Smart Parent


BCG Tidak Berbekas
April 10, 2008, 2:09 am
Diarsipkan di bawah: IMUNISASI

Imunisasi BCG tidak berbekas

10/06/2005
Q : Dr. Wati Yth.,Anak Saya laki-laki 7 bln berat 10 kg panjang 67 cm. BB lahir 3.250 panjang 49. Terlalu gemuk ya dok ? Dok, anak saya waktu usia 1 bln imunisasi BCG tetapi tidak terlihat ada tanda bekas suntikannya. Saya sudah konsultasikan ke DSA nya katanya tubuhnya tidak respon dgn vaksin tsb. Tapi saya tanya apakah perlu diulang katanya tidak perlu hanya nanti pas umur 1 thn perlu dievaluasi kalau berat badannya kurang maka perlu tes mantoux. Bagaimana sebenarnya dok ? Saya kuatir dia jadi tidak punya kekebalan terhadap penyakit tsb. Mohon pencerahannya, terimakasih.
Evi

A : Anak kamu mungkin tampak gemuk, tapi yang penting bukan itu, apakah berat badan dan tinggi badannya sesuai untuk umurnya saat ini, dan apakah pertambahannya sesuai dengan pertambahan usianya, untuk itu Evi harus memplotkan data tinggi badan dan berat badan ke grafik pertumbuhan yang terdapat pada kartu KMS ataupun buku medical record anakmu.
Jadi, yang paling penting pada penilaian pertumbuhan anak bukanlah keadaannya saat ini saja, tapi KRONOLOGISnya (pertambahan tinggi badan dan berat badannya tiap bulan).
Mengenai imunisasi BCG anakmu yang tidak berbekas ada berbagai kemungkinannya, antara lain: penyuntikannya yang terlalu dalam, tidak intra kutan, sehingga bisul yang timbul setelah suntikan tidak terlihat dan tidak meninggalkan bekas, zat vaksinasinya, ataupun memang tubuh anakmu tidak bereaksi dengan pemberian vaksin BCG. Mengenai pemberian ulang vaksin BCG memang tidak perlu, karena efektivitas vaksin BCG akan maksimal jika diberikan pada anak sebelum berusia 2 bulan, dan pemberian setelahnya kurang bermanfaat.
Apapun penyebabnya, menurut saya Evi tidak perlu khawatir apakah vaksinasi yang diberikan berhasil tidak. Berpikir positif saja bahwa anakmu telah diberikan vaksin dan berarti bahwa anakmu akan terlindungi dari penyakit TB (walaupun kemungkinannya tidak 100%). Bukankah niat yang baik pasti akan dimudahkan jalannya oleh Tuhan? Selain itu, hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk mencegah anakmu dari terinfeksi penyakit selain pemberian vaksinasi adalah berikanlah asupan gizi yang cukup, berikan ASI, ciptakan suasana rumah yang sehat (cukup sinar matahari, tidak lembab, sirkulasi udara baik, dll),jauhkan anakmu dari penderita agar tidak tertular, dan lain sebagainya.
Mengenai pendapat DSA mu bahwa jika berat badannya tidak bertambah saat berusia 1 tahun nanti lalu dicurigai menderita TB dan dilakukan tes Mantoux, saya kurang sependapat. Menurut saya tidak selalu berat badan anak yang tidak naik-naik hanya disebabkan oleh infeksi TB, walaupun memang salah satu gejala infeksi TB adalah berat badan yang tidak naik-naik, selain demam, anak yang tampak tidak aktif, batuk-batuk lebih dari 3 minggu, dan adanya riwayat kontak denganpenderita TB. Ada begitu banyak penyebab berat badan anak tidak bertambah, selain TB, penyakit lainnya adalah infeksi saluran kemih, malabsorpsi, gangguan pertumbuhan. Dan yang harus diingat orangtua adalah asupan makan yang kurang.
Jadi sekali lagi, Evi tidak perlu cemas dan khawatir.Pokoknya lakukan segala hal yang dapat mencegah anak dari terinfeksi penyakit. Mudah-mudahan penjelasan saya dapat membuat Evi lebih tenang ya.Peluk cium buat anakmu, semoga ia sehat selalu dan tumbuh menjadi anak yang cerdas, kreatif, beriman, dan berbakti kepada orangtua, amin.
Salam.Wati



Imunisasi BCG
April 3, 2008, 9:18 am
Diarsipkan di bawah: IMUNISASI

B C G ( BACILLUS CALMETTE-GUERIN )

Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi), kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yang terberat). Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang baru lahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja. Bila pemberian imunisasi ini “berhasil,” maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan di paha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita demam.

Pemberian Imunisasi ini akan memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit Tuberkulosis ( TBC ), Imnunisasi ini diberikan hanya sekali sebelum bayi berumur dua bulan. Reaksi yang akan nampak setelah penyuntikan imunisasi ini adalah berupa perubahan warna kulit pada tempat penyuntikan yang akan berubah menjadi pustula kemudian pecah menjadi ulkus, dan akhirnya menyembuh spontan dalam waktu 8 – 12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut, reaksi lainnya adalah berupa pembesaran kelenjar ketiak atau daera leher, bial diraba akan terasa padat dan bila ditekan tidak terasa sakit. Komplikasi yang dapat terjadi adalah berupa pembengkakan pada daerah tempat suntikan yang berisi cairan tetapi akan sembuh spontan.



Jangan Abaikan Imunisasi
April 2, 2008, 9:32 am
Diarsipkan di bawah: IMUNISASI

Jangan Mengabaikan Jadwal Imunisasi!

ORANGTUA yang teledor biasanya baru menyesali perilakunya setelah si anak jatuh sakit. Kenapa ya dulu lupa mengimunisasi anak? Mengapa tidak menyimpan dokumen kesehatan anak dengan baik, hingga terselip entah di mana?

Kesibukan bekerja juga kerap menjadi penyebab orangtua lupa mengecek kesehatan anak. Setelah anak jatuh sakit, baru orangtua menyadari, betapa kesehatan anak jauh lebih berharga dibandingkan harta benda.

Virus polio liar yang mewabah di Sukabumi beberapa waktu lalu membuat masyarakat, terutama orangtua yang memiliki anak berumur di bawah lima tahun (balita), tercengang. Sejumlah anak yang terjangkit virus itu mengalami lumpuh layuh. Entah karena pemerintah kurang sosialisasi atau budaya setempat yang masih mengandalkan dukun, program imunisasi tidak berjalan lancar.

Sebenarnya, imunisasi di Indonesia secara teratur dimulai sejak tahun 1956 sehingga Indonesia dinyatakan bebas cacar oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1974. Tahun 1977 WHO memulai program imunisasi yang di Indonesia disebut Program Pengembangan Imunisasi (PPI).

Pemerintah sebenarnya tidak mewajibkan berbagai jenis imunisasi harus dilakukan semua. Hanya lima jenis imunisasi pada anak di bawah satu tahun yang harus dilakukan, yakni BCG (bacillus calmette-guerin), DPT (difteri pertusis tetanus), polio, campak, dan hepatitis B.

Imunisasi BCG dilakukan sekali pada bayi usia 0-11 bulan, lalu DPT diberikan tiga kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Imunisasi polio diberikan empat kali pada bayi 0-11 bulan dengan interval minimal empat minggu. Sedangkan campak diberikan satu kali pada bayi usai 9-11 bulan. Terakhir, imunisasi hepatitis B harus diberikan tiga kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal empat minggu.

Hanya saja, karena imunisasi harus diberikan berkali-kali dengan jangka waktu tertentu, orangtua kerap lupa dan harus mencatat dalam dokumen kesehatan anak yang biasanya diberikan oleh bidan, baik di tempat praktik atau di rumah sakit. Jika orangtua teledor, bisa-bisa dokumen kesehatan pun terselip.

HAL lain yang juga harus diingat orangtua adalah mengulang imunisasi pada anak untuk jenis imunisasi tertentu.

Polio misalnya, harus kembali diulang sewaktu anak berusia 18 bulan dan lima tahun. Pada anak usia sekolah dasar, imunisasi difteri tetanus (DT) dan campak harus kembali diberikan.

“Pemerintah selalu membuat program imunisasi di setiap sekolah negeri. Adapun untuk sekolah swasta hanya dianjurkan. Memang ada juga sekolah swasta yang menolak dengan alasan para murid sudah diimunisasi pada dokter pribadi, tetapi itu hanya beberapa saja,” ujar Kepala Subdinas Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan DKI Jakarta Aida Fatmi, didampingi Kepala Seksi Penyakit Menular Ariani, dan Kepala Seksi Gizi Devianty Moeshar, Selasa (14/6).

Mengapa hanya lima jenis imunisasi yang diwajibkan dan menjadi program pemerintah?

“Alasannya, anak yang terkena penyakit itu angka kematiannya tinggi, angka kesakitannya tinggi, dan bisa menimbulkan cacat. Dan yang jelas, imunisasi itu memberikan perlindungan yang lama. Untuk imunisasi yang diwajibkan itu, vaksinnya gratis dari pemerintah dan disediakan di puskesmas, rumah sakit pemerintah, bahkan posyandu,” ungkap Aida.

Untuk jenis imunisasi tambahan, seperti MMR (campak-gondongan-rubela), Act.Hib (antiradang otak), tifus atau demam tifoid (masa perlindungan vaksin ini sekitar tiga tahun sehingga imunisasi baru diulang tiga tahun kemudian), dan varilrix (cacar air), pemerintah membolehkan dan juga menganjurkan sepanjang bermanfaat. Biasanya jenis imunisasi tersebut diberikan oleh dokter praktik atau pribadi.

“Mengapa pemerintah tidak mewajibkan, karena perlindungan imunisasi itu hanya sementara. Dokter dan orangtualah yang tahu bagaimana kondisi anak sehingga perlu diberi imunisasi tersebut atau tidak. Sebab, kerentanan anak terhadap penyakit bisa berbeda satu dengan yang lain,” kata Ariani.

Aida menambahkan, imunisasi pada dasarnya adalah merangsang badan membentuk kekebalan. Unsur yang dilemahkan adalah racun. Vaksin yang dimasukkan akan membentuk zat anti sehingga ketika ada kuman masuk si anak bisa tidak sakit karena sudah kebal, atau kalaupun sakit relatif ringan dan tidak menimbulkan komplikasi.

Bisa disimpulkan, anak yang kerap dimasuki kuman tertentu, dia akan semakin kebal terhadap penyakit dan jarang sakit. Justru, kata Aida, anak yang hidup di lingkungan yang selalu bersih dan steril bisa kerap terjangkit penyakit karena tubuhnya tidak terbiasa dengan kuman. Dengan demikian kekebalannya tidak terlatih. Anak seperti ini yang harus selalu diperhatikan kesehatannya, termasuk pemberian imunisasi yang beragam.

“Orangtua sebaiknya juga jangan lupa untuk mengulang imunisasi,” ujar Aida mengingatkan.

Jika ingin lebih teliti lagi, masih ada imunisasi yang harus dilakukan, yakni imunisasi tetanus toxoid (TT). Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh. Imunisasi TT yang pertama bisa dilakukan kapan saja, misalnya sewaktu remaja. Lalu TT2 dilakukan sebulan setelah TT1 (dengan perlindungan tiga tahun).

Tahap berikutnya adalah TT3, dilakukan enam bulan setelah TT2 (perlindungan enam tahun), kemudian TT4 diberikan satu tahun setelah TT3 (perlindungan 10 tahun), dan TT5 diberikan setahun setelah TT4 (perlindungan 25 tahun).

Oleh karena imunisasi TT ini kerap diabaikan, pemerintah biasanya menganjurkan imunisasi TT dilakukan pada calon suami-istri sebagai kelengkapan mendapatkan surat nikah. Imunisasi ini sangat berguna untuk melindungi bayi yang nantinya akan dilahirkan. Setelah mendapatkan suntikan pertama menjelang pernikahan, imunisasi TT tetap dilanjutkan hingga lima kali.

Gambaran mengenai imunisasi tersebut barangkali akan menambah panjang daftar catatan penting dalam buku agenda seseorang. Apa boleh buat, imunisasi sangat penting, terutama untuk anak usia 0 bulan hingga lima tahun yang sangat rentan terhadap penyakit.

Aida mengatakan, kartu imunisasi direncanakan akan menjadi syarat yang harus dilengkapi ketika anak akan masuk sekolah dasar. Ini sebagai salah satu cara untuk mengingatkan orangtua agar tidak lupa dengan jadwal imunisasi anaknya. (IVV)



Imunisasi IPD
April 2, 2008, 9:27 am
Diarsipkan di bawah: IMUNISASI

IMUNISASI IPD

Filed under: Children Life

Rangkuman dari Milist Sehat mengenai VAKSIN IPD Tonang D Ardyanto to sehat Karena adanya informasi penting, rangkuman ini saya revisi.

Apa gunanya vaksinasi IPD?

Acute lower respiratory infections are responsible for two million deaths
per year and a large proportion of these are pneumococcal disease. A recent
study (Cutts F. et al., The Lancet 2005) in The Gambia indicates that more
than one third of these deaths might be caused by the bacterium
Streptococcus pneumoniae. Most victims are children in developing countries.
Pneumonia deaths far outnumber deaths from meningitis. Nonetheless, in
non-epidemic situations, Streptococcus pneumoniae is the main cause of
meningitis fatalities in sub-Saharan Africa; of those who develop
pneumococcal meningitis, 40-75 % either die or are permanently disabled.
Children infected with HIV/AIDS are 20-40 times more likely to contract
pneumococcal disease than children without HIV/AIDS.

A seven-valent conjugate vaccine called Prevnar is designed to act against
seven strains of pneumococcal disease. It has been developed by Wyeth and is
licensed in the United States and several other countries. In the United
States, use of this vaccine has led to a dramatic decline in rates of
pneumococcal disease, not only in immunized children, but also in the
un-immunized population through reduced transmission.

(WHO: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs289/en/)

IPD adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus (streptoccoccus
pneumoniae). Bakteri tersebut secara cepat dapat masuk ke dalam sirkulasi
darah dan merusak (invasif) serta dapat menyebabkan infeksi selaput otak
(meningitis) yang biasa disebut radang otak.

Penelitian menunjukkan, sebagian besar bayi dan anak di bawah usia 2 tahun
pernah menjadi pembawa ( carrier) bakteri pneumokokus di dalam saluran
pernapasan mereka. Oleh karena itu, bayi baru lahir hingga bocah usia 2
tahun berisiko tinggi terkena IPD.

Yang paling fatal bila bakteri pneumokokus menyerang otak. Pada kasus-kasus
meningitis seperti ini, kematian akan menyerang 17% penderita hanya dalam
kurun waktu 48 jam setelah terserang. Kalaupun dinyatakan sembuh umumnya
meninggalkan kecacatan permanen, semisal gangguan pendengaran dan gangguan
saraf yang selanjutnya memunculkan gangguan motorik, kejang tanpa demam,
keterbelakangan mental dan kelumpuhan.

Dari ketiga bakteri yang biasa menyebabkan meningitis (Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae type B, dan Neisseria meningitis),
Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri yang seringkali menyerang anak di
bawah 2 tahun. Meningitis karena bakteri pneumokokus ini dapat menyebabkan
kematian hanya dalam waktu 48 jam. Bila sembuh pun sering kali meninggalkan
kecacatan permanen.

Vaksinasi dipercaya sebagai langkah protektif terbaik mengingat saat ini
resistensi kuman pneumokokus terhadap antibiotik semakin meningkat. Karena
anak-anak di bawah usia 1 tahun memiliki risiko paling tinggi menderita IPD,
maka amat dianjurkan agar pemberian imunisasi dilakukan sedini mungkin.
Untungnya, saat ini sudah ditemukan vaksin pneumokokus bagi bayi dan anak di
bawah 2 tahun.

(dari artikel sebuah tabloid kesehatan, oleh: Sukman Tulus Putra, dr.,
Sp.A.(K), FACC, FESC, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI))

Apakah vaksinasi ini dipakai di tempat lain?

Menurut salah seorang dokter di milis sehat(1): Aman tidak, Di indonesia
baru tahun ini 2006, tapi di Amrika, sejak 2000 sudah disuntikan wajib dan
laporan ilmiah tahun 2001 telah 23 juta dosis diberikan dengan efek samping
yang tidak jauh lebih banyak dari efek samping imunisasi rutin saat itu.
Sampai sekarang telah direkomendasikan di Amerika, Australia, Korea,
Philipina, Spanyol, Malaysia, Singapore dan Canada.

lebih lengkap di situs WHO
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs289/en/)

Apakah sudah dilaksanakan di Indonesia?

Situs resmi IDAI (www.idai.or.id) belum memasang jadwal terbaru setelah
jadwal tahun 2004 hasil revisi.

Menurut salah seorang dokter di milis sehat(1): Dari bocoran hasil rapat
Satgas imunisasi IDAI di medan (1-5 mei) direkomendasikan untuk dimasukkan
bersamaan vaksin influensa pada jadwal rekomentasi idai 2006.

Menurut situs majalah Anakku (www.anakku.net dibuka pada tanggal 19 Mei
2006): Vaksinasi IPD direkomendasikan oleh IDAI sejak tahun 2006 bersamaan
dengan mulai direkomendasikannya vaksinasi Influenza.

Bagaimana jadwalnya?
Imunisasi IPD pada usia (1):

  • < 6 bulan: diberikan dasar 3 kali jarak 2 bulan dan penguat/ulangan
    (booster) pada usia 12 – 15 bulan. > 4 kali
  • 6 – 12 bulan diberikan dasar 2 kali, dan penguat seperti diatas > 3 kali
  • 12 – 24 bulan . Diberikan dasar 2 kali tidak perlu penguat. > 2 kali
  • > 24 bulan. Diberikan 1 kali > 1 kali

Apa nama vaksin IPD?
Ada dua jenis yang sudah beredar, dan ada yang dalam pengembangan/
penelitian.

  • Prevenar atau PCV 7 (diseluruh dunia sama mereknya): berisi 7 serotype (4,
    6B, 9V, 14, 18C, 19F and 23F). Bisa diberikan pada sejak bayi usia 2 bulan.
    Harganya relatif mahal.

  • Pneumo23: berisi 23 serotype, diberikan pada anak berusia lebih dari 2
    tahun. Harganya lebih murah.

  • Sedang dikembangkan vaksin baru berisi 9 serotype (prevenar ditambah
    serotype 1 dan 5, yang banyak menimbulkan pneumococcus disease di negara
    berkembang). Diharapkan ijinnya akan keluar 2-3 tahun lagi. (Produksi Wyeth)

  • Sedang dikembangkan juga vaksin berisi 11 serotype (produksi GSK dan
    Sanofi-Pasteur).

Ada keuntungan lain dalam penelitian vaksin produksi baru ini bahwa: In
addition, an unexpected benefit of vaccination (9 serotype vaccine) was the
decrease of symptomatic pneumonia cases associated with a viral infection,
whether influenza virus or one of the paramyxoviruses.

(WHO: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs289/en/)

Apa efek samping vaksinasi ini?
Menurut labelnya, efek samping yang sering terjadi (Very common) pada
pemberian prevenar pada saluran pencernaan adalah diare dan muntah.

Menurut artikel oleh dokter Sukman Tulus Putra: Reaksi terhadap vaksin yang
terbanyak dilaporkan adalah demam ringan < 38 derajat Celcius, rewel,
mengantuk (drowsy), dan beberapa reaksi ringan lainnya yang biasa ditemui
pada pemberian berbagai jenis vaksin.

Dalam praktek, salah seorang dokter di milis sehat(1) menyampaikan: dari 20
an kasus, 5-8 pasien menelefon dan mengatakan panas tapi tidak tinggi (<38).
Ada 1 pasien yang nafsu makannya menurun dan panasnya > 38. Belum ada yang
mengeluh diare dan muntah.

Apa yang perlu diperhatikan?

Bila ada riwayat reaksi alergi terhadap imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak
diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar (kontraindikasi), karena dalam
Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria toxin (sebagai
protein-carrier).

Pemberian imunisasi IPD tidak menghapus jadwal imunisasi yang lain (seperti
HiB, tetap seperti jadwalnya).

Apa kendalanya?
Harga vaksinasi masih relatif tinggi. Dilaporkan berkisar 850-950 ribu
rupiah (Prevenar).

WHO menyebutkan:
A vaccine providing effective protection against pneumococcal disease for
young children in developing countries may be ready for use in 2008-2009,
and could be introduced in such countries provided adequate supply and
financial help are arranged.

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia?

Menurut WHO:
It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as
developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the
expertise, and the resources to do so. As a result, public health
decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of
the toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data
from developing countries, there is concern over whether the seven-and
nine-valent vaccines contain the serotypes appropriate for all countries.
Concerns remain – although results to date are encouraging – that prevention
of some serotypes of pneumococcal disease may lead to increased incidence of
other serotypes. The price of the vaccine, although still to be set for
developing countries, may be too high for them to afford without special
financing arrangements.

Menurut salah seorang dokter di milis sehat(2):
Sebenarnya masih ada pertanyaan apakah serotype yang digunakan pada Prevenar
sesuai dengan serotype di Indonesia. Karena itu baru akan dilakukan
penelitian. Kalau misalnya lebih spesifik dan lebih sedikit jumlahnya,
mungkin bisa diproduksi dengan harga lebih murah.

Menurut informasi dari seorang SpA(3):
Sakit IPD-nya sudah jelas ada, hanya soal apa serotypenya. Pemilihan 7
serotype ini didasarkan pada pemberian di Malaysia, Singapura, Philiphina
dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri geografis seperti
Indonesia.

Saat ini yang sudah diteliti ada di tiga tempat: Jakarta (3), Bandung (4)
dan Mataram (5). Dari ketiganya, baru Mataram yang sudah diketahui
serotypenya. Tahun ini akan dilakukan penelitian multi-senter di 5 tempat,
untuk memastikan jenis serotype-nya. Hasilnya mungkin baru tahun depan
diketahui dengan pasti.

Keterangan:
1: dr. JS Wibisono, SpA
2: dr. Purnamawati, MMPed. SpA(K)
3: Prof. Hardiono Pusponegoro, SpA(K)
4: Prof. Cissy Kartasasmita, SpA(K)
5: Prof. Soewignyo, SpPD(K).

Semoga bermanfaat, mohon dikoreksi dan ditambahi oleh semuanya agar lebih
sempurna.

Catatan: ini bukan tulisan resmi, artinya untuk konsumsi milis. Bila untuk
konsumsi publik (situs, leaflet, brosur, poster), tentu cara penulisan harus
disesuaikan.

Catatan Tambahan :

Maaf, ternyata masih ada yang terlewat:

Apa beda serotype pada Prevenar dan Pneumo23?

  • Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V,
    14, 18C, 19F and 23F
  • Pneumor23 berisi 23 serotype:
    1,2,3,6B,7F,8,9N,9V,10A,11A,12F,14,15B,17F18C,19A,19F,20,22F,23F,33F

Kalau sudah mendapatkan imunisasi IPD apakah masih harus mendapatkan
imunisaasi HiB?
Masih, karena bakteri penyebabnya berlainan jenis. Jadi jadwal untuk HiB
tetap berlaku, jadwal IPD juga berlaku.

Apa ada yang perlu diperhatikan?
Bila ada riwayat reaksi alergi terhadap imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak
diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar (kontraindikasi), karena dalam
Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria toxin.

tonag