Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Usia Berapa Anak Bisa Jalan?.
Anak ku hampir 15 bulan tetapi belum bisa jalan. Jika dilepas pasti langsung menjatuhkan badannya. Kira-kira usia berapa yang harus di waspadai untuk dibawa ke dokter? Aku berencana jika sampai 15 bulan belum jalan, aku akan bawa ke klinik tumbuh kembang soalnya takut nanti di tunggu-tunggu malah tambah lama lagi.
Berikut tanggapan dari Moms WRM beserta artikel dari tabloid Nakita:
- Bagaimana dengan kakinya? Sudah kuat kan? Mungkin masih takut jika dia tidak berpegangan. Coba saja dilatih dari satu tempat ke tempat lain yang jaraknya dekat. Jika memungkinkan bisa letakan mainan atau sesuatu yang dia suka, jadi dia terpancing untuk berjlan karena melihat mainan tersebut.
Atau bisa juga ajak main bersama anak yang lebih besar atau seumurnya yang sudah bisa berjalan. Memang harus sering dilatih dan harus sabar. Jika masih khawatir juga, tidak ada salahnya ke klinik tumbuh kembang anak. Anakku yang pertama jalan umur 18 bulan, telat memang karena dia takut. Tapi begitu sudah lepas sudah kemana-mana, karena memang sudah kuat kakinya.
- Apakah anak Mom sudah bisa berdiri sendiri? Kalau sudah mungkin dia takut, atau kakinya belum kuat, apakah badan dia besar? Banyak dilatih saja pelan-pelan, main dengan teman sebayanya, pelan-pelan tangannya dipegang, atau berdiri berpegangan sesuatu.
- Anak pertamaku karena masih baru pertama, jadi aku ngurusnya masih takut-takut dan extra hati-hati takut jatuh. Akibatnya dia baru bisa berjalan umur 18 bulan. Itu juga karena di protes oleh keluarga. Mereka bilang,”Jangan dipegangin melulu, biar dia jatuh sekali-kali jadi tahu kalau jatuh itu sakit. Jadi si anak bisa belajar untuk berjalan perlahan.”
Biasanya begitu anak dilepas dia langsung berusaha jalan cepet sementara belum terkoordinasi dengan baik kaki dengan otaknya. Nah ini yang aku terapkan ke anak ke-2, hasilnya dia lebih cepat bisa jalan. Karena dibiasakan dilepas tapi lihat situasi sekeliling musti aman. Ddan biasakan main dibawah, alasin karpet yang tidak licin. Otomatis si anak bisa belajar untuk tahu,”oh ini lantai keras bukan kasur.” Jadi dia lebih hati-hati dengan sendirinya.
- Kebetulan anakku bisa berjalan usia 13 bulan (sudah lancar) tapi sebelumnya usia sekitar 11-12 bulanan dia masih suka mencari pegangan. Biasanya aku suka membiarkan saja. Selain itu dia juga mulai belajar jalan dari box juga karena kesehariannya memang lebih banyak main di box dan kebetulan anakku juga tidak melewati tahap merangkak. Jadi habis bisa berjalan ketika capek, terkadang dia suka merangkak tetapi lucunya kalau merangkak tidak memakai lutut tapi telapak kaki & tangan penyangganya (seperti orang nungging).
- Perlihatkan mainan menarik waktu ia berdiri, agar ia mau melangkah maju ke arah mainan itu. Bantu ia berjalan dengan berpegangan pada kursi-meja yang kokoh. Mula-mula sambil dipegangi dengan dua tangan, lalu dengan satu tangan saja. Lepaskan pegangan Anda bila ia kelihatan sudah mulai terampil, sehingga ia punya kesempatan melangkah sendiri. Tentu sambil Anda tetap menjagainya. Mulanya mungkin ia hanya mau berjalan 1-2 langkah saja. Selanjutnya ia akan mampu melangkah sendiri tanpa bantuan.
Artikel dari Tabloid Nakita:
Sebagian besar bayi belum mulai berjalan pada ulang tahun pertamanya. Merujuk teori perkembangan, 25 persen anak sudah bisa berjalan di usia 11,1 bulan, 50 persen di usia 12,3 bulan dan 90 persen di usia 14,9 bulan. “Tapi pada umumnya, usia anak berjalan tak terlalu jauh berkisar antara 16-20 bulan
Cepat-lambatnya perkembangan ini disebabkan antara lain:
* Bayi yang banyak bergerak dan berotot kuat sering lebih cepat dapat berjalan dibanding bayi yang diam saja dan gemuk. Bayi dengan kaki pendek dan kokoh, juga lebih cepat mulai berjalan daripada bayi berkaki panjang dan ramping, yang sulit untuk mencapai keseimbangan tubuh.
* Bayi yang tak banyak merangkak atau sama sekali tak dapat merangkak, kadang lebih cepat dapat berjalan daripada bayi yang ahli merangkak ke seluruh penjuru rumah.
* Pengalaman negatif, mungkin jatuh parah ketika ia pertama kali melepaskan pegangan dari tangan ibunya. Ia tak akan mau mencoba lagi sampai ia sudah betul-betul kuat. Sekalinya ia mulai, ia akan langsung dapat berjalan dengan trampil, tak tertatih-tatih lagi.
* Alas kaki yang licin juga menghambat. Lebih baik tanpa alas kaki, karena bayi akan menggunakan jari-jarinya untuk mencengkeram ketika ia melangkah.
* Tak mendapatkan kesempatan berlatih berjalan karena lebih sering berada di boks bermain, terikat di kereta bayi atau pada situasi lain di mana ia tak punya kesempatan untuk mengembangkan otot-otot kakinya dan rasa percaya dirinya melalui bangun, berdiri dan merambat.
* Terlalu sering berada di baby walker, cenderung akan terlambat bisa berjalan sendiri.
* Karena paksaan orang tua yang melatihnya jalan beberapa kali sehari. Ia mungkin akan memberontak, terutama jika ia keturunan keras kepala. Kelak ia akan berjalan sendiri pada saat yang lebih lambat daripada jika ia dibiarkan belajar sendiri dan dalam waktunya sendiri.
* Langkah pertama seorang bayi yang tenaganya sudah terserap oleh infeksi telinga, flu atau penyakit lain, akan tertunda sampai ia sudah merasa lebih baik.
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Proses Perkembangan Anak
Bayi 0 – 3 bulan
Bayi perempuan lebih berlemak, bayi laki-laki lebih panjang dan keras, penelitian di Hetherington tahun 1970 mencatat tingkat kematian perempuan lebih rendah. Bayi perempuan tidak rentan terhadap penyakit hingga dewasa. Bayi Perempuan lebih trampil berbahasa, lebih banyak tersenyum 2 kali lebih banyak, dan suka ditimang-timang. Bayi laki-laki senang diajak bermain sambil tertawa. Jhon Nicholson dalam bukunya Men and Women: How Different Are They? mengungkapkan bayi usia 2 -3 bulan lebih suka meraba dibanding bayi laki-laki. 48 setelah melahirkan bayi perempuan, sang ibu lebih banyak tersenyum dan menimang bayinya ketimbang melahirkan bayi laki-laki.
Bayi 3 – 9 bulan
Bayi perempuan berusia 6 bulan bereaksi dengan cara yang berbeda dengan bayi laki-laki terhadap suara orang dewasa terutama suara wanita. Usia 8-9 bulan bayi perempuan lebih ramah terhadap suara wanita dewasa, untuk mengatasi hal ini, sebaiknya ayah melatih bayi perempuanya dengan mengajaknya berbincang atau berduaan saja.
Bayi 9 – 18 bulan
Bayi sudah pintar membedakan perempuan dan laki-laki, penelitian di Eidenburg, Jerman membuktikan bayi usia 1 tahun sudah dapat menempatkan diri sesuai jenis kelamin dengan menolak baju dan dandanan rambut. Segera setelah bayi bis bergerak dengan cara berbeda. Susan Goldberg dan Michael Lewis, Lembaga Penelitian Fels-US, melakukan pengamatan perilaku pada anak 13 bulan. Bayi perempuan pergi jauh dari ibunya, kemudian kembali untuk memastikan rasa aman. Bila pengasuhnya menghalangi, bayi perempuan itu akan menangis dan tak melakukan usaha apapun, sedangkan bayi laki-laki menangis tapi berusaha menyingkirkan orang.
Bayi laki-laki lebih menyukai permainan yang aktif, sedangkan bayi perempuan lebih suka duduk dan bermain diam-diam. Mereka memilih banyak permainan yang sama. Perempuan lebih suka memilih sayang pada boneka binatang, sedangkan bayi laki-laki memilih senjata atau bermain di luar.
Anak Dua Tahun Lebih
Di usia 2 tahun, anak suka bermain dan mulai memilih mainannya, biasanya anak laki-laki tidak antusias dan cenderung kaku ketika disodorkan mainan perempuan, sedangkan anak perempuan nampak ruang ketika disodorkan mainan anak laki-laki. Masyarakat cenderung membiarkan anak perempuan manjadi tomboy dengan memperbolehkan main mainan anak laki-laki, sedangkan anak laki-laki ditabukan main mainan anak perempuan. Bahkan, sekarang ada kencederungan orang tua hanya memberikan mainan anak perempuan pada anak perempuan dan mainan anak laki-laki pada anak laki-laki, karena takut anak mereka terbentuk menjadi homo, padahal penelitian tentang ini tak membuktikan.
Sue Sharpe, psikolog AS, melihat anak laki-laki lebih sering dihukum daripada anak perempuan. Orang tua lebih suka menyembunyikan rasa cintanya pada anak laki-laki, berebeda dengan anak perempuan, akibatnya naluri anak laki-laki yang lebih agresif, membuat dia makin agresif.
sumber: Wanita Indonesia Edisi 643/25 Februari – 3 Maret 2002
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Normalkah Pertumbuhan Bayi Anda?
Tanpa disadari bayi kecil Anda tumbuh dan berkembang dengan sangat cepat. Apalagi di sepanjang tahun pertama hidupnya. Menyaksikan setiap perubahan yang terjadi pada dirinya, pasti akan menjadi pengalaman berharga yang menyenangkan dan menakjubkan Anda. Untuk memudahkan orangtua mencermati setiap tahapan pertumbuhan si kecil, American Academy of Pediatric memberikan panduan berikut untuk Anda.
0 – 1 Bulan
Kemampuan Motorik
- Menggerakkan tangan sejauh jangkauan pandangan mata dan mulut.
- Menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan saat tidur dalam posisi tengkurap.
- Kepala terkulai jika tidak diberi penyangga.
- Tangan mengepal.
Visual
- Fokus jarak pandangan berkisar antara 8-12 inci.
- Cenderung menyukai warna hitam putih daripada pola warna-warna kontras.
- Dibandingkan objek lain, wajah manusia masih menjadi objek favoritnya.
Pendengaran
- Pendengaran telah matang sehingga dapat mengenali beberapa suara.
- Sewaktu-waktu dapat menoleh untuk mencari suara yang dikenalnya.
Penciuman dan Peraba
- Cenderung menyukai aroma yang harum dan manis dibandingkan aroma berbau tajam atau asam.
- Dapat mengenali aroma air susu ibunya.
- Cenderung menyukai permukaan yang lembut dibandingkan yang kasar dan sulit dipegang.
Segeralah hubungi dokter jika bayi Anda:
- Susah menggigit dan minum dengan lambat.
- Tidak berespon/berkedip melihat cahaya terang.
- Tidak fokus dan tidak bisa mengikuti objek yang bergerak pelan ke kiri dan ke kanan.
- Jarang sekali menggerakkan kaki dan tangannya.
- Rahang bawah sering bergetar, bahkan saat tidak menangis atau gembira.
- Tidak bereaksi terhadap suara keras.
2-3 Bulan
Kemampuan Motorik
- Mengangkat kepala dan dada saat berbaring dalam posisi tengkurap.
- Merenggangkan kaki dan menendang-nendang saat berbaring.
- Sudah dapat mengepal dan membuka tangannya.
- Memasukkan/menggerakkan tangan ke mulut.
- Dapat meraih objek/ mainan dan menggerakkannya.
Visual
- Dapat mengamati wajah dengan intens.
- Dapat mengikuti objek yang bergerak.
- Dalam jarak tertentu, ia sudah dapat mengidentifikasi wajah dan objek yang dikenalnya.
- Mulai menunjukkan koordinasi antara mata dan tangan.
Pendengaran dan Bahasa
- Tersenyum begitu mendengar suara Anda.
- Mulai dapat mengoceh.
- Mulai dapat menirukan suara.
- Dapat menggerakkan kepala untuk mencari suara yang menarik perhatiannya.
Segeralah hubungi dokter jika bayi Anda:
- Kelihatannya masih tidak bereaksi jika mendengar suara keras.
- Pada usia 2 bulan, ia tidak tersenyum mendengar suara Anda.
- Matanya tidak mengikuti objek yang bergerak saat berusia 2-3 tahun.
- Saat berumur 3-4 bulan, ia masih belum bisa meraih dan memegang objek/mainan.
- Tidak tersenyum terhadap orang.
- Tidak bisa menyangga kepalanya dengan baik di usia 3 bulan.
- Belum mulai mengoceh di usia 3-4 bulan.
- Mulai mengoceh, tetapi belum menirukan suara.
- Bermasalah dalam menggerakkan matanya ke berbagai arah.
- Tidak peduli terhadap wajah yang baru dilihat atau kelihatannya sangat ketakutan melihat wajah baru atau sekelilingnya.
4-7 Bulan
Kemampuan Motorik
- Dapat berguling ke dua arah.
- Duduk dengan kemudian tanpa menggunakan tangan sebagai penyangga.
- Mulai dapat menyangga berat tubuhnya dengan kedua kakinya.
- Dapat meraih sesuatu dengan satu tangan.
- Dapat memindahkan objek dari satu tangan ke tangan lainnya.
Visual
- Penglihatan terhadap aneka warna makin berkembang.
- Penglihatan jarak jauh dan kemampuan mengikuti benda bergerak makin sempurna.
Bahasa
- Dapat berespon terhadap namanya sendiri.
- Mulai bereaksi menggunakan kata ‘tidak’.
- Mulai dapat membedakan emosi berdasarkan nada suara. es emotions by tone of voice.
- Dapat meresponi suara dengan suara.
- Menggunakan suara untuk mengekspresikan perasaan.
- Mengoceh dengan beberapa konsonan.
Segeralah hubungi dokter jika bayi Anda:
- Menolak untuk dipeluk.
- Kepala masih terkulai jika diletakkan dalam posisi duduk.
- Tidak menunjukkan kasih saying terhadap orang terdekat yang menyayanginya.
- Tidak suka berada dekat orang banyak.
- Shows no affection for the person who cares for him.
- Mata sering berair, kering atau sangat sensitive terhadap cahaya.
- Tidak berespon terhadap suara di sekitarnya.
- Kesulitan memasukkan suatu objek ke mulutnya.
- Tidak berguling ke dua arah pada usia 5 bulan.
- Berusia 6 bulan tetapi tidak bisa duduk walaupun sudah dibantu.
- Tidak bisa tersenyum secara spontan saat berusia 5 bulan.
8-12 Bulan
Kemampuan Motorik
- Dapat duduk tanpa bantuan.
- Sudah dapat merangkak.
- Dapat berdiri.
- Dapat berjalan dengan berpegangan pada sesuatu.
- Dapat bergerak satu dua langkah tanpa bantuan.
Bahasa
- Tertarik untuk berbicara.
- Sudah dapat merespon permintaan verbal sederhana.
- Berespon terhadap larangan/tidak.
- Menggunakan bahasa tubuh sederhana, seperti menggeleng untuk mengatakan ‘tidak’.
- Dapat mengatakan ‘dada’ dan ‘mama’.
- Mencoba untuk menirukan kata.
Segeralah hubungi dokter jika bayi Anda:
- Tidak bisa merangkak.
- Tidak bisa berdiri walaupun disangga.
- Tidak belajar menggunakan bahasa tubuh sederhana seperti menggeleng.
- Tidak bisa menunjuk kepada suatu objek.
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Mengenal Perkembangan Bayi
Perkembangan bayi mencakup kemampuan perseptual, motorik (gerakan tubuh), kognitif,dan keterampilan sosial. Pertumbuhan dan perkembangan setiap bayi tentu tidak selalu seragam. Maka tidak perlu kaku dalam menilai kemajuan perkembangan bayi. Standar yang dibakukan sebagai tahapan perkembangan merupakan bahasa statistik. Mayoritas bayi normal sudah mencapai tahapan perkembangannya sejalan dengan umurnya.
Jangan cepat cemas dulu apabila perkembangan bayi kita tidak persis sesuai standar baku sepanjang masih dalam batas-batas normal Apabila terjadi kelambanan perkembangan yang ekstrem, perlu mendapat perhatian setiap orangtua.
Umur Bayi –> Tahapan Perkembangan
3 – 4 bulan –> Mengangkat kepala
4 bulan –> Tengkurap
5 bulan –> Berguling
6 bulan –> Mengangkat dada dan perut atas saat tengkurap
8-9 bulan –> Merangkak
10-11 bulan –> Merambat-rambat sekitar kursi
9-12 bulan –> Meraih mainan saat duduk
11-12 bulan –> Posisi berdiri
15 bulan –> Berjalan
18 bulan –> Berlari dan masih terjatuh
2 tahun –> Lancar berjalan dan berlari
3 tahun –> Berdiri dengan satu kaki beberapa saat
4 tahun –> Berlari, melompat, memanjat, naik sepeda roda tiga
5 tahun –> Melompat dengan satu kaki, main sepatu roda,renang, memanjat
Tabel di atas menunjukkan tahapan perkembangan umum seorang bayi. Dari bulan ke bulan sejak lahir, bayi juga memperlihatkan tahapan perkembangan yang lebih rinci. Namun bagi orangtua, cukup mengamati pokok-pokok tahapan penting perkembangannya saja. Tujuannya agar mampu menilai kapan suatu tahapan perkembangan bayi tergolong abnormal.
KONSULTASI DOKTER KALAU ABNORMAL
Untuk bayi berumur 8-12 bulan, konsultasikan ke dokter apabila
- belum bisa merangkak
- tak bisa tengkurap
- tidak dapat mencari barang yang disembunyikan di depannya
- belum bisa mengucapkan satu-dua patah kata
- tidak mampu menirukan gerakan-gerakan tubuh, belum bisa melambaikan tangan, atau menggelengkan kepala
- belum bisa menunjuk barang atau gambar.
Untuk bayi 2 tahun, waspada apabila
- belum bisa berjalan
- beberapa bulan sesudah bisa berjalan, berjalannya abnormal
- belum bisa berbicara sedikitnya 15 kata pada umur 18 bulan
- belum bisa merangkai kalimat dengan dua kata pada umur 2 tahun
- tidak tahu fungsi alat-alat di rumah seperti telepon, sendok-garpu, sikat gigi
- belum mampu menirukan gerakan tubuh atau kata-kata
- belum bisa mengikuti tugas yang sederhana
- belum bisa menggerakan mainan beroda.
Balita berumur 3 tahun, perkembangannya dinilai abnormal, apabila
- masih sering terjatuh waktu berjalan, dan belum bisa menaiki tangga rumah
- ucapannya tidak jelas
- belum bisa membentuk menara dari balok mainan
- belum mampu berkomunikasi dengan frasa pendek
- belum bisa bermain jadi ibu-ibuan/ayah-ayahan
- gagal memahami perintah yang sederhana
- tidak interes pada anak lain
- susah berpisah dari ibu.
Bagaimana dengan balita berumur 4 tahun? Amati dan waspada apabila
- belum bisa melempar bola
- belum bisa melompat
- belum bisa naik sepeda roda tiga
- masih menangis (mengadat) bila ditinggal pergi orangtuanya
- tidak interes bila bermain yang bersifat interaktif
- acuh tak acuh terhadap anak lain
Anak berumur 5 tahun sudah lebih matang perkembangannya. Dinilai abnormal apabila
- sangat penakut
- berperilaku agresif
- tidak bisa berpisah dari kedua orangtua tanpa memprotes
- tidak mampu berkonsentrasi lebih dari lima menit
- interesnya rendah saat bermain dengan anak lain
- menolak berespons terhadap orang-orang dekat, dan responsnya datar saja.
Anak dengan keabnormalan perkembangan perlu dikenali lebih dini. Mungkin di balik itu ada sesuatu yang perlu dikoreksi. Siapa tahu memang ada penyakit yang perlu dilacak lebih lanjut. Sebagian saja terjadi lantaran kekeliruan orangtua.
PERLU STIMULASI PENGASUH
Bayi tak mungkin berkembang normal tanpa distimulasi. Stimulasi harus datang dari orangtua, atau pengasuhnya. Stimulasi fisik berupa pijatan khusus; stimulasi gerakan dengan latihan motorik anggota gerak (kinetik), menirukan gerakan; stimulasi suara dan bunyi; mengajak berbicara, mendengar dongeng, menirukan bunyi, melihat dan membedakan warna, stimulasi bertanya, mendengar musik; keterampilan memegang barang, memainkan mainan, menangkap dan melempar bola; berlari dan mengejar, serta melaksanakan perintah.
Bagi ibu bekerja, siapa pun yang mendapat mandat menjadi pengasuhnya selama ibu tidak di rumah harus dibekali kemampuan memberikan stimulasi pada perkembangan anak dari jam ke jam. Pengasuh yang “bisu” atau kurang banyak berbicara akan menciptakan anak yang lamban berbicara. Pengasuh yang kurang hirau pada anak, akan menciptakan anak yang melempam perkembangannya. Peran pengasuh sangat besar, selain menentukan perkembangan anak.
MENGASUH DENGAN SERBA TIDAK BOLEH
Manakala mobilitas bayi sudah mulai banyak, begitu mulai pandai berjalan, bahaya rentan dialami. Terjatuh, terpeleset, terbentur, terantuk, tercedera, peristiwa yang sebetulnya terantisipasikan. Namun berbeda dengan gaya pengasuhan di Barat, orangtua kita cenderung terlalu takut dalam menjaga anak.
Anak yang terlampau dilindungi, dan dijaga, rasa percaya dirinya kurang bertumbuh. Anak jadi serba takut melakukan ini-itu yang baru. Padahal anak perlu mengeksplorasi sekujur lingkungannya. Perlu selalu mencoba hal-hal, kegiatan, atau suasana yang baru tanpa merasa diri terkungkung, atau terlalu diawasi.
Yang benar, biarkan anak memperkaya pengalamannya terjatuh, misalnya, sambil terus memonitor gerak-geriknya. Biar anak lebih leluasa mengenal lingkungannya dengan akrab. Selama eksplorasi anak terhadap lingkungannya tidak sampai mengancam jiwanya, atau diantisipasi bisa membahayakan dirinya, orangtua dan pengasuh tidak perlu terlalu mengintervensi. Untuk itu anak harus diajuhkan dari segala yang bisa mengancam keselamatannya, atau berpotensi membahayakan dirinya.
“CHILD SAFETY FIRST”
Untuk itulah mendahulukan keamanan bagi lingkungan anak (child safety first) sangat diperlukan. Rata-rata kita sering mengabaikan hal ini, sehingga tidak jarang bayi terancam, dan menjadi korban kelalaian orangtuanya. Bayi belum mampu mengantisipasi kondisi berbahaya. Jadi apa pun bentuk dan wujud kondisi yang tidak sehat tersebut, bayi berhak mendapat pengamanan dari orangtua, atau pengasuhnya.
Sebut saja, pengamanan tangga rumah, tidak bermain sendiri di tepi kolam renang; jauhkan dari menyentuh saklar listrik atau kabel listrik; tak boleh ada benda tajam di dekat bayi, seperti pisau, gunting, jarum. Jangan biarkan anak menjangkau lemari obat, bahan kimiawi pembersih rumah (karbol, lisol, pemoles lantai); tidak bermain di dapur; dan jangan lupa, berbahaya meninggalkan bayi terkunci sendiri dalam mobil, atau berkendara tanpa pengaman khusus bagi bayi dengan pintu mobil disetel tidak dapat dibuka dari dalam.
Sumber : dr. Handrawan Nadesul,
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Latihan Merangkak di Rumah
By Majalah Anakku, on Sabtu, 02 Juni 2007
Yuk, ikuti panduan berikut agar dapat melatih si kecil merangkak
DARI POSISI DUDUK BERPUTAR KE POSISI MERANGKAK
LANGKAH-LANGKAH LATIHAN:
Tempatkan anak dalam posisi duduk dan doronglah anak untuk datang kepada Anda, menggunakan mainan atau makanan kecil untuk membujuknya.
Bantulah anak dengan memberinya sanggaan ketika dia bergerak mengambil posisi merangkak. Berilah hadiah jika anak menggerakan tangan atau tubuhnya yang dapat diasosiasikan dengan mengambil posisi merangkak.
Dudukkan anak di tempat tidur, dengan hati-hati robohkan dia ke posisi merangkak dengan mendorongnya maju. Awasilah dengan hati-hati.
Dalam posisi duduk di lantai. Doronglah anak untuk mencondongkan diri ke depan dan tepuk-tepuklah lantai;hal ini akan mendorong dia meletakkan tangannya di lantai dan mencondongkan diri ke depan.
GERAKAN TUBUH KE DEPAN-KE BELAKANG DALAM POSISI MERANGKAK
LANGKAH-LANGKAH LATIHAN:
Tempatkan handuk di bawah dada anak dan peganglah tepi-tepinya. Angkatlah sehingga hanya tangan dan lutut anak yang menyentuh lantai. Gerakkan handuk ke depan dan ke belakang supaya anak terayun-ayun.
Peganglah anak pada pinggulnya. Gerakkan maju dan mundur.
Tempatkan bantal atau guling di bawah dada anak. Mula-mula bimbinglah anak bergoyang-goyang ke depan-ke belakang. Pujilah dia dan katakan, “goyang-goyang” atau “maju mundur.”
Letakkan anak dalam posisi merangkak diatas paha anda,kemudian gerakan kaki anda ke kanan-kiri supaya anak bergerak maju-mundur.
MERANGKAK MAJU
LANGKAH-LANGKAH LATIHAN :
Telungkupkanlah anak. Doronglah anak untuk memeriksa lingkungannya dengan memberinya banyak kesempatan berada di lantai.
Letakkan sebuah mainan, satu atau dua kaki di depan anak selagi ia telungkup. Angkatlah satu pinggulnya dan bantulah anak menekuk pinggul serta lututnya pada sisi tersebut. Letakkan tangan anda pada telapak kakinya. Gosoklah pinggulnya dengan tangan anda yang lain dan perlahan-lahan gerakkan ke depan pada bagian pinggulnya sampai kakinya lurus. Ulangilah pada sisi yang lain. Teruskan aktivitas ini sampai ia menggapai mainan. Biarkan ia bermain dengan mainan sebelum mengulangi latihan ini. Anak harus berada di atas permukaan yang halus dengan menggunakan celana panjang untuk mengurangi gesekan dan membuat gerakannya lebih mudah.
Ulangilah latihan nomor 2, namun tunggulah anak mendorong tangan anda dan meluruskan kakinya.
Ulangilah latihan nomor 2 di atas karpet untuk “penghambat” dan membuat anak berusaha lebih keras.
Ulangilah latihan nomor 2 dengan menggunakan 2-3 bantal sebagai penghambat. Bantal disusun secara berjenjang (formasi tangga) yang diletakkan didepan anak. Kegiatan ini perlu dibantu oleh dua orang pengawas. Satu orang menjaga dibelakang anak untuk membantu gerakan anak pada saat merangkak dan satu orang lagi bertugas untuk memancing anak dengan mainan yang disukainya sambil menjaga posisi bantal agar tetap pada formasi berjenjang.
Ulangilah latihan nomor 2 dengan mendorong koordinasi gerakan lengan. Urutan gerakan haruslah: lengan kanan, kaki kiri, lengan kiri, kaki kanan.
Peganglah pergelangan kaki anak ketika ia sedang merangkak. Berikan sedikit hambatan untuk membuat anak lebih sulit merangkak yang akan menambah kekuatan anak.
Jika anak menggerakkan kedua kaki bersama-sama dengan lembut peganglah satu pergelangan kakinya untuk memberitahu bahwa ia harus menggerakkan kakinya satu persatu. Peganglah pergelangan kakinya berganti-ganti ketika ia bergerak
Tambahlah jarak dengan secara bertahap menjauhkan mainan atau dengan memberi anak mainan beroda yang bergerak ketika anak memainkannya.
Gunakan sprei atau selimut untuk membuat tenda di atas meja kecil atau dua kursi untuk tempat bermain anak. Letakkan beberapa mainan dalam tenda atau torowongan dan doronglah anak untuk merangkak masuk.
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Developmental Milestones
The course of children’s development is mapped using a chart of developmental milestones.
These milestones are behaviors that emerge over time, forming the building
blocks for growth and continued learning. Some of the categories within
which these behaviors are seen include:
- Cognition (thinking, reasoning, problem-solving, understanding)
- Language (expressive and receptive abilities)
- Motor coordination (gross/fine motor, jumping, hopping, throwing/catching, drawing, stacking)
- Social interaction (initiating peer contact, group play)
- Self-help (dressing, eating,washing)
Speech & Language Milestone Chart
By Age One
- Recognizes name
- Says 2-3 words besides “mama” and “dada”
- Imitates familiar words
- Understands simple instructions
- Recognizes words as symbols for objects: Car – points to garage,cat – meows
- Activities to Encourage your Child’s Language
- Respond to your child’s coos, gurgles, and babbling
- Talk to your child as you care for him or her throughout the day
- Read colorful books to your child every day
- Tell nursery rhymes and sing songs
- Teach your child the names of everyday items and familiar people
- Take your child with you to new places and situations
- Play simple games with your child such as “peek-a-boo” and “pat-a-cake”
Between One and Two
· Understands “no”
· Uses 10 to 20 words, including names
· Combines two words such as “daddy bye-bye”
· Waves good-bye and plays pat-a-cake
· Makes the “sounds” of familiar animals
· Gives a toy when asked
· Uses words such as “more” to make wants known
· Points to his or her toes, eyes, and nose
· Brings object from another room when asked
Activities to Encourage your Child’s Language :
· Reward and encourage early efforts at saying new words
· Talk to your baby about everything you’re doing while you’re with him
· Talk simply, clearly, and slowly to your child
· Talk about new situations before you go, while you’re there, and
again when you are home
· Look at your child when he or she talks to you
· Describe what your child is doing, feeling, hearing
· Let your child listen to children’s records and tapes
· Praise your child’s efforts to communicate
Between Two and Three
· Identifies body parts
· Carries on ‘conversation’ with self and dolls
· Asks “what’s that?” And “where’s my?”
· Uses 2-word negative phrases such as “no want”.
· Forms some plurals by adding “s”; book, books
· Has a 450 word vocabulary
· Gives first name, holds up fingers to tell age
· Combines nouns and verbs “mommy go”
· Understands simple time concepts: “last night”, “tomorrow”
· Refers to self as “me” rather than by name
· Tries to get adult attention: “watch me”
· Likes to hear same story repeated
· May say “no” when means “yes”
· Talks to other children as well as adults
· Solves problems by talking instead of hitting or crying
· Answers “where” questions
· Names common pictures and things
· Uses short sentences like “me want more” or “me want cookie”\
· Matches 3-4 colors, knows big and little
Activities to Encourage your Child’s Language :
- Repeat new words over and over
- Help your child listen and follow instructions by playing games:
“pick up theball, ” “Touch Daddy’s s nose”
- Take your child on trips and talk about what you see before, during
and after the trip
- Let your child tell you answers to simple questions
- Read books every day, perhaps as part of the bedtime routine
- Listen attentively as your child talks to you
- Describe what you are doing, planning, thinking
- Have the child deliver simple messages for you (Mommy needs you,
Daddy )
- Carry on conversations with the child, preferably when the two of
- you have some quiet time together
- Ask questions to get your child to think and talk
- Show the child you understand what he or she says by answering,
smiling, and nodding your head
- Expand what the; child says. If he or she says, “more juice”, You
say, “Adam wants more juice.”
Between Three and Four
· Can tell a story
· Has a sentence length of 4-5 words
· Has a vocabulary of nearly 1000 words
· Names at least one color
· Understands “yesterday,” “summer”, “lunchtime”, “tonight”,
“little-big”
· Begins to obey requests like “put the block under the chair”
· Knows his or her last name, name of street on which he/she lives
and several nursery rhymes
· Activities to Encourage your Child’s Language
- Talk about how objects are the same or different
- Help your child to tell stories using books and pictures
- Let your child play with other children
- Read longer stories to your child
- Pay attention to your child when he’s talking
- Talk about places you’ve been or will be going
Between Four and Five
· Has sentence length of 4-5 words
· Uses past tense correctly
· Has a vocabulary of nearly 1500 words
· Points to colors red, blue, yellow and green
· Identifies triangles, circles and squares
· Understands “In the morning” , “next”, “noontime”
· Can speak of imaginary conditions such as “I hope”
· Asks many questions, asks “who?” And “why?”
· Activities to Encourage your Child’s Language
- Help your child sort objects and things (ex. things you eat, animals)
- Teach your child how to use the telephone
- Let your child help you plan activities such as what you will make
for Thanksgiving dinner
- Continue talking with him about his interests
- Read longer stories to him
- Let her tell and make up stories for you
- Show your pleasure when she comes to talk with you
Between Five and Six
· Has a sentence length of 5-6 words
· Has a vocabulary of around 2000 words
· Defines objects by their use (you eat with a fork) and can tell
what objects are made of
· Knows spatial relations like “on top”, “behind”, “far” and “near”
· Knows her address
· Identifies a penny, nickel and dime
· Knows common opposites like “big/little”
· Understands “same” and “differen”
· Counts ten objects
· Asks questions for information
· Distinguished left and right hand in herself
· Uses all types of sentences, for example “let’s go to the store
after we eat”
· Activities to Encourage your Child’s Language
· Praise your child when she talks about her feelings, thoughts,
hopes and fears
· Comment on what you did or how you think your child feels
· Sing songs, rhymes with your child
· Continue to read longer stories
· Talk with him as you would an adult
· Look at family photos and talk to him about your family history
· Listen to her when she talks to you
http://www.ldonline.org/ld_indepth/speech*<http://www.ldonline.org/ld_indepth/speech>
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Baby Walker Bisa Lemahkan Syaraf Motorik Bayi
Imam Wahyudiyanta – DetikSurabaya
Surabaya – Ketika melihat anaknya yang masih kecil mulai belajar berjalan, setiap orangtua pasti berbunga-bunga hatinya. Mereka berharap agar buah hatinya tersebut segera bisa berjalan.
Biasanya, upaya yang dilakukan orangtua agar si bayi segera bisa berjalan adalah dengan membelikannya alat bantu berjalan (baby walker) yang banyak dijual di pasaran.
Namun tahukah Anda, penggunaan baby walker pada bayi agar segera bisa berjalan malah dinilai tidak baik bahkan cenderung berbahaya. Baby walker dinilai memperlemah syaraf motorik bayi.
“Saya tidak menganjurkan baby walker karena bisa merusak pola jalan bayi yang belajar berjalan,” ujar Niniek Soetini SST Ft, ahli fisioterapi kepada detiksurabaya.com, Jumat (20/7/2007).
Menurut Niniek, pola jalan bayi yang benar seharusnya melewati beberapa tahap seperti hill, step, straight dan jalan. Tetapi bila bayi diajarkan jalan menggunakan baby walker, maka pola jalan seperti yang dianjurkan hilang sama sekali.
Bayi yang belajar berjalan memakai baby walker, lanjut Niniek, akan lebih lama berjalan daripada memakai cara konvensional. Bahkan setelah bisa berjalan pun bayi cenderung berjalan jinjit dan sering terjatuh.
Niniek menganjurkan agar menggunakan cara konvensional untuk mengajar bayi berjalan, atau orang Jawa bilang dititah. Dengan dititah bayi bisa tahu kalau berjalan itu sulit dan membutuhkan perjuangan.
“Bila bayi jatuh, ya tidak apa-apa. Dengan begitu si bayi akan belajar agar tidak jatuh lagi,” tandas Niniek. (fat/mar)
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Baby’s Vision Development
Tak perlu gusar mendapatai mata si kecil tak fokus pada hari-hari pertama kehidupannya. Itu bukan masalah, tapi karena fungsi penglihatannya belum berkembang sempurna.
Semua orangtua tentu mengharapkan kondisi anaknya sempurna saat dilahirkan. Karenanya, setelah dilahirkan, dokter melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi bayi tak ada masalah. Salah satu bagian tubuh yang diperiksa adalah mata. Ketika Anda menanyakan normal-tidaknya penglihatan mata bayi, dokter biasanya tak bisa memberikan jawaban segera. “Hal ini disebabkan penglihatan seorang anak sangat tergantung pada perkembangan mentalnya, yaitu ada koordinasi antara penglihatan dengan otak atau mental,” jelas Prof. Dr. Sidharta Illyas, Sp.M, spesialis mata dari Klinik MataTalang, Jakarta Pusat.
Tahap Perkembangan
Ketajaman penglihatan tak hanya dipengaruhi oleh susunan jaringan mata yang normal atau bentuk mata yang baik. Tapi diperlukan juga rangsangan untuk mengoptimalkan penglihatan yang normal.
- Bayi Baru Lahir
Saat dilahirkan, sistem penglihatan bayi masih jauh dari sempurna. Bintik kuning—bagian terpenting perkembangan penglihatan–belum berkembang. Namun seiring perkembangan bagian itu, kelak perkembangan kemampuan penglihatan bayi pun akan semakin baik. Dalam beberapa bulan pertama bayi belum mampu memusatkan penglihatan terhadap objek yang berada lebih dari 25 cm dari wajahnya. Namun bila ada sumber penerangan yang kuat bayi baru lahir bisa menggerakkan kepalanya mencari cahaya itu. Mata bayi baru lahir peka terhadap wajah manusia dan gerakan. Terhadap warna pun masih terbatas pada warna-warna cerah seperti merah, biru, lalu berkembang ke warna sekunder (hijau dan kuning). - 1- 4 Bulan
Pada usia satu bulan, bayi sudah bisa mengikuti gerakan sebuah objek. Masuk usia 3 bulan, ia akan mengarahkan matanya pada benda-benda yang bergerak di depan matanya. Kemampuan penglihatan tiga dimensi sudah lengkap pada usia 4 bulan. Di usia ini bayi juga mulai mencoba meraih—hanya gerak reflek–objek yang dilihatnya. Tapi seiring dengan perkembangan koordinasi mata-tangan dan persepsi yang dalam, kemampuan ini bisa dikendalikan. Artinya, saat menggerakkan tangan, ia melakukannya dengan sadar.
Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk membantunya. Anda bisa memanfaatkan senter atau cahaya lampu yang redup di kamar bayi, memindahkan posisi tempat tidur bayi atau mengubah posisi tidurnya. Cara lain berupa meletakkan mainan gantung di atas tempat tempat tidur. Pastikan posisi mainan masih dalam jangkauan penglihatan bayi serta mudah diraih dan disentuh oleh si kecil. Bentuk stimulasi yang paling mudah adalah mengajaknya berbicara atau menunjukkan objek padanya saat sedang berjalan-jalan. Bahkan, posisi memberi makan (baca : menyusui) bisa dimanfaatkan untuk merangsang penglihatan bayi. - 4 – 8 Bulan
Di usia ini perkembangan gerakan mata dan keterampilan koordinasi mata/tubuh semakin berkembang. Kemampuan penglihatannya sudah sempurna pada usia 6 bulan. Kedua matanya semakin fokus. Untuk membantu perkembangan kemampuan melihatnya, Anda seharusnya memperlihatkan aneka bentuk dan menyediakan aneka mainan bertekstur yang berbeda-beda. Semua objek tersebut akan mendorong anak bereksplorasi dengan jari-jarinya. Berikan ia kebebasan untuk merangkak dan menjelajah. Gantungkan sebuah mainan atau benda lain di atas tempat tidur si kecil atau bermain ci-luk-ba bersamanya. - 8 – 12 Bulan
Jika bayi sudah bisa merangkak dan ‘membawa’ tubuhnya, itu artinya ia sudah bisa menggunakan kedua matanya untuk mempertimbangkan jarak. Karena itu kemampuannya meraih dan melempar sebuah benda semakin berkembang dengan tingkat ketepatan yang lebih baik. Biarkan ia merangkak sebab tahap ini sangat penting untuk menstimulasi perkembangan koordinasi mata-tangan-kaki-tubuh. Stimulasi yang Anda berikan bisa berupa balok yang bisa disusun atau mainan bongkar pasang. Sediakan pula mainan yang bisa disentuh, dipegang, dan dilihat secara bersamaan.
Cermati Penampakan Tak Normal
Perkembangan mata berada pada masa paling kritis pada usia 3-4 bulan. Sebab, Sidarta menjelaskan, otak sedang berkembang sangat cepat. Bila terjadi gangguan, pesan-pesan melalui jalur penglihatan tak bisa diterima dengan baik sehingga menyebabkan kelainan pada mata. Koordinasi otot mata pada bayi baru lahir, masih sangat lemah. Bayi sering memperlihatkan kedua matanya berada di dalam, di luar atau tidak bekerja berbarengan. Kondisi ini disebut strabismus yang terjadi akibat tarikan otot salah satu sisi otot mata lebih keras dibandingkan sisi lain.
Jika masalah ini masih muncul hingga usia 3-4 bulan, segera periksa dan konsultasikan dengan dokter mata. Jika salah satu mata anak tidak mampu melihat karena strabismus, otak bayi tidak menerima gambar visual dari mata. Kondisi ini akan ‘memadamkan’ otak, artinya fungsi mata dan penglihatan akan hilang secara permanen. Bebebapa kondisi berikut juga harus segera dikonsultasikan ke dokter ; gerakan mata ke sisi luar atau dalam terlalu kelihatan, mata tidak bergerak normal sebelum usia 3 bulan, atau posisi mata juling terlalu jauh dari daerah hidung. Kondisi lain yang perlu dicurigai pula misalnya bila hanya salah satu mata yang bergerak atau kedua mata sangat berbeda. Masalah gerakan mata yang cukup parah seringkali membutuhkan operasi.
Untuk mencegah terjadinya cacat lahir, Anda sebaiknya melakukan pemeriksaan kehamilan rutin dan mengonsumsi makanan dengan diet seimbang sebelum mata bayi berkembang. PG
|
Usia |
Jenis Mainan |
Aktifitas |
|
0-5 Bulan |
|
ci-luk-ba |
|
6-8 Bulan |
|
petak umpet dengan mainan |
|
9-12 Bulan |
|
menggulingkan bola ke depan dan ke belakang |
Diarsipkan di bawah: TAHAPAN PERKEMBANGAN
Anak Melompati Tahap Perkembangan Jangan Keburu Bangga
Bila tahapan motorik dasar anak tak dilalui secara berurutan, tak mungkin ia mencapai ke tahap yang rumit.
Hingga usia dua tahun, Dika masih belum bisa bicara. Setelah diperiksa dan diusut-usut, ternyata bocah lucu ini mengalami perkembangan yang belum lengkap. Sejak usia 10 bulan, ia sudah bisa berjalan. Tahap itu dicapainya tanpa pernah mengalami periode merangkak.
Apa hubungannya merangkak dan berbicara? Terapis wicara dari Instalasi Rehabilitas Medik (IRM) RS Dr Sardjito, Wuryanto Aksan melihat hubungan antara duanya. Namun, sebelum membicarakan hubungan itu, menurut dia penting memahami lebih dulu gangguan keterlambatan bicara.
Harus ada rangsangan
Gangguan keterlambatan bicara, jelas Wury, begitu sapaan Wuryanto, terjadi karena kemampuan me-recall masukan-masukan prabahasa atau bahasa dari lingkungan kurang sempurna. Akibatnya, anak jika hendak mengikuti bahasa di lingkungannya mungkin seperti bahasa robot. Atau, mungkin juga si anak melakukan pengulangan kata.
”Memang kesannya perbendaharaannya bagus, tetapi dia mengulang-ulang. Kemampuan me-recall yang kurang baik pada tumbuh kembang ini, karena kurang matangnya kemampuan sensorik, tidak terintegrasinya antara fungsi pendengaran, penglihatan dan rasa,” tutur dia.
Sebetulnya, kata Wury, kemampuan fungsi mendengar anak itu bisa diketahui sedini mungkin. Selain itu, anak sedini mungkin harus sudah mendapat rangsangan. Misalnya, dengan rangsangan suara, kita melihat apakah dengan adanya rangsangan sebelah kiri anak akan menengok ke kiri dan rangsangan sebelah kanan anak akan menengok ke kanan.
Setelah berusia sekitar enam minggu, anak sudah mulai memahami bunyi dan mengikuti asal bunyi tersebut dengan jelas. Misalnya, bila dirangsang dengan bunyi, ”kring…kring… kring”, anak akan menengok ke arah bunyi kring tersebut. ”Apabila anak tidak menengok ke arah bunyi ‘kring’ tersebut kemungkinan ada sesuatu,” tutur Wury.
Jangan bangga
Tahap-tahap perkembangan motorik, jelas Wury, akan mendukung perkembangan yang lain. ”Kita tidak boleh bangga dengan kecepatan motorik anak,” kata terapis wicara IRM RS Bethesda dan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta ini.
Ia lantas mencontohkan, pada usia 10 bulan anak sudah bisa berjalan. Pada umur itu, seharusnya anak masih merangkak. Justru dengan kecepatan motorik kasar seperti itu, jelas Wury, keterampilan motorik, koordinasi motorik terlewati masa konsepsinya.
”Allah itu memberi bekal manusia berbentuk refleks sejak dia lahir. Mulai dari refleks mengisap akhirnya bisa minum susu,” ujar Wury. Refleks mengisap yang dilakukan oleh bibir, lidah, palatum, laring, pernapasan, akhirnya ke perut, itu ternyata dikonsepsi oleh memori gerak tersebut. Beberapa hari kemudian anak mulai sadar, bahwa dia kalau ngenyot tidak haus. ”Makanya reaksi anak dari nangis ngompol dan haus berbeda. Hal itu menunjukkan gerakan itu sudah terkonsepsi dengan baik.”
Selanjutnya, pada usia 3-4 bulan, anak mulai tengkurap dan di tempat tidur dia bisa bebas tengkurap lalu telentang berulang-ulang. Pada masa ini merupakan masa konsepsi gerak dasar. Namun, jika bayi yang tidak pernah diberi kesempatan seperti itu –karena dibiasakan diletakkan di kursi roda terus dan tidak pernah diberi kebebasan untuk tengkurap dan telentang sendiri secara leluasa– maka gerak bayi ini akan terbatas.
Lalu, apa dampaknya? Anak tidak mempunyai konsepsi motorik yang dasar, sehingga tidak bisa menyadari gerakannya harus bagaimana. Dalam perkembangannya, ungkap Wury, setelah anak bertambah usianya, hal itu akan memengaruhi pada kecerdasan emosi, kecerdasan mental. ”Mungkin nantinya anak secara kecerdasan IQ bagus, tetapi kecerdasan non EQ terhambat,” tambahnya.
Tahap demi tahap
Perkembangan gerak anak itu harus dilewati tahap demi tahap. Setelah anak tengkurap, lalu ia bisa mengangkat kepala, kemudian duduk, onggo-onggo, merangkak.
Wury menilai merangkak sebagai fase yang istimewa karena sangat kaya. Fase ini, kata Wury, charger di area otak kanan dan kiri. ”Kalau anak melalui fase itu dengan baik, maka konsepsi dari kematangan gerak tersebut (otak kanan, kiri, jembatan otak, otak kecil) akan lebih baik,” jelas dia.
Keadaan yang normal itu, menurut Wury, biasanya fase merangkak lebih lama dari fase perkembangan motorik yang lain. Alhasil, ia menyarankan orang tua agar tidak mengkhawatirkan si buah hati bila pada usia 11 bulan masih merangkak.
Yang penting, saran Wury, beri kebebasan anak berkembang sendiri, singkirkan benda-benda yang membahayakan, dan penuhi fasilitas yang mendukung kematangan geraknya. ”Insya Allah begitu mampu merambat, kemudian berdiri sendiri, jalan bisa lancar,” tutur dia.
Tahap-tahap motorik itu merupakan dasar kemampuan motorik-motorik yang lain. Jika keterampilan motorik dasar anak sudah matang, jelas Wury, maka motorik lain yang lebih rumit –yaitu untuk bicara– tinggal sedikit tahapnya.
Harus berurutan
Bila tahapan motorik dasarnya tidak dilalui secara berurutan, menurut Wury, tidak mungkin akan mencapai ke tahap yang rumit.
Itulah sebabnya, lanjut dia lagi, sewaktu anak berusia delapan bulan baru mampu ekolalia. Seandainya pun ada rangsangan ”ci luk ba!”, anak hanya akan berkata ”ha-ha”. Sebab, koordinasi motorik artikulasi yang lebih rumit ini belum tercapai dan konsepsi belum sampai. Mengapa? Motorik kasar si anak belum sampai pada tahap itu.
Tetapi begitu mencapai usia 10 bulan, dan anak sudah banyak merangkak, begitu ada rangsangan ”ci luk ba!” ia akan langsung menjawab ”ba!”. Itu berarti ada konsepsi motorik yang sudah matang.
Maka, pada usia 12 bulan, anak akan berkata-kata yang sebenarnya seperti papa, mama, dan sebagainya. Karena itu, misalkan pada anak ada keterlambatan bicara karena dari riwayat sektor motorik, maka harus ada program penanganan yang mengikuti tahap-tahap perkembangan itu.
Oleh karena itu, jelas Wury, stimulasi untuk anak yang mengalami keterlambatan misalnya keterlambatan bicara dikemas agar ia mau melakukan latihan-latihan kematangan motorik. Misalnya, anak diajak bermain kuda-kudaan dan dengan bercanda berkumpul, anak diajak merangkak. Karena itu pula, di dalam stimulasi motorik ada salah satu materi berupa terapi merangkak.
(nri )
