kaki yang lain serta lengan.
Lakukan dengan dua kaki juga lengan pada saat bersamaan. “
2. Musik dan Lagu tentang Hewan
Temuan Riset :
Mendengarkan musik?menghubungkan? sirkuit neural di otak.
Aturan main :
Bayi menyukai musik dan ritme.
Ambil dua tongkat drum (atau 2 sendok kayu) dan ketuk secara berbarengan sewaktu menyanyikan lagu ?Cicak-cicak di Dinding?
Ketuk tongkat perlahan dan keraskan suara apabila sampai pada kata ?hap?. Si kecil akan mulai mengantisipasi suara yang lebih keras.
Bantulah si kecil memegang tongkat.
3. Sinar yang Indah
Temuan Riset :
Ketika bayi kecil menatap objek bergerak, neuron retinanya membuat koneksi ke neuron lain di bagian visual otaknya. Secara harafiah, ia ?merangkaikan? penglihatannya.
Aturan main :
Jika mau, selubungi lampu senter dengan bungkus plastik berwarna.
Pegang tangan si kecil di lengan kita dan nyalakan lampu senter.
Perlahan-lahan, gerakkan ke depan-belakang dan amati ketika dia mengikuti sinar.
Berbicaralah dengannya sewaktu menggerakkan sinar, misalnya, ?Lihat sinar yang indah ini.?
Si kecil tak hanya menyukainya tapi pada saat yang sama dia membuat koneksi penting di otak.
6-9 Bulan
1. Permainan Cermin
Temuan Riset :
Karena neuron penglihatan mulai terbentuk, bayi memerlukan rangsangan pengalaman visual
Aturan main :
Tak hanya menyenangkan, tetapi bercermin juga akan memberikan bayi perspektif lain tentang dirinya.
Saat bayi bercermin ia dapat tersenyum, menggoyangkan bagian-bagian tubuh yang berbeda, menunjukkan wajah dengan suara aneh, membuat suara dengan bibir atau mengayunkan badannya ke depan dan ke belakang.
2. Bermain Bola
Temuan Riset :
Setiap otak yang muda membentuk koneksi neuronal dan muskular yang diperlukan untuk duduk, merangkak, berjalan dan berbicara dengan kecepatannya sendiri.
Aturan main :
Bila si kecil sudah dapat duduk tegak, cobalah gulirkan bola kain lembut ke arahnya.
Gulirkan bola perlahan dan tunjukkan cara menangkapnya.
Permainan ini mengembangkan kemampuan motoriknya.
9-12 Bulan
1. Menjelajah Dunia Luar
Temuan Riset :
Pengalaman dini masa kanak-kanak melatih pengaruh yang dramatik dan secara fisik menentukan seberapa kompleks sirkuit neural otak terangkai.
Aturan main :
Bermain di luar pada hari yang indah adalah cara terbaik untuk melakukan permainan ini.
Merangkaklah bersama si kecil di rumput.
Sebutkan nama tiap benda yang tampak menarik buat si kecil.
Cium kuat-kuat, gelitiki dia dengan rumput, carilah serangga kecil dan sebagainya.
2. Es yang Berjatuhan
Temuan Riset :
Para peneliti baru menyadari betapa pengalaman kelahiran menentukan ?rangkaian? yang sesungguhnya dari otak manusia.
Aturan main :
Permainan bak mandi ini sangat mengasyikkan.
Isilah sebuah mangkuk dengan es batu.
Berikan si kecil satu mangkuk lain.
Jatuhkan sebuah es ke dalam bak dan lihatlah apakah si kecil dapat mengambilnya dengan mangkuknya.
Jika ia mengalami kesulitan, tunjukkan caranya.
Diarsipkan di bawah: STIMULASI BAYI
BINCANG-BINCANG TENTANG STIMULASI DINI
Mengambil tempat di Ballroom Hotel Ciputra, Jakarta, Nestle mengadakan seminar setengah hari Bincang-bincang Tumbuh Kembang Anak dengan Sang Ahli mengenai Stimulasi Dini dalam Perkembangan Kecerdasan Anak, Minggu (15/5) lalu.
Menurut pembicara, dr. Rini Sekartini, Sp.A, “Stimulasi untuk merangsang kecerdasan anak sebaiknya diberikan sejak kandungan berusia 6 minggu, karena pada usia 3 minggu, otak sudah mulai dibentuk.”
Rangsangan yang diberikan lebih pada perkembangan panca indera, antara lain mengajak bicara, mengelus, dan mendengarkan musik. “Pada dasarnya, semua jenis musik dapat memberikan rangsangan pada bayi dalam kandungan, bahkan suara mengaji pun bisa. Tetapi, menurut penelitian, yang paling baik adalah musik klasik,” ungkap Rini.
Setelah bayi lahir, rangsangan harus terus diberikan hingga usia 3 tahun. Rangsangan yang diberikan lebih untuk memacu kemampuan motorik halus dan kasar si bayi. Adapun stimulasi yang diberikan antara lain menyentuh dan menggoda bayi, mengajak bermain, mendengarkan dan merespons bayi, serta membacakan buku dan melibatkan bayi dalam kegiatan keluarga.
Stimulasi atau rangsangan yang diberikan ibu kepada bayi dapat meningkatkan kualitas sel-sel otak. Bahkan riset membuktikan, semakin sering bayi dipeluk, dibuai, dan digendong, maka akan semakin merasa aman dan mandiri ia setelah dewasa kelak.
Perkembangan Otak Anak
Hubungan antar sel-sel otak dibentuk dengan adanya saling kirim-dan-terima signal. Signal yang berupa getaran aliran listrik ini mengalir dari sel yang satu ke sel yang lainnya, dan dengan bantuan zat kimia seperti serotonin, terbentuklah hubungan antara sel-sel otak tersebut. Rangsangan yang terus-menerus, yang anda berikan melalui bentuk kegiatan yang berulang-ulang, akan semakin memperkuat
hubungan antar sel-sel otak. Satu sel otak mampu membuat 15.000 hubungan dengan sel otak yang lain. Hubungan yang sangat rumit inilah yang membentuk jaringan antar sel-sel otak. Pengalaman yang diterima oleh bayilah yang akan menentukan bentuk jaringan di dalam otak. Sejak bayi lahir, jaringan ini akan dibentuk dengan cepat sekali, dan pada usia anak mencapai 3 tahun, otak anak anda akan membuat kira-kira 1000 trilyun hubungan, dimana jumlah ini adalah
2 kali lipat dari jumlah hubungan jaringan otak pada orang dewasa. Hubungan otak yang densitas/kerapatannya sangat tinggi ini akan tetap dipertahankan sampai dengan umur 10 tahun. Setelah itu, apa yang akan terjadi ? Setelah anak menginjak usia 11 tahun, hubungan antar sel-sel otak tersebut akan diseleksi secara alami, dimana hubungan yang sering digunakan akan semakin diperkuat dan menjadi permanen, sedangkan hubungan yang tidak pernah digunakan akan diputus/dibuang. Disinilah pentingnya pengalaman pada usia awal/dini.
Disinilah peran orangtua akan sangat menentukan. Stimulasi yang anda berikan kepada anak anda akan sangat menentukan apakah hubungan antar sel-sel otak anak akan diperkuat atau justru diputus dan dibuang.
Diarsipkan di bawah: STIMULASI BAYI
BERENANG BIKIN IQ TINGGI
Jadi, Bu-Pak, ajaklah si kecil berenang. Sekalipun masih bayi, tak masalah. Bahkan, bayi baru lahir pun tak akan tenggelam kalau dicemplungin ke dalam air.
Hasil penelitian di Melbourne, Australia, menunjukkan, secara statistis IQ anak-anak yang diajarkan berenang sejak bayi lebih tinggi ketimbang anak-anak yang tak diajarkan berenang atau diajarkan berenang setelah usia 5 tahun. Anak-anak tersebut diukur IQ-nya ketika mereka berusia 10 tahun. Tak hanya itu, pertumbuhan fisik, emosional dan sosialnya pun lebih baik.
Penelitian lain menunjukkan, bayi lebih gampang diajarkan berenang ketimbang orang dewasa, karena bayi tak pernah memiliki faktor X semisal bahaya. Bukankah bayi belum mengerti bahaya? Lagi pula, bayi sangat menyukai air sehingga ia pun akan suka diajak berenang. Nah, hal ini membuatnya jadi lebih mudah belajar berenang.
Selain itu, bayi baru lahir hingga usia 3 bulan bisa langsung nyemplung ke dalam air tanpa takut tenggelam, karena pada usia tersebut, ia memiliki refleks melangkah yang banyak kegunaannya untuk berenang. “Refleks melangkah merupakan salah satu refleks yang menyertai bayi seperti halnya refleks menggenggam dan refleks berjalan,” jelas Dr. Karel Staa dari RS Pondok Indah, yang juga mantan perenang pemegang rekor 200 meter gaya dada pada 1960-1962.
Jadi, bila kita meletakkan bayi usia di bawah 3 bulan di dalam air, secara otomatis ia akan menggerak-gerakkan kakinya menyerupai paddle dog sehingga tak tenggelam. Bisa dikatakan, pada usia di bawah 3 bulan bayi sudah bisa berenang dengan gaya primitif. Bukan berarti setelah usiatersebut, bayi tak bisa berenang lagi, lo. Kendati refleksnya sudah menghilang, ia tetap bisa melakukan gerakan berenang walaupun tak terorganisir atau acak-acakan. Soalnya, dengan ada gaya gravitasi, ia merasa ditekan dari bawah air sehingga ia bisa mengambang. Ia pun jadi senang.
Apalagi sejak di perut ibu, bayi sebenarnya juga sudah berenang dalam air ketuban selama 9 bulan. Setelah lahir, kemampuannya berenang tinggal ditingkatkan saja. Bahkan, saking populernya berenang ini, di luar negeri sampai ada proses melahirkan yang dilakukan di dalam air, lo. “Secara medis, hal ini tak akan menimbulkan masalah karena merupakan proses alami.” Jadi, tak ada alasan lagi untuk ragu-ragu mengajak si kecil berenang, ya, Bu-Pak.
HARUS AMAN
Yang penting diperhatikan, ketika berenang bayi harus merasa aman dan memang harus ada pengaman. Jadi, orang tua harus mendampinginya. Ini syarat mutlak, lo. “Jika orang tua sama-sama masuk ke dalam air dan sama-sama berenang dengan bayi, maka selain merasa aman, bayi pun bisa merasakan ada respon dari orang tua,” tutur Karel.
Disamping, dengan orang tua mendampingi juga bisa bermain dengan bayi sehingga ada interaksi antar manusia. “Ini merupakan salah satu keunggulan berenang.” Coba bandingkan kala bayi baru belajar duduk atau berjalan, apakah orang tua akan mendampingi dan melakukan gerakan yang sama terus menerus dengan anak? Kan, enggak. “Nah, berenang lain. Mereka sama-sama masuk air, sama-sama berenang sehingga rasa enjoy-nya lebih. Ini akan berguna untuk perkembangan psikologis anak.” Itulah mengapa, kedua orang tua sebaiknya ikut bersama bermain di dalam air.
Tentunya, berenang juga berguna untuk pertumbuhan. “Motoriknya berkembang lebih pesat ketimbang ia hanya bermain di lantai.” Bukankah saat berenang, semua otot bekerja? Nah, kalau di lantai, hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja. Apalagi jika ibu memberikan baby walker sehingga bayi jadi terbiasa berjalan dengan alat itu. Akhirnya, gerakan-gerakan ototnya jadi terbatas karena hanya otot-otot tertentu saja yang bekerja.
PERHATIKAN KEBERSIHAN AIR
Nah, kini Ibu-Bapak semakin mantap, kan, mengajak si kecil berenang? Tapi berenangnya di rumah saja, ya, kalau usia si kecil masih di bawah 6 bulan, agar bisa mengontrol kebersihan dan suhu airnya. Jangan lupa, di usia ini enzim pencernaan bayi belum matang. Jadi, kalau ia secara tak sengaja menelan air yang tak bersih kala berenang, bisa mengakibatkan mencret, muntah, dan sebagainya.
Bukan berarti di rumah harus ada kolam renang, lo. Toh, banyak benda yang bisa dijadikan sebagai pengganti kolam renang seperti bak mandi, ember besar, bathtub, dan lainnya. Nah, biasakan bayi bermain di situ. “Sebenarnya, ketika bayi tengah mandi atau bermain air merupakan salah satu cara mengenali atau menghayati air pada anak,” tutur Karel.
Setelah bayi berusia 6 bulan ke atas barulah bawa ia ke kolam renang terbuka atau umum. “Tapi harus pilih, ya. Mungkin di Indonesia masih sulit karena kita, kan, enggak punya kolam berenang khusus bayi. Bahkan kebanyakan kolam renang di Jakarta, air yang dipakai itu-itu saja, muter saja di situ. Diputarnya pakai mesin lalu ditambahkan kaporit dan daun-daun atau kotorannya diangkat; sebulan sekali baru diganti.” Hal ini dikarenakan sulitnya sumber air di Jakarta. Lain dengan di kota
pegunungan seperti Bogor dan Cibodas, “mereka memiliki kolam renang yang airnya mengalir”.
Jadi, bila mau membawa bayi berenang di kolam renang umum, pilih waktu yang tepat, yaitu ketika kolam renang masih dalam keadaan bersih; biasanya di waktu pagi. “Suhunya juga harus disesuaikan, sebaiknya jangan lebih dari 31 atau 32 derajat celcius.” Khusus untuk bayi usia satu bulan pertama, suhunya 34-35 derajat celcius.
Kebersihan lain yang harus diperhatikan ialah kaporitnya, “jangan terlalu jenuh, karena kaporit bisa mengakibatkan iritasi kulit, mata, dan lainnya.” Ukuran kaporit yang ditetapkan untuk anak adalah 6-8 ppm. Hati-hati, lo, Bu-Pak, jika bayi sudah merasa trauma karena matanya perih, misal, selanjutnya akan jadi kendala.
UNTUK REKREASI
Yang perlu diingat, jangan sampai orang tua mengajak bayi berenang untuk mengejar prestasi karena tujuan utamanya adalah rekreasi. Beberapa asosiasi kedokteran anak di luar negeri malah mengatakan, berenang pada nak usia di bawah 4 tahun jangan dijadikan tujuan untuk mengejar restasi. Di atas usia itu barulah orang tua bisa mengajarkan gaya-gaya berenang yang ditargetkan untuk prestasi.
Dalam bahasa lain, bayi berenang hanya untuk fun. “Mulai usia setahun bolehlah diarahkan pada prestasi, tapi tidak dengan cara ditekan,” ujar Karel. Misal, setiap hari harus berenang 50 meter bolak-balik. Soalnya, di usia tersebut ia baru bisa mengikuti gerakan-gerakan renang yang dilakukan orang tuanya. Sama halnya dengan bayi usia setahun yang suka marah-marah karena melihat orang tuanya yang suka marah-marah, begitu pula berenang. “Kalau orang tua suka berenang dengan gaya yang cukup baik maka ia pun akan mengikuti.”
Jadi, ajak si kecil berenang untuk kesehatannya lebih dulu, ya, Bu-Pak. Soal gaya renang akan mengikuti secara otomatis bila ia sudah menyukainya. Jangan lupa, ketika mendampinginya, Ibu-Bapak juga harus fun, lo, bukan lantaran terpaksa.
Diarsipkan di bawah: STIMULASI BAYI
Bayi Merayap Tingkatkan Kemampuan Otak
GloriaNet – Setiap orangtua pasti mempunyai keinginan agar anaknya cerdas di sekolah maupun dalam pergaulan. Tak jarang orang tua memaksakan anak masuk ke sekolah favorit dengan bermacam-macam kegiatan ekstra kulikuler. “Anak hidup dalam time schedule yang dibuat oleh orangtua dan guru mereka.
Akibatnya anak justru tidak mencapai prestasi seperti yang diinginkan orang tuanya,” kata Konsultan Medis dan Dokter Perusahaan Bumida dr Ruswaldi Munir, Sp.KO dalam “Seminar Brain Movement and Exercise”. Demikian pemberitaan harian Sinar Harapan.
Ini terjadi karena anak stres ketika orang tua hanya memperhatikan perkembangan intelek dan mengabaikan emosional. Dia juga melihat tidak banyak guru, sekolah ataupun pengambil keputusan mengerti tentang perlunya keselarasan (keseimbangan) kecerdasan otak kiri dan kanan, sehingga menghasilkan anak-anak dengan tumbuh kembang otak yang optimal.
Penelitian yang pernah dilakukan Ruswaldi bersama Asosiasi Alzeimer Indonesia tahun 2003 menyimpulkan bahwa Gerak Latih Otak (GLO) berhasil meningkatkan atensi, memori, kewaspadaan dan fungsi eksekutif dari masa coba yang terdiri dari orang dewasa usia 48-70 tahun. “Saya berasumsi, pastilah latihan itu sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan kemampuan otak anak. Kalau saja pada orang tua yang sudah terjadi penurunan pada inteligensi dasar berhasil ditingkatkan dengan GLO, apalagi pada anak-anak yang sedang mengalami tumbuh kembang fisik dan mental,” lanjutnya.
Neurolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr lily D Sidiarto, Sp.S(K) mengatakan, konsep dasar yang dipergunakan pada GLO adalah prinsip motor learning, motor skills yang volunter, gerakan tubuh atau anggota tubuh yang mempunyai tujuan, yang terdiri dari gerakan serial yang terkoordinir.
Menurutnya, GLO juga dapat dilakukan ibu pada bayinya dengan sentuhan halus menggerakkan lengan dan tungkai bayi menyilang garis tengah tubuh. Melakukan integrasi sensoris dengan gerakan bola mata bayi mengikuti benda berwarna cerah dan menarik yang digerakkan (mulai di depan mata bayi lalu ke kiri ke kanan, ke atas, samping dan ke bawah), disertai dengan musik atau senandung ibunya.
Pada bayi yang lebih besar, dalam posisi tengkurap, latih untuk merayap dengan menaruh benda yang menarik di depan mata, tetapi di luar jangkauan tangan bayi. Bayi akan berusaha menjangkau benda dengan merayap. Hal yang sama dapat dilakukan pada fase merangkak. “Anak-anak yang pada masa bayi mengabaikan fase merayap dan merangkak, karena banyak digendong atau menggunakan baby walker, tidak jarang mengalami kesulitan belajar seperti belajar membaca, menulis, matematika pada masa sekolah. Bila bayi mengalami kesulitan merayap dan merangkak, dapat dilatih dengan bantuan ibunya,” kata Lily. (GCM/*)
Sumber: http://www.glorianet.org/keluarga/anak/anakraya.html
Diarsipkan di bawah: STIMULASI BAYI
Bayi Juga Butuh Buku Lho!
Tak hanya Anda, si kecil yang masih bayi juga butuh buku. Ada banyak manfaat yang dapat Anda dan si kecil peroleh dengan memperkenalkannya pada buku sedini mungkin. Membacakannya buku tak hanya baik untuk menstimulasi perkembangan otaknya dan kreativitasnya, tetapi juga dapat menjadi cara yang baik dan menyenangkan untuk membangun kedekatan emosi antara Anda dengannya.
Penelitian beberapa ilmuwan tentang bagaimana kemampuan awal bahasa bayi berkembang, menemukan sejumlah fakta sebagai berikut:
- Bayi mulai belajar bahasa sejak lahir. Membaca keras-keras dapat menjadi sarana yang baik bagi bayi untuk mendapat ekspos terhadap bahasa manusia.
- Pada saat usia bayi mencapai 2 tahun, rata-rata mereka sudah dapat mengetahui 300-500 kata. Anak-anak yang sering diajak bicara atau dibacakan mempunyai kosakata yang lebih banyak dan kemudian akan berkembang menjadi pembaca yang lebih baik.
- Memperkenalkan dan membaca buku pada si kecil adalah dasar/pondasi untuknya belajar membaca.
Selain melalui kata-kata yang ia dengar, bayi Anda juga bisa belajar melalui gambar-gambar yang terdapat dalam buku. “Anda mungkin lupa menunjukkan pada si kecil bunga yang tumbuh di halaman rumah. Tetapi jika Anda melihat gambar bunga pada bukunya, Anda mungkin langsung menunjukkannya pada si kecil. Nah, saat berjalan-kemudian Anda dan si kecil melihat bunga, Anda pun dapat mengatakan, ‘Lihat itu bunga seperti yang kita lihat di bukumu,’’ papar Nanci Weinberger PhD, psikolog. Dengan begitu, tambahnya, Anda menambah pengetahuan simboliknya, yaitu kemampuan untuk mengasosiasikan gambar dengan nama lalu mengenalinya sebagai suatu objek yang riil. Dengan buku juga, si kecil dapat mengeksplorasi banyak hal tidak bisa dia lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti, planet, zebra, dinosaurus dan lain sebagainya.
Manfaat membacakan buku pada bayi tak hanya dapat memberikan manfaat kognitif bagi bayi tetapi juga manfaat sosial dan emosional. Denny Taylor EdD, profesor studi literature dari New York, AS, mengatakan, “Buku cerita dapat membawa ibu dan anak dalam suasana kebersamaan dan memberikan kesempatan pada mereka untuk berdekatan secara fisik.”
Berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk memulai kebiasaan baik ini sedini mungkin.
- Jangan tunda sampai bayi Anda besar. Mulailah membacakan buku untuknya sejak dia lahir.
- Ayo, jangan malas untuk pergi ke toko buku ataupun perpustakaan yang baik untuk mencari buku-buku yang menarik dan sesuai dengan usianya.
- Libatkan si kecil, biarkan dia membantu Anda membalik halaman buku yang dibacakan untuknya.
- Kalau moodnya sedang tidak baik, jangan paksakan. Cobalah lagi nanti.
Walaupun setiap bayi mempunyai keunikannya tersendiri, tetapi ada pola perkembangan yang dapat diprediksi saat bayi berinteraksi dengan buku.
0-3 bulan, bayi Anda:
- Lebih menyukai buku-buku yang memiliki warna-warna kontras dan desain yang berpola.
- Melihat gambar-gambar tapi mungkin belum mau menyentuh buku yang ada di di hadapannya.
- Menatap pada Anda saat Anda mendendangkan lagu atau bersenandung untuknya.
4-6 bulan, bayi Anda:
- Mulai mengeksplorasi buku dengan memasukkan ke dalam mulut.
- Menunjukkan ketertarikan terhadap buku dengan meraih dan berusaha membalik-balik halamannya.
- Bereaksi mengoceh ketika Anda membaca untuknya.
6-12 bulan, bayi Anda:
- Mengoceh saat melihat beberapa gambar.
- Sudah dapat membalik halaman buku dengan bantuan Anda.
- Bermain dengan buku seperti dengan mainan.
12-18 bulan, si kecil:
- Dapat memegang buku tanpa bantuan.
- Secara mandiri sudah dapat melihat-lihat buku sendiri.
- Melihat buku sekilas, kemudian menggantinya dengan buku atau aktivitas lain.
- Dapat menggunakan jarinya untuk menunjuk suatu gambar/ilustrasi.
18-24 bulan, si kecil:
- Dapat mengatakan beberapa kata dan frase yang sering ditemuinya dalam buku.
- Mulai berpura-pura membaca atau menirukan perilaku orang dewasa saat membaca.
- Bisa meminta Anda untuk membacakan cerita yang disukainya berulang-ulang kali.
- Dapat membawa-bawa buku favoritnya ke mana-mana.
Diarsipkan di bawah: SPECIAL GIFT
Alternatif buat Anak Hiperaktif
Keceriaan Bu Santi tiba-tiba memudar. Putranya, Reza (2 th) tiba-tiba berubah. Semula perubahan itu dianggap lumrah. Sejak kecil putra pertamanya itu begitu aktif dan tak mau diam. Melihat kegesitan anaknya, Bu Santi senang dan tenang saja. Bahkan, dengan bangga ia menceritakan tingkah laku anaknya kepada para tetangganya. “Si Reza itu calon aktivis. Lihat, usianya belum sampai dua tahun, tapi kelakuannya itu lho. Kemarin, pagar rumah saya kunci dari dalam, eh malah dia manjat..” ujar Bu Santi bangga.
Namun, sejak putra sulungnya itu jatuh dari meja makan dan hampir kesetrum karena memegang stop kontak listrik, Bu Santi jadi banyak berpikir. Dibanding teman-teman seusianya, Reza sepertinya mengalami kelainan. Ia seperti kelebihan tenaga, tak bisa duduk berlama-lama dan sering berteriak-teriak memberikan jawaban sebelum ditanya. Yang membuat sang ibu kesel, anaknya suka mengganggu anak-anak lain. Dari salah seorang psikolog anak, diketahui bahwa si Reza mengalami gejala hiperaktif.
Tak sedikit orangtua yang mempunyai pengalaman seperti Bu Santi. Kebanggaan mempunyai anak gesit, tangkas dan lincah perlahan pudar berganti dengan kecemasan. Sikap anaknya yang tidak bisa diatur dan sering melakukan tindakan-tindakan di luar kontrol, tentu membuat orangtua cemas.Gejala seperti yang dialami Reza termasuk gejala hiperaktivitas motorik yang biasa dikenal dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). Gejala ini biasa menjangkiti 3%-5% anak berusia 4-14 tahun. Namun, sejak usia di bawah dua tahun gejalanya sudah mulai
kelihatan. Bahkan, menurut Seto Mulyadi, pakar pendidikan anak yang biasa disapa Kak Seto, gejala hiperaktif sudah kelihatan sejak bayi. “Ia menangis terus tak mau berhenti. Menarik perhatian orangtua di tengah malam dengan menangis keras-keras,” ujar Kak Seto. Nah, masih menurut Kak Seto, anak hiperaktif mengalami puncaknya pada usia 4-5 tahun.
Namun, walaupun tampak beberapa keganjilan, tak perlu buru-buru memvonis sangat anak hiperaktif. “Banyak anak yang kreatif dan aktif tapi tidak hiperaktif. Bahkan, mungkin anak berbakat dan jenius. Boleh jadi nantinya seperti Thomas Alfa Edison atau Einstein,” papar Kak Seto.
Untuk dapat disebut memiliki gangguan ADHD, minimal ada tiga gejala utama yang tampak.
Pertama, inatensi atau kurangnya kemampuan anak untuk memusatkan perhatiannya terhadap sesuatu. “Bahkan hanya sekadar konsentrasi 2-3 menit pun dia tidak bisa. Konsentrasinya sangat mudah berubah-ubah,” tambah Kak Seto.
Kedua, hiperaktif. Biasanya sang anak seperti kelebihan tenaga. Ia tak mau diam, selalu berlari kesana kemari, dan cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
Ketiga, impulsif. Gejala ini ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk melakukan sesuatu tanpa kendali. Biasanya, sang anak menjadi tidak sabar menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Ia akan menyela atau buru-buru memberikan jawaban. Anak juga tak bisa menunggu giliran, antri misalnya. Ia akan cepat marah dan mudah tersulut emosi. Karenanya, sang anak akan berpotensi tinggi melakukan aktivitas membahayakan, baik bagi dirinya atau orang lain.
Anak bisa disebut hiperaktif kalau ketiga gejala itu sudah berlangsung minimal 6 bulan dan terjadi sebelum anak mencapai dewasa.
Menurut Dokter Zakiudin Munasir, Sp A (K), staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, secara umum penyebab anak hiperaktif ada dua. Yaitu, (secara medis) karena kelainan organik di susunan sarafnya dan (secara psikologis) karena kelainan tingkah laku. Kelainan organik bisa disebabkan banyak hal. “Bisa karena trauma pada sesuatu, karena benturan di salah satu anggota tubuhnya,
atau tumor di otak,” papar Zaki. Jadi, karena adanya kerusakan kecil pada sistem saraf pusat dan otak menyebabkan rentang konsentrasi menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan.
Secara psikologi bisa disebabkan lingkungan, baik keluarga atau teman bermain. Orangtua yang kurang perhatian dan membiarkan anaknya melakukan apa saja, bisa membuat anak hiperaktif. Gejalanya sama saja. “Yang membedakan adalah penyebabnya,” tambah Dokter Zaki.
Karenanya, menurut Sydney Walker III, Direktur Institut Neuropsikiatris California Selatan, dalam bukunya Hyperactivity Hoax, kesalahan mendasar dalam penanganan hiperaktif adalah memandangnya sebagai suatu diagnosa. Padahal hiperaktif bukanlah suatu penyakit, melainkan sekumpulan gejala yang dapat disebabkan oleh beragam penyakit dan gangguan.
Ia memberikan contoh, pusing. Pusing bukanlah penyakit tetapi suatu gejala. Ia bisa merupakan gejala influenza. Juga bisa disebabkan terlambat makan, tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Atau, bahkan bisa merupakan gejala tumor otak. Karenanya, memberikan satu obat yang sama untuk semua gejala pusing, jelas tak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat memperburuk kondisi pasien.
Begitu juga dengan hiperaktif. Tidaklah tepat bila memberikan obat atau pendekatan yang sama kepada semua anak yang mengalami hiperaktif tanpa memahami lebih dulu penyakit atau gangguan yang melatarbelakanginya. Karenanya, menurut Dokter Zaki, dalam pengobatan hiperaktif, biasanya dipastikan dulu, apakah karena kelainan organik atau tidak. Proses ini bisa melalui berbagai prosedur pemeriksaan, seperti otak direkam otak discan.
Menurut Sydney Walker III, hiperaktif bisa muncul kerena efek adanya infeksi bakteri, cacingan, keracunan logam dan zat berbahaya (Pb, CO, Hg), gangguan metabolisme, gangguan endoktrin, diabetes, dan gangguan pada otak. Dengan mengatasi penyakit atau gangguan yang melatarbelakanginya, maka hiperaktivitas pun dapat tertanggulangi.
Penyakit keturunan seperti turner syndrome, sickle-cell anemia, fragilex, dan marfan syndrome juga dapat menimbulkan hiperaktif. Karenanya, hiperaktif bisa juga ditemukan dalam garis keturunan. Bukan hiperaktifnya yang diturunkan, tapi penyakit yang bisa menyebabkan hiperaktif.
Secara psikologis, hiperaktif adalah dampak dari pola hidup yang kurang disiplin. Tanpa kedisiplinan yang konsisten, akhirnya mereka tumbuh menjadi anak-anak yang malas, sembrono, sulit mengendalikan diri, dan mematuhi peraturan.
Untuk menghadapi anak seperti ini orang tua membutuhkan kombinasi antara “ketegasan” dan “pengalihan perhatian”. Misalnya, dalam kasus anak bermain stop kontak. Meskipun dilarang dengan mengatakan “jangan” tetap saja iamelakukannya. Mengapa? Karena anak kecil belum memiliki cara berpikir yang fleksibel. Karenanya, ia harus diberikan permainan alternatif agar tidak main stop kontak. “Jangan anaknya yang diubah, tapi lingkungannya,” pesan Kak Seto.
Sebagian besar anak-anak hiperaktif mendapat perawatan medis berupa obat-obatan stimulan. Stimulan dipercaya dapat meningkatkan produksi dopamine dan norepinephrine, yaitu neurotransmiter otak yang penting untuk kemampuan memusatkan perhatian dan mengontrol perilaku. Ritalin dengan kandungan methylphenidate adalah salah satu stimulan yang paling banyak diresepkan.
Sementara mengonsumsi stimulan, anak akan mengikuti terapi dan modifikasi perilaku. Setelah terapi dan modifikasi perilaku membuahkan hasil, dosis stimulan akan dikurangi secara bertahap sampai akhirnya lepas obat sama sekali.
Di sisi lain, banyak juga pihak yang menentang pendekatan ini. Salah satunya adalah gerakan Alternative Mental Health di Amerika. Mereka memandang stimulan lebih banyak mendatangkan kerugian daripada manfaat. Para pakar yang bergabung dalam gerakan ini dengan giat melakukan penelitian tentang peranan nutrisi, diet, dan herbal untuk mengatasi hiperaktif.
Alasan yang lebih masuk akal dikemukakan Sydney Walker III yang juga menentang penggunaan stimulan. Sydney mengingatkan, bahwa hiperaktif adalah sekumpulan gejala yang dilatarbelakangi beragam penyakit dan gangguan, sehingga tidaklah tepat menyamaratakan penanganannya. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa belum ada penelitian tentang efek jangka panjang stimulan.
Bahkan, Sydney mulai melihat kecenderungan anak-anak yang mengonsumsi stimulan tertentu lebih mudah menjadi pecandu narkoba di usia dewasa. Selain struktur biokimia-nya yang mirip dengan kokain, konsumsi stimulan membuat anak-anak terbiasa mencari jalan keluar yang instan.
Kurt Cobain-penyanyi grup Rock Nirvana yang tewas bunuh diri-diangkat oleh Sydney sebagai contoh anak hiperaktif yang mendapatkan penanganan yang salah. Ia terjerat narkoba sampai akhir hayatnya.
Apa pun bentuk penanganannya yang perlu diperhatikan adalah menerima dan memahami kondisi anak. Orangtua perlu memahami bahwa tingkah laku si anak yang tidak pada tempatnya didasari oleh keterbatasan dan gangguan yang ia alami.
Bukan berarti orangtua dan pendidik lantas mengabaikan kedisiplinan, melainkan anak dibantu untuk memenuhi peraturan. Misalnya, agar anak dapat menyelesaikan tugas pada waktunya, bagilah tugas ke dalam beberapa bagian kecil (beberapa nomor), tetapkan pula batas waktunya dengan jelas. Usahakan agar ruang belajar bebas dari gangguan, seperti suara, pernak-pernik maupun orang-orang yang hilir mudik. Menempatkan anak di barisan paling depan dan memberikan tepukan
lembut juga dapat membantunya untuk memusatkan perhatian.
Berbagai tips praktis di atas, tentu saja tak kan bermanfaat, bila penyebab dasarnya belum teridentifikasi. Untuk itu diperlukan kerja sama tim yang terdiri dari dokter, dokter spesialis, psikolog, psikiater, guru dan orangtua dalam proses identifikasi. Setelah masalah teridentifikasi dengan jelas, program penanganan dapat
dirancang dengan akurat.
Pada beberapa kasus, anak-anak dengan gangguan ini membutuhkan terapi, seperti terapi remedial, terapi integrasi sensori, maupun terapi lain yang sesuai dengan kebutuhannya. Pusat-pusat terapi semacam ini telah banyak berdiri, meskipun terbatas di kota-kota besar di Indonesia.
Ketekunan, konsistensi, kerja sama dan sikap mau mengubah diri sangatlah dituntut dari pihak orangtua dan pendidik. Di atas itu semua, doa dan kasih sayang yang tulus, menduduki urutan pertama dalam mengatasi masalah anak. Jadi, hiperaktif bukanlah masalah tanpa alternatif jalan keluar.
Tips buat Orang tua
——————-
Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua saat mendapati
anaknya hiperaktif.
1.Untuk mengatasi anak hiperaktif, orangtua harus sabar, konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tak bisa diam, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Hal ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan.
2.Setelah bisa duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf.
3.Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya.
4.Selain itu bisa juga mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka di bawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka “0″ dengan benar.
5.Berilah pujian setiap anak berhasil melakukan sesuatu dengan benar. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.
6.Jangan menghukum anak. Hiperaktif bukan kesalahannya.
7.Jangan sekali-kali melabel anak hiperaktif sebagai anak nakal, malas atau bodoh. Karena ia akan bersikap seperti yang dilabelkan padanya.
8.Keefektifan terapi berbeda-beda bagi tiap anak. Orang tua harus menentukan terapi yang terbaik bagi anak.
9.Yang terpenting, berikan kasih sayang, bukan memanjakannya melebihi saudara lainnya.
Diarsipkan di bawah: STIMULASI BAYI
15 Cara Meningkatkan Kecerdasan Bayi
Meliana Simarmata
Orangtua mana yang tidak ingin melihat anaknya tumbuh cerdas? Tentu Anda juga ingin bukan? Karena itu, maksimalkanlah potensi kecerdasan si kecil sejak bayi. Para pakar perkembangan bayi percaya, tahun-tahun pertama si kecil adalah masa-masa emas yang sangat penting untuknya mempelajari berbagai macam hal. Untungnya, Anda sebenarnya tidak memerlukan alat belajar yang mahal untuk menstimulasi kecerdasannya. Justru sarana terbaik yang dia butuhkan adalah Anda sendiri. Interaksi Anda dengan dia setiap harilah yang memberi kontribusi begitu besar bagi perkembangan otaknya.
Berikut kami siapkan 15 cara mudah, tepat dan menyenangkan untuk membantu bayi Anda tumbuh cerdas.
- Pentingnya ASI.
Penelitian menunjukkan anak yang diberi ASI memiliki IQ lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang diberi susu formula. Karena itu, usahakanlah untuk menyusui sendiri bayi Anda selama mungkin. Lagipula memberikan ASI pada bayi sangat baik untuk membangun kedekatan emosi antara Anda dengannya. Lakukanlah sambil mengajaknya bicara, bernyanyi atau menciuminya.
- Kontak mata sesering mungkin.
Saat mata bayi Anda terbuka, usahakanlah untuk terus menatap matanya karena ia sudah mulai dapat mengenali wajah sejak dini. Dan mengenali wajah Anda adalah yang terpenting.
- Bermain dengan cermin. Biarkan si kecil menatap dirinya di dalam cermin. Pertama-tama mungkin dia berpikir kalau yang dia lihat adalah anak kecil lain. Tapi lama-kelamaan dia akan mencoba membuat ?anak kecil? itu tersenyum, melambaikan tangan, menyentuh dan lain sebagainya.
- Mari bernyanyi.
Beberapa riset menunjukkan, mempelajari irama musik berhubungan signifikan dengan kemampuan belajar matematika. Karena itu mulailah untuk menyanyikan atau memainkan sebanyak mungkin lagu dan musik untuknya dari Handel, sampai lagu-lagu Justin Timberlake. Kreatiflah dalam memanfaatkan setiap kesempatan, misalnya saat memandikan atau mengganti popoknya.
- Membacakan buku.
Kegiatan sangat penting untuk bayi. Di usia yang dini ia sudah mulai dapat mengenali berbagai kata yang Anda bacakan beberapa kali untuknya. Tentu ini sangat baik untuk membantunya mempelajari bahasa.
- Bermain petak umpet.
Permainan ini tak hanya akan membuatnya tertawa-tawa senang, tapi pada saat yang sama dia bisa belajar bahwa sesuatu bisa menghilang dan kembali lagi.
- Satu, dua, tiga,?
Cobalah untuk menghitung apa saja yang Anda dan si kecil lihat, seperti mainan-mainannya, anak tangga di rumah, makanan kecil yang dimakannya, buku-buku yang tersusun di lemari, bunga di halaman dan lain sebagainya. Jika Anda melakukannya berarti Anda sedang mengajari si kecil mengenal konsep matematika sederhana.
- Jalan-jalan yuk!
Ajak si kecil untuk menikmati dunia luar, berbelanja misalnya. Suara, warna-warni yang dilihat, pemandangan, orang-orang yang dilihatnya menyediakan hiburan, pengetahuan dan pengalaman berbeda untuknya.
- Story time.
Pilih salah satu cerita favoritnya dan gantilah nama karakter di dalamnya dengan namanya untuk membuat saat bercerita jadi menarik. Story telling sangat baik untuk mengembangkan imajinasi si kecil dan membantunya mengeksplorasi banyak hal.
- Memaksimalkan Story Telling.
Jangan hanya membacakan cerita secara pasif untuknya. Berinteraksilah secara aktif dengan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana yang berhubungan dengan cerita. Pertanyaan seperti ?Apakah kamu pernah melihat bunga merah sebelumnya?? atau ?Mengapa Koko mau sekolah?? bisa jadi inspirasi untuk Anda.
- Tunjuk sana, tunjuk sini.
Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar memperkenalkan berbagai hal padanya. Saat berjalan-jalan tunjukkanlah berbagai benda seperti ?Lihat ada anak kucing!? atau ?Apakah kamu lihat pohon besar itu??
- Waktunya menonton.
Bersama si kecil, tontonlah koleksi video yang merekam dirinya dengan berbagai aktivitas dan peristiwa, misalnya saat ia mulai belajar berguling, duduk, berdiri, bermain dengan Anda atau kakeknya, mandi dan lain-lain. Jangan lupa menyelipkan narasi untuk membangun memori dan kemampuan berbahasanya.
- Meal time.
Sekali-kali, biarkan si kecil bermain-main dengan dengan makananya. Biarkan dia memegang dan merasakan berbagai tekstur makanan dan rasanya. Perkenalkan juga dia dengan berbagai jenis sayuran, buah dan warna-warnanya.
- Sebab dan akibat.
Untuk mengajarinya konsep sebab dan akibat Anda dapat mempergunakan apa yang ada di rumah. Misalnya dengan mengatakan, ?Mama akan matikan lampunya sekarang ya..,? sesaat sebelum Anda mematikan lampu. Dari situ dia akan belajar, jika lampu dimatikan ternyata ruangan akan menjadi gelap.
- Bantu Mama Yuk?.
Libatkan si kecil untuk membantu Anda. Dia bisa lho membantu Anda menyortir pakaian yang putih dengan yang berwarna atau memilih pakaian mana saja yang menjadi miliknya.
