Smart Parent


Anak Terlambat Bicara
April 9, 2008, 2:31 am
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN BICARA

Ngobrol seperti di bawah ini memang umum terjadi. Karena anak
terlambat bicara yang punya kemampuan perseptual (dimensi/pandang
ruang), dan mampu berbahasa nonverbal (bahasa mimik) memang
prognosisnya baik. Apalagi seringkali ternyata anaknya memang pinter-
pinter. Makanya selama ini oleh dokter anak di mana pun… baik di
Amerika, maupun di Eropa, seringkali “dilepas” tidak dicekal, karena
diharapkan mereka akan berkembang dengan sendirinya. Tapi… akhir-
akhir ini baik di US maupun di Eropa, sudah ada pandangan yang
berbeda. Misalnya, di Belanda mulai tahun ini ada skrining wajib
perkembangan bahasa dan bicara anak usia 2 tahun disamping
pemantauan berkala tumbuh kembang anak. Kalau anak itu di usia 2
tahun ternyata mengalami terlambat bicara, maka anak ini
dikelompokkan sebagai anak berrisiko, lalu di periksa lebih mendalam
seberapa jauh ketertinggalan itu. Lalu usia 3 tahun ada skrining
wajib lagi, kalau usia tiga tahun ternyata memang masih tertinggal,
maka anak-anak ini akan mendapatkan program stimulasi lebih lanjut.
Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa anak ini nanti cerewet apa
tidak, atau nanti juga pinter apa tidak kalau engga ada data
berbagai pemeriksaan itu. Prognosis hanya bisa ditegakkan kalau ada
datanya kan?

Tetapi pinter di sekolah TK kan belum membaca, menulis dan
berhitung. Nanti kalau mulai mengeja (speeling), pemahaman bacaan
(perkembangan semantik), gramatika (kemampuan syntaksis), dan
penggunaan bahasa (perkembangan kemampuan pragmatik), barulah anak-
anak ini mulai membingungkan. Umumnya orang tuanya bingung, anak ini
padahal pinter, tetapi kok angkanya mengsle2. Biasanya engga jelas2
bahwa anak mengalami kesulitan belajar dan atau gangguan belajar.
Maka namanya hidden disabilities, alias kasat mata. Karena ia
mengalami kekurangan/ketertinggalan perkembangan di satu atau lebih
area inteligensianya.
Karena dari banyak pengalaman dan riset mengenai perkembangan
belajar anak, karena itulah anak2 terlambat bicara saat ini sejak
dini sudah diskrining dan segera disimulasi. Di milis anakberbakat
banyak banget tuh yang terlambat bicara keluhannya ya di bagian
bahasa…. Kalau berhitung sih oke banget, tapi giliran persoalan
bahasa dan membaca… keok dia.

Buat anak 2 tahun yang belum lancar bicaranya, bisa dicarikan mainan
yang bisa dimainkan bersama-sama misalnya telepon-teleponan.
Karaoke2an. Buku bergambar segala macam benda yang bisa digunakan
untuk bercerita. Ibunya yang cerita. Dua tahun biasanya baru bermain
seolah-seolah sebagai orang2 yang ada di sekitarnya (pretend play).
Laki dan perempuan biasanya kecepatan meniru-niru berbeda. Perempuan
lebih cepat meniru2 ibunya. Nanti saat umur tiga baru deh main
boneka dengan peranan, main pengantin2an, main ibu-ibuan, dlsb yang
lebih ke arah imajinasi.

Kalau punya anak ya jangan dibiar2in dong, kan musti juga
mendapatkan stimulasi tho?

Yang mana yang harus diwaspadai? Ya semua bentuk late talker harus
diwaspadai, karena anak late talker sekarang sudah dikelompokkan
sebagai anak berrisiko.


dr Julia Maria Van Tiel



Klasifikasi Language Disorder
April 9, 2008, 2:19 am
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN BICARA

Klasifikasi communication and language disorder pada anak

A. Developmental language disorders (ganguan perkembangan berbahasa)
1.Hanya mengalami gangguan ekspresif dengan pemahaman normal dengan sedikit atau tanpa komorbiditas – gangguan lain yang menyertainya (pure dysphasia development atau expressive language disorder menurut DSM IV)
2.Gangguan campuran antara perkembangan bahasa ekspresif dan reseptif (mixed receptive-expressive language disorder DSM IV). Seringkali terjadi adanya deskrepansi (perbedaan) yang bermakna antara skor tes verbal IQ dengan performal (non-verbal) IQ, dimana skor verbal IQ mencapai skor yang sangat rendah. Atau non-verbal IQ mencapai skor lebih tinggi daripada tes pemahaman bahasa. Pemahaman bahasa lebih rendah daripada rata-rata anak seusianya, artinya ada gangguan perkembangan bahasa reseptif (receptive dysphasia).
1 dan 2 di atas dapat terjadi pada anak yang mengalami gangguan perkembangan bahasa dan bicara.

B. Gangguan bahasa reseptif: diluar definisi dysphasia development, karena pemahaman bahasa lebih jelek daripada bahasa ekspresif.
1.Kemampuan reseptif dan ekspresif sangat rendah (delay atau tertinggal); seringkali diikuti dengan gangguan nonverbal (mengalami juga keterbelakangan mental). Dalam bentuk yang parah didapatkan asymbolic mental retardation atau “mute autistic”. Pemahaman bahasa dan bicara sama sekali tak nampak.
2.Verbal-auditory agnosia atau congenital word deafness (bentuk ringan dari phonologic perception problem)
3.Cortical deafness, total auditory agnosia (congenital auditory imperception).
4.Gangguan sensorik pendengaran yang parah.

C. Gangguan semantik-pragmatik
Gangguan bahasa Semantik (pengertian) – pragmatik (penggunaan) sering dimulai dengan bahasa dengan echolalia yang banyak.

D. Gangguan kelancaran bicara, atau gagap.
E. Mutisme selektif (tidak mau bicara dalam situasi atau tempat tertentu)
F. Miskin bahasa karena kurang stimulasi
G. Gangguan artikulasi dan gangguan perkembangan bahasa dan bicara, sering disebabkan karena masalah seperti dalam pembangian 1 & 2

Gangguan perkembangan bicara dan bahasa karena sebab-sebab lain:
1. Child-afasia (disebabkan karena traumatic, tumor, infeksi)
2. Landau-Kleffner-syndrom (gejala mirip pada pembangian B)
3. Kemunduran perkembangan bahasa dan bicara dengan penyebab tak diketahui dengan atau tanpa epilepsi saat tidur dan gangguan nosologi yang tak diketahui penyebabnya, sering juga terjadi pada Autisme Spectrum Disorder (ASD).

Sumber: C.Njiokiktjen (psikiater & neurolog anak) dalam artikel: De Relatie tussen taalontwikkelings-stoornissen en autisme, Wettenschaplijk Tijdschrift Autisme, nummer 2, augustus 2005.

=========================

BAGAIMANA ANAK BELAJAR BICARA

1. Aspek Semantik (arti bahasa).
Bila seorang anak akan mengatakan atau memahami sesuatu, ia harus mempunyai daftar kata-kata atau vokabulari yang cukup memadai, yang dengan kata lain kita bisa mengatakan bahwa:
- si anak mempunyai cukup kata-kata agar bisa memproduksi dan memahami (bahasa aktif dan pasif);
- menemukan kata-kata yang tepat (memanggil kata dari daftar memori);
- memahami apa yang diucapkan (pengertian kalimat).

Seorang anak kecil belajar berbicara mula-mula adalah dengan cara menunjuk berbagai benda-benda yang ada di sekitarnya atau kata kerja yang harus digunakannya. Menunjuk benda-benda yang dapat dilihatnya (kursi, meja, makan, boneka dlsb), atau kata yang dapat menunjukkan pada pengertian tempat “disini” atau “sekarang”.
Daftar kata-kata ini akan segera meningkat tanpa batas. Namun bisa diperkirakan bahwa seorang anak pada usia dua tahun setidaknya memerlukan 270 kata, 900 kata di usianya yang ketiga, dan sekitar 2500 hingga 4000 kata di usianya yang ke enam. Walau begitu seorang anak sebetulnya mempunyai lebih banyak lagi kata-kata (daftar kata-kata yang pasif) daripada yang bisa ia produksi (sebagai daftar kata aktif). Daftar kata pasif seorang anak berusia enam tahun bisa dua kali lipat banyaknya dibanding dengan daftar kata aktif yang dimilikinya. Dengan kata lain anak berusia tiga hingga lima tahun akan mengalami kesulitan memanggil kata-kata yang berada di dalam memorinya; seringkali sulit menggunakan kata pada tempat dan waktu yang tepat. Kadang terjadi seorang anak akan membuat kata-kata sendiri (neologis), atau bicaranya kacau, sepotong-sepotong, dan diulang-ulang.

2. Pembentukan bahasa.
Bagaimana sebuah kata atau kalimat dibentuk? Aspek pembentukan kata dan kalimat seperti yang kutuliskan di atas akan menyangkut pada tiga bagian aspek yaitu:

a. aspek fonologis
Anak kita harus bisa belajar menggunakan dan mengucapkan bunyian dengan cara yang benar. Artinya bahwa bicara mempunyai kaitan dengan aspek fonologis ini. Bila seorang anak mengalami gangguan fonologis ini, maka kelak ia akan mengalami masalah dalam bahasa dan bicara. Di usia kira-kira lima bulan, refleks oral (mulut) seperti misalnya refleks menghisap (untuk menyusu) akan hilang, berganti dengan gerakan-gerakan yang baik dengan lidahnya, bibirnya, suara decak halus, rahang bawah, dan tenggorokan. Ia juga belajar membedakan bunyian dan mengingatnya sebagai bunyian tertentu. Apabila ia mendenger bunyian itu kembali, maka ia bisa mengenalnya kembali, serta menggunakannya untuk tujuan tertentu. Pada akhirnya kemudian ia bisa berbicara dengan tujuan tertentu: misalnya mengucapkan kata mama akan berbeda artinya jika mengucapkan maem atau makan. Pada akhir tahun pertama umumnya anak-anak mempelajari bunyian dengan pola bunyian yang sama. Pada akhir tahun kedua ia mulai bisa mengucapkan kata-kata berupa beberapa suku kata dengan baik karena kontrol otot-otot sudah semakin baik, yaitu otot lidah, bibir dan langit-langit. Dan juga ia sudah mampu mendengarkan dengan baik. Tinggal beberapa kata seperti s/l/r/ barulah akan dikuasai dengan baik di usianya yang kelima atau keenam.
Sekalipun seorang anak bisa mengucapkan bunyian dengan baik, bukan berarti ia akan bisa juga dengan baik mengucapkan kata-kata. Ia masih harus belajar lebih banyak lagi untuk mengucapkan kata-kata dengan baik, sehingga tidak meletakkan bunyian itu di tempat yang salah. Misalnya pabrik menjadi perabik. Lokomotip menjadi molokotip. Baru pada usia enam tahun, kita boleh mengharapkan bahwa seorang anak haruslah sudah bisa dengan baik mengucapkan urutan bunyian itu dengan benar, menjadi sebuah kata yang mempunyai makna.

b. aspek morfologis
Dengan cara yang tepat anak mempelajari sebuah kata dan mengubahnya dengan cara yang benar, yaitu:
- penggunaan kata-kata jamak
- penggunaan awalan dan imbuhan
- penggunaan kata yang memberi penjelasan pertambahan dan perbedaan
- penggunaan kata kerja

Pada anak usia empat tahun biasanya sudah bisa menggunakan bentuk kata jamak secara baik tanpa kesalahan, penggunaan imbuhan, pertambahan – perbedaan, dan kata kerja.

c. aspek sintaksis

Dalam fase ini anak akan belajar membangun kalimat dengan baik.
- ia akan berbicara dengan urutan kata-kata secara benar dalam sebuah kalimat
- kalimat dalam bentuk lengkap, dan tidak ada kata yang tertinggal
- ia memahami berbagai perbedaan muatan kalimat misalnya kalimat bertanya, kalimat berempati, kalimat mengharap, atau kalimat menyangkal.

Anak yang mengalami masalah dalam siktaksis akan berkata misalnya: “Kabel sudah telepon rusak”, yang seharusnya diucapkan: “Kabel telepon sudah rusak.” Atau “Mau minum.” Seharusnya: “Saya mau minum.”

3. Penggunaan bahasa, aspek pragmatik
Dalam hal ini si anak akan menggunakan bahasa dalam konteks yang tepat dan untuk apa. Beberapa contoh yang berkaitan dengan aspek pragmatik:
- Bila ada seseorang tengah berbicara, maka ia tidak akan berbicara secara bersamaan, tetapi menunggu seseorang tadi selesai bicara.
- Ia menjawab apa yang ditanya teman bicaranya, misalnya:
. Pada pertanyaan : “Apakah engkau akan menggunakan jaket? “ ia menjawab :
“Tidak saya merasa cukup hangat”. Jawaban ini cocok dengan pertanyaannya.
. Seorang anak bercerita bahwa saat berulang tahun ia diajak berenang oleh orang
tuanya, temannya
bereaksi: “Tadi pagi saya melihat anjing besar sekali?” Reaksi ini
tidak sesuai dengan apa yang menjadi topic bicara.
. Kita bertanya pada anak kita: “Apakah engkau sudah mengikat tali sepatumu?” Lalu dijawab oleh anak kita: “Saya baru saja makan es krim.” Jawaban ini secara Pragmatik menjawab tidak pada konteks yang benar.

Mieke Pronk-Boerma juga membagi periode perkembangan bicara menjadi periode pra-verbal dan periode verbal. Periode pra verbal menurutnya merupakan periode yang sangat penting, yang dibaginya menjadi:
- minggu ke 0 – 6 : menangis
- minggu ke 6 hingga bulan ke 4 : vokalisasi : ah, uh
- bulan ke 4 – 8 : babbling atau mengoceh (bunyian vocal terus menerus), misalnya: gagaggagagag….aaaaaa,…..tatatatatatata. Pada periode ini bunyi bahasa ibu juga diproduksinya. Si anak juga akan mengikuti apa yang ibu ucapkan, sambil ia mengikuti ucapan ibu atau pengasuhnya, segera ia akan mengucapkan papa, mama. Seorang bayi yang tuli, juga akan melakukan babbling ini, tetapi kemudian akan berhenti di usianya yang ke 8 -9 bulan.
- Bulan ke 8 – 12: social babbling, yaitu mengocah dengan cara dimana
- pola bunyian dari sekitarnya akan diambil alihnya, ia juga akan melakukan imitasi pola bunyian kalimat. Pola bunyian yang tidak termasuk dalam bahasa ibu akan segera hilang. Kemudian anak akan mendengarkan, mengoceh dan mengikuti, terus menerus hingga terjadilah pemahaman terhadap kata-kata, dan penggunaan kata-kata; pemahaman kata akan dengan sendirinya kemudian diucapkannya. Dalam periode ini muncul bentuk yang disebut echolalia yaitu si anak hanya mengulang apa kata pengasuh tanpa kata-kata tersebut mempunyai maksud tertentu atau tanpa arti apa-apa.

Periode verbal mempunyai beberapa fase yaitu:
- bulan ke 12 – 15 : yang merupakan fase kalimat dengan satu kata. Misalnya seorang anak mengatakan: “Mobil!” Maksudnya adalah: “Saya minta sebuah mobil!” atau: “Beri saya mobil itu!” atau: “Itu mobil bagus!” dan sebagainya. Si anak akan menanyakan nama-nama segala sesuatu dengan cara menunjuk-nunjuk dan dengan cara tertentu ia menyebutkannya kembali. Si anak belum menyangkal dengan kata, tetapi sudah membuat gerakan menggeleng dengan kepala.
- Bulan ke 15 – 2 tahun: fase kalimat dengan dua kata. Seorang anak usia dua tahun biasanya sudah mempunyai 270 kata. Ia juga bertanya dengan intonasi bertanya. Ia mulai menyangkal dengan kata-kata. Banyak kata-kata yang masih terpotong , misalnya “minum” menjadi “mium”.
- Usia 2 – 3 tahun: yang merupakan fase kalimat dengan banyak kata. Kalimat terdiri dari kata benda dan kata kerja. Apa yang diucapkan lebih kepada arti atau maksud kalimat yang diucapkan, namun belum dalam bentuk kalimat yang benar. Tetapi dalam usia ini daftar kata yang dimiliki akan meningkat dengan pesat. Suku kata akan diucapkan dengan lebih baik. Ia juga mulai menggunakan bentuk kamu-dan saya. Kadang ia masih menggunakan bentuk –kamu jika berkata pada dirinya sendiri. :”Mana bonekamu? “ padahal maksudnya: “Dimana boneka itu saya taruh?”
- Usia 3 – 4 tahun: si anak akan banyak mengerti berbagai hal, dan banyak bercerita. Ia juga sudah bisa mengucapkan bunyian berbagai huruf kecuali /s/l/r. Juga masih ada beberapa kesalahan dengan pengucapan kata sambung, tetapi sudah bisa berbicara dengan aturan sebuah kalimat termasuk urutan kata, imbuhan, dan pemotongan kalimat. Kata jamak juga bisa dibentuk. Seringkali masih ada kata-kata yang diulang –ulang karena berpikir baginya lebih cepat daripada mengucapkan kalimat. Nampaknya seperti seorang anak yang gagap, tetapi sebetulnya bukan.
- Usia 4 – 6 tahun: Di usia enam anak-anak ini akan semakin baik mengucapkan berbagai huruf, juga untuk huruf-huruf yang sulit seperti s dan r. Ia juga semakin membaik dengan aturan pembuatan kalimat, termasuk juga penggunaan kata penghubung: dan, tapi, atau, karena, sebab… dlsb. Dalam usia ini anak juga mulai dengan menyampaikan pemikiran dari abstraksinya.

Sumber: Mieke Pronk-Boerma (1994): Logopedie voor onderwijs gevenden, H Nelissen, Baarn



Macaroni Saus Wortel
April 9, 2008, 2:04 am
Diarsipkan di bawah: MASAK UNTUK DEVEN


Makaroni Saus Wortel


bahan:
75 gr makaroni, rebus hingga lunak
50 gr wortel
1 ptg gdaging ayam bagian dada, rebus hingga lunak, cincang simpan
kaldunya
10 gr keju parut
1/2 bawang bombay ukuran kecil
1 siung bawang putih ukurankecil
1/2 sdt merica bubuk
1/8 sdt pala bubuk
2 sdm butter untuk menumis
100 cc kaldu ayam
1 buah daun bawang, iris halus

cara membuat:
1. tumis bawang putih dan bombay, masukkan wortel, masak hingga lunak,
dinginkan, blender halus
2. rebus kembali makaroni dan ayam cincang dalam kuah kaldu, masukkan
saus wortel, tambahkan keju parut dan daun bawang, masak hingga kental.
3 sajikan. Buat damai ditambahin topping cincangan kacang merah rebus,
jadi tambah legit