Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Tumbuh Kembang Otak Bayi
Usia 0-6 Bulan
Bagian-bagian utama otak bayi baru lahir sudah lengkap terbentuk. Kini, otaknya akan segera mengalami proses pematangan yang perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat.
Otak merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Otak yang juga merupakan pusat kecerdasan atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah terjadinya konsepsi (proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma).
Dalam perkembangan otak, ada periode yang dikenal sebagai periode pacu tumbuh otak ( brain growth spurt ). Yaitu saat dimana otak berkembang sangat cepat. Pada manusia, periode pacu tumbuh otak pertama dimulai ketika usia kehamilan ibu memasuki trimester ketiga. Periode pacu tumbuh otak kedua terjadi setelah si keci lahir hingga ia berusia dua tahun. Multiplikasi sel terjadi pada masa janin. Sedangkan sejak lahir hingga usia dua tahun adalah saat neuron (sel saraf) di korteks otak membentuk sinaps (hubungan antara sel saraf) yang sangat banyak. Jadi, di masa multiplikasi dan pembentukan sinaps ini, otak harus mendapat prioritas utama dalam hal pemenuhan zat-zat gizi sebagai bahan-bahan pembentukannya.
Tumbuh kembang otak
Secara keseluruhan, otak si kecil saat lahir sudah terbagi menjadi empat bagian utama, yakni batang otak ( brainstem ), otak kecil ( serebelum ), otak besar ( serebrum) dan diensefalon. Berat otak bayi saat ini sudah mencapai 25% berat otak orang dewasa, atau sekitar 350-400 gram. Ketika usianya enam bulan, berat otak bayi hampir 50% dari berat otak orang dewasa.
Di dalam otak bayi baru lahir sudah terdapat kurang-lebih 100 milyar sel saraf (neuron). Sel saraf ini terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:
- Badan sel saraf yang bentuknya menyerupai bintang. Di dalamnya, antara lain, terdapat inti sel saraf. Ujung-ujung dari badan sel yang menjulur ini merupakan bagian yang menghubungkannya dengan ujung-ujung dari badan sel saraf yang lain, sehingga membentuk suatu jalinan yang sangat kompleks.
- Dendrit merupakan perpanjangan dari ujung-ujung badan sel. Sebuah sel saraf bisa memiliki sekitar 200 dendrit.
- Akson yang bentuknya memanjang, sehingga menyerupai tangkai dari sel saraf. Sebagian besar akson dilindungi oleh semacam selaput dari lemak, yaitu yang dikenal sebagai mielin. Proses pembentukan selaput pelindung pada akson ini disebut sebagai mielinasi.
Saat si kecil baru lahir hingga usianya mencapai enam bulan, sel-sel sarafnya belum seluruhnya mencapai tingkat perkembangan yang “matang”. Sel saraf dapat dikatakan mencapai tingkat kematangan, antara lain, apabila sudah terbentuk akson pada setiap bagian tubuh. Setiap kali terbentuk akson baru, maka akan terbentuk pula sinaps (simpul saraf, hubungan antara sel saraf) yang memungkinkan terjadinya “komunikasi” antara setiap bagian tubuh dengan otak. Itu sebabnya, si kecil masih belum terampil mengontrol gerakan anggota tubuhnya.
Selain sel saraf, di dalam otak dan sistem saraf pusat terrdapat sel glia. Sel ini bertugas melindungi, memberi dukungan dan juga memberi makan kepada sel saraf. Caranya, dengan mengalirkan kebutuhan zat gizi yang diperlukan. Dengan demikian, proses tumbuh kembang sel saraf berjalan dengan baik dan dapat berfungsi menghantarkan pesan (perintah).
Otak, yang setiap menit membutuhkan darah sebanyak 150 ml ini, mencapai tahap perkembangan yang berbeda-beda setiap bagiannya. Misalnya, bagian otak yang mengontrol sistem pendengaran sudah mulai berkembang sejak janin berusia 28 minggu. Sedangkan bagian otak yang mengatur sistem penglihatan baru berkembang setelah bayi lahir.
Laju perkembangan otak si kecil tidak secara langsung ditunjukkan oleh pertambahan volume otak. Namun, pada umumnya perkembangan otak dikaitkan dengan kecerdasan. Dan, kecerdasan itu sendiri seringkali dikaitkan dengan volume otak. Ukuran serta bentuk kepala dianggap dapat menggambarkan besarnya otak yang terdapat di dalamnya. Pada kenyataannya, ada banyak sekali faktor yang ikut menentukan tingkat kecerdasan seseorang, selain volume otaknya.
Sphingomyelin dan Proses Mielinasi
Sejumlah akson dari sel saraf dilindungi oleh suatu lapisan lemak yang dikenal sebagai mielin. Komponen utamanya adalah sphingomyelin dan metabolit sphingolipid lain (seperti cerebroside , sulfatide dan ganglioside ). Mielin yang melindungi sebuah akson bisa terdiri dari 100 lapisan.
Mielin bekerja sebagai insulator untuk impuls saraf. Zat ini juga mengontrol saltatory mode of conduction (penghantaran impuls yang berloncat-loncat) pada kecepatan tinggi melalui Nodes of Ranvier (akson yang tidak terlindungi mielin). Penghantaran impuls semacam ini adalah proses yang cepat. Dan, akson bermielin menghantarkan impuls 50 kali lebih cepat daripada akson tak bermielin yang paling cepat.
Dewasa ini telah dipelajari bahwa sphingomyelin , salah satu jenis fosfolipid yang terkandung dalam makanan dan ASI, memainkan peran penting dalam proses mielinasi sistem saraf pusat. Mielinasi sistem saraf pusat manusia dimulai ketika usia kehamilan 12-14 minggu pada bagian spinal cord, dan berlanjut hingga usia 30 tahun pada bagian cerebral cortex . Namun, perubahan paling cepat dan dramatis terjadi di antara pertengahan kehamilan dan diakhir tahun kedua setelah kelahiran.
Berbeda dengan jenis fosfolipid yang lain, sphingomyelin tidak mengandung gliserol, melainkan ceramide. Karena semua sphingolipid dibuat dari ceramide , maka sphingomyelin dapat diklasifikasikan juga sebagai sphingolipid (Jumpsen & Clandinin, 1995). Ceramide inilah selanjutnya yang akan membentuk cerebroside , yaitu suatu marker universal myelinasi (pembentukan mielin) di dalam otak, dengan bantuan enzim UDP galactosytransferase . Mielin sistem saraf pusat mempunyai kandungan cerebroside yang tinggi dibandingkan dengan jaringan lainnya.
Studi terkini menunjukkan bahwa aktivitas enzim serine palmitoyltransferse (SPT) meningkat secara bertahap dari minggu ketiga sebelum kelahiran ( prenatal ) hingga minggu ketiga setelah kelahiran ( postnatal ) pada sistem saraf pusat tikus. Ketika mielinasi mulai berlangsung pada periode tersebut, diyakini bahwa aktivitas SPT yang bertambah sedikit demi sedikit merupakan faktor utama yang terlibat di dalam mielinasi.
Oshida et.al. dalam tulisannya Effects of dietary sphingomyelin on central nervous system myelination in developing rats. Pediatr. Res 53: 589-593 (2003) memberikan hipotesis bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat dari tikus yang sedang berkembang otaknya kemungkinan terutama diperoleh dari sphingomyelin yang terkandung di dalam susu, yang dapat diubah menjadi ceramide dan kemudian cerebroside . Selanjutnya, mereka membutktikan bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat, terutama diperoleh dari sphingomyelin diet (asupan luar) dengan kondisi eksperimental aktivitas SPT yang rendah, sehingga sphingomyelin diet memainkan peran yang penting dalam mielinasi sistem saraf pusat.
Jadi, berbeda dengan AA dan DHA yang berperan dalam pertumbuhan membran sel saraf dan pengaturan neurotransmitter, sphingomyelin berperan dalam proses mielinasi akson untukk membantu kinerja sel saraf dalam transmisi impuls saraf. Menurut Dr. Arthur R. Jensen, ahli saraf dari Fakultas Ilmu Pendidikan Kedokteran di University of California, Amerika Serikat, kecepatan penghantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang merupakan salah satu faktor yang menunjukkan tingkat kecerdasannya.
Kebutuhan gizi
Bila melihat periode pacu tumbuh otak, maka sebagian besar percepatan tumbuh otak justru terjadi setelah si kecil lahir. Mulai saat itu, pemenuhan kebutuhan zat gizi dilakukan melalui pemberian ASI secara tunggal (ASI eksklusif) sejak hari pertamanya hingga usia enam bulan. Perlu diketahui, komposisi zat gizi di dalam ASI demikian sempurna untuk memenuhi kebutuhan zat gizi sesuai tahapan tumbuh kembang bayi, bahkan untuk bayi yang lahir prematur sekali pun.
Secara alami, ASI mengandung zat-zat gizi yang secara khusus diperlukan untuk menunjang proses tumbuh kembang otak. Zat-zat gizi tersebut antara lain:
- Asam lemak esensial
ASI merupakan sumber asam lemak esensial (asam lemak yang harus dipenuhi kebutuhannya dari luar tubuh) , yaitu asam linoleat dan asam alfa-linolenat. Kedua asam lemak esensial ini di dalam tubuh bayi diubah menjadi DHA (asam dokosaheksanoat) dan AA (asam arakhidonat).
Perlu diketahui, lipid (lemak) di dalam ASI terutama terdapat dalam bentuk trigeliserida (98-99%). Sedangkan sisanya, sebanyak 1-2%, adalah fosfolipid dan kolesterol. Komposisi dan kandungan lipid ASI sangat bervariasi bergantung dari tahapan laktasi dan asupan diet ibu. Lipid di dalam ASI berfungsi sebagai sumber energi. Selain itu, sebagian kecil lipid (lipid minor) berfungsi sebagai mikronutrien yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. Lipid sebagai mikronutrien terutama terdapat dalam bentuk fosfolipid.
Fosfolipid ASI merupakan sumber asam lemak tidak jenuh rantai panjang ( long chain polyunsaturated fatty acid , LCPUFA), terutama AA dan DHA. Kandungan fosfolipid ASI bervariasi sekitar 20-38 mg/100 ml, tergantung pada tahapan laktasi. Di dalam ASI, fosfolipid terdiri dari beberapa fraksi, berturut-turut dari yang paling dominan adalah: 1) sphingomyelin, 2) fosfatidylkolin, 3) fosfatidylethanolamin, 4) fosfatidylserin, dan 5) fosfatidylinositol.
Menurut Gopalan dalam tulisannya Essential FA in Maternal and Infant Nutrition In Symposium “EFA and Human Nutrition and Health International Conference” in Shanghai, Cina (2002), mengatakan LCPUFA merupakan komponen yang esensial selama periode perinatal, karena fetus dan bayi baru lahir tidak dapat mensintesis sejumlah AA dan DHA yang mencukupi dari prekursornya. Padahal, pada saat lahir dan masa awal kehidupan telah dihasilkan kurang lebih 6-10 ribu hubungan sinaps antar sel syaraf. Materi dasar untuk terbentuknya sinaps ini adalah adanya asam lemak esensial di dalam ASI. Oleh karena itu, perkembangan mental dan kecerdasan bergantung pada kecukupan suplai asam lemak esensial dan LCPUFA pada tahap-tahap krusial tersebut.
Apabila tubuh bayi mendapat DHA dalam jumlah yang mencukupi melalui ASI ibunya, maka proses pembentukan otak serta pematangan sel-sel saraf di dalam otaknya akan berjalan dengan baik. Semua proses itu terjadi pada waktu bayi tidur nyenyak.
Penelitian tentang hal tersebut telah dilakukan di University of Brisbane, Australia dengan memakan waktu 21 tahun dan melibatkan 3880 bayi. Hasil sementara dari penelitian ini yang dipublikasikan di United States Based Journal of Pediatrics and Child Health tahun 2001 lalu menunjukkan bahwa zat-zat gizI yang terkandung di dalam ASI membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi, sehingga terhindar dari serangan penyakit-penyakit infeksi.
Dengan demikian, proses tumbuh kembang dapat berjalan dengan baik. Selain itu, kedekatan dan hubungan batin yang terjalin kuat antara ibu dan bayi ketika memberi ASI merangsang perkembangan kemampuan kognitif bayi. Sedangkan kadar DHA di dalam ASI yang sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi, memungkinkan proses plastisitas (proses pembentukan hubungan baru di antara sel-sel saraf) berjalan dengan optimal. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan kecerdasan berbahasa yang baik serta IQ ( Intelegence Quotient ) yang tinggi.
- Protein
Komponen dasar dari protein, yakni asam amino, terutama berfungsi sebagai pembentuk struktur otak. Beberapa jenis asam amino tertentu, yaitu taurin, triptofan, dan fenilalanin merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penghantar atau penyampaipesan ( neurotransmitter ). Di dalam ASI terkandung protein sekitar 1,2 gram per 100 ml.
- Vitamin B kompleks
Beberapa jenis vitamin B yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang otak adalah ,vitamin B1, vitamin B6, dan asam folat (vitamin B9). Bila kebutuhannya tidak terpenuhi, maka akan timbul gangguan terhadap pertumbuhan dan fungsi otak dan sistem saraf.
- Kholin
Senyawa ini merupakan pembentuk sejenis neurotransmitter yang disebut asetilkolin. Kholin juga merupakan bagian dari lesitin, yaitu suatu fosfolipid yang banyak terdapat di otak sebagai pembentuk membran (dinding) sel saraf.
- Yodium, zat besi, dan zat seng
Yodium dibutuhkan untuk pembentukan hormon tiroksin (sejenis hormon yang diperlukan dalam pembentukan protein yang membantu proses tumbuh kembang otak). Zat besi dibutuhkan dalam proses pembentukan mielin. Zat besi disimpan di dalam berbagai jaringan otak selama 12 bulan pertama sejak bayi lahir. Seng merupakan bagian darai sekitar 300 jenis enzim yang membantu pembelahan sel. Kekurangan zat seng di dalam otak dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder).
Agar ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh si kecil selama masa pemberian ASI eksklusif enam bulan, maka ibu harus mengkonsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari. Ibu perlu menkonsumsi makanan-makanan yang kaya protein. Misalnya, ikan, daging, telur, tempe, tahu, dan susu skim. Ibu juga perlu makan lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan.
Jika selama masa menyusui ibu tidak mendapatkan gizi yang diperlukan, persediaan zat-zat gizi dalam tubuhnya akan habis dipergunakan untuk memproduksi ASI. Akibatnya, selain kesehatan ibu terganggu, ASI-nya juga tidak akan cukup banyak. Kualitas ASI-nya pun tidak akan cukup baik, dan jangka waktu ibu untuk memproduksi ASI pun menjadi relatif singkat.
Dewi Handajani
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
SESUAIKAH TUMBUH KEMBANG ANAK ANDA – bag2
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita .
Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan bagi perkembangan selanjutnya.
Perkembangan yang optimal sangat dipengaruhi oleh peranan lingkungan dan interaksi antara anak dan orang tua / orang dewasa lainnya. Interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan, bahkan sejak bayi dalam kandungan.
Kebutuhan dasar seorang anak adalah
- ASUH ( kebutuhan biomedis)
Menyangkut asupan gizi anak selama dalam kandungan dan sesudahnya, kebutuhan akan tempat tinggal, pakaian yang layak dan aman , perawatan kesehatan dini berupa imunisasi dan deteksi dan intervensi dini akan timbulnya gejal penyakit.
- ASIH ( kebutuhan emosianal)
Penting menimbulkan rasa aman (emotional security) dengan kontak fisik dan psikis sedini mungkin dengan ibu. Kebutuhan anak akan kasih sayang, diperhatikan dan dihargai, ,pengalaman baru, , pujian, tanggung jawab untuk kemandirian sangatlah penting untuk diberikan. Tidak mengutamakan hukuman dengan kemarahan , tetapi lebih banyak memberikan contoh – contoh penuh kasih sayang adalah salah satunya.
- ASAH ( kebutuhan akan stimulasi mental dini)
Cikal bakal proses pembelajaran , pendidikan , dan pelatihan yang diberikan sedini dan sesuai mungkin. Terutama pada usia 4 – 5 tahun pertama ( golden year) sehingga akan terwujud etika, kepribadian yang mantap, arif, dengan kecerdasan, kemandirian ,ketrampilan dan produktivitas yang baik.
Beberapa tingkat perkembangan yang harus dicapai pada anak umur tertentu ;
- 4-6 minggu : tersenyum spontan , dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu kemudian
- 12-16 minggu : menegakkan kepala, tengkurap sendiri , menoleh ke arah suara , memegang benda yang ditaruh ditanggannya , bermain cilukba.
- 20 minggu : meraih benda yang didekatkan kepadanya
- 26 minggu : dapat memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya , duduk dengan bantuan kedua tangannya ke depan , makan biskuit sendiri.
- 9 – 10 bulan : menunjuk dengan jari , memegang benda dengan ibu jari dan jari telunjuk, merangkak , bersuara da… da…. .
- 13 – 15 bulan : berjalan tanpa bantuan , mengucapkan kata – kata tungggal , memasukkan mainan ke dalam cangkir , bermain dengan orang lain , minum dari gelas , dan mencoret – coret.
© Dr. SuriViana -www.infoibu.com
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
SESUAIKAH TUMBUH KEMBANG ANAK ANDA – bag1
Pertumbuhan ( growth) berkaitan dengan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang. Sedangkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ atau individu. Kedua proses ini terjadi secara sinkron pada setiap individu.
Proses tumbuh kembang seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling terkait, yaitu ; faktor genetik / keturunan , lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku. Proses ini bersifat individual dan unik sehingga memberikan hasil akhir yang berbeda dan ciri tersendiri pada setiap anak.
Penilaian terhadap pertumbuhan seorang anak dapat dinilai melalui pertambahan berat dan tinggi badan dan sampai anak berusia 2 tahun masih dapat digunakan penilaian melalui lingkar kepala yang biasanya dibandingkan dengan usia anak. Beberapa cara penilaian melalui pemeriksaan fisik atau klinikal , pemeriksaan antropometri ( membandingkan tinggi badan terhadap umur, berat badan terhadap umur, lingkaran kepala terhadap umur, lingkar lengan atas terhadap umur ) , contohnya KMS (kartu menuju sehat ) yang membandingkan berat badan terhadap umur , pemeriksaan radiologis, laboratorium, dan analisa diet.
Beberapa faktor yang mempegaruhi pertumbuhan anak :
- Faktor heredo konstitusional ; tergantung ras, genetic, jenis kelamin dan kelainan bawaan
- Faktor hormonal ; insulin , tiroid, hormon sex dan steroid.
- Faktor lingkungan selama dan sesudah lahir ; gizi, trauma, sosio – ekonomi, iklim, aktivitas fisik, penyakit, dll.
Perkiraan berat badan yang dapat mudah dilakukan dalam kilogram adalah berat badan waktu lahir bayi cukup bulan akan kembali pada hari ke 10.Berat badan menjadi 2 kali berat waktu lahir saat usia 5 bulan, menjadi 3 kali berat lahir saat usia satu tahun, dan menjadi 4 kali berat waktu lahir saat usia 2 tahun. Pada masa prasekolah kenaikan berat badan rata– rata 2 kg/ tahun.
Perkiraan tinggi badan dapat pula dilakukan dalam sentimeter yaitu usia 1 tahun 1,5 kali tinggi badan lahir, usia 4 tahun 2 kali tinggi badan lahir, 6 tahun 1,5 kali tinggi badan 1 tahun,.
Kita dapat pula mePrediksikan tinggi akhir anak sesuai potensi genetic berdasarkan tinggi badan orang tua dengan asumsi bahwa semuanya tumbuh optimal sesuai potensinya. Rumus yang digunakan ;
TB anak perempuan = ( TB ayah – 13 cm ) + TB ibu
_________________________ ± 8,5 cm
2
TB anak laki-laki = ( TB ibu +13 cm ) + TB ayah
_________________________ ± 8,5 cm
2
© Dr. SuriViana -www.infoibu.com
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Growth and Development
Growth charts are an important way for pediatricians to monitor your child’s growth. With the availability of growth charts on the Internet, many parents have begun using them at home too.
Since the growth charts compact a lot of information into a small space, they can be a little confusing to use and I often get requests for help from parents who don’t understand how to plot their child on the charts.
This guide, and the picture below, should provide you with all of the information you need to use the growth charts to follow how well your child is growing.
The first step is to find the right growth chart. In our example, we are going to find the percentile for a 2 year old boy who weighs 30 pounds, so we will use the growth chart for Boys from Birth to 36 Months.
Next, (step A on the chart below) find your child’s age at the bottom of the chart and draw a vertical line (a straight line up and down) on the growth chart. In our example, we drew a line through 24 months or 2 years.
Now find your child’s weight on the right hand side of the chart, 30 pounds in our example, and draw a horizontal line (a straight line from side to side). This is step B in our example. Keep in mind that you don’t have to really physically draw a line on the growth charts. If you really do that each time, your growth chart will look very messy and will be hard to read. Instead, just imagine where the line should be or draw a light line with a pencil that you can later erase.
Step C involves finding the spot where these two lines intersect or cross each other. Find the curve that is closest to this spot and follow it up and to the right until you find the number that corresponds to your child’s percentile (step D).
In our example, you can see that a two year old boy who is 30 pounds is at the 75th percentile for his weight. What does that mean? It means that he weighs more than about 75% of boys his age. It also means that 25% of 2 year old boys weigh more than he does. Is that normal? Sure, if that is where he has always been on the growth charts.
Finding your child’s percentile is a little harder if a curve doesn’t actually pass through the spot where your child’s age and weight come together. For example, what would you do if the boy in our example actually weighed 31 pounds? You would use all of the same steps and would have to imagine a curve that is somewhere between the 75th and 90th percentiles and figure that he was at about the 80th-85th percentile.
If your child is above the 95th or below the 5th percentile, then you will also not be able to find an exact percentile, except to say that he is above or below the growth chart.
You can use the same steps to plot your child’s height and body mass index.
Here are some more examples (try them before looking at the answers below):
A. What is the percentile for a 2 year old boy who is 2 feet 10 1/2 inches (34 1/2 inches)?
B. What is the percentile for a 13 year old girl who is 80 pounds?
C. What is the percentile for a 16 year old girl who is 5 foot 4 inches (64 inches)?
D. What is the percentile for a 9 year old who has a body mass index of 18?
E. What is the percentile for a 6 month old girl who is 14 pounds?
It is also important to understand that the growth charts are best used to follow your child’s growth over time or to find a pattern of his growth. Plotting your child’s weight and height at different ages and seeing if he follows a growth curve is more important than where he is at any one time. Even if your child is at the 5th percentile for his weight, which means that 95% of kids his age weigh more than he does, if he has always been at the 5th percentile, then he is likely growing normally. It would be concerning and it might mean there was a problem with his growth if he had previously been at the 50th or 75th percentile and had now fallen down to the 5th percentile.
Also remember that children between the ages of 6 and 18 months can normally move up or down on their percentiles, but older children should follow their growth curve fairly closely
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Growing Pain
Meski tak berbahaya, growing pain bisa membuat anak tersiksa.
Di masa pertumbuhannya, anak-anak kerap mengalami masalah kesehatan. Salah satu masalah yang mungkin muncul adalah rasa sakit atau nyeri utamanya di bagian kaki yang tak jelas penyebabnya. Tak pelak, si anak dan orangtua senewen dibuatnya. Betapa tidak, anak kelihatan sehat-sehat saja, tak ada bekas luka atau cedera, kok mengeluh nyeri? Apa sebenarnya yang terjadi?
Bisa jadi, apa yang tengah dialami anak adalah growing pain (nyeri pertumbuhan). Istilah ini tidak mewakili dilema psikologis pada masa ‘anak tanggung’. Growing pain lebih menggambarkan betapa momen pertumbuhan badan bisa pula menjadi masa yang menyakitkan. Situs kidshealth.org menyebut, 25 hingga 45 persen anak mengalaminya. Growing pain juga tak dapat dicegah kedatangannya.
Sayangnya, tak banyak orangtua apalagi anak yang menyadari kehadiran growing pain. Orangtua justru sering menyalahartikan keluhan sakit yang tak jelas penyebabnya ini. ”Saya pikir dia cuma sedang manja, ingin dibelai, dipijat,” komentar Widyani, ibu dari anak berusia delapan tahun. Bagaimana rasanya growing pain?
Aditya Dinaya kesulitan menggambarkannya. ”Seperti pegal-pegal, tapi juga sedikit nyeri,” urai pelajar kelas lima sekolah dasar ini. Untungnya, lanjut Aditya, growing pain tidak datang tiap hari. Hanya saja, rasa sakit itu lebih sering datang pada malam hari. ”Tidak terasa tiap hari namun sakitnya bikin gelisah,” imbuh anak perempuan yang gemar berenang ini.
Growing pain sebetulnya bisa melanda kapan saja, tak mesti pada malam hari. Bisa jadi, pada siang hari rasa sakit itu kalah hebat dibanding serunya aktivitas anak. ”Cukup banyak pasien yang datang dengan keluhan seperti itu,” ungkap dr Bambang Tridjaya SpA.
Umumnya, growing pain terjadi pada anak dengan kisaran usia tiga hingga lima tahun. Rasa sakit tersebut sewaktu-waktu dapat kembali mendera sepanjang usia pertumbuhan. ”Biasanya, di usia delapan hingga 12 tahun, growing pain terasa lagi,” kata Bambang, pengajar Ilmu Kesehatan Anak pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Growing pain sempat dikait-kaitkan dengan rasa sakit lantaran pertumbuhan postural yang pesat. Dan itu berhenti terjadi begitu anak melewati masa pertumbuhan. ”Ini hanyalah fenomena fisiologis.”
Sebenarnya, proses tumbuh sama sekali tidak menyakiti tulang atau persendian. American Academy of Pediatrics yakin, growing pain lebih memengaruhi otot. Growing pain dijabarkan sebagai rasa sakit yang terkait dengan hari-hari aktif anak. Artinya, rasa sakit terkait growing pain muncul lantaran aktivitas berlebih di siang hari. Nah, di malam hari, otot anak akan menjadi sakit karena keletihan. Itulah yang membuat anak kesakitan.
Di bagian betis
Growing pain lebih sering dikeluhkan terjadi pada bagian betis. Sakitnya dapat terasa pada dua betis sekaligus. ”Umumnya, anak-anak menunjuk ototnya sebagai pusat rasa sakit,” kata Bambang. Pada growing pain, rasa sakit paling sering terjadi di sekitar otot kaki. Mengapa begitu? Itu karena kaki, terutama otot betis dan paha, lebih tumbuh ketimbang anggota tubuh lainnya. Patut dicatat, growing pain tak pernah melibatkan tulang.
Sejumlah masalah lain juga sama-sama mendatangkan nyeri, seperti pada growing pain. Yang paling ringan, kram betis. Jika ada kontraksi otot yang terhambat dan kaki si kecil sukar atau sakit digerakkan, bisa jadi ia mengalami kram betis. Yang sedikit sulit adalah mengenali pusat rasa sakit pada anak yang belum bisa membedakan otot dan tulang. Padahal, ini merupakan faktor penentu untuk menegakkan diagnosis. ”Kalau sakitnya pada tulang panjang, bisa jadi anak menderita tumor atau rematik,” kata Bambang.
Jika melihat gejala yang berbeda dengan growing pain, dokter mungkin akan meminta rontgen kaki anak. Lewat pemeriksaan ini, bisa jadi akan diketahui, nyeri di kaki itu disebabkan oleh juvenile rheumatoid arthritis alias radang sendi. Anak yang mengalaminya sering kali bangun pagi dengan rasa nyeri di kaki dan hilang begitu ia menggerak-gerakkan kakinya.
Cara meredakan
Rasa sakit atau nyeri akibat growing pain cukup sering muncul sesaat sebelum terlelap. Lamanya rasa sakit yang mengganggu pada waktu menjelang tidur itu amat bervariasi. Tak hanya menjelang tidur, growing pain juga tak mustahil muncul di pagi hari hingga membangunkan anak dari tidurnya. ”Ia akan sama seperti bayi usia dua sampai enam minggu yang sedang kolik, menjerit seperti kesakitan dan reda setelah diberi susu,” ujar Bambang yang kerap menjadi pembicara di seminar kesehatan anak. Kendati bukan tergolong masalah kesehatan berbahaya, growing pain bisa membuat anak menderita.
Anak sering tak sabar menunggu lenyapnya rasa sakit itu. Nah, di sini peran orangtua sangat diperlukan. Cobalah bantu meredakan rasa sakitnya dengan menciptakan suasana senyaman mungkin. ”Dengan dipijat ringan atau dibelai sambil menjelaskan apa yang sedang terjadi padanya, contohnya,” saran dokter yang juga dikenal sebagai ahli hormon anak ini.
Mengompres betis yang sakit dengan handuk hangat juga dapat membantu meredakan rasa sakit. Anda pun bisa mengajak anak melakukan peregangan, seperti yang biasa dilakukan sebelum memulai olahraga. Dua hal ini merupakan langkah sederhana namun manjur untuk meredakan rasa sakit yang menyiksa anak.
Anda juga bisa mengusir rasa sakit itu dengan alternatif lain. Berikan analgesik seperti acetaminophen atau ibuprofen. ”Itu kalau sakitnya amat mengganggu,” tegas Bambang. Growing pain hanyalah gangguan sesaat. Ia akan reda pada pagi hari dan lenyap begitu anak melewati fase pertumbuhan pesat. Tetapi, sepanjang masa tumbuhnya, anak berpotensi kurang tidur yang bisa membuatnya mengantuk di kelas atau malah terpaksa membolos gara-gara sibuk menahan sakit di malam hari.
Bila itu yang terjadi, bukan saja anak yang menderita. Orangtua pun menjadi cemas menghadapi sakit ‘misterius’ di betis buah hatinya. Padahal, itu cuma growing pain. Bantu redakan, ya, Bunda! rei
Ke Laboratorium, Bila Perlu
Growing pain memang bukan penyakit. Namun, orangtua sering dibuat khawatir oleh keluhan si kecil. Apalagi, ketika growing pain datang di usia balita, di saat anak belum begitu mampu menjabarkan apa yang dirasakannya.
Pada anak yang lebih besar, growing pain cenderung mudah dideteksi. Hanya saja, belum banyak orangtua yang paham benar seluk-beluk growing pain. Jika orangtua masih kurang yakin dengan diagnosis dokter, pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan. ”Yang dilihat, laju endap darah dan kadar alkali fosfatase,” papar dr Bambang Tridjaya SpA.
Dari laju endap darah (LED), dokter bisa melihat ada tidaknya infeksi. Sedangkan, ketinggian kadar alkali fosfatase mencerminkan kalsium tulang yang tengah berpindah cepat. ”Kalau keduanya oke, bisa dipastikan anak cuma sedang menderita growing pain,” ucap dokter yang bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta ini.
Persoalannya, kalau tidak jeli, orangtua bisa luput memantau kemungkinan persoalan kesehatan yang lebih serius. Kelainan patologis bisa dikira nyeri growing pain. Apa yang membedakannya?
Coba tanyakan apa yang dirasa anak Anda dan amati kesehariannya. Kelainan patologis alias penyakit yang lebih serius umumnya memperlihatkan gejala yang khas. Bagian tubuh yang bermasalah akan terasa sakit saat dipegang. Nyerinya pun luar biasa dan bisa membuat anak enggan menggerakkan bagian tubuhnya
Nyeri yang merupakan gejala patologis dapat pula disertai demam atau bengkak. Anda juga harus waspada kalau rasa sakitnya sampai membuat anak harus membatasi gerak dan itu terjadi secara konstan. ”Segera konsultasikan dengan dokter.” Pada growing pain gejalanya sangat bertolak belakang. Anak yang mengalaminya justru lebih senang jika dipijat. Aktivitasnya sehari-hari juga tidak tersendat. ”Anak bisa tetap bermain basket, berenang, atau berlarian seperti biasa namun kadang rewel dan mengeluh sakit pada betisnya,” ucap Bambang yang juga praktik di RS Hermina Jatinegara, Jakarta Timur. rei
sumber : republika
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Tumbuh Kembang Otak Bayi
Usia 0-6 Bulan
Bagian-bagian utama otak bayi baru lahir sudah lengkap terbentuk. Kini, otaknya akan segera mengalami proses pematangan yang perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat.
Otak merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai pusat kontrol dan kendali atas semua sistem di dalam tubuh. Otak yang juga merupakan pusat kecerdasan atau pusat kemampuan berpikir ini mulai dibentuk selang beberapa saat setelah terjadinya konsepsi (proses peleburan inti sel telur dan inti sel sperma).
Dalam perkembangan otak, ada periode yang dikenal sebagai periode pacu tumbuh otak ( brain growth spurt ). Yaitu saat dimana otak berkembang sangat cepat. Pada manusia, periode pacu tumbuh otak pertama dimulai ketika usia kehamilan ibu memasuki trimester ketiga. Periode pacu tumbuh otak kedua terjadi setelah si keci lahir hingga ia berusia dua tahun. Multiplikasi sel terjadi pada masa janin. Sedangkan sejak lahir hingga usia dua tahun adalah saat neuron (sel saraf) di korteks otak membentuk sinaps (hubungan antara sel saraf) yang sangat banyak. Jadi, di masa multiplikasi dan pembentukan sinaps ini, otak harus mendapat prioritas utama dalam hal pemenuhan zat-zat gizi sebagai bahan-bahan pembentukannya.
Tumbuh kembang otak
Secara keseluruhan, otak si kecil saat lahir sudah terbagi menjadi empat bagian utama, yakni batang otak ( brainstem ), otak kecil ( serebelum ), otak besar ( serebrum) dan diensefalon. Berat otak bayi saat ini sudah mencapai 25% berat otak orang dewasa, atau sekitar 350-400 gram. Ketika usianya enam bulan, berat otak bayi hampir 50% dari berat otak orang dewasa.
Di dalam otak bayi baru lahir sudah terdapat kurang-lebih 100 milyar sel saraf (neuron). Sel saraf ini terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:
- Badan sel saraf yang bentuknya menyerupai bintang. Di dalamnya, antara lain, terdapat inti sel saraf. Ujung-ujung dari badan sel yang menjulur ini merupakan bagian yang menghubungkannya dengan ujung-ujung dari badan sel saraf yang lain, sehingga membentuk suatu jalinan yang sangat kompleks.
- Dendrit merupakan perpanjangan dari ujung-ujung badan sel. Sebuah sel saraf bisa memiliki sekitar 200 dendrit.
- Akson yang bentuknya memanjang, sehingga menyerupai tangkai dari sel saraf. Sebagian besar akson dilindungi oleh semacam selaput dari lemak, yaitu yang dikenal sebagai mielin. Proses pembentukan selaput pelindung pada akson ini disebut sebagai mielinasi.
Saat si kecil baru lahir hingga usianya mencapai enam bulan, sel-sel sarafnya belum seluruhnya mencapai tingkat perkembangan yang “matang”. Sel saraf dapat dikatakan mencapai tingkat kematangan, antara lain, apabila sudah terbentuk akson pada setiap bagian tubuh. Setiap kali terbentuk akson baru, maka akan terbentuk pula sinaps (simpul saraf, hubungan antara sel saraf) yang memungkinkan terjadinya “komunikasi” antara setiap bagian tubuh dengan otak. Itu sebabnya, si kecil masih belum terampil mengontrol gerakan anggota tubuhnya.
Selain sel saraf, di dalam otak dan sistem saraf pusat terrdapat sel glia. Sel ini bertugas melindungi, memberi dukungan dan juga memberi makan kepada sel saraf. Caranya, dengan mengalirkan kebutuhan zat gizi yang diperlukan. Dengan demikian, proses tumbuh kembang sel saraf berjalan dengan baik dan dapat berfungsi menghantarkan pesan (perintah).
Otak, yang setiap menit membutuhkan darah sebanyak 150 ml ini, mencapai tahap perkembangan yang berbeda-beda setiap bagiannya. Misalnya, bagian otak yang mengontrol sistem pendengaran sudah mulai berkembang sejak janin berusia 28 minggu. Sedangkan bagian otak yang mengatur sistem penglihatan baru berkembang setelah bayi lahir.
Laju perkembangan otak si kecil tidak secara langsung ditunjukkan oleh pertambahan volume otak. Namun, pada umumnya perkembangan otak dikaitkan dengan kecerdasan. Dan, kecerdasan itu sendiri seringkali dikaitkan dengan volume otak. Ukuran serta bentuk kepala dianggap dapat menggambarkan besarnya otak yang terdapat di dalamnya. Pada kenyataannya, ada banyak sekali faktor yang ikut menentukan tingkat kecerdasan seseorang, selain volume otaknya.
Sphingomyelin dan Proses Mielinasi
Sejumlah akson dari sel saraf dilindungi oleh suatu lapisan lemak yang dikenal sebagai mielin. Komponen utamanya adalah sphingomyelin dan metabolit sphingolipid lain (seperti cerebroside , sulfatide dan ganglioside ). Mielin yang melindungi sebuah akson bisa terdiri dari 100 lapisan.
Mielin bekerja sebagai insulator untuk impuls saraf. Zat ini juga mengontrol saltatory mode of conduction (penghantaran impuls yang berloncat-loncat) pada kecepatan tinggi melalui Nodes of Ranvier (akson yang tidak terlindungi mielin). Penghantaran impuls semacam ini adalah proses yang cepat. Dan, akson bermielin menghantarkan impuls 50 kali lebih cepat daripada akson tak bermielin yang paling cepat.
Dewasa ini telah dipelajari bahwa sphingomyelin , salah satu jenis fosfolipid yang terkandung dalam makanan dan ASI, memainkan peran penting dalam proses mielinasi sistem saraf pusat. Mielinasi sistem saraf pusat manusia dimulai ketika usia kehamilan 12-14 minggu pada bagian spinal cord, dan berlanjut hingga usia 30 tahun pada bagian cerebral cortex . Namun, perubahan paling cepat dan dramatis terjadi di antara pertengahan kehamilan dan diakhir tahun kedua setelah kelahiran.
Berbeda dengan jenis fosfolipid yang lain, sphingomyelin tidak mengandung gliserol, melainkan ceramide. Karena semua sphingolipid dibuat dari ceramide , maka sphingomyelin dapat diklasifikasikan juga sebagai sphingolipid (Jumpsen & Clandinin, 1995). Ceramide inilah selanjutnya yang akan membentuk cerebroside , yaitu suatu marker universal myelinasi (pembentukan mielin) di dalam otak, dengan bantuan enzim UDP galactosytransferase . Mielin sistem saraf pusat mempunyai kandungan cerebroside yang tinggi dibandingkan dengan jaringan lainnya.
Studi terkini menunjukkan bahwa aktivitas enzim serine palmitoyltransferse (SPT) meningkat secara bertahap dari minggu ketiga sebelum kelahiran ( prenatal ) hingga minggu ketiga setelah kelahiran ( postnatal ) pada sistem saraf pusat tikus. Ketika mielinasi mulai berlangsung pada periode tersebut, diyakini bahwa aktivitas SPT yang bertambah sedikit demi sedikit merupakan faktor utama yang terlibat di dalam mielinasi.
Oshida et.al. dalam tulisannya Effects of dietary sphingomyelin on central nervous system myelination in developing rats. Pediatr. Res 53: 589-593 (2003) memberikan hipotesis bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat dari tikus yang sedang berkembang otaknya kemungkinan terutama diperoleh dari sphingomyelin yang terkandung di dalam susu, yang dapat diubah menjadi ceramide dan kemudian cerebroside . Selanjutnya, mereka membutktikan bahwa cerebroside di mielin sistem saraf pusat, terutama diperoleh dari sphingomyelin diet (asupan luar) dengan kondisi eksperimental aktivitas SPT yang rendah, sehingga sphingomyelin diet memainkan peran yang penting dalam mielinasi sistem saraf pusat.
Jadi, berbeda dengan AA dan DHA yang berperan dalam pertumbuhan membran sel saraf dan pengaturan neurotransmitter, sphingomyelin berperan dalam proses mielinasi akson untukk membantu kinerja sel saraf dalam transmisi impuls saraf. Menurut Dr. Arthur R. Jensen, ahli saraf dari Fakultas Ilmu Pendidikan Kedokteran di University of California, Amerika Serikat, kecepatan penghantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang merupakan salah satu faktor yang menunjukkan tingkat kecerdasannya.
Kebutuhan gizi
Bila melihat periode pacu tumbuh otak, maka sebagian besar percepatan tumbuh otak justru terjadi setelah si kecil lahir. Mulai saat itu, pemenuhan kebutuhan zat gizi dilakukan melalui pemberian ASI secara tunggal (ASI eksklusif) sejak hari pertamanya hingga usia enam bulan. Perlu diketahui, komposisi zat gizi di dalam ASI demikian sempurna untuk memenuhi kebutuhan zat gizi sesuai tahapan tumbuh kembang bayi, bahkan untuk bayi yang lahir prematur sekali pun.
Secara alami, ASI mengandung zat-zat gizi yang secara khusus diperlukan untuk menunjang proses tumbuh kembang otak. Zat-zat gizi tersebut antara lain:
- Asam lemak esensial
ASI merupakan sumber asam lemak esensial (asam lemak yang harus dipenuhi kebutuhannya dari luar tubuh) , yaitu asam linoleat dan asam alfa-linolenat. Kedua asam lemak esensial ini di dalam tubuh bayi diubah menjadi DHA (asam dokosaheksanoat) dan AA (asam arakhidonat).
Perlu diketahui, lipid (lemak) di dalam ASI terutama terdapat dalam bentuk trigeliserida (98-99%). Sedangkan sisanya, sebanyak 1-2%, adalah fosfolipid dan kolesterol. Komposisi dan kandungan lipid ASI sangat bervariasi bergantung dari tahapan laktasi dan asupan diet ibu. Lipid di dalam ASI berfungsi sebagai sumber energi. Selain itu, sebagian kecil lipid (lipid minor) berfungsi sebagai mikronutrien yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak. Lipid sebagai mikronutrien terutama terdapat dalam bentuk fosfolipid.
Fosfolipid ASI merupakan sumber asam lemak tidak jenuh rantai panjang ( long chain polyunsaturated fatty acid , LCPUFA), terutama AA dan DHA. Kandungan fosfolipid ASI bervariasi sekitar 20-38 mg/100 ml, tergantung pada tahapan laktasi. Di dalam ASI, fosfolipid terdiri dari beberapa fraksi, berturut-turut dari yang paling dominan adalah: 1) sphingomyelin, 2) fosfatidylkolin, 3) fosfatidylethanolamin, 4) fosfatidylserin, dan 5) fosfatidylinositol.
Menurut Gopalan dalam tulisannya Essential FA in Maternal and Infant Nutrition In Symposium “EFA and Human Nutrition and Health International Conference” in Shanghai, Cina (2002), mengatakan LCPUFA merupakan komponen yang esensial selama periode perinatal, karena fetus dan bayi baru lahir tidak dapat mensintesis sejumlah AA dan DHA yang mencukupi dari prekursornya. Padahal, pada saat lahir dan masa awal kehidupan telah dihasilkan kurang lebih 6-10 ribu hubungan sinaps antar sel syaraf. Materi dasar untuk terbentuknya sinaps ini adalah adanya asam lemak esensial di dalam ASI. Oleh karena itu, perkembangan mental dan kecerdasan bergantung pada kecukupan suplai asam lemak esensial dan LCPUFA pada tahap-tahap krusial tersebut.
Apabila tubuh bayi mendapat DHA dalam jumlah yang mencukupi melalui ASI ibunya, maka proses pembentukan otak serta pematangan sel-sel saraf di dalam otaknya akan berjalan dengan baik. Semua proses itu terjadi pada waktu bayi tidur nyenyak.
Penelitian tentang hal tersebut telah dilakukan di University of Brisbane, Australia dengan memakan waktu 21 tahun dan melibatkan 3880 bayi. Hasil sementara dari penelitian ini yang dipublikasikan di United States Based Journal of Pediatrics and Child Health tahun 2001 lalu menunjukkan bahwa zat-zat gizI yang terkandung di dalam ASI membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi, sehingga terhindar dari serangan penyakit-penyakit infeksi.
Dengan demikian, proses tumbuh kembang dapat berjalan dengan baik. Selain itu, kedekatan dan hubungan batin yang terjalin kuat antara ibu dan bayi ketika memberi ASI merangsang perkembangan kemampuan kognitif bayi. Sedangkan kadar DHA di dalam ASI yang sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi, memungkinkan proses plastisitas (proses pembentukan hubungan baru di antara sel-sel saraf) berjalan dengan optimal. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan kecerdasan berbahasa yang baik serta IQ ( Intelegence Quotient ) yang tinggi.
- Protein
Komponen dasar dari protein, yakni asam amino, terutama berfungsi sebagai pembentuk struktur otak. Beberapa jenis asam amino tertentu, yaitu taurin, triptofan, dan fenilalanin merupakan senyawa yang berfungsi sebagai penghantar atau penyampaipesan ( neurotransmitter ). Di dalam ASI terkandung protein sekitar 1,2 gram per 100 ml.
- Vitamin B kompleks
Beberapa jenis vitamin B yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang otak adalah ,vitamin B1, vitamin B6, dan asam folat (vitamin B9). Bila kebutuhannya tidak terpenuhi, maka akan timbul gangguan terhadap pertumbuhan dan fungsi otak dan sistem saraf.
- Kholin
Senyawa ini merupakan pembentuk sejenis neurotransmitter yang disebut asetilkolin. Kholin juga merupakan bagian dari lesitin, yaitu suatu fosfolipid yang banyak terdapat di otak sebagai pembentuk membran (dinding) sel saraf.
- Yodium, zat besi, dan zat seng
Yodium dibutuhkan untuk pembentukan hormon tiroksin (sejenis hormon yang diperlukan dalam pembentukan protein yang membantu proses tumbuh kembang otak). Zat besi dibutuhkan dalam proses pembentukan mielin. Zat besi disimpan di dalam berbagai jaringan otak selama 12 bulan pertama sejak bayi lahir. Seng merupakan bagian darai sekitar 300 jenis enzim yang membantu pembelahan sel. Kekurangan zat seng di dalam otak dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang disebut ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder).
Agar ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan tubuh si kecil selama masa pemberian ASI eksklusif enam bulan, maka ibu harus mengkonsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari. Ibu perlu menkonsumsi makanan-makanan yang kaya protein. Misalnya, ikan, daging, telur, tempe, tahu, dan susu skim. Ibu juga perlu makan lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan.
Jika selama masa menyusui ibu tidak mendapatkan gizi yang diperlukan, persediaan zat-zat gizi dalam tubuhnya akan habis dipergunakan untuk memproduksi ASI. Akibatnya, selain kesehatan ibu terganggu, ASI-nya juga tidak akan cukup banyak. Kualitas ASI-nya pun tidak akan cukup baik, dan jangka waktu ibu untuk memproduksi ASI pun menjadi relatif singkat.
Dewi Handajani
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Deteksi dini perkembangan anak
Sebaiknya konsultasikan perkembangan anak bila :
Motorik Kasar
• Belum berguling pada usia 6 bulan
• Belum duduk pada usia 9 bulan
• Belum dapat berdiri dengan bantuan pada usia 9 bulan
• Belum dapat berjalan sendiri pada usia 18 bulan
Motorik Halus
• Belum mampu bermain dengan kedua tangan pada usia 6 bulan
• Belum mampu mengambil benda kecil dengan jari dan memasukkannya ke mulut pada usia 12 bulan
• Tidak dapat minum dengan gelas kecil pada usia 18 bulan
Pendengaran dan kemampuan bicara
• Belum bersuara atau babling pada usia 3 bulan
• Tidak menengok ke arah suara pada usia 9 bulan
• Belum mengucapkan ma ma, pa pa pada usia 12 bulan
• Belum mengeluarkan 3 kata spesifik pada usia 2 tahun
Sumber : Anakku edisi juni 2006
Posted by L3L1 at 8:11:00 PM 0 comments Links to this post
fdg
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Pintarnya memang mengagumkan. Tapi ia suka membantah dan sulit diatur.
Anak diusia 2 tahun adalah masa-masa unik penuh ‘ketegangan’ sekaligus
kelucuan dan kebanggaan. Kelasakannya dan keingintahuan yang besar membuat
anak usia ini dijuluki *’The Terrible Two’* . Padahal dengan mengenal dan
memahaminya, sebutan *’The Terrific Two’* lebih pantas untuknya.
Perkembangan Fisik
Bobot dan tinggi badang bertambah cepat. Proporsi kepala dan tubuhnya tidak
lagi 1:3 seperti di usia sebelumnya. Keterampilan gerak yang dicapai:
(c) Keseimbangan & Koordinasi Meningkat
Tak lagi mudah terjatuh, ia mampu berlari cepat, memanjat, melompat dan
siap jungkir balik. Naik turun kursi dilakukannya dengan mulus.
Di sisi motorik halus, mampu memainkan benda dengan gerakan yang halus,
dan jarang menjatuhkannya. Ia dapat menyusun balok-balok besar dan
melepaskannya kembali.
(c) Suka Mengupil
Sebagai awal bereksperimen menggunakan jari tangan. Gerak motorik halus
jemarinya bisa mengambil sesuatu dari lubang hidungnya yamg sempit. Tantu ia
tak bermaksud jorok. Berikan saja selembar tissue atau sapu tangan agar
aktivitas ini tidak sampai melukai lubang hidungnya. Ajarkan juga bahwa
mengupil sebaiknya dilakukan di kamar mandi, saat ia mandi. Buktikan
kata-kata Anda dengan mengajak anak membersihkan rongga hidungnya sembari
mandi.
(c) Kadang Ngompol di Siang Hari
Karena sudah lancer bicara, seharusnya ngompol di siang hari tidak sering
terjadi. Mengenal keinginan untuk buang air kecil kadang-kadang sulit
untuknya sehingga ketika ia mengaakan, “Mau pipis”, urin sudah terlanjur
mengucur. Atasi dengan mengajaknya pipis setiap satu jam, dan tanggap ketika
ia berkata “Mau pupup”, meski kadang-kadang batal. Tak apa, ia sedang
mengenali tubuhnya.
Pintar Bicara
Kalimat yang diucapkan sudah lengkap meski kadang membingungkan. Sekali
pesannya sampai pada Anda, ia semakin aktif berbicara.
(c) Menyebut nama-nama benda
Paham perintah, kadang-kdang masih bingung menggunakan kata ‘mu’ dan ‘ku’.
Ia juga bereksperimen dengan nada suara.
(c) Beteriak menjadi cara meminta perhatian dan memaksa.
Yang awalnya ‘berlatih’ suara lalu jadi kebiasaan. Cegah hal ini dengan
memberi tahu ada cara lain yang lebih baik, yaitu berbicara. Bila anak anda
selalu berteriak saat meminta sesuatu, abaikan teriakannya.
(c) Mulai melawan
Apa yang ditawarkan padanya, jawabnya “Nggak mau”. Membujuk si kecil makan,
mandi, gosok gigi dan seterusnya membutuhkan konsistendi Anda. Sekali
mengatakan gosok gigi penting, perlawanan anak tak boleh dibiarkan. Gunakan
cara halus untuk membujuk. Melawan bisa jadi kebiasaan dan membuat orang tua
kehilangan kendali atas anak.
Perkembangan Sosial-Emosi
Arahnya mulai positif. Ia mulai belajar tentang *relationship* dan
kadang-kadang dapat membayangkan bagaimana perasaan orang lain (empati).
Anak tahu apa yang ia mau, kemudian ia *bossy*.
(c) Mulai berminat bermain bersama teman, tapi hanya sebentar saja.
Mereka bermain bersama, tetapi tidak terjadi interaksi. ‘Acuh-acuh butuh’
merupakan ciri anak di usia ini yang seringkali tidak mau ditolong. Padahal
dilain kesempatan, ia menangis keras mencari-cari ibunya.
(c) Temper tantrum Karena ia tahu apa yang ia mau, dan sadar keinginannya bisa
terpenuhi bela ia mengamuk. Mengamuk juga bisa terjadi bila anak kelelahan.
Cari tahu penyebabnya bila si kecil mengamuk. Bila ia letih, tenangkan
dengan pelukan, kemudia ajak ia beristirahat. Bila mengamuk merupakan
caranya ia mendapatkan keinginannya, bantu anak menghindarkan diri dari
bahaya. Misalnya ia mengamuk dan membenturkan kepala, segera peluk si kecil
dan jelaskan keinginannya tidak bisa dipenuhi sekarang.
Perkembangan Berpikir Luar Biasa
Anak usia 2 thn yakin orang tuanya selalu tahu isi pikirannya. Hati-hati
berbicara di dekatnya. Ia bisa merasa cemas saat mendengar suatu masalah.
Ketrampilannya berpikir meningkat, dan ia tahu benda itu tetap ada jika
tidak tampak di depan matanya. Bahkan terkadang ia dapat menemukan benda
yang ‘hilang’ dengan mengandalkan ingatannya.
(c) Sulit membedakan mimpi, khayalan dan kenyataan.
Itu sebabnya saat tidur dan bermimpi, anak bisa mengangis serius. Bermain
pura-pura sangat dinikmatinya. Mengarang-ngarang gambar dilakukannya dengan
crayon dan kertas walau masih menyerupai benang kusut.
(c) Asyik dengan diri sendiri dan tidak ada kontak dengan orang lain perlu
diwaspadai.
Meski ia pintar tapi bila tak mau berinteraksi dengan orang lain, sering
celaka dan tak dapat berhenti sejenak, pertanda ada masalah. Segera bawa ia
ke dokter untuk mendeteksi kelainan yang mungkin dialaminya.
Masalah Lain
(c) Belum bisa makan sendiri di usia ini merupakan masalah meski tidak serius.
Umumnya anak usia ini sangat ingin makan sendiri sehubungan dengan
ketrampilan motorik halusnya. Tingkakan ketrampilan anak untuk makan sendiri
dengan melatihnya setiap saat. Memasukkan makanan ke dalam mulut menggunakan
tangan tidak sulit. Bila anak sudah melakukan itu, ketrampilan berikutnya,
makan menggunakan sendok segera ia minati.
Sediakan sepiring kecil makanan dan sendok, biarkan anak belajar menyendok
makanannya. Jangan takut berantakan, jangan takut kotor. Berantakan bisa
dirapikan dan kotor bisa dibersihkan. Ketrampilan anak anda lebih penting
ketimbang lantai rumah. Mengejar keterlambatan lebihlebih sulit dilakukan.
(c) Pilih-pilih makanan.
Anak usia 2 thn umunya ingin makan segala yang ada diatas meja makan, dan
ingin mencoba setiap makanan yang dimakan orang dewasa. Menghindarkan anak
dari aneka makanan, bisa menjadi salah satu penyebab anak pilih-pilih
makanan. Ia hanya mau makanan dengan rasa dan aroma yang sudah sangat akrab
dilidahnya, atau dengan tekstur makanan yang memudahkannya mengunyah. Karena
hanya itulah yang diterimanya selama ini. Perkenalkanlah anak dengan aneka
jenis makanan dengan berbagai tekstur. Anak belajar dari meniru, juga dalam
hal makan. Ajak anak makan bersama dan berikan ia makanan yang ingin ia
coba.
(c) Menolak toilet training bisa terjadi.
Ia memilih ngompol atau pup di celana ketimbang meminta diantar ke kamar
kecil. Ini bisa berlangsung sampai beberapa bulan setelah usianya yang
kedua. Menyebalkan? Tentu karena dalam hitungan bulan, si kecilakan masuk
kelompok bermain. Apalagi kemandirian merupakan syarat utama. Mengungkapkan
kebutuhan merupakan bagian dari kemandirian itu. Tentu anak tak perlu
dihukum atau ditakut-takuti. Jelaskan saja mengapa ia tak boleh ngompol atau
pup di celana. Kenalkan anak konsekuensi dengan memintanya membantu anda
membersihkan bekas ompolnya di lantai.
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Konflik antara pasien, keluarga pasien dan penyedia layanan kesehatan amat sering terjadi. Penyebab utamanya adalah ketidaksamaan persepsi akibat perbedaan konsep berpikir, stimulasi secara individu akibat perbedaan waktu, tempat, adat istiadat dan tingkat pendidikan.
Pakar neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Teguh Asaad Suhatno Ranakusuma mengungkap perlunya interaksi antara manusia dengan manusia, manusia dengan komunitas, manusia dengan masyarakat dan manusia dengan lingkungan hidup untuk meningkatkan pola pikir. Karena, nilai-nilai manusia berubah. Pun ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Teguh Ranakusuma, berbagai permasalahan kesehatan yang kompleks itu hanya dapat terpecahkan dengan konsep jejaring otak. `’Konsep jejaring otak adalah suatu hasil akhir dari upaya keterpaduan sel-sel otak atau neuron yang multifungsi dalam menjawab berbagai jenis rangsangan yang masuk ke pancaindera,” ujar Teguh dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Neurologi di FKUI dengan judul `Konsep Jejaring Otak Sebagai Model Rekayasa dalam Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia, Penanggulangan Masalah Kependudukan dan Kesehatan serta Pendidikan di Indonesia’, Kamis (19\7).
Teguh memaparkan sel otak punya kemampuan amat tinggi untuk berkomunikasi dengan ribuan dan bahkan 15 ribu sel di lapisan terluar otak (korteks sorebri). Untuk itu, sel otak juga perlu dioptimalkan dengan pembelajaran yang terprogram dan terukur dan menguntungkan semua pihak baik manusia maupun alam.
Lebih jauh Teguh menyatakan, selama ini perkembangan ilmu kedokteran diagnostik dan pengobatan telah banyak mencapai hasil memuaskan berupa penurunan angka kematian. `’Akan tetapi, di lain pihak angka kecacatan semakin tinggi dengan kualitas hidup yang lebih rendah, tidak produktif dengan biaya hidup tinggi,” jelasnya.
Berkaca dari kondisi itu, kata Teguh, seharusnya pengembangan ilmu kedokteran mencakup dua arah, hulu dan hilir. Ke hulu ditekankan pada paencegahan melalui marker-marker biomolekuler, mengubah perilaku, dan kebiasaan tak baik. ”Ke hilir menganut filosofi cepat, tepat, cermat, dan akurat, yang sesuai dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia,” tegasnya. Perkembangan ilmu saraf atau neurologi, kata Teguh, juga bergerak terus untuk membangun riset kedokteran dan teknologi. ”Ilmu ini mencoba mengurai kemampuan otak yang merupakan fitrah Allah SWT bagi manusia,” katanya.
Dengan kemampuan otaknya, tambah dia lagi, manusia bisa berpikir, berakal dan berbudi sehingga menjadikannya lebih tinggi derajatnya dari mahluk lain di bumi. `’Berkembangnya ilmu dan teknologi memungkinkan manusia mengungkapkan mekanisme dan kemampuan otak dan susunan saraf lainnya yang notabene menjadi dasar intelektualitasnya.”
Awal dari perkembangan intelektual manusia, kata Teguh, dimulai sejak masa konsepsi, yakni pertumbuhan janin, persalinan, bayi, balita, kanak-kanak, prasekolah, sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama, sekolah lanjutan atas baik umum maupun kejuruan-akademi, hingga perguruan tinggi.
`’Pencapaian tingkat tertinggi suatu pendidikan sangat tergantung pada tingkat kesehatan mentalitas jejaring otak, kualitas hidup, dan kualitas pendidikan,” ungkapnya. Dalam aplikasinya, kata Teguh, neurologi didasarkan pada manifestasi atau symptoms dan gambaran klinis. Manifestasi klinis, lanjut dia, tampak statis akan tetapi gambaran klinis belakangan ini terus berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kesehatan khususnya bioteknologi.
Teguh mengakui, saat ini banyak terungkap perkembangan bioteknologi yang diwujudkan melalui ekspresi genom, yaitu bermacam-macam proteonomik yang muncul seiring dengan masalah medis yang termanifestasi. Teknologi diagnostik kedokteran sangat berkembang dan transparan. `’Untuk mensejajarkan langkah dengan kemajuan ini tak ayal lagi tingkat kompetensi para profesional pun haruslah diasah dengan selalu meng-up-date khazanah ilmu pengetahuan yang disertai dengan keterampilan tinggi serta dilandasi etika moral profesi,” jelasnya.
Berbagai permasalahan yang kompleks, tutur Teguh, pada akhirnya hanya dapat terpecahkan dengan konsep jejaring otak. ‘`Multisistem nanluhur ini diciptakan sedemikian rupa hingga memiliki efisiensi dan efikasi yang sangat tinggi,” ingatnya.
Teguh menjamin, mempertahankan dan mengoptimalkan jejaring otak dengan meningkatkan pendidikan, kesehatan jiwa dan raga, serta lingkungan hidup akan menaikkan kemampuan hidup manusia. `’Seiring dengan semua upaya itu jejaring otak pun sesuai fitrahnya sudah selayaknya menunduk untuk bertahan secara spiritual hingga pada akhinya seluruh neuron pun akan berzikir,” tegasnya.
Ikhtisar:
- Sel otak punya kemampuan komunikasi amat tinggi dengan belasan ribu sel di luar otak
- Kemampuan jejaring otak bisa dioptimalkan dengan pendidikan dan meningkatkan kesehatan jiwa dan raga
sumber: republika
Diarsipkan di bawah: TUMBUH KEMBANG
Kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak dinilai berdasarkan tiga faktor. Pertama Intelligence Quotient (IQ) yang baik. IQ tinggi identik dengan cerdas. Setelah memiliki kecerdasan tinggi, anak tersebut harus juga memiliki Emotional Quotient (EQ). Ini bisa dilihat dari kepedulian si anak terhadap orang di sekitarnya, seperti cara berinteraksi, berempati, dan bagaimana menempatkan dirinya sesuai keadaan.
TAK CUKUP HANYA NUTRISI
Nevy Marzuki
Kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak dinilai berdasarkan tiga faktor. Pertama Intelligence Quotient (IQ) yang baik. IQ tinggi identik dengan cerdas. Setelah memiliki kecerdasan tinggi, anak tersebut harus juga memiliki Emotional Quotient (EQ). Ini bisa dilihat dari kepedulian si anak terhadap orang di sekitarnya, seperti cara berinteraksi, berempati, dan bagaimana menempatkan dirinya sesuai keadaan.
Setelah IQ dan EQ bagus, harus pula memiliki Spiritual Quotient (SQ) yang baik. SQ adalah bagaimana seseorang mempunyai tujuan hidup dan memiliki makna hidup. IQ, EQ, dan SQ harus seimbang. Dengan IQ tinggi dia cerdas, EQ yang baik dapat menerjemahkan arti kehidupan, dan SQ yang baik maka tujuan hidup akan lebih jelas.
Faktor lingkungan sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor genetik yang baik, akan dioptimalkan lewat lingkungan. Faktor lingkungan yang berperan besar adalah keluarga tempat anak dibesarkan. Lingkungan keluarga ini dipengaruhi pendidikan, status ekonomi, dan kepedulian orang tua terhadap anak. Selain itu, faktor teman sebaya, lingkungan tempat tinggal dan sekolah turut mempengaruhi. Lingkungan menyediakan segala kebutuhan dasar bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang.
Kebutuhan dasar anak yang bisa terpenuhi dari lingkungan terdiri dari:
1. Biofisik, antara lain nutrisi, kesehatan, pakaian
2. Emosi, misalnya kasih sayang, rasa aman
3. Stimulasi
Dalam tumbuh kembang anak, pemberian nutrisi bergizi jelas penting. Namun harus diperhatikan juga faktor emosi dan stimulasi. Ketiganya harus diberikan seiring sejalan agar bisa membentuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh dan otak anak secara optimal.
Pengalaman masa kanak-kanak dapat mempengaruhi perkembangan otak. Faktor pola asuh berpengaruh pada perkembangan emosi anak. Jika anak terlalu banyak dilarang misalnya, ia tidak memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungannya. Ia akan mengalami kesulitan mengatasi masalah. Sebaliknya bila kebutuhan akan kasih sayang kurang terpenuhi, maka pertumbuhan dan perkembangan anak akan lebih lambat, dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Kurangnya penghargaan bisa membuat anak merasa rendah diri, malu, dan terhambat penyesuaian dirinya.
Yang juga tak boleh ditinggalkan adalah pendidikan agama. Kegiatan agama yang dilakukan bersama dalam keluarga akan menumbulkan perasaan kebersamaan dan keakraban. Anak yang mendapat ajaran agama sejak dini akan lebih mudah menerima pendidikan moral, seperti sikap sopan hormat, berbuat baik pada sesama, toleransi, dan membantu yang lemah.
Pentingnya Stimulasi Sejak Dini
Otak manusia perlu dirangsang sebanyak mungkin dan harus dimulai sejak dini. Semakin banyak stimulasi yang diberikan, makin maksimal pertumbuhan dan perkembangannya. Bila tidak ada rangsangan, jaringan otak akan mengecil akibat menurunnya fungsi otak.
Stimulasi bisa diberikan pada anak, ketika masih dalam kandungan. Si ibu melakukan komunikasi dengan janin, misalnya dengan berbicara dengannya, atau membacakan buku cerita, doa, dan ayat suci. Komunikasi juga dapat dibangun melalui sentuhan, dengan mengelus-elus perut seolah-olah mengelus si janin. Bayi akan merasa dekat dengan ibunya, tenang, dan nyaman.
Berdasarkan penelitian, membiasakan anak mendengarkan musik klasik sejak dalam kandungan bisa merangsang peningkatan intelektual. Kecerdasan dapat meningkat sampai 50 persen pada anak-anak yang memperoleh stimulasi musik sejak awal. Musik dapat meningkatkan konsentrasi dan pemahaman. Karena bayi dalam rahim sudah memiliki emosi, pendengarannya pun sudah berfungsi, maka musik yang diperdengarkan pada janin dapat merangsang perkembangan otaknya.
Bayi yang baru lahir bisa diberikan stimulasi dengan cara memberikan air susu ibu. Dengan ASI, bayi akan secara refleks terlatih mencari puting dan mengisapnya. Ini berkaitan dengan latihan psikomotorik. Pada saat sang ibu menggendongnya, si bayi merasakan pelukan kasih sayang/ Ketika tatapan mata ibu dan anak beradu, ada stimulasi mata. Berarti, dengan pemberian ASI, kebutuhan nutrisi, emosi, dan stimulasi anak terpenuhi pada saat bersamaan.
Ada terapi yang bisa diberikan untuk menstimulasi kemampuan psikomotorik anak, seperti terapi sentuh (touch therapy) dan terapi pijat. Stimulasi berupa terapi pijat untuk bayi ini sangat bermanfaat, terutama untuk bayi-bayi prematur. Dampak positif dari pijat pada bayi, antara lain menurunkan hormon stres pada bayi, sehingga bayi akan rileks, lebih banyak meningkatkan berat badan, bayi tampak lebih siaga dan aktif, serta tidur lebih lelap.
Di bawah umur lima tahun, komunikasi nonverbal lebih banyak dilakukan. Bayi misalnya, lebih sering mengamati atau sekadar memandangi wajah orang-orang di sekitarnya. Karena belum punya kemampuan bahasa, ia akan merespon dengan mencoba bicara –meski hanya akan keluar sepatah kata sederhana, tersenyum, dan mengikuti gerak-gerik. Rangsangan bisa diberikan dengan mengajaknya berbicara, mendongeng, atau mendengarkan musik. Komunikasi hendaknya dengan bahasa yang sederhana, sehari-hari, dan dimengerti anak. Dengan demikian anak akan mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan dunia luar, khususnya dalam hal berbahasa. Selanjutnya, diharapkan ia dapat mengungkapkan pengalaman emosionalnya.
Membentuk Anak Berbakat
Apakah dengan stimulasi dapat membentuk bakat sang anak? Rangsangan-rangsangan yang tepat diharapkan dapat memunculkan potensi atau bakat kemampuan anak, seperti: musik, matematika, melukis, atau menari. Perlu diperhatikan bahwa stimulasi diberikan pada masa yang tepat pula.
Di bawah umur lima tahun, yang lebih berkembang adalah otak kanan. Otak kanan, lebih banyak berkaitan dengan intuitif, insting, kemampuan memahami irama, musik, dan imajinas. Balita sebaiknya diberikan stimulasi yang merangsang kreativitas dan daya pikirnya, seperti permainan balok, membacakan buku cerita yang membuatnya berimajinasi, mengajak bernyanyi, atau mengajarkan irama.
Anak dapat diajarkan berbagai keterampilan, tetapi juga bergantung dari sifat yang ada padanya. Pada dasarnya semua hal dapat diajarkan kepada anak agar otaknya berkembang, tetapi nantinya akan muncul sendiri minatnya. Sebaiknya, dari semua yang diberikan kepada sang anak, pada akhirnya biarkan ia memilih jalannya sendiri.
Konsultasi:
Vitriani Sumarlis, S.Psi, psikolog anak Klinik Anakku, Cinere
Dr. Hartono Gunadi, Sp.A, ahli tumbuh kembang anak RSCM
