Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN
Makan sebagai Ajang Belajar Anak
Dari sepiring nasi yang dimakannya, si kecil bisa belajar banyak hal yang mencerdaskan.
Di balik kegiatan makan (yang tampaknya sepele), ternyata ada banyak hal yang bisa digali. Bahkan, dimulai dari kegiatan makan dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu minum ASI.
Bagi si 6 bulan yang baru mengenal makanan padat, ada sederet keterampilan yang harus ia kuasai dan dilatih terus menerus. Keterampilan tersebut antara lain keterampilan makan, merupakan hasil dari serangkaian penguasaan dan kontrol terhadap anggota tubuhnya, untuk digerakkan dengan sadar, sesuai keinginan atau kehendaknya.
Melalui kegiatan mengisi perut yang dilakukan rutin setiap hari, si kecil sebetulnya juga melatih keterampilan yang sudah dimiliki, sekaligus mengembangkan keterampilan-keterampilan baru.
Kesempatan emas
Pada bayi dan anak usia balita, sekitar 70% dari waktu bangun mereka digunakan untuk melakukan kegiatan makan. Selama kegiatan ini, akan terjadi interaksi antara anak dengan orang yang membantunya dalam mengurus berbagai kebutuhan hidupnya sehari-hari, terutama ayah dan bundanya.
Tapi, kapan kita dapat memanfaatkan kegiatan makan sebagai ajang belajar bagi si kecil? Di sinilah dibutuhkan kejelian Anda untuk mengamati saat-saat di mana si kecil menunjukkan perhatian penuh terhadap kegiatan makan.
Minat “belajar” makan bayi biasanya dimulai saat ia berusaha memegang makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. Itulah momen atau kesempatan emas! Biarkan si kecil bereksplorasi dengan makanannya. Biarkan dia memegang dan meremas-remas bubur atau biskuitnya atau , apa pun yang ingin dilakukannya terhadap makanannya.
Belajar apa?
Kalau kesempatan emas itu datang, Anda dapat mengajak si kecil belajar banyak hal. Anda bisa mengenalkan kepadanya bahwa apa yang sedang ia makan adalah nasi atau bubur. Kenalkan aneka tekstur seperti bubur yang lembut, ada pisang yang empuk, atau wortel rebus yang lebih keras.
Bila si kecil sudah mulai bisa diajak bicara, Anda dapat mengembangkan pelajaran selanjutnya. Misalnya, kenalkan nama aneka sayuran dan buah-buahan yang tersaji di atas meja makan. Lengkapi juga dengan pelajaran tentang berbagai jenis warna. Ada pepaya dan jeruk yang berwarna oranye, pir dan nasi yang warnanya putih, pisang yang kulitnya kuning tapi dalamnya putih, dan sebagainya.
Bahkan, bila Anda senang berkreasi, Anda dapat membuat 1001 macam penampilan yang menarik dari makanan yang Anda sajikan untuk si kecil, sekaligus sebagai media si kecil belajar tentang berbagai macam hal. Puding jelly aneka warna berbentuk wajah, misalnya, bisa jadi media belajar si kecil tentang warna dan nama-nama bagian wajah seperti mata, hidung dan mulut.
Sesuai keterampilan
Kegiatan makan melibatkan proses menelan dan mengunyah. Padahal, kedua keterampilan itu tidak begitu saja dikuasai si kecil, melainkan melalui serangkaian proses perkembangan yang bertahap. Agar Anda dapat memberikan makanan yang benar-benar tepat sesuai tahap perkembangan keterampilan maupun sistem pencernaannya, sebaiknya pahami setiap tahapannya. Dengan begitu, Anda dapat mengolah dan memberikan variasi makanan kepada buah hati Anda secara tepat.
Pada umumnya, si kecil sudah benar-benar siap diperkenalkan makanan yang padat, bertekstur lebih kasar, bercita rasa lebih kuat, dan jenisnya lebih bervariasi, pada saat dia memasuki usia 6 bulan. Yakni, bersamaan dengan tumbuhnya gigi pertama (gigi susu). Pada rentang usia ini, indera pengecap si kecil berkembang pesat.
Jadi, setelah si kecil memasuki usia 6 bulan, picu sensitivitas indera pengecapkan dengan memperkenalkan aneka rasa makanan melalui berbagai jenis makanan baru. Misalnya, bila si kecil sudah mampu menggenggam dan menggerakkan tangannya ke arah mulut, beri ia finger food, seperti potongan buah, rebusan aneka sayuran yang berbentuk batangan, serta keju.
Selanjutnya, ketika usianya semakin beranjak, si kecil pun makin pandai mengontrol gerak anggota tubuhnya. Di rentang usia 9-12 bulan, si kecil akan berada pada tahap perkembangan fase oral, yakni senang mencicipi berbagai benda yang menarik perhatiannya untuk dipegang dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Ia juga akan berubah menjadi “si pemilih”! Kini bayi Anda tidak mau menerima begitu saja setiap makanan yang Anda sodorkan ke mulutnya. Ini karena indera pengecapnya semakin berkembang. Kini ia tidak hanya sekadar menelan ‘mentah-mentah’ makanan yang Anda berikan, tetapi sudah mulai dapat menikmati rasa dari setiap jenis makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
Tantangan yang menarik bagi Anda untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya adalah terus berkreasi mengolah aneka makanan yang tidak saja sesuai dengan tahap perkembangan keterampilan makan serta sistem pencernaannya, tetapi juga sesuai dengan selera makannya. Hal ini, antara lain, bertujuan agar anak kelak tidak mengalami kesulitan makan, atau sebaliknya, jadi obesitas (kegemukan).
Makan bersama
Salah satu cara untuk menggugah selera makan si kecil adalah dengan mengajaknya ikut dalam acara makan bersama seluruh anggota keluarga. Secara psikologis, acara makan bersama ini merangsang kecerdasan emosi si kecil. Menurut Fiona Wilcock, ahli gizi dari Amerika Serikat dalam artikelnya “Fun Food For All The Family”, makan bersama sekeluarga merupakan ajang bagi anak untuk belajar bersosialisai, sekaligus merupakan kesempatan baginya untuk menikmati kebersamaan.
Wilcock menambahkan, bagi bayi, timbulnya perasaan ikut terlibat dalam aktivitas sehari-hari akan membuatnya merasa senang. Dari acara makan bersama yang ia ikuti, banyak hal yang dapat dipelajarinya, sekali pun hanya melalui kegiatan melihat dan mengamati. Si kecil bisa belajar tentang cara dan kebiasaan makan dari masing-masing anggota keluarganya.
Untuk itu, sangat dianjurkan menghadirkan si kecil pada acara makan bersama. Dengan begitu, ia akan merasa dibutuhkan oleh kelurga karena ia termasuk dalam anggota keluarga. Si kecil tidak selalu harus makan menu utama yang disajikan.
Melalui acara makan bersama keluarga ini, emosi-emosi positif pada si kecil dapat ditanamkembangkan, dan ini akan memperkuat tali kekeluargaan. Jadi, jelaslah mengapa melalui sepiring nasi beserta lauk-pauk yang disajikan, kelak si kecil akan memahami “warna-warni” kehidupan, seperti halnya warna-warni lauk-pauk yang ada di dalam piringnya.
Sri Lestariningsih
Foto: Dachri MS dan Honda T.
Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN
DHA SULIT DISERAP BAYI, JANGAN TERPENGARUH IKLAN SUSU
1/22/2007
JAKARTA (MEDIA) : Tingkat konsumsi Docosahexanoic Acid (DHA) yang berlebihan akan membahayakan metabolisme tubuh. Sebab tubuh terpaksa dibebani pekerjaan yang lebih berat untuk mengeluarkan asam lemak esensial tersebut. Spesialis penyakit anak Dr. Utami Roesli MBA, mengutip hasil penelitian yang dilaksanakan di Australia, Amerika Serikat maupun Eropa, bahwa di tiga kawasan negara maju ini, belum dihasilkan efektifitas dari penambahan DHA dalam produk susu maupun makanan bayi dan anak-anak termasuk untuk ibu hamil. “Jadi belum ada anjuran untuk menambahkan unsur asam linoleat dan asam linolenat itu ke dalam susu”, ujarnya kepada Media, kemarin di Jakarta.
Lebih jauh ditegaskan, seperti juga lemak susu sapi, maka asupan DHA tsb. tersebut bukan merupakan ikatan rantai panjang, sehingga masih sulit diserap oleh pencernaan bayi. Terlebih lagi, katanya, karena susu yang akan dikonsumsi ini harus dibuat dengan menggunakan air panas hingga mengalami proses pemanasan. Akibatnya, aktifitas enzim desaturase dan elongase yang memfasilitasi pembentukan DHA dalam tubuh secara otomatis hancur. Karena itu, Utami, sebagai pakar air susu ibu (ASI) mengingatkan kepada masyarakat, khususnya kaum ibu, supaya jangan terpengaruh terhadap iklan susu dan makanan pendamping ASI yang mengandung DHA dengan iming-iming mampu meningkatkan kecerdasan bayi.
“Asam lemak esensial tersebut justru cukup terkandung dalam ASI, bahkan unsur DHA-nya tergolong ikatan rantai panjang yang sangat mudah diserap pencernaan bayi”, ujarnya. Karena itu dia menganjurkan agar bayi diberikan ASI sejak lahir sampai umur 4 bulan, karena asam lemak ASI juga terdiri dari asam arakidonat. “Berarti, kandungannya melebihi unsur asam linoleat dan asam linolenat”. Setelah empat bulan, katanya, bayi dapat diberikan tempe yang mengandung pula asam linoleat maupun asam linolenat karena lemaknya termasuk ikatan rantai panjang. Utami menjelaskan, setelah mencapai umur enam bulan, bayi juga dapat diberikan ikan laut, yang secara alami mengandung pula kedua asam lemak itu tanpa harus mengonsumsi susu formula.
Menyesatkan
Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI Rumah Sakit Saint Carolus ini mengakui, semboyan “Empat Sehat Lima Sempurna” yang berlaku sejak dulu dinilai telah menyesatkan masyarakat. “Orang beranggapan konsumsi makanan sehari-hari belum sempurna jika tidak minum susu. Susu bukan berarti tidak penting, namun bukan segala-galanya”, tegasnya lagi. Dia bahkan melihat iklan susu maupun makanan bayi dan anak-anak yang diimplementasi dengan DHA cenderung menyesatkan masayarakat, karena produsen memanfaatkan kebodohan
konsumen yang tak memahami manfaat sesungguhnya dari unsur tambahan tersebut.
Sementara, kalangan spesialis gizi di Indonesia umumnya menyatakan masih awam terhadap kandungan DHA dalam susu. Karena sampai sejauh ini, belum pernah dilakukan penelitian tentang manfaatnya. Dokter Soebagyo Sumodihardjo MSc, pakar gizi dari bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengungkapkan pihaknya baru mengetahui hal itu dari media massa. Ketika ditemui Media usai pembukaan lokakarya “Pemerataan serta Peningkatan Pemanfaatan Lulusan Pendidikan Tenaga Kesehatan di Sektor Non-Departemen Kesehatan dan Kesejahteraaan Sosial” kemarin di Jakarta, dia belum bersedia dimintai komentarnya. “Saya baru mengkliping dan belum membaca literatur”, ujarnya. Dia berjanji memberitahukan hal tersebut seminggu kemudian setelah segala informasi dikumpulkan dari berbagai sumber. Spesialis Anak Dr. Sri S. Nasar sebelumnya menginformasikan bahwa overdosis DHA pada manusia, sejauh ini baru terlihat dialami orang Eskimo yang banyak mengkonsumsi ikan laut. Dikatakan bahwa gejalanya berupa perdarahan, mirip flek-flek berwarna kebiruan di kulit. “Efek yang lain baru ditemukan pada monyet maupun tikus, tapi gejalanya berbeda”. (Rse/V-1)
(Rse/V-1)
Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN
7 Langkah Sukses Makan Si Kecil
1. Makanan jangan terlalu kental, kalau kental Sikecil susah nelan.
2. Jangan masak banyak-banyak, cukup Sekitar 2-3 sendok teh.
3. Gunakan sendok bayi.
4. Mulailah dengan ujung sendok lalu sentuhkan ke ujung lidah mungilnya krn cara ini cukup efektif untuk mengenalkan rasa baru.
5. Kalau Si kecil menolak ini karena dia belum terbiasa disuapi dengan sendok atau masih asing dengan aneka rasa yg baru.
6. Jangan pernah berputus asa kalaupun makanannya keluar lagi krn ini tidak selalu berarti si kecil tidak menyukainya, ini terjadi karena otot-otot dan mulutnya belum cukup terampil untuk menelan atau mengunyah.
7. Bersabarlah membiasakan si kecil makan makanan tertentu, cobalah sampai beberapa kali selama beberapa hari. Beri kesempatan padanya untuk “merekam” aneka rasa dalam memorinya, dengan begitu diharapkan ia tidak terlalu “pemilih” makanan nantinya.
Sumber : Artikel Ayah Bunda
Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN
Kalau sudah menyangkut urusan gizi anak, para orangtua sangat peduli. “Apakah anak saya sudah mendapat cukup gizi?”. “Kok, anak saya kurus ya?” Eiit….., jangan buru-buru berkesimpulan.
A= Air susu ibu
Sebenarnya hanya 1% wanita yang benar-benar tidak bisa menyusui. Jadi, setiap wanita bisa memberikan ASI. Persiapan memberi ASI dimulai sejak bayi dalam kandungan. Begitu pula ketika ibu akan bekerja, ASI mulai diperas, dibekukan dan disimpan dalam lemari pendingin (frezeer) beberapa minggu bahkan beberapa bulan sebelumnya.
Pada awal kehidupannya, bayi sering sekali menyusu, sekitar 8-12 kali. Beri ASI saat ia meminta (on demand) agar produksi ASI dan pertumbuhan bayi optimal. Isapan si kecil dan pengosongan tuntas payudara Anda merupakan rangsangan terbaik untuk meningkatkan jumlah ASI.
Yang sering terlupakan adalah ASI bukan hanya sekadar kaya nutrisi, namun ASI adalah materi hidup, yang juga mengandung enzim yang membantu agar pencernaan bayi bisa menyerap nutrisi dengan baik.
B= Besi
Bayi, terutama saat-saat penyapihan, rentan kekurangan zat besi yang bisa menyebabkan anemia. Para ahli menganjurkan untuk deteksi dini satu kali sebelum usia anak satu tahun lewat pemeriksaan kadar hemoglobin.
Perbedaan penyerapan zat besi oleh tubuh dari berbagai sumber makanan:
- Penyerapan tinggi: daging, ikan dan unggas cukup
- Penyerapan sedang: gandum dan kacang-kacangan
- Penyerapan rendah: sayuran
Untuk meningkatkan penyerapan, kombinasikan makanan kaya zat besi dengan vitamin C, misalnya selipkan potongan tomat dalam bekal roti daging untuk anak.
C= Camilan sehat
Di sela-sela makanan wajib, anak pun butuh camilan. Tetapi repot juga bila anak lebih memilih mengemil daripada makan. Solusinya, sediakan camilan sehat yang setara gizinya dengan makanan wajib. Misalnya, roti dengan selai kacang, kroket keju, biskuit gandum. Hindari camilan manis sejak dini. Namun, saat anak aktif dan memerlukan makanan berkalori tinggi, segelas es krim, puding susu, atau cheesecake akan menambah energi untuk aktifitasnya.
D= Diet
Bolehkah anak obesitas berdiet untuk menurunkan berat badan? Menurut para ahli, diet seperti ini tidaklah dianjurkan karena diet berlebihan ditakutkan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Diet lebih ditujukan untuk membentuk pola makan sehat dan menjaga agar berat badan tidak terus naik. Diharapkan, semakin tinggi anak, berat badan akan menjadi seimbang. Sertakan pola makan sehat dengan aktifitas fisik.
Ajak anak bermain di luar rumah dengan unsur kegiatan: jalan, lari, lompat, tangkap, tendang yang ‘menguras kalori’. Batasi nonton TV/main games kurang dari 2 jam/hari. Yang pasti aktifitas fisik memiliki banyak keuntungan untuk gaya hidup di masa depan.
E= Enyahkan mitos
Masyarakat seringkali lebih mempercayai mitos ketimbang kenyataan. Salah satunya mitos bahwa menyusui akan merusak estetika payudara. Banyak selebriti dunia dan dalam negeri berlomba-lomba menyusui bayinya, dan lihat betapa badan mereka tetap langsing. Intinya, selama pola hidup sehat dijalankan, maka tubuh kita pun akan sehat dan bugar. Jadi, demi memberi si Kecil makanan terbaik, mengapa Anda harus menundanya?
F= Fakta tentang vitamin
Awal tahun 1900-an, ahli menemukan sebuah substansi “vital” dalam makanan, yang belakangan disebut vitamin. Efek kekurangannya cukup fatal, dan pemenuhannya akan memberi banyak keuntungan hingga jutaan orang tua di dunia berlomba memberikan suplemen vitamin untuk anaknya. Namun, makanan kaya vitamin tetaplah menjadi pilihan utama.
Faktanya, jumlah vitamin yang diserap ternyata bervariasi tergantung dari:
- Keadaan (status) nutrisi anak,
- makanan yang dikonsumsi sebelumnya,
- kondisi pencernaan,
- proses pengolahan,
- sumber vitaminnya.
Anak diare menyerap vitamin lebih sedikit. Anak yang mengalami operasi pemotongan usus akan kekurangan vitamin tertentu tergantung letak ususnya. Begitu juga sayuran yang direbus terlalu lama akan berkurang kadar vitaminnya, dan sumber vitamin alami lebih baik penyerapannya.
G= Gigi vs tekstur makanan
Banyak orang tidak mengetahui bahwa ada hubungan antara pola makan anak dengan kesehatan gigi. Kepadatan makanan anak harus disesuaikan dengan perkembangan giginya. Anak yang terus menerus diberi makanan dengan tekstur halus membuat perkembangan rahangnya terhambat. Jika perkembangan rahang dan gusi terhambat maka pertumbuhan gigi pun bisa terganggu.
H= Hindari
Saat si Kecil sedang belajar makan makanan padat, hindari mengenalkan makanan manis-manis. Makanan yang mengandung gula pemanis substitusi (sorbitol) juga harus dibatasi karena bisa menyebabkan diare. Sayur atau buah kalengan bisa mengandung natrium terlalu banyak hingga tak baik untuk si kecil.
Beberapa jenis makanan dapat menyebabkan tersedak seperti potongan wortel mentah, buah cherri, permen, potongan sosis, kacang, butiran buah anggur, dan popcorn. Hindari pula si kecil bermain dengan balon, koin, bola-bola kecil, ujung pulpen, tanpa pengawasan orang dewasa di sekitarnya.
I= Ikan
Ikan laut merupakan sumber omega-3 dan omega-6. Sertakan menu ikan di hidangan anak Anda. Tentu saja pilih ikan yang “aman”, artinya yang tidak memiliki banyak duri halus, misal ikan salem, tongkol/tuna, marlin, kakap, dsb. Selain itu perhatikan jenis pengolahan. Untuk tahap permulaan, sebaiknya pilih masak dengan cara tim.
J= Jangan paksa
Seringkali anak usia 2-3 tahun tak mau makan menu yang disediakan, seiring dengan keinginannya untuk menentukan pilihan sendiri. Saat-saat seperti ini, pemaksaan malah akan mengganggu kemampuan anak untuk memilih dan menentukan kesukaannya. Selain itu, anak yang dipaksa mencoba menu baru, meski diiming-imingi hadiah, ternyata lebih banyak yang menolak makanan dibandingkan dengan anak yang suka rela mencobanya. Anak yang dihukum tidak makan makanan kesukaannya juga malah akan semakin menginginkan makanan tersebut. Tugas orang tua adalah menyediakan makanan sehat, dan biarkan anak memilih dan menentukan sendiri jumlah makanan yang diinginkannya.
K= Kurus?
Benarkah si kecil kurus? Membandingkan berat badannya dengan teman-teman sebaya bukanlah cara akurat untuk memastikan kurus. Sebab ada anak yang memang berperawakan pendek dan ada pula yang tinggi.
Mengukur berat badan selain berdasarkan umur, idealnya berat badan juga dibandingkan dengan tinggi atau panjang badannya. Terkadang si kecil memang punya berat badan lebih ringan dari sebayanya tetapi bila dilihat dari panjang badannya, mungkin ia sebenarnya normal.
Penilaian kurus atau tidaknya seorang anak juga ditentukan oleh banyak hal antara lain tebal lemak dan ukuran lingkar lengannya. Jadi, sebelum anak divonis kurus, konsultasikan terlebih dulu dengan dokter.
L= Lemak
Lemak mutlak diperlukan oleh bayi yang relatif makan lebih sedikit daripada anak atau pun orang dewasa. Kebutuhan lemak untuk anak 1-3 tahun adalah 30-40% dari jumlah kalori sehari, sedangkan anak usia 4-18 tahun sebesar 25-35%. Lemak dibutuhkan untuk melarutkan beberapa jenis vitamin, untuk membangun sel termasuk sel saraf, untuk pertumbuhan otak, dan juga sebagai cadangan energi.
M= Menolak makan
Proses makan merupakan hasil interaksi, dan tidak melibatkan anak saja. Jangan salahkan anak bila ia menolak makan, bila faktor lain tak terpenuhi. Misalnya, suasana makan, jenis makanan yang diberikan, cara pemberiannya, stres, temperamen anak dan perkembangan keterampilannya turut berperan. Faktor budaya seperti memberi pisang yang dihaluskan pada bayi baru lahir akan mempengaruhi perkembangan keterampilan makan si kecil. Orang tua yang memaksa anaknya makan padahal ia tak lapar, atau anak yang selalu disuapi juga bisa menjadi salah satu sebab anak sulit makan. Jangan lupakan pula kondisi anak apakah ia sedang sakit atau tidak seperti bayi yang pilek bisa menolak makan karena pernapasannya terganggu.
N= Nutrisi anak aktif
Ketika si kecil mulai bersekolah dan menghabiskan separuh waktu siangnya di sana, ia butuh nutrisi lebih. Mereka butuh menu makan siang yang dapat memenuhi sepertiga dari kebutuhan energi, protein, vitamin A, vitamin C, zat besi, dan kalsium. Tanamkan pentingnya nutrisi bergizi, dan jangan biasakan mengganti dengan jajan. Pastikan ia mendapat sarapan sarat gizi agar dapat belajar optimal. Sarapan yang disarankan adalah segelas susu, satu porsi buah atau sayur, lauk pauk, dan sumber karbohidrat seperti sereal-sarapan roti, mie, atau nasi.
O= Obat penambah nafsu makan
Curcuma sudah diteliti dapat menambah nafsu makan. Kekurangan zinc dapat juga mengurangi nafsu makan. Sebaiknya jangan tergoda untuk buru-buru membeli suplemen yang mengklaim bisa menambah nafsu makan anak, karena belum tentu ia membutuhkannya. Konsultasikan dulu dengan dokter anak Anda.
P= Pilih-pilih makanan
Menurut sebuah studi, picky eaters (anak yang suka pilih-pilih makanan) biasanya diberi ASI kurang dari 6 bulan hingga pemberian ASI lebih dari 6 bulan diharapkan dapat mencegahnya dari pilih-pilih makanan. Studi juga menunjukkan jumlah makanan yang disukai anak tak akan banyak berubah dari usia 2-3 tahun sampai usia 8 tahun. Hingga anak yang sudah terlanjur pilih pilih makanan pada usia tersebut, akan lebih sulit diubah. Jadi, mengenalkan menu baru saat usianya dua hingga empat tahun akan lebih diterima ketimbang setelah usia empat tahun.
R= Rentan sakit
Beberapa elemen nutrisi akan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Yang sudah diteliti antara lain antioksidan seperti selenium, vitamin C, A, E, zinc. Anak yang kekurangan nutrisi lebih mudah sakit. Begitu juga anak yang tidak minum ASI.
S= Sering muntah
Anak yang sering muntah juga akan mempengaruhi status nutrisinya. Ada batasan kapan anak muntah dikatakan patologis, pastinya periksakan dokter.
T= Tidak suka sayur
Kesukaan anak terhadap sayur dan buah dibentuk sejak bayi, terutama ketika ia mulai makan sama dengan orang di sekitarnya. Menurut ahli, anak yang diberi variasi makanan dan sering melihat Anda makan sayuran akan lebih suka sayur. Tawarkan berbagai macam sayur, berulang-ulang dan konsisten, sampai anak Anda mau mencobanya. Cara lain adalah menyelipkan sayuran dalam makanan yang disukainya, misalnya bakso daging yang diberi wortel.
Sebagai ukuran untuk balita, satu porsi sayuran kurang lebih satu sendok makan dikalikan usia dan setengah potong buah segar. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, satu porsi adalah satu potong buah atau satu cangkir sayuran mentah. Dalam satu hari, disarankan seorang anak mengonsumsi dua porsi buah dan tiga porsi sayuran.
U= Utamakan kenyamanan saat makan
Yang satu ini sering terlupakan. Orangtua hanya berpikir, “Hmm, waktu makan telah tiba dan anak harus makan!” Wah, tak perlu kaku begitu. Sebaiknya ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Misalnya mengajak anak makan di teras belakang rumah, di depan ikan mas koki yang berwarna-warni. Anda perlu sedikit “aktif berbicara” mengajaknya berbincang.
V= Variasi menu sehari
Sama seperti Anda, si kecil pun bisa bosan dengan jenis makanan yang itu-itu saja. Ayo sedikit kreatif. Nggak susah kok, tergantung kemauan Anda. Mau cara gampang, buka saja buku aneka resep bubur bayi, atau bertanya kepada orang-orang sekitar.
W= Waktu makan yang teratur
Keteraturan makan perlu diperkenalkan sejak dini. Idealnya anak makan tiga kali sehari dengan dua selingan di antaranya. Membiasakan si kecil makan sesuai jadwal akan membuat pencernaannya lebih siap dalam mengeluarkan hormon dan enzim yang dibutuhkan untuk mencerna makanan yang masuk.
X= X-tra hati-hati
Pengukuran berat badan setiap bulan pada bayi dan balita dapat menjadi deteksi dini apakah ia punya masalah kesehatan. Bila berat badannya tidak naik dua bulan berturut-turut sedangkan Anda telah memberinya nutrisi bergizi, hati-hati terhadap kondisi kesehatannya. Beberapa penyakit seperti tuberkulosis dan infeksi saluran kemih dapat menyebabkan gangguan makan dan berat badannya tak naik-naik. Beberapa masalh hormon, kelainan kromosom juga bisa menyebabkan berat badan dan tinggi badannya tidak naik seperti anak normal lainnya.
Y= Yodium
Meskipun dibutuhkan dalam jumlah kecil, yodium adalah zat gizi vital untuk kecerdasan anak. Sumber utama yodium adalah makanan laut, juga lewat suplementai (misalnya garam beryodium).
Z= Zinc
Zinc atau zat seng sudah terbukti meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah anak dari diare. Kandungannya tinggi pada makanan kaya protein seperti kerang, daging, daging unggas, dan hati, juga pada kacang-kacangan dan produk gandum. Kekurangan zat ini dapat menyebabkan anak kurang nafsu makan dan mudah sakit.
Sumber: Sahabat Nestle
Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN
TIDAK dinafikan kanak-kanak yang terlalu gemuk merunsingkan ibu bapa. Terdapat banyak pendapat berhubung punca kegemukan yang dikemukakan penyelidik kanak-kanak.
Ia begitu kompleks dengan kebanyakannya mempunyai kaitan dengan pemakanan, baka, fizikal, psikologi dan sosial.
Kebanyakan penyelidik berpendapat bayi yang gemuk mempunyai risiko tinggi untuk terus gemuk ketika mereka semakin dewasa.
Adakah kegemukan ibu bapa juga bahaya?
Tidak dinafikan kegemukan di kalangan orang dewasa boleh menyebabkan risiko untuk mengalami darah tinggi, serangan jantung, kencing manis dan penyakit sendi.
Untuk mengelakkan ia berlaku, pencegahan perlu dilakukan sejak di peringkat kanak-kanak atau bayi.
Jika susu diberi secara berlebihan, ia boleh mengakibatkan bayi menjadi gemuk. Terdapat penyelidikan menunjukkan kumpulan kanak-kanak diberikan susu formula lebih gemuk daripada kanak-kanak diberikan susu ibu.
Ibu yang memberi susu formula selalu menggalakkan bayi mereka menghabiskan susu dalam botol tanpa mengambil kira bayi itu mengantuk atau kekenyangan.
Jika susu yang lebih pekat diberikan kepadanya bermakna kalori bertambah dan ini boleh menyebabkan tubuh bayi menjadi gemuk.
Satu punca utama membawa kepada kegemukan ialah ibu memulakan makanan peralihan seperti pepejal terlalu awal dari usia sepatutnya. Ini menyebabkan bayi mendapat jumlah kalori tinggi sebelum waktunya.
Kadangkala telur atau daging dalam bubur yang dihancurkan boleh menyebabkan bayi menerima kalori tinggi.
Penyelidikan yang dijalankan mendapati bayi yang mendapat susu badan lebih aktif, kurang tidur dan lebih mendapat stimulasi berbanding susu formula.
Begitu juga, cara ibu memberi makan bayinya boleh menentukan kegemukan atau keadaan bayi yang tidak subur.
Mereka yang kurang berpengalaman boleh memberi bayi dengan bancuhan kurang padat atau membiarkan bayi terus tidur walaupun sepatutnya tiba waktu minum susu.
Pakar kanak-kanak mendapati ramai bayi yang gemuk lebih kerap mendapat penyakit paru-paru. Ini mungkin ada kaitan dengan kekurangan fungsi pernafasan akibat kegemukan. Ada kemungkinan kuasa perlindungannya lebih rendah daripada kanak-kanak biasa.
Ada tiga perkara asas yang perlu diambil kira dalam usaha merawat kegemukan. Pertama ialah motivasi, kedua mengurangkan kalori makanan dan ketiga melebihkan aktiviti jasmani.
Motivasi tidak mudah untuk disemai dalam fikiran kanak-kanak yang gemuk. Ibu bapa berperanan untuk menggalakkan anak-anak supaya kurang makan.
Mengurangkan jumlah kalori yang diambil setiap hari melalui makanan sangat penting. Kanak-kanak mestilah mengetahui makanan yang tinggi kalorinya supaya boleh mengelak daripada mengambilnya.
Disarankan supaya bahan makanan seperti mentega dan minuman manis dikurangkan. Mengawasi makanan kanak-kanak di bawah usia lima tahun mungkin lebih sukar.
Corak hidup kanak-kanak mesti diambil kira iaitu bukan hanya riwayat makanan dalam tempoh 24 jam diteliti tetapi aktiviti jasmaninya juga perlu diambil kira.
Kanak-kanak yang kerap tidur pada waktu siang atau menonton televisyen di rumah perlu digalakkan menjalankan pelbagai aktiviti.
Kegemukan jika berterusan boleh membawa masalah kepada kesihatan tubuh kanak-kanak. Ia juga boleh memberi masalah emosi. Apabila kanak-kanak menempuh alam remaja, perasaan kurang yakin pada diri dan rendah diri boleh mengganggu pergaulannya.
Justeru itu, ibu bapa perlu memainkan peranan dalam mengawal pemakanan anak-anak sejak awal supaya mereka tidak berdepan masalah kegemukan apabila
Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN
Rekomendasi Pencegahan Obesitas Pada Anak Berdasarkan Usia
1/25/2007
|
Usia |
Rekomendasi |
|
0 – 1 tahun |
ASI sangat membantu dalam menjaga peningkatan berat badan. Bayi dengan ASI dapat mengontrol kapan ingin mengkonsumsi dan mengikuti keinginannya sendiri ketika lapar. |
|
2- 6 tahun |
Sedini mungkin kenalkan dengan kebiasaan yang sehat. Ajak anak untuk lebih aktif dan berikan beragam makanan sehat. Mungkin butuh usaha lebih agar anak dapat menerima beragam makanan, namun jangan menyerah. |
|
7 – 12 tahun |
Rangsang anak agar lebih aktif setiap hari, dapat dengan kegiatan berkelompok seperti olahraga atau permainan-permainan sehat lainnya. Ajak anak juga tetap aktif dirumah, melalui kegiatan seperti berjalan, bermain di halaman dan juga ajak mereka untuk terlibat ketika membuat makanan sehat. |
|
13 – 17 tahun |
Remaja cenderung menyukai makanan siap saji. Cobalah untuk mengarahkan mereka untuk beralih menyukai makanan yang lebih sehat seperti buah, sayur, serealia. Batasi makanan siap saji dengan kalori tinggi. Ajak untuk lebih aktif setiap hari, jika anak Anda tidak ikut serta dalam klub olahraga, sarankan mengikuti kegiatan yang lebih individual seperti lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain-lain. |
|
Pada segala usia |
Kurangi waktu untuk menonton TV, komputer dan video game serta kurangi camilan pada saat melakukan kegiatan tersebut. Berikan makanan sehat sesering mungkin. Coba untuk selalu memberikan buah dan sayuran, dan ajak anak untuk selalu sarapan setiap hari. Tetap rangsang anak untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Namun jangan paksa anak pada satu jenis olahraga atau aktivitas, tapi bantulah mereka untuk menemukan yang mereka suka dan dukung mereka. |
Sumber
Overweight and Obesity. www.kidshealth.org
Raising Vegan Children…
A vegan does not eat any foods that contain animal products. This means no beef, chicken, fish, pork or veal; no milk, cheese, butter, eggs, sour cream, or cottage cheese. Instead a vegan eats fruits, vegetables, nuts, grains and legumes.
Is a vegan diet healthy for an active, growing child? Absolutely. Children raised on a vegan diet eat more fruits and vegetables than their meat-eating counterparts. They are sick less often, and don’t have as many food allergies. Even vegan junk food is healthier than regular junk food, containing fruit juice instead of sugar, and whole wheat flour instead of white flour. Family and friends may worry that your child will be ostracized at school if he brings tofu and sprouts. So send your child to school with a peanut butter and jelly sandwich, apple, carrots, and fruit- sweetened cookies and no one will know your child is eating a “special” diet. At birthday parties, find out what the host is serving and drop your child off with the vegan equivalent of those items.
Feeding Vegan Babies
The breast milk of vegan women is refreshingly void of many toxins and pesticides that are found in the breast milk of meat-eating women. This affords a vegan baby an even better chance for short and long term health.
Feeding Vegan Infants
The first foods any child eats are usually mashed fruits, soft veggies, and iron fortified rice cereals. All of these items are vegan so nothing special needs to be said for starting solids. Avoiding cow’s milk and eggs are probably good advice for the first year of any child’s life anyway. After that, simply give your vegan child samples of food from your own plate and see what she likes.
Feeding Vegan Children
As your child gets older you can incorporate the things most kids enjoy eating. Below are some suggestions for things most vegan children will enjoy and will ensure that he has a well balanced and varied diet:
- Spaghetti with tomato sauce
- Peanut butter and jelly sandwiches
- Chicken-Free nuggets (soy protein nuggets that taste just like breaded chicken)
- Baked french fries with ketchup
- Burgers, hot dogs and sandwich slices made of tofu and other meat substitutes
- Whole wheat bread (3-4 slices each day)
- Grilled soy cheese sandwiches
- Mashed potatoes
- Veggie pizzas with soy cheese
- Oatmeal with apples and cinnamon
- Pancakes with pure maple syrup
- Waffles with fruit
- Barley and vegetable soup
- Romaine lettuce salad
- Vegetables, including green leafy and deep yellow vegetables
- Baked potato with broccoli and tofu sour cream (non dairy)
- Rice and beans
- Vegetable stew
- Spinach lasagna
- Calcium-fortified orange juice
- Calcium-fortified soy milk (3 cups each day).
- Iron-fortified cereal with calcium-fortified soy milk
- supplements: a vegan multivitamin to provide Vitamin B12 and zinc, and extra iron and calcium
Snacks:
- Fruits, cut up into bite sized pieces for children under 4 (4-5 1/2 cup servings with at least 2 servings of citrus fruit or juice each day)
- Raisins
- Trail mix
- Applesauce
- Fresh berries and sorbet (all fruit without sugar)
- Fruit smoothies
- Popcorn
- Vegans can’t eat white sugar, and most candy is made with it. But there are some vegan chocolate companies that make some good stuff, and a gummy bear substitute that isn’t bad made with fruit juice. Vegan cakes, donuts, cookies, and pies are abundant though.
Is a Vegan Diet During Pregnancy Safe?
During pregnancy it is vital to maintain a healthy diet for the safety of the developing fetus. Pregnant vegans have a tremendous advantage since their diet is naturally high in the vitamins and minerals the baby needs. As long as her diet is varied and incorporates a reliable source of B12, a vegan woman can be reasonably sure she is meeting her daily requirements. A visit to a registered dietician who specializes in vegan diets can help ease her mind if she is unsure of her particular diet. Also read Pregnancy, Children, and the Vegan Diet by Dr. Michael Klaper, the bible for pregnant vegans.
Suggested foods
It is important to eat a varied diet during pregnancy to ensure an adequate supply of many vitamins and minerals. Below is a list of some food choices that are healthy and rich in the nutrients a woman needs during pregnancy. These items are good choices even for non-vegan women.
- Breakfast:
- Whole grain cereal with soy milk
- Whole grain pancakes with pure maple syrup
- Fruit smoothies
- Oatmeal with dried fruit or apples and cinnamon
- Whole wheat toast with all fruit preserves
- Lunch:
- Romaine lettuce salad with chopped vegetables and low fat dressing
- Veggie sandwich on whole grain bread with avocado, lettuce, tomato, and onions.
- Baked potato with broccoli and tofu sour cream (non dairy)
- Falafel sandwich with humus or tahini
- Split-pea soup
- Dinner:
- Whole wheat pasta with marinara sauce
- Sweet potatoes
- Vegetarian pizza with no cheese
- Vegetable stir fry with brown rice
- Potato-lentil stew
- Vegetable stew
- Spinach lasagna
- Snacks:
- popcorn with nutritional yeast
- dried fruits
- grapes
- fruit juice with sweetened cookies
- nuts
- trail mix
Handling The Opinions of Others
It isn’t always easy being a vegan. Not everyone understands the nature of the diet or how healthy it really is. The best way to deal with people who challenge the safety of a vegan diet is to arm yourself with information. Read Diet For A New America by John Robbins. This book provides wonderful documentation of the ill effects of the standard American diet and describes how healthy a plant based diet is. Also, when dealing with the opinions of family and friends, remember that you don’t take medical advice from your insurance broker, so don’t take advice about diet from anyone isn’t an expert.
Handling Holidays
It’s important that a vegan child not feel different just because their diet may not be shared by those around them. During holidays it’s wise to find vegan equivalents to favorite holiday treats. For example, a vegan Easter basket can include vegan chocolate eggs and plastic eggs with coins in them. Halloween can be tough, but one idea is to get together with other vegan parents and have a Halloween party. Let the kids dress up in costume and enjoy activities like bobbing for apples. Serve vegan cupcakes and confections in the shapes of monsters, and carve pumpkins too. With a little forethought and creativity, a vegan child can enjoy the same holidays non-vegan children do.
Bottom Line
Raising a vegan child is just as exciting, rewarding, and filled with challenges as raising any child. But providing your child a vegan diet will give him an early start on leading a long and healthy life.
More Information
For more information on raising healthy vegan children, pregnancy, and vegan parenting, visit the VegFamily website at www.vegfamily.com.
Editor’s Note and Disclaimer:
Although not for everybody, a vegan diet does indeed have many health benefits, and if planned appropriately, it can be a healthy diet for children. Parents, especially if they are vegans, can feel reassured that they can raise their kids to be vegans too. The article mentions that children raised on a vegan diet are ’sick less often’ and that the breast milk of women on a vegan diet is ‘void of many toxins and pesticides,’ and that this may give ‘a vegan baby an even better chance for short and long term health.’ These comments are the opinions of the author and have not been confirmed by medical or scientific studies. The purpose of this article is more to teach parents on how to safely raise a child as a vegan and not to convert all parents to this type of diet.
The foods that are part of a vegan diet are low in cholesterol and saturated fats and they are high in fiber (all characteristics of a healthy diet) and may lead to a lower risk of obesity, heart disease, high blood pressure and Type II diabetes. And since most of the foods that people are allergic to (cow’s milk, egg whites, seafood, poultry) aren’t part of the vegan diet, your child is much less likely to suffer from food allergies. These health benefits led Dr. Spock to recommend a strict vegan diet for all children over the age of 2. This proposal created a lot of controversy, but not because experts disputed the health benefits of a vegan diet, but rather because they thought that parents might not take enough time and effort to plan a vegan diet that included enough calories, minerals and nutrients to ensure optimal growth in their children. Some areas that you should pay special attention to if your child is on a vegan diet include:
- Calories. Vegan diets may have less calories than diets that include meat and dairy products. Although it isn’t necessary to count calories each day, you should ensure that your child is receiving enough calories for their optimal growth. In general, if your child is eating a well balanced and varied vegan diet, is gaining weight and developing normally and is active, with a lot of energy, then he is probably getting enough calories.
- Vitamin B12. This vitamin is only absorbed from animal products, so your child will need to take supplements or eat foods that are fortified with Vitamin B12 (check nutrition labels), including fortified soy milk and some meat substitutes. Also, nutritional yeast as a great way to get B-12.
- Vitamin D. This vitamin is present in fortified milk, egg yolks, and fish. Your body also makes Vitamin D when exposed to sunlight, so most children do not have problems with Vitamin D deficiency. If your child is not exposed to the sun very often, then you should consider Vitamin supplements or a soy milk that is fortified with Vitamin D.
- Calcium. Calcium is a mineral that is mostly present in your child’s bones. Having a diet with foods that are high in calcium to meet daily requirements is necessary for the development of strong bones. It is also an important way to prevent the development of osteoporosis in adults. Many vegetables contain calcium, especially broccoli, sweet potatoes, great northern and navy beans, and leafy greens. You can also give your child soy milk or orange juice that is fortified with extra calcium.
- Protein. You can make sure that your child gets enough protein and amino acids by eating a good balance of grains and legumes.
Zinc. Your child will need to take supplements or eat foods that are fortified with zinc to get enough of this important mineral, since the best sources of zinc are meat and yogurt. Zinc is also found in whole grains, brown rice, legumes, and spinach.
Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN
Jangan biarkan bila anak maunya makan makanan itu-itu saja. Itu namanya anak mengalami peaky eater. Ada dampak buruknya. Jenis makanan itu-itu saja membuat anak tak mendapat aneka zat gizi yang dibutuhkannya.
Bila makan dengan lauk semur ayam dan telur dadar, Vanya (1,5 th) lahap bukan main. Vania sampai senang, hampir tiap harus menyediakannya. Tubuh Vanya montok karena senang makan. “Kalau saya sediakan lauk pauk lain, entah itu daging, ikan, sayur bayam, Vanya nggak suka. Makanannya suka dilepeh-lepehkan. Jadi ya sudah saya bikin semur aja terus dan telur dadar, toh itu juga bergizi ya.” Tapi, yang diherankan Vania, sejak mulai mendapat makanan padat sampai sekarang, Vanya tetap maunya makanan itu-itu saja. “Mulai deh saya merasa repot. Terutama kalau ngajak Vanya bepergian, belum tentu kan ketemu semur ayam atau telur dadar. Akhirnya kalau pergi cuma minum susu atau camilan saja. Ternyata repot deh kalau anak maunya makan itu-itu saja,” lanjut Vania.
Tak hanya repot lho, tapi juga dapat berdampak bunk bagi kesehatan dan selera anak. Apalagi tahun-tahun pertama ini merupakan fondasi anak membentuk selera terhadap makanan. Bila seleranya hanya itu-itu saja, bisa terus menetap atau menyulitkannya beradaptasi dengan makanan baru.
Mengapa Peaky Eater
Anak akan disebut peaky eater bila ia hanya mau makan itu-itu saja. Makanan baru atau variasi makanan sulit diterimanya. Children Nutritional Research Center, Texas, menyebut anak yang mengonsumsi satu jenis makanan saja dalam waktu yang lama atau peaky eating-nya menetap, juga disebut food jag.
Biasanya, menurut peneliti di lembaga tersebut, hal ini terjadi aldbat pemberian makan yang salah. Pada usia-usia pertama mendapat makanan padat, anak sebenamya sedang mengembangkan seleranya akan berbagai rasa. Diberi apapun anak akan menerima dan mencobanya. Adakalanya orangtua seperti Vania yang melihat anak begitu lahap makan berlauk pauk semur dan telur dadar, salah memahami hal ini. Apalagi ketika memberi lauk pauk lain si kecil tak selahap ketika makan semur dan telur dadar, dianggapnya ia cocok dengan lauk itu saja. Sampai, ia terjebak memberinya lagi, memberinya lagi, tahu-tahu si kecil ‘fanatik’ dengan jenis makanan itu-itu saja.
Artinya, pemberian makanan itu sangat besar artinya. Sebab, bila anak sudah terjebak pada makanan yang itu-itu saja, anak makan kehilangan beberapa zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi masa tumbuhkembangnya. Semua orang apalagi anak-anak membutuhkan tuhkan makanan yang dapat memenuhi kebutuhannya. Makanan bervariasi lah yang hams diterimanya. Dari mulai sayur-sayuran, daging, susu, hingga buah-buahan, harus seimbang. Bila Anda terus biarkan, bisa menjurus ke malnutrisi atau kurang gizi. Sebab yang didapatnya hanya satu dua macam gizi saja, zat-zat zat gizi lainnya?
Yang berperan dalam memerangkap selera si kecil menjadi peaky eating adalah cara Anda memberinya makanan. Selain Anda, adalah orang yang sehari-hari mengasuh anak. Bisa nenek kakeknya, tante omnya, atau pengasuhnya.
Ini sesuai dengan yang diungkap dalam suplemen di Journal of the American Dietic Association, Amerika. Menurutnya, beberapa-temuan dan referensi menunjukkan besarnya pengaruh orang yang mengasuh anak sehari-hari, terutama pengasuhnya. Jika orangtua dan pengaruh biasa makan . kentang goreng (di Indonesia mie instant), atau pengasuh suka jajan bakso, siomay, minum sirup, dsb, maka pelan-pelan selera anak pun akan mengikuti pengasuhnya.
Tak jarang pengasuh membuatkan makanan yang itu-itu raja. Karena dipikirnya si kecil doyan, kenapa harus berubah? Bagaimana pun memberi makanan baru atau berbeda-beda pasti perlu upaya lebih keras. Tapi, apakah Anda harus ‘kalah’ dari pengasuhnya, dan membiarkan si kecil jadi malnutrisi? Mulai sekarang, selain bikinkan menu, juga intiplah apa yang dimasak pengasuh. Siapa tahu berbeda dari pesanan Anda.
Sulit Menerima Perubahan
Anak-anak batita adalah anak-anak yang sulit menenma perubahan. Karena itu kemungkinan menjadi peaky eater sangat bisa terjadi. Namun ada beberapa pakar yang menyebut bahwa, pada suatu saat perut anak akan berubah dan ia akan mencoba-coba makanan baru.
Namun penelitian Children Research Center tidak menghasilkan demikian. Justru karena anak sulit menerima perubahan sehingga selera dan perutnya tak mudah bergeser. Membutuhkan waktu lama bila anak sudah menjadi peaky eating.
Yang paling berpengaruh adalah, jangan biarkan anak mengonsumsi makanan itu-itu saja. Berikan makanan yang bervariasi, ganti-ganti menu setiap hari, itulah bekalnya dalam memahami dan menerima perubahan.
Menormalkan Selera Makan si Kecil
Sudah terlanjur jadi peaky eater? Bukan berarti terus Anda biarkan. Ada cara menormalkannya kok:
• Gantilah Menu-nya tapi siap-siaplah menerima penolakannya. Mula-mula pasti anak akan menolaknya, Anda harus sabar dan menerimanya. Tetaplah bujuk-rayu ia. Tapi hindarkan memaksa ya.
• Bila anak tetap menolak, berikan menu lamanya tapi tambahkan dengan variasi lain. Misal semur ayam ditambah wortel dan buncis. Atau telur dadar dengan irisan bayam. Atau semur ayam dengan oseng-oseng sayuran.
• Perlahan-lahan sisihkan menu lamanya ganti dengan yang baru. Agar anak menerima suapi anak dengan memberinya aneka mainan. Mainan dapat menyibukkannya sehingga tak memperdulikan makanannya. Tinggal disodorkan sambil bilang “aa..”
• Berikan anak makanan yang bervariasi, baik yang baru maupun yang telah dikenal anak.
• Hindarkan memaksa anak menghabiskan makanannya. Baik dengan katakata, maupun ancaman psikologis berupa menunjukkan pemukul misalnya.
Sumber: Tabloid Ibu & Anak
Diarsipkan di bawah: POLA MAKAN
Overweight and Obesity
Defining Overweight and Obesity
Overweight and Obesity Among Adults
Results of the National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) 1999–2000 indicate that an estimated 64 percent of U.S. adults are either overweight or obese, defined as having a body mass index (BMI) of 25 or more.
Overweight
Overweight refers to increased body weight in relation to height, when compared to some standard of acceptable or desirable weight (NRC p.114; Stunkard p.14). NOTE: Overweight may or may not be due to increases in body fat. It may also be due to an increase in lean muscle. For example, professional athletes may be very lean and muscular, with very little body fat, yet they may weigh more than others of the same height. While they may qualify as “overweight” due to their large muscle mass, they are not necessarily “over fat,” regardless of BMI.
Desirable weight standards are derived in a number of ways:
- By using a mathematical formula known as Body Mass Index (BMI), which represents weight levels associated with the lowest overall risk to health. Desirable BMI levels may vary with age.
- By using actual heights and weights measured and collected on people who are representative of the U.S. population by the National Center for Health Statistics. Other desirable weight tables have been created by the Metropolitan Life Insurance Company, based on their client populations.
These sources are consistent with the U.S. Dietary Guidelines and with the National Heart, Lung, and Blood Institute’s Clinical Guidelines on the Identification, Evaluation, and Treatment of Overweight and Obesity in Adults.
Obesity
Obesity is defined as an excessively high amount of body fat or adipose tissue in relation to lean body mass. (NRC p114; Stunkard p14) The amount of body fat (or adiposity) includes concern for both the distribution of fat throughout the body and the size of the adipose tissue deposits. Body fat distribution can be estimated by skinfold measures, waist-to-hip circumference ratios, or techniques such as ultrasound, computed tomography, or magnetic resonance imaging.
Overweight and Obesity Among Children and Adolescents
- The percentage of children and adolescents who are defined as overweight has more than doubled since the early 1970s.
- About 15 percent of children and adolescents are now overweight.
In spite of the public health impact of obesity and overweight, these conditions have not been a major public health priority in the past. Halting and reversing the upward trend of the obesity epidemic will require effective collaboration among government, voluntary, and private sectors, as well as a commitment to action by individuals and communities across the nation.
BMI is a common measure expressing the relationship (or ratio) of weight-to-height. It is a mathematical formula in which a person’s body weight in kilograms is divided by the square of his or her height in meters (i.e., wt/(ht)2. The BMI is more highly correlated with body fat than any other indicator of height and weight (NRC p563).
Individuals with a BMI of 25 to 29.9 are considered overweight, while individuals with a BMI of 30 or more are considered obese.
What BMI levels are risky?
According to the NIH Clinical Guidelines on the Identification, Evaluation, and Treatment of Overweight and Obesity in Adults, all adults (aged 18 years or older) who have a BMI of 25 or more are considered at risk for premature death and disability as a consequence of overweight and obesity. These health risks increase even more as the severity of an individual’s obesity increases.
Waist circumference is a common measure used to assess abdominal fat content. The presence of excess body fat in the abdomen, when out of proportion to total body fat, is considered an independent predictor of risk factors and ailments associated with obesity.
What waist size is risky? Undesirable waist circumferences differ for men and women.
- Men are at risk who have a waist measurement greater than 40 inches (102 cm).
- Women are at risk who have a waist measurement greater than 35 inches (88 cm).
NOTE: If a person has short stature (under 5 feet in height) or has a BMI of 35 or above, waist circumference standards used for the general population may not apply.
Waist-to-hip ratio (WHR) is the ratio of a person’s waist circumference to hip circumference, mathematically calculated as the waist circumference divided by the hip circumference. For most people, carrying extra weight around their middle increases health risks more than carrying extra weight around their hips or thighs. (NOTE: Overall obesity is still more risky than body fat storage locations or waist-to-hip ratio.)
What waist-to-hip ratio is considered risky?
For both men and women, a waist-to-hip ratio of 1.0 or higher is considered “at risk” or in the danger zone for undesirable health consequences such as heart disease and other ailments connected with being overweight.
What is a good waist-to-hip ratio?
For men, a ratio of .90 or less is considered safe.
For women, a ratio of .80 or less is considered safe.
Stunkard AJ, Wadden TA. (Editors) Obesity: theory and therapy, Second Edition. New York : Raven Press, 1993.
National Research Council. Diet and health: implications for reducing chronic disease risk. Washington , DC : National Academy Press, 1989.
National Institutes of Health. Clinical guidelines on the identification, evaluation, and treatment of overweight and obesity in adults. Bethesda , Maryland : Department of Health and Human Services, National Institutes of Health, National Heart, Lung, and Blood Institute, 1998.
http://www.surgeongeneral.gov/topics/obesity/calltoaction/fact_adolescents.htm
The Surgeon General’s Call To Action To Prevent and Decrease Overweight and Obesity
Overweight in Children and Adolescents
THE PROBLEM OF OVERWEIGHT IN CHILDREN AND ADOLESCENTS
In 1999, 13% of children aged 6 to 11 years and 14% of adolescents aged 12 to 19 years in the United States were overweight. This prevalence has nearly tripled for adolescents in the past 2 decades.
Risk factors for heart disease, such as high cholesterol and high blood pressure, occur with increased frequency in overweight children and adolescents compared to children with a healthy weight.
Type 2 diabetes, previously considered an adult disease, has increased dramatically in children and adolescents. Overweight and obesity are closely linked to type 2 diabetes.
Overweight adolescents have a 70% chance of becoming overweight or obese adults. This increases to 80% if one or more parent is overweight or obese. Overweight or obese adults are at risk for a number of health problems including heart disease, type 2 diabetes, high blood pressure, and some forms of cancer.
The most immediate consequence of overweight as perceived by the children themselves is social discrimination. This is associated with poor self-esteem and depression.
THE CAUSES OF OVERWEIGHT
Overweight in children and adolescents is generally caused by lack of physical activity, unhealthy eating patterns, or a combination of the two, with genetics and lifestyle both playing important roles in determining a child’s weight.
Our society has become very sedentary. Television, computer and video games contribute to children’s inactive lifestyles.
43% of adolescents watch more than 2 hours of television each day.
Children, especially girls, become less active as they move through adolescence.
DETERMINATION OF OVERWEIGHT IN CHILDREN AND ADOLESCENTS
Doctors and other health care professionals are the best people to determine whether your child or adolescent’s weight is healthy, and they can help rule out rare medical problems as the cause of unhealthy weight.
A Body Mass Index (BMI) can be calculated from measurements of height and weight. Health professionals often use a BMI “growth chart” to help them assess whether a child or adolescent is overweight.
A physician will also consider your child or adolescent’s age and growth patterns to determine whether his or her weight is healthy.
GENERAL SUGGESTIONS
Let your child know he or she is loved and appreciated whatever his or her weight. An overweight child probably knows better than anyone else that he or she has a weight problem. Overweight children need support, acceptance, and encouragement from their parents.
Focus on your child’s health and positive qualities, not your child’s weight.
Try not to make your child feel different if he or she is overweight but focus on gradually changing your family’s physical activity and eating habits.
Be a good role model for your child. If your child sees you enjoying healthy foods and physical activity, he or she is more likely to do the same now and for the rest of his or her life.
Realize that an appropriate goal for many overweight children is to maintain their current weight while growing normally in height.
PHYSICAL ACTIVITY SUGGESTIONS
Be physically active. It is recommended that Americans accumulate at least 30 minutes (adults) or 60 minutes (children) of moderate physical activity most days of the week. Even greater amounts of physical activity may be necessary for the prevention of weight gain, for weight loss, or for sustaining weight loss.
Plan family activities that provide everyone with exercise and enjoyment.
Provide a safe environment for your children and their friends to play actively; encourage swimming, biking, skating, ball sports, and other fun activities.
Reduce the amount of time you and your family spend in sedentary activities, such as watching TV or playing video games. Limit TV time to less than 2 hours a day.
HEALTHY EATING SUGGESTIONS
Follow the Dietary Guidelines for healthy eating (www.health.gov/dietaryguidelines).
Guide your family’s choices rather than dictate foods.
Encourage your child to eat when hungry and to eat slowly.
Eat meals together as a family as often as possible.
Carefully cut down on the amount of fat and calories in your family’s diet.
Don’t place your child on a restrictive diet.
Avoid the use of food as a reward.
Avoid withholding food as punishment.
Children should be encouraged to drink water and to limit intake of beverages with added sugars, such as soft drinks, fruit juice drinks, and sports drinks.
Plan for healthy snacks.
Stock the refrigerator with fat-free or low-fat milk, fresh fruit, and vegetables instead of soft drinks or snacks that are high in fat, calories, or added sugars and low in essential nutrients.
Aim to eat at least 5 servings of fruits and vegetables each day.
Discourage eating meals or snacks while watching TV.
Eating a healthy breakfast is a good way to start the day and may be important in achieving and maintaining a healthy weight.
IF YOUR CHILD IS OVERWEIGHT
Many overweight children who are still growing will not need to lose weight, but can reduce their rate of weight gain so that they can “grow into” their weight.
Your child’s diet should be safe and nutritious. It should include all of the Recommended Dietary Allowances (RDAs) for vitamins, minerals, and protein and contain the foods from the major Food Guide Pyramid groups. Any weight-loss diet should be low in calories (energy) only, not in essential nutrients.
Even with extremely overweight children, weight loss should be gradual.
Crash diets and diet pills can compromise growth and are not recommended by many health care professionals.
Weight lost during a diet is frequently regained unless children are motivated to change their eating habits and activity levels for a lifetime.
Weight control must be considered a lifelong effort.
Any weight management program for children should be supervised by a physician.
OBESITY RISK MAY STEM FROM PRE-BIRTH AND EARLY CHILDHOOD FACTORS
Below is a news release on the supplement to the October issue of Pediatrics, the peer-reviewed, scientific journal of the American Academy of Pediatrics (AAP).
For Release: October 4, 2004, 12:01 am (ET)
CHICAGO – A child’s risk of becoming obese may begin before birth and continue throughout infancy and early childhood – critical periods for cellular growth and development, according to research results discussed during a national conference and outlined in the October supplement to Pediatrics.
The conference, “Preventing Childhood Obesity: A National Conference Focusing on Pregnancy, Infancy, and Early Childhood Factors,” was organized by the non-profit organization Shape Up America! The Washington , DC , conference was held in December 2003.
During the last 30 years, the number of obese children and adults has grown rapidly. The percentage of children ages 6 to 11 who are overweight increased from 4 percent in the 1970s to 15 percent in 1999-2000.
Studies presented at the conference showed that a child’s size at birth and early eating habits may affect body mass and weight gain. Such critical periods, according to researchers, should be the focus of childhood obesity prevention efforts.
While large for gestational age (LGA) infants (generally greater than the 90th percentile of weight at birth) are more susceptible to high weight or high body mass index (BMI) later in life, these infants have a greater proportion of lean tissue relative to body fat and a lower risk of cardiovascular disease, stroke, hypertension, and type 2 diabetes at a given BMI.
Conversely, small for gestational age (SGA) infants have a greater percentage of body fat and a higher risk of obesity-related conditions and diseases.
Rapid infant weight gain during the first year of life increases the risk of high adult BMI, particularly for SGA infants. An early “adiposity rebound,” the time in childhood when body fat reaches a minimum and then rises – usually between ages 5 and 6 – also increases adult obesity risk.
Breastfeeding may prevent obesity later in life, according to the supplement, as can a parent’s encouragement of healthy eating during the toddler and early childhood years. Increased activity and decreased television viewing were also encouraged.
The conference recommended more research on the effects of breastfeeding and formula, early exposure to flavors and food groups, and parental feeding styles on later child behavior, food choices and body weight. Increased monitoring of pediatric weight and improved tools for measuring and defining obesity and body mass were also encouraged.
The American Academy of Pediatrics is an organization of 60,000 primary care pediatricians, pediatric medical subspecialists and pediatric surgical specialists dedicated to the health, safety and well-being of infants, children, adolescents and young adults.
http://www.aap.org/advocacy/releases/octobesity.htm
Assalamu’alaikum.. good night all..
Membaca postingan dari Smart Parents, saya merasa bersyukur sekali, kita adalah bagian dari bangsa ini yang merasakan nikmat kesehatan dan kesejahteraan yang Alloh berikan. Beberapa SPs menceritakan keluhannya mengenai pola dan kebiasaan makan anaknya. Bingung… karena tidak tahu jenis makanan apa yang harus diberikan kepada anaknya. Bukan bingung karena tidak bisa memberi makan anaknya. Bingung… dengan variasi makanan yang ada, harus diberikan berapa banyak dan kapan diberikannya. Bukan bingung karena tidak punya uang untuk membeli makanan. Bingung… harus memberikan susu formula merek apa. Bukan bingung karena tidak bisa membelikan susu bagi anaknya (jadi teringat lagunya Iwan Fals yang menceritakan ketidak sanggupannya membeli susu karena harga BBM naik).
Saat dinas jaga dua malam lalu, di rawat inap terbaring seorang balita berumur 2 tahun dengan BB 6 kg saja! Itupun setelah melewati masa perawatan semingguan, tentunya dengan sedikit perbaikan gizi. Balita yang dirawat di sebuah klinik cuma-cuma khusus dhu’afa (warga miskin) ini tinggal di sekitar Ciputat, yang berbatasan langsung dengan Jakarta Selatan. Ia didiagnosis busung lapar, tepatnya Kurang Energi Protein (KEP) tipe marasmus, dengan diare dehidrasi sedang. Ini adalah fakta: seorang balita dengan busung lapar di tepian Jakarta!
Barusan browsing di detik.com dan kompas.com, baru ‘ditemukan’ seorang balita 2,5 tahun dengan busung lapar juga di Jakarta Utara. Dua kasus ini jelas-jelas berasal dari keluarga ekonomi tidak mampu.
Saya kadang merasa bersyukur, bisa bekerja di tempat yang membuat saya bersentuhan langsung dengan mereka yang papa. Yang kerjanya hanya sebagai kuli bangunan–jika tidak ada proyek, maka mereka sebagai kepala keluarga menganggur yang kerjanya sebagai pedagang mainan di sebuah SD, padahal anaknya yang berumur 8 tahun menderita hipertensi grade 2 dengan penyebab yang tidak jelas; yang kerjanya sebagai tukang urut panggilan; yang kerjanya sebagai pengamen jalanan, sedangkan ia menderita diabetes melitus tipe 1 yang langka; yang kerjanya sebagai pembantu rumah tangga dan menderita DM tipe 2 dengan komplikasi; dan yang-yang lain. Mudah-mudahan saya bisa tetap ‘terjaga’ dan mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan-Nya pada saya, dengan melihat keadaan mereka.
Saya pun banyak belajar dari para SPs di milis ini. Mereka yang diberi kesempatan untuk mampu memperhatikan kesehatan dirinya dan orang-orang yang dicintainya. Buah hati mereka. Dengan tiada suatu kendala ekonomi pun. Maka sudah sepatutnya kita mensyukuri nikmat ini.
Mudah-mudahan kita semua senantiasa diberikan kemampuan untuk melihat ke sekeliling kita, yang jauh lebih kekurangan.
Awasi Pola Makan Anak Anda
Reporter: Ellyana Nurcahyanti
detikcom – Jakarta, Masih banyak orangtua mengira di dalam makanan serta minuman anak yang mengandung gula tidak tersimpan kadar kalori yang tinggi. Sebaiknya segeralah mengubah pola pikir ini.
Meskipun terbebas dari lemak sekalipun kadar kalori dalam makanan serta minuman masih tetap ada. Perhatikan dosisnya. Jangan sampai berlebihan sebab tidak baik bagi keseimbangan metabolisme tubuh untuk perkembangan dan pertumbuhan anak.
Mengkonsumsi kalori yang berlebihan dalam kehidupan sehari-hari, walaupun dalam bentuk gula, nantinya juga akan tersimpan sebagai lemak di dalam tubuh. Hal ini membuat kandungan gula atau karbohidrat dalam otak menjadi berlebihan.
Mengurangi kadar gula dalam makanan anak Anda sangat berguna untuk memperoleh tubuh yang sehat dan bebas penyakit. Jauhkan anak Anda dari minuman yang mengandung soda, minuman instant bercita rasa buah, serta aneka minuman yang mengandung pewarna. Karena jenis minuman ini dapat menaikkan kadar gula sebanyak 100 gr sehari.
Wajar adanya bagi seorang anak untuk mengkonsumsi minuman yang mengandung gula lebih dari 1000 kalori sehari. Ini dikarenakan 16 ons dari minuman tersebut mengandung 70 gr gula atau lebih. Dan hal tersebut sama saja dengan kadar gula yang terdapat di dalam 3 potong cake.
Anak-anak pada umumnya gemar mengkonsumsi jus atau minuman yang mengandung rasa buah. Meskipun minuman buah atau jus yang diminumnya itu merupakan jus buah alami tanpa bahan pengawet, namun dapat menjadi sumber kalori dan gula yang sangat besar. Misalkan saja, dalam 12 ons gelas jus anggur, terkandung di dalamnya 60 gr fructose atau gula buah serta lebih dari 200 kalori.
Hingga kini mungkin Anda berpikir bahwa asupan makanan serta minuman yang dikonsumsi oleh si kecil semata-mata berguna bagi perkembangan serta pertumbuhannya. Namun, semua itu haruslah disesuaikan dengan kondisi kesehatan anak Anda.
Sebaiknya jangan terlalu banyak memberinya makanan serta minuman yang mengandung kadar gula tinggi. Biasakan untuk mengajari anak Anda pola hidup sehat sejak dini.(msh)
sumber : detik.com
