Diarsipkan di bawah: MASAK UNTUK DEVEN
aku cari-cari link resep balita. dapet resep-balita.blogspot.com. dan aku mau belajar sedikit demi sedikit. aku cari yang gampang dulu. gampang nih kayaknya. mbak retma ijin copy resepnya ya.. mau belajar..
Cheese Muffin
Bahan:
- 125 gr tepung terigu
- 115 gr butter unsalted
- 55 cc air
- sejumput garam (gak perlu klow butternya pake yg salted)
- 100 gr telur (timbang gak pake kulit yak)
- 150 gr gula pasir
- 4 gr baking powder
- 1/2 sdt vanili bubuk (aku kadang pake ekstrak vanili biar lebih harum)
- keju cheddar secukupnya
Cara Membuat:
- Rebus butter, air, dan garam sampai mendidih
- Masukkan tepung ke dalam kom mixer, masukkan bahan campuran butter panas-panas (dikucurin, jangan dituang sekaligus), lalu dimixer dengan kecepatan sedang sampai hangat.
- Masukkan vanili
- Masukkan telur satu persatu
- Campur gula pasir dan baking powder sampai rata, lalu masukkan kedalam adonan, kocok sampai cukup rata
- Keju potong kecil2 bentuk dadu (besarnya terserah deh, banyaknya juga terserah), masukkan ke adonan, aduk rata
- Sendokkan adonan ke cetakan muffin ampe penuh
- Taburi atasnya dengan keju dadu lagi, dikit ajah
- Oven dengan suhu 160° ± 25 menit
* Sop jagung
Bahan:
- wortel, kupas, potong2 kotak kecil bentuk kubus
- jagung, sisir
- ayam
- daun bawang+sledri
- kembang kol, potong per kuntum
- bawang putih
- merica
- garam
- gula pasir
Cara Membuat:
- Rebus ayam untuk mendapatkan kaldu dan ayam empuk
- Angkat ayam, potong kotak kecil2
- haluskan bawang putih+merica+garam, tumis
- Didihkan kaldu, masukkan bumbu+potongan ayam
- masukkan wortel, jagung, kembang kol
- Tambahkan gula pasir secukupnya (ini untuk buat rasa gurih2 gituw)
- Masukkan daun bawang+sledri
- Setelah sayuran empuk, angkat. Boleh ditaburi bawang goreng.
**Perkedel kentang ayam
Bahan:
- kentang, kupas, goreng (boleh dikukus kalau mau)
- Ayam, rebus, cincang (atau diblender)
- bawang goreng secukupnya/daun sledri iris halus
- telur
- garam, merica
Cara Membuat:
- Haluskan kentang yg sudah dikukus/digoreng
- Haluskan garam+merica
- Campur semua bahan jadi satu
- Goreng deeeh.
Diarsipkan di bawah: MPASI
Breakfast Ideas for Toddlers
http://www.wholesometoddlerfood.com/toddlerbreakfast.htm
Serve your Toddler healthy and nutritious breakfast foods! You don’t have to rely on cold cereals for a Toddler’s breakfast; try these easy to prepare breakfast foods that toddlers will love! Most of these breakfast recipes may be made ahead and frozen for later breakfasts! Feel free to substitute any ingredients you feel may be inappropriate for your Toddler!
**See below for a Note concerning Eggs and Toddlers**
TOASTED EGG SMILES – Yummy and Fun Toddler Egg Breakfast!
Prepare a Frying Pan with either pats of butter or non-stick spray.
1 Slice of Bread, 1 Egg, 1/4 c Milk, Small slice of cheese
Take the bread slice and cut out 2 circles for eyes and a longer curved hole for a mouth below the “eyes”. Butter one side of bread and lay in warmed frying pan, butter side down.
As bread begins to fry, Scramble egg and milk together (OR you may simply crack a whole egg over the bread in the pan without adding milk or scrambling).
Pour scrambled egg over the bread. Flip bread/egg when the egg showing thru the “eyes” and “mouth” becomes firm.
Fry for another 5-10 minutes depending on your cook top temperature.
Prior to taking out of pan, place a strip of cheese over the “eyes” and let melt to give your toasted egg smile some “hair”
FARMER’S BREAKFAST -( Barbara Pratt) You can eat this meal anytime!
2 1/2 cups grated potatoes (about 3 medium potatoes)
1/4 cup margarine or butter –
2 tablespoons milk
6 eggs –
1 cup chopped ham
Seasoning salt and pepper (amount you desire) –
Some Grated cheese (if desired)
Peel and grate the potatoes. Place margarine or butter in frying pan and let melt. Add grated potatoes. Cook for 8 to 10 minutes. In a small mixing bowl, mix the eggs and milk together. Once potatoes are cooked, add ham and eggs.
Stir until eggs are cooked. Sprinkle with cheese then serve.
APPLE BREAKFAST BARS
1 1/2 cups quick rolled oats
1/4 cup whole wheat flour
2/3 cup dates, chopped
1/2 cup walnuts, chopped
1/2 teaspoon sea salt
1/4 cup orange juice
1 1/2 cups raw apples, shredded
Combine all ingredients. Let stand 10 minutes. Press mixture into 8″ x 8″ baking dish. Bake at 375? until lightly browned, about 25 minutes. Loosen with spatula, and cut into bars while warm. Serve hot for breakfast or snack **Freezes Well**
BREAKFAST SOUP
8 oz vanilla yogurt
1 tsp honey**
1/2 Cup cubed banana
1/2 Cup peaches, peeled
1/4 cup wheat germ
Blend together and top with additional wheat germ. Serve with avocado blended with cream cheese on whole grain toast.
Please note that Honey is appropriate only for those who have reached the age of 1 year old and older! For more information regarding Honey and the Infant under 12 months old, please visit our Honey, What’s the Fuss topic at wholesomebabyfood.com
APPLESAUCE PANCAKES
1 cup flour –
1/4 teaspoon salt –
1 1/2 teaspoons baking powder
1 tablespoon melted butter –
1/2 cup milk –
1 beaten egg
1/2 teaspoon vanilla –
1 1/4 cups applesauce
Sift flour, salt and baking powder into a medium mixing bowl. Combine butter, milk and egg. Stir into dry ingredients. Add vanilla and applesauce; beat well. Spoon batter into a hot, well greased griddle, enough batter to applesauce pancakes about 4 inches in diameter. **Freezes Well**
PUMPKIN PANCAKES
1 C whole wheat pastry flour – 3/4 C unbleached white flour
1 Tbs baking powder – 1/2 tsp salt (I omitted)
2 tsp cinnamon -1/2 tsp ground ginger -1/4 tsp allspice – 1/4 tsp
nutmeg
2 eggs
1 C pureed pumpkin or winter squash
1 tsp vanilla
2 C milk
3 Tbs canola oil
Stir (and sift) together all the dry ingredients in a med. size
bowl. In another bowl, beat the eggs with the pumpkin & vanilla.
Beat in the milk & oil until smooth. Add to flour mixture. Cook as usual! These smelled *wonderful* while cooking….like Christmas! SOURCE: “Beyond the
Moon” cookbook by Ginny Callan **Freezes Well**
Diarsipkan di bawah: IMUNISASI
B C G ( BACILLUS CALMETTE-GUERIN )
Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang terberat). Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini “berhasil,” maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita demam.
Pemberian Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis ( TBC ), Imnunisasi ini diberikan hanya sekali sebelum bayi berumur dua bulan. Reaksi yang akan nampak setelah penyuntikan imunisasi ini adalah berupa perubahan warna kulit pada tempat penyuntikan yang akan berubah menjadi pustula kemudian pecah menjadi ulkus, dan akhirnya menyembuh spontan dalam waktu 8 – 12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut, reaksi lainnya adalah berupa pembesaran kelenjar ketiak atau daera leher, bial diraba akan terasa padat dan bila ditekan tidak terasa sakit. Komplikasi yang dapat terjadi adalah berupa pembengkakan pada daerah tempat suntikan yang berisi cairan tetapi akan sembuh spontan.
Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN
Makan sebagai Ajang Belajar Anak
Dari sepiring nasi yang dimakannya, si kecil bisa belajar banyak hal yang mencerdaskan.
Di balik kegiatan makan (yang tampaknya sepele), ternyata ada banyak hal yang bisa digali. Bahkan, dimulai dari kegiatan makan dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu minum ASI.
Bagi si 6 bulan yang baru mengenal makanan padat, ada sederet keterampilan yang harus ia kuasai dan dilatih terus menerus. Keterampilan tersebut antara lain keterampilan makan, merupakan hasil dari serangkaian penguasaan dan kontrol terhadap anggota tubuhnya, untuk digerakkan dengan sadar, sesuai keinginan atau kehendaknya.
Melalui kegiatan mengisi perut yang dilakukan rutin setiap hari, si kecil sebetulnya juga melatih keterampilan yang sudah dimiliki, sekaligus mengembangkan keterampilan-keterampilan baru.
Kesempatan emas
Pada bayi dan anak usia balita, sekitar 70% dari waktu bangun mereka digunakan untuk melakukan kegiatan makan. Selama kegiatan ini, akan terjadi interaksi antara anak dengan orang yang membantunya dalam mengurus berbagai kebutuhan hidupnya sehari-hari, terutama ayah dan bundanya.
Tapi, kapan kita dapat memanfaatkan kegiatan makan sebagai ajang belajar bagi si kecil? Di sinilah dibutuhkan kejelian Anda untuk mengamati saat-saat di mana si kecil menunjukkan perhatian penuh terhadap kegiatan makan.
Minat “belajar” makan bayi biasanya dimulai saat ia berusaha memegang makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Itulah momen atau kesempatan emas! Biarkan si kecil bereksplorasi dengan makanannya. Biarkan dia memegang dan meremas-remas bubur atau biskuitnya atau , apa pun yang ingin dilakukannya terhadap makanannya.
Belajar apa?
Kalau kesempatan emas itu datang, Anda dapat mengajak si kecil belajar banyak hal. Anda bisa mengenalkan kepadanya bahwa apa yang sedang ia makan adalah nasi atau bubur. Kenalkan aneka tekstur seperti bubur yang lembut, ada pisang yang empuk, atau wortel rebus yang lebih keras.
Bila si kecil sudah mulai bisa diajak bicara, Anda dapat mengembangkan pelajaran selanjutnya. Misalnya, kenalkan nama aneka sayuran dan buah-buahan yang tersaji di atas meja makan. Lengkapi juga dengan pelajaran tentang berbagai jenis warna. Ada pepaya dan jeruk yang berwarna oranye, pir dan nasi yang warnanya putih, pisang yang kulitnya kuning tapi dalamnya putih, dan sebagainya.
Bahkan, bila Anda senang berkreasi, Anda dapat membuat 1001 macam penampilan yang menarik dari makanan yang Anda sajikan untuk si kecil, sekaligus sebagai media si kecil belajar tentang berbagai macam hal. Puding jelly aneka warna berbentuk wajah, misalnya, bisa jadi media belajar si kecil tentang warna dan nama-nama bagian wajah seperti mata, hidung dan mulut.
Sesuai keterampilan
Kegiatan makan melibatkan proses menelan dan mengunyah. Padahal, kedua keterampilan itu tidak begitu saja dikuasai si kecil, melainkan melalui serangkaian proses perkembangan yang bertahap. Agar Anda dapat memberikan makanan yang benar-benar tepat sesuai tahap perkembangan keterampilan maupun sistem pencernaannya, sebaiknya pahami setiap tahapannya. Dengan begitu, Anda dapat mengolah dan memberikan variasi makanan kepada buah hati Anda secara tepat.
Pada umumnya, si kecil sudah benar-benar siap diperkenalkan makanan yang padat, bertekstur lebih kasar, bercita rasa lebih kuat, dan jenisnya lebih bervariasi, pada saat dia memasuki usia 6 bulan. Yakni, bersamaan dengan tumbuhnya gigi pertama (gigi susu). Pada rentang usia ini, indera pengecap si kecil berkembang pesat.
Jadi, setelah si kecil memasuki usia 6 bulan, picu sensitivitas indera pengecapkan dengan memperkenalkan aneka rasa makanan melalui berbagai jenis makanan baru. Misalnya, bila si kecil sudah mampu menggenggam dan menggerakkan tangannya ke arah mulut, beri ia finger food, seperti potongan buah, rebusan aneka sayuran yang berbentuk batangan, serta keju.
Selanjutnya, ketika usianya semakin beranjak, si kecil pun makin pandai mengontrol gerak anggota tubuhnya. Di rentang usia 9-12 bulan, si kecil akan berada pada tahap perkembangan fase oral, yakni senang mencicipi berbagai benda yang menarik perhatiannya untuk dipegang dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Ia juga akan berubah menjadi “si pemilih”! Kini bayi Anda tidak mau menerima begitu saja setiap makanan yang Anda sodorkan ke mulutnya. Ini karena indera pengecapnya semakin berkembang. Kini ia tidak hanya sekadar menelan ‘mentah-mentah’ makanan yang Anda berikan, tetapi sudah mulai dapat menikmati rasa dari setiap jenis makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
Tantangan yang menarik bagi Anda untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya adalah terus berkreasi mengolah aneka makanan yang tidak saja sesuai dengan tahap perkembangan keterampilan makan serta sistem pencernaannya, tetapi juga sesuai dengan selera makannya. Hal ini, antara lain, bertujuan agar anak kelak tidak mengalami kesulitan makan, atau sebaliknya, jadi obesitas (kegemukan).
Makan bersama
Salah satu cara untuk menggugah selera makan si kecil adalah dengan mengajaknya ikut dalam acara makan bersama seluruh anggota keluarga. Secara psikologis, acara makan bersama ini merangsang kecerdasan emosi si kecil. Menurut Fiona Wilcock, ahli gizi dari Amerika Serikat dalam artikelnya “Fun Food For All The Family”, makan bersama sekeluarga merupakan ajang bagi anak untuk belajar bersosialisai, sekaligus merupakan kesempatan baginya untuk menikmati kebersamaan.
Wilcock menambahkan, bagi bayi, timbulnya perasaan ikut terlibat dalam aktivitas sehari-hari akan membuatnya merasa senang. Dari acara makan bersama yang ia ikuti, banyak hal yang dapat dipelajarinya, sekali pun hanya melalui kegiatan melihat dan mengamati. Si kecil bisa belajar tentang cara dan kebiasaan makan dari masing-masing anggota keluarganya.
Untuk itu, sangat dianjurkan menghadirkan si kecil pada acara makan bersama. Dengan begitu, ia akan merasa dibutuhkan oleh kelurga karena ia termasuk dalam anggota keluarga. Si kecil tidak selalu harus makan menu utama yang disajikan.
Melalui acara makan bersama keluarga ini, emosi-emosi positif pada si kecil dapat ditanamkembangkan, dan ini akan memperkuat tali kekeluargaan. Jadi, jelaslah mengapa melalui sepiring nasi beserta lauk-pauk yang disajikan, kelak si kecil akan memahami “warna-warni” kehidupan, seperti halnya warna-warni lauk-pauk yang ada di dalam piringnya.
Sri Lestariningsih
Foto: Dachri MS dan Honda T.
Diarsipkan di bawah: NEW BORN
Mengusir Eksim Susu
Kata orang, gatal di pipi bayi akibat tetesan air susu ibu. Masak sih?
Kering, bersisik, kemerah-merahan dan terasa sangat gatal. Begitulah biasanya yang dirasakan bayi jika ia kebetulan terkena dermatitis atopik di pipinya. Gangguan kulit ini populer disebut eksim susu.
Disebut eksim susu, karena diderita oleh bayi di bulan-bulan pertamanya. Di mana pipinya sering ketetesan ASI.
Meski sering timbul di pipi, sebenarnya eksim ini bisa saja muncul di bagian lain tubuh bayi, seperti di bagian dalam siku, serta bagian belakang lutut. Jadi, munculnya gatal-gatal itu memang bukan karena ia alergi minum susu ibu atau sekadar tetesan ASI.
Banyak penyebab
Sayangnya, penyebab pasti munculnya dermatitis atopik ini belum diketahui dengan jelas. Yang pasti, kemungkinan munculnya sangat kompleks, seperti:
* Faktor keturunan. Mungkin ayah atau ibu memang penyandang alergi, meski tak selalu berupa eksim. Bisa jadi, orang tua mengidap asma, alergi terhadap debu atau makanan, dan sebagainya.
* Menderita alergi dan kulitnya rentan. Bekas kotoran di pipinya atau lingkungan sekitarnya kurang higienis, bisa memicu timbulnya gatal-gatal.
* Akibat lingkungan udara yang panas, kotor dan berdebu.
Tidak menular
Eksim ini sangat gatal. Tak heran kalau si kecil lalu jadi sering rewel. Repotnya, jika telanjur tergaruk, maka bagian tersebut jadi luka. Akibat luka ini bisa membuat kulit bayi infeksi sehingga makin terasa perih, dan membuatnya bertambah rewel.
Yang pasti, gatal-gatal akibat eksim ini tidak menular. Jadi, Anda tak perlu khawatir dengan kakak atau sepupu si bayi yang ingin dekat-dekat dengan adiknya. Tentu saja, asal si kakak tidak membawa ‘kuman’ yang akan memperparah gatal-gatal adiknya.
Jaga kebersihan
Untuk menangani eksim ini, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan.
* Jika pipi bayi kotor (misalnya akibat tertetes air susu), segera bersihkan kulit pipinya dengan lap basah dan keringkan dengan bahan lembut.
* Ketika memandikan, gunakan sabun bayi yang mengandung pelembap.
* Setelah mandi, olesi bagian yang tampak kering itu dengan pelembab.
* Jika bepergian, lindungi si kecil dari sinar matahari langsung. Bukan saja agar tidak mudah berkeringat, tetapi juga agar kulitnya yang peka itu tidak terangsang menjadi gatal.
* Pastikan sarung bantal dan spreinya benar-benar bersih dan tidak tersisa bekas sabun ketika mencucinya. Karena, sisa sabun cuci juga dapat mengiritasi kulit bayi.
* Hindari si kecil menggaruk bagian pipi yang gatal. Jika bayi masih kecil, pakaikan kaus tangan, atau potong saja kukunya agar tak melukai bagian yang gatal.
* Jika sampai terjadi luka dan tampak basah, segera bawa ke dokter agar ditangani lebih lanjut.
Asal Anda rajin dan peka melihat perubahan di kulit bayi Anda, mudah-mudahan kondisi tersebut tidak berlanjut.
Retno Wahab Supriyadi
Konsultasi ilmiah: dr. I.G. Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, IDAI Jaya,
Diarsipkan di bawah: NEW BORN
Menyiasati Gumoh
Bukan hal yang aneh jika bayi Anda gumoh sesaat setelah disusui.
Di awal-awal kehidupannya, si kecil sering memuntahkan sebagian ASI yang ditelannya. Normalnya, fenomena gumoh ini akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia bayi, yakni di usia 12–16 minggu.
Kenali penyebabnya
Penyebab terjadinya gumoh memang bisa bermacam-macam. Di antaranya adalah:
* Volume lambung masih kecil, sementara susu yang ditelan bayi melebihi kapasitas lambung
Ini penyebab paling umum. Masalahnya makin menjadi karena bayi senang menggeliat. Padahal, gerakan ini membuat tekanan dalam perut tinggi, sehingga jadi gumoh. Sebenarnya, gumoh masih normal sepanjang jumlah cairan yang keluar dan masuk seimbang.
* Klep penutup lambung belum sempurna
Dari mulut, susu akan masuk ke saluran pencernaan atas, baru kemudian ke lambung. Nah, di antara kedua organ tersebut terdapat klep penutup lambung. Pada bayi, klep ini biasanya belum sepenuhnya berfungsi sempurna. Akibatnya, kalau ia langsung ditidurkan setelah disusui, dan juga menggeliat, susu akan keluar dari mulut. Untuk mengurangi gumoh, berikan susu sedikit demi sedikit.
* Menangis berlebihan
Tangis seperti ini membuat udara yang tertelan juga berlebihan, sebagian isi perut si kecil akan keluar. Memang, bisa jadi bayi Anda menangis karena tidak bisa menelan susu dengan sempurna. Kalau sudah begini, jangan teruskan pemberian ASI. Bisa-bisa, susu malah masuk ke dalam saluran napas dan menyumbatnya.
Cegah dan atasi
Sebetulnya, gampang kok membuat si kecil tidak gumoh.
* Posisi menyusu musti pas. Pastikan seluruh bibirnya menutup puting susu serta daerah berwarna hitam di sekitarnya. Dengan begitu, kemungkinan udara yang masuk dan tertelan selama menyusu bisa diperkecil.
* Kalau gumoh berlebihan, tengkurapkan si kecil . Udara yang terperangkap di lambung akan lebih mudah keluar. Juga, masuknya cairan ke paru-paru bisa dicegah.
* Jangan langsung banyak minum . Lebih baik, bayi minum sedikit-sedikit, disendawakan, lalu minum lagi. Dengan cara ini, udara tidak sempat “mampir” ke lambung.
* Bila gumoh terus berlebihan, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk dicarikan penyebabnya. Bisa jadi, ia menderita alergi.
Laila Andaryani Hadis
Konsultasi ilmiah: dr. I.G.A.N. Partiwi, Sp.A, MARS , Bagian Perinatologi, RS Bunda, Jak
Diarsipkan di bawah: NEW BORN
Tes Apgar, Sang Penentu
Sejak menit pertama tubuh si kecil sudah menjalani serangkaian pemeriksaan. Buat apa sih?
Begitu lahir dan dibersihkan, si kecil langsung menjalani serangkaian tes yang dikenal dengan nama pemeriksaan Apgar. Ini merupakan serangkaian pengukuran yang dilakukan untuk menilai kemampuan bayi baru lahir beradaptasi terhadap lingkungan baru di luar rahim ibunya.
Pemeriksaan meliputi penampilan yang dilihat dari warna kulit tubuhnya (appearance), frekuensi denyut jantung (pulse), usaha bayi untuk bernapas yang dinilai dengan mendengarkan lemah atau kuat suara tangisan (grimace), gerakan bayi yang dinilai berdasarkan aktif tidaknya tonus otot (activity), dan reaksi bayi terhadap rangsangan (reflex). Penilaian ini dilakukan pada menit pertama dan kelima setelah lahir.
Setelah kondisi bayi stabil, dilakukan pengukuran tubuh yang meliputi pengukuran berat dan panjang badan, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar perut, serta pemeriksaan umum termasuk mendeteksi ada tidaknya kelainan kongenital.
Selanjutnya, pengukuran tubuh si kecil akan dilakukan oleh dokter pada saat kunjungan pertama si kecil ke dokter anak, yakni sekitar seminggu setelah pulang dari rumah sakit.
Timbang badan
Pemeriksaan ini merupakan salah satu indikator untuk mengetahui kesehatan bayi. Bila berat badan si kecil tidak sesuai dengan usianya, bisa menjadi petunjuk adanya gangguan kesehatan fisiknya.
Berat badan normal bayi ketika lahir berkisar antara 2,5 kg. Bila kurang dari itu, digolongkan sebagai bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Keadaan sebaliknya juga bisa terjadi, yaitu bayi lahir dengan berat badan terlalu besar. Kedua kondisi tersebut akan mendapat perhatian khusus dari dokter, yakni diusahakan mencapai berat badan normal sesuai umur bayi.
Biasanya, sampai hari ke-4 setelah lahir, berat badan bayi akan menurun antara 5-7% dari berat badan saat lahir. Tapi, secara berangsur-angsur beratnya akan meningkat kembali dalam waktu 2 minggu. Untuk itu, Anda dianjurkan memberikan ASI sesuai kebutuhan bayi, atau kira-kira sebanyak 8-12 kali sehari setelah hari-3 atau hari-4 kelahirannya.
Kenaikan berat badan pada bayi bervariasi, yakni sesuai usia bayi. Untuk trimester pertama, kenaikan berat badan antara 500–1500 gram/bulan; trimester kedua antara 400-800 gram/bulan; trimester ketiga antara 300-500 gram/bulan; dan trimester terakhir antara 100-400 gram/bulan.
Panjang badan
Panjang badan juga merupakan salah satu indikator untuk melihat apakah tumbuh kembang fisik bayi berjalan normal. Panjang badan bayi saat dilahirkan normalnya antara 48 hingga 52 cm. Setelah itu, panjang badannya akan terus bertambah, namun tidak selalu sama tiap bulannya. Selama bulan pertama, pertambahannya bisa mencapai 3,8-4,4 cm, sementara kelak pada bulan ke-12 dan seterusnya pertambahannya hanya sekitar 1,2-1,3 cm/bulan.
Lingkar kepala
Pengukuran lingkar kepala secara tidak langsung dapat menjadi petunjuk besar kecilnya otak yang terdapat di dalamnya. Hal ini berkaitan erat dengan tingkat kemampuan otak tersebut.
Lingkar kepala bayi baru lahir umumnya adalah 35 cm. Biasanya, 31-36 cm untuk bayi perempuan dan 32-38 cm untuk bayi laki-laki. Lingkar kepala si kecil akan bertambah menjadi 48 cm setelah ia mencapai usia 2 tahun.
Setelah pengukuran tubuh yang dilakukan pada kunjungan pertama si kecil ke dokter, sebaiknya pengukuran dan pemantaun kondisi fisik si kecil dilakukan secara rutin sampai usianya setahun. Lakukan pengukuran dan pemantauan ini setiap bulan.
Sri Lestariningsih
Konsultasi ilmiah: dr. Rini Sekartini, SpA, IDAI Jaya, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Tumbuh Kembang Otak Bayi
Usia 0-6 Bulan
Bagian-bagian utama otak bayi baru lahir sudah lengkap terbentuk. Kini, otaknya akan segera mengalami proses pematangan yang perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat.
Otak merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Otak yang juga merupakan pusat kecerdasan atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah terjadinya konsepsi (proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma).
Dalam perkembangan otak, ada periode yang dikenal sebagai periode pacu tumbuh otak ( brain growth spurt ). Yaitu saat dimana otak berkembang sangat cepat. Pada manusia, periode pacu tumbuh otak pertama dimulai ketika usia kehamilan ibu memasuki trimester ketiga. Periode pacu tumbuh otak kedua terjadi setelah si keci lahir hingga ia berusia dua tahun. Multiplikasi sel terjadi pada masa janin. Sedangkan sejak lahir hingga usia dua tahun adalah saat neuron (sel saraf) di korteks otak membentuk sinaps (hubungan antara sel saraf) yang sangat banyak. Jadi, di masa multiplikasi dan pembentukan sinaps ini, otak harus mendapat prioritas utama dalam hal pemenuhan zat-zat gizi sebagai bahan-bahan pembentukannya.
Tumbuh kembang otak
Secara keseluruhan, otak si kecil saat lahir sudah terbagi menjadi empat bagian utama, yakni batang otak ( brainstem ), otak kecil ( serebelum ), otak besar ( serebrum) dan diensefalon. Berat otak bayi saat ini sudah mencapai 25% berat otak orang dewasa, atau sekitar 350-400 gram. Ketika usianya enam bulan, berat otak bayi hampir 50% dari berat otak orang dewasa.
Di dalam otak bayi baru lahir sudah terdapat kurang-lebih 100 milyar sel saraf (neuron). Sel saraf ini terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:
- Badan sel saraf yang bentuknya menyerupai bintang. Di dalamnya, antara lain, terdapat inti sel saraf. Ujung-ujung dari badan sel yang menjulur ini merupakan bagian yang menghubungkannya dengan ujung-ujung dari badan sel saraf yang lain, sehingga membentuk suatu jalinan yang sangat kompleks.
- Dendrit merupakan perpanjangan dari ujung-ujung badan sel. Sebuah sel saraf bisa memiliki sekitar 200 dendrit.
- Akson yang bentuknya memanjang, sehingga menyerupai tangkai dari sel saraf. Sebagian besar akson dilindungi oleh semacam selaput dari lemak, yaitu yang dikenal sebagai mielin. Proses pembentukan selaput pelindung pada akson ini disebut sebagai mielinasi.
Saat si kecil baru lahir hingga usianya mencapai enam bulan, sel-sel sarafnya belum seluruhnya mencapai tingkat perkembangan yang “matang”. Sel saraf dapat dikatakan mencapai tingkat kematangan, antara lain, apabila sudah terbentuk akson pada setiap bagian tubuh. Setiap kali terbentuk akson baru, maka akan terbentuk pula sinaps (simpul saraf, hubungan antara sel saraf) yang memungkinkan terjadinya “komunikasi” antara setiap bagian tubuh dengan otak. Itu sebabnya, si kecil masih belum terampil mengontrol gerakan anggota tubuhnya.
Selain sel saraf, di dalam otak dan sistem saraf pusat terrdapat sel glia. Sel ini bertugas melindungi, memberi dukungan dan juga memberi makan kepada sel saraf. Caranya, dengan mengalirkan kebutuhan zat gizi yang diperlukan. Dengan demikian, proses tumbuh kembang sel saraf berjalan dengan baik dan dapat berfungsi menghantarkan pesan (perintah).
Otak, yang setiap menit membutuhkan darah sebanyak 150 ml ini, mencapai tahap perkembangan yang berbeda-beda setiap bagiannya. Misalnya, bagian otak yang mengontrol sistem pendengaran sudah mulai berkembang sejak janin berusia 28 minggu. Sedangkan bagian otak yang mengatur sistem penglihatan baru berkembang setelah bayi lahir.
Laju perkembangan otak si kecil tidak secara langsung ditunjukkan oleh pertambahan volume otak. Namun, pada umumnya perkembangan otak dikaitkan dengan kecerdasan. Dan, kecerdasan itu sendiri seringkali dikaitkan dengan volume otak. Ukuran serta bentuk kepala dianggap dapat menggambarkan besarnya otak yang terdapat di dalamnya. Pada kenyataannya, ada banyak sekali faktor yang ikut menentukan tingkat kecerdasan seseorang, selain volume otaknya.
Sphingomyelin dan Proses Mielinasi
Sejumlah akson dari sel saraf dilindungi oleh suatu lapisan lemak yang dikenal sebagai mielin. Komponen utamanya adalah sphingomyelin dan metabolit sphingolipid lain (seperti cerebroside , sulfatide dan ganglioside ). Mielin yang melindungi sebuah akson bisa terdiri dari 100 lapisan.
Mielin bekerja sebagai insulator untuk impuls saraf. Zat ini juga mengontrol saltatory mode of conduction (penghantaran impuls yang berloncat-loncat) pada kecepatan tinggi melalui Nodes of Ranvier (akson yang tidak terlindungi mielin). Penghantaran impuls semacam ini adalah proses yang cepat. Dan, akson bermielin menghantarkan impuls 50 kali lebih cepat daripada akson tak bermielin yang paling cepat.
Dewasa ini telah dipelajari bahwa sphingomyelin , salah satu jenis fosfolipid yang terkandung dalam makanan dan ASI, memainkan peran penting dalam proses mielinasi sistem saraf pusat. Mielinasi sistem saraf pusat manusia dimulai ketika usia kehamilan 12-14 minggu pada bagian spinal cord, dan berlanjut hingga usia 30 tahun pada bagian cerebral cortex . Namun, perubahan paling cepat dan dramatis terjadi di antara pertengahan kehamilan dan diakhir tahun kedua setelah kelahiran.
Berbeda dengan jenis fosfolipid yang lain, sphingomyelin tidak mengandung gliserol, melainkan ceramide. Karena semua sphingolipid dibuat dari ceramide , maka sphingomyelin dapat diklasifikasikan juga sebagai sphingolipid (Jumpsen & Clandinin, 1995). Ceramide inilah selanjutnya yang akan membentuk cerebroside , yaitu suatu marker universal myelinasi (pembentukan mielin) di dalam otak, dengan bantuan enzim UDP galactosytransferase . Mielin sistem saraf pusat mempunyai kandungan cerebroside yang tinggi dibandingkan dengan jaringan lainnya.
Studi terkini menunjukkan bahwa aktivitas enzim serine palmitoyltransferse (SPT) meningkat secara bertahap dari minggu ketiga sebelum kelahiran ( prenatal ) hingga minggu ketiga setelah kelahiran ( postnatal ) pada sistem saraf pusat tikus. Ketika mielinasi mulai berlangsung pada periode tersebut, diyakini bahwa aktivitas SPT yang bertambah sedikit demi sedikit merupakan faktor utama yang terlibat di dalam mielinasi.
Oshida et.al. dalam tulisannya Effects of dietary sphingomyelin on central nervous system myelination in developing rats. Pediatr. Res 53: 589-593 (2003) memberikan hipotesis bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat dari tikus yang sedang berkembang otaknya kemungkinan terutama diperoleh dari sphingomyelin yang terkandung di dalam susu, yang dapat diubah menjadi ceramide dan kemudian cerebroside . Selanjutnya, mereka membutktikan bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat, terutama diperoleh dari sphingomyelin diet (asupan luar) dengan kondisi eksperimental aktivitas SPT yang rendah, sehingga sphingomyelin diet memainkan peran yang penting dalam mielinasi sistem saraf pusat.
Jadi, berbeda dengan AA dan DHA yang berperan dalam pertumbuhan membran sel saraf dan pengaturan neurotransmitter, sphingomyelin berperan dalam proses mielinasi akson untukk membantu kinerja sel saraf dalam transmisi impuls saraf. Menurut Dr. Arthur R. Jensen, ahli saraf dari Fakultas Ilmu Pendidikan Kedokteran di University of California, Amerika Serikat, kecepatan penghantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang merupakan salah satu faktor yang menunjukkan tingkat kecerdasannya.
Kebutuhan gizi
Bila melihat periode pacu tumbuh otak, maka sebagian besar percepatan tumbuh otak justru terjadi setelah si kecil lahir. Mulai saat itu, pemenuhan kebutuhan zat gizi dilakukan melalui pemberian ASI secara tunggal (ASI eksklusif) sejak hari pertamanya hingga usia enam bulan. Perlu diketahui, komposisi zat gizi di dalam ASI demikian sempurna untuk memenuhi kebutuhan zat gizi sesuai tahapan tumbuh kembang bayi, bahkan untuk bayi yang lahir prematur sekali pun.
Secara alami, ASI mengandung zat-zat gizi yang secara khusus diperlukan untuk menunjang proses tumbuh kembang otak. Zat-zat gizi tersebut antara lain:
- Asam lemak esensial
ASI merupakan sumber asam lemak esensial (asam lemak yang harus dipenuhi kebutuhannya dari luar tubuh) , yaitu asam linoleat dan asam alfa-linolenat. Kedua asam lemak esensial ini di dalam tubuh bayi diubah menjadi DHA (asam dokosaheksanoat) dan AA (asam arakhidonat).
Perlu diketahui, lipid (lemak) di dalam ASI terutama terdapat dalam bentuk trigeliserida (98-99%). Sedangkan sisanya, sebanyak 1-2%, adalah fosfolipid dan kolesterol. Komposisi dan kandungan lipid ASI sangat bervariasi bergantung dari tahapan laktasi dan asupan diet ibu. Lipid di dalam ASI berfungsi sebagai sumber energi. Selain itu, sebagian kecil lipid (lipid minor) berfungsi sebagai mikronutrien yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. Lipid sebagai mikronutrien terutama terdapat dalam bentuk fosfolipid.
Fosfolipid ASI merupakan sumber asam lemak tidak jenuh rantai panjang ( long chain polyunsaturated fatty acid , LCPUFA), terutama AA dan DHA. Kandungan fosfolipid ASI bervariasi sekitar 20-38 mg/100 ml, tergantung pada tahapan laktasi. Di dalam ASI, fosfolipid terdiri dari beberapa fraksi, berturut-turut dari yang paling dominan adalah: 1) sphingomyelin, 2) fosfatidylkolin, 3) fosfatidylethanolamin, 4) fosfatidylserin, dan 5) fosfatidylinositol.
Menurut Gopalan dalam tulisannya Essential FA in Maternal and Infant Nutrition In Symposium “EFA and Human Nutrition and Health International Conference” in Shanghai, Cina (2002), mengatakan LCPUFA merupakan komponen yang esensial selama periode perinatal, karena fetus dan bayi baru lahir tidak dapat mensintesis sejumlah AA dan DHA yang mencukupi dari prekursornya. Padahal, pada saat lahir dan masa awal kehidupan telah dihasilkan kurang lebih 6-10 ribu hubungan sinaps antar sel syaraf. Materi dasar untuk terbentuknya sinaps ini adalah adanya asam lemak esensial di dalam ASI. Oleh karena itu, perkembangan mental dan kecerdasan bergantung pada kecukupan suplai asam lemak esensial dan LCPUFA pada tahap-tahap krusial tersebut.
Apabila tubuh bayi mendapat DHA dalam jumlah yang mencukupi melalui ASI ibunya, maka proses pembentukan otak serta pematangan sel-sel saraf di dalam otaknya akan berjalan dengan baik. Semua proses itu terjadi pada waktu bayi tidur nyenyak.
Penelitian tentang hal tersebut telah dilakukan di University of Brisbane, Australia dengan memakan waktu 21 tahun dan melibatkan 3880 bayi. Hasil sementara dari penelitian ini yang dipublikasikan di United States Based Journal of Pediatrics and Child Health tahun 2001 lalu menunjukkan bahwa zat-zat gizI yang terkandung di dalam ASI membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi, sehingga terhindar dari serangan penyakit-penyakit infeksi.
Dengan demikian, proses tumbuh kembang dapat berjalan dengan baik. Selain itu, kedekatan dan hubungan batin yang terjalin kuat antara ibu dan bayi ketika memberi ASI merangsang perkembangan kemampuan kognitif bayi. Sedangkan kadar DHA di dalam ASI yang sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi, memungkinkan proses plastisitas (proses pembentukan hubungan baru di antara sel-sel saraf) berjalan dengan optimal. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan kecerdasan berbahasa yang baik serta IQ ( Intelegence Quotient ) yang tinggi.
- Protein
Komponen dasar dari protein, yakni asam amino, terutama berfungsi sebagai pembentuk struktur otak. Beberapa jenis asam amino tertentu, yaitu taurin, triptofan, dan fenilalanin merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penghantar atau penyampaipesan ( neurotransmitter ). Di dalam ASI terkandung protein sekitar 1,2 gram per 100 ml.
- Vitamin B kompleks
Beberapa jenis vitamin B yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang otak adalah ,vitamin B1, vitamin B6, dan asam folat (vitamin B9). Bila kebutuhannya tidak terpenuhi, maka akan timbul gangguan terhadap pertumbuhan dan fungsi otak dan sistem saraf.
- Kholin
Senyawa ini merupakan pembentuk sejenis neurotransmitter yang disebut asetilkolin. Kholin juga merupakan bagian dari lesitin, yaitu suatu fosfolipid yang banyak terdapat di otak sebagai pembentuk membran (dinding) sel saraf.
- Yodium, zat besi, dan zat seng
Yodium dibutuhkan untuk pembentukan hormon tiroksin (sejenis hormon yang diperlukan dalam pembentukan protein yang membantu proses tumbuh kembang otak). Zat besi dibutuhkan dalam proses pembentukan mielin. Zat besi disimpan di dalam berbagai jaringan otak selama 12 bulan pertama sejak bayi lahir. Seng merupakan bagian darai sekitar 300 jenis enzim yang membantu pembelahan sel. Kekurangan zat seng di dalam otak dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder).
Agar ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh si kecil selama masa pemberian ASI eksklusif enam bulan, maka ibu harus mengkonsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari. Ibu perlu menkonsumsi makanan-makanan yang kaya protein. Misalnya, ikan, daging, telur, tempe, tahu, dan susu skim. Ibu juga perlu makan lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan.
Jika selama masa menyusui ibu tidak mendapatkan gizi yang diperlukan, persediaan zat-zat gizi dalam tubuhnya akan habis dipergunakan untuk memproduksi ASI. Akibatnya, selain kesehatan ibu terganggu, ASI-nya juga tidak akan cukup banyak. Kualitas ASI-nya pun tidak akan cukup baik, dan jangka waktu ibu untuk memproduksi ASI pun menjadi relatif singkat.
Dewi Handajani
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Usia Berapa Anak Bisa Jalan?.
Anak ku hampir 15 bulan tetapi belum bisa jalan. Jika dilepas pasti langsung menjatuhkan badannya. Kira-kira usia berapa yang harus di waspadai untuk dibawa ke dokter? Aku berencana jika sampai 15 bulan belum jalan, aku akan bawa ke klinik tumbuh kembang soalnya takut nanti di tunggu-tunggu malah tambah lama lagi.
Berikut tanggapan dari Moms WRM beserta artikel dari tabloid Nakita:
- Bagaimana dengan kakinya? Sudah kuat kan? Mungkin masih takut jika dia tidak berpegangan. Coba saja dilatih dari satu tempat ke tempat lain yang jaraknya dekat. Jika memungkinkan bisa letakan mainan atau sesuatu yang dia suka, jadi dia terpancing untuk berjlan karena melihat mainan tersebut.
Atau bisa juga ajak main bersama anak yang lebih besar atau seumurnya yang sudah bisa berjalan. Memang harus sering dilatih dan harus sabar. Jika masih khawatir juga, tidak ada salahnya ke klinik tumbuh kembang anak. Anakku yang pertama jalan umur 18 bulan, telat memang karena dia takut. Tapi begitu sudah lepas sudah kemana-mana, karena memang sudah kuat kakinya.
- Apakah anak Mom sudah bisa berdiri sendiri? Kalau sudah mungkin dia takut, atau kakinya belum kuat, apakah badan dia besar? Banyak dilatih saja pelan-pelan, main dengan teman sebayanya, pelan-pelan tangannya dipegang, atau berdiri berpegangan sesuatu.
- Anak pertamaku karena masih baru pertama, jadi aku ngurusnya masih takut-takut dan extra hati-hati takut jatuh. Akibatnya dia baru bisa berjalan umur 18 bulan. Itu juga karena di protes oleh keluarga. Mereka bilang,”Jangan dipegangin melulu, biar dia jatuh sekali-kali jadi tahu kalau jatuh itu sakit. Jadi si anak bisa belajar untuk berjalan perlahan.”
Biasanya begitu anak dilepas dia langsung berusaha jalan cepet sementara belum terkoordinasi dengan baik kaki dengan otaknya. Nah ini yang aku terapkan ke anak ke-2, hasilnya dia lebih cepat bisa jalan. Karena dibiasakan dilepas tapi lihat situasi sekeliling musti aman. Ddan biasakan main dibawah, alasin karpet yang tidak licin. Otomatis si anak bisa belajar untuk tahu,”oh ini lantai keras bukan kasur.” Jadi dia lebih hati-hati dengan sendirinya.
- Kebetulan anakku bisa berjalan usia 13 bulan (sudah lancar) tapi sebelumnya usia sekitar 11-12 bulanan dia masih suka mencari pegangan. Biasanya aku suka membiarkan saja. Selain itu dia juga mulai belajar jalan dari box juga karena kesehariannya memang lebih banyak main di box dan kebetulan anakku juga tidak melewati tahap merangkak. Jadi habis bisa berjalan ketika capek, terkadang dia suka merangkak tetapi lucunya kalau merangkak tidak memakai lutut tapi telapak kaki & tangan penyangganya (seperti orang nungging).
- Perlihatkan mainan menarik waktu ia berdiri, agar ia mau melangkah maju ke arah mainan itu. Bantu ia berjalan dengan berpegangan pada kursi-meja yang kokoh. Mula-mula sambil dipegangi dengan dua tangan, lalu dengan satu tangan saja. Lepaskan pegangan Anda bila ia kelihatan sudah mulai terampil, sehingga ia punya kesempatan melangkah sendiri. Tentu sambil Anda tetap menjagainya. Mulanya mungkin ia hanya mau berjalan 1-2 langkah saja. Selanjutnya ia akan mampu melangkah sendiri tanpa bantuan.
Artikel dari Tabloid Nakita:
Sebagian besar bayi belum mulai berjalan pada ulang tahun pertamanya. Merujuk teori perkembangan, 25 persen anak sudah bisa berjalan di usia 11,1 bulan, 50 persen di usia 12,3 bulan dan 90 persen di usia 14,9 bulan. “Tapi pada umumnya, usia anak berjalan tak terlalu jauh berkisar antara 16-20 bulan
Cepat-lambatnya perkembangan ini disebabkan antara lain:
* Bayi yang banyak bergerak dan berotot kuat sering lebih cepat dapat berjalan dibanding bayi yang diam saja dan gemuk. Bayi dengan kaki pendek dan kokoh, juga lebih cepat mulai berjalan daripada bayi berkaki panjang dan ramping, yang sulit untuk mencapai keseimbangan tubuh.
* Bayi yang tak banyak merangkak atau sama sekali tak dapat merangkak, kadang lebih cepat dapat berjalan daripada bayi yang ahli merangkak ke seluruh penjuru rumah.
* Pengalaman negatif, mungkin jatuh parah ketika ia pertama kali melepaskan pegangan dari tangan ibunya. Ia tak akan mau mencoba lagi sampai ia sudah betul-betul kuat. Sekalinya ia mulai, ia akan langsung dapat berjalan dengan trampil, tak tertatih-tatih lagi.
* Alas kaki yang licin juga menghambat. Lebih baik tanpa alas kaki, karena bayi akan menggunakan jari-jarinya untuk mencengkeram ketika ia melangkah.
* Tak mendapatkan kesempatan berlatih berjalan karena lebih sering berada di boks bermain, terikat di kereta bayi atau pada situasi lain di mana ia tak punya kesempatan untuk mengembangkan otot-otot kakinya dan rasa percaya dirinya melalui bangun, berdiri dan merambat.
* Terlalu sering berada di baby walker, cenderung akan terlambat bisa berjalan sendiri.
* Karena paksaan orang tua yang melatihnya jalan beberapa kali sehari. Ia mungkin akan memberontak, terutama jika ia keturunan keras kepala. Kelak ia akan berjalan sendiri pada saat yang lebih lambat daripada jika ia dibiarkan belajar sendiri dan dalam waktunya sendiri.
* Langkah pertama seorang bayi yang tenaganya sudah terserap oleh infeksi telinga, flu atau penyakit lain, akan tertunda sampai ia sudah merasa lebih baik.
Diarsipkan di bawah: PENGARUH TV N KOMPUTER
TV Free Ideas for Your Toddler
Not turning on the TV in the early hours of the day may feel next to impossible to the exhausted parent. Here are some suggestions for active pursuits, and while they do take parental energy, they result in more engaged parent/child interactions (and who knows, perhaps, your child will learn to sleep longer if the excitement of the tube is no longer available).
- Work on age-appropriate puzzles. If you can, you may want to purchase new puzzles for this week.
- Make a puzzle. Help your child make a puzzle by cutting an old photo, greeting card, or calendar picture into large pieces. Let him or her put the pieces back together on a sheet of paper.
- Read aloud. Get new books out of the library. Read familiar favorites. Help your child make an indoor fort using a sheet, blanket, or towel. “Build” it over chairs. Let your child read books with a flashlight inside the fort.
- Read a map. Take a look at any map, and, depending on the type of map, point out major roads, highways, exits, mountains, bridges, bodies of water.
- Organize photo albums. Put photos into albums. This depends on your child’s age. (If your child is too young you may end up with scattered, chewed on photos — so be careful.)
- Write letters. Compose letters to friends and family, detailing your week’s past activities. Little children can be encouraged to write or use stickers to help spell out words.
- Dance to Music. Let your child draw a flag on a piece of paper. Attach a stick to one end, turn on the radio to lively music, and let your child march around the house carrying the flag.
- Organize closets. Have younger children help you sort and older children can be assigned a particular closet to do by themselves.
- Play trains, blocks, or arts and crafts. Challenge your imaginations. Here are two quick ideas:
- Make a bouquet of flowers out of opened-up cupcake liners. Write a message at the center of each flower for someone special. Glue or tape a straw or popsicle stick for a stem. Tie the flowers together with a ribbon.
- Make a collage by cutting out pictures of healthy foods from magazines and glueing them on construction paper. Then try to eat those healthy foods throughout the day.
- Plan the night before. Take a few minutes to discuss the routine with your child before bed the night before. For example, “In the morning, we aren’t going to watch TV. When we wake up, we’ll get washed and dressed, eat breakfast and then do x, y or z.”
