Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
Sarana Penunjang Belajar
Emmy Soekresno, SPd, Konsultan Taman Bermain Jerapah Kecil, mengatakan bahwa anak-anak membutuhkan furnitur khusus yang mendukung pembelajaran yang optimal.
Meja yang baik bagi anak-anak adalah yang berbentuk lingkaran atau berbentuk U. Bentuk meja seperti ini, selain aman buat anak-anak karena tidak ada sisi-sisi tajamnya, juga menambah kehangatan suasana. Menurut Emmy, meja belajar berbentuk persegi panjang yang menghadap satu arah sangat tidak efektif karena mengurangi kehangatan anak dan orangtua. Dengan meja bulat, orangtua dapat duduk bersebelahan dengan anak-anak.
Perhatian tetap dapat terbagi dengan baik, meski jumlah anak lebih dari satu. Dengan suasana yang hangat, kemesraan akan lebih terjalin, belajar akan terasa menyenangkan.Duduk lesehan juga dapat dipakai sebagai alternatif. Namun, tetap disarankan menggunakan bantal dan meja kecil yang ukurannya sesuai dengan usia anak dengan sisi-sisi yang tumpul. Bila anak belajar tanpa meja, dikhawatirkan akan mempengaruhi bentuk tulang punggung anak kelak akibat posisi yang membungkuk. Anak juga harus selalu diingatkan untuk belajar dengan posisi yang baik, tidak duduk bersender, terlalu maju, atau pun terlalu bungkuk. Biasakanlah untuk duduk tegak, namun tidak tegang.
Suhu ruangan dan pencahayaan pun penting dalam menunjang suasana belajar yang menyenangkan. Suhu yang baik adalah yang tidak terlalu panas atau terlalu dingin. Sementara, lampu yang baik adalah yang berwarna putih yang datang dari sisi kanan atau kirinya, sehingga pada saat belajar tidak terhalang oleh bayangannya sendiri. Mainan sebagai penghilang jenuh dan pemicu kreativitas juga harus disediakan sesuai dengan tahap usia perkembangan anak.
Pada tahap bayi (0-2 tahun), target pembelajarannya itu adalah motorik halus dan kasar. Mainan yang tepat untuk bayi harus memenuhi persyaratan aman bagi bayi, yaitu ukurannya tidak lebih kecil dari 4 cm, pewarnaannya tidak mengandung racun, dan tidak memiliki sisi tajam yang membahayakan. Karena memerlukan desain khusus dan bahan yang lebih berkualitas, biasanya harga mainan bayi yang memenuhi syarat relatif lebih mahal. Seorang ahli pendidikan, Maria Montessori, menekankan pentingnya perkembangan anak pada usia enam tahun pertama, sekaligus menekankan tentang pentingnya mempersiapkan rumah yang ‘ramah anak’.
Orang dewasa sering lupa bagaimana sulitnya anak beradaptasi dengan benda-benda rumah yang tidak sesuai dengan ukuran anak. Montessori menganjurkan agar proses belajar lancar dan anak mampu membantu dirinya sendiri, maka orangtua perlu ‘mengisi’ ruangan rumah, minimal hal-hal yang terkait dengan anak menjadi sesuai dengan kebutuhan anak. Untuk memenuhi kebutuhan ini, bukan berarti semua perlengkapan rumah perlu diganti, namun bisa disiasati dengan memodifikasi perabot rumah tangga yang ada. Misalnya, untuk menggantung pakaian di lemari orangtua perlu menambahkan tangga kayu di depan lemari agar anak mudah menjangkau gantungan baju. Prinsip Montessori adalah ‘Satu tempat untuk semua dan semuanya berada di tempatnya masing-masing’. Dengan prinsiptersebut, orangtua perlu menyediakan tempat untuk peralatan anak dan mensosialisasikannya pada anak. Dengan begitu, sehabis bermain dan belajar anak mudah mengembalikan mainannya dan peralatannya ke tempat yang sudah disediakan.
Pengaturan Waktu Belajar
Dalam menerapkan homescholling, orangtua perlu membantu anak untuk mampu mengerti jadwal hariannya, kapan saat tidur, bermain, dan belajar. Kadang-kadang ibu perlu tegas menegur anak untuk berhenti bermain saat tiba waktunya untuk istirahat. Dalam hal pengaturan jadwal ini orangtua perlu melihat kebiasaan Rasulullah SAW. Berdasarkan penelitian fungsi otak, pada waktu menjelang dzuhur, sekitar pukul 11-12, otak mengalami penurunan fungsi. Pada saat menjelang zuhur, biasanya Rasulullah SAW, beristirahat sejenak. Sebaiknya jangan mengajak anak untuk belajar pada waktu tersebut, melainkan ajak anak untuk beristirahat, tidur. Otak berfungsi dengan baik pada pukul 7 hingga 10 pagi, dan mencapai puncak pada pukul 9-10 pagi. Jadi, waktu belajar yang baik berada pada rentang waktu tersebut. Jangan biarkan anak-anak bangun di atas jam 9. Biasakan anak bangun tidur di waktu subuh untuk membangun kebiasaan baik, sebagaimana yang Rasulullah lakukan, tidur setelah Isya dan bangun sebelum subuh.
Sore hari menjelang ashar kinerja otak juga baik sehingga waktu antara ashar dan maghrib dapat dimanfaatkan untuk belajar. Sebaliknya, jangan biarkan anak tidur pada masa itu. Rasulullah SAW pun melarang umatnya untuk melakukan hal itu. Bila perlu, buatlah media yang ditempel di kamar tidur anak untuk mengingatkannya tentang barometer waktu. Cari gambar yang sesuai yang digambarkan jam di atasnya. Misalnya, gambar kamar mandi di atasnya tergambar jam 6; gambar makanan di atasnya jam 7 jam 12 dan jam 5 sore; gambar tempat tidur di atasnya tergambar jam 11.30 dan jam 20; gambar buku di atasnya jam 9 dan jam 16. Pada awalnya, mungkin orangtua perlu berulang-ulang mengingatkan anak perihal jadwal tersebut, namun makin lama anak akan terbiasa dengan jadwalnya.
Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
Proses Pendidikan dini harus dilakukan seimbang
Ketika anak memasuki fase keemasan (usia 0-5 tahun), ia membutuhkan proses pendidikan yang mengarah pada perkembangan intellectual quotient (IQ), emotional quotient (EQ), dan spiritual quotient (SQ) secara seimbang dengan berbagai metode. Pelaksanaan pendidikan tersebut tidak harus selalu formal seperti di sekolah, tetapi bisa dilaksanakan di rumah dengan cara yang tepat.
Demikian diungkapkan oleh Nunuk Murdiati Sulastomo dari Yayasan Pamongsito, dalam acara pelatihan yang diadakan Yayasan Pamongsito Depok di Jakarta, pekan lalu. Pelatihan diikuti para pendidik pada pendidikan prasekolah (taman kanak-kanak), orangtua, dan pejabat dari Direktorat Pendidikan Dini Usia Departemen Pendidikan Nasional.
Salah satu metode pendidikan alternatif yang kini dikembangkan di Indonesia adalah metode Montessori, hasil pemikiran Dr Maria Montessori yang merupakan ahli pendidikan anak usia dini asal Italia.
Metode pendidikan tersebut mengajarkan berbagai pengetahuan dasar dalam kehidupan, melatih gerak motorik halus dan kasar, yang kini sudah dipakai di banyak negara. Kalau semula metode tersebut diajarkan dalam bahasa Inggris, maka kemudian dikembangkan dengan memakai bahasa negara masing-masing. Salah satu contohnya adalah Jepang.
Karena itu, di Indonesia pun akan dikembangkan model pendidikan serupa dengan bahasa Indonesia di beberapa pendidikan prasekolah sampai sekolah dasar yang sudah menerapkan metode itu di Jakarta. Demikian juga dengan alat peraga, sedapat mungkin dibuat dari bahan lokal yang ada di sekitar sekolah. (TRI)
Sumber : Kompa Cyber Media
Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
Preschool Kids can Easily Get Immersed in the Life of a Story Character
Getting into the minds of story characters is not a difficult task for kids, for a new study has revealed that preschoolers can get immersed in the life of a character, especially a character’s thoughts and feelings.
psychological study, the University of Waterloo researchers focussed on how well kids comprehend stories instead of how well they tell them.
“Children around the ages of three to five are fairly limited in their verbal abilities, and many previous studies have relied on methods requiring children to tell a story orally, potentially underestimating what they can do,” said lead researcher Daniela O’Neill, who did the study with graduate student Rebecca Shultis.
O’Neill, an associate professor of developmental psychology and head of the UW centre for child studies, said that’s why the study introduced an innovative approach to look at children’s storytelling ability. It offers a new method to evaluate storytelling ability that can pick up differences in the abilities of the younger children.
“I believe children as young as age three to five are developing in important ways with respect to their narrative ability, we just need new ways to look at it,” O’Neill said.
“In essence, rather than looking at how children are able to tell stories, it looked at how children understand stories, and whether, like adults, children build up a ‘mental model’ of the story. By this, I mean, are children, like adults, able to build up a model of the story in their mind and ’step into the mind,’ so to speak, of a character.”
“It turns out, from the results of our study, that indeed this is one important way in which children appear to be developing with respect to their understanding of stories during the preschool years.”
The researchers had the children listen to a story about a character who was in one location, but was thinking about doing something in another.
“Tracking the thoughts of characters to different locations they are thinking about is something we do very easily as adults and really is an impressive perspective-taking feat,” O’Neill said.
“But can children also do this” It turns out that five-year-olds can, pretty much like adults, but that three-year-olds have much more difficulty doing this.”
The youngest children tracked a character if he or she physically moved between two locations, but they did not seem able to track a change in location if it only happens in the character’s mind.
In the study, two models were placed in front of the children depicting the two locations — a barn and a field. In both locations there was a cow. Children were told that the character was in the barn, but was thinking about feeding the cow in the field. Then, immediately after this sentence, children were asked to point to the cow.
“This is an ambiguous request, since there are two cows present,” O’Neill explains.
“But we hypothesized that if children were tracking the thought of the character to the new thought-about location (the field), then they would point to the cow there. If they were only able to think about the character where the character physically is, then they would point to the cow in the physical location (the barn).”
It turns out five-year-olds pointed to the cow in the thought-about location and three-year-olds pointed to the cow in the character’s physical location, and only switched if told the character had actually gone to the other location.
“We are excited about these results because they help us to better understand how children’s narrative ability is changing and developing very early on in a new way we didn’t know about before when studies focused mainly on having children tell stories which they are really not very good at yet,” O’Neill said.
“Children with delays in their language use also often have difficulty with comprehending and producing narratives.”
“This can become quite an issue once children reach school and are faced with many more tasks that require good story comprehension skills.”
The study potentially provides a new way to understand some of these difficulties and differences in perspective-taking ability that may hinder story comprehension and production.
The study, entitled The Emergence of the Ability to Track a Character’s Mental Perspective in Narrative, was published in the July issue of Developmental Psychology.
Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
PERAN ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN ANAK
Oleh: Dra. Dekrita M.R. Tobing
Sering kali terjadi orang tua yang baru saja menerima selembar kartu ber-isi hasil pemeriksaan psikologis anaknya, mengerutkan dahi dan berta-nya `Apakah kecerdasan anak saya akan bertambah tinggi kalau usianya bertambah pula’ atau `Kapan sebaiknya saya bawa lagi anak ini untuk di tes kembali.’
Orang tua itu membawa anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun untuk diperiksa taraf kecerdasannya sebagai salah satu syarat untuk menjadi murid di sebuah sekolah dasar kelas 1. Di kartu hasil pemeriksaaan psikologis itu tercantum nilai kecerdasan anaknya (IQ= Intelligence Quotient) adalah 98 yang ber-arti potensi kecerdasan anak berada pada taraf `rata-rata’ menurut Skala Wechsler.
Dari pertanyaan dan nada suara orang tua itu, terkesan harapan agar anaknya kelak kalau bisa mempunyai taraf kecerdasan yang lebih tinggi daripada yang telah dimilikinya saat ini. Dapatkah harapan orang tua itu terwujud?
Sebenarnya yang diukur pada suatu tes intelegensi adalah potensi kecerdasan seseorang. Bila pada saat pengambilan tes, se-orang anak yang sedang menjalani tes itu berada pada keadaan `normal’ dan tidak ada `gangguan’ yang cukup berarti seperti dalam kondisi sakit atau berkali-kali mencari orang tuanya sambil terus menangis (sedang emo-sional)maka dapat diharapkan hasil tes intelegensi itu cukup optimal dan hasilnya berlaku untuk sepanjang hidupnya. Kecuali karena adanya gangguan-gangguan di atas taraf ke-cerdasan seseorang diperkirakan relatif sama.
Masa dalam kandungan sampai 5 tahun pertama dalam kehidupan seseorang adalah masa yang penting dan cukup menentukan untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak selanjutnya. Apa yang `di-tabur’ pada janin atau anak pada masa ini dipandang akan sangat berpengaruh dalam membangun kecerdasan fisik dan mentalnya. Pada masa ini sebaiknya orang tua melakukan `rekayasa’ yang perlu untuk mengoptimalkan kecerdasan anak.
CINTA KASIH
Apa yang paling dibutuhkan janin atau anak pada bulan-bulan atau tahun-tahun pertama dalam kehidupannya? Ia terutama membutuhkan cinta kasih. Seorang ibu hendaknya telah mengungkapkan cinta kasihnya kepada anaknya sejak dini yaitu ketika anaknya masih dalam kandungan bahkan sejak bulan-bulan pertama kehamilan, yaitu dengan melakukan komunikasi dengan si janin, misalnya: kok tidur melulu, bangun dong, atau `jangan keras-keras tendangannya ya’. Dengan cara ini, sang ibu secara aktif membangun komunikasi de-ngan si janin. Komunikasi itu juga dapat diba-ngun melalui sentuhan dengan cara menge- lus-elus perutnya seolah-olah mengelus si janin.
Beberapa hari setelah lahir, bayi melakukan reaksi emosional akibat kontak pertama-nya dengan dunia luar. Jantungnya berdetak lebih cepat apabila ia mendengar suara ibu-nya. Kedekatan dan keterikatan dengan sang ibu memberi banyak pengalaman sehingga nantinya terbentuklah rasa percaya diri pada seorang anak. Komunikasi dan sentuhan yang dilandasi cinta kasih hendaknya dapat dipertahankan terutama pada masa tahun-tahun pertama dalam kehidupan seseorang. Faktor cinta kasih ini menjadi sangat penting karena saat mencintai berarti kita menerima sese- orang apa adanya. Kondisi ini menimbulkan rasa aman sehingga membuat konsentrasi anak terfokus pada potensinya, bukan pada cap atau kekurangannya.
Lingkungan yang kondusif
Anggapan bahwa kecerdasan anak dapat `direkayasa’ dalam arti anak diberi kesempat-an mencapai potensi kecerdasannya yang optimal tampaknya sudah dapat diterima oleh banyak kalangan. Dari dua faktor yang paling menentukan tumbuh kembangnya anak yakni: faktor keturunan (herediter) dan faktor ling-kungan, maka `rekayasa’ dengan mengen- dalikan faktor lingkunganlah yang paling aman dan dapat diterima baik ditinjau dari segi etika, moral maupun agama.
Gizi dan Nutrisi
Penelitian telah membuktikan adanya korelasi positif antara kandungan kalori/ protein yang dikonsumsi ibu hamil dengan perkem-bangan motorik maupun mental anak yang dilahirkannya. Kalaupun demikian, bayi yang mendapat konsumsi kalori protein serta zat gizi lainnya yang cukup akan memiliki perkem-bangan motorik maupun mental yang lebih baik dibandingkan bayi yang kurang menda-patkannya. Tentunya untuk mendapat hasil yang optimal, orang tuanya sebaiknya menambah wawasan dengan membaca buku-buku yang membahasnya secara terperinci atau menanyakan langsung kepada ahlinya, dokter anak atau ahli gizi.
Stimulasi /Rangsangan
Otak manusia perlu dirangsang sebanyak mungkin dan dimulai sejak dini, yaitu sejak dalam kandungan. Kalau tidak ada rangsang-an, jaringan organ otak menjadi mengecil aki-bat menurunnya jaringan fungsi otak. Rangsangan dapat berupa tindakan mengajaknya berbicara, mendongeng atau memperdengarkan musik. Komunikasi hendak-nya mengalir dengan bahasa yang sederhana, sehari-hari, dimengerti dan `dimiliki’ anak. Dengan demikian diharapkan bayi atau anak mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan dunia luar, khususnya dalam hal berbahasa. Selanjutnya, bayi atau anak diharapkan dapat mengungkapkan berbagai macam pengalaman emosional yang diterimanya, misalnya ketika anak minum ASI, dicium dan disayang. Ia juga belajar cinta kasih yang ada kaitannya dengan kakaguman, kebanggaan, pemberian maaf dan persahabat-an. Rangsangan-rangsangan yang tepat diharapkan dapat `memunculkan’ potensi/bakat kemampuan anak, seperti antara lain: musik, matematika, melukis, menari dan lain sebagainya.
Sikap dan Pola Asuh Orang Tua
Kadang-kadang orang tua tidak sabar de-ngan sikap dan pola asuh yang diterapkan kepada anaknya. Dengan bertambahnya usia dan dengan semakin luasnya lingkungan sosial anak maka rasa ingin tahu anak diharapkan semakin tumbuh. Bukannya mendorong rasa ingin tahu alami anak serta mengembangkan keinginan belajarnya, orang tua malah melakukan kebalikannya. Rasa ingin tahu seorang anak akan sesuatu hal akan pupus apabila ia berkali-kali datang dan bertanya kepada orang tuanya serta mendapati bahwa orang tuanya tidak berminat untuk menjawabnya bahkan memperlihatkan kehadiran anak de-ngan pertanyaannya telah mengganggu `ke-asyikan’ sang ayah atau ibu, misalnya: ayah yang sedang membaca koran atau ibu sedang menonton televisi.
Selain sikap orang tua yang ambisius atau pola asuh yang otoriter dapat membuat anak frustasi dan ketakutan, contohnya: orang tua menunjukkan sikap tidak suka apabila anak-nya menunjukkan kemampuan bernyanyi di depan umum karena ayah berpendirian bahwa anaknya tidak boleh menjadi seorang pe-nyanyi atau artis apabila ia sudah menjadi dewasa kelak. Adalah sangat bijaksana apabila orang tua memperhatikan dan memberikan respon positif terhadap `bakat-bakat ` yang telah diperlihatkan anak. Dengan demikian orang tua bertindak sebagai fasilitator dan mengembangkan `bakat’ anak yang terlihat.
Ingatlah, seorang anak adalah titipan Sang Khalik bagi kita. Biarlah anak-anak kita dapat lepas seperti anak panah dari busurnya ke arah yang dikehendaki Sang Khalik.fj
Dari berbagai sumber
Dra. Dekrita M.R. Tobing, BKP BPK Penabur Jakarta
Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
Perlukah Pemberian Ranking di Sekolah?”
Oleh : Dra. Adriani Purbo Psi. MBA
Satu pertanyaan yang kerapkali diajukan orangtua kepada guru walikelas, pada momen pembagian raport anaknya adalah pertanyaan mengenai ranking. Adanya kebijakan sekolah untuk tidak lagi mencantumkan ranking di raport, tidak jarang memancing pendapat-pendapat yang pro dan kontra. Dari pendapat-pendapat yang pro dan kontra tersebut, kalau ditelusuri lebih jauh, sebenarnya pada intinya mengarah pada pertanyaan “perlukah pemberian ranking di sekolah?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut secara mendalam, perlu kita pahami terlebih dahulu hakikat tujuan belajar yang sesungguhnya, karena tujuan pemberian ranking seharusnya sejalan dengan tujuan belajar yang akan dicapai siswa.
Tujuan belajar pada hakikatnya adalah menguasai ilmu/ materi /ketrampilan. Seberapa jauh tujuan belajar tersebut dapat dicapai oleh seorang siswa, idealnya harus dapat dimonitor melalui data kuantitatif dan kualitatif yang tertera di raport atau buku laporan hasil belajar siswa. Data kuantitatif yang tertera di raport merupakan data berupa angka yang mencerminkan seberapa besar nilai prestasi siswa dalam menguasai materi pelajaran yang diajarkan. Sedangkan data kualitatif, merupakan data keterangan yang menjelaskan bagaimana sikap dan cara kerja siswa dalam mencapai prestasinya tersebut.
Ranking, sebagai salah satu bentuk data kuantitatif yang tertera di raport, dapat menunjukkan posisi atau urutan prestasi seorang siswa dilihat dari prestasi seluruh siswa dalam kelas atau sekolahnya. Semakin tinggi nilai ranking yang diperoleh, idealnya dapat mencerminkan semakin tinggi pula tingkat pencapaian tujuan belajarnya. Atau sebaliknya, semakin rendah nilai ranking berarti semakin rendah pula tingkat pencapaian tujuan belajarnya. Namun pada kenyataannya, nilai ranking yang ada, tidak selamanya bisa menunjukkan secara akurat seberapa jauh tingkat pencapaian tujuan belajar siswa. Hal ini bisa terjadi misalnya karena adanya kecurangan yang dilakukan siswa pada saat pengambilan nilai dilakukan ( misal : siswa menyontek), ketidak validan alat tes (misal : soal-soal terlalu mudah atau tidak bisa mengukur tingkat penguasaan materi) atau adanya faktor subjektivitas guru terhadap penilaian yang diberikan kepada masing-masing siswa (misal: “murah” dalam memberi nilai kepada siswa yang satu, tapi ‘mahal’ memberi nilai pada siswa yang lain). Bila hal ini yang terjadi maka pemberian ranking tidak akan bermanfaat dalam membuat pemetaan tentang prestasi akademik siswa atau pemetaan tentang sejauhmana keberhasilan mencapai tujuan belajar.
Penekanan pada prestasi akademik semata pada saat penentuan ranking yang selama ini dilakukan, juga seringkali dianggap sebagai segi negatif dari adanya pemberian ranking. Karena hal ini dianggap mengabaikan prestasi-prestasi non akademik yang dimiliki siswa. Anak yang memiliki ranking tinggi atau dianggap pintar, bisa saja sebenarnya memiliki banyak kelemahan dalam bidang non akademis. Atau sebaliknya, seorang anak yang memiliki ranking rendah atau dianggap tidak pintar, belum tentu seorang tidak memiliki keunggulan atau kelebihan.
Selain itu, bila kita lihat praktek atau realitas di lapangan, ternyata sangat sulit untuk membuat perbandingan secara kuantitatif antara satu siswa dengan siswa lainnya yang mencakup keseluruhan aspek potensi dan kemampuan anak yang sesungguhnya. Misalnya Anak yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang matematika akan sangat sulit dibandingkan kemampuannya dengan anak-anak yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal olahraga atau seni. Padahal dalam proses pembuatan ranking, semua bidang kemampuan akademik dinilai setara satu sama lainnya, dan bisa dijumlahkan.
Segi negatif lain dari pemberian ranking adalah adanya kecenderungan untuk memberi label pada anak. Pada anak yang memperoleh nilai ranking yang baik (misalnya 5 atau 10 besar), maka secara tidak langsung akan di”cap” pintar sehingga bukan tidak mungkin akan membuat anak menjadi sombong atau “overconfidence”. Sebaliknya anak yang mendapat nilai ranking rendah , bukan tidak mungkin akan menjadi anak yang rendah diri.
Selain itu, pemberian ranking juga bisa membuat sebagian anak menjadi merasa tertekan atau merasa stress, karena ia merasa kalah bersaing dengan teman-temannya. Dengan adanya perasaan stress ini, bukan tidak mungkin justru membuatnya semakin tidak bersemangat untuk belajar dan membuatnya semakin mendapatkan nilai ranking yang rendah, demikian seterusnya sehingga konsep dirinya menjadi semakin buruk.
Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
Pendidikan Dini Periode Paling Kritis Bagi Perkembangan Anak
Pendidikan sejak usia dini merupakan periode paling kritis dari perkembangan fisik, kognitif, sosial emosi, moral dan karakter dari masing-masing individu anak itu sendiri.
“Karena itu, banyak faktor yang berpengaruh pada proses pembentukan anak yang cerdas, sehat dan berkarakter secara berkelanjutan,” kata Dwi Hastuti, mahasiswa S-3 Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) di Bogor, Rabu (24/5).
Pendidikan Dini
Hal itu dikemukakan saat memaparkan riset yang dijadikan disertasi doktor dengan judul “Analisa Pengaruh Model Pendidikan Prasekolah Pada Pembentukan Anak Sehat, Cerdas dan Berkarakter”.
Pada sidang terbuka itu, penguji dari komisi pembimbing adalah Prof Hidayat Syarief, Dr Ratna Megawangi, Dr Suprihatin Guhardja, dan Dr Soemiarti Patmonodewo.
Sedangkan penguji luar komisi yakni Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, Dr Seto Mulyadi atau dikenal dengan “Kak Seto” dan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Departemen Pendidikan Nasional, Dr Ace Suryadi.
Dalam penelitiannya, Dwi Hastuti merancang tiga bentuk pendidikan, yakni pra-sekolah antara lain TK, KP SBB (Kelompok Prasekolah Semai Benih Bangsa) dan non TK (tanpa pendidikan prasekolah).
KP SBB sendiri dibentuk dari perpaduan antara moral knowing, moral feeling dan moral action. Dari perpaduan antara TK ternyata kenyataan yang didapat dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, lingkungan fisik rumah antara tiga kelompok prasekolah tersebut.
Pendapatan per kapita keluarga KP SBB adalah paling rendah, tetapi memiliki skor stres paling rendah, dan kelekatan emosi ibu-anak paling tinggi dibandingkan dua kelompok lainnya. Kondisi tersebut, katanya, karena pada KP SBB menerapkan moral knowing, moral feeling dan moral action.
Hal itu berbeda dengan pendidikan prasekolah TK yang hanya menerapkan moral knowing, dimana anak hanya diajarkan moral awareness, knowing moral value, moral reasoning dan decision making yang tidak memberikan banyak ruang pendekatan pada Tuhannya, pantang menyerah, sopan santun, kejujuran, memiliki rasa empati atau keperdulian pada individu lain. “Sedangkan pada pendidikan non TK, anak dibiarkan secara natural tanpa bimbingan orang tua,” katanya.
Usai ujian tersebut yang mengantarkan Dwi Hastuti lulus sebagai doktor baru di lingkungan IPB, Kak Seto menilai bahwa disertasi itu layak apabila akan di-launching untuk gerakan nasional, tetapi ada beberapa kelemahan antara lain kurangnya masukan unsur kepemimpinan model pendidikan prasekolah tersebut “Sedangkan dari unsur budi pekerti sudah dimasukkan dalam sistem KP SBB,” katanya.
Sumber: Kompas Cyber Media
Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
Perkembangan kanak-kanak ialah kajian proses dan mekanisme yang bertindak sewaktu perkembangan fizikal dan mental seorang bayi menjadi orang dewasa. Perkembangan merujuk kepada perubahan fizikal, mental dan sosial yang dapat dijangkakan dalam kehidupan bayi. Perkembangan adalah faktor penting dalam kehidupan bayi. Proses ini tidak selalunya terus-menerus berkembang tetapi adakalanya maju ke hadapan dan ada kalanya pula menyusut perkembangan kognitif dan bahasanya.
Sebagai pengaruh terbesar di dalam hidup anak, ibu bapa memainkan peranan penting dalam membangkitkan kebijaksanaan di dalam diri anak-anak dengan mendidiknya secara holistik dalam cara-cara seperti:
- Memberikan makanan berkhasiat yang berkualiti;
- Mewujudkan peluang dan ruang untuk perkembangan fizikal;
- Memberikan panduan dan rangsangan yang sesuai untuk perkembangan kognitif;
- Memberi galakan dan empati bagi melengkapkannya secara emosi dan sosial.
Selain itu, persediaan amat penting untuk menerima perubahan mengagumkan anak anda, dari seorang bayi kepada kanak-kanak kecil. Ini membolehkan anda membantunya mencapai kebolehan maksimumnya dalam empat bidang kepintaran pada setiap peringkat perkembangan.
Perkembangan dari Alam Bayi ke Alam Kanak-kanak Bertatih
**Sumber: Dipetik dari majalah Mother & Baby , seperti yang disahkan oleh panel pakar di UK dan Malaysia Perkembangan awal fizikal tidak semestinya menunjuk kecerdikan seseorang anak kerana kematangan sistem saraf adalah berdasarkan sejarah keluarga. Penunjuk pada kecerdikan otak yang boleh dipercayai adalah senyuman awal, kepekaan, daya tumpuan dan ingatan yang baik, percakapan awal dan minat yang meningkat terhadap permainan. Sama ada kepintaran anak lebih nyata dalam satu bidang atau adalah seorang yang serba berkebolehan, penjagaan dan pemakanan yang berkualiti, disulami dengan penerimaan dan kasih sayang tidak berbelah bagi dari ibu bapa, pasti akan membantu anak membesar menuju ke arah kecemerlangan. Ekoran daripada pendapat Head Start Project, (iaitu suatu projek kanak-kanak yang berusaha untuk memberi rangsangan dari peringkat seawal-awalnya), menunjukkan bahawa baka bukanlah satu-satunya faktor yang boleh menentukan prestasi intelek seseorang itu kerana yang lebih penting lagi ialah pengalaman-pengalaman, kaedah-kaedah pembelajaran dan galakan yang diterimanya. Ramai para penyelidik menyatakan bahawa peringkat dua hingga tiga tahun adalah kritikal bagi perkembangan kognitif seseorang kanak-kanak itu. Jika persekitaran atau cara bimbingannya sehingga peringkat umur ini rendah mutunya dari segi stimulasi, perkembangan kognitifnya tidak akan tercapai dengan optimum. Taman asuhan dan tadika yang ditubuhkan di merata-rata tempat di dunia dan di dalam negeri ini membayangkan bagaimana pentingnya persekitaran serta didikan untuk membentuk perkembangan intelek seseorang kanak-kanak itu. Cara keibubapaan (parenting) yang positif yang boleh meninggikan keyakinan diri adalah sangat penting. Kanak-kanak yang mengalami kerosakan otak, walaupun terhad keupayaannya akan boleh dipertingkatkan perkembangan kognitif dan bahasa bayi. kebolehannya untuk berdikari dan menyesuaikan diri di dalam masyarakatnya jika dia diberi bimbingan yang sesuai. Kebolehannya di dalam sesuatu aspek adalah penting dikesani sementara kelemahannya perlu diketahui supaya dia boleh diajar cara-cara untuk mengatasi kelemahannya itu. Muzik bukan sahaja digemari oleh golongan remaja dan dewasa. Bayi dan kanak-kanak juga amat senang dan tenang dengan muzik apabila muzik yang digemari dipasang semasa mereka hendak tidur atau dalam kereta ketika dalam perjalanan untuk menuju ke sesuatu destinasi. Anak-anak selalunya akan memberikan reaksi yang berbeza terhadap pelbagai jenis bunyi muzik. Faktor ini bergantung kepada tahap umur, keadaan dan ´mood´ mereka pada waktu itu. Justeru, penggunaan muzik tidak hanya dihadkan kepada satu jenis muzik sahaja, sebaliknya biar mereka mendengar pelbagai bentuk muzik yang ada. Kebanyakan ibu bapa menyedari bahawa bayi amat mudah dipujuk jika mereka menyanyi atau mendodoikan bayi perlahan-lahan sambil menepuk-nepuk punggung dan dadanya. Ini kerana bayi mempunyai kebolehan yang tersendiri untuk bertindak balas terhadap rangsangan bunyi dan sentuhan. Jenis muzik yang sesuai dan digemari oleh bayi dapat ditentukan dengan memastikan muzik tersebut mesti dipasang ketika bayi dalam keadaan sedar dan jaga. Ini kerana pada waktu ini ibu bapa dapat melihat reaksi mereka apabila muzik itu dipasangkan sama ada mereka suka atau tidak terhadap muzik tersebut. Bayi dalam rahim juga boleh memberi tindak balas terhadap muzik yang mereka dengar. Menurut satu kajian, sekumpulan bayi yang ibunya mendengar muzik setiap hari sehingga pada saat kelahiran kelahiran lebih mudah dipujuk dengan mendengarkan irama bertema selepas beberapa minggu dilahirkan. Perkara ini amat berbeza dengan bayi yang tidak mendengar muzik – mereka kurang menunjukkan tidak balas. Bayi selalunya gemar berbaring dan anda boleh menggerakkan anggota badan mereka sambil menyanyi, malah penggunaan instrumen muzik seperti loceng digalakkan untuk merangsang pendengaran dan penglihatan mereka. Sehinggalah mereka memasuki zaman kanak-kanak, muzik dan alatan muzik sangat disukai oleh mereka dan mereka begitu gembira jika dapat mengikut beberapa perkataan yang dinyanyikan oleh anda serta boleh menggunakan alat muzik yang terdapat di sekitar mereka. Ibu bapa boleh menjadikan lagu dan muzik sebahagian daripada masa bermain mereka dengan memasangkan kaset lagu kanak-kanak dan membaca buku yang mempunyai gambar menarik dan berbunyi dapat menarik minat anak-anak terhadap membaca. Irama yang disertai senikata lagu akan membantu anak-anak mengembangkan kemahiran bahasa mereka. Selain itu, muzik yang didengari oleh anak-anak juga membantu mereka menghafal dan menajamkan fikiran. Sebagai contoh, nama para Nabi dan Rasul yang dinyanyikan amat mudah diingati oleh kanak-kanak berbanding sekiranya kita menyuruh mereka menghafal kesemua nama itu tanpa ada irama dan muzik. Hal ini secara tidak langsung merupakan salah satu teknik kita mendidik anak-anak dan membantu mereka dalam proses pembelajaran, terutama yang melibatkan hafalan. Muzik juga membantu anak-anak menambahkan lagi kemahiran yang ada pada mereka. Ini kerana apabila mereka minat pada muzik, kita akan membelikan satu jenis alatan atau instrumen muzik untuk mereka berlatih menggunakan instrument tersebut. Secara tidak langsung mereka bukan sahaja boleh mendendangkan lagu tersebut dengan baik, malah mereka juga akan mahir menggunakan alat muzik dan mampu mengenal nota-nota muzik. Pakar kanak-kanak berpendapat perkembangan personaliti bayi bermula dari peringkat janin lagi. Bayi yang baru lahir seperti kain putih bersih. Ia dilengkapkan dengan semua pancaindera dan boleh berinteraksi dengan persekitarannya serta orang sekeliling terutama ibu bapanya. Kebanyakan orang berpendapat bayi yang baru lahir sebagai pasif dan tidak berupaya mengenali ibu bapa serta persekitarannya. Pada masa kini pakar perkembangan kanak-kanak menjelaskan bayi yang baru lahir sudah berupaya memberi tindak balas persekitaran dan perhatian ditunjukkan orang lain kepadanya. Ramai ibu bapa bertanyakan cara merangsang bayi. Kini jelas prestasi kognitif seseorang bayi boleh dipertingkatkan dengan memberi persekitaran yang penuh dengan rangsangan kepada kanak-kanak. Stimulasi atau rangsangan ini perlulah ditunjukkan kepada kanak-kanak dari peringkat bayi lagi. Jika diperhatikan kelakuan bayi dalam beberapa hari dilahirkan kelihatan dia berada dalam beberapa keadaan iaitu tidur nyenyak, mengantuk, berjaga, memerhatikan sekitarnya dan menangis. Keadaan sesuai bagi merangsang bayi ialah ketika masih sedar atau celik. Ibu bapa perlu faham masa sesuai untuk merangsang bayi kerana jika diteruskan tanpa mengambil kira kemampuannya ia boleh memberikan kesan negatif. Apabila bayi asyik memerhatikan wajah ibunya, ibu perlu bercakap dengannya, menyanyi, menunjukkan senyuman gembira atau mencium tubuh bayinya itu. Sewaktu menyusukan bayi boleh digunakan untuk merangsang bayi. Perkataan seperti “anak mak cantik’ dan “anak mak sayang” boleh digunakan bagi tujuan itu. Ibu bapa digalakkan berbual dengan bermesra dengan bayi sewaktu dimandikan atau lampinnya ditukar. Jarak mata bayi dengan wajah ibunya ketika menyalin lampin sungguh sesuai untuk berinteraksi antara bayi dan ibu. Sambil menyalin lampin gunakan perkataan indah untuk merangsang minda bayi seperti “ cantiknya anak ibu” dan “wanginya anak ibu”. Bahasa digunakan ibu bapa setiap hari dapat membentuk minda bayi membentuk bahasanya. Ibu bapa perlulah faham mereka seharusnya memberikan perhatian terhadap perkembangan bahasa bayi dan membantunya dengan berbual mesra. Bahasa penting untuk seseorang mempelajari keadaan sekelilingnya kerana melaluinya kanak-kanak boleh melafazkan kehendaknya, bertanya, meminta dan mengeluarkan pandangan berhubung sesuatu perkara. Bayi yang selalu menangis tentu kurang berkebolehan menerima persekitaran serta orang sekelilingnya. Ada ibu bapa yang membiarkan anak menangis sendirian dan cara itu perlu dielakkan. Sebaiknya, ibu bapa memujuk dan memahami apakah yang diperlukan anak mereka atau mendodoi dengan mesra.Bermain dengan bayi amat digalakkan. Jarinya boleh dicium dan kedua tangannya ditepuk supaya mindanya terangsang serta berasa gembira. Selain itu, persekitaran bayi boleh diperkayakan dengan melakukan pelbagai bunyi menarik seperti lagu dari peti muzik atau gambar berwarna warni. Malah muzik klasik cukup banyak memberi impak yang besar untuk perkembangan kognitif dan bahasa bayi. Seorang profesor muzik di Kolej Muzik Kunitachi, Jepun mengatakan muzik klasik adalah penting untuk membesarkan anak-anak.Berdasarkan kajian-kajian yang dijalankan, muzik tersebut mempunyai tiga kesan positif untuk ibu dan bayi yang dikandung. Pertama, muzik klasik membantu menghasilkan gelombang alpha otak yang mana kita memilikinya ketika sedang santai atau merasa selesa. Oleh kerana janin amat dipengaruhi oleh keadaan ibu, rasa relaks, tenang dan selesa semasa mendengar muzik klasik akan memberi kesan positif kepada bayi juga. Kesan positif kedua ialah muzik klasik turut membantu perkembangan otak janin kerana ia boleh mendengar termasuk di dalam air. Jadi, sekiranya kita memainkan muzik untuk janin, ia akan memberi ransangan kepada otak untuk berkembang dengan lebih baik.Kesan ketiga pula ia membantu ibu mengeluarkan lebih banyak hormon yang diperlukan oleh janin mahu pun diri sendiri.Malah, kajian terbaru juga mendapati muzik klasik adalah antara jalan yang paling sesuai untuk bayi bersedia dengan masa depan. Memberikan makanan berkhasiat yang berkualiti untuk perkembangan kognitif dan bahasa bayi Kajian Prof Mark Rosenweig dari U.C.L.A dari Amerika Syarikat, menunjukkan ramisaraf dendrit boleh digalakkan pertumbuhannya. Samalah halnya dengan pokok yang boleh menggalakkan pertumbuhan ranting-ranting dengan memberikan zat makanan dalam bentuk baja, maka ramisaraf dendrit yang menyerupai ranting-ranting pokok itu pun boleh digalakkan tumbuh subur dengan memberikan zat makanan yang disebut nutrien saraf. Nutrien saraf merupakan zat khusus untuk tujuan menggalakkan ramisaraf dendrit tumbuh subur. Menurut Dr W.H Schuessler, seorang pakar biokimia bangsa German menyatakan bahawa saraf di otak memerlukan beberapa nutrien atau zat tertentu untuk dapat berfungsi dengan sempurna. Nutrien atau zat yang sesuai untuk otak ialah jenis garam tisu biokimia. Setelah menjalankan kajian mengenai fungsi otak dan hubungannya dengan makanan. Pergerakan dan persekitaran mendedahkan ibu dengan kuman yang boleh memberi kesan kepada bayi sebelum dilahirkan. Dalam keadaan ini, rahim bertindak melindungi bayi dari kuman. Selepas kelahiran, perlindungan kepada bakteria dan parasit diperoleh pula dari susu ibu. Beberapa bahan dalam susu ibu bukan saja berupaya menentang penyakit tetapi sesetengahnya menguatkan lagi pembentukan sistem imun bayi. Ia memberi kesihatan yang baik kepada bayi walaupun selepas dia tidak lagi menyusu. Ini kerana susu ibu memiliki ramuan terbaik untuk pertumbuhan bayi dari jumlah asid lemak, laktosa, air, asid amino untuk pencernaan, pertumbuhan minda bayi dan mengandungi antibodi. Selain membantu perkembangan retina dan memberi perlindungan kepada sistem saraf tengah bayi. Ia juga membawa enzim pencernaan yang membantu bayi mencerna nutrisi dalam susu. Justeru, ia berupaya memberi bayi imuniti terhadap jangkitan dan penyakit seperti otitis media, pneumonia, mengurangkan masalah jangkitan darah dan radang otak. Malah dalam satu kajian di Denmark, susu ibu memberi kesan pada pembentukan minda dan meningkatkan perkembangan kognitif bayi dan bahasa bayi. Kajian mengesahkan bahawa nutrien dalam susu ibu dan genetik mempunyai kesan terhadap IQ. Kanak-kanak kecil (bayi) yang tidak mendapat susu ibu akan lebih menyebabkan IQ mereka rendah, tahap pencapaian pendidikan rendah dan rendah dalam pergaulan sosialnya. Pada peringkat perkembangan 6 bulan pertama, bayi banyak belajar daripada persekitarannya terutama melalui interaksi antara anda dengannya. Satu perkara penting yang perlu diberi perhatian adalah bayi belajar melalui permainan. Setiap kali anda bermain ataupun berinteraksi dengan bayi, anda sebenarnya mengajarnya lebih banyak perkara mengenai diri anda, dirinya sendiri dan persekitarannya. Setiap aktiviti permainan mudah seperti menggoncangkan alatan yang berbunyi memberi kesan terhadap perkembangan derianya. Bayi belajar memfokus penglihatan dan pendengarannya terhadap objek berkenaan. Sekiranya aktiviti ini diulang-ulang, bayi akan belajar menggoncang alatan dan menyebabkan berlaku kebisingan. Antara perkara yang boleh anda lakukan dalam ‘mengajar’ bayi anda adalah:
Bayi Baru Lahir Hingga 4 Bulan Pada peringkat ini, berikan peluang kepada bayi anda bagi meneroka persekitarannya menggunakan kekuatan ototnya. Perhatikan apabila bayi menangis, ia akan menggerak-gerakkan kakinya seperti menendang dan menggapai-gapaikan tangan-nya. Pergerakan ini sebenarnya adalah satu stimulasi dan kesan daripada aktiviti penerokaannya menggunakan ototnya. Elakkan daripada terlalu melindunginya dengan sentiasa mendukungnya kerana ia membantutkan usaha penerokaannya. Letakkan bayi anda di atas lantai dan biarkan dia meneroka kekuatan kaki, tangan dan kepalanya. Sekiranya anda mampu, anda boleh menghiasi persekitaran penerokaannya dengan pelbagai permainan yang pelbagai warna dan corak. Hati-hati dengan barang permainan kerana dikhuatiri akan menjerut lehernya ataupun mengakibatkannya tercekik. Antara aktiviti permainan mudah yang boleh anda lakukan dalam merangsang bayi anda adalah: Gerakkan lidah anda ke luar dan ke dalam beberapa saat. Berikan sedikit masa kepada bayi anda meniru lagak anda. Sentuh anggota badannya seperti menggeleteknya. Per-hatikan responsnya. Sekiranya bayi anda sudah belajar cara untuk senyum, anda akan dapat melihat senyuman di bibirnya. Tambahkan pengalaman pembelajarannya dengan mem-bawanya keluar bersiar-siar di halaman rumah anda ataupun membawanya melawat pelbagai tempat di dalam rumah sendiri sama ada dapur, ruang tamu, bilik tidur dan sebagainya. Pada peringkat ini, deria penglihatan bayi sensitif terhadap cahaya dan warna. Walaupun fokus penglihatannya masih belum membangun sepenuhnya, bayi mampu melihat dalam jarak yang dekat. Koordinasi otot tangannya juga sedang berkembang pesat. Sesetengah bayi sudah mampu memegang objek tertentu di tangannya. Pada masa inilah, anda seharusnya memperkenalkan padanya pelbagai tekstur objek sama ada licin, kesat dan sebagainya. Antara aktiviti yang boleh anda lakukan bersama bayi anda adalah:
Dapatkan objek pelbagai bentuk seperti bulat, tiga segi, empat segi dan sebagainya. Keadaan fizikal bayi adalah stabil pada masa ini. Kepalanya lebih tegap malah boleh digerakkan ke pelbagai arah. Kemampuan verbalnya juga begitu menggalakkan. Bayi akan cuba meniru pergerakan bibir anda, tanda ia bersedia untuk bercakap, walaupun dalam bahasa bayinya sendiri. Antara aktiviti yang boleh anda lakukan bersama bayi anda adalah:
Bahasa digunakan ibu bapa setiap hari dapat membentuk minda bayi membentuk bahasanya. Ibu bapa perlulah faham mereka seharusnya memberikan perhatian terhadap perkembangan bahasa bayi dan membantunya dengan berbual mesra. Bahasa juga penting untuk seseorang mempelajari keadaan sekelilingnya kerana melaluinya kanak-kanak boleh melafazkan kehendaknya, bertanya, meminta dan mengeluarkan pandangan berhubung sesuatu perkara. Bayi yang selalu menangis tentu kurang berkebolehan menerima persekitaran serta orang sekelilingnya. Ada ibu bapa yang membiarkan anak menangis sendirian dan cara itu perlu dielakkan. Sebaiknya, ibu bapa memujuk dan memahami apakah yang diperlukan anak mereka atau mendodoi dengan mesra. Bermain dengan bayi amat digalakkan. Jarinya boleh dicium dan kedua tangannya ditepuk supaya mindanya terangsang serta berasa gembira. Selain itu, persekitaran bayi boleh diperkayakan dengan melakukan pelbagai bunyi menarik seperti lagu dari peti muzik atau gambar berwarna warni. Untuk merangsang bayi ibu bapa digalakkan berkomunikasi, menyanyi atau membaca bagi membantu proses perkembangan bahasa dan minda. Justeru itu, ibu bapa digalakkan menggunakan perkataan yang sesuai ketika berinteraksi. Apabila perkembangan bahasa kanak-kanak dipercepatkan, prestasi perkembangan kognitif atau inteleknya turut meningkat dari semasa ke semasa. Sumber: Diadaptasikan daripada Teori Kepintaran Berganda Howard Gardner dalam bukunya Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligence (1983) |
Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
Pendidikan Anak: Betulkah Sebuah Investasi?
Tak terasa, kini kita sudah mendekati tahun ajaran baru. Tidak bisa dipungkiri bahwa dari tahun ketahun biaya pendidikan semakin mahal. Entah biaya pendidikan di universitas maupun di SD s/d SMU. Jangankan SD s/d SMU, orangtua keponakan saya yang tahun ini masuk TK pun harus merogoh uang yang cukup banyak untuk hanya membayar uang pangkal.
Menariknya, ketika berbicara tentang biaya pendidikan, banyak yang menganggap bahwa pendidikan adalah sebuah investasi. Lho, investasi apa? Ya, investasi. Harapannya, uang yang mereka keluarkan untuk biaya pendidikan si anak kelak akan kembali.
Sekarang, bagaimana dengan Anda? Kalau saat ini Anda adalah orangtua yang sedang berusaha memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak Anda, apakah Anda sendiri juga menganggap bahwa Anda sedang melakukan investasi untuk anak Anda?
Arti Investasi
Apa sih arti investasi itu sendiri? Saya terus terang sering membaca buku-buku keuangan yang luar biasa rumit pembahasannya. Di situ sering diceritakan bahwa investasi adalah begini atau investasi adalah begitu. Tapi sejujurnya, arti investasi buat saya adalah tindakan yang Anda lakukan untuk memperbesar nilai aset yang Anda punya. Contohnya nih, Anda punya uang tunai sebesar Rp 10 juta. Nah, Anda ingin menjadikan Rp 10 juta tersebut menjadi Rp 15 juta dalam waktu 1 tahun. Apa yang akan Anda lakukan? Mungkin memasukkannya ke sejumlah produk investasi. Atau, beberapa orang ada juga yang menggunakan uang Rp 10 juta tersebut menjadi modal usaha. Prinsipnya, diharapkan Anda akan mendapatkan untung Rp 5 juta dari Rp 10 juta tersebut, entah itu dari bunga atau dari pertumbuhan nilai aset itu sendiri.
Perlu diingat bahwa aset itu tidak hanya uang tunai lho. Rumah itu juga aset. Misalnya, Anda punya rumah senilai Rp 100 juta (bangunan + tanah). Anda ingin agar dalam setahun rumah tersebut bisa bernilai Rp 140 juta. Nah, apa yang Anda lakukan agar rumah tersebut tumbuh nilainya adalah sebuah tindakan berinvestasi. Misalnya dengan menambah taman disekililingnya, melakukan renovasi-renovasi kecil, dan lain sebagainya.
Hubungannya dengan Pembayaran Biaya Pendidikan Anak Anda
Lalu, apa hubungannya dengan biaya yang selalu Anda bayarkan setiap tahunnya untuk pendidikan anak Anda? Tergantung bagaimana Anda memandangnya. Apakah Anda berharap dengan membiayai pendidikan anak, kelak biaya hidup Anda akan ditanggung si anak? Anda harus menyadari bahwa pembiayaan pendidikan yang Anda lakukan untuk anak seharusnya memang sudah menjadi konsekuensi Anda sebagai orang tua. Ya kan?
Saran saya, jangan pernah membiayai pendidikan anak tetapi berharap bahwa suatu saat kelak si anak akan memberikan imbalan langsung kepada Anda. Entah anak Anda akan memberikan uang atau membiayai hidup Anda. Sekali-sekali jangan sampai itu terlintas di pikiran Anda, karena sekali lagi pembiayaan pendidikan yang Anda lakukan adalah sebuah kewajiban yang harus Anda lakukan, tanpa Anda perlu berpamrih apa-apa.
Tapi, menurut saya, pendidikan anak sebetulnya tetaplah sebuah investasi. Hasil dari pembiayaan pendidikan yang dilakukan orang tua nantinya akan lebih banyak dinikmati oleh si anak itu sendiri, bukan oleh si orang tua.
Sebagai contoh, bila orangtua membayari pendidikan anaknya, si orang tua boleh berharap bahwa mudah-mudahan saja dengan pendidikannya si anak bisa menjalani kehidupannya sehari-hari dengan baik nantinya ketika kelak ia dewasa. Atau, dengan pendidikan yang baik, diharapkan si anak bisa lebih pandai dalam berpikir, bertindak dan berkomunikasi.
Nah, apabila hasil investasi itu telah dinikmati oleh si anak, maka barulah secara tidak langsung keluarganya juga akan ikut terangkat derajat dan martabatnya. Ya, siapa sih yang tidak bangga bila si anak bisa menyelesaikan pendidikannya dan bisa jadi ‘orang’ serta punya peran di masyarakat? Siapapun pasti bangga. Ya kan?
Jadi, pantaslah bila dikatakan bahwa dengan Anda membayari pendidikan anak Anda, Anda sebetulnya telah melakukan investasi. Bukan investasi yang menghasilkan uang untuk keluarga, tapi investasi untuk menjadikan hidup anak Anda lebih baik, sehingga nantinya itu juga akan mengangkat derajat dan martabat Anda sebagai orang tuanya. Persiapkan biaya pendidikan anak Anda dengan baik sehingga Anda akan selalu punya cukup uang untuk membayari pendidikan anak Anda.
Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 842/XVI
Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
Membaca Jadi Terapi Stres Anak
Oleh arixs
MEMILIKI anak-anak yang pintar, cerdas serta berbudi luhur adalah dambaan setiap orangtua. Segala cara akan diupayakan agar anak-anak dapat berprestasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
“Mulai pendidikan formal di sekolah, mengembangkan bakat-bakat seni anak melalui macam-macam kursus, sampai mengikutsertakan anak dalam berbagai macam lomba untuk meraih prestasi.
Semua itu baik jika dilakukan dalam porsi yang tepat dan selama anak menikmatinya,” ujar . pakar pendidikan anak Erna Hartanto, S.Kom.
Menurutnya, di balik itu ada masalah serius. Kalangan orangtua cenderung memfokuskan upaya mencetak anak cerdas dengan mengembangkan kemampuan intelligence quotient (IQ) semata, tetapi lupa memperhatikan aspek-aspek lain yang tidak kalah pentingnya. “Kemampuan EQ dan SQ anak juga penting.
Orangtua baru dikatakan berhasil jika anak-anaknya memiliki kecerdasan IQ, EQ dan SQ yang seimbang,” ujar penulis buku anak & pemilik Tamtam’s Edu-Collections Denpasar ini.
Sesungguhnya, ada cukup banyak masalah anak yang dijumpai, seperti anak yang berprestasi akademik, tetapi kurang mengerti bagaimana harus bersikap sopan, anak yang mudah putus asa saat mengalami kegagalan, anak yang sulit bergaul dan berbagi dengan anak lain, ataupun anak yang mudah marah jika keinginannya tidak dituruti. “Ada pula anak-anak yang suka berkelahi dan terpengaruh pergaulan bebas,” katanya.
Penyebabnya, anak mengalami tekanan (stress) karena merasa terpaksa mengikuti kemauan orangtuanya, bukan keinginannya sendiri. Juga, itu bisa disebabkan kurangnya perhatian dan waktu bersama orangtua, maupun kurangnya ruang gerak bebas anak.
Sebenarnya masalah di atas dapat dihindari jika anak dikenalkan nilai-nilai IQ, EQ dan SQ secara seimbang serta menanamkan kebiasaan yang baik pada anak-anak sejak dini.
Salah satu kebiasaan baik yang tampaknya sederhana, tapi memiliki efek yang luar biasa, adalah kebiasaan membaca. Melalui kebiasaan membaca buku, anak-anak bisa menerima bermacam-macam pengetuan.
“Anak pertama saya, Tamara, sudah mulai membaca buku saat berusia satu tahun. Saya membelikannya buku-buku cerita dengan gambar-gambar dan warna yang menarik dengan tulisan yang berisi kalimat pendek dan huruf yang cukup besar.
Awalnya saya yang membacakan buku-buku tersebut untuknya, tapi kemudian Tamara akan membaca sendiri bukunya dan mengarang sendiri kalimat cerita sesuai gambar yang dilihatnya.
Melalui cara ini saya melihat bahwa anak saya bisa menangkap dan mengingat dengan baik pesan dan nilai yang disampaikan melalui tokoh-tokoh buku tersebut,” papar ibu berparas ayu ini.
Sebagai contoh, jika Tamara bersikap egois biasanya Erna mengingatkannya soal sosok Franklin yang dikenal sebagai si kura-kura yang mau menang sendiri sehingga akhirnya tidak ada yang mau berteman dengannya.
Selain itu, jika Tamara memanjat meja, ibu dua anak ini berusaha mengingatkan buah hatinya dengan menyimbolkan sosok Tini yang mengalami kecelakaan dan mengalami patah kaki sehingga harus dioperasi.
Banyak lagi buku yang sarat dengan pesan-pesan pendidikan, Camille tidak Mau Mandi, Pierre Kebanyakan Makan Permen, Hidup Saling Membutuhkan, dan sebagainya,” ungkap istri Seno Agus The,S.Kom ini.
Pengalaman nyata lainnya diungkapkan Erna.
Saat Tamara berusia 3 tahun, ia mulai membacakan buku-buku pengetahuan tentang tubuh manusia, dunia tumbuhan, dunia serangga dan binatang, dan buku pengetahuan lain.
Rupanya, putrid sulungnya ini sungguh menikmatinya, walau hanya dengan melihat gambar-gambarnya saja. “Ketika suatu hari Tamara menemukan seekor kumbang mati di halaman rumah, dia berlari mengambil buku “Dunia Serangga” dan mencocokkan gambar kumbang di buku dengan kumbang mati tersebut. Tamara bahkan bisa menjelaskan tentang sistem pencernaan secara sederhana,” ujarnya.
Menurutnya, saat keluarganya jalan-jalan ke toko buku, Tamara betah duduk berlama-lama di depan rak buku anak-anak untuk memilih buku-buku mana yang dia sukai. Bocah ini bukan hanya melihat sampulnya, tetapi juga melihat dulu isi bukunya sebelum memutuskan akan membeli buku tersebut atau tidak.
Dari hal sepele ini, Erna melatih anaknya untuk bisa menentukan sendiri apa yang baik untuk dirinya dan juga mengajarkan tentang sikap demokrasi. “Ini sikap yang membangun apresiasi anak terhadap dirinya dan orang lain.
Anak akan merasa dihargai sehingga terpupuklah rasa percaya dirinya,” yakin ibu dari Tamara Angela Senoputri (5) dan Miracle Ashera Senoputri (7 bulan) ini.
“Saya juga mulai memperkenalkan Tamara pada buku-buku cerita rohani dan mengajarkannya cara berdoa yang benar, karena saya yakin nilai-nilai rohani seperti berbagi, menolong sesama, tidak sombong dan juga rajin berdoa adalah salah satu cara untuk mencerdaskan anak kita secara EQ dan SQ,” urainya.
Sekarang Tamara berusia lima tahun dan sudah bisa membaca dan menulis sendiri dan sangat menikmati membaca buku. Bukan hanya buku anak-anak, Tamara bahkan tertarik membaca koran, brosur dan apa saja yang bisa dibaca!
Kesukaannya membacanya ini memacu Tamara rajin berlatih baca-tulis supaya bisa membaca sendiri buku-bukunya saat orangtuanya sibuk dan tidak bisa membacakan buku untuknya.
“Saya membuatkan beberapa kalimat lucu setiap harinya untuk berlatih membaca, seperti Kuku kaki kudaku kaku, pipi adik bau susu. Waktu saya sibuk, saya meminta pengasuhnya yang memberikan dikte dan menemani membaca.
Dengan cara yang demikian saya yakin Tamara pasti bisa menguasai pelajaran-pelajarannya di tingkat pendidikan yang lebih tinggi karena dia suka membaca dan tidak akan ada masalah dengan buku-buku pelajarannya,” jelasnya.
Selain itu, sejak usia tiga tahun Tamara juga sudah belajar menggunakan komputer dan bermain game interaktif yang berisi permainan tentang matematika, logika, Bahasa Inggris, pengetahuan dunia, sehingga secara tidak sadar Tamara menikmati belajar sambil bermain.
“Dengan cara ini saya menjauhkan anak saya dari TV karena anak merasa game komputernya lebih menarik daripada acara TV,” imbuhnya.
Sekarang Erna mulai memperkenalkan buku juga pada adik Tamara, Miracle yang berusia 7 bulan. “Tentunya saya memilih buku yang memang cocok untuk bayi, yaitu buku dengan ujung yang tidak lancip atau tumpul supaya tidak ada kemungkinan melukai mata, dan juga bukunya tipis sehingga Miracle bisa memegang sendiri bukunya dan buku-buku tersebut penuh gambar dengan warna yang menarik.
Miracle juga memperhatikan dengan asyik ketika Tamara membacakan buku untuknya,” terang perempuan kelahiran Malang, 12 Januari 1975, ini.
Cara itu memang dinilai mungkin belum tentu menjadi pendekatan paling tepat untuk pendidikan anak. Tapi, Erna berusaha membuat anak-anaknya menikmati belajar sambil bermain, juga belajar menentukan sendiri apa yang menjadi kesukaan mereka. “Tugas orangtua hanya mengarahkan dan memfasilitasi. Jangan biarkan kesempatan anak-anak menjadi cerdas untuk menikmati hidup mereka anak yang identik dengan dunia bermain.
Diarsipkan di bawah: PENDIDIKAN ANAK
Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia
Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki
peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa
karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk
kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara
dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM
dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua
guru di seluruh dunia.
Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei
internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for
Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal
dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca,
dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara
akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah
mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.
Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam
masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi
dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan
beberapa negara lainnya.
Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar,
memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau
memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia
mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan
negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka
justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan
Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50
jam perminggu
Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada
kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru
dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru
sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka
tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru
mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1
dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya
ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum
dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok
oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi
dengan kualitas seadanya pula.
Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru
yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut
mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka,
dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang
mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan
evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas
pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang
menghancurkan tujuan belajar siswa.
“Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk
lolos ujian.” ungkap seorang guru di Finlandia.
“Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan
ujian. Pada usia 18 siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi
mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke
perguruan tinggi. Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri,
bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar betanggungjawab atas
pekerjaan mereka sendiri,” kata Sundstrom, kepala sekolah di SD
Poikkilaakso, Finlandia,
“Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas.
Guru tidak harus selalu mengontrol mereka. Siswa didorong untuk
bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi
yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari
sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa
kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini
guru tidak mengajar dengan metode ceramah.” Kata Tuomas Siltala, salah
seorang siswa sekolah menengah.
“Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando
hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak
menyenangkan. ” sambungnya.
Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang
membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah
di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik
dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.
Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai
kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani
masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi
setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai,
umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu;
berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak
perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha. Para
guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka.
Menurut mereka, jika kita mengatakan “Kamu salah!” pada siswa, maka
hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini
akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan
melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka
dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak
ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga
terhadap dirinya masing-masing. Ranking-rankingan hanya membuat guru
memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik
di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan
antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen
pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi.
“Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa,” kata seorang guru,
“Maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya.”
Benar-benar ucapan guru yang bertanggungjawab.
Diambil dari “Top of the Class” Fergus Bordewich.
