Diarsipkan di bawah: ASI
Pacifiers and SIDS?
I want to know what you think. And we have some fresh evidence to consider. In October 2005, the American Academy of Pediatrics (AAP) updated its position on preventing SIDS, boldly including the use of pacifiers in an attempt to save many more lives. But first, I’ll tell you about a Kaiser Permanente study that appeared online in the British Medical Journal on December 9, 2005, then let’s consider the AAP recommendations, and then I’d like to hear what you think. The new evidence comes from interviews of parents in California whose children had died from SIDS and from carefully matched random parents with the same characteristics. All were asked exclusively about their baby’s last sleep. The statistical analysis was meticulous. The authors found that babies who had sucked their thumb had a 57 percent decreased chance of SIDS (not reported in any news stories I’ve seen, by the way). But those who used a pacifier had a 92 percent decreased chance of SIDS. Only 4 percent of the babies who died of SIDShad been using a pacifier, while 24 percent of babies in matched homes who had slept safely had been using a pacifier. The pacifier was associated with decreased SIDS rates in every group: those who used soft bedding and those who did not; those who slept with smoking parents and those who did not; those who were breastfeeding and those who were not; those who had been sick recently and those who had not; those who sucked their thumbs and those who did not; and in every cultural, age, education, and income group. The association was dramatic in all groups, and all the more so in the higher risk groups.
Clearly, there is a link between pacifier use and decreased SIDS – but an important question remains – which causes which? Perhaps the effect is only that babies who are fussier are more vigorous and more likely to have used a pacifier. This might address why pacifier use was so much lower than the neighborhood average in SIDS homes – these babies were calmer. Or perhaps the pacifiers are actually preventing SIDS. Pacifiers often have a bulky handles, which might create a tenting effect, preventing the baby’s nose from being blocked by soft bedding or by covers. Or maybe the sucking action encourages growth of important neural pathways or changes the threshold of what wakes a baby up. We just don’t know.
Currently, there is no strong evidence that pacifiers prevent SIDS, or if they do – how they work. But that there is a connection between the two has now been soundly proven, and it may be that pacifiers are one of the most important preventive health measures ever devised. Or not.
Similarly, there is now considerable evidence that pacifier use is associated with decreased breastfeeding. But again, which causes which? Perhaps pacifiers discourage breastfeeding. Perhaps babies who are weaning are fussier and more likely to be given a pacifier. Neither has been proven.
In the new official guidelines, the AAP has taken bets on both issues. They recommend pacifier use to prevent SIDS (even though it is just a proven association, not a cause), because it is a life-and death issue. Meanwhile, they dismiss breastfeeding concerns because the pacifier link is just a proven association, not a proven cause.
The 2005 official recommendation (italics and bold are mine):
“Consider offering a pacifier at nap time and bedtime: Although the mechanism is not known, the reduced risk of SIDS associated with pacifier use during sleep is compelling, and the evidence that pacifier use inhibits breastfeeding or causes later dental complications is not. Until evidence dictates otherwise, the task force recommends use of a pacifier throughout the first year of life according to the following procedures:
- The pacifier should be used when placing the infant down for sleep and not reinserted once the infant falls asleep. If the infant refuses the pacifier, he or she should not be forced to take it.
- Pacifiers should not be coated in any sweet solution.
- Pacifiers should be cleaned often and replaced regularly.
- For breastfed infants, delay pacifier introduction until 1 month of age to ensure that breastfeeding is firmly established.”
With respect to the above AAP recommendations, it’s important to point out that SIDS is very rare before 1 month old. The peak age is between 2 and 4 months, and drops off rapidly after 6 months.
Now, I’ll put the question to you. So what do you think? And more importantly, what would you do?
Diarsipkan di bawah: ASI
Refleks turunnya susu
Keluarnya hormon oksitosin menstimulasi turunnya susu (milk ejection /
let-down reflex). Oksitosin menstimulasi otot di sekitar payudara
untuk memeras ASI keluar. Para ibu mendeskripsikan sensasi turunnya
susu dengan berbeda-beda, beberapa merasakan geli di payudara dan ada
juga yang merasakan sakit sedikit, tetapi ada juga yang tidak
merasakan apa-apa. Refleks turunnya susu tidak selalu konsisten
khususnya pada masa-masa awal. Tetapi refleks ini bisa juga
distimulasi dengan hanya memikirkan tentang bayi, atau mendengar suara
bayi, sehingga terjadi kebocoran. Sering pula terjadi, payudara yang
tidak menyusui bayi mengeluarkan ASI pada saat bayi menghisap payudara
yang satunya lagi. Lama kelamaan, biasanya setelah dua minggu, refleks
turunnya susu menjadi lebih stabil.
Refleks turunnya susu ini penting dalam menjaga kestabilan produksi
ASI, tetapi dapat terhalangi apabila ibu mengalami stres. Oleh karena
itu sebaiknya ibu tidak mengalami stres.
Refleks turunnya susu yang kurang baik adalah akibat dari puting
lecet, terpisah dari bayi, pembedahan payudara sebelum melahirkan,
atau kerusakan jaringan payudara. Apabila ibu mengalami kesulitan
menyusui akibat kurangnya refleks ini, dapat dibantu dengan pemijatan
payudara, penghangatan payudara dengan mandi air hangat, atau menyusui
dalam situasi yang tenang.
Diarsipkan di bawah: ASI
ASI ANUGERAH SEMPURNA BAGI IBU DAN BAYI
Minggu pertama bulan Agustus dicanangkan sebagai pekan ASI Sedunia. Untuk tahun ini, tema yang diangkat adalah “Breastfeeding and Family Food: Loving and Healthy.” Tema ini sepertinya tepat sekali ditujukan bagi anak-anak di negeri tercinta. Maraknya kasus busung lapar di berbagai daerah di Indonesia rasanya tidak akan terjadi seandainya semua orang tua mendapat pencerahan akan manfaat ASI.
Namun banyak ibu mengeluh bukannya tidak mau memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, hanya saja jumlah ASI-nya dirasa tak mencukupi. Sebenarnya hal ini tidak akan terjadi bila ibu menguasai teknik menyusui maupun memerah ASI dengan benar. Bagaimana caranya? Jangan khawatir, kami akan membagikan kiatnya untuk Anda. Mulai masa persiapan selama kehamilan, apa yang harus dilakukan bila ASI pertama keluar, sampai bagaimana posisi menyusui yang benar.
Bagi ibu bekerja, dilema kembali menghadang setelah waktu cuti tiga bulan berlalu. Apakah ASI eksklusif akan diteruskan atau cukup sampai di sini saja? Padahal kembali bekerja bukanlah hambatan untuk memberikan ASI eksklusif. Dengan teknik memerah yang benar serta penyimpanan yang tepat, si kecil tetap terpenuhi haknya. Tak kalah pentingnya adalah peran ayah serta dukungan lingkungan.
Tentu masih banyak pertanyaan seputar pemberian ASI yang perlu dituntaskan. Untuk itu, kami mencoba meluruskan mitos dan kesimpangsiuran informasi mengenai ASI.
Selanjutnya, pemberian makanan pendamping ASI menjadi tugas penting saat si bayi telah berusia 6 bulan. Tujuannya mengenalkan rasa dan tekstur makanan yang lebih padat daripada susu. Bagaimana membuatnya? Ikuti aneka resep yang kami sajikan di buklet ini.
Nah, bila Anda ingin memberikan yang terbaik bagi si buah hati, bulatkan tekad untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Daya tahan bayi terhadap penyakit jelas lebih tinggi, dan jalinan emosi ibu-anak akan begitu serasi. Kalau Anda yakin, Anda pasti bisa!
Marfuah Panji Astuti
MANFAAT ASI: IBU SEHAT, BAYI KUAT
Dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, sederet manfaat akan didapat oleh bayi maupun sang ibu.
Banyak penelitian telah membuktikan kehebatan ASI. Cairan kehidupan ini ditengarai memiliki kandungan gizi, nutrisi, dan antibodi yang paling lengkap. Salah satu hasil penelitian yang dilakukan di 6 negara berkembang membuktikan, bayi usia 0-2 bulan yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih rentan terkena infeksi pencernaan hingga 400%!
Yang dimaksud dengan ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa dicampur dengan apa pun, termasuk air bening, vitamin dan obat. Bayi yang sakit dan terpaksa harus diberi obat berarti sudah tidak mendapat ASI eksklusif lagi. Namun harap dipahami, pada dasarnya bayi tipis kemungkinan sakit bila 6 bulan pertama dalam kehidupannya mendapat ASI eksklusif secara benar. Sebab zat antibodi yang terkandung dalam ASI sedemikian sempurna sehingga bisa membentengi bayi dari penyakit apa pun.
Satu hal yang harus diyakini terlebih dulu adalah tiap ibu pasti bisa memberikan ASI untuk bayinya. Tuhan Yang Maha Pemurah telah menciptakan mekanisme produksi ASI begitu rupa sehingga semua bayi pada dasarnya bisa memperoleh haknya. Kendala-kendala yang muncul bisa diatasi selama persiapan yang dilakukan dan teknik pemberiannya benar.
MANFAAT ASI BAGI BAYI
Pemberian ASI secara eksklusif (tidak dicampur apa pun selama 6 bulan berturut-turut) memberikan sederet manfaat:
* Kesehatan
Kandungan antibodi yang terdapat dalam ASI tetap ampuh di segala zaman. Karenanya, bayi yang mendapat ASI eksklusif lebih sehat dan lebih kuat dibanding yang tidak mendapat ASI. ASI juga mampu mencegah terjadinya kanker linfomamaligna (kanker kelenjar).
ASI juga menghindarkan anak dari busung lapar, seperti yang marak belakangan ini. Sebab komponen gizi ASI paling lengkap, termasuk protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin, dan zat-zat penting lain yang belum terungkap. Apalagi ASI adalah cairan hidup yang mampu diserap dan digunakan tubuh dengan cepat. Manfaat ini tetap diperoleh meski status gizi ibu kurang.
* Kecerdasan
Manfaat berikutnya adalah mencerdaskan anak. Dalam ASI terkandung DHA terbaik, selain laktosa yang berfungsi untuk proses mielinisasi otak. Seperti diketahui, mielinisasi otak adalah salah satu proses pematangan otak agar bisa berfungsi optimal. Saat ibu memberikan ASI, terjadi pula proses stimulasi yang merangsang terbentuknya networking antarjaringan otak hingga menjadi lebih banyak dan terjalin sempurna. Ini terjadi melalui suara, tatapan mata, detak jantung, elusan, pancaran dan rasa ASI.
* Emosi
Saat disusui, bayi berada dalam dekapan ibu. Ini akan merangsang terbentuknya EI (Emotional Intelligence). Selain itu, ASI merupakan wujud curahan kasih sayang ibu pada buah hatinya. Doa dan harapan yang didengungkan di telinga anak selama proses menyusui pun akan mengasah kecerdasan spiritual anak.
MANFAAT MEMBERIKAN ASI UNTUK IBU
Selain bermanfaat untuk bayi, proses pemberian ASI juga bermanfaat bagi ibu. Berikut di antaranya:
* Diet alami
ASI eksklusif adalah diet alami bagi ibu. Dengan memberikan ASI eksklusif, berat badan ibu yang bertambah selama hamil akan segera kembali mendekati berat semula. Naiknya hormon oksitosin selagi menyusui, menyebabkan kontraksi semua otot polos, termasuk otot-otot rahim. Nah, karena ini berlangsung terus-menerus, nilainya kurang lebih sama dengan senam perut. Begitu juga aktivitas bangun malam untuk menyusui si kecil yang haus dan mengganti popok basahnya yang setara dengan olahraga. Belum lagi berbagai kegiatan yang dilakukan di siang hari, seperti, menggendong, memberi makan, mengajak bermain dan sebagainya.
* Mencegah kanker
Jangan salah, ASI bisa mencegah kanker, khususnya kanker payudara. Pada saat menyusui, hormon estrogen mengalami penurunan. Sementara tanpa aktivitas menyusui, kadar hormon estrogen tetap tinggi dan inilah yang diduga menjadi salah satu pemicu kanker payudara karena tidak adanya keseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron.
* Mengurangi risiko anemia
Saat memberikan ASI, otomatis risiko perdarahan pascabersalin berkurang. Naiknya kadar hormon oksitosin selama menyusui akan menyebabkan semua otot polos mengalami kontraksi. Kondisi inilah yang mengakibatkan uterus mengecil sekaligus menghentikan perdarahan. Harap diketahui, perdarahan yang berlangsung dalam tenggang waktu lama merupakan salah satu penyebab anemia.
* Manfaat ekonomis
Dengan menyusui, ibu tidak perlu mengeluarkan dana untuk membeli susu/suplemen bagi si kecil. Cukup dengan ASI eksklusif, kebutuhan bayi selama 6 bulan terpenuhi dengan sempurna. Selain tak perlu repot-repot mensterilkan aneka peralatan untuk memberikan susu kepada si kecil.
Gazali Solahuddin. Foto: Ferdi/NAKITA Narasumber:
Dr. I.G.A.N. Partiwi, Sp.A., MARS
ASI TERPAKSA TAK DIBERIKAN SECARA EKSKLUSIF JIKA…
* Ibu terinfeksi HIV, mengidap TBC aktif, dan Hepatitis B aktif.
* Puting ibu terlalu masuk sehingga tak mungkin diisap bayi dan menghambat pemberian ASI. Beberapa kasus puting mendelep masih bisa diatasi. Hanya perlu waktu bagi bayi untuk bereksplorasi dan belajar mengisap pada puting payudara ibu dengan kondisi seperti itu. Toh, bentuk puting seperti apa pun semestinya tidak sampai mengusik refleks isap yang merupakan refleks dasar bayi.
* Si bayi karena berbagai sebab harus mendapat perawatan terpisah dari ibunya dalam jangka waktu lama. Bayi seperti ini tetap dimungkinkan mendapat ASI, meski tentu saja sudah tidak eksklusif lagi. Si bayi pun butuh waktu lebih lama untuk belajar mengisap ASI langsung dari ibunya. Namun seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
JANGAN LUPA, SIAPKAN DIRI SEBELUM MENYUSUI
Persiapan mental dan fisik yang cukup membuat proses menyusui menjadi mudah dan menyenangkan.
PERSIAPAN KALA HAMIL
Proses menyusui sebaiknya sudah dipersiapkan jauh hari sebelum melahirkan. Ini penting supaya ibu benar-benar siap, baik secara mental maupun fisik. Kesiapan ini akan memengaruhi kualitas dan kuantitas ASI. Berikut beberapa hal yang harus dipersiapkan:
· NIAT
Niat adalah kunci sukses untuk memberikan ASI eksklusif bagi sang buah hati. Niat ini harusnya sudah tertanam kuat jauh hari sebelumnya. Ibu harus bertekad akan memberikan makanan yang terbaik bagi bayinya. Dengan niat bulat, ibu akan berpikir optimis. Dari situ terbentuk energi positif yang akan memengaruhi kesiapan semua organ-organ menyusui sehingga ASI pun bisa mengalir lancar. Jika ibu yakin bisa menyusui, ASI yang keluar pasti banyak. Buang jauh-jauh pikiran negatif, seperti bagaimana kalau ASI tidak keluar, seandainya payudara bermasalah, dan sebagainya.
· HILANGKAN STRES
Usahakan selalu berpikir positif tentang kehamilan. Seandainya ada masalah, konsultasikan pada dokter kandungan. Kehamilan hendaknya jangan sampai memenjarakan Anda. Lakukan semua hal yang menyenangkan selama hamil, seperti jalan-jalan ke mal, berekreasi, berkumpul dengan teman-teman lama, mendalami hobi yang memungkinkan, dan sebagainya. Semua aktivitas tersebut sangat penting untuk menjaga ketenangan batin karena perasaan tenang dan bahagia berpengaruh pada produksi ASI
· PIJAT PAYUDARA
Pijat payudara sangat baik sebagai persiapan sebelum menyusui. Rangsanglah secara lembut dan pelan kedua puting susu dengan tangan. Buatlah gerakan memutar dan lakukan beberapa kali dalam sehari. Konsultasikan aktivitas ini dengan dokter kandungan, sebab pada kasus tertentu tindakan ini pantang dilakukan, terutama untuk ibu yang pernah melahirkan bayi prematur.
· PENUHI GIZI IBU HAMIL DAN MENYUSUI
Kebutuhan gizi ibu meningkat saat hamil dan menyusui. Selain untuk ibu, janin pun membutuhkan pasokan gizi yang tidak sedikit. Itulah sebabnya, asupan makan yang dikonsumsi ibu harus menganut pola makan gizi yang cukup dan seimbang. Sumber tenaga didapat dari karbohidrat; sumber pembangun ada di protein; sedangkan sumber pengatur dan pelindung terdapat pada vitamin dan mineral dari sayur dan buah-buahan. Perhatikan juga pola makan dan usahakan selalu untuk mengonsumsi makanan sehat. Jauhi jajanan yang tidak terjamin kebersihannya. Ingat, pola makan sehat saat hamil tidak hanya penting untuk janin, tapi juga memengaruhi kualitas ASI kelak.
· CIPTAKAN GAYA HIDUP SEHAT
Tujuannya agar kehamilan dan persalinan berlangsung lancar dan janin pun berkembang optimal. Hindari makanan atau minuman yang mengandung kafein dan alkohol, serta jauhi asap rokok. Agar stamina tubuh terjaga, lakukan olahraga secara teratur. Tentu saja bukan olahraga yang berat dengan gerakan menghentak, tapi olahraga ringan seperti berenang atau jalan-jalan pagi. Kondisi ibu yang sehat turut meningkatkan produksi ASI.
Saeful Imam
Narasumber:
dr. Karel A.L Staa, Sp.A, M.D.,
dari RS. Pondok Indah, Jakarta
PEMBERIAN ASI PERTAMA
“Aku pasti bisa!” Itulah yang harus diyakini ibu saat akan menyusui bayinya.
Proses menyusui harus sudah dimulai sejak bayi keluar dari rahim ibu. Dengan begitu, menit-menit pertama setelah persalinan merupakan momen yang sangat menentukan. Begitu pula hari-hari selama ibu dirawat untuk pemulihan. Apa saja yang mesti dilakukan dan diperhatikan? Inilah beberapa di antaranya:
* BERI SENTUHAN KULIT KE KULIT
Skin to skin contact dengan ibu begitu bayi lahir (sebelum dibersihkan) merupakan langkah pertama yang harus dilakukan. Ini penting untuk mengenalkan keberadaan ibu pada bayinya. Selain itu, sentuhan kulit ke kulit merangsang refleks bayi untuk mencari puting dan langsung menyusu pada ibunya. Tindakan ini juga merangsang keluarnya hormon oksitosin yang berguna mengurangi risiko perdarahan pada ibu sesudah bersalin. Oksitosin juga turut berperan merangsang keluarnya kolostrum, yakni zat penting dalam ASI yang kaya protein, antiinfeksi, dan pembersih usus bayi. Kolostrum biasanya keluar sejak hari pertama hingga ketujuh seusai melahirkan.
Khusus untuk bayi yang dilahirkan secara sesar, sentuhan kulit ke kulit bisa dilakukan dengan cara mendekap bayi di dekat pipi ibu. Dua jam seusai operasi, bayi bisa langsung disusui.
Sedangkan untuk bayi dengan berat lahir rendah atau bayi prematur, sentuhan kulit ke kulit masih bisa dilakukan dengan mendekap bayi di perut. Konsultasikan hal ini sebelumnya dengan dokter. Sentuhan kulit ke kulit dan menyusui sesegera mungkin bisa semakin menumbuhsuburkan rasa cinta ibu pada bayinya.
* JANGAN BERI CAIRAN LAIN
Beberapa ibu umumnya tidak langsung bisa menyusui bayinya setelah melahirkan. Mereka membutuhkan waktu puluhan menit hingga satu jam sampai ASI-nya keluar. Pada kondisi ini, banyak ibu yang memberi bayinya air putih atau minuman lain, apalagi jika bayi terlihat sangat kehausan. Ini sebaiknya jangan dilakukan karena bayi baru lahir membawa cukup cairan dalam tubuhnya. Bayi mampu bertahan meski tidak diberi cairan sedikit pun selama 4-6 jam pertama kehidupannya.
Usahakan untuk tetap bersikap relaks, tenang, dan optimis hingga ASI bisa keluar dengan lancar. Kerugian pemberian cairan lain selain ASI adalah bayi jadi enggan mengisap ASI, mengakibatkan diare karena cairan itu mungkin tercemar, alergi, ataupun mengalami bingung puting. Pemberian ASI pertama sesegera mungkin bertujuan untuk mengajari/membiasakan bayi mengisap ASI. Jadi, bukan untuk memberinya asupan makanan awal.
* UTAMAKAN RAWAT GABUNG
Rawat gabung merupakan pilihan tepat bagi ibu yang akan menyusui bayinya. Dengan cara itu, ibu bisa merawat dan memberi ASI kapan pun si kecil membutuhkan. Ada dua alternatif, ibu dan bayi memiliki ranjang terpisah, atau keduanya bersama dalam satu ranjang. Pilihan terakhir dilakukan jika ibu tidak sedang mengidap penyakit parah. Dari segi biaya, rawat gabung jelas lebih hemat sehingga lebih menguntungkan. Mintalah metode rawat gabung ini pada pihak rumah sakit atau klinik bersalin.
* PELAJARI CARA MENYUSUI YANG BENAR
Bagaimana teknik dan posisi menyusui yang benar bisa ditanyakan pada perawat, dokter, maupun pendamping persalinan. Ibu bisa berbaring sembari merangkul bayi atau meletakkan bantal dan selimut sebagai penopang kepala. Posisikan puting dan areola dengan benar. Pemilihan posisi bisa memengaruhi lancarnya ASI. Jangan khawatir bila merasakan demam ringan. Demam ASI ini akan menghilang beberapa jam setelah melahirkan.
Saiful Imam. Foto: Dok. NAKITA
Narasumber:
dr. Karel A.L Staa, Sp.A, M.D.,
dari RS. Pondok Indah, Jakarta
ASI MAKSIMAL BERKAT POSISI TEPAT
Agar nyaman, sesuaikan posisi menyusui dengan kondisi ibu.
Banyak sedikitnya ASI ternyata berhubungan langsung dengan posisi ibu saat menyusui. Posisi yang tepat akan mendorong keluarnya ASI secara maksimal. Apa pun teknik bersalinnya, ibu dapat menyusui bayi sesegera mungkin. Begitu pula jika melahirkan bayi kembar.
* Persalinan normal/spontan
Ibu yang melahirkan secara spontan bisa lebih leluasa dalam memilih posisi menyusui: sambil duduk atau berbaring menyamping pun tak masalah. Jika posisi duduk yang dipilih, gunakan kursi yang nyaman. Upayakan telapak kaki menginjak lantai. Gunakan dingklik (bangku kecil) sebagai pengganjal bila posisi kaki agak menggantung.
* Persalinan sesar
Football position adalah posisi menyusui yang disarankan untuk ibu yang melahirkan melalui persalinan sesar. Pada posisi ini, tubuh bayi digendong dengan salah satu tangan ibu. Upayakan letak kepala bayi berada tepat di bawah payudara dan membentuk garis lurus dengan badan bayi. Posisi ini aman karena bagian bawah perut ibu yang masih nyeri akibat operasi dapat terlindungi. Posisi ini pun merupakan posisi yang paling nyaman bagi ibu maupun bayinya.
* Bayi kembar
Sama dengan ibu yang melahirkan melalui persalinan sesar, football position juga tepat untuk bayi kembar. Caranya: kedua tangan ibu memeluk masing-masing satu kepala bayi, seperti memegang bola. Letakkan tepat di bawah payudara ibu. Posisi kaki bayi boleh dibiarkan menjuntai keluar. Untuk memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki ketinggian kurang lebih sepinggang ibu. Dengan demikian ibu cukup menopang kepala kedua bayi kembarnya saja. Cara lain adalah dengan meletakkan bantal di atas pangkuan ibu. (lihat gambar)
JIKA ASI BERLIMPAH
Untuk ibu yang beruntung memiliki ASI berlimpah dan alirannya deras, ada posisi khusus untuk menghindari agar bayi tidak tersedak. Caranya: ibu tidur telentang lurus sementara bayi diletakkan di atas perut ibu dalam posisi berbaring lurus dengan kepala menghadap ke payudara. (lihat gambar)
PERLEKATAN SAAT MENYUSUI
Selain posisi, hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah perlekatan antara bayi dan ibu saat menyusui. Perlekatan ini penting karena menentukan sedikit-banyaknya ASI yang keluar. Kalau sekadar menempel ke payudara ibu, maka hanya puting yang diisap oleh bayi. Akibatnya meski sudah menyedot sekuat tenaga, ASI hanya keluar sedikit mengingat “gudang” ASI tepat berada di bawah areola. Ibu akan merasa nyeri dan puting pun biasanya lecet.
Berikut tahapan untuk mendapat perlekatan yang baik:
- Temukan posisi senyaman mungkin
Bila ingin duduk, pilihlah kursi yang tidak terlalu tinggi. Upayakan telapak kaki menjejak lantai dengan nyaman. Bila ingin berbaring, perhatikan ketinggian posisi bayi. Usahakan bayi yang mendekatkan diri ke ibu dan bukan sebaliknya. Ini bermanfaat supaya ibu merasa nyaman dan tidak cepat lelah. Bila perlu, manfaatkan bantal sebagai penyangga tubuh bayi.
- Perhatikan posisi bayi
* Idealnya, kepala dan tubuh bayi haruslah lurus dan sejajar.
* Posisi payudara lebih tinggi dari kepala bayi. Jangan sampai kepala bayi lebih tinggi karena bayi pasti sulit menekuk kepalanya sedemikian rupa.
* Dagu bayi harus menempel pada payudara ibu.
* Usahakan supaya dada bayi menempel ke dada ibu atau perutnya menempel ke perut ibu.
* Upayakan semua bagian areola masuk ke dalam mulut bayi. Jika ibu memiliki areola yang besar, utamakan bagian bawahnya masuk lebih banyak dibanding bagian atas. Sekilas bibir bayi tampak dower bila perlekatannya baik dan akan terdengar suara bayi menelan susu (lihat gambar). Sebaliknya, perlekatan yang salah membuat ASI tidak keluar maksimal.
* Arahkan puting dan areola ke langit-langit bayi. Gunakan ibu jari dan jari telunjuk seperti posisi menggunting. Setelah areola masuk seluruhnya ke mulut bayi, jari tangan boleh dilepas.
* Jangan khawatir bayi tak dapat bernapas hanya karena mengisap ASI. Karena kalau tidak bisa bernapas, otomatis bayi akan melepaskan mulutnya dari payudara si ibu kemudian mencari mekanisme senyaman mungkin.
- Lamanya waktu menyusui
Tak perlu khawatir produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi sebab dengan kuasa Tuhan, kapasitas payudara ibu sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Hanya saja, lamanya waktu menyusui berbeda pada setiap bayi, bervariasi antara 15-30 menit. Setelah kenyang, otomatis bayi akan melepaskan isapannya dari payudara ibu. Biarkan saja bayi tertidur meski baru mengisap ASI dari satu payudara. Saat minta disusui kembali, lanjutkan dengan payudara yang satunya. Jadi, jangan buru-buru atau memaksa bayi melepaskan isapannya dari satu payudara hanya agar ia berganti dengan payudara lainnya.
Utami Sri Rahayu. Ilustrasi. Dok. NAKITA
Konsultan ahli:
Dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA.,
Fasilitator Laktasi pada Sentral Laktasi Indonesia
MASALAH YANG KERAP DIJUMPAI SAAT MENYUSUI
Beragam masalah dapat muncul saat ibu menyusui. Namun dengan dukungan keluarga, yakinlah masalah tersebut dapat teratasi.
1. STRES
Ibu yang kurang percaya diri saat menyusui biasanya akan dihantui bayangan stres. Apalagi bila yang dihadapi adalah anak pertama, dimana masih ada rasa “takut” untuk memegang, menggendong, maupun menyusui. Kondisi ini semakin bertambah buruk bila lingkungan keluarga terdekat seperti suami, orang tua, mertua atau saudara yang tinggal serumah tidak memberi dukungan. Padahal bayi yang rewel di usia 2 minggu, 4 minggu, 3 bulan dan 6 bulan adalah wajar karena sedang memasuki masa pertumbuhan yang amat pesat.
Cara mengatasi:
Dukungan dari suami dan keluarga untuk menenangkan atau bahkan membantu perawatan sederhana, seperti mengganti popok, menidurkan, dan sebagainya akan sangat bermanfaat. Bantuan sekecil apa pun semisal mengangkatkan bayi ke pangkuan ibu saat akan disusui pasti menumbuhkan rasa percaya diri ibu. Berikutnya, rasa percaya diri ini berpengaruh langsung pada kelancaran ASI. Bila ibu percaya diri, produksi ASI-nya dijamin lebih lancar dan berlimpah.
2. BINGUNG PUTING
Bayi yang langsung mengisap susu dari botol, umumnya akan mengalami bingung puting. Sebab prinsip kerja mengisap botol sangat berbeda dengan mengisap payudara ibu. Saat mengisap susu botol, bayi tidak perlu menggerakkan lidahnya karena dotnya sudah berlubang. Sedangkan saat menyusu pada payudara ibu, bayi harus menggerakkan lidahnya untuk menekan areola sambil melakukan gerakan mengisap. Jadi, memang butuh keterampilan tersendiri untuk mengisap ASI langsung dari payudara ibu.
Cara mengatasi:
Untuk mengatasinya ibu harus cermat mengamati tanda-tanda bayi yang mulai lapar atau haus. Antara lain bibirnya bergerak-gerak ke sana kemari pertanda gelisah atau langsung menangis. Bila tanda ini mulai terlihat, ibu dapat segera menyusui bayinya. Jangan panik/cemas bila ia terus menangis dan belum mau mengisap karena beberapa saat kemudian pastilah ia akan mencobanya lagi terdorong oleh rasa lapar dan haus. Bila bayi sudah mulai menyusu lagi, hindari pemberian susu melalui botol dan dot.
3. ASI SEDIKIT
Pada dasarnya produksi ASI sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam hal ini refleks oksitosin yang membuat ASI lancar mengalir dari “gudang susu” yang terdapat pada areola. Refleks ini bekerja sebelum dan saat menyusui. Isapan bayi akan menghasilkan rangsangan sensorik dari puting yang selanjutnya menghasilkan hormon oksitosin dalam darah. Pada saat yang sama terjadi pula rangsang sensorik dari puting yang menghasilkan hormon prolaktin dalam darah. Prolaktin inilah yang bertugas memberi perintah langsung kepada “pabrik susu” untuk kembali memproduksi ASI.
Cara mengatasi:
ASI akan berkurang bila tidak langsung diisap atau diperah. Jika payudara tetap penuh akan terbentuk PIF (Prolactin Inhibiting Factor), yakni zat yang menghentikan pembentukan ASI. Jadi, semakin sering diisap, maka produksi ASI pun akan semakin berlimpah.
4. PUTING LECET
Penyebabnya adalah perlekatan yang salah. Terutama bila areola tidak seluruhnya masuk ke dalam mulut bayi tapi hanya bagian putingnya. Akibatnya, puting terasa nyeri dan bila terus dipaksakan untuk menyusui akan lecet.
Cara mengatasi:
Oleskan ASI di puting dan sekitarnya sesaat sebelum menyusui. Efeknya, puting menjadi tidak kaku sekaligus berfungsi sebagai antibiotik meski yang paling penting tentunya memperbaiki perlekatan saat menyusui.
5. MASTITIS/PAYUDARA MERADANG
Bila ASI tak berhasil diisap dan tetap tertahan dalam payudara, maka payudara akan meradang. Untuk menguranginya, mau tidak mau ASI harus dikeluarkan, baik diisap langsung menggunakan alat khusus atau diperah dengan tangan. Umumnya, bayi tidak mau mengisap payudara yang tengah mengalami peradangan karena putingnya kaku.
Cara mengatasi:
Sebagai langkah awal, cobalah mengompres dengan air hangat, kemudian lakukan pemijatan. Caranya, topang bagian bawah payudara dengan satu telapak tangan. Gerakkan jari tangan ke arah puting sambil sesekali lakukan gerakan memutar. Sedangkan untuk memerah, letakkan posisi ibu jari dan telunjuk seperti jarum jam di angka 3 dan 9 (lihat hlm. 14-15), kemudian tekan tegak lurus ke arah dada lalu tarik ke arah luar sambil menekan puting. Lakukan gerakan ini secara berulang-ulang dan sesekali pindahkan jari pada posisi angka 6 dan 12 atau 5 dan 11.
6. PENGGUNAAN ALAT BANTU
Pada bayi-bayi prematur, refleks isap umumnya belum baik. Refleks ini baru muncul/berfungsi baik di usia 3234 minggu.
Cara mengatasi:
Untuk merangsang kemampuannya mengisap, bantu dengan penggunaan alat khusus. Alat ini akan menampung ASI yang sudah diperas untuk kemudian dialirkan melalui selang halus yang ditempelkan pada payudara ibu. Dengan cara ini bayi akan terangsang untuk mengisap karena ada tetesan ASI melalui selang tadi. Alat ini kerap dimanfaatkan ibu yang mengadopsi anak. Dengan alat ini diharapkan bayi akan terangsang mengisap payudara ibu. Selanjutnya, lewat isapan tersebut produksi oksitosin dan prolaktin akan terpacu sehingga ibu benar-benar mengeluarkan ASI. Ibu dengan kondisi semacam ini umumnya akan berhasil memproduksi ASI dalam jangka waktu 1-6 minggu.
Utami Sri Rahayu. Foto: Dok. NAKITA
Konsultan ahli:
Fasilitator Laktasi pada Sentral Laktasi Indonesia
5 LANGKAH MEMERAH ASI
Memerah ASI sebetulnya tak sulit selama dilakukan dengan teknik yang benar.
Niat memberikan ASI eksklusif saja ternyata tidak cukup. Banyak ibu
menghadapi kendala, seperti keharusan kembali bekerja. Demi memenuhi hak bayi mendapatkan ASI, ibu harus berupaya lebih. Tinggalkan ASI di rumah sementara ibu bekerja. Toh, ASI bisa diperah, disimpan, untuk kemudian diberikan kepada si kecil. Untuk itulah perlunya keterampilan memerah, terutama bagi ibu yang berhalangan memberikan ASI-nya secara langsung.
PERSIAPAN MEMERAH
Inilah tahapan persiapan memerah ASI:
* Cuci bersih kedua tangan ibu dengan benar dan menggunakan sabun.
* Usahakan relaks dan pilihlah tempat atau ruangan untuk memerah ASI yang tenang dan nyaman.
* Kompres payudara dengan air hangat. Gunakan handuk kecil, waslap, atau kain lembut lainnya.
* Mulailah mengurut payudara dengan langkah sebagai berikut:
A. Massage
* Pergunakan 2 jari, yaitu telunjuk dan jari tengah. Tangan kanan mengurut payudara kiri dan tangan kiri mengurut payudara kanan.
* Bila payudara besar, gunakan keempat jari.
* Dengan tekanan ringan, lakukan gerakan melingkar dari dasar payudara dengan gerakan spiral ke arah puting susu.
B. Stroke
* Dengan menggunakan jari-jari tangan, tekan-tekanlah payudara secara lembut. Dari dasar payudara ke arah puting susu dengan garis lurus, kemudian dilanjutkan secara bertahap ke seluruh bagian payudara.
* Dengan menggunakan sisir yang bergigi lebar, “sisirlah” payudara secara lembut, dari dasar payudara ke arah puting susu.
* Dengan ujung jari, lakukan stroke dari dasar payudara ke arah puting susu.
C. Shake
Dengan posisi tubuh condong ke depan, kocok/goyangkan payudara dengan lembut, biarkan daya tarik bumi meningkatkan stimulasi pengeluaran ASI.
Teknik memerah ASI dengan tangan metode massage, stroking, dan shaking yang disebut metode Marmet dikembangkan oleh Chele Marmet, seorang Lactation Consultant yang menjadi Direktur Lactation Institute di California.
MEMERAH DENGAN TANGAN
1. Letakkan ibu jari di atas kalang payudara dan jari telunjuk serta jari tengah di bawah sekitar 2,5 3,8 cm di belakang puting susu membentuk huruf C. Anggaplah payudara sebagai jam, maka posisi/arah ibu jari berada pada jam 12, dua jari lain berada di posisi jam 6. Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tengah saling berhadapan. Jari-jari diletakkan sedemikian rupa sehingga “gudang” ASI berada di bawahnya.
2. Tekan lembut ke arah dada tanpa memindahkan posisi jari-jari tadi. Payudara yang besar dianjurkan untuk diangkat lebih dulu. Kemudian ditekan ke arah dada.
3. Buatlah gerakan menggulung (roll) dengan arah ibu jari dan jari-jari ke depan untuk memerah ASI keluar dari gudang ASI yang terdapat di bawah kalang payudara di belakang puting susu. Jangan menggesekkan ibu jari dan jari-jari pada kulit karena akan menimbulkan rasa sakit atau nyeri.
4. Ulangi gerakan-gerakan tersebut (1,2,3) sampai aliran ASI berkurang. Kemudian pindahkan lokasi ibu jari ke arah jam 11 dan jari-jari ke arah jam 5, lakukan kembali gerakan memerah seperti tadi.
5. Lakukan pada kedua payudara secara bergantian. Begitu tampak ASI memancar dari puting susu, itu berarti gerakan tersebut sudah benar dan berhasil menekan gudang ASI. Jangan lupa untuk meletakkan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperah.
Seluruh prosedur persiapan dan pemerahan dengan tangan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit, meliputi:
- Massage, stroke, dan shake.
- Perah kedua payudara selama 5-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke dan shake.
- Perah kedua payudara selama 3-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke dan shake.
- Perah kedua payudara selama 2-3 menit tiap payudara.
Sebagai catatan, waktu yang dibutuhkan untuk memerah ASI di atas hanyalah patokan saja. Bila pasokan ASI sudah baik/banyak, patokan tersebut dapat diabaikan karena patokan waktu ini bermanfaat bila ASI hanya keluar sedikit atau bahkan belum keluar sama sekali. Yang justru harus diperhatikan adalah aliran ASI. Bila mulai berkurang alirannya segera ganti dengan memerah payudara berikutnya.
Hilman Hilmansyah. Ilustrasi Dok. NAKITA
Konsultan ahli:
dr. Utami Roesli, SpA., MBA., CIMI., IBCLC,
Ketua Yayasan Sentra Laktasi Indonesia
ASI PERAH HANYA KALA IBU-BAYI TERPISAH
Harap diingat, aktivitas menyusui langsung (breastfeeding) sebenarnya lebih bermanfaat dibanding ASI perah. Keterikatan, kedekatan, dan terciptanya suasana aman serta nyaman saat menyusui langsung dapat meningkatkan pertumbuhan fisik maupun psikis bayi. Karena itu, berikan ASI perah hanya kala bayi “terpisah” untuk sementara waktu dari ibunya. Setelah ibu di rumah dan bertemu kembali dengan si kecil, aktivitas menyusui langsung dapat segera dilakukan.
KOSONGKAN “GUDANG” AGAR ASI TERUS DIPRODUKSI
Secara prinsip, payudara terdiri atas tiga unsur utama, yaitu “pabrik”, saluran, dan “gudang” ASI (di daerah warna cokelat atau aerola). Ketiganya ibarat bejana berhubungan. Agar produksi terus berjalan, ASI di gudang harus habis lebih dulu. Bila gudang kosong, barulah pabrik akan mengisinya kembali dan seterusnya. Pendek kata, ASI di gudang harus selalu dihabiskan supaya proses produksi terus berjalan.
Saat memerah ASI, prosesnya hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, bagian yang agak belakanglah yang harus ditekan. Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik yang dilakukan salah. Bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi aktivitas yang tidak sulit.
Kunci memerah ASI dengan tangan adalah menemukan posisi jari-jari yang tepat. Lakukan latihan sampai menemukan posisi atau tempat yang tepat. Menggabungkan pemerahan ASI dengan tangan dan pengurutan payudara merupakan cara memerah ASI yang efektif.
PERAH DENGAN TANGAN LEBIH DIANJURKAN
ASI yang diperah dengan pompa sebenarnya tak direkomendasikan atau tak dianjurkan diberikan kepada bayi. Kenapa? Karena banyak pompa ASI di pasaran yang tidak memenuhi standar. Bahan karet yang terdapat di bagian belakang pompa yang berbentuk seperti bohlam ternyata tak bisa disterilkan. Bahkan bisa menjadi media yang menyalurkan mikroba. Lantaran itu, ASI hasil pompa dianjurkan hanya sebatas untuk mengatasi pembengkakan payudara.
Memang ada pula pompa ASI yang memenuhi standar, seperti pompa elektrik dan pompa berbentuk piston. Namun harganya terbilang mahal. Jadi, yang dianjurkan tetaplah teknik memerah dengan tangan. Selain mudah, tak merepotkan serta tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli peralatan. Modalnya cuma satu, keterampilan ibu memerah ASI dengan tepat seperti di atas.
PENYIMPANAN DAN PEMBERIAN ASI
Setelah diperah, ASI harus disimpan dengan baik agar dapat bertahan lama.
Berikut trik menyimpan ASI:
1. Simpanlah ASI dalam botol atau gelas yang sudah disterilkan terlebih dahulu, lalu tutup rapat-rapat.
2. Sebaiknya cantumkan jam dan tanggal ASI diperah.
3. ASI yang berada di suhu ruangan hanya dapat bertahan 6-8 jam
4. ASI yang disimpan dalam termos es dapat bertahan selama 24 jam.
5. ASI yang disimpan di lemari es dapat bertahan 2 minggu (usahakan tempatnya terpisah dari bahan makanan lain).
6. Jika dimasukkan dalam freezer, ASI bisa tahan sampai 3 bulan. Akan tetapi jangan disimpan di bagian pintu freezer karena di bagian inilah perubahan dan variasi suhu udara paling besar terjadi.
Meski bisa disimpan lama, ASI dianjurkan segera dikonsumsi dalam waktu 2 hari atau 48 jam saja. Kenapa? Karena jika disimpan di lemari es selama 2 minggu kemungkinan ada zat antibodi yang mati akibat udara dingin. Makin lama disimpan tentunya makin banyak zat yang mati. Jadi sebaiknya jangan lewat dari waktu itu supaya kualitas atau komposisinya tidak berubah.
CARA DAN WAKTU PEMBERIAN
Sebelum diberikan kepada bayi, sebaiknya ASI dihangatkan lebih dulu. Tak perlu dipanaskan di atas api karena zat-zat yang terkandung di dalamnya justru akan mati. Jadi, sebatas “dipanaskan” dengan cara merendam gelas/cangkir tempat menyimpan ASI di dalam mangkuk yang telah diisi air hangat.
Berikan ASI perah dengan sendok atau pipet khusus agar si kecil tidak terbiasa mengisap dot dan jadi sulit menyusu pada payudara ibu. Setelah terbiasa dengan dot, bayi hanya akan mengisap ujung puting ibu seperti saat mengedot. Padahal cara menyusu yang benar adalah seluruh aerola ibu masuk ke mulut sang bayi. Alhasil, biasanya ASI yang keluar sedikit, di sisi lain puting ibu malah lecet. Jadi, jalan terbaiknya adalah memberikan ASI perah dengan cara disuapi menggunakan sendok. Tularkan keterampilan ini pada pengasuh, saudara, nenek/kakek sang bayi atau siapa pun yang akan mengasuh si kecil selama ditinggal bekerja.
Lalu kapan sebaiknya ASI perah diberikan? Ya setiap saat si bayi menginginkannya. Sentuhlah pipi si kecil dengan jari. Kalau bayi merespons dengan cara segera membuka mulut dan menoleh ke arah sentuhan tersebut, berarti dia lapar/haus. Segeralah berikan ASI perahan yang sudah disiapkan sebelumnya.
Satu lagi, tak perlu khawatir jika ASI yang berhasil diperah tergolong sedikit. Toh, sebenarnya bayi secara perlahan akan terbiasa dengan kondisi seperti itu. Awalnya mungkin si kecil gelisah karena merasa kurang kenyang, namun 3-4 hari kemudian, bayi akan beradaptasi sambil menunggu ibu kembali ke rumah.
Hilman Hilmansyah. Foto: Ferdi/NAKITA
Konsultan ahli:
dr. Utami Roesli, SpA., MBA., CIMI., IBCLC,
Ketua Yayasan Sentra Laktasi Indonesia
AYAH, DUKUNG IBU, SELAMA MENYUSUI, YA!
Dukungan ayah menentukan keberhasilan program ASI eksklusif.
Di hari pertama seusai melahirkan, ibu pastilah mengalami kelelahan fisik dan mental. Akibatnya, ibu merasa cemas, tidak tenang, hilang semangat, dan sebagainya. Ini merupakan hal normal yang perlu diantisipasi suami maupun pihak keluarga.
Namun dalam beberapa kasus, terutama pada anak pertama, banyak ayah yang lebih sibuk dengan bayinya daripada memerhatikan kebutuhan sang istri. Jika kondisi ini terus-menerus berlanjut maka ibu akan merasa bahwa perhatian suami padanya telah menipis sehingga muncul asumsi-asumsi negatif. Terutama yang terkait erat dengan penampilan fisiknya setelah bersalin. Tubuh yang dianggap tak lagi seindah dulu membuat suami lebih mencintai anak daripada dirinya sebagai istri. Perasaan negatif ini akan membuat refleks oksitosin menurun dan produksi ASI pun terhambat.
HASIL KERJA TIM
Karena pikiran negatif ibu memengaruhi produksi ASI, maka dukungan ayah sangat dibutuhkan. Pentingnya peran ayah dalam mendukung ibu selama memberikan ASI-nya memunculkan istilah breastfeeding father atau ayah menyusui. Jika ibu merasa didukung, dicintai, dan diperhatikan, maka akan muncul emosi positif yang akan meningkatkan produksi hormon oksitosin sehingga produksi ASI pun lancar. Bantulah ibu saat mulai proses menyusui, sehingga cukup waktu baginya untuk istirahat. Sebagai catatan, istirahat yang berkualitas pun penting untuk meningkatkan kualitas ASI.
Bentuk dukungan ayah menyusui sebenarnya cukup banyak, antara lain:
* Tetap memberikan perhatian kepada istri.
* Membantu istri menjaga anak-anak, termasuk kakak si bayi.
* Menciptakan kesempatan agar istri punya waktu lebih banyak dengan si bayi selain cukup waktu untuk beristirahat.
* Tidak melontarkan kritik terhadap bentuk tubuh istri yang umumnya memang melar setelah melahirkan.
* Menemani istri bangun malam hari untuk menyusui, mengganti popok, mengambilkan minum/makan setelah menyusui, menemani ke dokter dan hal-hal lain yang membuat istri menjadi tenang.
Intinya, ayah harus siap setiap saat bila ibu membutuhkan bantuan. Meski secara lahiriah suami tak bisa hamil dan tak bisa memberi ASI, bagaimanapun proses menyusui adalah proses keluarga. Bukankah anak terlahir sebagai bagian keluarga? Jadi merawat dan mendidik anak haruslah dilakukan secara bersama-sama pula.
Santi Hartono. Foto: Dok. nakita
Narasumber:Johanes Papu, Psi.,
psikolog pada www.e-psikologi. com,
sekaligus membagi pengalamannya sebagai ayah menyusui
BENTUK DUKUNGAN LINGKUNGAN:
|
* POJOK ASI DI MAL DAN TEMPAT UMUM Saat ini belum banyak fasilitas umum yang menyediakan ruang untuk ibu menyusui. Ini tak lepas dari kebijakan pemerintah dan kesadaran ataupun kepedulian publik terhadap hak-hak anak, termasuk hak bayi untuk mendapatkan ASI. Padahal pemerintah bisa terlibat dengan berbagai cara, misalnya membuat peraturan yang mengharuskan setiap fasilitas umum dilengkapi dengan pojok ASI, sehingga ibu tetap nyaman memberikan ASI-nya meski sedang berada di tempat umum. Dukungan moral dari masyarakat sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya. * KANTOR SAYANG IBU Kembali bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif. Tentu saja dibutuhkan fasilitas di tempat kerja yang memungkinkan proses ini tetap berjalan. Misalnya tersedia tempat untuk menyusui, memberikan toleransi waktu bagi ibu untuk menyusui bayinya, atau menyediakan ruangan yang memadai untuk memerah dan menyimpan ASI. Kondisi ini bukan saja baik bagi bayi, tapi juga bagi perusahaan. Penelitian menunjukkan, bayi yang diberi ASI eksklusif tumbuh lebih sehat. Artinya, ia jarang sakit sehingga ibu tak perlu sering izin dari kantor. Memang belum ada penelitian yang mengungkapkan adanya hubungan produktivitas ibu dengan aktivitas menyusui. Tapi satu hal pasti, jika ibu merasa “bersalah” terhadap anaknya karena tidak dapat memberikan ASI eksklusif, maka bisa saja produktivitas kerjanya menurun sebab si ibu sulit memusatkan perhatian pada pekerjaan. |
PERTANYAAN FAVORIT SEPUTAR ASI
Banyak ilmu yang masih “abu-abu” seputar ASI. Apakah memang demikian faktanya ataukah sekadar mitos belaka?
* Jika ibu mengalami kesundulan (hamil lagi dalam jarak dekat), apakah pemberian ASI harus dihentikan?
Fakta: Hal ini masih kontroversial. Ada dokter kandungan yang melarang ibu hamil menyusui karena khawatir terjadi kontraksi rahim yang bisa menyebabkan keguguran. Namun ada juga yang tidak melarang. Belum ada penelitian yang betul-betul membuktikan hal tersebut. Juga tak ada anjuran yang pasti dalam keadaan bagaimana seorang ibu hamil harus ekstra hati-hati. Kalau memang merasa nyeri perut dan memiliki riwayat keguguran, bermasalah dengan kandungan, atau malah pernah mengalami perdarahan, sebaiknya hentikan. Akan tetapi kalau kehamilannya sehat-sehat saja alias tidak ada masalah, pemberian ASI bisa diteruskan.
* Sebelum menyusui, ASI yang keluar pertama harus dibuang dulu?
Fakta: Tidak perlu. ASI pertama yang keluar adalah kolostrum yang mengandung banyak zat antibodi untuk kekebalan tubuh. Anggapan ASI yang keluar pertama adalah basi juga tidak benar karena ASI selalu terlindungi dalam payudara ibu. Dengan tujuan membunuh kuman, tiap tetes ASI yang keluar sebelum menyusui boleh saja dioleskan di seputar puting susu ibu.
* Benarkah ASI bisa anyep/dingin/basi?
Fakta: ASI selalu dalam keadaan terlindungi dalam payudara, sehingga tak mungkin basi atau dingin karena selalu sesuai dengan suhu tubuh, kecuali kalau ASI sudah dikeluarkan. Dalam suhu ruang ASI bisa bertahan sekitar 6 jam, dan 2 minggu hari bila ditaruh di kulkas serta 3 bulan di suhu freezer, asalkan tidak sering dibuka-tutup.
* ASI bisa berubah rasa dan warna?
Fakta: Rasa ASI memang bisa berubah dan lebih variatif sesuai dengan makanan yang dikonsumsi ibu. Komposisinya pun tergantung usia anak. Warna ASI juga bisa berubah sesuai kebutuhan zat gizi yang diperlukan bayi.
Inilah urutannya:
- Kolostrum
ASI yang pertama keluar adalah kolostrum yang warnanya agak kekuning-kuningan. Kolostrum banyak mengandung zat antibodi yang bermanfaat bagi tubuh.
- Mature milk
Setelah beberapa hari, tubuh ibu memproduksi susu matang (mature milk) dengan komposisi:
1. Foremilk
Selama 5 menit pertama ASI yang keluar berwarna kebiru-biruan dan tampak encer, dinamakan foremilk. Di dalamnya terkandung protein, laktosa dan nutrisi lainnya.
2. Hindmilk
Selanjutnya, ASI yang diproduksi tubuh disebut hindmilk. Warnanya putih dan mengandung banyak lemak.
* Benarkah payudara kanan mengandung makanan dan yang kiri minuman?
Fakta: Biasanya payudara mana yang disusukan pada bayi tergantung pada kenyamanan posisi ibu. ASI yang dikeluarkan, baik dari payudara kanan maupun kiri, sama-sama mengandung foremilk dan hindmilk atau dengan kata lain memiliki komposisi yang sama. Puaskan bayi pada satu payudara selama kira-kira 15 menit. Bila masih belum puas, barulah pindah ke payudara lainnya. Biasanya ASI yang keluar adalah bagian yang encernya dulu (foremilk), kemudian baru hindmilk.
* Makanan pedas dan bersantan yang dikonsumsi ibu bisa membuat bayi mencret?
Fakta: Tak pernah terjadi bayi mencret hanya gara-gara makanan yang dikonsumsi ibunya. Meski demikian, sebaiknya jangan mengonsumsi makanan yang terlalu merangsang karena ada juga bayi yang menjadi kembung karenanya.
* Ibu menyusui sebaiknya tidak minum es karena membuat bayinya pilek?
Fakta: Tidak ada hubungannya sama sekali. Suhu ASI dalam payudara tetap hangat 37 derajat Celsius. Apa pun yang dikonsumsi ibu akan diserap darah dan nantinya diproduksi menjadi ASI.
* Apakah obat aman dikonsumsi ibu menyusui yang sedang sakit?
Fakta: Rata-rata obat yang diresepkan dokter untuk ibu menyusui kala sakit aman bagi si bayi. Kalaupun ada yang sampai terbawa melalui ASI, pengaruhnya tidak signifikan atau membahayakan bayi. Konsumsi obat juga tidak menyebabkan berkurangnya produksi ASI, kecuali obat-obatan yang mengandung hormon estrogen seperti pil KB, atau obat jenis diuretik yang menyebabkan berkurangnya produksi ASI.
* Jika bayi sakit pilek/batuk maka ibunyalah yang minum obat?
Fakta: Tidak benar. Bila bayi yang sakit, maka obatnya pun harus diminum si bayi dan bukan ibunya. Biasanya obat yang diberikan kepada bayi hanyalah obat-obatan yang sifatnya mengurangi gejala saja. Kalau ibunya yang minum obat, meski keluar melalui ASI, jumlahnya sangat kecil dan tidak bisa dipastikan dosisnya.
* Semasa menyusui ibu harus makan dua porsi lebih banyak?
Fakta: Sebetulnya tidak demikian. Yang terpenting adalah konsumsi menu seimbang. Kalau merasa lapar silakan makan, tapi jangan dipaksa kalau sudah kenyang. Yang harus diperhatikan adalah keseimbangan dan kecukupan gizinya. Sebaiknya ibu pun tidak diet karena komposisi ASI bisa terganggu selain produksinya juga akan berkurang.
* Payudara besar identik dengan ASI berlimpah?
Fakta: Tidak benar. Payudara besar menandakan banyaknya lemak yang menunjang. Sedangkan banyak sedikitnya produksi ASI tergantung pada gudang ASI dimana terdapat kelenjar-kelenjar susu yang menghasilkan ASI. Setiap ibu mempunyai kelenjar yang banyaknya kurang lebih sama.
* Payudara jadi kendur bila menyusui?
Fakta: Justru proses menyusui membuat payudara jadi kencang. Karena adanya kontraksi dari otot-otot dan kelenjar payudara.
* Menyusui bisa mempercepat rahim mengecil kembali?
Fakta: Selama menyusui, refleks isap bayi pada puting susu mem-feedback hormon di otak ibu. Ini menyebabkan kontraksi rahim. Selain mempercepat mengecilnya rahim, kontraksi juga akan mengeluarkan darah nifas yang mungkin masih tertinggal usai melahirkan.
* Bila anak sudah 2 tahun ASI tak bagus lagi?
Fakta: Memang ada anjuran ASI diberikan sampai anak usia 2 tahun saja. Produksi ASI sendiri masih tetap baik. Demikian pula dengan komposisi kandungan gizinya, meskipun telah berubah sesuai usia anak.
* Bayi dengan ASI eksklusif akan susah diberi makanan pendamping lainnya?
Fakta: Justru bayi yang mendapat ASI eksklusif nantinya lebih mudah menerima variasi rasa makanan pendamping. Karena bayi sudah terbiasa memperoleh rasa ASI yang variatif.
* Setelah ibu bekerja produksi ASI akan berkurang?
Fakta: Tidak selalu. Caranya, sebelum dan sesudah bekerja ibu tetap memberikan ASI langsung kepada bayinya. Sementara selama ibu bekerja, ASI tetap dikeluarkan dengan cara diperah tiap 3 jam sekali. Kalau hanya diperah saja tanpa disusukan langsung, produksinya pun akan berkurang karena isapan bayi dapat merangsang kerja otak untuk menghasilkan hormon prolaktin. Bila hanya diperah, rangsang yang ditimbulkannya jelas berbeda.
* Bisakah ASI dikeluarkan kembali setelah menyusuinya terhenti sementara?
Fakta: Sangat mungkin ibu yang pernah menyusui dan memberhentikan ASI-nya kemudian ingin menyusui lagi. Caranya dengan proses relaktasi, yaitu dirangsang melalui isapan bayinya. Butuh waktu beberapa hari untuk bisa keluar lagi. Lebih mudah bila usia bayi kurang dari 2 bulan dibanding bayi 6 bulan ke atas. Namun prinsipnya, bila bayi sering didekatkan, maka suara, tangisan, isapan pada puting susu dan kedekatan ibu dengan bayinya akan membantu produksi ASI kembali, berapa pun usia si bayi.
* Meski ibu malnutrisi komposisi ASI tetap tak berubah?
Fakta: ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi. Kalaupun sampai terjadi malnutrisi, kualitas ASI tetap terjaga dengan mengorbankan sang ibu. Namun kompensasi ini ada batasnya, misalnya ibu dengan malnutrisi berkepanjangan sampai titik tertentu bisa membuat komposisi ASI berubah. Meski demikian tetap lebih baik ASI diberikan daripada tidak sama sekali.
* Bayi yang disusui sampai usia 2 tahun akan lebih lekat dengan orang tuanya?
Fakta: Berdasarkan banyak pengalaman, ikatan anak dengan ibunya menjadi lebih kuat. Kecerdasan emosinya pun lebih stabil dan bagus. Nantinya anak tumbuh menjadi pribadi yang mantap dan penuh percaya diri. Secara intelektual pun anak mempunyai kemampuan yang baik.
*ASI bisa menyebabkan obesitas?
Fakta: Tidak. ASI merupakan cairan hidup. Kandungan yang terdapat di dalamnya begitu diserap tubuh akan menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Semua zat yang dibutuhkan seperti AA/DHA terdapat dalam ASI dan begitu masuk ke tubuh secara otomatis pula enzim-enzim berharga itu tercipta.
* Bila mengenai pipi bayi, ASI akan menyebabkan eksim/dermatitis?
Fakta: ASI relatif aman. Kemungkinan dermatitis pada pipi bayi karena ASI kecil sekali.
*Bila ASI terkena alat kelamin bayi laki-laki kelak bisa menyebabkan impoten?
Fakta: Tak ada hubungannya sama sekali antara ASI sebagai penyebab impotensi kelak.
*Bayi yang sakit mata bisa sembuh hanya dengan ditetesi ASI?
Fakta: Belum ada penelitiannya. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik segera bawa si kecil ke dokter mata.
* Dilarang menyusui saat magrib karena takut si bayi “kemasukan”?
Fakta: Ini jelas-jelas mitos yang tak ada alasannya. Bayi bisa disusui kapan pun dia membutuhkannya.
*Bolehkah bayi minum ASI donor?
Fakta: Meski bukan ASI dari ibunya, pengaruhnya tetap lebih baik buat si bayi dibanding bila ia mendapat susu formula.
*Bila bayi kuning, ASI harus dihentikan?
Fakta: Bayi kuning awal biasanya terjadi di hari kedua atau kesepuluh dalam kehidupannya. Untuk mencegah agar tak semakin parah, justru sangat dianjurkan pemberian ASI yang lebih banyak. Jadi, jangan batasi frekuensinya dan tak perlu memberi tambahan cairan lainnya seperti air mineral dan sebagainya.
Dedeh Kurniasih. Ilustrator: Pugoeh
Narasumber:
dr. Nanis Sacharina Marzuki, Sp.A.,
Konselor Laktasi dari Klinik Anakku, Cinere, Jakarta
KE MANA BERKONSULTASI TENTANG ASI
Sentra LAKTASI Indonesia:
Jl. Agung Perkasa Raya Blok J5 No. 16 Sunter Agung Podomoro, Jakarta Utara Telp. (021) 651 0183
Jakarta
* PK. St. Carolus
Jl. Salemba Raya No. 41 Jakarta 10440 Telp. (390) 4441 pes. 7257
* RS Husada
Jl. Raya Mangga Besar No. 137-139 Jakarta Barat Telp. (021) 626 0108
* RSAB Harapan Kita
Jl. S. Parman Kav. 87 Jakarta Barat Telp. (021) 566 8284 pes. 1205
* RS Pondok Indah
Jl. Metro Duta Kav. VE Jakarta Selatan Telp. (021) 765 7525
* RS OMC
Jl. Pulomas Barat VI No. 20 Jakarta Timur Telp. (021) 472 3332
* RS Pertamina Jaya
Jl. Achmad Yani No.2 By Pass Jakarta Pusat Telp. (021) 421 1911 ext. 4254
* RSAL Mintoharjo
Jl. Bendungan Hilir Raya Jakarta Pusat Telp. (021) 574 9037/574 9038
* RS Bunda Jakarta
Jl. Teuku Cik Ditiro Jakarta Pusat Telp. (021) 3192 4917
* RS Medistra
Jl. Gatot Subroto Kav. 59 Jakarta Selatan Telp. (021) 527 7382 ext. 217-222
Bekasi
* RSIA Hermina Bekasi
Jl. Kemakmuran No. 39 Margajaya, Bekasi Telp. (021) 884 2121
Depok
* RSIA Hermina Depok
Jl. Raya Siliwangi No. 50 Pancoran Mas, Depok Telp. (021) 7720 2525
Bogor
* RS PMI Bogor
Jl. Pajajaran 80 Bogor Telp. (0251) 324080
* RS Azra Bogor
Jl. Pajajaran No. 129 Bogor Telp. (0251) 318456
Bali
* RSB Puri Bunda
Jl. Gatot Subroto VI/19 Denpasar, Bali Telp. (0361) 437999 Fax. (0361) 433988
Makassar
* Poltekkes Makassar (Aswita Amir, Siti Mardiah, SKM) Jurusan Gizi
Jalan Paccerakkane KM 14 Daya Makassar Telp./Fax. (0411) 510197
Batam
* RS AWAL BROS BATAM
Jl. Gajah Mada Kav. I Baloi, Batam Telp. (0778) 431777
Riau
* RS Awal Bros Pekanbaru
Jl. Jendral Sudirman No.117 Tangkerang Pekanbaru, Riau 28282 Telp. (0761) 47333 ext. 2300
* RS PT Caltex Pacific Indonesia
Pekanbaru Riau Telp. (0761) 594297
Banten
* RS Misi Rangkasbitung Jl. Multatuli No. 41 Rangkasbitung Lebak, Banten 42311 Telp. (0252) 201014
* RS International Bintaro Jl. MH Thamrin No.1 Sektor 7 Bintaro Jaya Tangerang, Banten Telp. (021) 745 5500
* RS. Siloam Gleneagles Jl. Siloam No. 6 Lippo Karawaci Tangerang, Banten Telp. (021) 546 0055 pes. 7151
Surakarta
* Yayasan Kakak (Fajar Yulianta/Sofie)
Jl. Slamet Riyadi No. 534 B Telp. (0271) 711453
Medan
* RSU Dr. Pirngadi
Jl. Prof. H.M. Yamin SH. No.47 Medan 20217 Telp. (061) 453 6022 ext. 267
Yogyakarta
* RS Panti Rapih
Jl. Cik Ditiro 30 Yogyakarta 55223 Telp. (0274) 514845 pes. 227
Surabaya
* RS Mitra Keluarga Surabaya
Jl. Satelit Indah II Darmo Satelit Surabaya 60187 Telp. (031) 734 5333
Semarang
* RS St. Elisabeth
Jl. Kawi No.1 Telp. (024) 831 0076 pes. 7405
Kaltim
* RS Pupuk Kaltim
Jl. Oxygen, Bontang Kalimantan Timur 75313 Telp. (0548) 41118 pes. 237
Irfan Hasuki
30 Menit Pertama yang Berharga
Segera susui bayi setelah lahir, karena ibu maupun bayi sama-sama mendulang banyak manfaat.
Ya, 30 menit pertama setelah lahir adalah kesempatan emas dalam kehidupan seorang bayi. Tanpa perlu dimandikan, bayi yang baru lahir sebaiknya segera diberikan pada ibunya untuk disusui. Berikut alasannya.
Saat terbaik memberi stimulasi
Periode emas pertama pertumbuhan otak dimulai beberapa saat setelah terjadinya konsepsi. Pada saat ini proses tumbuh kembang otak melaju dengan pesat. Nah, periode emas kedua terjadi di akhir kehamilan sampai bayi lahir berusia kurang lebih dua tahun. Pada periode ini, semakin awal sel otak dirangsang, semakin banyak terjadi network di antara sel-sel saraf tersebut.
Nah, bila bayi segera disusui dan didekap dengan hangat, maka ia akan menerima berbagai stimulasi, seperti sentuhan kulit (skin to skin contact) dan mencium aroma khas ibunya. Ia juga akan merasakan kehangatan dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenalnya sejak masih dalam kandungan. Hasilnya? Otak dan sistem saraf si kecil pun berkembang dengan optimal.
Belum lagi kalau ibu mengajaknya berbicara selama menyusui, terutama mengenai dirinya, akan terjalin komunikasi langsung antara ibu dan si bayi. Ini akan meningkatkan kelekatan (attachment) di antara mereka. Kondisi ini akan menumbuhkan rasa percaya pada si kecil, karena ia tahu ada seseorang yang selalu ada apabila dibutuhkan.
Menyempurnakan fungsi neurologis
Koordinasi saraf menelan, mengisap dan bernapas pada bayi baru lahir bisa jadi belum sempurna. Dengan sesegera mungkin memberi kesempatan mengisap payudara, maka fungsi koordinasi saraf-saraf tersebut jadi lebih cepat sempurna.
Refleks isap paling kuat
Asal tahu saja, refleks isap bayi paling kuat adalah pada 30 menit setelah dia dilahirkan. Isapan bayi pada puting ibunya akan merangsang pengeluaran hormon prolaktin (yang merangsang produksi ASI) dan hormon oksitosin (yang merangsang refleks pengeluaran ASI). Kerja kedua hormon tersebut akan membuat kolostrum lebih cepat keluar.
Kolostrum atau ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke-10 atau ke-14, mengandung zat-zat gizi dan zat kekebalan tubuh (antibodi) dalam jumlah yang banyak dibandingkan ASI yang keluar pada hari-hari berikutnya. Dengan demikian, bayi akan terlindung dari penyakit infeksi, dan memperoleh kekebalan tubuh.
Mencegah perdarahan dan anemia
Selain merangsang produksi dan pengeluaran ASI, pengeluaran hormon juga akan menyebabkan rahim berkontraksi. Jadi, dengan menyusui bayi segera setelah lahir, kita akan mencegah terjadinya perdarahan paska persalinan, dan proses pengerutan rahim berlangsung lebih cepat. Bila perdarahan paska persalinan tidak terjadi atau berhenti lebih cepat, maka risiko kekurangan darah yang menyebabkan anemia pada ibu (akibat kekurangan zat besi), juga akan berkurang.Penting diingat bahwa bayi harus dibiarkan menyusu sepuas dan sesering mungkin tanpa jadwal yang ketat. Semakin kuat dan sering isapan bayi, semakin lancar dan cepat pemantapan proses menyusui.
Selain itu, sedapat mungkin, ayah, ibu dan bayi tidak banyak menerima tamu dalam 2 hari pertama. Waktu tersebut sebaiknya digunakan untuk memberi stimulasi yang sebanyak-banyaknya pada bayi, serta memberi ASI secara optimal.
Bila Anda tidak yakin apakah bayi mengisap ASI dengan baik, atau tetap penasaran dengan kecukupan produksi ASI Anda, jangan segan bertanya pada konsultan laktasi, dokter atau bidan. Semakin tinggi rasa percaya diri Anda, semakin besar kenyamanan dan kebahagiaan yang Anda rasakan saat menyusui sang buah hati tercinta.
Dewi Handajani
Konsultasi ilmiah: Prof. dr. Rulina Suradi, Sp.A(K), IBCLC , Divisi Perinatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Diarsipkan di bawah: ASI
*Long journey for mother’s milk*
*By ANGELA SHAFFER, Special to the Standard-Times*
*Wednesday, January 9, 2008*
*Every two weeks since early September 2007, young Silas Bohl has
received a special package from halfway around the world. His mother,
Capt. Ginger Bohl, is deployed with the Air Force in Afghanistan. The
packages contain 30 to 40 pounds of frozen breast milk that travels in
a convoluted, globe-trotting shipping route from the war zone to the
Bohls’ home. Ginger Bohl’s deployment wraps up in mid-January, and she
hopes to be back in San Angelo in time for Silas’ first birthday.*
*Every two weeks since early September 2007, young Silas Bohl has
received a special package from halfway around the world. His mother,
Capt. Ginger Bohl, is deployed with the Air Force in Afghanistan. The
packages contain 30 to 40 pounds of frozen breast milk that travels in
a convoluted, globe-trotting shipping route from the war zone to the
Bohls’ home. Ginger Bohl’s deployment wraps up in mid-January, and she
hopes to be back in San Angelo in time for Silas’ first birthday.*
*Toddler Silas Bohl gets special deliveries every two weeks from his
mom halfway across the globe, and he just eats them up.*
*Silas turns 1 later this month. His mom, Ginger Bohl, is deployed
overseas and sends her breast milk home from a war-torn land.*
*”It’s my wife,” says Michael Bohl, her husband and Silas’ father. “She
is an amazing woman – her spirit, her faith, everything about her just
shines.”*
*Ginger Bohl, an Air Force captain, is an active-duty doctor deployed
in Afghanistan from Goodfellow Air Force Base. Since leaving in late
August, Bohl has sent home biweekly shipments of her breast milk,
frozen and shipped in 30- to 40-pound quantities directly to the Bohl
family.*
*Thirty-five pounds of milk is about 4 gallons’ worth. This delicate
commodity makes it halfway across the planet, a distance of more than
8,000 miles, in just three short days.*
*While Michael Bohl and the children have spent the majority of the
recent months in Michigan visiting family, Ginger made time each day
to pump milk using a Medela breast pump. Michael said she had
reservations about being able to pump and store the milk on a daily
basis.*
*Electricity and a working freezer were a must – what if the necessary
facilities weren’t available?*
*”My wife left with faith that everything would be provided for,” Bohl
said. “And it has.”*
*Ginger sends the breast milk to her stateside family in one of several
Igloo Ice Cube coolers using DHL shipping services. Michael then packs
the cooler with items he thinks she might want or need and sends it
back. He recognizes that not every family is as fortunate as his, as
the shipping costs could be prohibitive. *
*”We’re really blessed that we can afford to make these shipments so
often,” Bohl said. “But it can get quite pricey, and because of that,
it’s cost-prohibitive for a lot of military families.”*
*On a recent day at the Bohl home, Olivia Bohl, 3 1/2 years old,
squealed with delight as she played with her toys and listened to
music. Her brother Silas was down for his daily nap, and Michael Bohl
took a breath of temporary relief known only to those who have the
important job of raising children.*
*Since no moratorium exists on training exercises or deployment for
breast-feeding mothers, Michael Bohl said, he feels that the military
should make more of an effort to provide facilities for mothers who
choose to breast-feed. *
*”What I’d really love to see the military do is provide compensation
for families who choose to breast-feed their children,” he said, “even
though the mother is away on deployment.” *
*However, the problem is not simply cost-related: Bohl said he
recognizes that what some take for granted in the U.S. is simply not
an option in many parts of the world.*
*”Something as simple as an electrical outlet and a freezer can make
all the difference,” he said.*
*Lt. Col. Susan Baker at Goodfellow Air Force Base said that there has
been no moratorium on deployment for breast-feeding mothers beyond the
first four months of a child’s life since late 2006. Baker
acknowledged that deployed breast-feeding mothers can encounter
obstacles. “It’s highly dependent on where a person is deployed,” she
said. “Some places are better-equipped than others.”*
*Help with wrangling bureaucracy would help many families that share
the Bohls’ desire to breast-feed. Bohl says his family encountered a
lot of red tape when trying to ship the breast milk.*
*Shipments have been held up by customs and the USDA because of the
potential for infectious diseases.*
*”There’s one guy at JFK (airport in New York City) who is now very
informed about the benefits of breast-feeding and why we needed the
milk right away,” Bohl said. “I was even sent to the IRS to get the
milk because they thought we were running some kind of Afghani
breast-milk ring.”*
*Through all the mishaps and difficulties, Ginger Bohl has been able to
provide vital nutrition for Silas.*
*In an additional contact provided by the United Through Reading
military program, Ginger also has been able to read to her children.
Through the use of a webcam, the children are able to see their mother
whenever they wish.*
*Ginger Bohl returns to her family in a few days. Whether Silas will be
able to resume breast-feeding with his mother is unclear.*
*”She’s been gone for so long, nearly half of his life,” Bohl said.
“Every time he hears her on the TV, he crawls up to touch it. He knows
her face and her voice. He knows his mommy. I know it won’t be a
problem.” *
Diarsipkan di bawah: ASI
Low milk supply; flat and inverted nipples
Breastfeeding is the way women have fed their babies from the beginning of time, so you should expect the process to proceed uneventfully, right? After all, it seems only fair that a woman who makes the positive choice to breastfeed her baby would be able to nurse as long as she desires. The surprising and disappointing truth is that lactation problems do occur, even among women with the best of intentions and the highest motivation to succeed at breastfeeding. Sometimes problems involve the mother’s breasts and nipples or relate to her overall health. At other times, breastfeeding problems involve the baby or impact the baby’s well-being. Some problems are due to circumstances beyond our control, while others are the direct result of lack of knowledge or lack of confidence, improper technique, or bad advice. Most problems that cause women to discontinue breastfeeding before they had wanted arise within the first few weeks, but a breastfeeding complaint can present at any point in the course of lactation. Whether breastfeeding problems begin in the hospital or surface months later, they can be the source of great stress and threaten long-term breastfeeding.
The Importance of Getting Help Early
The early recognition and treatment of a breastfeeding problem offers the best chance that the difficulty can be resolved successfully. The chief message is: Get help as quickly as possible so you can resolve your problem before it becomes complicated by insufficient milk. Unfortunately, many health professionals practice a wait-and-see approach to breastfeeding complaints, hoping that any difficulties automatically will self-correct between office visits. This nonintervention approach is understandable considering how little training most health professionals receive about the management of breastfeeding problems. Without corrective measures, however, many problems are compounded by low milk or an underweight baby, making a bad situation worse.
Why Breastfeeding Problems Are Readily Complicated by Low Milk Supply
Breastfeeding difficulties can cause physical discomfort, exhaustion and frustration, as well as infant fussiness and poor infant growth. Furthermore, many breastfeeding problems readily become complicated by low milk supply. Often, complaints in breastfeeding women are linked to ineffective or infrequent emptying of milk. If milk is not removed from the breasts regularly, a chemical inhibitor in residual milk accumulates and decreases further milk production. In addition, excessive pressure from unemptied milk can cause damage to the milk-producing glands. Thus, milk left in the breast acts to decrease further milk production. Problems that impair milk removal-infrequent or short feedings, inverted nipples, breast infections, sore nipples, breast engorgement-can quickly result in diminished milk production.
Flat and Inverted Nipples
A flat nipple is one that cannot be made to protrude with stimulation. An inverted nipple retracts inward instead of becoming erect when the areola is compressed. Both flat and inverted nipples can make it difficult for an infant to grasp the breast correctly. They also are more prone to trauma from early breastfeeding efforts, which can result in painful cracks and damaged skin. When flat or inverted nipples are discovered prenatally, several treatment options are available to draw the nipples out. The most popular of these is the wearing of breast shells, also known as milk cups, over the nipples inside the maternity bra. These dome-shaped devices have an inner ring that is worn over the nipple. When a breast shell is situated over a flat or inverted nipple, it applies steady pressure at the base of the nipple which causes it to protrude through the central opening.
When prenatal treatment isn’t possible or when the problem isn’t detected until after delivery, mothers may need extra help with getting started breastfeeding. Whether or not your flat or inverted nipple(s) was treated prenatally, the most important thing you can do when your baby is born is to get skilled help with proper breastfeeding technique and expert guidance in helping your baby attach to your breast correctly.
Flat nipples can range from those that are only slightly less protuberant than normal, to nipples that are almost indistinguishable from the surrounding areola. Inverted nipples range from those with a slight central crease or dimple to deep central inversions that interfere with infant latch-on and prevent milk from flowing normally. Depending on the characteristics of your particular nipples, your baby may be able to latch on and draw your nipples out without any special treatment. If your baby is having trouble grasping your flat or inverted nipples, you can try the following strategies:
- Gently compress and roll your nipple between your thumb and index finger for a minute to try to make it more erect before attempting to feed your baby. With patience and persistence, your baby can probably attach to your breast and nurse effectively even if you have flat or inverted nipples.
- Use a breast pump to draw your nipple(s) out immediately before breastfeeding your baby. A hospital-grade electric pump may be available on the postpartum floor for your convenient use. If an electric pump is not available, a hand pump can be used to create steady, gentle suction for about thirty seconds.
- If one nipple is more protuberant than the other, begin your breastfeeding attempts using that nipple. Once your baby learns to nurse from one breast, he may be better able to draw the nipple out on the other side. You can build on this initial success as you offer the more difficult side.
- Wear breast shells for about thirty minutes before each feeding to help pull your nipples out. Obviously, the devices must be removed prior to breastfeeding. Some women can tolerate longer periods of wear, but overuse of breast shells can make nipples sore by trapping moisture. They can also cause plugged ducts by pressing against swollen breast tissues once milk comes in. (Any leaking milk that collects in the shells should be discarded.)
- If your baby has not learned to latch on well to both breasts and nurse effectively within twenty-four hours of birth, I recommend that you begin regular milk expression. Use the most effective pump you can obtain, preferably a hospital-grade electric breast pump with a dual collection system. Pump your breasts for approximately ten minutes after each feeding attempt. Pumping serves several purposes. It draws your nipples out with each pump cycle, and it provides effective draining of your breasts to assure you continue to produce a plentiful milk supply. Pumping also obtains expressed breast milk to use to supplement your baby until she learns to nurse effectively.
- While your baby is learning to breastfeed correctly, some experts believe it is preferable not to use a bottle to give the required supplemental milk. They argue that a preference for bottle-feeding can easily develop in babies who haven’t learned to nurse effectively. These advocates recommend cup feeding or another alternative method of giving the extra milk. Other breastfeeding proponents insist that using bottles doesn’t necessarily interfere with learning to nurse, so long as the mother’s milk supply is kept plentiful by frequent pumping, and the baby is guided in correct breastfeeding technique. When a baby is having trouble learning to nurse due to flat or inverted nipples, I suggest temporarily avoiding bottle-feeding, if possible, and choosing an alternative method of feeding supplemental milk, at least during the period you are in the hospital.
Most importantly, keep first things first. Your top priorities are assuring your baby receives sufficient milk and preserving a generous breast-milk supply. With regular pumping and persistent attempts at the breast, your baby will probably be able to eventually breastfeed well. Rarely, a woman might have to pump several weeks until her nipples have been drawn out sufficiently for her baby to learn to nurse effectively. But such extra effort is well worth the benefits gained by breastfeeding.
Diarsipkan di bawah: ASI
By Kelly Bonyata, BS, IBCLC
A small percentage of moms report nausea during a breastfeeding session in the early weeks of breastfeeding . It goes away for most (but not all) moms by the end of the 6th-8th week. If nausea during breastfeeding begins when baby is older, consider the possibility of pregnancy.
Nausea that occurs with the milk let-down may be related to the release of oxytocin. Oxytocin is the hormone that causes the milk ejection reflex (MER or let-down), and it also helps make digestion more efficient and is associated with other gut hormones that can cause nausea. According to Dr. Ruth Lawrence (author of Breastfeeding: A guide for the medical professional), the nausea described has been compared to the nausea of pregnancy that comes in waves. Symptoms are similar to low blood sugar: nausea, headache, hunger, etc.
Other symptoms during let-down: Some mothers experience itching (usually of the breast or underarm area) during letdown; this may be due to the increased blood flow or a response to oxytocin release. Hormone-related headaches or feelings of depression (or anxiety, agitation or anger) during let-down can also occur on occasion. Mothers with a history of sexual abuse may experience various symptoms when breastfeeding.
Tips to combat nausea
- Most mothers find that getting something to drink and eating complex carbohydrates (like a piece of bread or a cracker) right before and/or during the breastfeeding session seems to calm the nausea.
- As this is similar to morning sickness, consider trying the various suggestions offered to reduce morning sickness.
- Snack often to avoid low blood sugar.
- Try increasing your fluid and/or water intake a bit, even if you’re already drinking to thirst. One mother who was already drinking other liquids to thirst found that her nausea went away when she started drinking more water.
- Wait it out. The nausea should start to improve and will usually disappear after the early weeks of breastfeeding.
Nausea that is not associated with let-down may be related to mild dehydration, low blood sugar or exhaustion.
Are you taking time to drink enough fluids? Drinking to thirst is recommended for nursing mothers, but mothers busy with a new baby don’t always get a chance (or take the time) to drink when they’re thirsty. Keep several bottles of water around the house in places where you typically sit down with baby, so that there is something easily available when you’re thirsty.
How are you doing with your nutrition in general? Are you taking time to eat? Low blood sugar can occur when you are not eating well and nausea can be a sign of low blood sugar. Besides eating something prior to breastfeeding, take a look at how you are eating in general, and if you have been “forgetting” to eat you might want to try to improve your diet.
Most all new moms are operating on little sleep, and exhaustion is often accompanied with nausea. Get as much rest as you can. See Maximizing sleep for tips on getting as much rest as you can.
Diarsipkan di bawah: ASI
by Rhondda Smiley. Reprinted with permission from the author.
I developed a breast abscess after I returned to work full time when my daughter India was 10 months old. I had mastitis my 4th day back, and then a recurrent plug that I just couldn’t get rid of. By my sixth week back, I had a full blown abscess the size of a kiwi. It was horrible – the area was very tender, especially when my breasts were full or if my daughter hit it while nursing, and my entire immune system was very taxed. Almost as horrible was having to deal with medical professionals who were very ill-informed about breastfeeding, telling me to wean.
There is some information on abscesses in Dr. Jack Newman’s book, but I found it very difficult to find anything else about them. I called my La Leche League leaders, and searched the internet, without much luck. Fortunately, they are not too common, but this made for a frustrating situation as I was also dealing with doctors who didn’t know much about breastfeeding. The most effective thing I did was to put out feelers to every single mother, doula, midwife, lactation consultant and LLL leader I knew by email. I was able to speak with three other mothers about their abscess experiences. This was invaluable.
Here is what I learned. Abcesses are rare, occurring in 3-11 percent of women who have infectious mastitis. Abscesses can also develop with a recurrent plug that keeps occurring in the same spot. Abscesses can be diagnosed either by aspiration (lanced and drained with a needle by your doctor) or by ultrasound. If you are having an ultrasound, be sure to empty your breasts as much as possible before the test so that the technicians can more easily read the results. If you have an abscess aspirated, ask your doctor to culture the fluid that is drawn out so that an appropriate antibiotic can be prescribed.
Abscesses can sometimes be resolved just by being aspirated, but must sometimes be surgically drained (called an incision and drainage, or I&D). An I&D can be done either under a local or a general anesthetic. It is important to request that any incision be made radially (from the chest in towards the nipple) instead of around the areola. Many breast surgeries are done around the areola for aesthetic reasons, but this cuts more milk ducts and may affect milk supply. After an I&D, the incision is left open and packed with a dressing so that it can continue to drain and heal from the outside in.
It is important to either nurse or pump the affected breast while the incision is healing to prevent engorgement, relieve pressure on the incision and help to prevent the recurrence of mastitis. As with any plug or mastitis, weaning “cold turkey” will likely complicate the problem. Some mothers are told that milk from cut ducts will leak from the incision and that they should wean immediately to prevent this. Yes, there can be some leaking at the incision (I didn’t have any), but it shouldn’t be a problem, in part because of the antibodies in the breastmilk. As long as the site of the abscess does not prevent it (i.e. if it’s very close to the areola or nipple), a mother should continue to nurse on the affected breast. If the location of the abscess prevents direct breastfeeding, then it is recommended that you express milk from the affected breast while the incision is healing to prevent complications (even if you intend to wean from that breast after the incision is healed). It is possible to obtain a custom-cut pump flange to facilitate pumping when the incision is very close to the nipple. I have met one mother who had an abscess very close to her nipple. She was unable to nurse on that side, and let her milk dry up on the affected side, but she continued to nurse only on the other side for many months.
Of the three mothers I spoke to before my surgery, their experiences varied wildly. One mother was able to resolve the abscess by having it lanced in her doctor’s office. Another mother had an incision and drainage under general anesthetic with one night in the hospital. Another had an I&D under general anesthetic and had a 5 day hospital stay while being treated with morphine. (She said that her abscess had developed after a botched breast reduction.) So the condition and treatment of abscesses is obviously very individual.
I had my abscess aspirated, but it just filled up again (not uncommon), so then had an I&D under a local anesthetic. The I&D was painful, but I had already spent over 2 weeks trying to get in with a breastfeeding friendly surgeon. I ended up with the director of the local breast clinic instead, who was less than supportive or knowledgeable about breastfeeding. But I didn’t want to have an I&D done at the ER by a general surgeon, who was even less likely to be informed about lactating breasts. If I wanted a general anesthetic, the wait would have been even longer.
I became angry many times due to the ignorant comments and actions of medical professionals that I encountered, especially those who were supposed to be breast “experts,” but seemed to know nothing about lactating breasts or breastfeeding. A radiologist who saw me at the ultrasound clinic asked if my 11 month old daughter was eating solids yet. When I said yes, she asked “so breastfeeding is just a pastime then?” This was at a clinic that dealt exclusively with screening breasts.
In my initial consultation with the director of our local breast clinic, he basically told me that I should be satisfied to stop nursing at 11 months and that as my daughter was now on solids, that she really had no further need for breastmilk. When I went in for my I&D, he informed me once I was lying on the table that he wanted to give me Demerol. I said I did not know if it was safe while I was nursing (I had previously checked out local anesthetics with Motherisk for a dental procedure and knew they were OK) and could we call Motherisk? (This is a service at the Hospital for Sick Children here in Toronto that advises on the safety of various substances for pregnant and nursing mothers. Call them at 416-813-6780.) He asked when I would be nursing again (basically as soon as I got home) and said that it would wear off in 4-6 hours. He brushed off my request to call Motherisk. He offered to have it checked with the hospital pharmacist, but I did not trust this option, knowing that many pharmacists do not access accurate information regarding the safety of drugs for nursing mothers and babies. I decided to call Motherisk myself as soon as we were finished. (I did and found it was safe.) It only occurred to me later that while the drug may have worn off in 4-6 hours, it could have potentially had negative side effects for my baby for much longer. Fortunately, this was not the case.
While I had made not one but two calls before the surgery to inquire about recovery, the surgeon told me while I was lying on the table that I would require a nurse to come in for 2-3 weeks to change my dressing. Since I had just returned to work full time, this new information added unnecessary stress I did not need during a medical procedure. Through my Demerol haze, I had to remind the surgeon and nurse not to cover my nipple with the bandage after the procedure. He told me that it would probably be too painful for me to nurse (he was talking to the WRONG MOTHER!), forgetting that I’d already BEEN nursing with an abscess the size of an orange in my breast for the last two weeks.
I was able to nurse right before and just a few hours after the surgery. I waited at the hospital for about 3 hours before I went home to nurse my baby. I tried pumping the affected breast when I got home, but it was actually easier for me to nurse because of where my incision was – sort of on the inside/underside of my breast. The pump actually covered the incision and this was uncomfortable. I just covered the site with my hand when I nursed so that India wouldn’t accidentally hit it. She didn’t rest on the incision, nor did she have any interest in the dressing. It took my incision about 2-3 weeks to close up. A nurse came into my home each day to change my dressing and check on how the incision was healing. She would rinse the incision with sterile saline, then pack the incision with a packing tape. I started to feel better immediately after the surgery since my body was no longer battling the infection inside me. Also, having that pressure off made nursing more comfortable too. I had absolutely no problems with supply after my surgery, and the incision was very small. My scar is about an inch long.
Ironically, by the time I was dealing with the abscess, my daughter was deciding that she didn’t want a bottle of expressed milk while I was gone. I didn’t really need to pump any milk for her, but kept doing so until I was fully confident that my abscess was completely healed, so that I didn’t run into any problems with plugs or mastitis when I weaned off pumping. I no longer pump, but my daughter continues to nurse into her now third year.
A mother suffering from an abscess needs to get some rest and let herself heal. That is the “message” of mastitis and abscesses to every mother. She needs to rally her troops and get the same kind of support that she hopefully had in the first few days or weeks after birth – her partner to pick up the slack, maybe a mum or mother-in-law to come and spend some time, friends to make meals and help around the house or with older siblings – you know, all that good stuff that seems to dry up after the first month! She needs to do nothing but crawl into bed with baby tucked next to her, rest and feed her baby. Nothing else is more important.
Rhondda Smiley is a mother who also works full time outside the home in arts and entertainment ticketing. She is actively involved in her local La Leche League group. She lives in Toronto with her husband Alan, daughter India and two cats.
Copyright © 2002 by Rhondda Smiley. No portion of this text may be copied or reproduced in any manner, electronically or otherwise, without the express written permission of the author.
Diarsipkan di bawah: ASI
WEANING WITH LOVE
Ditulis bebas & dirangkum dari berbagai sumber (Lalecheleague, WHO, breastfeeding.com) oleh Luluk Lely Soraya Ichwan
Menyapih sering jadi pertanyaan banyak orang tua “Kapan sih usia yang tepat untuk menyapih anak dari masa menyusu pada ibunya ?” Kemudian bagaimana cara menyapih yg terbaik ? Sebetulnya apa sih yang dimaksud dg kata “menyapih” itu sendiri ?
Menyapih adalah suatu proses berhentinya masa menyusui secara berangsur-angsur atau sekaligus. Proses tsb dapat disebabkan oleh berhentinya sang anak dari menyusu pada ibunya. Atau bisa juga berhentinya sang ibu untuk menyusui anaknya. Atau bisa juga keduanya. Jadi bisa dg berbagai alasan.Masa menyapih ini merupakan pengalaman emosional bagi sang ibu, anak juga sang ayah. Karena 3 pihak tadi (Ibu-Ayah-Anak) merupakan ikatan kesatuan yg gak boleh dilupakan.
Kenapa ayah juga terlibat ? Karena ayah juga berperan dan memberikan pengaruh tersendiri dalam proses menyusui.Kapan anak harus disapih Banyak yg bertanya juga kapan sebaiknya anak disapih dari ibunya, atau kapan waktu yang tepat untuk menyapih. Sebetulnya tidak ada ketentuan khusus atau batasan khusus kapan anak harus disapih. Jadi tidak ada aturan bahwa pada umur sekian anak harus disapih dari ibunya.
Menurut WHO, masa pemberian ASI diberikan secara eksklusif 6 bulan pertama, kemudian dianjurkan tetap diberikan setelah 6 bulan berdampingan dg makanan tambahan hingga umur 2 th atau LEBIH. Jadi tidak ada batasan di umur berapa. Ini artinya tidak ada aturan bahwa pas pada umur 2 th anak harus disapih dari ibunya. Banyak orang tua menyapih anaknya pada umur 1 th-2th, ada juga yg umur 3 tahun anaknya baru disapih bahkan ada juga yg umur 4 th.ASI > 1th tidak bergizi ?
Sampai kapan proses / masa menyusui dapat dilanjutkan ? Jawabannya : Selama ketiga pihak (ibu-anak-ayah) masih menginginkan. Itu artinya jika sang ibu / sang anak / sang ayah sudah tidak menginginkan, maka proses menyapih dapat dilakukan. Misalnya, sang ibu punya deadine (batas waktu) tersendiri bahwa pada umur sekian si anak harus disapih tetapi sang ibu masih enjoy & sang anak juga masih menginginkan, maka tidak perlu disapih. Intinya, pilih timing yg paling nyaman untuk semua pihak.ASI > 1 th jelek dan tidak bergizi ?!Sering ada anggapan bahwa ASI itu sudah jelek kalo anak sudah berusia 1 th ke atas ? Nah apalagi jika anak berusia 2 th, betulkah ini?Opini bahwa ASI itu jelek > 1 th ternyata sama sekali tidak benar.ASI tetap kaya akan nutrisi.
Menurut penelitian Dewey KG dalam artikel “Nutrition, Growth, and Complementary Feeding of the Breastfed Infant”. Pediatric Clinics of North American. February 2001;48(1)), bahwa ASI > 1 th kaya akan nutrisi :”In the second year (12-23 months), ASI mengandung : a.. 43% of protein requirements; b.. 36% of calcium requirements; c.. 75% of vitamin A requirements; d.. 60% of vitamin C requirements”.Ini belum termasuk zat anti infeksi/anti kuman yg tetap dan selalu ada dalam ASI yg manfaatnya sangat luarbiasa untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit.Jadi tidak pernah ada istilah ASI jelek. Kandungan gizi ASI itu sangat fleksibel sesuai kebutuhan sang anak.Komposisinya tidak pernah sama dan selalu berubah bahkan tiap menit. Ini berbeda sama sekali dg kandungan susu formula yg itu-itu saja.Sampai saat ini banyak anggapan bahwa jika anak disusui terus nantinya anak susah disapihnya. Atau banyak juga yg menganggap anak akan jadi tidak mandiri. Benarkah hal ini ? Hingga saat ini tidak ada / belum ada penelitian khusus yg membuktikan bahwa ada hubungan antara usia anak disapih dg kemandirian anak. Kenyataan yang ada sering sekali orang merancukan / mencampuradukkan kedekatan orang tua dg si anak,dengan manja atau kurang mandiri. Apakah kedekatan dengan orang tua sama dengan manja? Belum tentu kan ? Bukankah secara psikologis pada usia tsb anak justru memang membutuhkan kedekatan yg bagus dg orangtuanya. Sementara itu banyak sekali anak yang disapih di usia >1 atau 2 th tetap menjadi anak yang mandiri. Jadi kembalikan lagi ke definisi mandiri itu bagaimana.Cara terbaik menyapih anakCara menyapih yg baik & tepat.Tidak ada cara khusus dalam menyapih.
Beberapa ahli laktasi memberikan tips-tips agar proses menyapih berjalan dg baik :
a.. Lakukan proses menyapih secara perlahan.Mis. Mengurangi secara bertahap frekuensi menyusu. Biasanya 4 x sehari maka secara perlahan diubah 3 x sehari terus hingga akhirnya berhenti.
b. Alihkan perhatian anak / sibukkan anak dg hal lain.Bisa dg membacakan buku ke anak, bermain, bernyanyi, dsb. Hingga anak melupakan saat menyusu.
c.. Kunci utama : Bina komunikasi yang baik dg anak.Ingat, seberapa kecil usia anak, anak tetap mengerti dan memiliki kemampuan utk mengerti kata2 dari orang di lingkungannya.
d.. Hindari menyapih saat anak sedang tidak sehat atau sedang sedih, kesal, marah.
e.. Hindari menyapih anak dari menyusu ke benda lain spt empeng, botol susu, bantal, dsb.Biasanya disini peran ayah sangat dibutuhkan sbg figur yang melengkapi sang ibu. Sekali lagi bina komunikasi yg baik dg anak.
f.. Hindari menyapih secara mendadak/langsung.g.. Terakhir, KOMUNIKASI, komunikasi dan komunikasi. Ajaklah anak berkomunikasi dan berdiskusi. Jelaskan dg baik alasan dan langkah menyapih yg akan dilakukan.Apalagi tanpa komunikasi apapun dg si anak. Ini dapat menyakitkan hati sang anak. Jangan sampai anak merasa bahwa dg manyapih sang ibu membencinya, dsb.Pemberian jamu pahit, memaksa anak utk tidak menyusu pada ibunya, dsbnya dapat merusak bonding atau ikatan batin yg terbentuk sejauh ini dalam proses menyusui. Amat sangat disayangkan jika hal ini terjadi. Karena ikatan indah tsb ternodai akibat proses menyapih secara mendadak tadi.Jika proses penyapihan dilakukan dg baik, maka anak2 kita akan tumbuh menjadi anak yg cerdas, sehat dan berakhlak baik. Karena sang ibu mendidiknya melalui masa menyusui dan masa menyapih dg cinta.
(Luluk Lely Soraya I adalah seorang ibu dari seorang putri, pemerhati masalah ASI & kesehatan keluarga, Lactivist, dan narasumber rubrik OASE di RAS FM 95.5 tiap sabtu pkl 9-10 pagi).
Sumber artikel :a.. WHO. 2004. “Infant Feeding in emergencies : A guide for mothers” (www.who.int) b.. Kelly Bonyata, BS, IBCLC “Extended Breastfeeding Fact Sheet” (http://www.kellymom.com/bf/bfextended/ebf-benefits.html)c.. Jack Newman, MD, FRCPC. “Breastfeed a Toddler-Why on Earth? ” (http://www.kellymom.com/newman/bf_toddler_01-03.html)d.. Lalecheleague International, “What are the benefits of breastfeeding my toddler?” (http://www.lalecheleague.org/FAQ/advantagetoddler.html)
Terlalu Dini Disapih, Ganggu Sistem Pencernaan Bayi
Oleh arixs
Sebagai makanan utama bayi, Air Susu Ibu (ASI) mengandung semua zat gizi dengan komposisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Agar bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, pemberian ASI secara ekslusif atau selama enam bulan tanpa didampingi makanan tambahan lainnya sangat diperlukan.
“Setelah enam bulan, bayi baru bisa dikenalkan dengan makanan pendamping. Ini untuk menghindari terjadinya penolakan makanan yang berakibat trauma psikis pada anak,” jelas dokter spesialis anak, dr. I Wayan Dharma Artana SpA.
Pemberian makanan tambahan seperti pisang dan kates itu diawali dengan pra penyapihan. Pada tahap ini, Artana menjelaskan bayi hanya mendapat tambahan zat karbohidrat. Ketika berusia tujuh bulan, dilanjutkan dengan pemberian penyapihan atau makanan pendamping ASI. Makanan ini selain mengandung karbohidrat juga dilengkapi dengan yang mengandung protein. “Biasanya kandungan karbohidrat dan protein ini diperoleh dari bubur susu yang terdiri dari tepung dan susu,” terangnya. Pemberian nasi tim saring dengan komposisi vitamin dan zat mineral makin lengkap karena mengandung beras, sayur dan lauk. Ini dapat diberikan secara bertahap. Pada usia sembila bulan ke atas, bayi dapat dikenalkan tim kasar tanpa disaring atau diblender. “Ketika bayi berusia satu tahun ke atas bayi dapat diberikan makanan keluarga,” tuturnya.
Artana menegaskan makanan pendamping ASI hendaknya dikenalkan tepat waktu yakni setelah enam bulan. Jika diberikan terlalu dini akan menurunkan konsumsi ASI dan bayi mengalami gangguan pencernaan atau diare. Sebaliknya, bila makanan pendamping diberikan terlambat akan mengkibatkan anak kurang gizi.
Untuk itu Artana menyarankan agar dalam mengenalkan makanan pendamping harus mengikuti pola makan dan kondisi anak serta dilakukan secara bertahap. Selain ASI, pola makan, pola asuh serta pola lingkungan untuk mendukung stimulasi bayi juga menjadi peran utama anak tumbuh kembang secara optimal. -lik
Self Weaning dan Nursing Strike
Utk tandem nursing, patokannya adalah selama tidak ada masalah dg janin,
maka tandem nursing bisa dilakukan. Dan tentu ini dalam pengawasan dsog.
Mengenai case teman mbak yg janinnya kurang gizi, jelas gak bisa
disimpulkan sepihak krn gizinya diambil sang kakak. Banyak hal yg membuat
janin menjadi gagal tumbuh. Jadi saya gak berani mengatakan bahwa tandem
nursing menyebabkan bayi gagal tumbuh. Anyhow banyak juga kasus ibu yg
mengalami tandem nursing dan janinnya baik2 saja hingga lahir. Krn itu
panduan atau pemantauan dari dsog utk melakukan tandem nursing jelas
mutlak dibutuhkan.
Selfweaning bisa terjadi pada anak <2th. Tapi yg perlu dibedakan apakah
ini self weaning atau nursing strike (mogok menyusu). Nursing strike
terjadi dg tiba2 tanpa aba2. Penyebabnya byk hal. Mulai dr tumbuh gigi,
cold, sore throat, atau sang ibu smell different (ganti deodoran, dsb),
penggantian pola menyusui, dsb.
Kadang juga nursing strike ini gak ada sebabnya. Jadi ya terjadi begitu saja.
Karena anak yg menolak tiba2 ini banyak para ibu yg beranggapan bahwa
anaknya memutuskan diri utk menyapih dirinya sendiri. Ternyata gak loh
mbak. Menurut dari byk artikel ttg nursing strike, yg akhirnya mencuri
perhatian saya utk banyak browsing soal ini, ternyata beda loh tanda2 anak
yg mengalami nursing strike dg yg mau weaning.
Kalo tanda2 weaning (menyapih) penolakan terjadi secara gradually
(bertahap, gak tiba2) bisa terjadi berminggu2 atau berbulan2. Sedangkan
nursing strike, penolakan terjadi tiba2 tanpa aba2
Satu sisi, nursing strike bisa jadi difficult time buat sang ibu.
Biasanya nursing strike ini bisa terjadi 1 atau 2 hari atau lebih.
Yg penting selama nursing strike terjadi sang ibu tetap berusaha tenang.
Tetap menjaga produksi ASI dg rajin memeras / memompa ASI.
Juga tetap tawarkan ke naufal utk menyusui. Perlahan nantinya begitu masa
nursing strike selesai naufal akan kembali spt semula.
Ahli laktasi di Laleche league menyarankan untuk mencoba menyusui anak
saat ia dalam keadaan mengantuk. Biasanya mereka gak akan menolak utk
menyusu dalam keadaan ini.
Tapi jikapun ia gak mau menyusu, gak papa.
Tips2 berkut saya compile dari saran para ahli laktasi saat menghadapi
anak yg nursing strike :
a.. Cobalah susui anak saat ia mengantuk atau menjelang tidur.
b.. Coba susui dengan sambil diayun.
c.. Pilihlah tempat menyusui yg bebas gangguan. Matikan radio, tv atau
redupkan ruangan saat akan membantu anak utk mau menyusu. Krn beberapa
anak sangat sensitif dg hal ini.
d.. Berikan perhatian ekstra utk anak dan lakukan skin-to-skin contact.
Sering mengelus anak akan membuat ibu & anak nyaman.
e.. Sering tawarkan anak utk menyusu. Jangan tunggu sampai ia kehausan
atau kelaparan.
f.. SABAR dan terus mencoba. Anak butuh waktu begitu juga ibu & ayah.
g.. Selama anak masih mogok, jaga produksi ASI dg cara memerasnya atau
memompanya. Jadi produksi ASI tetap optima saat nanti anak kembali dari
mogoknya.
Saya reposting artikel ttg nursing strike ini ya mbak.
Tetap berusaha ya mbak. Saya tahu ini gak mudah. Try to relax & tetap jaga
kuantitas ASI.
Mengenai kebutuhan gizi anak yg sudah self weaning, tentu saja spt yg
sering kita diskusikan disini bahwa >1th susu termasuk juga ASI hanya sbg
pelengkap dan bukan asupan nutrisi utama. Meski upaya pemberian ASI hingga
anak berusia 2th atau lebih sebaiknya dilakukan. Jd gak perlu khawatir dg
gizinya ya mbak. Kan nutrisi utamanya didapat dari asupan makanannya yg
sesuai dg piramida makanan.
Demkian jg mengenai asi dari ibu yg hamil ygr asanya “beda”. Memang
perubahan hormon dalam tubuh ibu hamil akan mempengaruhi citarasa asi. Krn
itu beberapa anak menolak jg utk menyusu pada ibunya saat ibu hamil.
oleh :Luluk Lely Soraya
Diarsipkan di bawah: ASI
Weaning is the stage in your baby’s life when he transitions from breast milk to other sources of nourishment. When to wean is a personal decision. For you, it may be influenced by when you decide to return to work, the health of you or your baby, or simply a feeling that it’s the right time.
Whenever you decide to wean your baby, it’s important to understand that weaning is a gradual process that calls for patience and understanding from both you and your child.
Deciding When to Wean
The American Academy of Pediatrics (AAP) recommends feeding your child only breast milk for the first 6 months of life. After that, a combination of solid foods and breast milk should be given until your baby is at least 1 year old.
Some experts say that after the first birthday is the best age to start the transition from the breast because a child is more adaptable to change at that age. (A 2-year-old toddler, for example, is likely to be much more attached to the breast and less flexible about giving it up.) A 1-year-old baby is also eating more solid foods and so may naturally lose interest in the breast. Engorgement will also become less of a problem for the mother around this time because as the demand for breast milk decreases, so does milk production.
Weaning does not have to be an all-or-nothing proposition. Some women choose to wean during the day and breastfeed at night, depending on their work situation and their schedules. It’s up to what works for the mother and the baby. Some children wean themselves earlier than the mother had intended for it to happen or the child may not be ready to be off the breast as soon as the mother is ready. The best way to approach weaning is being flexible and paying attention to what works for you and your baby and your situation.
Weaning is easier if a child has taken milk from some other source besides your breast before that time. So it’s a good idea to giving an occasional bottle of breast milk to your child around 4 to 7 months (or sooner if you decide to wean earlier) – even if you plan to continue breastfeeding, this can facilitate the weaning process in the future. Not only does this allow you more flexibility in terms of allowing other family members to be involved, it also makes it possible to leave him with a caregiver.
If you decide to wean before 1 year and you find that you are not making enough milk to feed your child, or if you no longer want to breastfeed your child, you will need to switch to formula. Your child’s doctor can suggest a good transitional formula for your baby. If your child is near the age of 1, you might want to start placing formula in a cup instead of a bottle.
Although some children are content to nurse indefinitely and will wait for their mothers to initiate weaning, others will give subtle – or even not-so-subtle – clues that they are ready to wean. They may express indifference or irritability when presented with the breast or they may nurse in shorter sessions than they did before.
Here are some other signs that may indicate your child is ready for solid foods:
- Has your baby’s “tongue-thrust” reflex disappeared? This reflex causes babies to instinctively push objects out of their mouths. If it is still present and your child gags whenever you give him or her food, it may be a sign that your baby is not ready to be weaned.
- Can your baby sit up and hold his or her head up? If so, your baby will be able to sit in an upright position for feeding.
- Does your baby look at or try to grab food when he or she sees it? If your baby shows an interest in the food on your plate, it could mean he or she is ready to move on to solids.
- Does your baby seem very distractible when on the breast and does it seem to take forever to get through a feeding? This could mean that your baby is ready to be weaned.
Approaches to Weaning
In order to allow both mom and baby to adjust physically and emotionally to the change, weaning should be a gradual process.
One approach to weaning is to drop one feeding session a week until the child is eating all solid foods or formula. In this case, you may need to express milk to avoid engorgement. If you try this approach, you might want to start with eliminating the midday feeding because it’s usually the smallest and most inconvenient – especially for working mothers. Many mothers let go of the bedtime feeding last because it remains a special part of the bonding experience. It may also be the one to which your child is most emotionally attached.
Another approach is to leave the decision of when to wean completely up to your child. Once he or she is eating three meals of solid food a day (plus snacks in between), let your child breastfeed only when he or she asks. In this situation, you may find that your milk will dry up due to lack of demand. Pumping may be necessary to keep the milk flowing.
Making the Transition Easier
Many mothers make the decision to wean with mixed emotions. On the one hand, weaning brings with it more freedom and flexibility for a mother, as well as the proud realization that her child is reaching a major milestone.
On the other hand, nursing is an intimate activity that fosters a strong bond between mother and child – and some women find it difficult to let that go. For many mothers, weaning is the first realization that their child may never again depend on them as much as they did in those earliest months.
Expect that you’re going to experience a wide range of emotions, and understand that your child may be ambivalent about weaning, too. But also remember that there will be countless other ways to nurture your relationship with your child in the days, months, and years ahead.
Here are some suggestions for making the transition easier for both of you:
- Engage your child in a fun play activity or an outing during the time when you would usually nurse.
- Avoid sitting in your usual nursing spots or wearing your usual nursing clothes.
- Delay weaning if your child is trying to adapt to some other change in his life. Trying to wean your child when he or she is just beginning child care or when teething is probably not a good idea.
- If your baby is younger than a year, it’s a good idea to introduce a bottle or cup when you would typically be nursing. If he or she is older than a year, try a healthy snack or maybe even just a cuddle.
- Try changing your daily routine so that you are otherwise engaged when you would typically be breastfeeding.
- Enlist your partner’s help to provide a distraction at a typical nursing time.
- If your child begins to pick up a comforting habit such as thumb sucking or becomes attached to a security blanket, don’t discourage it. Your child may be trying to adjust to the emotional changes of weaning.
How Long Is Too Long?
Some experts feel that there is nothing wrong with feeding a child breast milk until well into the toddler or even preschool years, as long as both the child and mother are comfortable with the situation. However, it’s important to note that after 1 year, breast milk alone does not provide all the nutrients a growing child needs; solid foods must become a regular part of his diet.
As you begin to wean your child, remember that he or she needs time to adjust to eating from bowls and cups. Be patient as your child begins to explore the world of food – eventually your child will like what he or she sees.
Updated and reviewed by: Barbara P. Homeier, MD
Date reviewed: June 2005
